Selasa, 28 Juli 2015

Asal Jadi, Asal Siap, Asal Bisa Wisuda

Aku merasa seperti pertama kali datang ke sini. Pagi yang seperti ini. Hening yang seperti ini. Aroma yang seperti ini.
“Rin, kita berdua gini rasanya kayak….”
“Kemarin waktu El belum datang, aku cuma berdua sama Reni. Kak galih kan datangnya besoknya. Sama-sama sendiri kami.”
Lah, Rini udah motong omonganku aja nih. “Oh gituuu. Ngerasa nggak Rin, kita sekarang ini kayak seolah-olah beda visi-misi dengan anak kuliahan lainnya. Kita lebih cepat kembali ke sini karena ada sesuatu yang mesti kita perjuangkan. Tapi jadinya kita malah kayak kembali ke saat awal masuk kemarin.”
“Hiksss, iya bener-bener. Aku kalau di rumah pun nggak bisa-bisa ngerjain skripsi El, makanya balik aja ke sini biar cepat kelar.”
“Daftarlah ujian cepat Rin. Nggak usah lagi bayar SPP. Nanggung kali pun. Terserahlah ujiannya pas udah masuk bulan Agustrus atau gimana, yang jelas daftarnya sejak sekarang.”
“Lagian aku juga nggak ada uang lagi El untuk bayar SPP. Hemmm…setelah ini aku memang harus cepat-cepat pulang ke Medan El. Setiap jumpa sama saudara, selalu aja diminta ke Medan aja setelah selesai. Da..daa… El, sebentar lagi kita akan berpisah. Yah, nggak jumpa lagi deh sama teman-teman Pekanbaru.”
“Rini jahat. Ayaaakkkk!”
“Huhuuhu, tapi aku pengen kali jalan-jalan keliling Riau inii. Gimana ya?”
“Ya setelah ujian SKRIPSI nanti ka nada waktu tu beberapa bulan menjelang wisuda, ya udah manfaatin aja buat jalan-jalan. Tapi, Rini harus bantu aku supaya cepet kelar juga ya!”
Aku melanjutkan mengetik cerita semalam. Banyak sekali cerita yang terhutang rupanya. Hiksss. Sesekali, aku mengelus si ganteng ketika aku sedang blank dan idenya mandeg. Hemm..kalau di rumah, tentu nggak bisa kayak gini. Pagi-pagi harus nolong mami dan kalau udah kecapean biasanya cuma nonton film di laptop dan lama-lama ketiduran deh. Gituuu teruus. Makanya, kalau mau maju ya memang harus hijrah.

***
Bismillah. Ya Allah, El mau ketemu pak Danur pagi ini, mohon berilah El kemudahan dan kelancaran dalam proses ini. Semoga dari pertemuan nanti akan membuahkan suatu percepatan yang luar biasa bagi kemajuan proses ini ya Allah. Aamiin.
Berbekal doa dan duha, aku berangkat dari Panam menuju Gobah dengan bismillah. Kata pak Danur kemarin, hari ini beliau full di Gobah. Semoga lancar dan berkah.
“El, jangan lupa belikan lakban hitamnya ya. Udah parahkali kaca mataku ni. Susah jadinya. Padahal kemarin cuma sebelah aja yang bautnya hilang, sekarang malah sebelahnya iya juga.”
“Ya iyalah Rin, yang sebelahnya lagi jadi semakin mudah longgar karena menahan yang sebelahnya lagi.”
Tadi sewaktu motor ini dipanaskan, sempat nggak merespon sama sekali mesinnya. Mungkin karena dingin, nggak pernah dipake sih 2 minggu ini. Tapi, syukurlah berkat bantuan abang kos akhirnya bisa nyala juga mesinnya.
Aku memasuki kampus dari barrier gate yang tidak sedang terkunci ini. Mataku disambut dengan bentangan kabut yang aku yakin karena kebakaran hutan lagi. Pekanbaru kembali ditamui jerebu. Aku melaju tanpa ragu dengan mata yang terus awas. Aku rindu pada paginya Pekanbaru, tapi bukan pagi yang begini.

***
Duh, di mana ya ruangannya pak Danur?
Ku parkirkan motorku tepat di depan KPRI UR, di samping Bahana Mahasiswa. Lalu berjalan kaki ke belakang gedung utama Pasca Sarjana. Di sebelah kiri dari tempatku berdiri, ada beberapa orang yang terlihat sedang menunggu sesuatu yang sepertinya menegangkan. Aku ingin mendekat dan mencari tahu, tapi aku melihat wajah pak Ayub di antara kerumunan orang-orang itu dan aku jadi urung mendekat. Kalau ku sapa, apa yang akan ku ceritakan? Kalau tidak ku sapa, bagaimana kalau dia ingat kepadaku?
Aku melangkah tak tentu arah, menjauhi gedung ini. Tapi, aku malah bingun mau ke mana. Ku perhatikan gedung-gedung di sekitar sini; ada gedung serba guna, ada KPRI dan sisanya adalah ruang kuliah.
“Buu? Buu?” aku mendekati seorang ibu yang baru menaiki motornya. “Bu, ibu mahasiswi pasca sarjana di sini ya?”
“Iya Nak. Ada apa?”
“Jurusan apa Buk?”
“MP.”
Oh, aku ingat MP ini kan yang diajar oleh pak Danur. “Pak Danurnya ada Buk?”
“Nggak lihat sih. Tapi, kayaknya dia sedang nguji deh, soalnya ada yang ujian hari ini. Coba lihat di sebelah situ ya.”
Ibu ini menunjuk ke arah kerumunan orang tadi.
“Ohhh, makasih ya Buu.”
Kannn…bener, ternyata mereka tegang karena nunggu giliran masuk ke ruang ujian itu. Hemm.. gimana ni yaa? Ah, pasti ada jalan.
“Eh, Bang? Abang asistennya Pak Danur kan?”
“Iya. Tapi, sekarang saya standby di sini aja Dek.”
“Bang, Pak Danurnya di mana ya sekarang?”
“Sedang nguji di situ tuh! Tunggu ajalah dulu, Dek. Kira-kira setengah jam lagi lah kelarnya tuhh.”
Bener ternyata bapak sedang nguji. “Bang, boleh minta nomor Abang nggak? Soalnya ntar biar saya lebih mudah mantau Bapak.”
Si abang lalu menyebutkan nomor HPnya.
“Abang siapa namanya ya?”
“Joni.”
“Oke, saya Elysa ya Bang. Makasih Bang.”

Aku melihat-lihat mading dan terkejut ketika membaca pengumuman uang SPP pasca sarjana itu ternyata paling murah 6,5 juta. Hiiksss, kalau nggak dapat beasiswa kayaknya berat banget nih hati untuk lanjut S2, nggak mau ngerepotin orang tua lagi soalnya. Itu belum lagi daftar ulangnya yang 5jutaan. Hikss.. *Kalau udah tahu kayak gini, baru nyadar ternyata ilmu itu mahal banget ya pemirsaaa.
Kemudian, aku menuju lobi; menunggu sambil mengetik. Cerita yang kemarin belum tuntas ku tuliskan. Aku harus mengingat-ingat lagi apa yang terjadi ketika kepulanganku kemarin. Tapi, mendadak aku jadi mual ketika teringat bagaimana suasana dan rasa selama berasa di dalam mobil. Masih terasa pusingnya kepalaku karena posisi tidurku yang terpaksa kacau demi membunuh ketidaknyamanan. Mualku semakin mual sampai-sampai aku berniat ke toilet untuk memuntahkannya. Nyaris.
Tunggu sebentar yaa. Saya masih nguji, mungkin sampai jam 10.
Pak Danur membalas SMSku. Huft, syukurlah! Melegakan sekali pemirsaa. Aku sempat khawatir sebelum mengSMS pak Danur tadi karena teringat dengan kata-kata Atika kemarin, “Elis tu termasuk berani kali loh Lis SMS Bapak itu. Kami aja yang bapak tu PAnya masih mikir berkali kali kalau mau SMS. Bahkan, kami kalau mau ketemu Bapak tu biasanya nyelidiki dulu sama penjaga perpus. Kalau katanya Bapak ada, barulah kami datang.” Hemm… am I too brave?
Kak Elcekkkk…..
Ya Cekkk?
Di mana kakak?
Di Pekanbaru Cek. Mau nitip SPP ya?
Aku langsung menohok Novi dengan pertanyaan itu supaya Novi nggak capek basa-basi karena segan kayak Rifai dan Yaumil.
Enggak.. nanya aja cekkk. Hahaha. Novi udah bayar SPP kemarin. Kok cepet banget baliknya cek?
Upppsss! Aku salah tebak pemirsaaa. Hehe. Malu deh sama Novi.
Oohh, soalnya ada beberapa yang nitip cek. Yah, biasalah cek, jadi pejuang SKRIPSi nih. Apakabar cek?
Hihii..ciyee. Alhamdulillah sehat, kakak apakabar?
Alhamdulillah sehat juga cek. Doain terkejar Oktober ya cek. Apa kegiatan di kampung cek?
Iyaa.. pasti didoain. Cemungudd. Beresin rumah kegiatan rutinnya. Banyak nonton. Kacau cek, kacauuu.
Emang kayak gitu cek kisahnya kalau di rumah. Rutinitas selama di kosan sulit di samain dengan di rumah. Makanya bener banget kalau mau sukses ya harus hijrah.
Iya ya cek. Padahal udah disusun sejak jauh-jauh hari pas liburan mau ngapain, tapi selalu meleset. Lebih terstruktur waktu di kosan. Cek, baru ingat kalau sejak ramadhan kemarin isi blog cek pasti terselip tentang kerisauan masalah jodoh. Hehe.
Iya cekkk..hiksss.. gimana menurut Cek?
Jadi ingat sama pesannya Romcek buat kakak di FB; jangan dirisaukan, tunggu aja dan berdoa supaya Allah ngasih yang terbaik. Eh, tapi cek Novi ni aja yang umurnya baru 20 tahun kadang terlintaspemikiran kayak cek juga loh. Kayak apa jodoh Novi besok? Siapa orangnya? Apa mungkin emang kayak gini ya bawaan orang yang usianya 20 tahun ke atas? Huaahhh…
Aku melihat pak Gimin berjalan mendekat ke arahku…
“Pakk? Assalamualaikum… maaf lahir bathin ya Bapakkk.”
“Iya, sama-sama. Loh, kamu ngapain di sini?”
“Mau bimbingan dengan pak Danur Pak.”
“Dia sedang nguji. Kamu tunggu di sana aja, biar kelihatan kalau dia udah kelar nanti. Ayok saya tunjukkan ruangannya.”
Aku mengikuti pak Gimin dari belakang. Hufft, untung aja pak Ayub nggak ada di ruang tunggu ini. Setelah aku duduk di ruang tunggu, pak Gimin kemudian masuk ke salah satu ruangan dan ngobrol dengan temannya. 

“Bang? Itu Bapak sedang ngobrol sama orang ya?” tanyaku kepada bang Joni yang kebetulan lewat di depanku.
“Emmm… iya tu Dek. Tunggu aja sebentar lagi ya. Nanti setelah Zuhur, Bapak tu baru nguji lagi.”
“Tapi itu kok rame banget orang di dalam Bang?”
“Orang tu kan nunggu panggilan. Nanti kalau namanya udah dipanggil, baru masuk ke ruangan ini,” bang Joni melihat ruangan yang tertutup yang berlawanan letaknya dengan  ruang tunggu di sebelah kananku.
“Bang, ada nggak yang S2 ni guru-guru?”
“Ada, malah mayoritasnya. Kan mereka nanti bisa naik pangkat dan golongan kalau udah S2.”
“Tapi kalau udah S2 sebelum jadi guru kan sebenarnya bisa jadi dosen kan Bang?”
“Iya bener. Tapi, kalau mau ngajar S2, harus S3 dulu.”
“Abang kenapa stand by di sini sekarang?”
“Ya, Bapak minta saya di sini aja sekarang Dek.”
“Oh gituuu.”
Aku mengeluarkan laptop dan mulai mengetik lagi.
“Bang, Bu Tiko udah datang belum ya?” tanya seorang cowok kepada bang Joni.
“Belum lagi Bang.”
“Oh syukurlah. Saya fikir saya terlambat, soalnya saya ada janji temu sama Ibu itu.”
Hah? Bu Tiko mau ke sini juga? Wah, bisa ketemu donk ntar sama ibuk..
“Bang, udah selesai ngobrolnya ya Bapak tuu?” tanyaku ketika melihat pak Danur berdiri dari tempat duduknya.
“Haa, udah tuh Dek. Masuklah ke dalam.”
Aku segera melipat laptop dan menenteng tasku. Tapi,, o’oo, aku melihat pak Danur sekarang ngobrol dengan bu Lena. Hummm… gimana ini?
“Masuk aja Dek, duduk dekat Bapak tu. Dengarkan ajalah cerito Bapak tuu.”
“Yakin nih Bang?”
“Iya, masuk ajalah. Nggak apa-apaa..”
Aku hanya melihat kursi yang terdekat dengan pak Danur itu posisinya di samping bu Lena. Nggak mungkin kan aku tiba-tiba datang dan langsung duduk di sebelahnya? Nggak sopan kan? *eh, tumben nih aku peka banget dengan tema kesopanan. Ehhe. Akhirnya, aku duduk di belakang pak Danur, 3 meter darinya.
Orang-orang di ruangan ini sibuk mempersiapkan diri. Ada yang membaca kembali makalah tebalnya, ada yang berdiskusi dengan teman-temannya, ada juga yang masih diberi wejangan oleh dosen pembimbingnya. 3 menit berada di ruangan ini sudah membuatku bisa menyatu; merasakan apa yang meraka rasa.
Lama amat sih bu Lena ngobrolnya? Gimana nih kalau sampai jam 12 belum juga selesai ngobrolnya dan aku nggak jadi bimbingan? Hikss..
Pak Suarman menelvon..
“Hallo Pak?”
“Elysa di mana?”
“Sedang di Gobah Pak, mau ketemu Pak Danur nih Pak.”
“Nanti ketemu saya ya.”
“Di ruangan Bapak kan Pak?”
“Iyaa.”
Telvon ditutup. Ada apa ya kira-kira? Biasanya sih kalau bapak minta aku menemuinya, pertanda ada hal baik. Yah, semoga aja memang demikian nantinya. Ammiin ya Allah.
“Bang? Gimana nihh?” aku ke luar lagi dari ruangan ini untuk menanyakan pendapat bang Joni.
“Belum selesai juga Bapak tu?”
“Belum Bang. Malah mereka sekarang ngobrolnya jadi 4 orang. Nggak mungkin kan Elysa tiba-tiba duduk di dekat mereka? Maksa banget ya kesannya.”
“Ya udah, ditunggu aja dulu Dek. Mungkin bentar lagi tu.”
Aku tersenyum kecut. “Iya deh Bang. Makasih ya Bang.” Aku masuk lagi ke dalam ruangan. Sesekali memperhatikan pak Danur sambil terus mengetik. Aku nggak boleh diam aja dengan waktu yang terus berlanjut ini.

***
“Bapaknya ada Bang?” tanyaku kepada asistennya pak Suarman.
“Ada,” jawabnya, masih selalu dengan ekspresi malas dan wajah melas itu.
Aku segera masuk ke ruangan pak Sua.
“Pak?” sapaku sambil tersenyum, kemudian duduk di hadapannya.
“Gini Sa, tadi kan Pak Riadi minta saya ngajar di ROHIL, mata kuliah Praktek Koperasi minggu ini. Nah, saya bilang saya nggak bisa ternyata diubah jadi minggu depan. Rencana saya, Elysa yang saya minta masuk kalau saya nggak bisa.”
“Tapi, setelah diganti minggu depan, ternyata Bapak bisa?”
“Insya Allah. Udah ketemu Pak Danur tadi Sa? Apa katanya?”
“Udah Pak. Sejak awal Elysa buka pembicaraan kan udah Elysa jelaskan kalau judulnya tu emang akan diubah karena lucu gitu dan minta pendapat Bapak itu gimana sebaiknya. Ternyata Bapak itu nggak sama dengan Bapak, Pak. Elysa cuma diminta nyari kasus koperasi dulu, terserah koperasi yang mana aja untuk diteliti, baru nanti datang lagi ke sana. Kata Bapak tu Koperasi di Pendidikan Ekonomi ni udah pernah ada dulu, tapi nggak jalan lagi sekarang. Tapi, kalau itu yang mau diteliti susah kali karena Elysa harus nyari pengurus-pengurus yang dulu itu kan. Sekarang, Elysa jadi tambah bingung Pak.”
“Riadi ni ntah gimana, masa judul yang kayak gitu justru yang diACC.”
“Itulah Pak. Kalau seandainya yang tentang kepuasan mahasiswa yang diACC kemarin, nggak mungkin juga Pak Danur yang jadi pembimbing 2 Elysa kan Pak. Mungkin orang lain.”
“Cobalah Elysa temui Pak Riadi lagi, bilang bahwa Elysa udah ketemu 2 pembimbing dan mereka bilang ini nggak layak diteliti.”
“Pak Riadi ada di atas sekarang Pak?”
“Ada. Cobalah temui dulu..”
“Pak, kalau Elysa neliti KOPMA aja gimana Pak?”
“Kalau mereka punya pencatatan yang lengkap, bisa juga sih. Coba Elysa tanya dulu apa permasalahan mereka sekarang di KOPMA.”
Aku lalu memohon diri kepada pak Suarman dan bergerak menuju secretariat KOPMA di Stadion Mini. Daripada aku harus berurusan lagi dengan ribetnya pak Riadi, lebih baik aku cross check ke KOPMA dulu siapa tahu ada ‘peluang’ di sana.

***
Aku sampai di RM Pondok Hijau tepat ketika azan berkumandang…
Ya Allah, maaf ya Allah, hamba makan dulu yaa. Badan rasanya nggak karuan gini. Setelah ini, hamba akan langsung sholat. Maaf ya Allah..
“Lauk apa Dek?”
“Ayam kecap ya Bu. Makan di sini.”
Tidak banyak rumah makan yang buka lapak dimusim liburan begini. Aku aja bersyukur banget karena Kalasan dan Pondok Hijau ini buka. Soalnya tadi sempat ngidam ke kantin Teknik tapi ternyata nggak buka. Ya iyalah, untung apa mereka kalau buka di kampus yang sesepi ini?
Aku sangat mensyukuri kenyataan bahwa kehidupan kampus ini jauh berbeda dengan sekolahan. Di sini, kesibukan kampus tetap berlangsung seperti biasa. Hanya mahasiswa dan ibuk kantin saja yang libur, selebihnya tetap beraktivitas. Bahkan, selama mencukupi quota, ujian SKRIPSI pun tetap dilangsungkan. I love it! Too much! Pak satpam pun tetap standby berjaga-jaga di barrier gate dan lingkungan kampus.
Setelah puas melahap makan siang yang tanpa sesiapa ini, aku ke mushola Arrafah untuk sholat Zuhur. Terakhir kali aku ke sini adalah ketika sholat Tarawih di malam ke 26 ramadhan, sebelum esoknya aku pulang kampung.
Tujuan selanjutnya adalah membayar SPP ke Bank BTN. Dugaanku benar, BTN dipenuhi antrian panjang. Nomor antrianku adalah 358 sedangkan sekarang baru nomor 247. Well, ini sadis banget pemirsaa! Aku harus menunggu 100 nomor berlalu terlebih dahulu. Setelah mengisi slip pembayaranku, Rifai dan Yaumil aku segera ke luar dari ruangan.
Mending aku glosoran (baca: duduk di emperan) di teras daripada berdiri sesak di dalam, sedangkan nomorku masih nauzdubillah lamanya.
Aku teringat ada 2 rechees nabati di dalam tas. Satu per satu ku lahap dengan nikmat dan terakhir, aku meneguk susu Bear Brand. Aku masih heran, kenapa Rini sangat mengidolakan susu hambar ini? Kemarin, waktu ku ceritakan bahwa aku belum juga mestruasi, dia langsung bilang, “Minum Bear Brand aja El, biar cepat normal lagi siklusnya.” Aku sempat heran dan spontan nanya gini kemarin, “Emang hebatnya si Bear Brand itu apa sih Rin?” Rini jawab, “Aku ngerasa cocok aja sama badanku El. Kalau aku ngerasa nggak enak badan, biasanya aku langsung minum susu itu sebelum tidur dan badanku emang cepet enakan.”
Sampai sekarang, aku masih bertanya di dalam hati, “Ngaruhnya apa nih susu yang ternyata tinggi lemak jenuhnya dengan lancarnya haidku?” haha, Riniii, Riniii. Tapi, nggak ada salahnya ku turuti nasehatnya, siapa tahu emang beneran manjur.
1 kaleng Bear Brand setelah sahur. Nikmati kemurniannya
Aku membaca baliho di pinggir jalan tentang si Bear Brandnya Rini ini. Huweekkk, sekali minum aja rasanya aku udah kapok, apalagi tiap sahur kemarin meneguk gituan? Hiyuuhhh… hehe.
Setelah membuang bungkus makananku, sekarang saatnya mengetik lagi. Panjang juga pertimbangannya sebelum memutuskan untuk mengeluarkan laptop tadi. Mengingat dan menimbang di sini nggak hanya ada aku sendiri. Ada beberapa orang yang duduk di atas motor yang terparkir tepat di depan BTN ini, ada juga beberapa yang berdiri dan duduk di dekatku. Tapi, dari wajah mereka, kayaknya mereka orang baik-baik kok. Semoga aja. hehe.

***
Lama mengetik membuat mataku mengantuk jadinya.
“Nomor 298!” teriak satpam dari dalam ruangan.
Huhh! Bahkan angka 300 pun belum sampai. Mungkin, ada baiknya kalau aku masuk ke dalam dan ketika ada yang berdiri, langsung aja ku comot bangkunya.
“Dek, bayar SPP juga?” tanyaku kepada cowok yang duduk di sebelah kiriku.
“Iya Kakak. Kakak jurusan apa?”
“Kakak FKIP. Berapa SPP Adek?”
“275 Kak.”
275? Aku mikir dulu. Rp 270.000 maksudnya? Kok murah amat?
“275 Dek?” tanyaku akhirnya.
“Iya Kak. 2 juta 750ribu.”
“Ohh, UKT ya Dek?”
“Nggak Kak.”
“Oh, jalur Mandiri ya?”
“Iya Kak.”
Lalu aku menyimak obrolan cewek di sebelahku yang kayaknya sedang ngobrol dengan suaminya.
“Iya Bang, tahu ngantri lama kali kayak gini, aku bisa ke pasar dulu tadi kan. Sejak jam setengah 12 loh Bang. Parah kali nih antriannya.”
Hemm… nanti kalau aku udah jadi istri bakal kayak gitu juga ya? Belanja, masak, mikir suami udah makan atau belum. Kalau belum makan, mau dimasakin apa? Belum lagi yang ‘lainnya’. Hemm… rasanya belum mau dan sanggup menyandang gelar itu. Ini lebih berat daripada menyandang gelar MAWAPRES pemirsaaaaaaaa..hikss.
“Eh, banyak kali orang tu nebengnya? Boleh ya Kak kayak gitu?” tanya adek di sebelahku.
Aku menoleh ke arah teller. Ada sekitar 6 orang yang sama-sama maju mengiringi si pemilik nomor antrian yang baru saja dipanggil.
“Iya ya Dek, ramee amat,” aku geleng-geleng kepala.
“Aci gitu ya Kak?”
“Ntalah Dek. Mencolok kali mereka.”
“Kak, aku ada ide. Nanti waktu nomor antriannya disebutkan dan nggak ada yang maju, kita langsung maju aja Kak.”
“Boleh gitu Dek? Nanti kalau nomor antrian kita diminta gimana?” *tumben nih, naluri licikku sedang nonaktif pemirsaa. Padahal kan bisa aja ngaku kalau nomornya ilang, atau udah koyak, atau lupa, atau apalah, kan? Hahah.
“Nggak ditanya tuh Kak. Mana pula ditanya.”
Nomor antrian 304, dipersilahkan menuju teller 2
Nomor antrian 305, dipersilahkan menuju teller 2
Nomor antrian 306, dipersilahkan menuju teller 2
“Ayoklah Kak! Nggak ada orangnya kok! Mana da curang kita. Duh, kok jadi ragu gini aku.”
“Yakin Dek?”
Nomor antrian 307, dipersilahkan menuju teller 2
“Ah, ayoklah Kak!”
Dia langsung berdiri dan aku mengikutinya dari belakang dengan ragu.
“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” tanya tellernya, ramah.
Hufft! Untungnya bener-bener nggak diminta nomor antrian kami.
“Kak, duluan yaa,” kata adek itu.
“Iya Dek. Makasih yaa,” bisikku.
Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah menunjukkan kepadaku caranya menghemat waktu. 50 nomor tertebas sudah. Terimakasih atas posisi dan kondisi ini. Syukurku dalam hati.

***
“Ada lakbannya El?”
“Ada tuh di tas yang bagian depannya.”
Rini mengganti lakban putih di kaca matanya itu dengan lakban hitam yang baru ku belikan.
“Nah, kalau kayak gini baru nyamannnn,” kata Rini.
Yap! Aku pun setuju. Lebih nyatu dengan warna tangkai kaca matanya, jadinya nggak mencuri perhatian orang dan lebih rekat dibanding double tip tadi.. Hehe.
Rini kembali melanjutkan penulisan SKRIPSInya. Kadang aku mikir, enak ya Rini dkk nii. Bisa ngerjain skripsi dengan studi literature. Nggak perlu ngurus surat riset, dan ngolah data setelah riset. Huhh. Asli dah, kayak aku biasanya nulis KTI. Paling-paling parah ya uring-uringanlah di kamar kalau stress. Yang nggak kalah enaknya adalah karena dosen pembimbingnya cuma 1 orang; nggak perlu susah payah menyatukan 2 ‘kepala’ kayak kami.
Kalau udah banyak ngalami kesulitan, ujung-ujungnya kan yang ada hanya berfikir, “Gimana caranya milih penelitian yang termudah” bukan lagi “Gimana caranya melakukan penelitian terbaik” cara menentukan judulnya pun jadinya “Apa judul yang cocok dengan selera pembimbing” bukan lagi “Apa solusi yang bisa menyelesaikan masalah yang akan diteliti”. Dari segi tujuan pun akhirnya berubah dari “Bagaimana agar bisa memberikan yang terbaik” menjadi “Bagaimana caranya agar cepat selesai” kalau yang ini sih gue bangeett cuy, hehe. Ibarat kata orang ASAL JADI, ASAL SIAP, ASAL BISA WISUDA. Toh, akhirnya SKRIPSI kita pun akan teronggok di perpus. *Ironi.
Jujur, sesulit apapun proses di depan sana, aku tidak akan tergiur untuk curang dalam mengerjakannya. Apa gunanya aku kuliah dan dididik selama 15 tahun kalau dipenghujungnya aku jadi pecundang?
“Kenapa muka El kusut gitu? Ketemu kan tadi sama Bapaknya?”
“Ketemu sih dan sekarang aku dapat PR baru.”
“Ganti judul lagi?”
“Itu udah pasti Rin. Bapak tu minta aku cari kasus dulu untuk diteliti. Dan, aku BLANK! Itulah tuu.”
“Hemmm… bisa tuu.”
“Semoga.”

***
“Rin, kalau mau ditemenin beli nasi goreng sekarang aja,” ajakku setelah sholat Maghrib dan mengaji.
“Yuklah!”
Ketika aku sedang memutar motor dan mulai menyalakan mesin, abang tiba-tiba bersuara,
“El! Si *** tu udah ngajar ya sekarang?” katanya yang lebih tepat sebagai bunyi pernyataan daripada pertanyaan. Nada Abang emang agak tinggi kalau bicara.
“Iyaa Bangg.”
“Tadi jumpa dia di pasar pagi.”
“Oh iya ya Bang? Hhemm..udah lama juga nggak tahu kabarnya Bang?”
“Dia mau kos di sini Bang?” tanya Rini.
Duh Rin! Ya nggak mungkinlah itu terjadi! Kok itu sih yang ditanya?, gerutuku dalam hati.
“Nggak tahu kos di mana. Tapi, ngajarnya di Garuda Sakti.”
Tak banyak lagi berbasa-basi, aku segera tancap gas.
“Rin, aku tadi ngira Abang tu bilang kalau si anu tu sedang nginap di kosan kita. Deg-degan kali aku Rin.”
“Iya. Aku juga ngiranya gitu tadinya.”
Aku mengitari Binar Krida, Manyar Sakti dan Balam Sakti, lalu masuk ke Bina Krida lagi dan akhirnya nemuin di Manyar Sakti. Huhhh! Yang jual nasi goreng emang cuma ini satu-satunya. Langganan kami pun nggak jualan. Apalagi kalau bukan karena sekarang sedang sepi?
“Nggak apa-apa kan Rin di sini aja? Yang penting nasi goreng.”
“Iya, nggak apa-apa El.”
Sambil nunggu si nasi goreng, aku ngobrol dengan Rini.
“Rin, lihat cewek yang barusan lewat tadi? Dia teman PPLku yang sering bareng kalau ke sekolah. Nggak selalu sih, kalau dia nggak ada teman bareng, dia pasti minta aku jemput. Kemarin waktu aku sibuk-sibuk ngurus laporan PPL kan kalang kabut tuh, di situ hampir deadline, di situ baru ku kerjakan, ingat kan Rin? Nah, yang aku kecewakan itu dia nggak pernah ingat sama aku selama aku nggak ada. Rini tahu kan aku males banget datang ke sekolah kalau nggak ada kerjaan? Dan, yang jadi pertanyaan itu apa dia nggak terasa aku nggak ada di sana? Intinya gini Rin, kita nggak akan pernah tahu seberapa egoiskah teman kita sebelum kita punya deadline yang sama dengannya.”
Rini manggut-manggut aja mendengar ceritaku. Ngakunya tadi sih lapar, tapi matanya jam segini aja udah sayu gitu. *ternak, ohhh ternaakk. Hehe.

Tidak ada komentar: