Pukul 13.07wib...
Aku baru terjaga dari lelapku di mushola FMIPA sejak setelah
sholat Zuhur tadi.. *Beuhh, ini baru seger! Alhamdulillah. Sejak jam 7 tadi mata
memang udah ngantuk berat sebenarnya, tapi takut kalau ku turuti bakal
kebablasan tidur dan malas beraktivitas akhirnya.
Waalaikumsalam, saya
kurang sehat Elsa. Baru siang ke kampus. Elsa ada di mana?
Di FMIPA ni pak.
Elysa bentar lagi ke sana ya pak.
Aku harus
segera ke FAPERTA nih. Menuntaskan kewajiban dengan menyerahkan hak para Juri
MAWAPRES yang luar biasa. Tadi udah nemuin pak Syarfi, udah nemuin pak Arisma, udah nemuin bu Rosa juga. Eh, aku dikasih Rp 100.000 loh tadi dengan pak Arisman..yee yeee. sekaligus dihadiahi sebuah pertanyaan yang membuatku tak berkutik di depannya. Tapi di dalam hatiku bergumam, Segitu pedulinya ya pak Arisman dengan mahasiswanya? Tinggal bu Tiko aja yang kayaknya baru bisa diberikan
setelah lebaran. Soalnya beliau udah di England sekarang.
Baik. Makasih Elsa.
Duh, bapak
ni baik dan sopan banget sih jadi dosen. Hemm…barokallahu ya pak... Aku bergerak menuju FAPERTA. Jalan kaki.
***
Aku
berjalan menuju FAPERTA. Syukurlah cuaca tidak terlalu terik. Arakan awan putih
di atasku menyaring cahaya mentari yang sebenarnya cukup menyengat. Sesampainya
di gedung Dekanat, aku langsung masuk ke ruang Kajur Agroteknologi. Eh,
ternyata pak Rusli sedang ada tamu. Aku menunggu di ruang tunggu sejenak.
“Eh,
Abang?” sapaku kepada senior di BEM yang aku lupa namanya.
“Loh? Bukan
anak FAPERTA kan Dek?”
“Bukan
Bang. Saya FKIP.”
“Terus, mau
ngurus apa?”
“Mau ketemu
pak Ruslinya Bang.”
“Ada urusan
apa?”
Idiih, si
abang ni kepo juga ya. “Mau nyerahin honor juri MAWAPRES Bang.”
“Juri itu
nggak perlu dikasih honor sebenarnya, Dek.”
WHAT??? Ini
aku yang terlalu kudet atau ada peraturan baru ya?
“Karena
juri itu udah berduit. Mending buat Abang aja uangnya sinih!”
Owalahhhh,
Cuma bercanda doank toh? Hhehe. “Enak aja, nggak boleh! Hehe.”
Ketika buk
tamu itu udah ke luar, aku bergegas masuk ke dalam. “Assalamualaikum Pak?”
“Hei Elsaa?
Waalaikumsalam. Silahkan masuk Sa. Ini, Bapak sedang demam sebenarnya makanya
baru datang.”
“Jadi,
gimana keadaa Bapak sekarang?”
“Udah agak
mendingan sih demamnya, tinggal flunya aja yang masih.”
“Oh, semoga
cepat sembuh ya Pak.”
“Amiin Sa.
Makasih ya.”
Aku
menyerahkan amplop putih berkop resmi itu.
“Wah,
makasih ya Sa. Dapat THR untuk lebaran nih. Di mana Elsa lebaran nanti?”
“Di
Bagansiapiapi Pak, pulang kampung. Oh ya Pak, kemarin Elysa udah ada ngasih
sertifikat juri atau belum ya Pak?”
“Emm..belum
Sa. Yang udah itu baru plakat. Tapi itu nggak berstempel. Sebenarnya Bapak
butuh SKnya itu Sa. Penting banget itu untuk kelengkapan CV.”
“Oh gitu ya
Pak. Berarti yang kurang itu SK dan Sertifikat, Elysa usahakan segera ya Pak.”
Aku melihat
pak Rusli sedang banyak kerjaan dan memang tidak sedang bisa ngobrol banyak,
maka aku tahu diri aja. Tanpa memperpanjang pembicaraan, aku segera berpamitan
kepadanya. Mungkin, lain kali aku akan punya kesempatan untuk bertanya banyak
hal kepadanya. Aamiin.
“Sukses ya
Sa!”
“Makasih ya
Pak.”
Aku
melanjutkan petualangan kakiku, kali ini menuju rektorat. Yaumil dan bang
Rokhim neror terus nih supaya uangnya segera ku transfer. Aku pun tidak ingin
menahan hak orang lain yang bukan hakku. Semakin cepat ku selesaikan semua
tugas ini, semakin cepat aku merasa tenang.
Ketika aku
ke luar dair ATM, aku melihat Alan berjalan mendekat ke arahku. Mungkin mau ke
ATM juga. Aku melihatnya dengan senyuman sok sinis. Alan malu-malu dan salag
tingkah. Aku tahu dia merasa bersalah dan tahu bahwa aku marah.
“Apaaa
Mamake? Sehattt Mamake?” tanyanya dengan malu plus ragu.
Aku belum
menjawab. Ku lipat tanganku dan masih menatapnya dengan sudut mata.
“Wih, makin
gemuk aja ya Mamake ni. Padahal bulan puasa loh.”
“Alan
kenapa nggak datang kemarin? Padahal sehari sebelumnya bilang bisa.”
“Kayak mana
acaranya kemarin Mamake? Seru yaa” alihnya.
“Kalian
nggak asik ah. Cowok-cowok nggak ada yang nongol. Kenapa nggak datang Lan?”
“Mamake pun
sibuk kali sekarang. Nggak ada awak dikasih tahunya?”
“Apa pula
nggak dikasih tahu? Kan sore tu dah Mamake bilang, Lan kita bukanya di AYAM NONGKRONG ya. Di
depan Eka Hospital letaknya.
Tapi, Alan yang nggak ada balas.”
Alan tetap
senyam-senyum ala dirinya. Aku pun nggak benar-benar marah kepadanya sih. Nggak
rela pahala puasaku ngurang.
“Gini loh
Mamake yang sebenarnya terjadi. Kemarin tu kan sahabat Alan yang ber 4 di
kampus itu ngajak buka bersama juga sore itu. Jadi, Alan kan bingung. Alan
nggak mau nyakiti perasaan Arum dan nggak bisa juga nolak permintaan
teman-teman Alan nih. Berhubung mereka bilang sebentar lagi kan pulang kampung.
Eh, udah Alan tungguin sampek sore ternyata mereka yang nggak datang. Huaahhh!
Kan, nggak mungkin Alan baru berangkat ke sana, orang udah pada buka puasa.”
“Hemmm..gitu
ya? Tulah Alan yang ngajakin, Alan pula yang nggak nongol kemarin. Dah ya,
Mamake langsung pulang ya. Daaa…”
“Hati-hati
ya Mamake. Eh, nggak mau foto-foto dulu nih?”
Mungkin,
Alan memperhatikan si merah yang ku kalungkan ini. “Alan aja yang Mamake foto
ya. Soalnya Mamake udah nyeberang nih.”
Alan segera
berpose dan aku mengambil 1 kali jepretan. *udah ah, ntar memorinya habis. Hehe.
Aku
berjalan pelan kea rah timur. Melewati parkiran dan ngerasa kalau motorku
terparkir di sana dan nggak perlu jalan kaki capek-capek begini.
“Ciiinn?”
sapa Lia dari atas motornya, di parkiran.
“Heiiii?” aku mendatanginya. Menyalaminya. Dan langsung bertanya
tentang almarhum teman sekelasnya yang baru saja meninggal dunia.
“Dia orangnya baik dan ramah Cin. Kecelakaannya ya pas mau
pulang kampung kemarin,” jelas Lia.
“Ya Allah. Aku takjub lihat dia bisa tersenyum gitu Cin ketika
meninggal. Ya Allah.”
“Subhanallah, aku pun kagum Cin. Semoga dia tenang di sana
apalagi meninggalnya di bulan penuh berkah ini.”
“Aaamiin ya Allah. Eh, mu kan belum takziah ke rumahnya, terus
mu dapat foto almarhum yang itu darimana?”
“Dari BBMnya yang dipegang Kakaknya Cin. Cin, aku melihat
temanku sendiri meninggal dunia jadi merasa resah, am I the next Cin?” air
muka Lia berubah seketika. Ya, kematian memang selalu punya daya pengingat yang
kuat bagi jiwa-jiwa yang mau ingat.
“Aku juga khawatir Cin.”
Aku jadi teringat bagaimana perasaanku ketika tadi pagi Rini
menunjukkan foto Almarhum di DP Lia yang posisinya sepertinya sudah dimandikan.
“Astaghfirullahalaziimm.. Lia masang DP temannya yang meninggal
itu El.”
“Mana lihat?” aku penasaran dan segera menyabet HP Rini.
Suhu badanku tak karuan seketika. Ada gigil juga di badan.
Beberapa dosa yang pernah ku lakukan kembai teringat dengan jelas. Ya Allah, akankah aku bisa tersenyum seperti
dia ketika kelak aku meninggal dunia? Akankah aku bisa menghadap-Mu dengan
tenang? Melihat jenazahnya yang demikian tersenyum, aku yakin bahwa ia
bahagia di sana. Semoga. Alfatihaa untuknya.
Dari parkiran, aku diajak Lia ke ruang WR III. Ternyata Lia ada
urusan sama pak Eri tapi yang dicari malah sedang nggak ada di sini.
Alhamdulillah Lia bersedia nganterin aku ke bengkel setelah ini. Kirain tadi
bakal naik oplet lagi. Hihii. Setelah menyinggahiku di bengkel, Lia segera
berpamitan pulang.
“Berapa Kak semuanya?” tanyaku kepada pemilik bengkel ini.
“Motor yang mana?”
“Yang SUPRA itu Kak.”
Ia mengambil kwitansi dan menyerahkannya kepadaku, “Semuanya Rp
370.000 ya Kak.”
Aku memintanya menjelaskan rincian biaya yang dicantumkan di
kwitansi ini. Dengan sigap, ia menjelaskannya kepadaku. Setelah membayar, aku
segera berlalu. Semoga hasil perbaikannya
memuaskan ya Allah. Aamiin.
***
“Tiiinn?” teriaku dari teras.
“Masuk aja Mamakeeee.”
Aku mendapati Titin sedang duduk fokus di atas tempat tidurnya
mematut film India.
“Film apa tuh Cin?”
“Film yang dari hardisk Mamake tapi..”
“Wah, Mamake aja belum nonton Cin.”
Aku berniat menjemput hardisk dan helmku yang tertinggal di sini
sekaligus numpang ngadem. Maklumlah, cuaca di luar terik nian.
“Tin udah nyalin semua film-film di hardisk tu?”
“Cuma dikit pun filmnya Mamake.”
“Yang judulnya Teachers Diary uda?”
“Udah. Yang dia ngajar di Rumah Kapal itu kan? Wih, nggak
nyangka ya seribet itu ngajarnya. Hii, Tin nggak mau doooh kalau gitu Mamake.”
“Yang album KKN kita udah si copi?”
“Belum Mamake. Tin takut loh! Tadi malam kan Tin nonton video
kita pas tukar-tukar kado dimalam terakhir tu, terus terlihat sama Tin
Kuntilanak loh!”
“HAHHHH? Seriuslah Tin?”
“Iya Mamakee. Udahlah Tin nontonnya malam-malam, orang udah pada
tidur semua. Langsung Tin matikan karena Tin ketakutan. Kan waktu itu posisinya
Shishi sama Rini persih membelakangi pintu kamar kita. Nah, waktu giliran Rini
dihukum tu kan Tin zoomkan kameranya, kelihatanlah di dalam kamar kita tu ada
si anuuuu.”
“Masa iya sih Tin? Coba Mamake mau lihat!”
“Hiii… Tin takut loh Mamake.”
Titin membuka kembali video kami dimalam terakhir itu dan ia
mendeskripsikan suasana awal, di tengah sampai saat penampakan itu ia lihat.
Dek Nani yang sedang berbaring santai sambil kipas anginan pun ikut turun dari
tempat tidurnya dan nimbrung.
“Oke Tin, STOP! Mamake udah lihat dia.”
Titin memekik keras sambil menekan keyboard spasi. Aku menutup
muka sejenak dan meminta video itu diputar lagi karena aku belum puas. Siapa
tahu yang ku lihat tadi bukan si han-han.
“Tin nggak mau nengoklah Mamake.”
Aku mengamati ulang video itu dengan lebih teliti.
“HOWALAAAAAHHHH… Itu tu gelantungan pakaian kita loh Tiiin.
Emang Tin lupa ya kita sering gantungin baju di jendela kamar kita tu? Ada
handuk, baju yang nggak kering, kadang selimut Mamake juga.”
“Masa iya sih Mamake?”
“Iya, cobalah perhatikan lagi. Itu warnanya hitam ya karena
malam dan lampu kita nggak terang. Coba nih perhatikanlah! Nah, yang ini kan
tembonknya dan ini kain-kain kita yang menjuntai sampai bawah.”
“Oh iyaa yaa.. Tin kira itu rambut si anu tuuh Mamake.. hehe.”
“Hemmm..ckckkc.” Nani ikut geleng-geleng.
Setelah pekara misterius ini terpecahkan, aku meraih laptopku
untuk melanjutkan ketikan. Sementara
Titin masih melanjutkan nostalgianya dengan masa-masa KKN. Kali ini, ia memutas
video ketika kami bermuhasabah (renungan suci) dan aku pula yang memimpin malam
itu. *dadakan tuh ceritanya. Aku udah melarang Titin memutar video itu karena
khawatir aku akan menangis, tapi Titin lanjut terus bahkan laptopnya
disambungkan dengan speaker.
“…kadang, kita baru merasa bahwa kita belum maksimal ketika kita
telah berada di ujung waktu. Kita merasa benar-benar sayang justru ketika kita
telah benar-benar kehilangan dan kadang kita merasa waktu begitu singkat ketika
kita hampir selesai. Selalu saja seperti itu. Kalau rasa sejenis ini hadis di
awal pertemuan, tentu kita akan memilih untuk menghabiskan waktu dengan saling
menyayangi, saling mendukung dan memaafkan. Tapi semuanya sudah terlambat
kawan-kawan, waktu kita hampir berakhir. Terlanjur banyak salah dan khilaf yang
sudah kita lakukan di hari-hari kita yang kemarin. Maka, semoga bisa saling
berlapang dada untuk saling memaafkan….” Paparku waktu itu dan sesekali
diselingi sesenggukan.
Aku terus menyimak kalimat-kalimat perpisahan yang menyuara dari
laptop Titin itu. Titin tiduran di atas dipan sementara aku di bawah dan
berpura-pura tidur. Aku tahu Titin pasti sedang menangis. Aku baru menyadari
ternyata lumayan lama juga ya durasi ngomongku sebelum berganti dengan
teman-teman lainnya. Tapi, mereka pun ikut menangis denganku. itu artinya aku
berhasil menyentuh hati mereka. yeeyee, Alhamdulillah. Yah, namanya juga
perpisahan, yang nggak nangis itu justru aneh. hehe
Karena gagal tidur, aku menyalakan laptop dan membuka FB. Satu
per satu status terupdate dan ter-in muncul di beranda. Statusku muncul pertama
kali. Ternyata buanyak juga yang komen di sana. Ehmmm.. mungkin statusku cukup
nyentrik atau karena nama mereka memang ku tag? Hehe.
Sedang asyik-asyiknya membaca status yang berseliweran,
nyeliplah satu status yang menyakitkan mata dan hati.
Astaghfirullahal’aziiim…
Astaghfirullahal’aziiim… Astaghfirullahal’aziiim… ya Allah. Kenapa semuanya
jadi gini? AAAAAAARRRGGGGHHHHHHHHHH… Kalau ada pilihan lain yang lebih daripada
sabar, aku membutuhkannya sekaraaaaaaaang!
Dek,
kok ***i statusnya gitu sih? (emot nangis)
Orang pertama yang ku ingat adalah Teguh. Dia tahu bagaimana
yang dulu dan dia harus tahu juga yang kini. Aku ingin tahu apa tanggapan dan
penilaiannya.
Lamaa… pesanku tak dibalasnya juga. Kenapa ya? Ku cek kembali
pesan terkirim dan…. Astaghfirullah!
Ternyata aku salah kirim. Yang lebih fatal adalah karena aku mengirim langsung
kepada orang yang sedang ku ceritakan. Hikss.. kok bisa terjadi sih yang kayak
gini? Mungkin karena aku terlalu terbawa perasaan dan sedang tidak menentu.
Akhirnya, ku kirim ulang pesanku ke Teguh.
Dek…
(Emot nangis)
Kenapa
Mak? Baru baca status dia?
Loh???
Adek kok tauuu?
Ya
ngerasa lah Mak. Orang statusnya nusuk gitu.
Ingin menangis rasanya, tapi air di tubuh ini seolaha sudah
kering. Bahkan kerongkongan pun serasa tak berliur lagi. Aku hanya terdiam.
Sedih. Siapa yang mengungkit-ungkit kebaikan? Adakah aku sebutkan di sana
secara jelas sehingga ia demikian buruk mentafsirkan? Tak bisakah dia membaca
keadaan bahwa aku sedang berusaha berdamai? Kalau itu untuknya menjelekkannya, aku
tak mungkin mentag namanya di sana.
Aku langsung mengSMS Lia, Cin,
lihatlah status si anu tu. Aku dan dia harus segera bicara Cin. Besok kita
harus ketemu. Waktunya masih menyesuaikan.
Udahlah
Mak. Mending kita berdoa, mumpung udah azan. Doakanlah ia yang kau rindukan
meskipun mungkin dia tak merindukanmu. Balas Teguh.
“Tin, emangnya status Mamake itu ada menjurus kepada seseorang
ya?”
Titin melepas earphone dan mem-pause film Indianya. “Nggak ada
kok Mamake rasanya. Kenapa? Ada yang merasa tersindir? Malah, Tin merasa status
itu buat Tin.”
Aku tak menjawab Titin dan langsung mengSMS si pelaku.
***,
aku merasa kamu udah salah besar terhadap statusku itu. Itu jauh dari apa yang
kamu balas dari statusmu.
Jemariku sibuk mengetik kalimat penuh murka di HP karena merasa
sedang dipecundangi olehnya.
Kenapa
diam? Emangnya nggak bisa pake BBM? Nggak bisa buka FB? Atau mau balas bikin
status lagi? Aku nggak nyangka ya kamu ternyata secemen ini! Beraninya hanya
perang dingin.
Ku pinjam HP Titin untuk menelvon nomornya. Sibuk. berkali-kali
ku coba, tetap sibuk.
Air mataku hampir mewujud. Tapi tak jadi. Ku tanya kembali
kepada diriku, apa keuntunganku membalas seperti itu dan apa pengaruhnya untuk
dirinya? Tidak ada ternyata. Hatiku menjawab, sia-sia. Meskipun ingin meluapkan
amarah, tapi akhirnya ku batalkan niatku untuk mengiriminya pesan tadi. Ku
hapus semua ketikanku itu dan aku beranjak untuk berwudhu.
Semua
orang memang selalu seperti itu ke emak, dek. Mungkin bentar lagi adek yang
bakal pergi dari emak. Adek belum nemu aja jahatnya mak kayak apa.
Mak
kok ngomong gitu sih?
Emang
kenyataannya gitu kok dek. Dia, dosen mak,
sahabat mak yang dulu. Merek
semuanya gitu.
Mak
jangan gitu lah. Itu namanya logical fallacy Mak.
Jangan hanya karena dia jahat
sama mak,
mak terus berfikir bahwa orang lain akan kayak gitu juga ke mak.
Kalau menurut adek, dosen mak itu beda kasus mak.
Karena memang ada beberapa
dosen yang merasa ‘tinggi’
dan nggak mau mengaku salah, selalu merasa paling
benar.
Adek
janji nggak akan ninggalin mak?
Aku berdebar nunggu balasan dari Teguh. Takut dibilang, Apalah mak ni? Lebay! Atau dia akan bilang, Idih, siapa kali emak ni rupanya? Hiksss..
I
Promise Mak ^_^
Amarah yang tadi, kini menjelma senyum. Setidaknya, aku merasa
ada orang yang mendukungku di balik semua kesedihan ini. Terimakasih dekk.
Allah telah membuka mataku tentang siapa yang tega dan siapa yang setia
sebenarnya. ^_^
***
Cin,
aku udah BBM dia. Katanya dia besok pagi pulang kampung. Gimana kita bisa
ngumpul Cin?
Tanyain ke dia. Jam berapa dia pulang besok?”
Jam
8 katanya Cin. Gimana ni?
Aku bingung. Kalau ku tunggu sampai
dia kembali lagi ke Pekanbaru, pasti akan lama dan suasana udah berbeda
tentunya. Aku khawatir akan ada kesulitan baru yang lebih luar biasa nantinya.
Tak ada pilihan lain. Aku harus
berbicara kepadanya malam ini juga. Modem Rini ntah ke mana pula ini, di dalam
tas nggak ada, di atas tempat tidur nggak ada, di dalam lemari nggak ada. Ah,
ternyata itu dia! Maaf ya Rin, terpaksa ku maling modemmu yang berquota ini.
hiksss.
Assalamualaikum
***, apa kabar? Tak terasa sudah hampir sebulan kita tak bertegur sapa lagi.
Yap, itu pernyataan sekaligus
sindiran. Di atas pesan terbaruku ini, masih tertinggal riwayat pesan yang ku
kirim kepadanya pada tanggal 22 Juni lalu. Dan sampai detik ini belum
dibacanya. Ntah sengaja tak membaca atau memang tak terbaca. Hanya Allah yang
Maha Tahu.
Pesanku berbalas
Walaikumsalam Alhamdulillah sehat.
Berarti, aku bisa melanjtukan ke
kalimatku selanjutnya..
Membaca
statusmu tadi membautku merasa wajib menulis malam ini. *aku flashback lagi ke
belakang. Hari itu……
Ku tuliskan secara terperinci
setiap detil kejadian sejak awal hingga hari H perselisihan itu. Di sela-sela ketikanku,
titik-titk loading darinya sesekali muncul. Aku mengira bahwa ia sedang
mempersiapkan jawaban di sana. Tapi, ternyata dia masih mempersilahkanku sampai
penjelasanku selesai.
Dia membalas pesanku dengan sebuah
pernyataan yang tidak pernah ku sangka. Pernah ku duga sebenarnya, karena
menurutku duga lebih mudah salah daripada sangka. Malam ini, gamblinglah bahwa
duga dan sangkaku adalah sama.
Ia
mengakui rasa sakit hatinya
Ia
menyatakan dirinya ingin ‘berjarak’
Mungkin
untuk selamanya.
Aku tak punya pilihan lain selain
menyanggupinya. Tapi, secepat inikah? Lebih cepat lebih baik. Akhirnya… aku
bisa mengaku untuk tidur dengan tenang malam ini. tenang karena segalanya sudah
terang. Selamat ber-esok baru untuk kita….
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar