“Mbak Elaaa, bangun Mbak!”
“Mbak, cepetlah bangun. Sahur! Udah mau imsak niii.”
“Mbaakk.. cepet banguuunn.”
Sahut menyahut suara itu menyerangku silih berganti. Rasanya
ada benda runcing yang sengaja dicucukkan ke tanganku supaya aku segera bangun.
Tapi, tetap saja butuh beberapa kali usaha tersebut diulang sampai aku
benar-benar bangun.
“Loh? Kita nggak terawih niii?” pertanyaan pertamaku itu
yang terlontar ketika sadar belum sholat Tarawih.
“Dibangunkan dari tadi nggak ada yang bangun,” jawab Papi.
Aku segera ke dapur dan mami sudah selesai sahur. “Kita
nggak Tarawih ni berarti Mi?”
“Udah jam setengah lima dah. Cepatlah makan tu haaa! Imsak
pula sebentar lagi nanti.”
Tanpa mencuci muka, aku segera meraih piring berisi nasi dan
menambahkan tumis kangkung, martabak telur dan sambal ikan ke atasnya. Dengan
sigap, aku melahap. Ntah kenapa, aku seolah yakin masih punya harapan atas
waktu yang sempit ini. Aku belum tahu persis sudah jam berapa ini. Tapi,
biasanya jam waspadanya mami dan jam waspadaku itu berbeda.
Kurang dari 10 menit, aku sudah selesai dengan sahurku dan
segera berwudhu. Pukul 04.26wib, setelah ku check di HP papi. Kan, bener
dugaanku? Hemmm…masih sempat nih mengejar Tarawih. *Ciyaaaatttt.
“4 lewat 42 udah imsak ya. Baca Qulhuu Qulhuu aja nanti El,”
kata Papi.
Oke, fine, ini adalah sholat Tarawih tercepatku. Tapi insya
Allah tuma’ninahnya tetap terjaga, hanya saja suratnya yang ku singkat
bacaannya.
***
Setelah sholat Subuh, ku sempatkan mengaji dengan mata
terkantuk-kantuk. Setidaknya, ketika pun nanti aku keceplosan (baca:
kebablasan) bangunnya, aku tidak terlalu menyesal karena udah nabung ngaji.
Barulah setelah itu, aku tidur di kamar.
Setahuku, semua orang juga pada tidur setelah subuh. Tapi,
ntah bagaimana ceritanya ketika aku bangun jam 8.45wib, hanya aku sendiri yang
baru terjaga. Anak-anak udah ngeluyur, udah pada mandi juga dan mami udah nyuci
plus jemur baju. Hemmm… mereka nggak se-bernafsu aku untuk tidur barangkali.
Hiksss…
Rencananya, aku ingin segera mandi, Dhuha dan lanjur ngaji sebanyak-banyaknya
untuk menghukum tidurku yang kelewat lama tadi. Tapi, ternyata masih ada
sedikit baju yang mami cuci. Akhirnya, aku sok-sok rajin baca buku satu-satunya
yang ku bawa ke sini; Cara Menghidupkan
Karakter Tokoh.
“Ringan kali HPmu ini El,” kata papi sambil menimang-nimang
ASUSku.
“Namanya aja HP Papi tu lebih gede daripada ASUS El.”
Papi mengambil ASUSku dan VIVOnya untuk dibandingkan. tapi,
sepertinya ia belum puas dengan prediksinya itu dan berkata, “Ah, ku coba
timbang dulu ini. Kita kan punya timbangan,” kata papi. Timbangan yang dimaksud papi adalah timbangan yang biasanya
digunakan untuk menimbang beras atau tepung, kapasitas beratnya 5kg.
Aku merasa itu lucu sebenarnya, tapi ku jawab saja,”Ha,
betul tuh Pi. Timbang aja!”
Lalu papi beranjak ke dapur dan kembali lagi.
“Gimana Pi?”
“Punyaku 2,8gram, punyamu 2,6gram.”
“Cuma selisih sikiit nyaaa.”
“Ini cara nyari menu Telkomselnya gimana ya?”
“Menu yang tempat sinyalnya maksudnya Pi?”
“Itu loh, yang untuk ngatur-ngatur kartu kita. Di tempatmu
itu ka nada menu Planet 3, ini di VIVO kok nggak ada ya?”
“Ada tuh Pi, tapi El pun belum tahu di mana letaknya.”
Melihat mami sudah ke luar dari kamar mandi, aku segera
mengangkat pakaian se-bak itu untuk di jemur di belakang.
“Jangan digantung di kayu tu ya El. Kotor kali tu kayunya,”
teriak mami dari dalam.
“Mbak, kata Ummi jangan banyak-banyak nggantung di tali yang
ujung, takut putus nanti kalau
keberatan,” kata Nilam pula.
Aku menuruti instruksi-instruksi itu dengan hati-hati. Di
tengah aksi penjemuran, lewatlah bu Sumini, tetangga sebelah kiri rumahku.
“Loh El? kau kapan pulangnya?”
“Semalam baru Bu. Eh, kemarin Om Min sakit ya katanya Bu?
Sakit apa?”
“Itu, kena batu empedu El.”
“Sekarang udah sembuh kan Bu?”
“Udah. Ini malah Kak Dina yang kemarin jatuh dari kereta
(baca: motor). Mukanya habis El luka tu,” kata bu Sumini sambil menunjuk
sebagian muka.
“Lah? Kok bisa Bu? Kak Dina kan udah bisa naik motor kan?”
“Ya udah El. kemarin itu pas pulang dari puskesmas
iring-iringan sama kawannya. Mungkin ya keselip atau kepinggiran akhirnya
jatuh. Pas kali setelah jembatan itu, depan rumah Bu Sulami.”
“Hoawalaahh, kasiha Kak Dina ya.”
“Kau berapa lama libunya rupanya?”
“2 mingguanlah Bu.”
***
“Eh, kamu ke Bagan sana sama Mbak Ela.”
“Eh, kamu ke Bagan sana sama Mbak Ela.”
Aku dengan sekilas papi berkata demikian kepada Nilam di
dapur.
“Mbak, kita ke Bagan yuk ngambil ijazahku di tempat bu
Zurwida?” pinta Nilam kepadaku.
“Tahu alamatnya di mana?”
“Katanya di dekat Terminal gitulah.” Nilam mendekati mami
untuk bertanya lebih jelas.
Aku mengobrak-ngabrik lemari mami untuk mencari rompi imut
yang sekarang sudah tahu mau ku apakan.
“Mi, ini buat Ela ya?”
“Ambillah sana,” jawab Papi.
“Lucu loh. El baru tahu kalau ini keren sekarang.”
“Eh, tapi kayaknya dagumu sekarang ada 2 ya El?” tanya papi.
Aku belum ‘ngeh’ dengan maksud papi itu. beberapa detik
kemudian barulah aku sadar bahwa papi sedang menyindir lipatan antara dagu dan
leherku. Hiksss..
“Iya, lehernya jugaberlipat-lipat tuu!” tambah Nilam.
“Isss..jorki kali Mbak Ela niii.”
Diejek seperti itu malam membuatku semakin memamerkannya
kepada papi dan Nilam. Hehe.
ke SPBU dulu. Baru nyeberang ke komplek Perumnas dan masuk ke gang ke-3 sebelah
kirinya. Nanti tanya aja yang mana rumah Ibu itu. Masa nggak ada yang kenal
dengan dia. Nah, setelah itu foto kopi AKTAnya Alfi ini dan legalisir di Dinas
Pencatatan Sipil, letaknya sebelum SPBU kalau dari sini. Berarti mutar dulu
kalian nanti.”
“Huyaah, ntah apo-apo naaa. Poneng awak dibueknyo
memuta-rmutar,” kataku, setelah mendengarkan penjelasan mami dan papi yang
saling tambah menambah.
“Udahlah, biar inyong aja kalau gitu yang berangkat!” kata
papi.
Aku melihat papi bergegas hendak bersiap-siap. “Pi, bisa El
nyoo. Biar El ajalah. Memang poneng (baca: Pusing) tapi masa nggak ketemu sih
nyari gitu aja?”
“La jadi? Ke Thailand aja bisa, masa gitu aja nggak bisa?”
kata papi.
“Kalau ke Thailand itu sekalian aja nggak tahu apa-apa Pi.
Jadi, nggak bingung. Hehe.”
Nilam ku bonceng dengan motor baru. Dia menyandang ransel
berisi laptopku dan berkas-berkas. Udah lama nggak ke Bagan dan kali ini aku
harus ekstra hati-hati untuk menghindari jalan yang berlubang dan rusak.
Meskipun, sempat beberapa kali juga kena ‘jebakan batman’, pinjam istilah dari
Rincuy. Hehe.
***
Di SPBU, ketika giliran antrianku semakin mendekat, aku baru
hendak membuka jok motor dan ternyata cara membukanya bukan dengan cara biasa.
Aku melongok ke bagian samping kanan bawah, tempat kunci pembuka jok yang
biasanya terletak. Ternyata nggak ada lubang kuncinya. Ah, mungkin cara
membukanya dari kunci seperti awal menyalakan motor. Tetap saja tidak bisa.
“Bang, bisa tolong bukain joknya ni?”
Abang yang ngantri di belakangku itu pun nggak bisa
membukanya. Duh, masa aku harus ngacir karena jok ini nggak bisa dbuka? Padahal
udah lama juga ngantrinya. Pi, ini motor
barunya gimana sih? Kok rempong banget? Tadi kenapa nggak ngasih tahu Ela cara
membukanya toh? Gerutuku di dalam hati.
Abang pengisi minya yang sedang mengisi tanki mobil itu
mengkodeku untuk tenang, dia akan membantuku. Ahh, aku sedikit tenang
pemirsaaaa. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan minyak sudah terisi
penuh. Selanjutnya, kami nyebrang ke jalan Perumnas tepat di depan SPBU ini.
“Lam. Yang mana ya rumah Ibu itu?” tanyaku kepada Nilam ketika
kami telah masuk ke dalam gang ke-3.
“Nggak tahu Mbak.”
Aku nekat nanya kepada 2 laki-laki yang sedang nyemen teras
rumah.
“Ini dia rumahanya Dek. Tapi baruuu aja Ibu tu ke luar
rumah. Bawa tas, rapi juga tapi nggak tahu ke mana. Mungkin belanja tuh, karena
nggak mungkin ke sekolah jam segini kan!” jelasnya.
“Abang punya nomor HP Ibu tu?”
“Nggak ada pula Dek. Rumahnya ni pun kosong. Biasanya ada
motor yang 1 lagi tu, tapi ini 2 2nya nggak ada. Tunggu ajalah dulu Dek. Nggak
lama Ibu tu dooh.”
Aku duduk di ayunan yang bentuknya seperti tempat duduk dan
hanya muat untuk 2 orang ini.
“Lam, fotoin rumah ini sana. Biar kalau ke sini lagi udah
ada gambaran.”
“Adek ni guru juga? Ngajar di mana?” tanya abang tadi.
“Bukan Bang. Dia tu muridnya Ibu, saya Kakaknya. Kami mau
ngambil ijazah ke sini nii.”
“Ha? Kapan tamatnya Dek? Kok baru diambil sekarang pula?”
“Tahu lalu Bang. Kemarin nggak sempat karena saya masuk
pondok di Pekanbaru,” jawab Nilam.
“Jadi, kalian ini Kakak beradik?”
“Iya Bang,” jawab Nilam.
“Tapi tak mirip doh! Yang satunya wajahnya bulat yang satu
lagi panjang. Kakaknya pasti suka makan tomat, adiknya suka makan timun.”
Nilam menyenggol kakiku. “Ih, Mbak Ela dibilang mirip tomat,
hehe.”
“Itulah kerennya. Daripada mirip timun? Jarang kali orang
bilang gitu kan?”
“Itu pasti gara-gara muka Mbak Ela bulat dan pipinya
tembem.”
Aku menyandarkan bahuku di ayunan ini dan merebahkan kepala
di pinggirannya. *Selalaaaapnya tidur El nih!. Sempat teringat sih untu nulis,
tapi rasa malasku lebih besar kiranya. Aku sudah miscall-in mami dan papi, tapi
mereka nggak juga balas nelvon balik.
Miscall-anku yang ntah ke berapa, barulah diangakat oleh
mami.
“Jadi gimana?”
“Ibu tu nggak ada di rumah Mi. Jadi kami harus gimana nih?”
“Ke Dinas Pencatatan Sipil aja dulu, foto kopi AKTAnya Alfi
tu rangkap 4.”
Sebelum beranjak, aku meminta nomor abang itu supaya bisa
memantau kedatangan bu kepsek. Aku berhenti di tempat foto copi tak jauh dari
jalan Perumnas tadi ke arah selatan. Selanjutnya, aku langsung menyambangi
DISDUKCAPIL.
“Bang, mau legalisir di mana ya?”
Yang ditanya menunjuk ke ruangan berlabel SEKRETARIS. Aku
fikir itu adalah ruangan pribadi seorang sekretaris, eh ternyata rame banget
orang di dalamnya.
“Oh, lahirnya di Bengkulu Utara ya? Harus di sana juga Dek
melegalisirnya. Nggak bisa di sini.”
“Atau ada di KKnya ada keterangan domisili di sini?” tanya
yang lainnya kepadaku.
“Wah, nggak ada Kak. Dia ni kan baru pindah ke sini dan mau
ngurus ini.”
“Wah, nggak bisa kalau gitu Dek. Harus di tempat domisilinya
legalisirnya Dek,” kata mereka bergantian.
“Oh gitu ya. Hemm..ya udah deh, makasih ya Bang.”
Aku segera ke luar dari gedung putih ini.
“Bisa Mbak?”
“Mana bisa pula. Mbak pun baru ngeh nih, kok Papi minta legalisir di sini pula? sementara udah
jelas Alfi tu bukan orang sini? Kok aneh ya tujuan Papi ini. Kalau gini pun
Mbak udah yakin kalau di sini pasti nggak bisa.”
Papi menelvon setelah ku miscall.
“…tapi ijazah Ummi bisa kok dilegalisir kemarin.”
“Ya, mungkin itu karena kita udah domisili di sini Pi. Kan
di KKnya tertulis. Kalau Alfi ni emang semuanya serba di Bengkulu.”
“Oh ya lah nggak usah diurus dulu yang itu. Ambil aja
ijazahnya Nilam tu.”
Bang, bu zurwida
udah pulang?
Tapi, pesanku tak segera berbalas. Akhirnya ku putuskan ke
Taman Budaya MTQ saja bersama Nilam. Itung-itung bisa foto-foto di sana sambil
nunggu kepastian.
***
Pukul 11.40wib
Aku dan Nilam memutuskan untuk berteduh di bawah pohon-pohon
bunga di depan Taman Budaya. Tak jauh dari sini ada masjid, jadi ketika azan
berkumandang dan bu Zurwida belum juga pulang, kami bisa langsung sholat dulu.
Yuhuuu.
Tak banyak yang berubah dari suasana di komplek MTQ ini.
Tamannya masih seperti ini, sunyinya masih seperti ini dan bangunan-bangunannya
pun tak jauh berbeda Dulu, sewaktu SMA aku sering sekali jalan-jalan sore dan
berfoto di taman ini bersama Ayu. Dan, sekarang aku pun minta difotokan oleh
Nilam di halaman depannya saja. Nggak sanggup rasanya kalau mau berkeliling ke
dalam. Karena, aku merasa hari ini begitu terik meskipun secara kasat mata,
matahati tak terlalu menyengat.
Aku mulai rebahan di atas rerumputan nan hijau ini dengan
menutup muka menggunakan tas.
Assalamualaikum…
Apa kabar? Selamat
berpuasa ya, mohon maaf lahir dan bathin. Aku mau ngirimin uang penjualan dan
sewa kemarin. Tolong kirimin nomor rekeningmu ya. Total yang mau ku setor itu
sekitar Rp 181.000. Maaf ya kalau kurang atau kelebihan, karena udah lama
banget juga. Sama-sama ikhlas ya.
Sent. Pesanku
terkirim kepada seseorang yang setahun lalu pernah terang-terangan menyatakan
bahwa ia tak ingin berkarib lagi denganku. Pun, beberapa bulan yang lalu ia
baru saja memblokir dan mengunfriendku dari pertemanan. Aku sudah mengingat itu
semua dan sudah banyak menimbang-nimbang sebelum memutuskan mengSMSnya barusan.
Ah, kalau dia masih menyimpang benci kepadaku, itu adalah urusannya dengan
Allah. Karena, aku sudah melunasi kewajibanku untuk meminta maaf kepadanya
sebagai orang yang bersalah. Pesan itu juga sebagai pernyataan tak langsung
dariku bahwa, “Hey, aku udah biasa aja loh sama kamu. Apalagi ini bulan puasa,
aku pun belajar banyak untuk memaafkanmu. Please try to be normal! Balaslah
SMSku dengan biasa aja, ada
kepura-puraan di hatimu (seperti aku yang berusaha biasa saja dalam
mengSMSmu kali ini).”
Nilam sedang duduk bersila di sampingku sambil melihat-lihat
jepretan tadi. Lagi-lagi aku tertidur sampai nggak sadar udah azan aja.
“Lam, udah azan ya?” tanyaku ketika baru saja mendengar
suara takbir dari toa mesjid.
“Udah dah.”
Segera ku ajak Nilam bergegas naik ke atas motor, melaju
melewati bundaran ikan dan berbelok ke kiri di halaman masjid Khairunnas ini.
“Hemm…adem banget ya Lam. Kita di sini aja ntar sampai Abang
itu ngasih tahu kalau bu Zur udah pulang.”
Aku sholat dan dilanjutkan dengan mengetik. Soalnya, hanya
laptop yang terbawa untuk membunuh waktu luang sementara AL-Quran tertinggal.
Heehe. Sekarang, giliran Nilam yang tertidur nyenyak.
Segan banget rasanya ketika aku melihat 99% jamaah masjid
ini adalah laki-laki berseragam coklat; para pegawai kantoran. *aku jadi merasa
paling cantik di sini. Hiii, kayaknya mereka ngelihatin aku deh ciinn. Eke kan
jadi risih gitcuuu. Hehee.
Setelah sholat Zuhur, ada siraman rohani dari tetua di
antara para pegawai itu. “…sebenarnya yang dikatakan zikir itu bukan hanya
dengan mengucapkan kalimat-kalima zikir. Tapi, ketika kita berprilaku
seolah-olah selalu diawasi oleh Allah. Mau berbuat curang, tapi urung karena
sadar Allah maha Melihat. Bukan hanya diterjemahkan ketika kita mengucapkan
dengan lancar zikir saja. Nah, perbuatan baik kita itu pun disebut dengan
zikir. Karena zikir itu adalah mengingat Allah, setiap saat setiap waktu.”
Aku menyimak hikmah yang disampaikan tersebut sebelum
melanjutkan sholat sunnah ba’diyah Zuhur.
Dek, kemarilah. Ibuk
udah pulang dah.
HPku berbunyi dan pesan itu ku baca.
“Lam, Lampriit. Bangun mpriiit.” Nilam mulai membuka mata
dan mengucek-nguceknya. “Abang itu udah sms, katanya Bu Zur udah datang. Yuk
marii kita pergi ciinn?”
Sesampainya di teras rumah bu Zurwida, si abang mengkode
kami untuk mengetuk pintu dan mengucapkan salam lebih keras karena ibu itu
sedang di ruang belakang.
“Makasih banyak ya Bang,” bisik kami kepada abang itu.
Pintu dibuka oleh wanita paruh baya yang memakai mukena,
“Salami Ibu tu Lam!” bisikku ke telinga Nilam.
“Eh, masukk,” kata bu Zur kepada Nilam. Aku menyusul Nilam
dari belakangnya.
Nilam diminta menandatangani daftar pengambil ijazah dan cap
jari di atas ijazahnya tersebut. Lalu, tanpa berlama-lama, kami segera
berpamitan.
“Sekolah di mana Nilam sekarang?”
“Di Pekanbaru Bu. Pesantren Umar bin Khatab.”
“Udah berapa juz hafalannya?”
“8 Juz Bu.”
“Berapa lama tu ngafalnya?”
“1 tahun ini Bu.”
“Dari juz satu, dua, tiga gitu ya?”
“Nggak Bu, dari juz 30 ngafalnya.”
WHAAATTT? 8 juz Laaamm? Kok banyak amat sih? Aku ingat
kemarin waktu ngeMC di acara PKPU, dengar anak kelas 6 SD hafal 3 juz aja udah
‘sesuatu’ banget. Alhamdulillah, kali ini aku terkejut dengan betapa
‘sesuatu’nya adikku yang sudah hafal 8 juz di usia kelas 1 SMPnya ini.
Di perjalanan pulang, “Lam? Beneran udah hafal 8 juz?”
tanyaku masih tak yakin.
“Ya Allah Mbak perasaan udah ku kasih tahu sejak kemarin
lah. Masa herannya baru sekarang?”
“Masa iya sih Lam? Emang gimana sih cara gnafalnya?”
“Ya tinggal dihafal aja. dibaca sering-sering dulu sebelum
dihafal.”
“Kalau kelas 1 aja udah hafal 8 juz, nanti kelas 2 dan kelas
3 ngafalnya berapa juz?”
“Kelas 2 ngafal 10 juz. Kelas 3 ngafal 12 juz. Jadi, waktu
tamat SMP udah selesai 30 juz dan waktu SMA tinggal belajar kitab gundul sama
tafsir-tafsir gitu lagi.”
“Lajadi?”
***
“Heh, heh, bangun lagi. Udah tidurnya tuh! Disimpan lagi
untuk nanti malam sama untuk besok tidurnya dulu,” kata Papi kepada kami yang
masih tidur di ruang keluarga.
Aku, mami dan Salsa segera menunaikan sholat Ashar,
sementara Moza memang sengaja belum dibangunkan. Tidurnya sangat lelap dan
tulang-tulang dadanya kelihatan ketika ia meletakkan tangannya di atas kepala;
saking kurusnya. Hikss.
Waktu nyiapin bebukaan, Nilam cerita tentang si abang tadi
yang nggak percaya bahwa aku dan Nilam kakak beradik lantaran postur tubuh yang
berbeda. Mami malah ketawa mendengarnya, begitupun si penceritanya; Nilam.
Menu buka telah siap tepat ketika azan berkumandang. Ada
tempe goreng, kurma dan 1 ceret besar es teh. Nyam, nyam. Kami memang nggak
pernah buka dengan yang aneh-aneh. Hanya perlu es teh dan gorengan saja untuk
melegakan dahaga dan menutup puasa; simple but delicious. Makanya, kalau ada
yang menyajikan kolak, mendut/lapek bugih, atau onde-onde tu aku udah kenyang
duluan ngelihatnya.
“Dah, dah, dah, wudhu lagiiii,” kata Mami setelah Alfi dan
papi pergi ke mushola.
Aku harus mengikuti kebiasaan di rumah ini untuk makan besar
setelah sholat Isya saja.
“Mbak, aku ini baru adiknya Mbak Elaaa,” kata Salsa sambil
memelukku dari belakang.
“Eh, iya ya. La jadi? Kita kok cocok banget ya cilicil
(baca: Salsa), Cilicil cocok sama Mbak Ela karena sama-sama bullet, Moza cocok
sama kak Siyam (baca: Nilam) karena sama-sama panjangnya. Hehe. La jadi?”
Mami ketawa mendengar kesimpulanku barusan.
“Mami yang jadi imamnya ya?”
“Kalau nggak mau jadi imam tuh qomat,” kata mami yang
barusan saja selesai iqomat.
Akhirnya, aku yang jadi imam bagi mami dan adek-adek. *ini
karena Nilam sedang ‘cuti’ aja nya. Kalau nggak, ya udah tentu dia yang jadi
imam karena hafalannya yang mumpuni.
***
“Mami goreng apa lagi nih?”
“Bakwan.”
“WEWWW! Makacih ya mi karena udah ngerti kesukaan Ela.”
“Karena tepungnya bersisa nya ini.”
“Sihiiiyy, bilang aja sengaja Mami sisain. La jadi? Mi, kita
nggak langsung makan aja nih? Atau tetap nunggu habis Isya dulu?”
“Habis ini aja Ummi memang mau makan.”
“Yeyyee.. Yukk mariiiii kita makaaaaaann!” teriakku kepada
seisi rumah sambil menyiapkan nasi, sayur dan lauknya
“El, pilihin kepala ikannya dulu. Kalau nggak gitu, nanti
anak-anak ni milih ekornya aja dan besok waktu dipanasin tulang kepalanya udah
pada hancur.”
Aku menuruti ide mami tersebut. Dan ternyata benar, Salsa,
Nilam dan Alfi mempertanyakan keberadan si ekor kenapa nggak disajikan.
“Hemmm.. what I say El? I know they don’t like kepala ikan.
But, they must like,” jelas mami. “Itulah feelingnya orang tua El, kuat kali.
Seolah udah tahu itu yang akan terjadi. Hehe.”
Aku manggut-manggut mendengarnya dan melirik kea rah Alfi
dan Nilam yang ternyata tetap bisa menikmati kepala ikan tersebut.
Setelah makan, kami bersiap untuk sholat Isya berjamaah.
Alfi dan papi lagi-lagi berangkat ke mushola dengan motor baru kami yang ketceh
ituu.
“Kita langsung sholat Tarawih ya. Nggak ada cerita sholat
malam-malam, nanti nggak tolok (baca: sanggup) lagi karena nggak terbiasa.”
“La jadi Mi? El jadi imam sholat Isya dan Mami jadi imam
sholat Tarawih ya?”
“Deal.”
***
Maaf mak tadi
nggakbisa langsung balas. Adek lagi ngantar ketty di tempat penitipan kucing.
Loh kenapa ketty
dititipkan dek?
Soalnya adek besok
otw ke Padang mak. Lebaran di Padang kami.
Di Padang kampung
opa dan oma.
Jadi, adek
sebenarnya adek orang Minang?
Aku orang Indonesia.
Aku bukan tipe orang yang suka diperlakukan dan diklasifikasikan berdasarkan
kesukuan.
Jangan pakai
aku-aku!
Lah? Bukannya mak
yang ngajarin harus konsisten kalau nulis? Pakai aku, saya atau penulis.
Pake adeklah. Emang
biasanya ngomong sama mak pake aku-aku. Kagak kan?
Mak. Itu kan adek
lagi gaya bikin tulisan, bukan gaya sms. Btw, adek kangen baca tulisan emak
loh. Tiap hari nge-reload bloh mak. Tapi
masih stag di hari ke 20 aja seputar hotel dan bengkel.
Heheh. Mak kan syok
kalau adek pakai aku-aku. Hehe, baru aja mak mau tanya, adek kangen nggak
dengan tulisan mak? Hehe. Di kampung susah dek sinyal smartfrennya. Ntar coba
tattering dulu.
Buruan opload
tulisan mak! Oya, gimana mobil barunya? Udah ada nyoba?
Nah, ada fakta
terbaru tentang si mobil dek. Segera mak share ya dek. Wait me!
“Pi, coba wifi dari VIVO tu dinyalakan. El mau coba online
nih.”
“Loh, wifinya kan sedang nggak ada. Gimana mau dipake?”
“Bukan gitu Pi. HP kita ini bisa jadi pemancar wifi dan
orang lain bisa menikmati. Jadi, yang menjadi wifinya itu ya HP ini.”
“Tekor lah kalau gitu? (baca: rugi).”
“Ya nggak lah. Kalau kita pakai paket yang unlimited Pi,
sama doank kok.”
Papi berusaha menemukan pengaturan untuk bisa berbagi wifi.
Dan, ketika sudah ketemu dan bisa terkonek, giliran papi yang bilang “Udah lah,
besok-besok aja, ini quotanya Cuma 5mb. Mana kuat internetan dari laptop. Yang
penting kan udah bisa dan udah tahu caranya dulu.”
Yah, dek map ya. Mak
belum bisa bagi tulisan terbaru nih. Hikss.
Aku beralih nonton TV, ngetiknya ku jeda dulu.
“Setiap manusia
diciptakan dengan potensinya masing-masing. Setiap potensi itu harus bisa
dijalankan secara seimbang, seperti sepasang kaki yang kita gunakan untuk
berjalan. Kenapa kita diberi 2 mata dan 1 mulut? Supaya kita melihat 2x sebelum
berbicara 1x. Kenapa kita diberi 2 telinga dan 1 mulut? Supaya kita mendengar
2x sebelum kita berbicara 1x. Kenapa kita diberi 2 tangan dan 1 mulut? Supaya
kita bekerja 2x lebih keras sebelum berbicara 1x.”
“Azzeeeeeeeeekk,” kataku ketika menonton acara TV yang juga
mami tonton. Mami ikut tersenyum ketika mendengarku berkomentar barusan.
“Semakin besar sebuah dendam, semakin sadis cara
pelampiasannya. Barangkali bisa berlanjut dengan menghabisi nyawa. Tujuannya
untuk menumpahkan amaran dan dendam si pelaku karena sudah tidak sanggup lagi
ditahannya,” papar pengamat kriminologi di berita yang ku tonton saat ini.
“Dah, tidur tidur! 15 menit lagi belum tidur, tak datangi ke
kamar ya!” kata mami. Padahal, aku masih enak-enak ngetik nih. Yah, jadinya
harus sembunyi-sembunyi ngetiknya yang penting masuk kamar dulu.
“Dedek mau tidur sama kak Siyam atau sama Kela-kelo? (baca:
Mbak Ela)”
“Sama Mbak Ela lah.”
*info: masing-masing kami punya banyak nama panggilan di
rumah ini. 1 orang dengan banyak nama aneh. hehe. So, jangan bingung ya
pemirsaaa. Maklum aja. Pura-pura faham aja ya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar