*Puisi ini termuat dalam 100 kontributor buku Antologi Puisi 'Syukur' oleh Rasselea Publishing. Enjoy It !!!
Kau ulang lagi puisi
itu dan aku membacanya
“Akulah yang telah menyatukan hati. Engkau tidak akan
mampu. Meski harta di bumi jadi penukarnya. Sekalipun!”
Demikan puisimu
Ah,
aku bahkan tidak sedang lupa pada kenangan itu
Engkau malah ingatkanku
Atau barangkali
ada yang belum aku lunasi dari waktu lalu laju tanpa menunggu
Biar ku coba
ingat apakah itu ?
Aku kembali ke sebuah
malam tanpa tamu
Di atas secangkir air mata yang didih tanpa gula rasa, aku
menabur mantra
Mantra berkemenyan uap air mata
Air mata peninggalan wanita
bermata kaca
Dia sahabatku. Dulu. Mantra ini penghiburku. Selalu. Ketika
rindu.
Aaahhh… Aku sudah tahu
apa maksud puisi itu !
Harus ku syukuri waktu
walau lalu tanpa ku setuju
Karena tanpa begitu, aku tak kan tahu apa hikmah
malam tanpa tamu. Malam itu.
#Pekanbaru,
Februari sulung-2015
: 23.37 pm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar