“Mbak Elaaa, bangun Mbak!”
“Mbak, cepetlah bangun. Sahur! Udah mau imsak niii.”
“Mbaakk.. cepet banguuunn.”
Sahut menyahut suara itu menyerangku silih berganti. Rasanya
ada benda runcing yang sengaja dicucukkan ke tanganku supaya aku segera bangun.
Tapi, tetap saja butuh beberapa kali usaha tersebut diulang sampai aku
benar-benar bangun.
“Loh? Kita nggak terawih niii?” pertanyaan pertamaku itu
yang terlontar ketika sadar belum sholat Tarawih.
“Dibangunkan dari tadi nggak ada yang bangun,” jawab Papi.
Aku segera ke dapur dan mami sudah selesai sahur. “Kita
nggak Tarawih ni berarti Mi?”
“Udah jam setengah lima dah. Cepatlah makan tu haaa! Imsak
pula sebentar lagi nanti.”
Tanpa mencuci muka, aku segera meraih piring berisi nasi dan
menambahkan tumis kangkung, martabak telur dan sambal ikan ke atasnya. Dengan
sigap, aku melahap. Ntah kenapa, aku seolah yakin masih punya harapan atas
waktu yang sempit ini. Aku belum tahu persis sudah jam berapa ini. Tapi,
biasanya jam waspadanya mami dan jam waspadaku itu berbeda.
Kurang dari 10 menit, aku sudah selesai dengan sahurku dan
segera berwudhu. Pukul 04.26wib, setelah ku check di HP papi. Kan, bener
dugaanku? Hemmm…masih sempat nih mengejar Tarawih. *Ciyaaaatttt.
“4 lewat 42 udah imsak ya. Baca Qulhuu Qulhuu aja nanti El,”
kata Papi.
Oke, fine, ini adalah sholat Tarawih tercepatku. Tapi insya
Allah tuma’ninahnya tetap terjaga, hanya saja suratnya yang ku singkat
bacaannya.
