#Cerpen ini diikutsertakan dalam seleksi berkas Kampus Fiksi oleh Diva Press di Yogyakarta.
Selamat Membaca ^_^ Doakan saya semoga lolos ya...aamiin
***
Selamat Membaca ^_^ Doakan saya semoga lolos ya...aamiin
***
“Ndak macam tu doh mak, iko dah jadi
pilihan Titin,” 2 wajah yang terpaut beda usia puluhan tahun itu sama-sama
terdiam. Titin diam-diam mengangkat wajah dan memandang lekat wajah wanitanya
itu. Berusaha mencari jawaban. Namun ia kembali tertunduk. Hatinya meragu.
“Doakan Titin yo mak,” sebuah
kecupan mendarat di pipi yang tak lagi kencang itu.
Oiii…
Urang Banjar! Iko parentah la tibo pulo. Bisuak pagi rapek di balai desa jam
sapuluah pagi. Niniak-Mamak, Tetuah kampung, Tokoh masyarakat, Alim ulama yang
cerdik-pandai, kami tunggu di Balai Desa bisuak kolam.
Suara
Canang terdengar kembali di
pertengahan Syawal ini. Ketukan Sendok pada punggung Rantang Nasi
bertabuh-riuh, sahut-menyahut mengiringi Canang
yang diteriakkan si Tukang Canang sambil melagu. Seluruh warga desa Lubuk Jambi
mendengarkan maklumat itu dengan takzim. Sudah pasti ada hal penting yang akan
dimusyawarahkan bersama esok.
“Desa
kita mendapat kehormatan untuk mengikuti acara Perahu Peganduang di Sungai Kuantan, Desa Lubuk Jambi. Untuk itu,
maka saya menghimbau seluruh masyarakat untuk berpartisipasi dalam acara
tersebut”.
Himbauan
Kepala Desa barusan membuat ingatan bu Ratih kembali pada penghujung Syawal, 5
tahun yang lalu. Ketika bathin dan logikanya berperang tentang sebuah
keputusan.
“Cubolah kau ingat nak! Kalau dulu kau
menurut perintah mak kau itu, pastilah kini kau sudah bersuami. Ikolah yang disabuik melanggar pantang-larang. Kini, kepala desa indak manunjuk keluarga awak lagi. Lihat
kakak engkau tu, si Mutia berjodoh dengan anak ustad Sabar, si Sarah berjodoh
dengan anak kepala suku. Sedangkan kau…”
“Paakk…”
bu Ratih memotong ucapan suaminya sambil mendekat dan mengelus pundaknya
“Paakk…. Sudahlah tu. Indak elok mengungkit masa lalu. Biarlah Titin istirahat.
Inyo masih latiah tu!” ia mengkode anaknya agar segera memasuki kamar.
“Apak
hanya ingin yang terbaik untuk anak awak tu mak,” ujar sang bapak dengan suara
berat dan terbatuk-batuk.
Di
kamar, Titin terisak-isak. Ia menyesali keputusannya 5 tahun lalu itu. Tapi, ia
juga lega karena berhasil menghindari pinangan Jali, anak juragan sawit di desa
itu. Bukan berniat untuk durhaka kepada orang tuanya, ia hanya mencoba
memperjuangkan cinta yang diyakininya. Adalah Zainudin yang membuat hatinya
tertawan. Ia memang tidak sesuku dengannya, ia berdarah Bugis dan merupakan guru
SMA Titin yang 15 tahun lebih tua. Bukan hanya usia dan suku yang dipersoalkan
oleh orang tua Titin, tapi juga statusnya sebagai DUDA. Ia belum memiliki anak,
karena istrinya meninggal diusia pernikahannya yang belum genap sebulan. Oleh
sebab itu, ia akhirnya merantau dan meninggalkan Makassar untuk mengobati
dukanya.
“Dosakah
aku ya Allah? Kenapa dunia begitu tidak adil? Engkau saja tidak pernah memberikan
syarat untuk sebuah cinta. Kenapa mereka yang juga hanya hamba-Mu mensyaratkan
semua itu? Bantu aku ya Allah. Bantu aku” ratap Titin dalam tengadah doa.
Daripada
harus menerima pinangan Jali hanya karena nama baik dan harta, Titin memutuskan
untuk tidak memilih keduanya. Keputusan inilah yang telah diambilnya 5 tahun
silam. Tapi, takdir membawanya pulang kembali. Jali sudah menikahi gadis lain
yang lebih molek darinya. Sedangkan Zainudin, telah lama meninggalkan kampung
ini selang beberapa bulan setelah kepergian Titin.
Ntah
bagaimana rupa hari esok, Titin telah pasrah. Usianya semakin menua, hanya
orang tuanya harta paling berharga yang tersisa. Ia serahkan segalanya kepada
pilihan mereka.
***
Di sepanjang tepian Sungai Kuantan,
penuh sesak dengan penduduk yang tak sabar menyaksikan festival Perahu Peganduang.
Bukan hanya penduduk Kuantan Mudik, tapi pendatang dari berbagai daerah turut
merapat ke sini. Sudah menjadi tradisi dalam memeriahkan bulan Syawal dan
pergantiannya sebagai wujud syukur atas Idul Fitri yang telah dilewati. Para
pedagang sangat memanfaatkan momen ini untuk menghimpun pundi-pundi rupiah. Rengekan
anak-anak meminta dibelikan mainan, tangisan bayi dan canda-tawa para penonton
membuat acara ini benar-benar semarak. Titin dan sahabatnya, Ayu ada di antara
kerumunan itu.
Yang
ditunggu-tunggu semua orang telah tiba masanya. 10 perahu berhias indah dari
berbagai desa merenangi Sungai Kuantan. Festival Perahu Paganduang ini
sebenarnya adalah lomba menghias perahu dengan segala corak kebudayaan di
setiap desa di Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi. Masing-masing
perahu memiliki keunikan tersendiri. Meskipun tidak semeriah perhelatan Paju
Jalur di Kuantan Singingi, tapi festival ini cukup diminati masyarakat setempat
dan dipertahankan untuk terus ada. Tepuk tangan dan sorak sorai penonton turut
memeriahkan pertunjukan. Penilaian dilihat dari segi keunikan, kreativitas,
kekhasan daerah dan masih banyak lagi.
Perahu
itu dikendalikan oleh seorang juru Peganduang yang duduk di atas papan yang
menghubungkan antara 2 perahu. Di atasnya dibuat sebuah ruang yang di topang
oleh 4 tonggak, 2 tonggak dipasang di badan perahu yang kiri dan 2 tonggak di
perahu yang kanan. Miniatur kubah masjid jadi pelengkap atapnya. Di dalam ruang
itu didudukkanlah seorang gadis cantik yang disebut Mempelai Perahu Peganduang.
Hanya gadis-gadis pilihan saja yang bisa menduduki tempat spesial itu. Dan
biasanya seusai acara, gadis-gadis ini menjadi incaran banyak pemuda untuk
dipersunting sebagai istri. Oleh sebab itu, para pemuda desa memanfaatkan
kesempatan ini untuk ‘menemukan jodoh’.
Melihat para Mempelai Peganduang itu
membuat Titin kembali teringat kisahnya. Usai menjadi Mempelai Peganduang, Jali
melamarnya. Sementara pinangan Zainudin baru sehari sebelumnya di tolak orang
tua Titin. Maka bagaimana mungkin ia berbesar hati menerima pinangan laki-laki
yang terkenal berperangai buruk dan tak pernah dicintainya itu?
“Yu…pulang yuk!” pinta Titin.
“Kok cepat sekali Tin? Acara kan
belum selesai?”
“Kepalaku pusing, Yu.” Tapi
sahabatnya itu tak menghiraukannya karena terlalu fokus pada perahu-perahu itu.
“Tiiin?...” Sapa lembut seorang
laki-laki dari arah belakang.
Titin tertegun. Siapakah laki-laki
ini? Suaranya tidak asing di telinga Titin. Ia masih menebak-nebak pemiliknya.
Hatinya menunjuk satu nama, tapi logikanya menolak mengiyakan.
“Titiiinnn?” Panggilnya lagi.
Titin semakin gugup. Keringat
mengucur dari keningnya. Tangannya dingin seketika. Hatinya terus
memanggil-manggil sebuah nama. Tapi logika selalu membatalkannya. Perlahan, ia
balikkan tubuhnya ke belakang.
“Bang Zainudiiiinnn?” teriaknya
dengan suara parau. Ia benar-benar tak percaya. Air matanya tumpah, wajahnya
tertunduk. Tak ada yang menghiraukan tangisnya di tengah riuh teriakan lautan
manusia. Wajah yang dirindukannya itu memandangnya dengan butiran air mata yang
juga siap runtuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar