Tepat
pukul 13.00 WIB seluruh peserta OSN (Olimpiade Sains Nasional) yang berasal
dari berbagai penjuru Riau tiba di Hotel Putri Hijau, Pekanbaru. Berbagai
kendaraanpun memadati halaman hotel. Mulai dari sepeda motor tukang ojek, hingga
Mercedes. Bapak Wali kota membooking hotel berbintang 4 ini untuk penyeleksian
selama tiga hari ke depan.
Begitu
pintu Lobi dibukakan oleh seorang Doorboy….
Nyessss!!! Sejuknya menusuk hingga ke kulit. Lampu hias antik disetiap sudut
ruangan bernuansa kolonial melengkapi arsitek ruangan ini, ditambah lagi dengan
musik klasik yang membuat suasana bertambah elegan. Sementara dua orang
resepsionis jelita itu terlihat Friendly dalam
melayani ratusan peserta yang antrian check in.
Seorang wanita belia nekat terjun dari
lantai 13 sebuah hotel.
Deg
!!! Keyla terkejut ketika baru saja membaca Koran yang tergeletak di atas meja;
tempat ia dan teman-temannya duduk menunggu antrian. Dengan seketika,
diletakkan kembali Koran itu di atas meja dengan posisi terbalik.
Yuna tengah asyik menjelajahi
setiap sudut ruangan, meski sesekali terhalang oleh peserta lain yang lalu
lalang di hadapannya. Pandangannya terhenti di sudut ruangan. Di sisi tangga
darurat ada dua pohon bambu dengan tinggi kira-kira 1,5 meter. Akan terlihat apik kalau pohon-pohon itu di
letakkan di samping meja resepsionis saja, Yunapun mulai berimajinasi.
Karena ia merasa agak seram ketika memandang ke arah sana.
“Yuk kita langsung ke kamar,”
Yuna menepuk pundak Keyla.
“Kamar kita nomor berapa Yun?”.
“Kita di kamar nomor 013. Ririn
dan Seli di kamar nomor 020. Buruan!”.
Hah? Pekik keyla dalam hati. Tiba-tiba
ia teringat judul berita di Koran tadi.
Yuna
menjinjing rangselnya menuju lift. Keyla mengikuti dari belakang. Rasa letih
memang sudah mendominasi, meskipun perasaannya masih tak karuan.
Tuttt… Yuna menekan angka 12. Selain
Yuna dan Keyla, ada 7 orang peserta lain di dalam lift itu.
***
Keyla menekan remote AC, untuk
menurunkan suhu kamar, sementara Yuna langsung menarik selimut usai menunaikan
solat Isya berjamaah bersama Keyla. Ia memang begitu kecapean. Apalagi setelah
sampai, ia masih saja muntah dan bolak-balik ke kamar mandi.
Kreekkk…
Kreekkk…krekkk………
Buru-buru Keyla mematikan kran
air ketika ia mendengar suara gagang pintu
toilet seolah sedang berusaha dibuka.
“Tunggu bentar Yun” pekiknya dari
dalam.
Ia yakin bahwa itu adalah Yuna
yang kambuh lagi mualnya. Kemudian Keyla kembali menuntaskan gosok giginya.
“Yun.......... aku udah selesai.
Kamu tadi mau masuk toilet?” Sambil mengguncang-guncang tubuh Yuna.
“Besok aja deh kita main
badmintonnya yaaaa……. Oke sob?”
Degg!!! Wajah Keyla mendadak jadi
pucat. Yuna tidak mungkin mengigau jika
baru saja terjaga, gumamnya. Dipandanginya wajah sahabatnya itu. Yuna
terlihat begitu pulas.
Keyla berlari ke arah pintu dan
menguncinya. Hatinya mulai berdebar. Dilihatnya gorden jendela yang belum
tertutup rapat, sehingga cahaya bulan bisa sedikit mengintip dari celahnya.
Tapi, sejenak ia jadi tergelitik untuk melihat pemandangan malam dari atas.
Keyla melemparkan pandangan ke
tengah hiruk-pikuk. Lampu-lampu kendaraan itu jika dilihat dari atas hanyalah
seumpama titik-titik sinar yang berderet rapi. Lalu Keyla menjatuhkan
pandangannya di pekarangan Hotel.
Deeeggg
!!!
Jantungnya berdegub hebat.
Mungkin ia tidak akan terkejut seperti itu jika yang dilihatnya barusan bukan
pekuburan. Ia bergegas ke tempat tidur dan menarik selimut hingga menutupi
sekujur tubuhnya; di samping Yuna. Kali ini ia berharap agar bisa tertidur
pulas seperti Yuna.
***
Jam
sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Tapi, Keyla belum juga berhasil
menembus alam mimpi. Sementara baju yang ia kenakan telah lembab karena
keringat dingin yang mengucur semenjak ia melihat pemandangan tadi.
Diraihnya
obat tidur di atas meja rias. Yuna pasti
terlelap karena Pil ini!!! ujarnya dengan mantap. Setelah diteguknya, ia
kembali menarik selimut. Posisi tidurnya masih seperti tadi; menghadap Yuna dan
membelakangi dinding.
***
“Tungguuuuu!!!!” Teriak Keyla
kepada wanita berambut sebahu yang sejak tadi diajaknya berbincang dilobi;
lantai 12 kamarnya.
Keyla terus membuntuti wanita itu
dari belakang. Suara isakan tangis perempuan itu membuatnya tidak enak hati. Apakah ucapanku ada yang menyinggung
perasaannya? Tebak keyla di dalam hati.
“Berhentiiiii…….!!!” Jangan ke
sana mbak! Bahaya!!!,” Keyla kembali berteriak ketika wanita terus melangkah
menuju ujung koridor lantai 13.
Sayangnya… ia tak mempedulikan
teriakan Keyla. Ia menjatuhkan dirinya seketika itu juga setelah memanjat
jendela.
“Tidaaaaaakkkkkkkkkkkkkkk…………..”
Keyla berteriak sekencang-kencangnya, menyesali keterlambatannya. Tubuhnya
terduduk lemah di lantai,
2 orang security yang sedang
berpatroli menangkap suara teriakan barusan. Mereka segera bergerak dari lantai
10 mencari sumber suara.
“Ada apa neng?” Tanya salah seorang Security sambil
menepuk bahu Keyla.
“Itu pak… ada perempuan yang
terjun dari sana,” Ujar Keyla dengan nafas tersengal-sengal, sambil menunjuk ke
jendela.
Kemudian 2 orang Security itu
melangkah maju, mendekati jendela. Mereka melongokkan kepalanya ke bawah.
Namun, mereka tidak melihat apapun seperti yang dikatakan Keyla.
“Perempuan mana neng? Terus, neng
ngapain malam-malam ada di sini?” Tanya security itu.
“Rambutnya sebahu, tingginya
seperti saya pak,” ujar Keyla masih dengan nada cemas.
“Gak ada siapa-siapa neng. Mending neng masuk ke kamar aja. Ayo kami antar ke bawah".
Keyla mengikuti dari belakang. Tapi, rasa penasaran menggelitik hatinya terus. Pelan-pelan, ia mundur dan memberanikan diri melongok ke bawah. Memastikan bahwa apa yang dilihatnya tadi nyata. Tapi....
"AAAAAAAAAAAAAAA..." teriak Keyla. 2 satpam tadi terkejut dan membalikkan badannya. Mereka berlari menuju Keyla yang langsung terjatuh tak sadarkan diri.
Gadis berambut sebahu yang dilihatnya tadi melayang, mengikuti Keyla yang dipapah oleh kedua satpam tadi.
"Kamu nyium bau bangkai? huhhh. uhukk" Kata salah satu satpam di dalam lift.
Temannya memandang ke arahnya dengan tatapan ketakutan tanpa berkata apapun. Satpam itu heran melihat temannya seperti itu. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Tiba-tiba, jari-jari pucat menyentuh pipinya. Kukunya panjang. Berkulit kasar, putih pasi. Lampu lift mati
# cerpen ini pernah diikutkan dalam event cerita horor dan tidak menang
hiks sedih yaa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar