Rabu, 11 Februari 2015

Sebuah Cerpen-Mempelai Perahu Peganduang

#Cerpen ini diikutsertakan dalam seleksi berkas Kampus Fiksi oleh Diva Press di Yogyakarta.
Selamat Membaca ^_^ Doakan saya semoga lolos ya...aamiin
 ***

            “Ndak macam tu doh mak, iko dah jadi pilihan Titin,” 2 wajah yang terpaut beda usia puluhan tahun itu sama-sama terdiam. Titin diam-diam mengangkat wajah dan memandang lekat wajah wanitanya itu. Berusaha mencari jawaban. Namun ia kembali tertunduk. Hatinya meragu.
            “Doakan Titin yo mak,” sebuah kecupan mendarat di pipi yang tak lagi kencang itu.

            Oiii… Urang Banjar! Iko parentah la tibo pulo. Bisuak pagi rapek di balai desa jam sapuluah pagi. Niniak-Mamak, Tetuah kampung, Tokoh masyarakat, Alim ulama yang cerdik-pandai, kami tunggu di Balai Desa bisuak kolam.

            Suara Canang terdengar kembali di pertengahan Syawal ini. Ketukan Sendok pada punggung Rantang Nasi bertabuh-riuh, sahut-menyahut mengiringi Canang yang diteriakkan si Tukang Canang sambil melagu. Seluruh warga desa Lubuk Jambi mendengarkan maklumat itu dengan takzim. Sudah pasti ada hal penting yang akan dimusyawarahkan bersama esok.
“Desa kita mendapat kehormatan untuk mengikuti acara Perahu Peganduang di Sungai Kuantan, Desa Lubuk Jambi. Untuk itu, maka saya menghimbau seluruh masyarakat untuk berpartisipasi dalam acara tersebut”.
Himbauan Kepala Desa barusan membuat ingatan bu Ratih kembali pada penghujung Syawal, 5 tahun yang lalu. Ketika bathin dan logikanya berperang tentang sebuah keputusan.
“Cubolah kau ingat nak! Kalau dulu kau menurut perintah mak kau itu, pastilah kini kau sudah bersuami. Ikolah yang disabuik melanggar pantang-larang. Kini, kepala desa indak manunjuk keluarga awak lagi. Lihat kakak engkau tu, si Mutia berjodoh dengan anak ustad Sabar, si Sarah berjodoh dengan anak kepala suku. Sedangkan kau…”
“Paakk…” bu Ratih memotong ucapan suaminya sambil mendekat dan mengelus pundaknya “Paakk…. Sudahlah tu. Indak elok mengungkit masa lalu. Biarlah Titin istirahat. Inyo masih latiah tu!” ia mengkode anaknya agar segera memasuki kamar.
“Apak hanya ingin yang terbaik untuk anak awak tu mak,” ujar sang bapak dengan suara berat dan terbatuk-batuk.
Di kamar, Titin terisak-isak. Ia menyesali keputusannya 5 tahun lalu itu. Tapi, ia juga lega karena berhasil menghindari pinangan Jali, anak juragan sawit di desa itu. Bukan berniat untuk durhaka kepada orang tuanya, ia hanya mencoba memperjuangkan cinta yang diyakininya. Adalah Zainudin yang membuat hatinya tertawan. Ia memang tidak sesuku dengannya, ia berdarah Bugis dan merupakan guru SMA Titin yang 15 tahun lebih tua. Bukan hanya usia dan suku yang dipersoalkan oleh orang tua Titin, tapi juga statusnya sebagai DUDA. Ia belum memiliki anak, karena istrinya meninggal diusia pernikahannya yang belum genap sebulan. Oleh sebab itu, ia akhirnya merantau dan meninggalkan Makassar untuk mengobati dukanya.
“Dosakah aku ya Allah? Kenapa dunia begitu tidak adil? Engkau saja tidak pernah memberikan syarat untuk sebuah cinta. Kenapa mereka yang juga hanya hamba-Mu mensyaratkan semua itu? Bantu aku ya Allah. Bantu aku” ratap Titin dalam tengadah doa.
Daripada harus menerima pinangan Jali hanya karena nama baik dan harta, Titin memutuskan untuk tidak memilih keduanya. Keputusan inilah yang telah diambilnya 5 tahun silam. Tapi, takdir membawanya pulang kembali. Jali sudah menikahi gadis lain yang lebih molek darinya. Sedangkan Zainudin, telah lama meninggalkan kampung ini selang beberapa bulan setelah kepergian Titin.
Ntah bagaimana rupa hari esok, Titin telah pasrah. Usianya semakin menua, hanya orang tuanya harta paling berharga yang tersisa. Ia serahkan segalanya kepada pilihan mereka.
***
            Di sepanjang tepian Sungai Kuantan, penuh sesak dengan penduduk yang tak sabar menyaksikan festival Perahu Peganduang. Bukan hanya penduduk Kuantan Mudik, tapi pendatang dari berbagai daerah turut merapat ke sini. Sudah menjadi tradisi dalam memeriahkan bulan Syawal dan pergantiannya sebagai wujud syukur atas Idul Fitri yang telah dilewati. Para pedagang sangat memanfaatkan momen ini untuk menghimpun pundi-pundi rupiah. Rengekan anak-anak meminta dibelikan mainan, tangisan bayi dan canda-tawa para penonton membuat acara ini benar-benar semarak. Titin dan sahabatnya, Ayu ada di antara kerumunan itu.
Yang ditunggu-tunggu semua orang telah tiba masanya. 10 perahu berhias indah dari berbagai desa merenangi Sungai Kuantan. Festival Perahu Paganduang ini sebenarnya adalah lomba menghias perahu dengan segala corak kebudayaan di setiap desa di Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi. Masing-masing perahu memiliki keunikan tersendiri. Meskipun tidak semeriah perhelatan Paju Jalur di Kuantan Singingi, tapi festival ini cukup diminati masyarakat setempat dan dipertahankan untuk terus ada. Tepuk tangan dan sorak sorai penonton turut memeriahkan pertunjukan. Penilaian dilihat dari segi keunikan, kreativitas, kekhasan daerah dan masih banyak lagi.
Perahu itu dikendalikan oleh seorang juru Peganduang yang duduk di atas papan yang menghubungkan antara 2 perahu. Di atasnya dibuat sebuah ruang yang di topang oleh 4 tonggak, 2 tonggak dipasang di badan perahu yang kiri dan 2 tonggak di perahu yang kanan. Miniatur kubah masjid jadi pelengkap atapnya. Di dalam ruang itu didudukkanlah seorang gadis cantik yang disebut Mempelai Perahu Peganduang. Hanya gadis-gadis pilihan saja yang bisa menduduki tempat spesial itu. Dan biasanya seusai acara, gadis-gadis ini menjadi incaran banyak pemuda untuk dipersunting sebagai istri. Oleh sebab itu, para pemuda desa memanfaatkan kesempatan ini untuk ‘menemukan jodoh’.
            Melihat para Mempelai Peganduang itu membuat Titin kembali teringat kisahnya. Usai menjadi Mempelai Peganduang, Jali melamarnya. Sementara pinangan Zainudin baru sehari sebelumnya di tolak orang tua Titin. Maka bagaimana mungkin ia berbesar hati menerima pinangan laki-laki yang terkenal berperangai buruk dan tak pernah dicintainya itu?
            “Yu…pulang yuk!” pinta Titin.
            “Kok cepat sekali Tin? Acara kan belum selesai?”
            “Kepalaku pusing, Yu.” Tapi sahabatnya itu tak menghiraukannya karena terlalu fokus pada perahu-perahu itu.
            “Tiiin?...” Sapa lembut seorang laki-laki dari arah belakang.
            Titin tertegun. Siapakah laki-laki ini? Suaranya tidak asing di telinga Titin. Ia masih menebak-nebak pemiliknya. Hatinya menunjuk satu nama, tapi logikanya menolak mengiyakan.
            “Titiiinnn?” Panggilnya lagi.
            Titin semakin gugup. Keringat mengucur dari keningnya. Tangannya dingin seketika. Hatinya terus memanggil-manggil sebuah nama. Tapi logika selalu membatalkannya. Perlahan, ia balikkan tubuhnya ke belakang.
            “Bang Zainudiiiinnn?” teriaknya dengan suara parau. Ia benar-benar tak percaya. Air matanya tumpah, wajahnya tertunduk. Tak ada yang menghiraukan tangisnya di tengah riuh teriakan lautan manusia. Wajah yang dirindukannya itu memandangnya dengan butiran air mata yang juga siap runtuh.

Tidak ada komentar: