Tadi malam belum sempat merapikan draf MC, pagi inilah baru
ku kerjakan. Untung aja laptopnya Rincuy nggak dibawa ke atas. hemmm… aku
berfikir, bang Hendra memang luar biasa. Acara perpisahan dan pentas seni hari
ini seluruhnya dia yang mengonsep. Bisa teater, bisa baca puisi, bisa nyanyi,
bisa MC, bisa berpantun, bisa bersyair, bisa nulis puisi, semuanya deh dia
bisa. *pengen multitalent kayak bang Hendra jugakk.
Nggak sempat sarapan, aku langsung cusss ke tempat Nilam.
Takutnya dia ngambek ntar kalau nggak ku antarkan kameranya. Sebenarnya bisa
aja sih bikin alasan, berhubung hari ini pun aku ada acara dan butuh kamera.
Hemm, tapi biarlah aku mengalah pakai kamera NOKIAku aja. Insya allah hasilnya
bagus juga kok.
“Jam berapa ke Alam Mayangnya?”
“Jam 10 kayaknya, Mbak. Kapan mau diambil lagi kameranya?”
“Nanti sore langsung Mbak ambil.”
“Ai? Cepat kali. Takutnya kami belum pulang nanti sore tuh.”
“Ya udah. Malam aja.”
Sudah ramai. Tapi aku nggak ngelihat bang Hendra. Mungkin
dia sedang siap-siap. Aku pun belum Dhuha. Numpang pakai ruangan bu Kepsek
duyuu ah!
“Dek, itu pengawalnya Wawako mau nanya draf acaranya..”
“Oh iya Bu… Di mana mereka?”
Aku, bersama bang Hendra menemui 2 orang laki-laki
berseragam hitam yang berdiri di samping meja registrasi, di dekat pintu masuk.
“Pak Ayat cuma bisa sampai jam 10.00wib aja. Jadi, nggak
usah terlalu banyak penampilannya. Supaya waktu Bapak datang, langsung ngasih
kata sambutan aja.”
“Okelah Bang. Bisa tuh nanti disesuaikan dengan kondisi,”
kata bang Hendra meyakinkan.
Setelah kami berbalik, “Bang, Bang nggak ngilangin semua
acara yang ditunjuk abang itu tadi?”
“Nggak perlu semuanya dituruti Dek. Habislah acara kita
nanti kalau kita iyakan orang tu.”
“Ohhhh….” aku faham.
Acara dimulai pukul 09.00wib dan dibuka dengan kalimat
persembahan yang sudah tidak asing lagi ditelinga,
“Disiarkan secara langsung dari SMP IT Madani, 20 Mei 2015.
Hadirin yang berbahagi, selamat datang di acara Pentas Seni, Donatur Award dan
Perpisahan SMP IT Madani,” oleh bang Hendra.
Diawali dengan lantunan syair tentang asal muasal Riau ole
seorang anak laki-laki yang sejak semalam aku tahu dia paling banyak perannya
disetiap penampilan ini. Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Mars SMP IT
Madani, sementara aku sudah mengambil posisi di ujung tenda.
“Hadirin yang berbahagia, sambutlah pembawa acara kita…
Elysa Rizka Ermala,” kata bang Hendra. Ah, dia salah lagi menyebutkan nama
ujungku. Aku berjalan dengan penuh wibawa melewati bangku-bangku penonton dan
menaiki panggung berhiaskan bebungaan.
Dengan pantun ku buka bicara,
“Bila
hidup berpecah belah
Lupalah
beban hilanglah amanah
Memulai
majelis dengan bismillah
Jemari
tersimpuh menghatur sembah….”
***
“…ya udah, Adek ke sana.”
Telvon ditutup dan beberapa menit kemudian, ku lihat Teguh dan
Yudi melintas di luar pagar. Aku bergegas menghampiri mereka yang berdiri
celingukan di luar pagar. Untung saja beberapa penampilan hanya diprolog-I oleh
bang Hendra.
“Mana proposal Adek Mak?”
“Eh, ternyata baru Mak cek di tas nggak ada. Berarti ada di kosan
tuh. Ada kak Rini kok di kos, jemput aja langsung ya?”
“Yang ada sama Mak sekarang apa aja? Biar Adek bawak aja sekalian
nih.”
“Bentar ya Mak lihat dulu.”
Aku mengorek-ngorek tas pinkku yang hampir copot talinya itu dan
kembali dengan membawa pas foto Teguh. Lalu mereka berlalu dan aku melanjutkan
tugas.
“Mbak, nanti waktu pak Ayat dipanggil, Mbak jangan langsung turun
dulu. Tetap aja berdiri di atas, setelah pak Ayat naik panggung kasihkan micnya barulah Mbak turun. Jadi, kita terkesan
menyambutnya.”
“Ooooooooohh….gitu ya bang? Hemmm… baru tahu nih Elis. Makasih ya
Bang ilmunya.”
“Itulah, tadi waktu Hendra ngasih kata sambutan dan Elis turu
duluan, Abang mikir; Kok ngga disambut
dulu ya? Makanya Abang kasih tau sekarang.”
Luar biasa nih abang operatornya. Aku dapat ilmu baru. Ilmu yang
belum tentu ku peroleh kalau aku nggak di sini sekarang. Kini, giliran pak Ayat
Cahyadi, Wakil Wali Kota Pekanbaru yang ku jemput untuk memberikan kata
sambutan. Diam-diam hatiku merangkai kata; Enak
ya jadi orang besar, nasehatnya dinantikan, kehadirannya diharapkan. Waktunya
sangat berharga dan dihargai oleh orang lain dan juga dirinya sendiri. Aku juga
ingin menjadi orang besar.
Di sela-sela jeda, aku menyempatkan diri untuk mengetik,
menyelesaikan proposal bahariku yang 20% lagi belum rampung. Sesekali aku
teringat kepada Okta yang sejak tadi pagi nggak membalas smsku. Terserah dia
deh, mau ikut KPN atau nggak tahun ini, atau tahun depan aja dia ikut dan aku
jadi salah satu jurinya *ce ileeeee, aamiin. Membantu membuatkan proposal untuk
Okta pun aku nggak punya waktu. Tapi, inilah hikmah dari segala proses.
Tahun pertama, aku buta tentang KPN,
tahun kedua tinggal melanjutkan perjuangan dan sekarang, tahun ketiga, tinggal
menyempurnakan usaha dan doa. Alhamdulillah, meskipun tahu besok tahapan
seleksi sudah dimulai, aku tidak terlalu deg-degan. Bahkan, mengetik proposal
ini pun terasa begitu lancar.
***
Bang udah sampek
Dispora
Padahal, tadi katanya mau bareng sama aku, tapi malah udah ngacir
duluan. Untung aja Elis nggak nyasar bang. Hemm, tapi aku juga sih yang salah,
lelet amat jadi orang. hehe, segera ku lepaskan helm dan berjalan perlahan
mendekati pintu masuk Dispora.
Ada para alumni KPN yang sedang ngobrol hangat di ruang kerja,
bang Hendra ada di antara mereka. Baju kami hari ini mecing sekali; serba ungu
dan hitam *sihiiyyyy. Tapi, nggak sempat foto bareng waktu acara tadi. Sekarang
udah nggak mungkin lagi. Badan udah apek dan wajah udah kucel.
“Tambah gendut aja Elis yaa..” sapa kak Indah.
Hiksss, survey telah membuktikan pemirsa bahwa rata-rata orang
yang baru bertemu denganku pasti akan berkata aku gendutan. Kemarin juga gitu,
waktu gladi resik, bang Hendra bilang; Kok
Elis kayaknya makin gemuk ya? wkwkkw. Tapi, apa pun yang terjadi, itu nggak
mengurangi rasa percaya diri.
“Boleh lihat persyaratan Pemuda Pelopor?” tanyaku kepada alumni
sail Raja Ampat yang aku nggak tahu siapa namanya.
Setelah persyaratan ini ku baca dengan seksama, Ah, ini belum masaku! Insya allah, 2 tahun
lagi aku akan mencobanya. Ku lirik sekilas ke arah mereka yang sedang
menikmati obrolan renyah itu. Semakin banyak aja alumni KPN setiap tahunnya
yang ku kenal, mungkinkah tahun ini aku akan menjadi bagian dari mereka?
Setelah semua berkas diterima dan aku menandatangani absen, aku berpamitan
kepada mereka semua.
“Loh! Mana kunci motorku nih?” gerutuku samar-samar sambil
mengorek-ngorek kantong baju.
“Ini bukan, Dek?” tanya pak satpam sambil mengantungkan kunci
motorku di jari telunjuknya.
“Hehe, iyaa Pak. Ketemu di mana tadi Pak?”
“Tuh di jok motornya.”
Huahhh, ternyata bener aku yang ceroboh tadi. Ini gara-gara panik
plus buru-buru pastinya. Eh, tapi nggak juga kok! Nggak bruu-buru pun aku
selalu ceroboh, kata Rini hihii. Aku sangat berterimakasih kepada pak satpam
yang baik hati dan tidka sombong itu.
Eh, tapi yang namanya Elysa emang nggak sah kalau nggak ceroboh!
Kejadian serupa terulang lagi ketika aku sholat Ashar di mesjid di dekat
pesantren Nilam. Ketinggalannya nggak nanggung-nanggung; di teras, dekat keset
kaki. wkwkwkkw, untung aja sampai aku selesai sholat Ashar tuh kunci masih
tetap diam ditempat. Wah, orang-orang yang ke mesjid ini rupanya orang-orang
yang jujur ya Allah, berkahi mereka. aammiin.
Aku langsung pulang karena Nilam sepertinya belum pulang dari Alam
Mayang, setelah ku ketuk-ketuk tapi nggak ada jawaban. hemmm… saatnya istirahat
dan menyiapkan energy ekstra untuk seleksi KPN esok pagi..cayooooo Elysaaaaaa!
***
Ku intip jumlah uang yang ada di dalam amplop pemberian Kepsek SMP
Madani tadi. Ada Rp 150.000 ternyata. Ya Allah, Alhamdulillah. Aku bahkan nggak
nyangka dibayar, karena aku tahu kondisi sekolah itu yang sumber keuangannya
adalah dari donasi. Mana pantas aku berharap dibayar? Awalnya aku menduga isi
amplop ini hanya Rp 100.000 atau Rp 50.000 eh, ternyata keduanya.
Niat untuk membeli cas latop menggebu. TInggal tambah Rp 100.000
lagi, aku pasti bisa beli cas baru. Tapi, niat itu sudah ku urungkan ketika aku
menyadari bahwa aku lebih butuh pertolongan Allah yang lebih besar. Akhirnya,
aku menghubungi bang Alam untuk mengirimkan no.rek FLP dan aku menyedekahkan
semuanya kepada FLP.
Bang, doakan semoga
seleksi Elysa di KPN dan Duta Bahasa diberi kelancaran dan kemudahan oleh Allah
yaa...
Bang Alam menduga aku baru saja menang lomba. Tapi, aku hanya
membalas dengan senyuman tanpa menjelaskan yang sebenarnya. Aku sadar, selama
ini pun FLP banyak disokong oleh para donator. Setiap acara-acara kekeluargaan
selalu aja ada makan siang padahal acara itu tanpa iuran. Nah, hari ini giliran
aku yang wajib bersedekah. Toh, ini pun untuk kesejahteraan dan kebelangsungan
hidup FLPku tercinta.
Kalau mau jadi orang
kaya, ya kita harus bermental seperti orang kaya; suka memberi, nggak khawatir
kehabisan uang, dermawan, bahagia karena merasa segalanya cukup.
Dan, aku meyakininya!
Doakan saya segera kaya ya pemirsaaa..aamiin ^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar