“Mi, sebenarnya kita
silaturahmi ke rumah orang-orang tu sekaligus jugaa..”
“Ngabisin makanannya?”
“Lah? Itu udah pasti. Tapi, ada lagi selain yang itu Mi.
Cobalah berapa banyak orang yang udah tau gimana cara bersalaman dan berpakaian
yang bener-bener syar’I Mi.”
“Tapi gimana kalau orang tu udah duluan ngulurkan tangannya?
Kayak pak RT semalam tu udah keduluan dungkeman pula di depan Ummi. Padahal
waktu kemarin kita ke rumahnya, udah Ummi salamin dari jauh. Eh, malah semalam
dia datang ke sini sungkeman.”
“Setidaknya Mami udah pake jilbab lebat. Jadi kan tetap
terjaga Mi. La jadi?”
“coba aja seandainyaa…”
“Eh, ini nanti nasinya diwadahi, piring semua dicuci, maknan
itu ditaruk di atas,” kata mami sambil berlalu dari dapur.
Aku hanya mendengarkan instruksi mami, tapi tak terfahami.
Karena, fokusku terpusat kepada mataku yang tak bergeming dari memandang mami. Masih ada loh Mi yang mau El omongkan. Mami
selalu aja gitu. Kapan kita bisa bicara dalam waktu yang lama dan ‘nyambung’?
Kalimat yang belum sempat tersampaikan kepada mami akhirnya
hanya terangkai di hati, Mi, ada sesuatu
yang lebih tinggi dan mulia dari sekedar memikirkan diri sendiri (untuk
terhindar dari bersalaman, yaitu kita
telah berhasil memberitahu kepada setiap orang yang kita temui bahwa bersalaman
itu nggak boleh, memakai baju ketat itu nggak boleh, nggak menutup aurat itu
nggak boleh. Ya apalagi kalau bukan lewat penampilan kita itu. Sebab Islam itu
adalah care and share.
Aku juga mau bilang gini tadi sebenarnya, “Mi, coba
seandainya orang yang seperti ini (yang udah tahu aturan Islam), nggak mau
bergaul dan berinteraksi dengan warga yang kebanyakan masih awam, darimana
mereka bisa terinspirasi untuk lebih baik? Sedangkan mereka nggak punya
referensi ‘figur’ islami dalam pergaulan mereka sehari-hari.”
