Rabu, 17 Desember 2014

Cerpen: Sosok di Lantai 13

          Tepat pukul 13.00 WIB seluruh peserta OSN (Olimpiade Sains Nasional) yang berasal dari berbagai penjuru Riau tiba di Hotel Putri Hijau, Pekanbaru. Berbagai kendaraanpun memadati halaman hotel. Mulai dari sepeda motor tukang ojek, hingga Mercedes. Bapak Wali kota membooking hotel berbintang 4 ini untuk penyeleksian selama tiga hari ke depan.

            Begitu pintu Lobi dibukakan oleh seorang Doorboy…. Nyessss!!! Sejuknya menusuk hingga ke kulit. Lampu hias antik disetiap sudut ruangan bernuansa kolonial melengkapi arsitek ruangan ini, ditambah lagi dengan musik klasik yang membuat suasana bertambah elegan. Sementara dua orang resepsionis jelita itu terlihat Friendly dalam melayani ratusan peserta yang antrian check in.
            Seorang wanita belia nekat terjun dari lantai 13 sebuah hotel.

            Deg !!! Keyla terkejut ketika baru saja membaca Koran yang tergeletak di atas meja; tempat ia dan teman-temannya duduk menunggu antrian. Dengan seketika, diletakkan kembali Koran itu di atas meja dengan posisi terbalik.

Yuna tengah asyik menjelajahi setiap sudut ruangan, meski sesekali terhalang oleh peserta lain yang lalu lalang di hadapannya. Pandangannya terhenti di sudut ruangan. Di sisi tangga darurat ada dua pohon bambu dengan tinggi kira-kira 1,5 meter. Akan terlihat apik kalau pohon-pohon itu di letakkan di samping meja resepsionis saja, Yunapun mulai berimajinasi. Karena ia merasa agak seram ketika memandang ke arah sana.

“Yuk kita langsung ke kamar,” Yuna menepuk pundak Keyla.

“Kamar kita nomor berapa Yun?”.

“Kita di kamar nomor 013. Ririn dan Seli di kamar nomor 020. Buruan!”.

            Hah? Pekik keyla dalam hati. Tiba-tiba ia teringat judul berita di Koran tadi.

            Yuna menjinjing rangselnya menuju lift. Keyla mengikuti dari belakang. Rasa letih memang sudah mendominasi, meskipun perasaannya masih tak karuan.

            Tuttt… Yuna menekan angka 12. Selain Yuna dan Keyla, ada 7 orang peserta lain di dalam lift itu.

***

Keyla menekan remote AC, untuk menurunkan suhu kamar, sementara Yuna langsung menarik selimut usai menunaikan solat Isya berjamaah bersama Keyla. Ia memang begitu kecapean. Apalagi setelah sampai, ia masih saja muntah dan bolak-balik ke kamar mandi.

Kreekkk… Kreekkk…krekkk………

Buru-buru Keyla mematikan kran air ketika ia mendengar suara gagang pintu  toilet seolah sedang berusaha dibuka.

“Tunggu bentar Yun” pekiknya dari dalam.

Ia yakin bahwa itu adalah Yuna yang kambuh lagi mualnya. Kemudian Keyla kembali menuntaskan gosok giginya.

“Yun.......... aku udah selesai. Kamu tadi mau masuk toilet?” Sambil mengguncang-guncang tubuh Yuna.

“Besok aja deh kita main badmintonnya yaaaa……. Oke sob?”

Degg!!! Wajah Keyla mendadak jadi pucat. Yuna tidak mungkin mengigau jika baru saja terjaga, gumamnya. Dipandanginya wajah sahabatnya itu. Yuna terlihat begitu pulas.

Keyla berlari ke arah pintu dan menguncinya. Hatinya mulai berdebar. Dilihatnya gorden jendela yang belum tertutup rapat, sehingga cahaya bulan bisa sedikit mengintip dari celahnya. Tapi, sejenak ia jadi tergelitik untuk melihat pemandangan malam dari atas.

Keyla melemparkan pandangan ke tengah hiruk-pikuk. Lampu-lampu kendaraan itu jika dilihat dari atas hanyalah seumpama titik-titik sinar yang berderet rapi. Lalu Keyla menjatuhkan pandangannya di pekarangan Hotel.

Deeeggg !!!

Jantungnya berdegub hebat. Mungkin ia tidak akan terkejut seperti itu jika yang dilihatnya barusan bukan pekuburan. Ia bergegas ke tempat tidur dan menarik selimut hingga menutupi sekujur tubuhnya; di samping Yuna. Kali ini ia berharap agar bisa tertidur pulas seperti Yuna.

***

            Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Tapi, Keyla belum juga berhasil menembus alam mimpi. Sementara baju yang ia kenakan telah lembab karena keringat dingin yang mengucur semenjak ia melihat pemandangan tadi.

            Diraihnya obat tidur di atas meja rias. Yuna pasti terlelap karena Pil ini!!! ujarnya dengan mantap. Setelah diteguknya, ia kembali menarik selimut. Posisi tidurnya masih seperti tadi; menghadap Yuna dan membelakangi dinding.

***

“Tungguuuuu!!!!” Teriak Keyla kepada wanita berambut sebahu yang sejak tadi diajaknya berbincang dilobi; lantai 12 kamarnya.

Keyla terus membuntuti wanita itu dari belakang. Suara isakan tangis perempuan itu membuatnya tidak enak hati. Apakah ucapanku ada yang menyinggung perasaannya? Tebak keyla di dalam hati.

“Berhentiiiii…….!!!” Jangan ke sana mbak! Bahaya!!!,” Keyla kembali berteriak ketika wanita terus melangkah menuju ujung koridor lantai 13.

Sayangnya… ia tak mempedulikan teriakan Keyla. Ia menjatuhkan dirinya seketika itu juga setelah memanjat jendela.

“Tidaaaaaakkkkkkkkkkkkkkk…………..” Keyla berteriak sekencang-kencangnya, menyesali keterlambatannya. Tubuhnya terduduk lemah di lantai,

2 orang security yang sedang berpatroli menangkap suara teriakan barusan. Mereka segera bergerak dari lantai 10 mencari sumber suara.

 “Ada apa neng?” Tanya salah seorang Security sambil menepuk bahu Keyla.

“Itu pak… ada perempuan yang terjun dari sana,” Ujar Keyla dengan nafas tersengal-sengal, sambil menunjuk ke jendela.

Kemudian 2 orang Security itu melangkah maju, mendekati jendela. Mereka melongokkan kepalanya ke bawah. Namun, mereka tidak melihat apapun seperti yang dikatakan Keyla.

“Perempuan mana neng? Terus, neng ngapain malam-malam ada di sini?” Tanya security itu.

“Rambutnya sebahu, tingginya seperti saya pak,” ujar Keyla masih dengan nada cemas.

“Gak ada siapa-siapa neng. Mending neng masuk ke kamar aja. Ayo kami antar ke bawah".
Keyla mengikuti dari belakang. Tapi, rasa penasaran menggelitik hatinya terus. Pelan-pelan, ia mundur dan memberanikan diri melongok ke bawah. Memastikan bahwa apa yang dilihatnya tadi nyata. Tapi....
"AAAAAAAAAAAAAAA..." teriak Keyla. 2 satpam tadi terkejut dan membalikkan badannya. Mereka berlari menuju Keyla yang langsung terjatuh tak sadarkan diri.
Gadis berambut sebahu yang dilihatnya tadi melayang, mengikuti Keyla yang dipapah oleh kedua satpam tadi.
"Kamu nyium bau bangkai? huhhh. uhukk" Kata salah satu satpam di dalam lift.
Temannya memandang ke arahnya dengan tatapan ketakutan tanpa berkata apapun. Satpam itu heran melihat temannya seperti itu. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Tiba-tiba, jari-jari pucat menyentuh pipinya. Kukunya panjang. Berkulit kasar, putih pasi. Lampu lift mati

 # cerpen ini pernah diikutkan dalam event cerita horor dan tidak menang
hiks sedih yaa           

Tidak ada komentar: