Selasa, 14 Juli 2015

Ramadhan ke-27; Assalamualaikum Bagansiapiapi


“Mbak Elaaa, bangun Mbak!”
“Mbak, cepetlah bangun. Sahur! Udah mau imsak niii.”
“Mbaakk.. cepet banguuunn.”
Sahut menyahut suara itu menyerangku silih berganti. Rasanya ada benda runcing yang sengaja dicucukkan ke tanganku supaya aku segera bangun. Tapi, tetap saja butuh beberapa kali usaha tersebut diulang sampai aku benar-benar bangun.
“Loh? Kita nggak terawih niii?” pertanyaan pertamaku itu yang terlontar ketika sadar belum sholat Tarawih.
“Dibangunkan dari tadi nggak ada yang bangun,” jawab Papi.
Aku segera ke dapur dan mami sudah selesai sahur. “Kita nggak Tarawih ni berarti Mi?”
“Udah jam setengah lima dah. Cepatlah makan tu haaa! Imsak pula sebentar lagi nanti.”
Tanpa mencuci muka, aku segera meraih piring berisi nasi dan menambahkan tumis kangkung, martabak telur dan sambal ikan ke atasnya. Dengan sigap, aku melahap. Ntah kenapa, aku seolah yakin masih punya harapan atas waktu yang sempit ini. Aku belum tahu persis sudah jam berapa ini. Tapi, biasanya jam waspadanya mami dan jam waspadaku itu berbeda.
Kurang dari 10 menit, aku sudah selesai dengan sahurku dan segera berwudhu. Pukul 04.26wib, setelah ku check di HP papi. Kan, bener dugaanku? Hemmm…masih sempat nih mengejar Tarawih. *Ciyaaaatttt.
“4 lewat 42 udah imsak ya. Baca Qulhuu Qulhuu aja nanti El,” kata Papi.
Oke, fine, ini adalah sholat Tarawih tercepatku. Tapi insya Allah tuma’ninahnya tetap terjaga, hanya saja suratnya yang ku singkat bacaannya.

***
Setelah sholat Subuh, ku sempatkan mengaji dengan mata terkantuk-kantuk. Setidaknya, ketika pun nanti aku keceplosan (baca: kebablasan) bangunnya, aku tidak terlalu menyesal karena udah nabung ngaji. Barulah setelah itu, aku tidur di kamar.
Setahuku, semua orang juga pada tidur setelah subuh. Tapi, ntah bagaimana ceritanya ketika aku bangun jam 8.45wib, hanya aku sendiri yang baru terjaga. Anak-anak udah ngeluyur, udah pada mandi juga dan mami udah nyuci plus jemur baju. Hemmm… mereka nggak se-bernafsu aku untuk tidur barangkali. Hiksss…
Rencananya, aku ingin segera mandi, Dhuha dan lanjur ngaji sebanyak-banyaknya untuk menghukum tidurku yang kelewat lama tadi. Tapi, ternyata masih ada sedikit baju yang mami cuci. Akhirnya, aku sok-sok rajin baca buku satu-satunya yang ku bawa ke sini; Cara Menghidupkan Karakter Tokoh.
“Ringan kali HPmu ini El,” kata papi sambil menimang-nimang ASUSku.
“Namanya aja HP Papi tu lebih gede daripada ASUS El.”
Papi mengambil ASUSku dan VIVOnya untuk dibandingkan. tapi, sepertinya ia belum puas dengan prediksinya itu dan berkata, “Ah, ku coba timbang dulu ini. Kita kan punya timbangan,” kata papi. Timbangan yang dimaksud papi adalah timbangan yang biasanya digunakan untuk menimbang beras atau tepung, kapasitas beratnya 5kg.
Aku merasa itu lucu sebenarnya, tapi ku jawab saja,”Ha, betul tuh Pi. Timbang aja!”
Lalu papi beranjak ke dapur dan kembali lagi.
“Gimana Pi?”
“Punyaku 2,8gram, punyamu 2,6gram.”
“Cuma selisih sikiit nyaaa.”
“Ini cara nyari menu Telkomselnya gimana ya?”
“Menu yang tempat sinyalnya maksudnya Pi?”
“Itu loh, yang untuk ngatur-ngatur kartu kita. Di tempatmu itu ka nada menu Planet 3, ini di VIVO kok nggak ada ya?”
“Ada tuh Pi, tapi El pun belum tahu di mana letaknya.”
Melihat mami sudah ke luar dari kamar mandi, aku segera mengangkat pakaian se-bak itu untuk di jemur di belakang.
“Jangan digantung di kayu tu ya El. Kotor kali tu kayunya,” teriak mami dari dalam.
“Mbak, kata Ummi jangan banyak-banyak nggantung di tali yang ujung, takut  putus nanti kalau keberatan,” kata Nilam pula.
Aku menuruti instruksi-instruksi itu dengan hati-hati. Di tengah aksi penjemuran, lewatlah bu Sumini, tetangga sebelah kiri rumahku.
“Loh El? kau kapan pulangnya?”
“Semalam baru Bu. Eh, kemarin Om Min sakit ya katanya Bu? Sakit apa?”
“Itu, kena batu empedu El.”
“Sekarang udah sembuh kan Bu?”
“Udah. Ini malah Kak Dina yang kemarin jatuh dari kereta (baca: motor). Mukanya habis El luka tu,” kata bu Sumini sambil menunjuk sebagian muka.
“Lah? Kok bisa Bu? Kak Dina kan udah bisa naik motor kan?”
“Ya udah El. kemarin itu pas pulang dari puskesmas iring-iringan sama kawannya. Mungkin ya keselip atau kepinggiran akhirnya jatuh. Pas kali setelah jembatan itu, depan rumah Bu Sulami.”
“Hoawalaahh, kasiha Kak Dina ya.”
“Kau berapa lama libunya rupanya?”
“2 mingguanlah Bu.”

***
“Eh, kamu ke Bagan sana sama Mbak Ela.”
Aku dengan sekilas papi berkata demikian kepada Nilam di dapur.
“Mbak, kita ke Bagan yuk ngambil ijazahku di tempat bu Zurwida?” pinta Nilam kepadaku.
“Tahu alamatnya di mana?”
“Katanya di dekat Terminal gitulah.” Nilam mendekati mami untuk bertanya lebih jelas.
Aku mengobrak-ngabrik lemari mami untuk mencari rompi imut yang sekarang sudah tahu mau ku apakan.
“Mi, ini buat Ela ya?”
“Ambillah sana,” jawab Papi.
“Lucu loh. El baru tahu kalau ini keren sekarang.”
“Eh, tapi kayaknya dagumu sekarang ada 2 ya El?” tanya papi.
Aku belum ‘ngeh’ dengan maksud papi itu. beberapa detik kemudian barulah aku sadar bahwa papi sedang menyindir lipatan antara dagu dan leherku. Hiksss..
“Iya, lehernya jugaberlipat-lipat tuu!” tambah Nilam. “Isss..jorki kali Mbak Ela niii.”
Diejek seperti itu malam membuatku semakin memamerkannya kepada papi dan Nilam. Hehe.
“Sini dulu ku jelaskan rutenya. Jadi, pertama-tamanya kalian
ke SPBU dulu. Baru nyeberang ke komplek Perumnas dan masuk ke gang ke-3 sebelah kirinya. Nanti tanya aja yang mana rumah Ibu itu. Masa nggak ada yang kenal dengan dia. Nah, setelah itu foto kopi AKTAnya Alfi ini dan legalisir di Dinas Pencatatan Sipil, letaknya sebelum SPBU kalau dari sini. Berarti mutar dulu kalian nanti.”
“Huyaah, ntah apo-apo naaa. Poneng awak dibueknyo memuta-rmutar,” kataku, setelah mendengarkan penjelasan mami dan papi yang saling tambah menambah.
“Udahlah, biar inyong aja kalau gitu yang berangkat!” kata papi.
Aku melihat papi bergegas hendak bersiap-siap. “Pi, bisa El nyoo. Biar El ajalah. Memang poneng (baca: Pusing) tapi masa nggak ketemu sih nyari gitu aja?”
“La jadi? Ke Thailand aja bisa, masa gitu aja nggak bisa?” kata papi.
“Kalau ke Thailand itu sekalian aja nggak tahu apa-apa Pi. Jadi, nggak bingung. Hehe.”
Nilam ku bonceng dengan motor baru. Dia menyandang ransel berisi laptopku dan berkas-berkas. Udah lama nggak ke Bagan dan kali ini aku harus ekstra hati-hati untuk menghindari jalan yang berlubang dan rusak. Meskipun, sempat beberapa kali juga kena ‘jebakan batman’, pinjam istilah dari Rincuy. Hehe.

***
Di SPBU, ketika giliran antrianku semakin mendekat, aku baru hendak membuka jok motor dan ternyata cara membukanya bukan dengan cara biasa. Aku melongok ke bagian samping kanan bawah, tempat kunci pembuka jok yang biasanya terletak. Ternyata nggak ada lubang kuncinya. Ah, mungkin cara membukanya dari kunci seperti awal menyalakan motor. Tetap saja tidak bisa.
“Bang, bisa tolong bukain joknya ni?”
Abang yang ngantri di belakangku itu pun nggak bisa membukanya. Duh, masa aku harus ngacir karena jok ini nggak bisa dbuka? Padahal udah lama juga ngantrinya. Pi, ini motor barunya gimana sih? Kok rempong banget? Tadi kenapa nggak ngasih tahu Ela cara membukanya toh? Gerutuku di dalam hati.
Abang pengisi minya yang sedang mengisi tanki mobil itu mengkodeku untuk tenang, dia akan membantuku. Ahh, aku sedikit tenang pemirsaaaa. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan minyak sudah terisi penuh. Selanjutnya, kami nyebrang ke jalan Perumnas tepat di depan SPBU ini.
“Lam. Yang mana ya rumah Ibu itu?” tanyaku kepada Nilam ketika kami telah masuk ke dalam gang ke-3.
“Nggak tahu Mbak.”
Aku nekat nanya kepada 2 laki-laki yang sedang nyemen teras rumah.
“Ini dia rumahanya Dek. Tapi baruuu aja Ibu tu ke luar rumah. Bawa tas, rapi juga tapi nggak tahu ke mana. Mungkin belanja tuh, karena nggak mungkin ke sekolah jam segini kan!” jelasnya.
“Abang punya nomor HP Ibu tu?”
“Nggak ada pula Dek. Rumahnya ni pun kosong. Biasanya ada motor yang 1 lagi tu, tapi ini 2 2nya nggak ada. Tunggu ajalah dulu Dek. Nggak lama Ibu tu dooh.”
Aku duduk di ayunan yang bentuknya seperti tempat duduk dan hanya muat untuk 2 orang ini.
“Lam, fotoin rumah ini sana. Biar kalau ke sini lagi udah ada gambaran.”
“Adek ni guru juga? Ngajar di mana?” tanya abang tadi.
“Bukan Bang. Dia tu muridnya Ibu, saya Kakaknya. Kami mau ngambil ijazah ke sini nii.”
“Ha? Kapan tamatnya Dek? Kok baru diambil sekarang pula?”
“Tahu lalu Bang. Kemarin nggak sempat karena saya masuk pondok di Pekanbaru,” jawab Nilam.
“Jadi, kalian ini Kakak beradik?”
“Iya Bang,” jawab Nilam.
“Tapi tak mirip doh! Yang satunya wajahnya bulat yang satu lagi panjang. Kakaknya pasti suka makan tomat, adiknya suka makan timun.”
Nilam menyenggol kakiku. “Ih, Mbak Ela dibilang mirip tomat, hehe.”
“Itulah kerennya. Daripada mirip timun? Jarang kali orang bilang gitu kan?”
“Itu pasti gara-gara muka Mbak Ela bulat dan pipinya tembem.”
Aku menyandarkan bahuku di ayunan ini dan merebahkan kepala di pinggirannya. *Selalaaaapnya tidur El nih!. Sempat teringat sih untu nulis, tapi rasa malasku lebih besar kiranya. Aku sudah miscall-in mami dan papi, tapi mereka nggak juga balas nelvon balik.
Miscall-anku yang ntah ke berapa, barulah diangakat oleh mami.
“Jadi gimana?”
“Ibu tu nggak ada di rumah Mi. Jadi kami harus gimana nih?”
“Ke Dinas Pencatatan Sipil aja dulu, foto kopi AKTAnya Alfi tu rangkap 4.”
Sebelum beranjak, aku meminta nomor abang itu supaya bisa memantau kedatangan bu kepsek. Aku berhenti di tempat foto copi tak jauh dari jalan Perumnas tadi ke arah selatan. Selanjutnya, aku langsung menyambangi DISDUKCAPIL.
“Bang, mau legalisir di mana ya?”
Yang ditanya menunjuk ke ruangan berlabel SEKRETARIS. Aku fikir itu adalah ruangan pribadi seorang sekretaris, eh ternyata rame banget orang di dalamnya.
“Oh, lahirnya di Bengkulu Utara ya? Harus di sana juga Dek melegalisirnya. Nggak bisa di sini.”
“Atau ada di KKnya ada keterangan domisili di sini?” tanya yang lainnya kepadaku.
“Wah, nggak ada Kak. Dia ni kan baru pindah ke sini dan mau ngurus ini.”
“Wah, nggak bisa kalau gitu Dek. Harus di tempat domisilinya legalisirnya Dek,” kata mereka bergantian.
“Oh gitu ya. Hemm..ya udah deh, makasih ya Bang.”
Aku segera ke luar dari gedung putih ini.
“Bisa Mbak?”
“Mana bisa pula. Mbak pun baru ngeh nih, kok Papi minta legalisir di sini pula? sementara udah jelas Alfi tu bukan orang sini? Kok aneh ya tujuan Papi ini. Kalau gini pun Mbak udah yakin kalau di sini pasti nggak bisa.”
Papi menelvon setelah ku miscall.
“…tapi ijazah Ummi bisa kok dilegalisir kemarin.”
“Ya, mungkin itu karena kita udah domisili di sini Pi. Kan di KKnya tertulis. Kalau Alfi ni emang semuanya serba di Bengkulu.”
“Oh ya lah nggak usah diurus dulu yang itu. Ambil aja ijazahnya Nilam tu.”
Bang, bu zurwida udah pulang?
Tapi, pesanku tak segera berbalas. Akhirnya ku putuskan ke Taman Budaya MTQ saja bersama Nilam. Itung-itung bisa foto-foto di sana sambil nunggu kepastian.

***
Pukul 11.40wib
Aku dan Nilam memutuskan untuk berteduh di bawah pohon-pohon bunga di depan Taman Budaya. Tak jauh dari sini ada masjid, jadi ketika azan berkumandang dan bu Zurwida belum juga pulang, kami bisa langsung sholat dulu. Yuhuuu.
Tak banyak yang berubah dari suasana di komplek MTQ ini. Tamannya masih seperti ini, sunyinya masih seperti ini dan bangunan-bangunannya pun tak jauh berbeda Dulu, sewaktu SMA aku sering sekali jalan-jalan sore dan berfoto di taman ini bersama Ayu. Dan, sekarang aku pun minta difotokan oleh Nilam di halaman depannya saja. Nggak sanggup rasanya kalau mau berkeliling ke dalam. Karena, aku merasa hari ini begitu terik meskipun secara kasat mata, matahati tak terlalu menyengat.
Aku mulai rebahan di atas rerumputan nan hijau ini dengan menutup muka menggunakan tas.
Assalamualaikum…
Apa kabar? Selamat berpuasa ya, mohon maaf lahir dan bathin. Aku mau ngirimin uang penjualan dan sewa kemarin. Tolong kirimin nomor rekeningmu ya. Total yang mau ku setor itu sekitar Rp 181.000. Maaf ya kalau kurang atau kelebihan, karena udah lama banget juga. Sama-sama ikhlas ya.
Sent. Pesanku terkirim kepada seseorang yang setahun lalu pernah terang-terangan menyatakan bahwa ia tak ingin berkarib lagi denganku. Pun, beberapa bulan yang lalu ia baru saja memblokir dan mengunfriendku dari pertemanan. Aku sudah mengingat itu semua dan sudah banyak menimbang-nimbang sebelum memutuskan mengSMSnya barusan. Ah, kalau dia masih menyimpang benci kepadaku, itu adalah urusannya dengan Allah. Karena, aku sudah melunasi kewajibanku untuk meminta maaf kepadanya sebagai orang yang bersalah. Pesan itu juga sebagai pernyataan tak langsung dariku bahwa, “Hey, aku udah biasa aja loh sama kamu. Apalagi ini bulan puasa, aku pun belajar banyak untuk memaafkanmu. Please try to be normal! Balaslah SMSku dengan biasa aja, ada  kepura-puraan di hatimu (seperti aku yang berusaha biasa saja dalam mengSMSmu kali ini).”
Nilam sedang duduk bersila di sampingku sambil melihat-lihat jepretan tadi. Lagi-lagi aku tertidur sampai nggak sadar udah azan aja.
“Lam, udah azan ya?” tanyaku ketika baru saja mendengar suara takbir dari toa mesjid.
“Udah dah.”
Segera ku ajak Nilam bergegas naik ke atas motor, melaju melewati bundaran ikan dan berbelok ke kiri di halaman masjid Khairunnas ini.
“Hemm…adem banget ya Lam. Kita di sini aja ntar sampai Abang itu ngasih tahu kalau bu Zur udah pulang.”
Aku sholat dan dilanjutkan dengan mengetik. Soalnya, hanya laptop yang terbawa untuk membunuh waktu luang sementara AL-Quran tertinggal. Heehe. Sekarang, giliran Nilam yang tertidur nyenyak.
Segan banget rasanya ketika aku melihat 99% jamaah masjid ini adalah laki-laki berseragam coklat; para pegawai kantoran. *aku jadi merasa paling cantik di sini. Hiii, kayaknya mereka ngelihatin aku deh ciinn. Eke kan jadi risih gitcuuu. Hehee.
Setelah sholat Zuhur, ada siraman rohani dari tetua di antara para pegawai itu. “…sebenarnya yang dikatakan zikir itu bukan hanya dengan mengucapkan kalimat-kalima zikir. Tapi, ketika kita berprilaku seolah-olah selalu diawasi oleh Allah. Mau berbuat curang, tapi urung karena sadar Allah maha Melihat. Bukan hanya diterjemahkan ketika kita mengucapkan dengan lancar zikir saja. Nah, perbuatan baik kita itu pun disebut dengan zikir. Karena zikir itu adalah mengingat Allah, setiap saat setiap waktu.”
Aku menyimak hikmah yang disampaikan tersebut sebelum melanjutkan sholat sunnah ba’diyah Zuhur.
Dek, kemarilah. Ibuk udah pulang dah.
HPku berbunyi dan pesan itu ku baca.
“Lam, Lampriit. Bangun mpriiit.” Nilam mulai membuka mata dan mengucek-nguceknya. “Abang itu udah sms, katanya Bu Zur udah datang. Yuk marii kita pergi ciinn?”
Sesampainya di teras rumah bu Zurwida, si abang mengkode kami untuk mengetuk pintu dan mengucapkan salam lebih keras karena ibu itu sedang di ruang belakang.
“Makasih banyak ya Bang,” bisik kami kepada abang itu.
Pintu dibuka oleh wanita paruh baya yang memakai mukena, “Salami Ibu tu Lam!” bisikku ke telinga Nilam.
“Eh, masukk,” kata bu Zur kepada Nilam. Aku menyusul Nilam dari belakangnya.
Nilam diminta menandatangani daftar pengambil ijazah dan cap jari di atas ijazahnya tersebut. Lalu, tanpa berlama-lama, kami segera berpamitan.
“Sekolah di mana Nilam sekarang?”
“Di Pekanbaru Bu. Pesantren Umar bin Khatab.”
“Udah berapa juz hafalannya?”
“8 Juz Bu.”
“Berapa lama tu ngafalnya?”
“1 tahun ini Bu.”
“Dari juz satu, dua, tiga gitu ya?”
“Nggak Bu, dari juz 30 ngafalnya.”
WHAAATTT? 8 juz Laaamm? Kok banyak amat sih? Aku ingat kemarin waktu ngeMC di acara PKPU, dengar anak kelas 6 SD hafal 3 juz aja udah ‘sesuatu’ banget. Alhamdulillah, kali ini aku terkejut dengan betapa ‘sesuatu’nya adikku yang sudah hafal 8 juz di usia kelas 1 SMPnya ini.
Di perjalanan pulang, “Lam? Beneran udah hafal 8 juz?” tanyaku masih tak yakin.
“Ya Allah Mbak perasaan udah ku kasih tahu sejak kemarin lah. Masa herannya baru sekarang?”
“Masa iya sih Lam? Emang gimana sih cara gnafalnya?”
“Ya tinggal dihafal aja. dibaca sering-sering dulu sebelum dihafal.”
“Kalau kelas 1 aja udah hafal 8 juz, nanti kelas 2 dan kelas 3 ngafalnya berapa juz?”
“Kelas 2 ngafal 10 juz. Kelas 3 ngafal 12 juz. Jadi, waktu tamat SMP udah selesai 30 juz dan waktu SMA tinggal belajar kitab gundul sama tafsir-tafsir gitu lagi.”
“Lajadi?”

***
“Heh, heh, bangun lagi. Udah tidurnya tuh! Disimpan lagi untuk nanti malam sama untuk besok tidurnya dulu,” kata Papi kepada kami yang masih tidur di ruang keluarga.
Aku, mami dan Salsa segera menunaikan sholat Ashar, sementara Moza memang sengaja belum dibangunkan. Tidurnya sangat lelap dan tulang-tulang dadanya kelihatan ketika ia meletakkan tangannya di atas kepala; saking kurusnya. Hikss.
Waktu nyiapin bebukaan, Nilam cerita tentang si abang tadi yang nggak percaya bahwa aku dan Nilam kakak beradik lantaran postur tubuh yang berbeda. Mami malah ketawa mendengarnya, begitupun si penceritanya; Nilam.
Menu buka telah siap tepat ketika azan berkumandang. Ada tempe goreng, kurma dan 1 ceret besar es teh. Nyam, nyam. Kami memang nggak pernah buka dengan yang aneh-aneh. Hanya perlu es teh dan gorengan saja untuk melegakan dahaga dan menutup puasa; simple but delicious. Makanya, kalau ada yang menyajikan kolak, mendut/lapek bugih, atau onde-onde tu aku udah kenyang duluan ngelihatnya.
“Dah, dah, dah, wudhu lagiiii,” kata Mami setelah Alfi dan papi pergi ke mushola.
Aku harus mengikuti kebiasaan di rumah ini untuk makan besar setelah sholat Isya saja.
“Mbak, aku ini baru adiknya Mbak Elaaa,” kata Salsa sambil memelukku dari belakang.
“Eh, iya ya. La jadi? Kita kok cocok banget ya cilicil (baca: Salsa), Cilicil cocok sama Mbak Ela karena sama-sama bullet, Moza cocok sama kak Siyam (baca: Nilam) karena sama-sama panjangnya. Hehe. La jadi?”
Mami ketawa mendengar kesimpulanku barusan.
“Mami yang jadi imamnya ya?”
“Kalau nggak mau jadi imam tuh qomat,” kata mami yang barusan saja selesai iqomat.
Akhirnya, aku yang jadi imam bagi mami dan adek-adek. *ini karena Nilam sedang ‘cuti’ aja nya. Kalau nggak, ya udah tentu dia yang jadi imam karena hafalannya yang mumpuni.

***
“Mami goreng apa lagi nih?”
“Bakwan.”
“WEWWW! Makacih ya mi karena udah ngerti kesukaan Ela.”
“Karena tepungnya bersisa nya ini.”
“Sihiiiyy, bilang aja sengaja Mami sisain. La jadi? Mi, kita nggak langsung makan aja nih? Atau tetap nunggu habis Isya dulu?”
“Habis ini aja Ummi memang mau makan.”
“Yeyyee.. Yukk mariiiii kita makaaaaaann!” teriakku kepada seisi rumah sambil menyiapkan nasi, sayur dan lauknya
“El, pilihin kepala ikannya dulu. Kalau nggak gitu, nanti anak-anak ni milih ekornya aja dan besok waktu dipanasin tulang kepalanya udah pada hancur.”
Aku menuruti ide mami tersebut. Dan ternyata benar, Salsa, Nilam dan Alfi mempertanyakan keberadan si ekor kenapa nggak disajikan.
“Hemmm.. what I say El? I know they don’t like kepala ikan. But, they must like,” jelas mami. “Itulah feelingnya orang tua El, kuat kali. Seolah udah tahu itu yang akan terjadi. Hehe.”
Aku manggut-manggut mendengarnya dan melirik kea rah Alfi dan Nilam yang ternyata tetap bisa menikmati kepala ikan tersebut.
Setelah makan, kami bersiap untuk sholat Isya berjamaah. Alfi dan papi lagi-lagi berangkat ke mushola dengan motor baru kami yang ketceh ituu.
“Kita langsung sholat Tarawih ya. Nggak ada cerita sholat malam-malam, nanti nggak tolok (baca: sanggup) lagi karena nggak terbiasa.”
“La jadi Mi? El jadi imam sholat Isya dan Mami jadi imam sholat Tarawih ya?”
“Deal.”


***
Maaf mak tadi nggakbisa langsung balas. Adek lagi ngantar ketty di tempat penitipan kucing.
Loh kenapa ketty dititipkan dek?
Soalnya adek besok otw ke Padang mak. Lebaran di Padang kami.
Di Padang kampung opa dan oma.
Jadi, adek sebenarnya adek orang Minang?
Aku orang Indonesia. Aku bukan tipe orang yang suka diperlakukan dan diklasifikasikan berdasarkan kesukuan.
Jangan pakai aku-aku!
Lah? Bukannya mak yang ngajarin harus konsisten kalau nulis? Pakai aku, saya atau penulis.
Pake adeklah. Emang biasanya ngomong sama mak pake aku-aku. Kagak kan?
Mak. Itu kan adek lagi gaya bikin tulisan, bukan gaya sms. Btw, adek kangen baca tulisan emak loh. Tiap hari nge-reload  bloh mak. Tapi masih stag di hari ke 20 aja seputar hotel dan bengkel.
Heheh. Mak kan syok kalau adek pakai aku-aku. Hehe, baru aja mak mau tanya, adek kangen nggak dengan tulisan mak? Hehe. Di kampung susah dek sinyal smartfrennya. Ntar coba tattering dulu.
Buruan opload tulisan mak! Oya, gimana mobil barunya? Udah ada nyoba?
Nah, ada fakta terbaru tentang si mobil dek. Segera mak share ya dek. Wait me!
“Pi, coba wifi dari VIVO tu dinyalakan. El mau coba online nih.”
“Loh, wifinya kan sedang nggak ada. Gimana mau dipake?”
“Bukan gitu Pi. HP kita ini bisa jadi pemancar wifi dan orang lain bisa menikmati. Jadi, yang menjadi wifinya itu ya HP ini.”
“Tekor lah kalau gitu? (baca: rugi).”
“Ya nggak lah. Kalau kita pakai paket yang unlimited Pi, sama doank kok.”
Papi berusaha menemukan pengaturan untuk bisa berbagi wifi. Dan, ketika sudah ketemu dan bisa terkonek, giliran papi yang bilang “Udah lah, besok-besok aja, ini quotanya Cuma 5mb. Mana kuat internetan dari laptop. Yang penting kan udah bisa dan udah tahu caranya dulu.”
Yah, dek map ya. Mak belum bisa bagi tulisan terbaru nih. Hikss.
Aku beralih nonton TV, ngetiknya ku jeda dulu.
 “Setiap manusia diciptakan dengan potensinya masing-masing. Setiap potensi itu harus bisa dijalankan secara seimbang, seperti sepasang kaki yang kita gunakan untuk berjalan. Kenapa kita diberi 2 mata dan 1 mulut? Supaya kita melihat 2x sebelum berbicara 1x. Kenapa kita diberi 2 telinga dan 1 mulut? Supaya kita mendengar 2x sebelum kita berbicara 1x. Kenapa kita diberi 2 tangan dan 1 mulut? Supaya kita bekerja 2x lebih keras sebelum berbicara 1x.”
“Azzeeeeeeeeekk,” kataku ketika menonton acara TV yang juga mami tonton. Mami ikut tersenyum ketika mendengarku berkomentar barusan.
“Semakin besar sebuah dendam, semakin sadis cara pelampiasannya. Barangkali bisa berlanjut dengan menghabisi nyawa. Tujuannya untuk menumpahkan amaran dan dendam si pelaku karena sudah tidak sanggup lagi ditahannya,” papar pengamat kriminologi di berita yang ku tonton saat ini.
“Dah, tidur tidur! 15 menit lagi belum tidur, tak datangi ke kamar ya!” kata mami. Padahal, aku masih enak-enak ngetik nih. Yah, jadinya harus sembunyi-sembunyi ngetiknya yang penting masuk kamar dulu.
“Dedek mau tidur sama kak Siyam atau sama Kela-kelo? (baca: Mbak Ela)”
“Sama Mbak Ela lah.”
*info: masing-masing kami punya banyak nama panggilan di rumah ini. 1 orang dengan banyak nama aneh. hehe. So, jangan bingung ya pemirsaaa. Maklum aja. Pura-pura faham aja ya.

Tidak ada komentar: