Minggu, 17 Mei 2015

Riau untuk Rohingya, sebab Kita Bersaudara

Alhamdulillah berkat tidur awal, bangun pun berhasil awal. Permintaan terbesarku saat ini kepada Allah dalam Tahajudku adalah termiliknya kembali 2 charger tanpa membelinya. Kalau disuruh memilih menginvestasikan uang kepada Allah, atau membeli charger, tangaku akan lebih ringan ke pilihan pertama. Membeli charger memang penting, tapi itu hanya untuk diriku sendiri. Dan yang ku beli adalah barang yang akan menyusut juga nilainya. Tapi, berinvestasi kepada Allah tidak akan ada penyusutan nilai. Aku yakin itu! Maka, masih ku tahan uang-uang ini agar aku semakin berfikir keras bagaiman caranya melobi Allah-ku agar aku CUKUP.

Hasratku untuk ngeblogging benar-benar berapi-api. Tadi malam tertunda, pagi ini kudu padat kata. Ku lirik ke luar jendela, terik matahari mulai menyeruak dan menyerak di atas pagi. Ku lirik jam di HP, baru pukul 06.30wib tapi serasa sudah pukul 08.00wib. Dek Novi ngajakin ke CFD pukul 06.00wib tapi barusan dia baru ngabarin bahwa dia kesiangan bangun dan memintaku menjemputnya jam 07.00wib aja. Nilam terpaksa harus ku tingal lagi pagi ini.

Belum puas benar aku menulis dan sempat terlintas untuk membatalkan saja aksi pagi ini. Tapi, teringat bahwa yang kulakukan ini adalah untuk kebaikan diri sendiri sementara yang akan dilakukan bersama teman-teman BEM adalah untuk kebaikan banyak orang, maka dengan basmallah, aku beranjak. Nilam kembali tertidur dan ketika aku pergi aku hanya berpamitan dengan Rini.
"Kak, kita ke BEM dulu ya. Soalnya yang lainnya udah pada pergi dan takutnya kotak-kotak itu nggak dibawa mereka."
"Okeeh, bebeh."
Di BEM, hanya ada bro Dani yang sedang berkemas-kemas dan benar saja kotak-kota ini belum ada yang membawanya 1 pun. Aku berinisiatif menempel beberapa poster untuk sumbangan IBS dengan muslim Rohingya. Karena, untuk IBS aku yakin sudah banyak seklai yang peduli. Tapi, untuk muslim Rohingya yang kini terdampar di Aceh, belum tentu banyak yang tahu dan peduli. berita pun tak banyak yang menayangkannya. Beruntungnya kami yang berada di lingkungan akademis seperti ini dan berteman dengan orang-orang luar biasa. FB adalah aliran informasi tercepat bagiku. Di sana, berulang kali muncul berita tentang sadisnya masyarakat Myanmar terhadap umat muslimnya. Aku sampai geram mempertanyakan sosok pemimpin di sana. Bejat sekali! Untuk urusan saling menghargai saja mereka belum tuntas bagaimana mau menjadi negara maju? Primitif!

"Kesal kali Noviii Kak akhir-akhir ini cepat kali tidurnya. Tapi, bangun malah kesiangan pula. Tugas belum dikerjakan pula. Hiihh, geram kalii."
"Loh? Kok bisa gitu, Dek?"
"Padahal biasanya bisa juga bangun tepat waktu walaupu bergadang. Mungkin, karena nggak kuliah nii. Jadi, bawaannya tenang aja."
"Nah, kemari Kakak ada baca quotes yang bunyinya gini: Harus ada yang membuatmu TAKUT setiap harinya. Keren kan? Ternyata, manusia itu memang akan lebih produktif dan maksimal ketika berada dalam tekanan dan ketakutan, Dek. Nah, buktenya aja Adek kan?."
"Tapi, sebenarnya Novi ketakutan jug aloh Kak dengan tuga-tugas yang lain."
"Tetap aja beda, Dek. Ancamannya bedaaaa..."

Novi memangku 2 kotak di belakang dan aku melaju dengan kecepatan sedang. Matahai memang benar-benar terik, tapi alhamdulillah, semoga tubuh menjadi lebih sehat karena terpapar cahaya matahari pagi ini. Lihatlah aku, sempat-sempatnya memotret pemandangan di masa tunggu pergantian lampu merah. haha, aku tahu banyak yang melihatku. Tapi, apa untungnya jika aku mempedulikan mereka? Bukankah kebahagiaan itu adalah ketika kita bisa melakukan hal-hal kecil tanpa menghiraukan cemeehan orang lain? Bukankah bahagia itu kita yang rasa?

Sesampainya di CFD, aku dan Novi celingukan yari Obi, Iza, Yana dan Romi. Eh, ternyata si Dhani pun datang padahal katanya tadi mau ke CFD di Naga Sakti, Panam, aja. Ntah apa yang membuatnya gagal ke sana, aku pun tak menanyakannya. Aku disibukkan dengan memotret mawar-mawar cantik yang membuat mataku terkesima; Kok bisa si Mawar tumbuh subur dan cantik di tengah jalan seperti ini? Pasti karena dirawat ya! Akhirnya, kami berpencar. Aku, Novi dan Romi beriringan sementara yang lainnya membagi wilayah target.
"Bu, sumbangannya untuk IBS buu..."
Aku nggak menduga sama sekali Romi akan menjajakan kotak itu dengan cara seperti itu. Dia luar biasa! Aku jadi teringat dengan kegiatan serupa, ketika aku membagikan brosur kepada orang-orang di pasar, di pinggiran jalan, di parkiran. Dan, rasanya menyedihkan ketika kita ditolak. Apalagi ditambah dengan ekspresi wajah yang tidak bersahabat, 2x lipatlah sedihnya. Saat itu, aku berfikir bahwa aku tidak cock bekerja dengan resiko penolakan yang tinggi. Aku memang bercita-cita menjadi pembicara, tapi yang tidak berhadapan dengan penolakan secara langsung melainkan dengan penerimaan dan penghargaan. Misalnya, berbicara tentang teknik menulis novel, maka otomatis audiensku adalah orang-orang yang mau tahu tentang cara menulis novel. Nah, kondisi seperti ini berkemungkinan kecil untukku ditolak, karena aku berbicara karena memang mereka butuh ilmuku. Berbeda halnya dengan berbicara dengan mereka yang belum tentu butuh, Nah, disitulah yang aku berat.

"Kak!" Novi menyodorkan kotak sumbangan kepadaku.
"Hemm..Kakak nggak pandai dek," tolakku halus. Karena, aku memperhatikan bagaimana Romi ditolak banyak orang barusan. Meskipun, ada juga yang berbaik hati menyisihkan uangnya, tapi sifak peka-ku itu yang nggak bisa ku pungkiri bahwa aku nggak suka ditolak. Kadang, kalau ngelihat orang-orang yang sinis dengan relawan sedekah seperti kami "Hey? Kamu fikir kami ini pengemis ha?! Ini pun buat menolong orang, bukan untuk kami makan!". Begitulah kalau aku sudah kesal. Aku melihat ide Romi tadi tepat, ternyata melalui sosok perempuan, penyumbang jadi lebih banyak Wah, dek Romi dan dek Novi sudah berhasil menaklukkan rasa malunya. Masa aku ke sini tapi cuma ngekor doank sih? Harusnya aku mencoba juga. Tapi...
ini, dalam hatiku sering berkata;
"Mbak!" Romi menyerahkan kotak itu kepadaku.
"Ayoook kak Elceekkk."
"Ayo Mbak, Mbak pasti bisa!" kata Romi menyemangati.
"Duh, Mbak kok deg-degan ya?" jawabku ragu.
"Ayo Mbak, semangat. Paksa orang tu nyumbang kayak Mbak maksa aku ikut KTI. Ayooo Mbak, keluarkan jurus pemaksamu....." Teriak Romcek yang membuntutiku dari samping sambil jeprat-jepret.
Busyeett dah nih adek, anacamannya nggak nanggung-nanggung. Sampai menagih sifat pemaksakku pula, haha. Aku memaksa diri untuk menaklukkan malu dan hasilnya tidak separah yang ku takutkan ternyata. Alhamdulillah, lumayan juga yang nyumbang. Pertanyaanku tadi; Mau ku tulis apa di blog kalau aku nggak ikut andil di sini? udah capek-capek dan jauh-jauh tapi nggak berani minta sumbangan! Apa-apaan itu?, alhamdulillah sudah terjawab. Aku sudah lega akan menulis apa di blog. hihii.
"Besok-besok kalau mau mita sumbangan gini, kita harus sediakan banner dan poster tentang peristiwanya. Biar nggak repot kayak gini. Ini gara-gara buru-buru tadi sampai nggak kefikiran apa-apa selain bawa kotak," jelas Novi.

Kami menikmati sarapan dengan sate di emperan yang terletak di antara Taman Budaya dan Arya Duta. Ada aku, Yana dan Novi saja. Aku kan mesen sate ceker dan sayap, nah tiba-tiba teringat komentar  si kawan yangdulu; Ih, aku nggak suka ceker. Itu kan kaki ayam udah dipake si ayam untuk masuk comberan dan nginjak-nginjak eek. hueeekkk. hahha, aku masih ingat itu.
"Kakak rencananya puasa di sini atau langsung pulang kampung aja?" tanya Yana.
"Kayaknya 2 minggu sebelum lebaran aja Kakak pulang kampungnya, Dek."
"Yana malah pengen pas udah deket lebaran aja, Kak."
"Emang sih, kalau pulang kampung itu pasti kita jadi kurang produktif, Dek."
"Yana udah ada rencana sih Kak untuk program pengembangan pemuda di desan Yana yang usia putus sekolahnya tinggi...." mengalirlah rencana luar biasa untuk desanya dari mulut Yana. Aku terkesima. Inilah yang dinamakan PRESTASI sesungguhnya! Ketika ilmu yang kita punya bermanfaat dan meningkatkan kehidupan banyak orang.
"Yana juga berniat ngumpulin semua mahasiswa atau sarjana di kampung itu untuk ikutan mengabikan diri, Kak. Biar terasa manfaatnya kita kuliah ini, Kak. Percuma kan kita kuliah tapi kita nggak bisa mengubah apa pun dari desa kita. Tapi, agak heran juga sih dengan beberapa orang yang terkesan nggak berniat untuk ikutan, Kak."
"Dek... walau pun Adek dan mereka sama-sama kuliah, tapi mereka belum tentu sama seperti Adek. Beruntunglah kita yang terbuka wawasannya seperti ini. Lihatlah teman-teman di sekitar kita, banyak yang cuma sekedar kuliah aja, kan? Nah, itulah yang terjadi, Dek."
Aku takjub kepada Yana. Di sangat cekatan, menyukai bisnis dan peka terhadap lingkungan. Aku? Duh! Seketika merasa kerdil aja. Kamu luar baisa Dek! Piala-piala Kakak yang kamu sebut itu nggak seberapa kemilaiunya dengan baktimu yang luar biasa itu.

Sesampainya di kosan, aku langsung meminta Nilam memijat bahuku yang serasa mau copot ini. Tiba-tiba kayak mau demam aja, padahal udah sarapan dan nggak kekurangan tidur semalam. Atau jangan-jangan karena terik tadi? Aku langsung tidur dengan nyeyak. Lagian, mau ngeblog pun laptopnya dikuasai Rini dan Nilam. Huaaahhh, ternyata tidurku udah sampai 2 jam aja dan alhamdulillah ketika bangun udah seger banget dan bahuku seketika sembuh.
"Elceeekkkkkk..." pekik Okta dari luar. Padahal dia baru sampai dari pulang kampungnya, tapi langsung ngacir aja ke sini. Huaahh, aku pun rindu kepadanya. Kami ngobrol tentang KPN dan Duta Bahasa, tak lama Yudi pun ikutan nimbrung dan menyetujui rencana yang akan dieksekusi esok hari.
"Ya Allah, Kak. Beningnya anak orang niii," kata Okta sambil menunjukkan foto kak Vivien kepadaku.
"Orang kalau udah jadi public figur itu pasti sangat merawat dirinya Dek. Apalagi kak Vivien yang udah tinggi banget levelnya. Intinya, dia udah menemukan 'dirinya' banget dan itulah auranya."
"Dia pakai songket Inhil loh ini Kak, keren ya!" tambah Okta.
"Dek, doakan Kakak segera menjadi bintang tanpa membukan aurat ya..." pintaku, lembut.
"Aamiin ya Allah, Kak."

Tidak ada komentar: