Selamat pagi wahai Rabu... ^_^
Aku keluar rumah dengan wajah cerah.
Sisa hujan semalam masih meninggalkan sejuk di pucuk-pucuk pagi.
Hari ini, temaku adalah dark donker, hehe. Baju kemeja berwarna donker (sejak SMP) dipadukan dengan cardigen dongker senada. Plus jilbab dongker juga tapi bersemburat hijau (ini jilbab sebenarnya udah aku kasihkan sama Rini, tapi masih sering juga ku palakin, piye iki? hehe). Dengan sedikit kreasi lipatan di bagian kepala, membuat penampilanku hari ini lebih chic. *hehe, ngerasa lagi promosi baju aja.
Umil di Arfaunnas ya, Mamake. Sekretarisnya lagi AW. Jadi Umil nungguin dia dulu. Kita ketemunya di mana?
BBM Yaumil masuk dan dibacakan Rini yang sedang menggenggam Androku.
"Balaskan tolong, Rin!"
Kita ketemuanya di bangku merah di depan Arfaunnas aja kalau gitu.
"Riiiinnn, tugasmuuuu!" Teriakku dari teras sambil memanaskan mesin motor.
"Apaaaa?" teriaknya dari dalam lalu disusul langkahnya ke luar kamar sambil melongok dari gorden.
Aku memberi kode orang yang sedang memotret.
"Hoawalaaah!" katanya. Rini segera masuk lagi ke kamar dan membawa OPPO kecenya.
Setelah beberapa kali jepretan... "maacih ya, Cin. Dah, sana masuk lagi ke dalaam!" hemmm juragan macam apa ini, pemirsah? hehe
Aku melaju. Dengan penuh senyum bibir dan syukur hati, ku tebas Bina Krida yang baru mencair. Sinar matahari sudah mewujud walau masih malu-malu. Daaan... aku udah di sini 15 menit lebih, tapi yang ditunggu belum juga nongol. Makanya, daripada bengong ntar mati ayam tetangga, mendingan aku nge-blog aja. Aku sedang duduk di bangku merah, dinaungi pohon bara-bara/pohon berduri yang sering ada di kuburan (hiiii,,sereem), tapi yang ini batangnya nggak berduri pula. Ntahlah apa nama pastinya, aku ragu. Sudah beberapa orang yang ku saksikan ke luar dari dalam mesjid ini. Ah, aku tahu apa yang mereka kerjakan di sana. Agenda syurga. Mengingatnya, mengingatkanku pada diri sendiri. Sudah sejauh mana aku menjauh? Dan, sudah sekeras apa hatiku mengeras? Just Allah knowing that!
To be continued...
Andro udah low dan aku kelabakan. TIba-tiba teringat power bank yang semoga masih tersedia dayanya. Huft syukurlah! Sempat nerima bbm dari Yaumil lagi sebelum akhirnya mati.
Ya Allah Mamake, awak di mushola rektorat tadi nungguin Mamake tapi nggak datang-datang. Si Wandi baru selesai agendanya dan ini baru mau dikasihnya sama Umil. Maklumlah, umil jalan kaki loh.
Makin geram aku dibuatnya. Lagian, kenapa pula nunggui di sana? Kan tadi udah ku bilang kalau aku nunggu di bangku taman Arfaunnas. grrrrrr... HP yang 1 lagi nggak ada pulsa pula, mau nge-check nomor Yaumil yang ku kirimi sms tadi sebenarnya aktif atau nggak? huaaaahhhh
Aku ke perpus UR. Dan, kepanikanku meningkat karena mendadak Androku nggak bisa dicas. Aku coba memancing responnya lewat power bank, tapi tetap diam. Hikss, janga-jangan kabelnya bermasalah. Huaahh, Umil dimana sih? Udah jam 10 ini. Aku minta nomor Yaumil ke Mansyur tapi nggak di balas-balas. Wah, nggak ada pilihan lain. Aku harus nekat nemuin pak Iyal untuk bincang-bincang sambil nunggu Umil.
Treeet..treeet
HPku bergetar. Nomor baru memanggil. Ternyata Yaumil. Segera ku perepetin untuk nyusul ke rektorat. Aku yang tanpa membawa apa-apa menemui pak Iyal, ternyata justru yang ditanyakana pertama kali adalah proposalnya. Aku tersenyum kecut dan mengatakan bahwa pembawa proposal sedang menuju kemari. Aku ke luar ruangan, menuruni tangga dan celingukan di depan parkiran. Mana sih ni oraaang? Barulah dari arah perpus, dia mendekat dengan pakaian serba kuning --kecuali rok jeans langganannya itu. Huaaahh, dia minta maaf karena misscommunication tadi. hiksss.
"Ini udah disesuaikan belum sampai perkiraan seleksi tingkat nasional?" tanya pak Iyal.
"Belum, Pak."
"Nah, harus disesuaikan juga. Sebab, kalau nanti seleksinya sampai tingkat nasional --kita berharap kita lolos ya, nah dana ini juga yang akan digunakan. Ini Rp 50jt untuk seleksi universitas aja kan? Kalau untuk seleksi aja kita udah habis dana sebanyak ini, nanti kalau mau ngirim utusan dana yang mana lagi yang dipotong? Nggak mesti dana Rp 50jt yang tersedi dan itu pula yang harus dihabiskan. Kalau ternyata nggak lolos ya ndak ada masalah. Dananya bisa kita gunakan untuk yang lain," Papar pak Iyal dengan lembut.
Aku dan Yaumil berpermisi dan menemui pak Jamadi untuk mempelajari anggaran ini.
Dan, si bapaknya sedang sibuk lalu memintaku menuliskan nomor HP di proposal itu. Setelah dicek juga ternyata nama para WRnya juga salah. hiksss, banyak yang mesti diganti sebelum didisposisi ternyata. Ya Allah, mudahkan urusan kami. Kami melanjutkan obrolan di bawah pohon di dekat parkiran rektorat. Bukan hanya aku yang linglung, Umil lebih kuat stressnya ternyata. Kabar saling simpang siur.
"Umil ngerasa, kita ini kayak bukan satu tubuh loh, Mamake. Pusing awak!" jelasnya dengan logat batak.
"Iya, Mil. Kayaknya kita perlu dimabitin deh."
"Iya betul tuh, Mamake. Biar hati kita semuanya menyatu."
Aku terkesiap pada sesuatau yang baru saja aku tawarkan. Hello, El? Kamu luar biasa! Semoga aku cepat kembali meluruskan diri yang sudah semakin semrawut ini. Aamiin.
"Mil, kita ke FMIPA yuk? Urusan pamflet belum juga kelar loh. Kita sebarkan langsung ke fakultas-fakultas juga, yuk?"
"Ayuk, Mamake! Kita sekalian menagih nama-nama utusan MAWAPRESnya juga. Anak TEKNIk udah ada loh calonnya, Mamake. Yuklah! Kalau nggak kita gerakkan, nggak ada yang bergerak."
Sambil berjalan, "Mil... Maafin Mamake marah-marah tadi ya!" pintaku.
"Awak nggak takut loh kalau Mamake yang marah, soalnya nggak serem dan awak rasa wajar-wajr aja yang Mamake marahin itu. hehe" sambutnya.
Kami melaju, dari FMIPA ke FT dan ternyata BEM-nya kosong melompong. Kami tinggalkan 2 lembar pamflet dan catatan kecil di kotak suratnya. Lanjut ke FAPERTA, hanya menitipkan brosur dan pesan kepada seorang kader Nurul Falah. Lanjut lagi ke FAPERIKA yang ternyata BEMnya kosong melompong juga.
"Ah, ngapain susah-susahh! Sama awak ajalah ini pamfletnya, Mamake," saran Umil.
Perjalananan berlanjut ke FKIP. "Waaah, bersih yaaa," kata Yaumil kemudian ketika melihat BEM FKIP yang begitu rapi.
Putri menanyakan berapa banyak yang sudah ku bimbing dan mendaftarkan diri. Lalu, kabar baiknya adalah jadwal presentasinya diundur sampai tanggal 9 April karena Romi dan Novi ikutan lomba debat di Bengkulu tanggal 4 April ini terbangnya. Ciyeeee, si adek nambah lagi sertifikatnya nih yeee.
Aku dan Umil menempelkan 3 brosur itu ke mading BEM FKIP lama, di mading mushola dan mading kelas Fisika. Alhamdulillah kelar. lanjut lagi ke BEM FISIP yang acak-kadut banget tempatnya, padahal gedungnya paling kece. hiksss. Terakhir ke FEKON yang lumayan rapi dibanding yang lainnya. Alhamdulillah mereka juga udah ngirimkan 3 panitia rekomendasi untuk MAWAPRES. Kabarnya juga dari FEKON, yang ikutan seleksi mencapai 20an orang. waw!!! Amazing.
Setelah semuanya selesai, giliran Umil yang minta treatment. Aku ajak dia makan di tempat bang Un untuk membahas ide KTInya. Kasihan Umil, dia harus ikut tahun ini. Apalagi tadi dia bilang bahwa dari FAPERIKA belum ada kandidatnya sama sekali. hikssss, ii harus seneng atau gembira ya, Mil? Tapi, apapun itu, ini adalah peluang untukmu dan aku nggak boleh membiarkanmu sendirian. hiksss. Aku jemput RIni untuk bergabung makan bareng di sini. Nyum-nyum sambil makan, diperolehlah ide ini: Pengembangan Produk Olahan Ikan Sebagai Strategi Persaingan dalam masyarakatEkonomi ASEAN (Studi Kasus Masyarakat Nelayan Bagansiapiapi, Rokan Hilir). Nyummiiiii....yeye! Umil ku pulangkan ke jalan yang benar sementara aku dan Rini capcus ke perpus UR buat wifian.hehe
Mataku tiba-tiba ngantuk, "Rin, aku melelapkan mataku bentar ya..hoaaaammm," seketika aku lelap sambil berpangku tangan di samping laptop, di depan Rini.
Mungkin sekitar 15 menit aku tertidur dan ketika terbangun ilerku udah dimana-mana,,hiiiii, jorkiiiii.
Aku mengechek HP...
Iya Lis. Afwan, Fifi taunya juga mendadak. Elis dan teman-teman riset memang distandby-kan di sini biar fokus dengan MAWAPRES. Bukan Fifi yang memutuskan Lis.
Baru bangun tidur dan membaca pesan itu membuatku naik darah saja.
Terus siapa ?
Tanyaku singkat.
Bang Nando, Lis. Tanya aja langsung ke beliau ya. Maaf nggak bisa ngasih jawaban yang memuaskan.
Aku mengalihkan perhatian sejenak dengan ke rektorat, ngecheck proposal kami tadi. Dan, kata si abang (ntah siapa namanya) udah fix tinggal diperbaiki lagi nama-nama pembimbing yang salah ketik itu. Aku membawa proposal itu bersamaku dan melangkah menuju perpus lagi. Dek Eli datang buat bimbingan KTI MAWAPRES. Eh, rupanya dia ragu ikut MAWAPRES karena punya nilai E 1 buah.
"Mana ada persyaratannya nilai nggak boleh ada E, Dek!" gertakku geram. "Yang penting IPKnya di atas 3,00. Itu aja. Apalah Adek niii!" tambahku lagi.
"Oh gitu ya, Mbak? hehe Eli kira nggak boleh."
"Adek punya ide apa tentang KIMIA?" tanyaku.
"Ada sih Mbak, tentang ini keripik Lidah Buaya. Kami pernah iseng-iseng kemaren nyoba. Tapi, dia cepat kali layu. Kalau masih panas tuh enak loh, Mbak. Tapi, ya itu gimana caranya biar dia nggak cepat lembek ya?'
"Nah, itulah PRnya Dek. Kalau udah ketemu caranya, kece tuh idemu."
"Tapi, waktu kami habis makan itu kepala agak pusing dikit, Mbak.hhaaha."
"Keracunan pula anak orang nanti, Dek. hahaa"
Tawa mengudara di kumpulan raga-raga kaku dan sibuk sendiri di depan laptop masing-masing. Tak lama, Lia datang. Membawa tela-tela pesananku. Cuma sekedar mau tanya-tanya tentang KTI MAWAPRES dan alhamdulillah ternyata dia mau nyoba dan sangat berusaha. syukurlah! Ini juga berkat keterlambatan seleksi dari fakultas karena anak-anak yang mau berangkat ke Bengkulu itu.
Jam 16.00wib, aku langsung menuju ke ruang F8 FKIP Matematika untuk rapat URC setelah ku antarkan Rincek ke BEM UR. Katanya mau ke fakultas yang digobah buat cek lokasi kampanye. Sebelum peserta rapat banyak yang datang, aku, Yaumil dan Bang Nando membahas proposal.
"Nggak masalah, Dek angkanya besar. Memang kita lebihkan seperti itu, itu sesuai anggaran dan matrixnya kok. Coba lihat ini. Semuanya kita ikuti sesuai ini," bang Nando mengulurkan kertas.
Aku dan Yaumil berpandangan dan saling memahami kertas itu dan ber-oooo panjang.
Rapat dimulai dengan membahas konsep acara.
Sempat ada perdebatan dan adu argumen ketika menyepakati tentang konsep dan juri untuk seleksi psikotes nanti. Dan, setelah berbicara ngalor-ngidul, akhirnya keputusan diserahkan kepada dewan juri yang dianggap lebih faham tetang konsep psikotes. huuaahhh, akhirnya. Dan baru selesai membahas acara seleksi aja nggak terasa udah dipenghujung jam 18.00wib. Rapat ditutup, dek Okta Yana dan Dek Joni yang merupakan rekomendasi dari BEM FKIP lanjut-rembuk dengan dek Mansyur. Aku dan Yaumil pulang duluan karena petir sudah mengudara berkali-kali. Udah bicara dengan bang Nando juga tentang TEMU WILAYAH di Medan itu dan akhirnya aku faham.
"Abang memang nggak mau Elis pergi. Pusing Abang nanti ngurusin MAWAPRES ini, Lis. Memang abang harap Elis bisa standby di sini. Nanti, Umil pula yang pergi kan? Hah, udahlah, stress kali Abang jadinya. hahaa. Seharusnya Abang pergi juga, tapi ini kan nggak bisa ditinggal. Fifi sama Dadhe kan pengurus lama, nah Ainun dan Mansyur kan bakal jadi penerus kita. Makanya mereka yang abang usulkan. Hari jumat ini mereka berangkatnya."
"Udaaah, Mamake. Insya Allah ada jalan yang lebih indah," kata Yaumil dengan lembut.
Ketika motor baru ku jalankan, hujan hadir sederas-derasnya. Aku terus melaju kencang. Butiran hujan yang besar-besar ini membuat mataku pedih dan ku usap berkali-kali.
"Atau Umiil langsung ke kos Mamakee ajaaa?" teruak Umil dari belakang.
"Iyaaa Milll.. Duh, mata Mamake pedih bangett nih."
"Hati-hati Mamakeeeee."
Ah, tepat setelah kami sampai di kosan, hujan mereda. Hah, apa-apakah ini? hehehe. Setelah sholat Maghrib dan Dinner, kami menyempurnakan rancangan dana proposal. Dan ketika sudah 80% selesai, giliran lampu yang mati dan laptop pun lowbat. Ah, akhirnya. Kami pun sudah mengantuk pemirsaaa.. Selamaat tidurrr... Huuaaamm
Aku keluar rumah dengan wajah cerah.
Sisa hujan semalam masih meninggalkan sejuk di pucuk-pucuk pagi.
Hari ini, temaku adalah dark donker, hehe. Baju kemeja berwarna donker (sejak SMP) dipadukan dengan cardigen dongker senada. Plus jilbab dongker juga tapi bersemburat hijau (ini jilbab sebenarnya udah aku kasihkan sama Rini, tapi masih sering juga ku palakin, piye iki? hehe). Dengan sedikit kreasi lipatan di bagian kepala, membuat penampilanku hari ini lebih chic. *hehe, ngerasa lagi promosi baju aja.
Umil di Arfaunnas ya, Mamake. Sekretarisnya lagi AW. Jadi Umil nungguin dia dulu. Kita ketemunya di mana?
BBM Yaumil masuk dan dibacakan Rini yang sedang menggenggam Androku.
"Balaskan tolong, Rin!"
Kita ketemuanya di bangku merah di depan Arfaunnas aja kalau gitu.
"Riiiinnn, tugasmuuuu!" Teriakku dari teras sambil memanaskan mesin motor.
"Apaaaa?" teriaknya dari dalam lalu disusul langkahnya ke luar kamar sambil melongok dari gorden.
Aku memberi kode orang yang sedang memotret.
"Hoawalaaah!" katanya. Rini segera masuk lagi ke kamar dan membawa OPPO kecenya.
Setelah beberapa kali jepretan... "maacih ya, Cin. Dah, sana masuk lagi ke dalaam!" hemmm juragan macam apa ini, pemirsah? hehe
Aku melaju. Dengan penuh senyum bibir dan syukur hati, ku tebas Bina Krida yang baru mencair. Sinar matahari sudah mewujud walau masih malu-malu. Daaan... aku udah di sini 15 menit lebih, tapi yang ditunggu belum juga nongol. Makanya, daripada bengong ntar mati ayam tetangga, mendingan aku nge-blog aja. Aku sedang duduk di bangku merah, dinaungi pohon bara-bara/pohon berduri yang sering ada di kuburan (hiiii,,sereem), tapi yang ini batangnya nggak berduri pula. Ntahlah apa nama pastinya, aku ragu. Sudah beberapa orang yang ku saksikan ke luar dari dalam mesjid ini. Ah, aku tahu apa yang mereka kerjakan di sana. Agenda syurga. Mengingatnya, mengingatkanku pada diri sendiri. Sudah sejauh mana aku menjauh? Dan, sudah sekeras apa hatiku mengeras? Just Allah knowing that!
To be continued...
Andro udah low dan aku kelabakan. TIba-tiba teringat power bank yang semoga masih tersedia dayanya. Huft syukurlah! Sempat nerima bbm dari Yaumil lagi sebelum akhirnya mati.
Ya Allah Mamake, awak di mushola rektorat tadi nungguin Mamake tapi nggak datang-datang. Si Wandi baru selesai agendanya dan ini baru mau dikasihnya sama Umil. Maklumlah, umil jalan kaki loh.
Makin geram aku dibuatnya. Lagian, kenapa pula nunggui di sana? Kan tadi udah ku bilang kalau aku nunggu di bangku taman Arfaunnas. grrrrrr... HP yang 1 lagi nggak ada pulsa pula, mau nge-check nomor Yaumil yang ku kirimi sms tadi sebenarnya aktif atau nggak? huaaaahhhh
Aku ke perpus UR. Dan, kepanikanku meningkat karena mendadak Androku nggak bisa dicas. Aku coba memancing responnya lewat power bank, tapi tetap diam. Hikss, janga-jangan kabelnya bermasalah. Huaahh, Umil dimana sih? Udah jam 10 ini. Aku minta nomor Yaumil ke Mansyur tapi nggak di balas-balas. Wah, nggak ada pilihan lain. Aku harus nekat nemuin pak Iyal untuk bincang-bincang sambil nunggu Umil.
Treeet..treeet
HPku bergetar. Nomor baru memanggil. Ternyata Yaumil. Segera ku perepetin untuk nyusul ke rektorat. Aku yang tanpa membawa apa-apa menemui pak Iyal, ternyata justru yang ditanyakana pertama kali adalah proposalnya. Aku tersenyum kecut dan mengatakan bahwa pembawa proposal sedang menuju kemari. Aku ke luar ruangan, menuruni tangga dan celingukan di depan parkiran. Mana sih ni oraaang? Barulah dari arah perpus, dia mendekat dengan pakaian serba kuning --kecuali rok jeans langganannya itu. Huaaahh, dia minta maaf karena misscommunication tadi. hiksss.
"Ini udah disesuaikan belum sampai perkiraan seleksi tingkat nasional?" tanya pak Iyal.
"Belum, Pak."
"Nah, harus disesuaikan juga. Sebab, kalau nanti seleksinya sampai tingkat nasional --kita berharap kita lolos ya, nah dana ini juga yang akan digunakan. Ini Rp 50jt untuk seleksi universitas aja kan? Kalau untuk seleksi aja kita udah habis dana sebanyak ini, nanti kalau mau ngirim utusan dana yang mana lagi yang dipotong? Nggak mesti dana Rp 50jt yang tersedi dan itu pula yang harus dihabiskan. Kalau ternyata nggak lolos ya ndak ada masalah. Dananya bisa kita gunakan untuk yang lain," Papar pak Iyal dengan lembut.
Aku dan Yaumil berpermisi dan menemui pak Jamadi untuk mempelajari anggaran ini.
Dan, si bapaknya sedang sibuk lalu memintaku menuliskan nomor HP di proposal itu. Setelah dicek juga ternyata nama para WRnya juga salah. hiksss, banyak yang mesti diganti sebelum didisposisi ternyata. Ya Allah, mudahkan urusan kami. Kami melanjutkan obrolan di bawah pohon di dekat parkiran rektorat. Bukan hanya aku yang linglung, Umil lebih kuat stressnya ternyata. Kabar saling simpang siur.
"Umil ngerasa, kita ini kayak bukan satu tubuh loh, Mamake. Pusing awak!" jelasnya dengan logat batak.
"Iya, Mil. Kayaknya kita perlu dimabitin deh."
"Iya betul tuh, Mamake. Biar hati kita semuanya menyatu."
Aku terkesiap pada sesuatau yang baru saja aku tawarkan. Hello, El? Kamu luar biasa! Semoga aku cepat kembali meluruskan diri yang sudah semakin semrawut ini. Aamiin.
"Mil, kita ke FMIPA yuk? Urusan pamflet belum juga kelar loh. Kita sebarkan langsung ke fakultas-fakultas juga, yuk?"
"Ayuk, Mamake! Kita sekalian menagih nama-nama utusan MAWAPRESnya juga. Anak TEKNIk udah ada loh calonnya, Mamake. Yuklah! Kalau nggak kita gerakkan, nggak ada yang bergerak."
Sambil berjalan, "Mil... Maafin Mamake marah-marah tadi ya!" pintaku.
"Awak nggak takut loh kalau Mamake yang marah, soalnya nggak serem dan awak rasa wajar-wajr aja yang Mamake marahin itu. hehe" sambutnya.
Kami melaju, dari FMIPA ke FT dan ternyata BEM-nya kosong melompong. Kami tinggalkan 2 lembar pamflet dan catatan kecil di kotak suratnya. Lanjut ke FAPERTA, hanya menitipkan brosur dan pesan kepada seorang kader Nurul Falah. Lanjut lagi ke FAPERIKA yang ternyata BEMnya kosong melompong juga.
"Ah, ngapain susah-susahh! Sama awak ajalah ini pamfletnya, Mamake," saran Umil.
Perjalananan berlanjut ke FKIP. "Waaah, bersih yaaa," kata Yaumil kemudian ketika melihat BEM FKIP yang begitu rapi.
Putri menanyakan berapa banyak yang sudah ku bimbing dan mendaftarkan diri. Lalu, kabar baiknya adalah jadwal presentasinya diundur sampai tanggal 9 April karena Romi dan Novi ikutan lomba debat di Bengkulu tanggal 4 April ini terbangnya. Ciyeeee, si adek nambah lagi sertifikatnya nih yeee.
Aku dan Umil menempelkan 3 brosur itu ke mading BEM FKIP lama, di mading mushola dan mading kelas Fisika. Alhamdulillah kelar. lanjut lagi ke BEM FISIP yang acak-kadut banget tempatnya, padahal gedungnya paling kece. hiksss. Terakhir ke FEKON yang lumayan rapi dibanding yang lainnya. Alhamdulillah mereka juga udah ngirimkan 3 panitia rekomendasi untuk MAWAPRES. Kabarnya juga dari FEKON, yang ikutan seleksi mencapai 20an orang. waw!!! Amazing.
Setelah semuanya selesai, giliran Umil yang minta treatment. Aku ajak dia makan di tempat bang Un untuk membahas ide KTInya. Kasihan Umil, dia harus ikut tahun ini. Apalagi tadi dia bilang bahwa dari FAPERIKA belum ada kandidatnya sama sekali. hikssss, ii harus seneng atau gembira ya, Mil? Tapi, apapun itu, ini adalah peluang untukmu dan aku nggak boleh membiarkanmu sendirian. hiksss. Aku jemput RIni untuk bergabung makan bareng di sini. Nyum-nyum sambil makan, diperolehlah ide ini: Pengembangan Produk Olahan Ikan Sebagai Strategi Persaingan dalam masyarakatEkonomi ASEAN (Studi Kasus Masyarakat Nelayan Bagansiapiapi, Rokan Hilir). Nyummiiiii....yeye! Umil ku pulangkan ke jalan yang benar sementara aku dan Rini capcus ke perpus UR buat wifian.hehe
Mataku tiba-tiba ngantuk, "Rin, aku melelapkan mataku bentar ya..hoaaaammm," seketika aku lelap sambil berpangku tangan di samping laptop, di depan Rini.
Mungkin sekitar 15 menit aku tertidur dan ketika terbangun ilerku udah dimana-mana,,hiiiii, jorkiiiii.
Aku mengechek HP...
Iya Lis. Afwan, Fifi taunya juga mendadak. Elis dan teman-teman riset memang distandby-kan di sini biar fokus dengan MAWAPRES. Bukan Fifi yang memutuskan Lis.
Baru bangun tidur dan membaca pesan itu membuatku naik darah saja.
Terus siapa ?
Tanyaku singkat.
Bang Nando, Lis. Tanya aja langsung ke beliau ya. Maaf nggak bisa ngasih jawaban yang memuaskan.
Aku mengalihkan perhatian sejenak dengan ke rektorat, ngecheck proposal kami tadi. Dan, kata si abang (ntah siapa namanya) udah fix tinggal diperbaiki lagi nama-nama pembimbing yang salah ketik itu. Aku membawa proposal itu bersamaku dan melangkah menuju perpus lagi. Dek Eli datang buat bimbingan KTI MAWAPRES. Eh, rupanya dia ragu ikut MAWAPRES karena punya nilai E 1 buah.
"Mana ada persyaratannya nilai nggak boleh ada E, Dek!" gertakku geram. "Yang penting IPKnya di atas 3,00. Itu aja. Apalah Adek niii!" tambahku lagi.
"Oh gitu ya, Mbak? hehe Eli kira nggak boleh."
"Adek punya ide apa tentang KIMIA?" tanyaku.
"Ada sih Mbak, tentang ini keripik Lidah Buaya. Kami pernah iseng-iseng kemaren nyoba. Tapi, dia cepat kali layu. Kalau masih panas tuh enak loh, Mbak. Tapi, ya itu gimana caranya biar dia nggak cepat lembek ya?'
"Nah, itulah PRnya Dek. Kalau udah ketemu caranya, kece tuh idemu."
"Tapi, waktu kami habis makan itu kepala agak pusing dikit, Mbak.hhaaha."
"Keracunan pula anak orang nanti, Dek. hahaa"
Tawa mengudara di kumpulan raga-raga kaku dan sibuk sendiri di depan laptop masing-masing. Tak lama, Lia datang. Membawa tela-tela pesananku. Cuma sekedar mau tanya-tanya tentang KTI MAWAPRES dan alhamdulillah ternyata dia mau nyoba dan sangat berusaha. syukurlah! Ini juga berkat keterlambatan seleksi dari fakultas karena anak-anak yang mau berangkat ke Bengkulu itu.
Jam 16.00wib, aku langsung menuju ke ruang F8 FKIP Matematika untuk rapat URC setelah ku antarkan Rincek ke BEM UR. Katanya mau ke fakultas yang digobah buat cek lokasi kampanye. Sebelum peserta rapat banyak yang datang, aku, Yaumil dan Bang Nando membahas proposal.
"Nggak masalah, Dek angkanya besar. Memang kita lebihkan seperti itu, itu sesuai anggaran dan matrixnya kok. Coba lihat ini. Semuanya kita ikuti sesuai ini," bang Nando mengulurkan kertas.
Aku dan Yaumil berpandangan dan saling memahami kertas itu dan ber-oooo panjang.
Rapat dimulai dengan membahas konsep acara.
Sempat ada perdebatan dan adu argumen ketika menyepakati tentang konsep dan juri untuk seleksi psikotes nanti. Dan, setelah berbicara ngalor-ngidul, akhirnya keputusan diserahkan kepada dewan juri yang dianggap lebih faham tetang konsep psikotes. huuaahhh, akhirnya. Dan baru selesai membahas acara seleksi aja nggak terasa udah dipenghujung jam 18.00wib. Rapat ditutup, dek Okta Yana dan Dek Joni yang merupakan rekomendasi dari BEM FKIP lanjut-rembuk dengan dek Mansyur. Aku dan Yaumil pulang duluan karena petir sudah mengudara berkali-kali. Udah bicara dengan bang Nando juga tentang TEMU WILAYAH di Medan itu dan akhirnya aku faham.
"Abang memang nggak mau Elis pergi. Pusing Abang nanti ngurusin MAWAPRES ini, Lis. Memang abang harap Elis bisa standby di sini. Nanti, Umil pula yang pergi kan? Hah, udahlah, stress kali Abang jadinya. hahaa. Seharusnya Abang pergi juga, tapi ini kan nggak bisa ditinggal. Fifi sama Dadhe kan pengurus lama, nah Ainun dan Mansyur kan bakal jadi penerus kita. Makanya mereka yang abang usulkan. Hari jumat ini mereka berangkatnya."
"Udaaah, Mamake. Insya Allah ada jalan yang lebih indah," kata Yaumil dengan lembut.
Ketika motor baru ku jalankan, hujan hadir sederas-derasnya. Aku terus melaju kencang. Butiran hujan yang besar-besar ini membuat mataku pedih dan ku usap berkali-kali.
"Atau Umiil langsung ke kos Mamakee ajaaa?" teruak Umil dari belakang.
"Iyaaa Milll.. Duh, mata Mamake pedih bangett nih."
"Hati-hati Mamakeeeee."
Ah, tepat setelah kami sampai di kosan, hujan mereda. Hah, apa-apakah ini? hehehe. Setelah sholat Maghrib dan Dinner, kami menyempurnakan rancangan dana proposal. Dan ketika sudah 80% selesai, giliran lampu yang mati dan laptop pun lowbat. Ah, akhirnya. Kami pun sudah mengantuk pemirsaaa.. Selamaat tidurrr... Huuaaamm

Tidak ada komentar:
Posting Komentar