"Mbak Ela tidur di sini?” tanya Moza dari bibir pintu kamar.
“Yuhuuu. Emangnya kenapa?”
“Ya udahlah, aku tidur di sini aja ngawankan Mbak Ela.”
Busyeeet, bijak amat nih bocah kecil ngomongnya. “Loh? Kan
biasanya Dedek sama Kak Siyam, Kak Sasha dan Alfi kan? Nggak apa-apa sama
mereka aja. Mbak Ela berani kok sendirian.”
“Nggak mau ah. Di sana nggak enak, sempit,” kata Moza sambil
naik ke atas tempat tidur dan menurunkan satu per satu baju yang berserakan di
atasnya.
“Ya udah, sinilah kawanin Mbak Ela ya. Kita bobok berdua
aja. Duh, Mbak Ela nggak nyangka Dedek baik kali sama Mbak Ela, padahal
biasanya aja nggak mau mepong-mepong (baca: nelvon) atau kalau Ummi mepong,
Dedek nggak mau ngomong. Ih, baik sekali sih kamuuu,” kataku sambil menciumnya.
Yang dilakukan Moza selanjutnya mencuri perhatianku. Dia menutup rapat gorden jendela
dan mengganjalnya dengan parfum dan kameraku. Aku langsung berkomentar, “Ih,
kamu kok rapi banget sih kerjanya? Siapa yang ngajarin emangnya?”
Moza tidak menjawab. Dia kemudian ke luar kamar dan masuk
lagi dengan membawa raket nyamuk dengan tangan mungilnya itu. Raket tersebut
diayunkan ke sekitar lemari, sudut-sudut tempat tidur dan tempat baju-baju
tergantung di belakang pintu. Selanjutnya, dia menarik ujung-ujung seprai dan
menyusun 2 bantal dengan 1 guling di tengahnya.
“Ih, ini bantalnya buat Mbak Ela yaa? Kamu kok baik sekali
sih. Aku jadi terharuuuu,” pujiku lagi-lagi. Moza hanya nyengir tapi tak
meresponku. Ia memeluk guling dan ikut menonton bersamaku sambil tengkurap.
“Kamu bobok aja. Udah malam ini loh Pak Deee.”Oh
Moza lalu ke luar lagi dan kembali dengan membawa cok
sambung beserta lampu tidur dan langsung memasangnya. Pinter kali nih bocah! Emang udah kebiasaannya gini atau gimana ya? Aku
aja kalau tidur nggak kefikiran buat ngebunuhin nyamuk-nyamuk dulu, hehe.
Kipas angin sudah dinyalakan, lampu sudah dimatikan dan Moza
sudah terlelap. Sementara aku masih terus nonton sampai jam 12.45wib setelah
film selesai. Aku mencium Moza dan memeluknya untuk mengalihkan rasa takutku
akan heningnya malam. Aku selalu seperti ini. Sebenarnya, aku berharap untuk
bisa tidur duluan sebelum semua orang tidur. Tapi, yang terjadi justru selalu
kebalikannya. Huft.
Ya Allah, aku ingin menikmati hangatnya
kebersamaan di rumah ini. Aku tidak ingin mengulangi kecerobohanku dimasa lalu
dengan merelakan waktuku bersama keluargaku dicuri oleh seseorang yang bahkan
statusnya belum pasti bagiku. “Cin, dulu aku bodoh banget. Bisa-bisanya aku
dengerin Mami cerita, tapi jariku malah berbicara dengan orang lain. Telingaku
mendengar, tapi jemariku berkhianat. Aku nggak mau kayak gitu lagi Cin. Semoga
Allah mengampuniku.” Demikian aku pernah mengadu kepada Lia. Dan, semoga Allah
selalu menjagaku dalam keadaan yang baik lagi diridhoi-Nya. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar