Senja kali ini adalah dalam rangka mengenang sebuah perjalanan (dulu). Deru gas pesawat yang sedang memisahkan diri dari pijakan bumi membuatku iri masa-masa itu. Ingin! Sungguh aku ingin sekali lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi merasakannya. Sebab, bukan main rasanya bagi pemuda sepertiku yang mendapatkan kesempatan terbang, buah dari kejar peluang. Pun bahagia itu kontras tergambar jelas dari wajah Yudi dan Mawar yang kami sambut kedatangannya dengan sedikit lebay. Tulisan Selamat Datang Kembali di Pekanbaru Yudi dan Melati, kami pecah ke atas 3 kertas dan kami pegang bertiga. Ketika Yudi dan Melati bergerak menuju pintu sambut dengan mendorong troli berisi banyak tas, kami mengangkat tinggi kertas itu sambil membalas lambaian tangan mereka. Ah, indah sekali! Aku pernah merasakan di sambut -mirip seperti ini- dengan senyuman bang Aan (LO delegasi Indonesia dalam ASC, Bangkok-Thailand), Juni tahun lalu. Di sini, aku belum pernah disambut seperti ini, oleh sebab itu aku ingin mewujudkan harapan itu kepada orang lain terlebih dahulu. Agar kelak, alam memperlakukanku sesuai mauku. aamiin.
"Teman-teman, maaf ya kayaknya aku harus pulang duluan. Karena anak-anakku kasihan, terlantar. Maklumlah, bapaknya nggak ada hehe" jelas Lia, dengan ekspresi tak terdeskripsi, haha.
"Kode keras tuh! (sambungku). Penyambut macam apa kita ini? Yang disambut belum pulang, malah kita yang pulang duluan? heheh."
"Nggak apa-apa, Kak. Kami udah sangat terharu disambut seperti ini."
Di Asrama, Lia mulai beraksi. Sekarang, hari hampir maghrib dan dia akan menasehati sambil bernyanyi, menghimbau sambil melagu dan mengingatkan lewat permintaan yang tak serupa suruhan. Diperuntukkan untuk para penghuni asrama putri yang berjumlah 44 orang. Hiksss, dia memang luar biasa. Seorang kakak, ibu sekaligus teman bagi mereka.
"Pusing kali kepalaku, Cin. baru terasa sekarang pusingnya. Tadi, pas jemput Yudi belum terasa."
"Ya iyalah, namanya aja ketemu Yudi, hehhe" sambung Rini.
"Iiihh! Kamu kok tahu sih, Ciiin? (ekspresi kecentilan)."
Menjelang sholat Isya, ku rebahkan tubuhku di tempat tidurnya Lia. Benar-benar baru terasa pusingnya. Apalagi di perjalanan tadi, kepalaku dan kepala bu Tiko sempat terhentak dengan langit-langit mobil karena nggak bisa mengelak dari lubang dalam di jalan. Lumaya kuat juga benturannya. *abang spuirnya nggak punya pilihan lain, kalau mengelak ke kiri, ada seorang ibu yang mengendarai motor dengan si kecil, hiksss. Akunya pun nggak siaga berpegang kuat karena ketika abang supirnya berteriak ADUH!!! (beberapa detika seblum akhirnya kejeblos), kami mengira lubangnya nggak sedalam itu, habisnya nggak kelihatan sih (kecuali supirnya).
"Cin, judul postinganku hari ini adalah Gadis Bensin, Kuansing dan Landing."
"Kok Gadis Bensin? Apa maksdunya?" tanya Rini.
"Makanya, dibaca donk ntar!" kataku.
"Idihhh..sory lah yaw.." jawab Rini sokk cuek.
"Halahhh... Nanti keceplosan lagi karena diam-diam buka blogku! Upss! hahaha," aku meledeknya.
***
ASTAGHFIRULLAHAL'AZIM!!!
Aku terduduk seketika dan berulang kali beristighfar. Rini yang sedang mengaji pun terheran,
"Kenapa nya El?!"
"Duh Rin! Aku kan ada janji mau pergi dengan bu Tiko jam setengah enam. Pasti sebentar lagi aku dijemput. Gimana nih!" tanyaku setelah ku dapati angka 05.45wib dari layar HP.
"Aku kita ntah kenapa lah, El!" mungkin Rini masih shock melihatku bangun se-tiba-tiba tadi.
"Aku memang gitu, Rin."
Segera ku raih handuk, mandi secepat kilat. Untung aja sedang cuti sholat, huh!
"Rin, tolong donk bantuin aku nyiapi barang-barangku. Masukkah si kawan itu ke dalam tasku ya!"
"Mana bajunya si kawan ini nya?!"
"Itu haaa, dekat tempat tidurmu. Casnya juga ya Cuy. Buku kecilku uda? Terus kamera juga jangan lupa.
"Iya, udah semua nih."
Tak lama kemudian, terdengarlah suara deru mobil di depan rumah. Suaranya lembut, nyaris tak terdengar, tapi aku yang sedang menunggu ini tentu instingnya lebih tajam dan awas.
"El... Mau pergi? Ada mobil yang jemput..." kak Dewi berteriak kecil. Bagaimana pula tebakannya bisa tepat kepadaku ya? hhiiihi, tahu aja bahwa aku yang sering eksis di sini. *huweeeekkkk, lembar odor gigi.
"Haa.. mau kemana pagi-pagi gini?" tanya Kak Dewi.
"Nemenin dosen kak untuk survey penelitiannya," jawabku santai. Padahal hatiku dag-dig-dug setelah melihat mobil jemputan terparkir di depan kosan. Aku menyalami kak Dewi dan segera berhambur ke dalam mobil. Aku dan bu Tiko duduk di belakang supir. Sekilas, ku lihat mata supirnya dari spion, huuuu.... matanya indah! hehe. *dasar jelalatan matanya. ehe
"Udah mandi kan sekarang?" tanya bu Tiko ketika ku ceritakan bahwa aku terlambat bangun dan baru teringat janji dengannya.
"Udahlah Buuukkk, hehe. Buru-buru banget tadi siap-siapnya."
Ohhh, jadi kalau ke kuansing itu ngelewatin Kubang duluuu toh! Bismillah, semoga aku mendapatkan 'sesuatu' dari Kuansing nanti. aamiin. Perlahan, mobil bergerak maju dan meninggalkan wilayah Kubang.
"Kita sarapan dulu aja yuk? Cari tempat yang enak gitu," kata bu Tiko dan akhirnya berhentilah kami di depan warung lontong.
Aku menyamakan pesanan dengan bu Tiko dan bang Eki, -nama supir kami- Katupek Gulai Paku. Ini sebenarnya konsepnya sama aja dengan lontong, tapi sayurnya adalah gulai paku/pakis. Heemmm jujur, aku sih kurang suka ternyata. Lontong biasa aja kurang suka. Barulah ku amati daftar menu makanan di sini, eh ada pecel rupanya. Nah, kenapa aku nggak mesen itu aja ya? Ah, tapi kalau nggak gini, aku nggak pernah tahu donk gimana rasanya Lontong Gulai Paku ini. Masih banyak lelontongan yang ku tinggalkan di piring. Saatnya beraksi untuk menangkap moment ini, ku keluarkan kamera dari dalam tasku dan ternyata..........
Cuy, ternyata memori kameraku di dalam lepimu yak?
Lalu, Rini membalas,
Iya nih ternyata, sori nggak kefikiran masukin tadi, hiksssss.
Jelas saja memang bukan Rini yang salah, aku yang salah. Kenapa semalam nggak langsung ku persiapkan dengan matang kepergian pagi ini? Kan yang tidur sampai larut malam tuh eke. huhh, Elll.. Ell. Begini jugalah kejadiannya waktu ketinggalan cas kameranya ke Thailand. Padahal kamera itu niatnya dibeli ya buat dimanfaatkan selama di Thailand, eh malam kecerobohanku bukin kesel diri sendiri. *antar negara loh cuy, untung ini cuma di Riau, kan? Ada-ada aja toh El, El. Andorid juga nggak ku bawa. Untung aja punya HP Nokia yang ternyata hasil gambarnya boleh juga lah. Walaupun murah dan udah jadul, tapi alhamdulillah gambarnya berkualitas. *yak, bisa dilihat hasil jepretannya di sebelah kiri, bapak-bapak, ibu-ibu, hehe.
Kalau udah ngerasa nggak nyaman di perjalanan, aku biasanya akan berposisi kacau di dalam mobil sambil berupaya tidur. Kadang miring ke kanan, miring ke kiri, atau merebahkan setengah tubuh ke tempat duduk. *kayak cacing menggigil ya, hehe. Pola jalan yang udah berbelok-belok membuatku pusing dan merasa mual. Kalau nggak dipaksa tidur, pasti akhirnya muntah. Bu Tiko kok bisa tetep anteng dan duduk manis sejak awal ya? Kalau aku mah, udah acak-acakan banget. Nggak kayak orang lagi dah pokoknya. Hemm, namanya aja bu Tiko itu putri keraton, keturunan darah biru. Meski pun bu Tiko mengaku udah lama nggak pulang ke Yogya dan nggak besar di lingkungan keraton, tapi 'ruh' keraton itu melekat dengannya. Aku ingat, pernah suatu ketika pak Gus yang biasanya gampang banget nyepelein/ngatain orang, tapi beliau ngomong gini, "Saya terkesan sekali dengan Bu Tiko. Dia dari sebanyak dosen yang saya kenal, bu Tikolah yang nggak pernah saya dengar ngomongin kejelekan orang lain." *aku gigit jari.
"Duh! Sebenarnya Ibu agak puyeng nih."
"Loh kenapa Bu?"
"Ibu sedang kecanduan dengan kopi. Dan, sekarang sedang berusaha mengurangi. Jantung juga deg-degan terus. Mungkin kalau bisa dibahasakan, ibu akan bilang I miss you, Coffe. Begitulah ya kalau kita sedang kangen dengan sesuatu yang udah menjadi kebiasaan. Nggak kebayang deh gimana beratnya seseorang untuk ngilangin kecanduannya dengan narkoba narkoba. Awalnya memang untuk bergadang ngerjain sesuatu, tapi karena keterusan akhirnya nggak bergadang pun Ibu minum kopi. Dulu, waktu di Aussie Ibu sempat kecanduan Sprite. Sampai di Indonesia terbawa-bawa terus dan kata Dokter itu nggak bagus apalagi buat orang yang kerjaannya lebih banyak duduk kayak Ibu."
Oh, begitu ya rasanya kecanduan. Memang benar, berlebihan itu nggak baik. Tiba-tiba aku terfikir, Aku berlebihan nggak ya dengan nge-blogger? Jangan-jangan aku pun sedang dalam candu? hiii
Nggak terasa, pukul 09.15wib kami sudah tiba di UPTD Puskesmas Koto Baru, Singingi Hilir, tempat kami berburu informasi tentang ibu hamil. *emang penelitiannya tentang itu, coy. Nggak usah heran, ehhe. Masih 1 jam lagi menuju pusat kota Taluk Kuantan. Pengen banget sih ke sana, tapi lihat buk bosnya dulu, ada rencana ke sanakah atau malah akunya yang bakal ngajakin pulang duluan? Siapa tahu?
Bu Tiko memang mahir berkomunikasi. Beliau pandai menarik ulur pembicaraan dan melobi petugas di puskesmas ini supaya bisa menggali informasi sebanyak-banyaknya informasi. Alhamdulillah, sambutan mereka luar biasa. Nggak seserem yang dikhawatirkan bu Tiko, berdasarkan informasi temannya. Kami ngobrol panjang di ruangan KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), bersama bu Siti Aisyah. Tapi, hanya 15 menit saja ia bisa menemani kami di sini dan selebihnya kami berbincang dengan bu Nelva, ahli gizi dan beberapa bidan desa yang hari ini piket hingga pukul 11.00wib.
"Pak Sugi, terimakasih ya sudah banyak membantu saya di sini. Alhamdulillah, ibu-ibunya baik banget, saya saja sampai bingung mau nanyain apalagi," Ujar bu Tiko kepada pak Sugi yang sejak tadi duduk di bangku tunggu berdua dengan bu Nur, saudaranya.
"Iya, Bu. Sama-sama. Hanya inilah yang bisa saya bantu untuk Ibu," jawab pak Sugi yang ternyata adalah mahasiswa S2 sekaligus bimbingan tesisnya bu Tiko.
Bu Tiko ngajakin ngobrol santai sambil lunch. Pak Sugi mengajak ke Kedai Nasi Farid, tak jauh dari UPTD tadi. Makanan segera tersaji dan kami langsung menikmati. Demi menjaga kesehatan, banyak sekali yang bu Tiko hindari. Beliau hanya mengambil ikan Bawal panggang dan daun ubi rebus. Nah, sebenarnya daun ubi rebus juga nggak boleh, tapi karena sesekali mungkin aja, hehe. Aku nggak mau kalah, karena penasaran dengan rasa ikan Bawal Panggang itu aku merampok (sedikit) milik bu Nur, ehhe. Habisnya dipersilahkan sih, bagaimana mungkin aku bisa menolaknya? hehe. *padahal udah ada Ikan Salai gulai loh di piring eke, besar pula ukurannya loh.
Setelah makan siang, bang Eki berhambus ntah kemana, bu Tiko dan pak Sugi berpindah duduk untuk bimbingan tesisnya pak Sugi, sedangkan aku sibuk mengorek-ngorek tentang budaya di Singingi, hehe *ngikutin jejal mas Gol A Gong ceritanya nih, ehe aamiin.
"Bu, kok saya perhatikan bangunan di sini banyak yang mirip dengan Rumah Gadang, Minang ya? Ada berapa suku sih di sini, Bu?"
"Memang iya, karena banyak suku minang di sini. Ada Piliang, Domo, Melayu juga terbagi 2 tapi saya lupa," Jawab bu Nur. Dan, yang bikin aku kesal adalah ketika ku sadari semua pesan terkirim udah ku hapus, padahal aku menulis semuanya di sana. Soalnya, kontak di HPku pada hilang semua namanya. Makanya, aku berfikir untuk mengurangi isi pesan yang udah ribuan di HP ini. *aku emang males ngapusin pesan, padahal nggak penting-penting juga sih, eheh. Duh! Beneran sedih nih akunya. Pokoknya, banyak banget orang Minang di sini, tapi lebih Minang-an lagi orang-orang Kampar, karena mereka memang berdekatan banget dengan Bukit Tinggi. Hemmm, termasuk baju adat pengantinnya juga serupa Minang. Bahkan, garis keturunannya juga dari sebelah ibu (Matriakat). Sampai pantangan menikah sesama suku pun menyerupai Minang.
Aku berkesimpulan, bahwa Kampar dan Kuansing adalah 2 kabupaten yang positif mengalami akulturasi. Karena, memang baru 2 kabupaten ini yang banyak ku cari tahu. Kalau di ROHIL dan siak didominasi oleh Melayu, meskipun banyak juga masyarakat Jawa yang bertransmigari ke sana, Bengkalis dan Meranti juga Melayu pesisir buanget, bahasanya aja udah identik seperti Malaysia. Kalau di ROHUL, kabarnya banyak bataknya. Pelalawan, INHU, INHIL nih yang belum aku tahu sama sekali. Semoga someday, aku bisa ke sana. aamiin. Bu Nur sangat baik hati dan mau bercerita banyak hal kepadaku. Pukul 12.00wib, kami berpamitan pulang kepada mereka berdua. hiksss.
"Hemmm, harumnya aroma bensinnya..." kata bu Tiko. Aku nggak nyangka beliau sama anehnya denganku yang suka dengan aroma bensin.
"Iya Bu, emang harum. Elis juga suka, ehhe."
"Waktu masih muda dulu, ibu sampai dijuluki Gadis Bensin karena setiap mampir ke SPBU selalu heboh, hhee. Anak ibu juga sampai bilang; Ibu kok aneh banget sih? Bensin kok harum?. Dulu, pernah juga ibu dijuluki Gadis Tol.."
"Loh, kalau itu maksdunya apa, Bu?" potongku.
"Karena tahunya kalau udah masuk jalan Tol. Setelah ke luar Tol, udah nggak tahu jalan lagi, ehhe."
Tawa bu Tiko adalah tawa putri keraton. Bukan tawa biasa, sedikit terkekeh, tapi tetap anggun dan bersahaya. *bukankah aku demikian juga, pemirsa? hheheee...
"Elis pernah diajakin sama dosen lainnya pergi kayak gini, nggak?"
"Belum pernah sih Bu. Kalau diajak ke Hotel pernah. Kemarin diajak pak Suarman ke PLPG guru-guru di Hotel Olgaria. Asyiklah pokoknya Bu, cuma bantu nulis-nulis dan ngasih nilai aja."
"Bentar lagi ada tuh PLPG. Bilangin aja ke Pak Suarman kalau Elis ada waktu lagi supaya diajakin."
Pukul 13.32wib, kami mampi di Mesjid Baitul Rahman, masih di desa Koto baru. Ternyata lumayan juga ya Koto Baru ini. Aku sedang nggak solat, tapi ikutan turun untuk cuci muka, biar seger. Dan, saat itulah aku melihat bu Tiko berwudhu dengan kondisi kuku kaki yang masih ber-cat.
"Bu, kuku Ibu masih ada kutexnya itu ya? Hemmm... yang Elis tahu sih, itu nggak sah bu dibawa berwudhu, karena melapisi kuku."
"Iya ya? Tapi ini nggak bisa dihilangin," jawab bu Tiko sedikit ragu.
"Gimana ya itu, Bu? Ngilanginnya gimana tu Bu?" aku pun jadi ikutan bingung.
"Ntar lama-lama juga dia menipis, barulah hilang," jawabnya.
Aku nggak bisa berbuat apa-apa. Beliau adalah orang yang sangat aku hormati, sekaligus aku sayangi. Makanya, merasa wajib memberitahunya. Ya Allah, berikan bu Tiko petunjukmu. Jika Engkau memilihku sebagai perantaranya, maka berikan aku pentunjuk agar aku bisa menjadi perantara baginya. aamiin. Perjalanan pulang berlanjut dan aku mengupayakan diri untuk tertidur, setelah bercerita banyak hal lagi dengan bu Tiko. Karena, udah mulai merasa pusing ketika jalan berbelok-belok. Dan, dititik inilah aku baru merasakan tidur yang benar-benar lelap sampai bu Tiko berkata,
"Nah, udah sampek nih kita. Eh, si Elis beneran tertidur nih. Bergadang kali ya semalam," katanya lembut.
Aku menggeliat dan berkata, "Udah sampai di mana nih kita, Bu?"
"Di Beringin nih."
Bu Tiko mengeluarkan uang Rp 100.000 dan menyodorkannya kepadaku.
"Eh, nggak usah bu, Eli seneng kok udah diajakin jalan-jalan."
"Udah, nggak apa-apa. Buat jajan Elis. Udah biasa kok Lis untuk yang nemenin Ibu pergi-pergi."
Ya aku mana bisa menolak kan kalau ibunya maksa gini? *alhamdulillah, akhirnya aku bisa makan malam ini, pemirsa...hehe. Ya Allah, makasih. Mungkin ini baru salah-satu dari sekian banyak balasan dari sedekahku kemarin. Makasih ya Allah. ^_^ Aku ingat banget, kemarin siang bu Tiko menelvonku untuk menemaninya. Aku nggak nyadar kalau hari ini banyak rezeki yang mendatangiku.
"Lain kali kalau butuh ditemenin, ajak aja Elis lagi, bu," pintaku. *yeee, nagih ya? hehe.
"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa makan malam ini Rin!"
"Iya yah! Hasil malakin hari ini lumayan juga," kata Rini sok misterius.
"Waktu tadi pagi Rini bilang kalau pulang harus bawa uang, aku mikirnya kok mustahil kalilah ya. Emangnya aku harus ngerampok dulu? Eh, ternyata uang inilah jawabannya."
Tapi, nggak nunggu 1x24jam, uang itu udah ludes aja. Untuk bayar utang dengan Lia Rp 50.000, untuk beli minyak 2lt Rp 18.000, parkir di bandara Rp 4000, beli nasi Rp 14.000. Yang penting utang ke satu orang udah ku lunasi deh. Itu kan wajib disegerakan yak! Makasih bu Tiko, Elis bisa bayar utang hari ini.
Sejam kemudian setelah kepulanganku, aku, Rini dan Lia menuju bandara untuk menyambut kedatangan Yudi dan Melati. Dengan noraknya, kami mengangkat tinggi-tinggi kertas-kerta bertuliskan nama mereka di depan garis sambut. *aku sedang membayangkan dirikulah yang sedang disambut seperti ini. Bahagianyaaaaa. *woy, bangun woy, jangan mimpi. plok-plok, hehe.
"Cin, semoga kita segera terbang lagi yak?" kataku.
"Amiin. Kita akan terbang bersama-sama ke UI."
"Aamiin," sambut Rini.
"Atau ke Bandung."
"Aamiin," sambutku. ^_^
"Teman-teman, maaf ya kayaknya aku harus pulang duluan. Karena anak-anakku kasihan, terlantar. Maklumlah, bapaknya nggak ada hehe" jelas Lia, dengan ekspresi tak terdeskripsi, haha.
"Kode keras tuh! (sambungku). Penyambut macam apa kita ini? Yang disambut belum pulang, malah kita yang pulang duluan? heheh."
"Nggak apa-apa, Kak. Kami udah sangat terharu disambut seperti ini."
Di Asrama, Lia mulai beraksi. Sekarang, hari hampir maghrib dan dia akan menasehati sambil bernyanyi, menghimbau sambil melagu dan mengingatkan lewat permintaan yang tak serupa suruhan. Diperuntukkan untuk para penghuni asrama putri yang berjumlah 44 orang. Hiksss, dia memang luar biasa. Seorang kakak, ibu sekaligus teman bagi mereka.
"Pusing kali kepalaku, Cin. baru terasa sekarang pusingnya. Tadi, pas jemput Yudi belum terasa."
"Ya iyalah, namanya aja ketemu Yudi, hehhe" sambung Rini.
"Iiihh! Kamu kok tahu sih, Ciiin? (ekspresi kecentilan)."
Menjelang sholat Isya, ku rebahkan tubuhku di tempat tidurnya Lia. Benar-benar baru terasa pusingnya. Apalagi di perjalanan tadi, kepalaku dan kepala bu Tiko sempat terhentak dengan langit-langit mobil karena nggak bisa mengelak dari lubang dalam di jalan. Lumaya kuat juga benturannya. *abang spuirnya nggak punya pilihan lain, kalau mengelak ke kiri, ada seorang ibu yang mengendarai motor dengan si kecil, hiksss. Akunya pun nggak siaga berpegang kuat karena ketika abang supirnya berteriak ADUH!!! (beberapa detika seblum akhirnya kejeblos), kami mengira lubangnya nggak sedalam itu, habisnya nggak kelihatan sih (kecuali supirnya).
"Cin, judul postinganku hari ini adalah Gadis Bensin, Kuansing dan Landing."
"Kok Gadis Bensin? Apa maksdunya?" tanya Rini.
"Makanya, dibaca donk ntar!" kataku.
"Idihhh..sory lah yaw.." jawab Rini sokk cuek.
"Halahhh... Nanti keceplosan lagi karena diam-diam buka blogku! Upss! hahaha," aku meledeknya.
***
ASTAGHFIRULLAHAL'AZIM!!!Aku terduduk seketika dan berulang kali beristighfar. Rini yang sedang mengaji pun terheran,
"Kenapa nya El?!"
"Duh Rin! Aku kan ada janji mau pergi dengan bu Tiko jam setengah enam. Pasti sebentar lagi aku dijemput. Gimana nih!" tanyaku setelah ku dapati angka 05.45wib dari layar HP.
"Aku kita ntah kenapa lah, El!" mungkin Rini masih shock melihatku bangun se-tiba-tiba tadi.
"Aku memang gitu, Rin."
Segera ku raih handuk, mandi secepat kilat. Untung aja sedang cuti sholat, huh!
"Rin, tolong donk bantuin aku nyiapi barang-barangku. Masukkah si kawan itu ke dalam tasku ya!"
"Mana bajunya si kawan ini nya?!"
"Itu haaa, dekat tempat tidurmu. Casnya juga ya Cuy. Buku kecilku uda? Terus kamera juga jangan lupa.
"Iya, udah semua nih."
Tak lama kemudian, terdengarlah suara deru mobil di depan rumah. Suaranya lembut, nyaris tak terdengar, tapi aku yang sedang menunggu ini tentu instingnya lebih tajam dan awas.
"El... Mau pergi? Ada mobil yang jemput..." kak Dewi berteriak kecil. Bagaimana pula tebakannya bisa tepat kepadaku ya? hhiiihi, tahu aja bahwa aku yang sering eksis di sini. *huweeeekkkk, lembar odor gigi.
"Haa.. mau kemana pagi-pagi gini?" tanya Kak Dewi.
"Nemenin dosen kak untuk survey penelitiannya," jawabku santai. Padahal hatiku dag-dig-dug setelah melihat mobil jemputan terparkir di depan kosan. Aku menyalami kak Dewi dan segera berhambur ke dalam mobil. Aku dan bu Tiko duduk di belakang supir. Sekilas, ku lihat mata supirnya dari spion, huuuu.... matanya indah! hehe. *dasar jelalatan matanya. ehe
"Udah mandi kan sekarang?" tanya bu Tiko ketika ku ceritakan bahwa aku terlambat bangun dan baru teringat janji dengannya.
"Udahlah Buuukkk, hehe. Buru-buru banget tadi siap-siapnya."
Ohhh, jadi kalau ke kuansing itu ngelewatin Kubang duluuu toh! Bismillah, semoga aku mendapatkan 'sesuatu' dari Kuansing nanti. aamiin. Perlahan, mobil bergerak maju dan meninggalkan wilayah Kubang.
"Kita sarapan dulu aja yuk? Cari tempat yang enak gitu," kata bu Tiko dan akhirnya berhentilah kami di depan warung lontong.
Aku menyamakan pesanan dengan bu Tiko dan bang Eki, -nama supir kami- Katupek Gulai Paku. Ini sebenarnya konsepnya sama aja dengan lontong, tapi sayurnya adalah gulai paku/pakis. Heemmm jujur, aku sih kurang suka ternyata. Lontong biasa aja kurang suka. Barulah ku amati daftar menu makanan di sini, eh ada pecel rupanya. Nah, kenapa aku nggak mesen itu aja ya? Ah, tapi kalau nggak gini, aku nggak pernah tahu donk gimana rasanya Lontong Gulai Paku ini. Masih banyak lelontongan yang ku tinggalkan di piring. Saatnya beraksi untuk menangkap moment ini, ku keluarkan kamera dari dalam tasku dan ternyata..........
Cuy, ternyata memori kameraku di dalam lepimu yak?
Lalu, Rini membalas,
Iya nih ternyata, sori nggak kefikiran masukin tadi, hiksssss.
Jelas saja memang bukan Rini yang salah, aku yang salah. Kenapa semalam nggak langsung ku persiapkan dengan matang kepergian pagi ini? Kan yang tidur sampai larut malam tuh eke. huhh, Elll.. Ell. Begini jugalah kejadiannya waktu ketinggalan cas kameranya ke Thailand. Padahal kamera itu niatnya dibeli ya buat dimanfaatkan selama di Thailand, eh malam kecerobohanku bukin kesel diri sendiri. *antar negara loh cuy, untung ini cuma di Riau, kan? Ada-ada aja toh El, El. Andorid juga nggak ku bawa. Untung aja punya HP Nokia yang ternyata hasil gambarnya boleh juga lah. Walaupun murah dan udah jadul, tapi alhamdulillah gambarnya berkualitas. *yak, bisa dilihat hasil jepretannya di sebelah kiri, bapak-bapak, ibu-ibu, hehe.
Kalau udah ngerasa nggak nyaman di perjalanan, aku biasanya akan berposisi kacau di dalam mobil sambil berupaya tidur. Kadang miring ke kanan, miring ke kiri, atau merebahkan setengah tubuh ke tempat duduk. *kayak cacing menggigil ya, hehe. Pola jalan yang udah berbelok-belok membuatku pusing dan merasa mual. Kalau nggak dipaksa tidur, pasti akhirnya muntah. Bu Tiko kok bisa tetep anteng dan duduk manis sejak awal ya? Kalau aku mah, udah acak-acakan banget. Nggak kayak orang lagi dah pokoknya. Hemm, namanya aja bu Tiko itu putri keraton, keturunan darah biru. Meski pun bu Tiko mengaku udah lama nggak pulang ke Yogya dan nggak besar di lingkungan keraton, tapi 'ruh' keraton itu melekat dengannya. Aku ingat, pernah suatu ketika pak Gus yang biasanya gampang banget nyepelein/ngatain orang, tapi beliau ngomong gini, "Saya terkesan sekali dengan Bu Tiko. Dia dari sebanyak dosen yang saya kenal, bu Tikolah yang nggak pernah saya dengar ngomongin kejelekan orang lain." *aku gigit jari.
"Duh! Sebenarnya Ibu agak puyeng nih."
"Loh kenapa Bu?"
"Ibu sedang kecanduan dengan kopi. Dan, sekarang sedang berusaha mengurangi. Jantung juga deg-degan terus. Mungkin kalau bisa dibahasakan, ibu akan bilang I miss you, Coffe. Begitulah ya kalau kita sedang kangen dengan sesuatu yang udah menjadi kebiasaan. Nggak kebayang deh gimana beratnya seseorang untuk ngilangin kecanduannya dengan narkoba narkoba. Awalnya memang untuk bergadang ngerjain sesuatu, tapi karena keterusan akhirnya nggak bergadang pun Ibu minum kopi. Dulu, waktu di Aussie Ibu sempat kecanduan Sprite. Sampai di Indonesia terbawa-bawa terus dan kata Dokter itu nggak bagus apalagi buat orang yang kerjaannya lebih banyak duduk kayak Ibu."
Oh, begitu ya rasanya kecanduan. Memang benar, berlebihan itu nggak baik. Tiba-tiba aku terfikir, Aku berlebihan nggak ya dengan nge-blogger? Jangan-jangan aku pun sedang dalam candu? hiii
Nggak terasa, pukul 09.15wib kami sudah tiba di UPTD Puskesmas Koto Baru, Singingi Hilir, tempat kami berburu informasi tentang ibu hamil. *emang penelitiannya tentang itu, coy. Nggak usah heran, ehhe. Masih 1 jam lagi menuju pusat kota Taluk Kuantan. Pengen banget sih ke sana, tapi lihat buk bosnya dulu, ada rencana ke sanakah atau malah akunya yang bakal ngajakin pulang duluan? Siapa tahu?
Bu Tiko memang mahir berkomunikasi. Beliau pandai menarik ulur pembicaraan dan melobi petugas di puskesmas ini supaya bisa menggali informasi sebanyak-banyaknya informasi. Alhamdulillah, sambutan mereka luar biasa. Nggak seserem yang dikhawatirkan bu Tiko, berdasarkan informasi temannya. Kami ngobrol panjang di ruangan KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), bersama bu Siti Aisyah. Tapi, hanya 15 menit saja ia bisa menemani kami di sini dan selebihnya kami berbincang dengan bu Nelva, ahli gizi dan beberapa bidan desa yang hari ini piket hingga pukul 11.00wib.
"Pak Sugi, terimakasih ya sudah banyak membantu saya di sini. Alhamdulillah, ibu-ibunya baik banget, saya saja sampai bingung mau nanyain apalagi," Ujar bu Tiko kepada pak Sugi yang sejak tadi duduk di bangku tunggu berdua dengan bu Nur, saudaranya.
"Iya, Bu. Sama-sama. Hanya inilah yang bisa saya bantu untuk Ibu," jawab pak Sugi yang ternyata adalah mahasiswa S2 sekaligus bimbingan tesisnya bu Tiko.
Bu Tiko ngajakin ngobrol santai sambil lunch. Pak Sugi mengajak ke Kedai Nasi Farid, tak jauh dari UPTD tadi. Makanan segera tersaji dan kami langsung menikmati. Demi menjaga kesehatan, banyak sekali yang bu Tiko hindari. Beliau hanya mengambil ikan Bawal panggang dan daun ubi rebus. Nah, sebenarnya daun ubi rebus juga nggak boleh, tapi karena sesekali mungkin aja, hehe. Aku nggak mau kalah, karena penasaran dengan rasa ikan Bawal Panggang itu aku merampok (sedikit) milik bu Nur, ehhe. Habisnya dipersilahkan sih, bagaimana mungkin aku bisa menolaknya? hehe. *padahal udah ada Ikan Salai gulai loh di piring eke, besar pula ukurannya loh.
Setelah makan siang, bang Eki berhambus ntah kemana, bu Tiko dan pak Sugi berpindah duduk untuk bimbingan tesisnya pak Sugi, sedangkan aku sibuk mengorek-ngorek tentang budaya di Singingi, hehe *ngikutin jejal mas Gol A Gong ceritanya nih, ehe aamiin.
"Bu, kok saya perhatikan bangunan di sini banyak yang mirip dengan Rumah Gadang, Minang ya? Ada berapa suku sih di sini, Bu?"
"Memang iya, karena banyak suku minang di sini. Ada Piliang, Domo, Melayu juga terbagi 2 tapi saya lupa," Jawab bu Nur. Dan, yang bikin aku kesal adalah ketika ku sadari semua pesan terkirim udah ku hapus, padahal aku menulis semuanya di sana. Soalnya, kontak di HPku pada hilang semua namanya. Makanya, aku berfikir untuk mengurangi isi pesan yang udah ribuan di HP ini. *aku emang males ngapusin pesan, padahal nggak penting-penting juga sih, eheh. Duh! Beneran sedih nih akunya. Pokoknya, banyak banget orang Minang di sini, tapi lebih Minang-an lagi orang-orang Kampar, karena mereka memang berdekatan banget dengan Bukit Tinggi. Hemmm, termasuk baju adat pengantinnya juga serupa Minang. Bahkan, garis keturunannya juga dari sebelah ibu (Matriakat). Sampai pantangan menikah sesama suku pun menyerupai Minang.
Aku berkesimpulan, bahwa Kampar dan Kuansing adalah 2 kabupaten yang positif mengalami akulturasi. Karena, memang baru 2 kabupaten ini yang banyak ku cari tahu. Kalau di ROHIL dan siak didominasi oleh Melayu, meskipun banyak juga masyarakat Jawa yang bertransmigari ke sana, Bengkalis dan Meranti juga Melayu pesisir buanget, bahasanya aja udah identik seperti Malaysia. Kalau di ROHUL, kabarnya banyak bataknya. Pelalawan, INHU, INHIL nih yang belum aku tahu sama sekali. Semoga someday, aku bisa ke sana. aamiin. Bu Nur sangat baik hati dan mau bercerita banyak hal kepadaku. Pukul 12.00wib, kami berpamitan pulang kepada mereka berdua. hiksss.
"Hemmm, harumnya aroma bensinnya..." kata bu Tiko. Aku nggak nyangka beliau sama anehnya denganku yang suka dengan aroma bensin.
"Iya Bu, emang harum. Elis juga suka, ehhe."
"Waktu masih muda dulu, ibu sampai dijuluki Gadis Bensin karena setiap mampir ke SPBU selalu heboh, hhee. Anak ibu juga sampai bilang; Ibu kok aneh banget sih? Bensin kok harum?. Dulu, pernah juga ibu dijuluki Gadis Tol.."
"Loh, kalau itu maksdunya apa, Bu?" potongku.
"Karena tahunya kalau udah masuk jalan Tol. Setelah ke luar Tol, udah nggak tahu jalan lagi, ehhe."
Tawa bu Tiko adalah tawa putri keraton. Bukan tawa biasa, sedikit terkekeh, tapi tetap anggun dan bersahaya. *bukankah aku demikian juga, pemirsa? hheheee...
"Elis pernah diajakin sama dosen lainnya pergi kayak gini, nggak?"
"Belum pernah sih Bu. Kalau diajak ke Hotel pernah. Kemarin diajak pak Suarman ke PLPG guru-guru di Hotel Olgaria. Asyiklah pokoknya Bu, cuma bantu nulis-nulis dan ngasih nilai aja."
"Bentar lagi ada tuh PLPG. Bilangin aja ke Pak Suarman kalau Elis ada waktu lagi supaya diajakin."
Pukul 13.32wib, kami mampi di Mesjid Baitul Rahman, masih di desa Koto baru. Ternyata lumayan juga ya Koto Baru ini. Aku sedang nggak solat, tapi ikutan turun untuk cuci muka, biar seger. Dan, saat itulah aku melihat bu Tiko berwudhu dengan kondisi kuku kaki yang masih ber-cat.
"Bu, kuku Ibu masih ada kutexnya itu ya? Hemmm... yang Elis tahu sih, itu nggak sah bu dibawa berwudhu, karena melapisi kuku."
"Iya ya? Tapi ini nggak bisa dihilangin," jawab bu Tiko sedikit ragu.
"Gimana ya itu, Bu? Ngilanginnya gimana tu Bu?" aku pun jadi ikutan bingung.
"Ntar lama-lama juga dia menipis, barulah hilang," jawabnya.
Aku nggak bisa berbuat apa-apa. Beliau adalah orang yang sangat aku hormati, sekaligus aku sayangi. Makanya, merasa wajib memberitahunya. Ya Allah, berikan bu Tiko petunjukmu. Jika Engkau memilihku sebagai perantaranya, maka berikan aku pentunjuk agar aku bisa menjadi perantara baginya. aamiin. Perjalanan pulang berlanjut dan aku mengupayakan diri untuk tertidur, setelah bercerita banyak hal lagi dengan bu Tiko. Karena, udah mulai merasa pusing ketika jalan berbelok-belok. Dan, dititik inilah aku baru merasakan tidur yang benar-benar lelap sampai bu Tiko berkata,
"Nah, udah sampek nih kita. Eh, si Elis beneran tertidur nih. Bergadang kali ya semalam," katanya lembut.
Aku menggeliat dan berkata, "Udah sampai di mana nih kita, Bu?"
"Di Beringin nih."
Bu Tiko mengeluarkan uang Rp 100.000 dan menyodorkannya kepadaku.
"Eh, nggak usah bu, Eli seneng kok udah diajakin jalan-jalan."
"Udah, nggak apa-apa. Buat jajan Elis. Udah biasa kok Lis untuk yang nemenin Ibu pergi-pergi."
Ya aku mana bisa menolak kan kalau ibunya maksa gini? *alhamdulillah, akhirnya aku bisa makan malam ini, pemirsa...hehe. Ya Allah, makasih. Mungkin ini baru salah-satu dari sekian banyak balasan dari sedekahku kemarin. Makasih ya Allah. ^_^ Aku ingat banget, kemarin siang bu Tiko menelvonku untuk menemaninya. Aku nggak nyadar kalau hari ini banyak rezeki yang mendatangiku.
"Lain kali kalau butuh ditemenin, ajak aja Elis lagi, bu," pintaku. *yeee, nagih ya? hehe.
"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa makan malam ini Rin!"
"Iya yah! Hasil malakin hari ini lumayan juga," kata Rini sok misterius.
"Waktu tadi pagi Rini bilang kalau pulang harus bawa uang, aku mikirnya kok mustahil kalilah ya. Emangnya aku harus ngerampok dulu? Eh, ternyata uang inilah jawabannya."
Tapi, nggak nunggu 1x24jam, uang itu udah ludes aja. Untuk bayar utang dengan Lia Rp 50.000, untuk beli minyak 2lt Rp 18.000, parkir di bandara Rp 4000, beli nasi Rp 14.000. Yang penting utang ke satu orang udah ku lunasi deh. Itu kan wajib disegerakan yak! Makasih bu Tiko, Elis bisa bayar utang hari ini.
Sejam kemudian setelah kepulanganku, aku, Rini dan Lia menuju bandara untuk menyambut kedatangan Yudi dan Melati. Dengan noraknya, kami mengangkat tinggi-tinggi kertas-kerta bertuliskan nama mereka di depan garis sambut. *aku sedang membayangkan dirikulah yang sedang disambut seperti ini. Bahagianyaaaaa. *woy, bangun woy, jangan mimpi. plok-plok, hehe.
"Cin, semoga kita segera terbang lagi yak?" kataku.
"Amiin. Kita akan terbang bersama-sama ke UI."
"Aamiin," sambut Rini.
"Atau ke Bandung."
"Aamiin," sambutku. ^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar