Aku merasa seperti pertama kali datang ke sini. Pagi yang
seperti ini. Hening yang seperti ini. Aroma yang seperti ini.
“Rin, kita berdua gini rasanya kayak….”
“Kemarin waktu El belum datang, aku cuma berdua sama Reni.
Kak galih kan datangnya besoknya. Sama-sama sendiri kami.”
Lah, Rini udah motong omonganku aja nih. “Oh gituuu. Ngerasa
nggak Rin, kita sekarang ini kayak seolah-olah beda visi-misi dengan anak
kuliahan lainnya. Kita lebih cepat kembali ke sini karena ada sesuatu yang
mesti kita perjuangkan. Tapi jadinya kita malah kayak kembali ke saat awal
masuk kemarin.”
“Hiksss, iya bener-bener. Aku kalau di rumah pun nggak
bisa-bisa ngerjain skripsi El, makanya balik aja ke sini biar cepat kelar.”
“Daftarlah ujian cepat Rin. Nggak usah lagi bayar SPP. Nanggung
kali pun. Terserahlah ujiannya pas udah masuk bulan Agustrus atau gimana, yang
jelas daftarnya sejak sekarang.”
“Lagian aku juga nggak ada uang lagi El untuk bayar SPP.
Hemmm…setelah ini aku memang harus cepat-cepat pulang ke Medan El. Setiap jumpa
sama saudara, selalu aja diminta ke Medan aja setelah selesai. Da..daa… El,
sebentar lagi kita akan berpisah. Yah, nggak jumpa lagi deh sama teman-teman
Pekanbaru.”
“Rini jahat. Ayaaakkkk!”
“Huhuuhu, tapi aku pengen kali jalan-jalan keliling Riau
inii. Gimana ya?”
“Ya setelah ujian SKRIPSI nanti ka nada waktu tu beberapa
bulan menjelang wisuda, ya udah manfaatin aja buat jalan-jalan. Tapi, Rini
harus bantu aku supaya cepet kelar juga ya!”
Aku melanjutkan mengetik cerita semalam. Banyak sekali
cerita yang terhutang rupanya. Hiksss. Sesekali, aku mengelus si ganteng ketika
aku sedang blank dan idenya mandeg. Hemm..kalau di rumah, tentu nggak bisa
kayak gini. Pagi-pagi harus nolong mami dan kalau udah kecapean biasanya cuma
nonton film di laptop dan lama-lama ketiduran deh. Gituuu teruus. Makanya,
kalau mau maju ya memang harus hijrah.
***
Bismillah. Ya Allah,
El mau ketemu pak Danur pagi ini, mohon berilah El kemudahan dan kelancaran
dalam proses ini. Semoga dari pertemuan nanti akan membuahkan suatu percepatan
yang luar biasa bagi kemajuan proses ini ya Allah. Aamiin.
Berbekal doa dan duha, aku berangkat dari Panam menuju Gobah
dengan bismillah. Kata pak Danur kemarin, hari ini beliau full di Gobah. Semoga
lancar dan berkah.
“El, jangan lupa belikan lakban hitamnya ya. Udah parahkali
kaca mataku ni. Susah jadinya. Padahal kemarin cuma sebelah aja yang bautnya
hilang, sekarang malah sebelahnya iya juga.”
“Ya iyalah Rin, yang sebelahnya lagi jadi semakin mudah
longgar karena menahan yang sebelahnya lagi.”
Tadi sewaktu motor ini dipanaskan, sempat nggak merespon
sama sekali mesinnya. Mungkin karena dingin, nggak pernah dipake sih 2 minggu
ini. Tapi, syukurlah berkat bantuan abang kos akhirnya bisa nyala juga
mesinnya.
Aku memasuki kampus dari barrier gate yang tidak sedang
terkunci ini. Mataku disambut dengan bentangan kabut yang aku yakin karena
kebakaran hutan lagi. Pekanbaru kembali ditamui jerebu. Aku melaju tanpa ragu
dengan mata yang terus awas. Aku rindu pada paginya Pekanbaru, tapi bukan pagi
yang begini.
***
Duh, di mana ya
ruangannya pak Danur?
Ku parkirkan motorku tepat di depan KPRI UR, di samping
Bahana Mahasiswa. Lalu berjalan kaki ke belakang gedung utama Pasca Sarjana. Di
sebelah kiri dari tempatku berdiri, ada beberapa orang yang terlihat sedang menunggu
sesuatu yang sepertinya menegangkan. Aku ingin mendekat dan mencari tahu, tapi
aku melihat wajah pak Ayub di antara kerumunan orang-orang itu dan aku jadi
urung mendekat. Kalau ku sapa, apa yang akan ku ceritakan? Kalau tidak ku sapa,
bagaimana kalau dia ingat kepadaku?
Aku melangkah tak tentu arah, menjauhi gedung ini. Tapi, aku
malah bingun mau ke mana. Ku perhatikan gedung-gedung di sekitar sini; ada
gedung serba guna, ada KPRI dan sisanya adalah ruang kuliah.
“Buu? Buu?” aku mendekati seorang ibu yang baru menaiki
motornya. “Bu, ibu mahasiswi pasca sarjana di sini ya?”
“Iya Nak. Ada apa?”
“Jurusan apa Buk?”
“MP.”
Oh, aku ingat MP ini kan yang diajar oleh pak Danur. “Pak
Danurnya ada Buk?”
“Nggak lihat sih. Tapi, kayaknya dia sedang nguji deh, soalnya
ada yang ujian hari ini. Coba lihat di sebelah situ ya.”
Ibu ini menunjuk ke arah kerumunan orang tadi.
“Ohhh, makasih ya Buu.”
Kannn…bener, ternyata mereka tegang karena nunggu giliran
masuk ke ruang ujian itu. Hemm.. gimana ni yaa? Ah, pasti ada jalan.
“Eh, Bang? Abang asistennya Pak Danur kan?”
“Iya. Tapi, sekarang saya standby di sini aja Dek.”
“Bang, Pak Danurnya di mana ya sekarang?”
“Sedang nguji di situ tuh! Tunggu ajalah dulu, Dek.
Kira-kira setengah jam lagi lah kelarnya tuhh.”
Bener ternyata bapak sedang nguji. “Bang, boleh minta nomor
Abang nggak? Soalnya ntar biar saya lebih mudah mantau Bapak.”
Si abang lalu menyebutkan nomor HPnya.
“Abang siapa namanya ya?”
“Joni.”
“Oke, saya Elysa ya Bang. Makasih Bang.”
Aku melihat-lihat mading dan terkejut ketika membaca
pengumuman uang SPP pasca sarjana itu ternyata paling murah 6,5 juta. Hiiksss,
kalau nggak dapat beasiswa kayaknya berat banget nih hati untuk lanjut S2,
nggak mau ngerepotin orang tua lagi soalnya. Itu belum lagi daftar ulangnya yang
5jutaan. Hikss.. *Kalau udah tahu kayak gini, baru nyadar ternyata ilmu itu
mahal banget ya pemirsaaa.
Kemudian, aku menuju lobi; menunggu sambil mengetik. Cerita
yang kemarin belum tuntas ku tuliskan. Aku harus mengingat-ingat lagi apa yang
terjadi ketika kepulanganku kemarin. Tapi, mendadak aku jadi mual ketika
teringat bagaimana suasana dan rasa selama berasa di dalam mobil. Masih terasa
pusingnya kepalaku karena posisi tidurku yang terpaksa kacau demi membunuh
ketidaknyamanan. Mualku semakin mual sampai-sampai aku berniat ke toilet untuk
memuntahkannya. Nyaris.
Tunggu sebentar yaa.
Saya masih nguji, mungkin sampai jam 10.
Pak Danur membalas SMSku. Huft, syukurlah! Melegakan sekali
pemirsaa. Aku sempat khawatir sebelum mengSMS pak Danur tadi karena teringat
dengan kata-kata Atika kemarin, “Elis tu termasuk berani kali loh Lis SMS Bapak
itu. Kami aja yang bapak tu PAnya masih mikir berkali kali kalau mau SMS.
Bahkan, kami kalau mau ketemu Bapak tu biasanya nyelidiki dulu sama penjaga
perpus. Kalau katanya Bapak ada, barulah kami datang.” Hemm… am I too brave?
Kak Elcekkkk…..
Ya Cekkk?
Di mana kakak?
Di Pekanbaru Cek. Mau nitip SPP ya?
Aku
langsung menohok Novi dengan pertanyaan itu supaya Novi nggak capek basa-basi
karena segan kayak Rifai dan Yaumil.
Enggak.. nanya aja
cekkk. Hahaha. Novi udah bayar SPP kemarin. Kok cepet banget baliknya cek?
Upppsss!
Aku salah tebak pemirsaaa. Hehe. Malu deh sama Novi.
Oohh, soalnya ada beberapa yang nitip cek. Yah, biasalah cek,
jadi pejuang SKRIPSi nih. Apakabar cek?
Hihii..ciyee.
Alhamdulillah sehat, kakak apakabar?
Alhamdulillah sehat juga cek. Doain terkejar Oktober ya cek. Apa
kegiatan di kampung cek?
Iyaa.. pasti
didoain. Cemungudd. Beresin rumah kegiatan rutinnya. Banyak nonton. Kacau cek,
kacauuu.
Emang kayak gitu cek kisahnya kalau di rumah. Rutinitas selama
di kosan sulit di samain dengan di rumah. Makanya bener banget kalau mau sukses
ya harus hijrah.
Iya ya cek. Padahal
udah disusun sejak jauh-jauh hari pas liburan mau ngapain, tapi selalu meleset.
Lebih terstruktur waktu di kosan. Cek, baru ingat kalau sejak ramadhan kemarin
isi blog cek pasti terselip tentang kerisauan masalah jodoh. Hehe.
Iya cekkk..hiksss.. gimana menurut Cek?
Jadi ingat sama
pesannya Romcek buat kakak di FB; jangan dirisaukan, tunggu aja dan berdoa
supaya Allah ngasih yang terbaik. Eh, tapi cek Novi ni aja yang umurnya baru 20
tahun kadang terlintaspemikiran kayak cek juga loh. Kayak apa jodoh Novi besok?
Siapa orangnya? Apa mungkin emang kayak gini ya bawaan orang yang usianya 20
tahun ke atas? Huaahhh…
Aku melihat pak Gimin berjalan mendekat ke arahku…
“Pakk? Assalamualaikum… maaf lahir bathin ya Bapakkk.”
“Iya, sama-sama. Loh, kamu ngapain di sini?”
“Mau bimbingan dengan pak Danur Pak.”
“Dia sedang nguji. Kamu tunggu di sana aja, biar kelihatan
kalau dia udah kelar nanti. Ayok saya tunjukkan ruangannya.”
Aku mengikuti pak Gimin dari belakang. Hufft, untung aja pak
Ayub nggak ada di ruang tunggu ini. Setelah aku duduk di ruang tunggu, pak
Gimin kemudian masuk ke salah satu ruangan dan ngobrol dengan temannya.
“Bang? Itu Bapak sedang ngobrol sama orang ya?” tanyaku
kepada bang Joni yang kebetulan lewat di depanku.
“Emmm… iya tu Dek. Tunggu aja sebentar lagi ya. Nanti
setelah Zuhur, Bapak tu baru nguji lagi.”
“Tapi itu kok rame banget orang di dalam Bang?”
“Orang tu kan nunggu panggilan. Nanti kalau namanya udah
dipanggil, baru masuk ke ruangan ini,” bang Joni melihat ruangan yang tertutup
yang berlawanan letaknya dengan ruang
tunggu di sebelah kananku.
“Bang, ada nggak yang S2 ni guru-guru?”
“Ada, malah mayoritasnya. Kan mereka nanti bisa naik pangkat
dan golongan kalau udah S2.”
“Tapi kalau udah S2 sebelum jadi guru kan sebenarnya bisa
jadi dosen kan Bang?”
“Iya bener. Tapi, kalau mau ngajar S2, harus S3 dulu.”
“Abang kenapa stand by di sini sekarang?”
“Ya, Bapak minta saya di sini aja sekarang Dek.”
“Oh gituuu.”
Aku mengeluarkan laptop dan mulai mengetik lagi.
“Bang, Bu Tiko udah datang belum ya?” tanya seorang cowok
kepada bang Joni.
“Belum lagi Bang.”
“Oh syukurlah. Saya fikir saya terlambat, soalnya saya ada
janji temu sama Ibu itu.”
Hah? Bu Tiko mau ke sini juga? Wah, bisa ketemu donk ntar
sama ibuk..
“Bang, udah selesai ngobrolnya ya Bapak tuu?” tanyaku ketika
melihat pak Danur berdiri dari tempat duduknya.
“Haa, udah tuh Dek. Masuklah ke dalam.”
Aku segera melipat laptop dan menenteng tasku. Tapi,, o’oo,
aku melihat pak Danur sekarang ngobrol dengan bu Lena. Hummm… gimana ini?
“Masuk aja Dek, duduk dekat Bapak tu. Dengarkan ajalah
cerito Bapak tuu.”
“Yakin nih Bang?”
“Iya, masuk ajalah. Nggak apa-apaa..”
Aku hanya melihat kursi yang terdekat dengan pak Danur itu
posisinya di samping bu Lena. Nggak mungkin kan aku tiba-tiba datang dan
langsung duduk di sebelahnya? Nggak sopan kan? *eh, tumben nih aku peka banget
dengan tema kesopanan. Ehhe. Akhirnya, aku duduk di belakang pak Danur, 3 meter
darinya.
Orang-orang di ruangan ini sibuk mempersiapkan diri. Ada
yang membaca kembali makalah tebalnya, ada yang berdiskusi dengan
teman-temannya, ada juga yang masih diberi wejangan oleh dosen pembimbingnya. 3
menit berada di ruangan ini sudah membuatku bisa menyatu; merasakan apa yang
meraka rasa.
Lama amat sih bu Lena ngobrolnya? Gimana nih kalau sampai
jam 12 belum juga selesai ngobrolnya dan aku nggak jadi bimbingan? Hikss..
Pak Suarman menelvon..
“Hallo Pak?”
“Elysa di mana?”
“Sedang di Gobah Pak, mau ketemu Pak Danur nih Pak.”
“Nanti ketemu saya ya.”
“Di ruangan Bapak kan Pak?”
“Iyaa.”
Telvon ditutup. Ada apa ya kira-kira? Biasanya sih kalau
bapak minta aku menemuinya, pertanda ada hal baik. Yah, semoga aja memang
demikian nantinya. Ammiin ya Allah.
“Bang? Gimana nihh?” aku ke luar lagi dari ruangan ini untuk
menanyakan pendapat bang Joni.
“Belum selesai juga Bapak tu?”
“Belum Bang. Malah mereka sekarang ngobrolnya jadi 4 orang.
Nggak mungkin kan Elysa tiba-tiba duduk di dekat mereka? Maksa banget ya
kesannya.”
“Ya udah, ditunggu aja dulu Dek. Mungkin bentar lagi tu.”
Aku tersenyum kecut. “Iya deh Bang. Makasih ya Bang.” Aku
masuk lagi ke dalam ruangan. Sesekali memperhatikan pak Danur sambil terus
mengetik. Aku nggak boleh diam aja dengan waktu yang terus berlanjut ini.
***
“Bapaknya ada Bang?” tanyaku kepada asistennya pak Suarman.
“Ada,” jawabnya, masih selalu dengan ekspresi malas dan
wajah melas itu.
Aku segera masuk ke ruangan pak Sua.
“Pak?” sapaku sambil tersenyum, kemudian duduk di
hadapannya.
“Gini Sa, tadi kan Pak Riadi minta saya ngajar di ROHIL,
mata kuliah Praktek Koperasi minggu ini. Nah, saya bilang saya nggak bisa
ternyata diubah jadi minggu depan. Rencana saya, Elysa yang saya minta masuk
kalau saya nggak bisa.”
“Tapi, setelah diganti minggu depan, ternyata Bapak bisa?”
“Insya Allah. Udah ketemu Pak Danur tadi Sa? Apa katanya?”
“Udah Pak. Sejak awal Elysa buka pembicaraan kan udah Elysa
jelaskan kalau judulnya tu emang akan diubah karena lucu gitu dan minta
pendapat Bapak itu gimana sebaiknya. Ternyata Bapak itu nggak sama dengan
Bapak, Pak. Elysa cuma diminta nyari kasus koperasi dulu, terserah koperasi
yang mana aja untuk diteliti, baru nanti datang lagi ke sana. Kata Bapak tu
Koperasi di Pendidikan Ekonomi ni udah pernah ada dulu, tapi nggak jalan lagi
sekarang. Tapi, kalau itu yang mau diteliti susah kali karena Elysa harus nyari
pengurus-pengurus yang dulu itu kan. Sekarang, Elysa jadi tambah bingung Pak.”
“Riadi ni ntah gimana, masa judul yang kayak gitu justru
yang diACC.”
“Itulah Pak. Kalau seandainya yang tentang kepuasan
mahasiswa yang diACC kemarin, nggak mungkin juga Pak Danur yang jadi pembimbing
2 Elysa kan Pak. Mungkin orang lain.”
“Cobalah Elysa temui Pak Riadi lagi, bilang bahwa Elysa udah
ketemu 2 pembimbing dan mereka bilang ini nggak layak diteliti.”
“Pak Riadi ada di atas sekarang Pak?”
“Ada. Cobalah temui dulu..”
“Pak, kalau Elysa neliti KOPMA aja gimana Pak?”
“Kalau mereka punya pencatatan yang lengkap, bisa juga sih.
Coba Elysa tanya dulu apa permasalahan mereka sekarang di KOPMA.”
Aku lalu memohon diri kepada pak Suarman dan bergerak menuju
secretariat KOPMA di Stadion Mini. Daripada aku harus berurusan lagi dengan
ribetnya pak Riadi, lebih baik aku cross check ke KOPMA dulu siapa tahu ada
‘peluang’ di sana.
***
Aku sampai di RM Pondok Hijau tepat ketika azan
berkumandang…
Ya Allah, maaf ya Allah, hamba makan dulu yaa. Badan rasanya
nggak karuan gini. Setelah ini, hamba akan langsung sholat. Maaf ya Allah..
“Lauk apa Dek?”
“Ayam kecap ya Bu. Makan di sini.”
Tidak banyak rumah makan yang buka lapak dimusim liburan
begini. Aku aja bersyukur banget karena Kalasan dan Pondok Hijau ini buka.
Soalnya tadi sempat ngidam ke kantin Teknik tapi ternyata nggak buka. Ya
iyalah, untung apa mereka kalau buka di kampus yang sesepi ini?
Aku sangat mensyukuri kenyataan bahwa kehidupan kampus ini
jauh berbeda dengan sekolahan. Di sini, kesibukan kampus tetap berlangsung
seperti biasa. Hanya mahasiswa dan ibuk kantin saja yang libur, selebihnya
tetap beraktivitas. Bahkan, selama mencukupi quota, ujian SKRIPSI pun tetap
dilangsungkan. I love it! Too much! Pak satpam pun tetap standby berjaga-jaga
di barrier gate dan lingkungan kampus.
Setelah puas melahap makan siang yang tanpa sesiapa ini, aku
ke mushola Arrafah untuk sholat Zuhur. Terakhir kali aku ke sini adalah ketika
sholat Tarawih di malam ke 26 ramadhan, sebelum esoknya aku pulang kampung.
Tujuan selanjutnya adalah membayar SPP ke Bank BTN. Dugaanku
benar, BTN dipenuhi antrian panjang. Nomor antrianku adalah 358 sedangkan
sekarang baru nomor 247. Well, ini sadis banget pemirsaa! Aku harus menunggu
100 nomor berlalu terlebih dahulu. Setelah mengisi slip pembayaranku, Rifai dan
Yaumil aku segera ke luar dari ruangan.
Mending aku glosoran
(baca: duduk di emperan) di teras daripada berdiri sesak di dalam, sedangkan
nomorku masih nauzdubillah lamanya.
Aku teringat ada 2 rechees nabati di dalam tas. Satu per
satu ku lahap dengan nikmat dan terakhir, aku meneguk susu Bear Brand. Aku
masih heran, kenapa Rini sangat mengidolakan susu hambar ini? Kemarin, waktu ku
ceritakan bahwa aku belum juga mestruasi, dia langsung bilang, “Minum Bear
Brand aja El, biar cepat normal lagi siklusnya.” Aku sempat heran dan spontan
nanya gini kemarin, “Emang hebatnya si Bear Brand itu apa sih Rin?” Rini jawab,
“Aku ngerasa cocok aja sama badanku El. Kalau aku ngerasa nggak enak badan,
biasanya aku langsung minum susu itu sebelum tidur dan badanku emang cepet
enakan.”
Sampai sekarang, aku masih bertanya di dalam hati,
“Ngaruhnya apa nih susu yang ternyata tinggi lemak jenuhnya dengan lancarnya
haidku?” haha, Riniii, Riniii. Tapi, nggak ada salahnya ku turuti nasehatnya,
siapa tahu emang beneran manjur.
1 kaleng Bear Brand
setelah sahur. Nikmati kemurniannya
Aku membaca baliho di pinggir jalan tentang si Bear Brandnya
Rini ini. Huweekkk, sekali minum aja rasanya aku udah kapok, apalagi tiap sahur
kemarin meneguk gituan? Hiyuuhhh… hehe.
Setelah membuang bungkus makananku, sekarang saatnya
mengetik lagi. Panjang juga pertimbangannya sebelum memutuskan untuk
mengeluarkan laptop tadi. Mengingat dan menimbang di sini nggak hanya ada aku
sendiri. Ada beberapa orang yang duduk di atas motor yang terparkir tepat di
depan BTN ini, ada juga beberapa yang berdiri dan duduk di dekatku. Tapi, dari
wajah mereka, kayaknya mereka orang baik-baik kok. Semoga aja. hehe.
***
Lama mengetik membuat mataku mengantuk jadinya.
“Nomor 298!” teriak satpam dari dalam ruangan.
Huhh! Bahkan angka 300 pun belum sampai. Mungkin, ada baiknya
kalau aku masuk ke dalam dan ketika ada yang berdiri, langsung aja ku comot
bangkunya.
“Dek, bayar SPP juga?” tanyaku kepada cowok yang duduk di
sebelah kiriku.
“Iya Kakak. Kakak jurusan apa?”
“Kakak FKIP. Berapa SPP Adek?”
“275 Kak.”
275? Aku mikir dulu. Rp 270.000 maksudnya? Kok murah amat?
“275 Dek?” tanyaku akhirnya.
“Iya Kak. 2 juta 750ribu.”
“Ohh, UKT ya Dek?”
“Nggak Kak.”
“Oh, jalur Mandiri ya?”
“Iya Kak.”
Lalu aku menyimak obrolan cewek di sebelahku yang kayaknya
sedang ngobrol dengan suaminya.
“Iya Bang, tahu ngantri lama kali kayak gini, aku bisa ke
pasar dulu tadi kan. Sejak jam setengah 12 loh Bang. Parah kali nih
antriannya.”
Hemm… nanti kalau aku udah jadi istri bakal kayak gitu juga
ya? Belanja, masak, mikir suami udah makan atau belum. Kalau belum makan, mau
dimasakin apa? Belum lagi yang ‘lainnya’. Hemm… rasanya belum mau dan sanggup
menyandang gelar itu. Ini lebih berat daripada menyandang gelar MAWAPRES
pemirsaaaaaaaa..hikss.
“Eh, banyak kali orang tu nebengnya? Boleh ya Kak kayak gitu?”
tanya adek di sebelahku.
Aku menoleh ke arah teller. Ada sekitar 6 orang yang
sama-sama maju mengiringi si pemilik nomor antrian yang baru saja dipanggil.
“Iya ya Dek, ramee amat,” aku geleng-geleng kepala.
“Aci gitu ya Kak?”
“Ntalah Dek. Mencolok kali mereka.”
“Kak, aku ada ide. Nanti waktu nomor antriannya disebutkan
dan nggak ada yang maju, kita langsung maju aja Kak.”
“Boleh gitu Dek? Nanti kalau nomor antrian kita diminta
gimana?” *tumben nih, naluri licikku sedang nonaktif pemirsaa. Padahal kan bisa
aja ngaku kalau nomornya ilang, atau udah koyak, atau lupa, atau apalah, kan?
Hahah.
“Nggak ditanya tuh Kak. Mana pula ditanya.”
Nomor antrian 304,
dipersilahkan menuju teller 2
Nomor antrian 305,
dipersilahkan menuju teller 2
Nomor antrian 306, dipersilahkan
menuju teller 2
“Ayoklah Kak! Nggak ada orangnya kok! Mana da curang kita.
Duh, kok jadi ragu gini aku.”
“Yakin Dek?”
Nomor antrian 307,
dipersilahkan menuju teller 2
“Ah, ayoklah Kak!”
Dia langsung berdiri dan aku mengikutinya dari belakang
dengan ragu.
“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” tanya tellernya,
ramah.
Hufft! Untungnya bener-bener nggak diminta nomor antrian
kami.
“Kak, duluan yaa,” kata adek itu.
“Iya Dek. Makasih yaa,” bisikku.
Alhamdulillah ya
Allah, Engkau telah menunjukkan kepadaku caranya menghemat waktu. 50 nomor
tertebas sudah. Terimakasih atas posisi dan kondisi ini. Syukurku dalam
hati.
***
“Ada lakbannya El?”
“Ada tuh di tas yang bagian depannya.”
Rini mengganti lakban putih di kaca matanya itu dengan
lakban hitam yang baru ku belikan.
“Nah, kalau kayak gini baru nyamannnn,” kata Rini.
Yap! Aku pun setuju. Lebih nyatu dengan warna tangkai kaca
matanya, jadinya nggak mencuri perhatian orang dan lebih rekat dibanding double
tip tadi.. Hehe.
Rini kembali melanjutkan penulisan SKRIPSInya. Kadang aku
mikir, enak ya Rini dkk nii. Bisa ngerjain skripsi dengan studi literature.
Nggak perlu ngurus surat riset, dan ngolah data setelah riset. Huhh. Asli dah,
kayak aku biasanya nulis KTI. Paling-paling parah ya uring-uringanlah di kamar
kalau stress. Yang nggak kalah enaknya adalah karena dosen pembimbingnya cuma 1
orang; nggak perlu susah payah menyatukan 2 ‘kepala’ kayak kami.
Kalau udah banyak ngalami kesulitan, ujung-ujungnya kan yang
ada hanya berfikir, “Gimana caranya milih
penelitian yang termudah” bukan lagi “Gimana caranya melakukan penelitian
terbaik” cara menentukan judulnya pun jadinya
“Apa judul yang cocok dengan selera pembimbing” bukan lagi “Apa solusi yang
bisa menyelesaikan masalah yang akan diteliti”. Dari segi tujuan pun
akhirnya berubah dari “Bagaimana agar
bisa memberikan yang terbaik” menjadi
“Bagaimana caranya agar cepat selesai” kalau yang ini sih gue bangeett cuy,
hehe. Ibarat kata orang ASAL JADI, ASAL
SIAP, ASAL BISA WISUDA. Toh, akhirnya SKRIPSI kita pun akan teronggok di
perpus. *Ironi.
Jujur, sesulit apapun proses di depan sana, aku tidak akan
tergiur untuk curang dalam mengerjakannya. Apa gunanya aku kuliah dan dididik
selama 15 tahun kalau dipenghujungnya aku jadi pecundang?
“Kenapa muka El kusut gitu? Ketemu kan tadi sama Bapaknya?”
“Ketemu sih dan sekarang aku dapat PR baru.”
“Ganti judul lagi?”
“Itu udah pasti Rin. Bapak tu minta aku cari kasus dulu
untuk diteliti. Dan, aku BLANK! Itulah tuu.”
“Hemmm… bisa tuu.”
“Semoga.”
***
“Rin, kalau mau ditemenin beli nasi goreng sekarang aja,”
ajakku setelah sholat Maghrib dan mengaji.
“Yuklah!”
Ketika aku sedang memutar motor dan mulai menyalakan mesin,
abang tiba-tiba bersuara,
“El! Si *** tu udah ngajar ya sekarang?” katanya yang lebih
tepat sebagai bunyi pernyataan daripada pertanyaan. Nada Abang emang agak
tinggi kalau bicara.
“Iyaa Bangg.”
“Tadi jumpa dia di pasar pagi.”
“Oh iya ya Bang? Hhemm..udah lama juga nggak tahu kabarnya
Bang?”
“Dia mau kos di sini Bang?” tanya Rini.
Duh Rin! Ya nggak
mungkinlah itu terjadi! Kok itu sih yang ditanya?, gerutuku dalam hati.
“Nggak tahu kos di mana. Tapi, ngajarnya di Garuda Sakti.”
Tak banyak lagi berbasa-basi, aku segera tancap gas.
“Rin, aku tadi ngira Abang tu bilang kalau si anu tu sedang
nginap di kosan kita. Deg-degan kali aku Rin.”
“Iya. Aku juga ngiranya gitu tadinya.”
Aku mengitari Binar Krida, Manyar Sakti dan Balam Sakti,
lalu masuk ke Bina Krida lagi dan akhirnya nemuin di Manyar Sakti. Huhhh! Yang
jual nasi goreng emang cuma ini satu-satunya. Langganan kami pun nggak jualan.
Apalagi kalau bukan karena sekarang sedang sepi?
“Nggak apa-apa kan Rin di sini aja? Yang penting nasi
goreng.”
“Iya, nggak apa-apa El.”
Sambil nunggu si nasi goreng, aku ngobrol dengan Rini.
“Rin, lihat cewek yang barusan lewat tadi? Dia teman PPLku
yang sering bareng kalau ke sekolah. Nggak selalu sih, kalau dia nggak ada
teman bareng, dia pasti minta aku jemput. Kemarin waktu aku sibuk-sibuk ngurus
laporan PPL kan kalang kabut tuh, di situ hampir deadline, di situ baru ku
kerjakan, ingat kan Rin? Nah, yang aku kecewakan itu dia nggak pernah ingat
sama aku selama aku nggak ada. Rini tahu kan aku males banget datang ke sekolah
kalau nggak ada kerjaan? Dan, yang jadi pertanyaan itu apa dia nggak terasa aku
nggak ada di sana? Intinya gini Rin, kita nggak akan pernah tahu seberapa
egoiskah teman kita sebelum kita punya deadline yang sama dengannya.”
Rini manggut-manggut aja mendengar ceritaku. Ngakunya tadi
sih lapar, tapi matanya jam segini aja udah sayu gitu. *ternak, ohhh ternaakk. Hehe.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar