Pada suatu pulang yang berulang, aku pernah
bertanya tentang kain Jarik (baca: kain gendong) kepada mami lantaran seringnya
ku dapati mami mempunyai kain Jarik baru, meskipun tidak selalu.
“Mi, kenapa sih kok suka kali punya kain
Jarik gini? Ini masih baru kan?” tanyaku sambil mencium Jarik beraroma khas
pakaian jawa itu.
“Kata orang, kain ini nggak pernah bisa lepas
dari kita. Karena, sejak lahir sampai kita nggak ada, kain ini akan selalu
mendampingi kita.”
Itu adalah jawaban yang kurang memuaskan akal
sebenarnya, tapi cukup mengkayakan jiwa. Aku tersentuh mendengarnya dan tidak
ingin bertanya apa-apa lagi lebih jauh.