Rabu, 10 Juni 2015

Sosialisasi Program Kepemudaan dari Dispora Pekanbaru


Sambil terus menyikat gigi, lamunanku tentang cerita tadi sore bermula,
“Dek, tadi Kakak lihat Kak Vivien. Dia jadi pembicara di hotel Resti Menara.”
“Tahu kok!” dengan ekspresi cuek. “Kan setiap malam kami telvonan tuuu,” tambahnya lagi.
Hatiku rasanya cekat-cekit mengenangnya. Tiba-tiba muncul pertanyaan: Jika dalam 1 waktu aku dan dia berdampingan, manakah yang akan lebih dulu kau tegur, Dek? Manakah yang akan lebih antusias kau ajak bicara, Dek? Manakah yang akan lebih histeris kau sapa, Dek?” Sebenarnya, aku sudah tahu jawabannya dan bisa membayangkannya seketika. 

Ku ambil air wudhu perlahan. Dinginnya hambar, tidak meresap sampai ke pori-pori seperti sejuk di pagi hari. Lamunanku tadi mulai terangkai lagi; Aku sudah mendengar segala keluh kesahmu. Juga tentang cemburumu yang kau jabarkan dari A sampai Z ragamnya. Tapi, tak sekalipun aku menceritakan tentang cemburuku yang sesungguhnya, bukan? Sampai detik ini pun aku masih bungkam tentang yang satu itu. Bahkan saat kau berkata, ‘Apapun yang terjadi, jangan kurangi sayangmu kepadaku’ pun aku menyanggupi permintaan itu. Serta merta dan tanpa syarat apa pun.
Tentang hatiku, aku yang lebih tahu. Saat ini, aku sedang tidak ingin mengakui apa-apa. Meski air mataku telah terlebih dahulu mengakui sesuatu.