Pagi ini ada ujian proposal dan hasil di Pendidikan Ekonomi dan aku yakin mereka adalah teman-teman se-angkatanku. Pengen banget rasanya hadir, minimal aku akan mengamati bagaimana proses yang kata mereka sulit itu berlangsung. Kalau tentang pertanyaan-pertanyaan wisuda itu aku udah kebal kok, tenang aja wahai diri! hehe. Tapi, penyakit lamaku kambuh; kecanduang ngeblog.hehe. Padahal tadi pagi niatnya bentar dan waktu lihat udah jam 07.00wib aja, aku udah ancang-ancang untuk berhenti. Tapi, ketika Rini pergi (gile nih bocah, akan bersibuk ria hari ini untuk Pemira) dan meninggalkan laptop plus modemnya, ya udah lanjut lagi coooyyyy.
Perut lama-lama teriakannya semakin kuat. Aku kelaparan, pemirsaaaa.
Mau pesan lauk, nyadar diri nggak punya uang dan Rini pun nggak ninggalin uang. hiksss, akhirnya aku nyeduh Quaker Oats. Widiiih! Kok lama-lama aku eneg ya? Aku maksain diri buat nggak mencampurinya denga susu *alasannya masih sama sih; menekan pengeluaran, hehe. Tapi, kali ini bener-bener nggak sanggup aku ngabisin porsi yang cuma sepiring kecil ini. Hueeekkk, ternyata makanan beresiko tinggi itu memang enak banget ya pemirsaaaa (kalau dibandingin dengan bubur nggak berasa ini, hiksss).
Kali ini, aku mau ngucapin selamat ulang tahun buat Azhari lewat cerpen juga. Mirip seperti cerita tentang bang Zul kemarin, tapi yang ini lebih ke peristiwa saat seleksinya berlangsung sih. Semoga aja dia nggak nangis ya bacanya (emangnya sedih banget ya ceritanya? Kagak sih, tapi nangisin tulisanku yang ternyata nggak seberapa baginya, cedih ya? hehe). Yaumil nelvon, Co. Kestari nelvon, Lia nelvon, tapi nggak aku angkat.
Oh ya, dalam beberapa kondisi, aku memang sangat tidak ingin berhubungan dengan dunia luar. Nggak mesti karena ada masalah dengan si penelvon sih, tapi lebih ke alasan kenyamanan aja. Kalau aku sedang nggak nyaman go out, biasanya siapa pun yang nelvon nggak aku angkat (apalagi kalau itu nomor baru. Kadang, bukan nomor baru juga sih, tapi karena HPku hang makanya nomornya baru semua dan aku ketakutan nggak jelas, hehe). Mungkin ini salah satunya diakibatkan oleh trauma-trauma yang pernah aku alami dengan telvon. Duh, tunggu dulu kenapa sih? Nggak tahu apa orang lagi kecanduan nulis gini? Iya iya, jam 10.00wib aku ke kampus kok, nanti kalau ada urusan bilanglah, tapi plissss aku nggak mau angkat telvon kalian dulu sekarang, lagi fokus soalnya. Begitulah kira-kira kalimat perasaanku.
Tapi, tadi pagi waktu mami nelvon, aku angkat kok (meski pun awalnya terfikir juga nggak ngangkat, maapin El miii). Dan, kekhawatiranku terjadi (pernah ku khawatirkan, tapi kali ini sedang tidak terfikir). Eh, mami tiba-tiba tanya:
"Uangmu masih ada?"
"Masih donk. Emangnya kenapa, Mi?"
"Ohoo. Mbok, tak kirain udah habis. Mempeng temen ngabisin uang, hemmm"
Aku terdiam. Tak memberikan penjelasan apa-apa sekalipun uang ini habis bukan untuk hal yang bukan-bukan. Tapi, tetap saja aku terkendala untuk membuat pengakuan karena aku nggak bisa menghasilkan 'sesuatu' sebagai alasan. Maka, aku memilih tetap diam.
"Nilam tuh besok dikasihlah uang Rp 200.000 El."
"Okeeeh! yuhuuuu," Jawabku, ya Allah bantu aku melengkapi kebutuhan duniaku ini. aamiin. Terfikir pula olehku; ya Allah, jangan-jangan rezekiku sempit karena maksiatku banyak? hiksss, ampun ya Allah. Ajari aku untuk bertobat di jalanMu ini. Astaghfirullahalazim, terlintaslah ini dan itu yang ku akui sebagai dosa. T_T, hiksss.
Aku menggunakan jas putih, rok hitam, jilbab abu-abu dan dipercantik oleh pin nama di dada. Yuhuuu, kece binggo deh, mirip bu dokter cuyyy. Di TPS (ruang serbaguna FKIP), ternyata antrian sangat panjang. Masuk-nggak, masuk-nggak, masuk-nggak. Ah, kalau aku tunda, nanti urusanku semakin menumpuk. Ya udah deh, aku dengan sabar mengantri selama 30 menit, eh lebih deh kayaknya. Huaaahh, kalau nulis udah dapat satu halaman nih. hiksss. Asyik ngobrol dengan anak semester 2 Bahasa Inggris bikin aku lupa dengan suntuknya ngantri. Ketemu dengan Vina (salah satu sahabatnya Lia), tapi yang bikin aku terkejut itu ketika dia memanggilku dan bertanya: "Dengan siapa, Lis?" lalu ku jawab: "Sendirian aja nih. Emang sama siapa aku seharusnya?" Nah, pertanyaan berikutnya ini yang bikin aku tersenyum: "Tumben. Kan biasanya sama soulmate (sambil menekuk jari telunjuk dan jari tengah seperti lambang XL)," aku bergumam: Oh, jadi secara nggak langsung, Vina udah mengakui bahwa aku lebih dekat dengan Lia daripada posisinya, setuju nggak pemirsa dengan tafsiran konyolku ini? hehe. Sekaligus juga terharu dan berfikir: ya Allah, apa aku udah merebut Lia darinya? hiksss. Jujur, kalau aku yang diposisinya, aku nggak bisa!.
"El!" tegur seseorang di belakang Vina dan ternyata itu Reni.
"Ya Allah Ren, aku sampek pangling loh!" Reni banyak berubah dari dirinya yang dulu. Tapi jujur, kau lebih suka dia yang dulu.
Setelah nyoblos, eh mengklik maksudnya (pemilu kami udah canggih soalnya coyy!), aku ngobrol bentar dengan dek Ami (fotonya yang tutup muka itu) eh aku jadi tertarik dengan manset hitamnya ituh hehe. *hati-hati dek, bentar lagi akalan hilang tuh!
Menyadari HPku tertinggal di kos membuatku buru-buru pulang lagi dan mengganti tas mini dengan tas pink. Beberapa menit nyari, tapi nggak nemuin HP itu membuatku enggan untuk pergi lagi dan udah niat berleha-leha. Tapi, kemudian telvon masuk dari dek Santi membuatku harus bergegas ke BEM FKIP untuk menandatangi sertifikat MAWAPRES. Sihiyyyy, akhirnya tanda tanganku mampang juga, pemirsa *aku terharu, hiksss ambil tisyu.
Setelah sholat Zuhur, Lia mengajakku berfoto karena tumben bagnet hari ini kami pakai kostum sama; serba putih.
"Cin, aku jadi teringat katamu dulu mu sama si kawan itu selalu barengan bajunya walau pun nggak direncanakan. Hiiiii, aku nggak mauuu ah, nanti kita berpisaaah. Sereeeeeem," kata Lia.
Bener banget sih yang itu cin, tapi semoga kita nggak kayak kemarin kejadiannya. Karena ,dirimu berbeda dengan dia. yuhuuuuu. Oh ya, Yudi ngetag foto bareng teman-teman di Jakarta untuk mendukung suksesnya Pemira hari ini. *yang di Jakarta aja peduli, bagaimana denganmu yang di sini?
Tanpa perencaan dan tanpa ancang-ancang, aku bergegas ke Prodi buat ngajuin judul. Eh, ketemu bu Tiko dan ngobrol sambil jalan tentang MAWAPRES dan berlanjut hingga duduk santai di ruang pascasarjana. Ah, lagian kata bu Tiko pak Riadi Armas juga udah pulang karena capek tadi habis nguji teman-temanku yang banyak ujian hari ini. Jadi, baju putih yang ku pakai ini membuat banyak orang salah faham aku udah ujian. aamiin ya Allah segerakanlah! Bu Tiko minta tolong buat memfotokopikan penelitiannya di MANDALA dan saat itulah aku baru menyadari bahwa bu Tiko sejak tadi menggunakan sepatunya ke dalam ruangan ini. Niat mau make sepatu ke dalam juga sih, tapi sayang karpet bludurnya jadi jorki karena sepatuku mungkin jorki..hiii.
Setelah mengucapkan salam, aku membukan pintu dan menutupnya kembali. Aku membawa 1 eksemplar penelitian bu Tiko yang akan dijilid dan dikopi serta uang Rp 50.000, tiba-tiba kejadia horor yang nggak ku sangka-sangka terjadi. Ketika aku mau memakai sepatu,
"Astagfrullah, apa ini?" tanyaku keheranan. Ada cairan berwarna merah menggenang di dalam sepatuku. Aku mencurigainya adalah darah. Lalu, ku tumpahkan cairan itu dan mengenai tanganku. Aku masuk ke dalam dengan tergesa-gesa dan bu Tiko ikutan khawatir. Aku disoodori banyak tisu untuk mengelapi sepatuku itu.
"Elis jadi ngerasa kayak diteror bu!" jelasku setelah ku cium tanganku dan aku yakin itu adalah aroma darah. Hampir saja aku mual dibuatnya. hiiiiiiiiii....
Tanpa meneruskan fikiran negatif, aku melaju ke Bina Krida dan kembali lagi dalam 15 menit. Eh, ternyata diajak makan bareng dengan bu Tiko. Aku dapat lauk babat, nggak masalah sih aku makan apa aja (soalnya bu Tiko nggak boleh makan babat dan memilih Ayam aja), tapi sayangnya babatnya alot banget cuyyy. Aku aja cuma berhasil makan ujungnya doank. hiksss, rezekiku. Yang penting perut udah nggak keroncongan lagi. hehe
Di Mandala, aku ketemu dengan *mi (teman PPLku) dan **mi. Sudah bisa ditebak, mereka akan bertanya-tanya tentang skripsiku. Aku menjawab seadanya saja dan belagak seperti orang sibuk. Bahkan ketika aku bilang sedang memfotokopi penelitian dosen, mereka malah ngira itu skripsiku. *aamiin-in aja deh, aamiin. Hingga, tibalah disuatu pertanyaan:
"Judul belum diajuin juga, Lis?"
"Belum."
Lalu, aku mendengar mereka saling berbisik: "Memang niat lama selesai dia nih."
Aku mengira mereka udah ujian hasil. Eh, ternyata baru proposal. Aku mikir gini (agak nyombong); Baru ujian proposal aja toh? Aku kira udah hasil. Hati-hati loh, ntar takutnya kalian shock kalau ternyata aku bisa mendahului kalian. Tapi, itu hanya hatiku dan Pemilik Hati saja yang tahu.
Aku kembali ke BEM FKIP untuk menuntaskan penandatanganan SERTIFIKAT MAWAPRES.
"Ya Allah, Dek. Cobalah lihat ini! Masa tulisannya: PEMILIHAN MAWAHASISWA (MAWAPRES)? Berprestasinya mana nih?"
Santi ku kabari kesalahan ini dan segera ke BEM FKIP seolah tidak menyangka ada kesalahan di sertifikat ini. Setelah ku tunjukkan, ternyata ia pun benar-benar tidak menyangka, hiksss. Langsung deh, tanpa fikir panjang diedit di sini semuanya, pakai Laptop Rini (kami saling curi-curian laptop, laptopku juga dibawa sama dia wekk). Aku juga ganti desainnya karena ngerasa kurang elegan gicuuu. Eh, on the middle of process si laptop malah ngambek. Aku dan Santi udah kuatir banget desainnya bakal hilang karena belum disimpan tadi. hikssss.
"Kak, kita langsung ke kos Kakak aja gimana? Casnya ada kan di kosan, Kak?"
"Ada. Yuklah!"
Eh, langkah kami berhenti sejenak karena ditawarin bakso bakar oleh si Okcek. Ya aku nggak bisa nolaklah, cuyy! Nyam..nyam, lezatnya ya Allah. Duh malu bingitsss ketika ku dapati kamar yang berserak-serak karena tadi nyari KRS atau KHS sebagai pengganti KTM yang udah lama nggak ada untuk nyontreng tadi. "Dek, maaf ya kamar Kak berserakan," (halah, kalimat basi! ehe). Ternyata beda ya, kerja berdua dengan kerja sendirian. Mungkin kalau dari segi waktu, lebih efisien kalau kerja sendiri-sendiri tapi berdua, dibandingkan berdua tapi yang satunya lagi cuma nontonin doank. Tapi, keuntungannya adalah kesalahan-kesalahan kecil itu bisa terlihat dan akhirnya sempurnahlah sertifikat kami kali ini.
"Iya ya kak, jauh lebih bagu yang ini daripada yang tadi," kata Santi. Ya eyalah, siapa dulu yang milihin desainnya? *bangga. Ketika azan berkumandang, Santi pamitan pulang. Ternyata dia tinggal bersama orang tuanya di sini, di Garuda Sakti.
"Adek orang Jawa ya?"
"Nggak Kak, bukan." Aku mulai menebak ke sebuah Suku. "Minang," lanjutnya lagi. GLEK!
"Hemm... udah Kakak duga. Banyak banget loh Kakak ketemu teman-teman yang wajahnya Jawa banget, tapi ternyata Minang tulen. Huahhhhh, kalian banyak meminjam wajah nih!" kataku, konyol.
Perut lama-lama teriakannya semakin kuat. Aku kelaparan, pemirsaaaa.
Mau pesan lauk, nyadar diri nggak punya uang dan Rini pun nggak ninggalin uang. hiksss, akhirnya aku nyeduh Quaker Oats. Widiiih! Kok lama-lama aku eneg ya? Aku maksain diri buat nggak mencampurinya denga susu *alasannya masih sama sih; menekan pengeluaran, hehe. Tapi, kali ini bener-bener nggak sanggup aku ngabisin porsi yang cuma sepiring kecil ini. Hueeekkk, ternyata makanan beresiko tinggi itu memang enak banget ya pemirsaaaa (kalau dibandingin dengan bubur nggak berasa ini, hiksss).
Kali ini, aku mau ngucapin selamat ulang tahun buat Azhari lewat cerpen juga. Mirip seperti cerita tentang bang Zul kemarin, tapi yang ini lebih ke peristiwa saat seleksinya berlangsung sih. Semoga aja dia nggak nangis ya bacanya (emangnya sedih banget ya ceritanya? Kagak sih, tapi nangisin tulisanku yang ternyata nggak seberapa baginya, cedih ya? hehe). Yaumil nelvon, Co. Kestari nelvon, Lia nelvon, tapi nggak aku angkat.
Oh ya, dalam beberapa kondisi, aku memang sangat tidak ingin berhubungan dengan dunia luar. Nggak mesti karena ada masalah dengan si penelvon sih, tapi lebih ke alasan kenyamanan aja. Kalau aku sedang nggak nyaman go out, biasanya siapa pun yang nelvon nggak aku angkat (apalagi kalau itu nomor baru. Kadang, bukan nomor baru juga sih, tapi karena HPku hang makanya nomornya baru semua dan aku ketakutan nggak jelas, hehe). Mungkin ini salah satunya diakibatkan oleh trauma-trauma yang pernah aku alami dengan telvon. Duh, tunggu dulu kenapa sih? Nggak tahu apa orang lagi kecanduan nulis gini? Iya iya, jam 10.00wib aku ke kampus kok, nanti kalau ada urusan bilanglah, tapi plissss aku nggak mau angkat telvon kalian dulu sekarang, lagi fokus soalnya. Begitulah kira-kira kalimat perasaanku.
Tapi, tadi pagi waktu mami nelvon, aku angkat kok (meski pun awalnya terfikir juga nggak ngangkat, maapin El miii). Dan, kekhawatiranku terjadi (pernah ku khawatirkan, tapi kali ini sedang tidak terfikir). Eh, mami tiba-tiba tanya:
"Uangmu masih ada?"
"Masih donk. Emangnya kenapa, Mi?"
"Ohoo. Mbok, tak kirain udah habis. Mempeng temen ngabisin uang, hemmm"
Aku terdiam. Tak memberikan penjelasan apa-apa sekalipun uang ini habis bukan untuk hal yang bukan-bukan. Tapi, tetap saja aku terkendala untuk membuat pengakuan karena aku nggak bisa menghasilkan 'sesuatu' sebagai alasan. Maka, aku memilih tetap diam.
"Nilam tuh besok dikasihlah uang Rp 200.000 El."
"Okeeeh! yuhuuuu," Jawabku, ya Allah bantu aku melengkapi kebutuhan duniaku ini. aamiin. Terfikir pula olehku; ya Allah, jangan-jangan rezekiku sempit karena maksiatku banyak? hiksss, ampun ya Allah. Ajari aku untuk bertobat di jalanMu ini. Astaghfirullahalazim, terlintaslah ini dan itu yang ku akui sebagai dosa. T_T, hiksss.
Aku menggunakan jas putih, rok hitam, jilbab abu-abu dan dipercantik oleh pin nama di dada. Yuhuuu, kece binggo deh, mirip bu dokter cuyyy. Di TPS (ruang serbaguna FKIP), ternyata antrian sangat panjang. Masuk-nggak, masuk-nggak, masuk-nggak. Ah, kalau aku tunda, nanti urusanku semakin menumpuk. Ya udah deh, aku dengan sabar mengantri selama 30 menit, eh lebih deh kayaknya. Huaaahh, kalau nulis udah dapat satu halaman nih. hiksss. Asyik ngobrol dengan anak semester 2 Bahasa Inggris bikin aku lupa dengan suntuknya ngantri. Ketemu dengan Vina (salah satu sahabatnya Lia), tapi yang bikin aku terkejut itu ketika dia memanggilku dan bertanya: "Dengan siapa, Lis?" lalu ku jawab: "Sendirian aja nih. Emang sama siapa aku seharusnya?" Nah, pertanyaan berikutnya ini yang bikin aku tersenyum: "Tumben. Kan biasanya sama soulmate (sambil menekuk jari telunjuk dan jari tengah seperti lambang XL)," aku bergumam: Oh, jadi secara nggak langsung, Vina udah mengakui bahwa aku lebih dekat dengan Lia daripada posisinya, setuju nggak pemirsa dengan tafsiran konyolku ini? hehe. Sekaligus juga terharu dan berfikir: ya Allah, apa aku udah merebut Lia darinya? hiksss. Jujur, kalau aku yang diposisinya, aku nggak bisa!.
"El!" tegur seseorang di belakang Vina dan ternyata itu Reni.
"Ya Allah Ren, aku sampek pangling loh!" Reni banyak berubah dari dirinya yang dulu. Tapi jujur, kau lebih suka dia yang dulu.
Setelah nyoblos, eh mengklik maksudnya (pemilu kami udah canggih soalnya coyy!), aku ngobrol bentar dengan dek Ami (fotonya yang tutup muka itu) eh aku jadi tertarik dengan manset hitamnya ituh hehe. *hati-hati dek, bentar lagi akalan hilang tuh!
Menyadari HPku tertinggal di kos membuatku buru-buru pulang lagi dan mengganti tas mini dengan tas pink. Beberapa menit nyari, tapi nggak nemuin HP itu membuatku enggan untuk pergi lagi dan udah niat berleha-leha. Tapi, kemudian telvon masuk dari dek Santi membuatku harus bergegas ke BEM FKIP untuk menandatangi sertifikat MAWAPRES. Sihiyyyy, akhirnya tanda tanganku mampang juga, pemirsa *aku terharu, hiksss ambil tisyu.
Setelah sholat Zuhur, Lia mengajakku berfoto karena tumben bagnet hari ini kami pakai kostum sama; serba putih.
"Cin, aku jadi teringat katamu dulu mu sama si kawan itu selalu barengan bajunya walau pun nggak direncanakan. Hiiiii, aku nggak mauuu ah, nanti kita berpisaaah. Sereeeeeem," kata Lia.
Bener banget sih yang itu cin, tapi semoga kita nggak kayak kemarin kejadiannya. Karena ,dirimu berbeda dengan dia. yuhuuuuu. Oh ya, Yudi ngetag foto bareng teman-teman di Jakarta untuk mendukung suksesnya Pemira hari ini. *yang di Jakarta aja peduli, bagaimana denganmu yang di sini?
Tanpa perencaan dan tanpa ancang-ancang, aku bergegas ke Prodi buat ngajuin judul. Eh, ketemu bu Tiko dan ngobrol sambil jalan tentang MAWAPRES dan berlanjut hingga duduk santai di ruang pascasarjana. Ah, lagian kata bu Tiko pak Riadi Armas juga udah pulang karena capek tadi habis nguji teman-temanku yang banyak ujian hari ini. Jadi, baju putih yang ku pakai ini membuat banyak orang salah faham aku udah ujian. aamiin ya Allah segerakanlah! Bu Tiko minta tolong buat memfotokopikan penelitiannya di MANDALA dan saat itulah aku baru menyadari bahwa bu Tiko sejak tadi menggunakan sepatunya ke dalam ruangan ini. Niat mau make sepatu ke dalam juga sih, tapi sayang karpet bludurnya jadi jorki karena sepatuku mungkin jorki..hiii.
Setelah mengucapkan salam, aku membukan pintu dan menutupnya kembali. Aku membawa 1 eksemplar penelitian bu Tiko yang akan dijilid dan dikopi serta uang Rp 50.000, tiba-tiba kejadia horor yang nggak ku sangka-sangka terjadi. Ketika aku mau memakai sepatu,
"Astagfrullah, apa ini?" tanyaku keheranan. Ada cairan berwarna merah menggenang di dalam sepatuku. Aku mencurigainya adalah darah. Lalu, ku tumpahkan cairan itu dan mengenai tanganku. Aku masuk ke dalam dengan tergesa-gesa dan bu Tiko ikutan khawatir. Aku disoodori banyak tisu untuk mengelapi sepatuku itu.
"Elis jadi ngerasa kayak diteror bu!" jelasku setelah ku cium tanganku dan aku yakin itu adalah aroma darah. Hampir saja aku mual dibuatnya. hiiiiiiiiii....
Tanpa meneruskan fikiran negatif, aku melaju ke Bina Krida dan kembali lagi dalam 15 menit. Eh, ternyata diajak makan bareng dengan bu Tiko. Aku dapat lauk babat, nggak masalah sih aku makan apa aja (soalnya bu Tiko nggak boleh makan babat dan memilih Ayam aja), tapi sayangnya babatnya alot banget cuyyy. Aku aja cuma berhasil makan ujungnya doank. hiksss, rezekiku. Yang penting perut udah nggak keroncongan lagi. hehe
Di Mandala, aku ketemu dengan *mi (teman PPLku) dan **mi. Sudah bisa ditebak, mereka akan bertanya-tanya tentang skripsiku. Aku menjawab seadanya saja dan belagak seperti orang sibuk. Bahkan ketika aku bilang sedang memfotokopi penelitian dosen, mereka malah ngira itu skripsiku. *aamiin-in aja deh, aamiin. Hingga, tibalah disuatu pertanyaan:
"Judul belum diajuin juga, Lis?"
"Belum."
Lalu, aku mendengar mereka saling berbisik: "Memang niat lama selesai dia nih."
Aku mengira mereka udah ujian hasil. Eh, ternyata baru proposal. Aku mikir gini (agak nyombong); Baru ujian proposal aja toh? Aku kira udah hasil. Hati-hati loh, ntar takutnya kalian shock kalau ternyata aku bisa mendahului kalian. Tapi, itu hanya hatiku dan Pemilik Hati saja yang tahu.
Aku kembali ke BEM FKIP untuk menuntaskan penandatanganan SERTIFIKAT MAWAPRES.
"Ya Allah, Dek. Cobalah lihat ini! Masa tulisannya: PEMILIHAN MAWAHASISWA (MAWAPRES)? Berprestasinya mana nih?"
Santi ku kabari kesalahan ini dan segera ke BEM FKIP seolah tidak menyangka ada kesalahan di sertifikat ini. Setelah ku tunjukkan, ternyata ia pun benar-benar tidak menyangka, hiksss. Langsung deh, tanpa fikir panjang diedit di sini semuanya, pakai Laptop Rini (kami saling curi-curian laptop, laptopku juga dibawa sama dia wekk). Aku juga ganti desainnya karena ngerasa kurang elegan gicuuu. Eh, on the middle of process si laptop malah ngambek. Aku dan Santi udah kuatir banget desainnya bakal hilang karena belum disimpan tadi. hikssss.
"Kak, kita langsung ke kos Kakak aja gimana? Casnya ada kan di kosan, Kak?"
"Ada. Yuklah!"
Eh, langkah kami berhenti sejenak karena ditawarin bakso bakar oleh si Okcek. Ya aku nggak bisa nolaklah, cuyy! Nyam..nyam, lezatnya ya Allah. Duh malu bingitsss ketika ku dapati kamar yang berserak-serak karena tadi nyari KRS atau KHS sebagai pengganti KTM yang udah lama nggak ada untuk nyontreng tadi. "Dek, maaf ya kamar Kak berserakan," (halah, kalimat basi! ehe). Ternyata beda ya, kerja berdua dengan kerja sendirian. Mungkin kalau dari segi waktu, lebih efisien kalau kerja sendiri-sendiri tapi berdua, dibandingkan berdua tapi yang satunya lagi cuma nontonin doank. Tapi, keuntungannya adalah kesalahan-kesalahan kecil itu bisa terlihat dan akhirnya sempurnahlah sertifikat kami kali ini.
"Iya ya kak, jauh lebih bagu yang ini daripada yang tadi," kata Santi. Ya eyalah, siapa dulu yang milihin desainnya? *bangga. Ketika azan berkumandang, Santi pamitan pulang. Ternyata dia tinggal bersama orang tuanya di sini, di Garuda Sakti.
"Adek orang Jawa ya?"
"Nggak Kak, bukan." Aku mulai menebak ke sebuah Suku. "Minang," lanjutnya lagi. GLEK!
"Hemm... udah Kakak duga. Banyak banget loh Kakak ketemu teman-teman yang wajahnya Jawa banget, tapi ternyata Minang tulen. Huahhhhh, kalian banyak meminjam wajah nih!" kataku, konyol.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar