Aku terjaga pukul 04.10wib. Rencananya ingin segera bangun
untuk sholat Tahajud dan nulis. Tapi, aku khawatir kalau aku bangun, perutku
akan kambuh lagi mules-mulesnya. Akhirnya, ku putuskan untuk kembali tidur
supaya tidak sadarkan diri dan nggak bolak-balik toilet jam segini. Barulah aku
bangun lagi ketika mami membangunkanku sholat Subuh.
Ku paksakan diriku untuk bangkit, meskipun perut masih
terasa sakit. Tapi, semoga nggak sampai bocor kayak kemarin lagi.
“Udah aman?” papi menepuk pundakku.
“Sendawanya sih masih bauk Pi.”
“Tapi kan yang penting semalaman nggak ada kebelet ke WC.
Tandanya udah nggak apa-apa tuh.”
“Semoga aja deh Pi. La jadi?”
Sholat Subuh kali ini diimami oleh Nilam dan bacaannya
lumayan panjang. Perutku sempat kembali kerucukan di pertengahan sholat. Tapi,
untungnya bisa ku tahan hingga selesai. Setelah salam terakhir, aku tergeletak
dan berusaha tidur lagi supaya perutnya semakin membaik. Aku fikir sih begitu.
“Eh, sebenarnya yang koe baca krusak-krusuk-krusak-krusuk
pas imam baca surat pendek itu apa El?” tanya mami.
“Maksudnya Mi?”
“Waktu imam sedang baca surat pendek, koe baca apa?
Alfatiha?”
“Iya. Kan dulu Papi ngajarinnya gitu kan?”
“Kan waktu itu udah dikasih tau lagi kalau yang bener tu
nggak kayak gitu.”
“Jadi gini, sewaktu imam menziharkan suara (mengeraskan),
maka kita harus mengikuti bacaan imam. Jadi, waktu imam baca Alfatiha, kita pun
baca begitupun kalau imam baca surat pendek. Jadi, sewaktu imam ada kesalahan
bacaan, kita langsung nyambung dan bisa memperbaiki. Kalau misalnya kita aja
sibuk baca Alfatiha, gimana kita bisa menyimak bacaan imam? Kalau kita nggak
tahu surat apa yang dibaca sama imam, minimal kita mendengarkannya. Kan berpahala
juga,” jelas papi dengan mantap.
Aku menyimak penjelasan papi itu. kemudian melanjutkan
mengaji. Biasanya ketika imam membaca Alfatiha, aku merenungi terjemahnya. Tapi,
yang dibilang papi emang bener juga, kalau
kita nggak menyimak, gimana kita bisa memperbaiki?
“Heh, heh, heh, jangan tidur lagi! Masukin bantal-bantal itu
ke kamar kan bisa, jendela-jendela dibuka,” pinta mami.
“Cupp! El nggak sedang sakit ya Mi,” selaku.
“Alaaheekk Mbak, alasan aja,” sahut adek-adek yang lain.
“Eh, kemarin perasaan ada cas Nokia ini yang kecil, sekarang
di mana ya?” tanya papi sambil celingukan.
“Nggak tahu. Apa nggak yang lu pegang itu?” tanya mami
kepada papi.
“Lain lagi. Ada yang lebih kecil daripada ini kemarin tu.”
Aku tiba-tiba teringat dengan charger yang mirip banget
dengan charger SAMSUNG untuk ASUSku kemarin.
“Ada kalau nggak salah Pi di kamar Ela tuu.”
“Ambilkan coba,” pinta papi.
“El sakiit na Piii…” kataku manja. Papi mendengus, keheranan
melihat kelebayan ekspresiku. “Lihatlah Pi di atas tempat tidur tu atau di
lemari merah.”
Papi langsung mencari dan akhirnya menemukan charger tersebut.
“Kalau udah El yang beresin, semuanya pasti pada berhilangan
kan?” kataku.
Aku terbangun pukul 06.55wib ketika Nilam berteriak mengajak
sarapan. *Kalau udah dengar makanan aja, cepet banget. Hihii.
“Tumben Mi mau masak sayuran yang nggak masuk akal gini?”
tanyaku.
“Ntah apanya yang nggak masuk akal ni?” tanya Nilam.
“Eh, ini masuk akal ya? Hhee, atau El aja yang baru lihat
nih?” aku memperhatikan sayur sawi pahit yang ditumis tapi kuahnya banyak ini.
“Kata Nilam, harusnya yang diginiin tu sawi putih, bukan
sawi pahit gini,” kata mami.
“Hemmm… enak juga yaa!” kataku setelah makan beberapa suap.
Papi melihatku dan berkomentar, “Orang sakit tu biasanya
makan nggak berselera. Ini malah ampek nambah-nambah.”
“Iya, orang sakit parah tu biasanya matanya cekung,” balas
mami.
“Ini udah cekung kok Mi,” kataku sambil memegang lingkar
mata. Tapi, yang ku rasakan malah hanya pipi yang tembem aja. heehee.
***
“Papi jam berapa berangkatnya, Pi?”
“Bentar lagi lah.”
Papi lalu ke luar mengangkati satu per satu karung berisi
perlengkapan mandah itu. Ada sekitar 6karung, 3 botol dan beberapa kardus.
“Dek, coba carikan tali raffia di dekat tempat nyapu tadi.
Dikit aja jadilah,” pinta papi sambil memegangi rambatan tumbuhan sirih.
“Buat apa sirih merah itu Pi?”
“Katanya bisa buat kencing manis.”
“Kenapa nanamnya cuma 1 aja Pi? Nggak banyak-banyak
sekalian?”
“Ahh, kemarin aja udah nanam 5 tapi cuma ini yang berhasil.”
Moza datang dengan membawa tali raffia. “Ini Bii.”
“Weeh, manyaak? (baca: Banyak) Tapi kamu nggak marah kan?”
tanya papi.
“Mi, ini ada Lidah Buaya sebesar ini nyaa? Salsa harusnya
rajin-rajin make ini biar alisnya tumbuh.”
“Pakelah situ. Lidah ada. Buaya banyak. Tapi, masih juga
malas makenya.”
Aku tak bisa menahan tawa mendengar kalimat mami barusan.
Mami emang paling pinter kalau ngelucu. Kadang, orang udah marah-marah malah
dibilang, “Kok marah terbahak-bahak sih?” haha.
“Untuk apalah pelepah tebu pun dibersihkan Mi?” tanyaku.
“Dia menghasilkan.”
“Menghasilkan apa Mi?”
“Menghasilkan air tebu, menghasilkan gula, menghasilkan
uang.”
“Emang ada yang mau beli tebu kita?”
“Adaaa.”
Setelah membersihkan tebu di samping rumah, mami, aku, papi
dan Moza duduk santai di bawah pohon mangga yang sedang lebat berbunga. Dan,
aku merekam momen ini pendek-pendek. Lumayan, sebagai rekaman bersejarah. Kalau
foto kan cuma gambarnya aja.
“Jam berapa berangkat Pi? Udah jem 10 lewat ni dah,” tanya
mami.
“Papi berapa lama sih mandahnya?” ini adalah pertanyaan
ketigaku yang belum juga terjawab.
“Paling cepat 14 hari.”
“Paling lama Pi?” tanyaku lagi. Jangan dijawab bercanda,
selama-lamanya ya Pi?
“Mbak Ela nii, Abi belum berangkat pun udah ditanyain,” kata
Nilam.
“Paling lama 17 hari.”
“Ohh, berarti waktu Papi pulang besok, Nilam masih di sini
juga ya? Belum pulang kan?”
“La jadi?
“Hemm..Ela pulangnya hari Senin Pi. Nggak jadi hari minggu.
Lumayan, numpang makan sehari lagi. Hehe.”
“Tekorlah kalau gitu! (baca: Rugi),” kata mami.
Mobil prah yang ditunggu papi udah datang. *tahu mobil prah
nggak pemirsaa? Kayak mobil pick up itu loh, tapi yang gedean lagi. Dibantu
dengan anggota kerjanya, papi mengangkut barnag-barang bawaannya ke atas bak
mobil. Setelah itu, kami semua bersalaman kepada papi. Aku mereka papi ketika
ia masuk ke tempat duduk di samping supir lalu disusul oleh pak Poider. Lalu,
mobil berangkat dan bukannya papi yang melambaikan tangan, malah pak Poider.
Hehe.
***
“Aii? Sodap nek Laaam?” kataku ketika melihat Nilam udah
berpindah dari film Front of Class ke
film Holiday. Aku malah jadi ikutan nonton karena tahu film itu bagus.
Habis, pemeran utamanya keren banget sih Ciiin. Hehe. Dia seorang tentara
sekaligus Intel. Udahlah ganteng, cerdas, baik, cool, romantis lagi. Hehehe.
*Kalau si Teguh baca, dia pasti bilang ,
Makk Jorkiii...
Aku teringat dengan pak Danur. Kalau memang benar hari senin
ia bisa ku temui, maka positif aku akan pulang besok pagi. Tapi, jika belum
pasti, mungkin ada baiknya (bagi hatiku) jika aku masih tinggal di sini.
Assalamualaikum..
selamat pagi Pak ^_^. Bapak sedang mudik atau berada di Pekanbaru pak? Hari
senin ini apakah Elysa bisa bertemu Bapak untuk bimbingan pak?
Ku kirim sms itu ke nomor pak Danur yang digunakan untuk
membalas ucapan idul fitriku kemarin. Tapi, setelah ku tunggu setengah jam,
nggak juga pesanku itu terbalas. Akhirnya, ku putuskan untuk memforwardnya ke
nomor pak Danur yang 1 lagi. *Aku tahu resikonya mungkin aku akan disebut nggak
sopan atau terlalu maksa. Tapi, ini resiko pemirsaa. Diam, atau tidak
mendapatkan hasil sama sekali.
Alaikumsalam. Saya ada hari selasa seharian di kampus gobah.
Membaca balasan pak Danur barusan membuatku lega. Aku baru
ingat, Atika pernah bilang kepadaku bahwa biasanya pak Danur standby di kampus
Gobah pada hari selasa dan kamis. Syukurlah.
Oh.. baiklah Pak..
^_^
“Mi, I will go back to new market on monday. Because, on
Tuesday ia can meet will my lecture,” kataku kepada mami dengan bahasa inggris
supaya adik-adik tetap berfikir aku pulang besok. *surprise.
“New market itu apa?” tanya mami.
“Pekanbaru loh Mi…” Ah, niatnya pake bahasa isyarat,
akhirnya mami pula yang nggak ngerti.
“Apa itu bener bahasa inggrisnya?” tanya mami lagi.
“Lah? Orang cuma pake inisial aja loh Mi. Ya jelas ajalah
salah tu.”
Lia menelvon…
“…kayaknya aku nggak pergi deh Cin ke Kubu.”
“Kenapa gitu?”
“Jalannya rusak dan jauh juga Cin. Lagian aku nggak ada
kawan,” jawabku. Aku males bilang ke Lia kalau aku masih belum sehat. Nah,
inilah aku, ada saatnya aku ingin bercerita A ke A tapi kadang aku justru
pengen cerita A ke B. Tergantung mood juga. Bisa jadi juga setelah aku cerita A
kepada si A, aku nggak mau lagi cerita A ke B. *ini tulisan macam apa ya?
Hahha. Intinya, kalau aku cerita ke seseorang, artinya aku udah percaya dan
nyaman sama dia. Karena bisa jadi, aku hanya cerita hal itu kepadanya.
“Duh, jadi siapa ya yang kira-kira ke sana? Kasihan Nisa
kita nggak ngunjungi pernikahannya.”
“Eh, Winda apa kesibukannya sekarang?”
“Winda mau SM3T lagi dia Cin. Udah lolos, tinggal pembekalan
aja 2 minggu trus berangkat deh.”
“Ke Papua Cin?”
“Kalimantan sih kayaknya. Mu mau ikutan juga Cin.”
“Huuhuu, nggak mauuu,” jawabku sambil merengek.
“Aku pun nggak mau Cin. Nanti setelah itu ada PPGnya kan
setahun dan nggak boleh nikah selama 2 tahun itu Cin.”
“Yalah, mu kan mau nikah tahun depan. Makanya nggak mungkin
mau ikut itu!”
“Hhahaa.. nggak juga gara-gara itu sih Cin. Emang aku nggak
mau ikut sejak kemarin. Hehe. Mari kita segera menyelesaikan S1 kita dan segera
lanjut S2. Semoga si imam datang di antara waktu itu.”
“Heehee… iya,” jawabku ragu. Jujur, aku mulai kurang suka
kalau arah pembicaraannya ke sana.
“Aku mau bikin kue dulu ya Ciin.”
“Kue apa tyuu?”
“Ini untuk dibawa ke kota besok. Bolu Ciiin. Suka?”
“Kurang suka Cin. Soalnya cepat mengenyangkan. Bawain yang
kriuk-kriuk ya Cin..?”
“Yuhuuu, peyeklah ya mungkin Cin.”
“Yuhuuu… boleh tuh.
“Salam buat Mami dan adek-adek ya Cin. Assalamualaikum.”
Aku kembali nonton Holiday
dengan Nilam. Ada 1 adegan yang aku suka…
“Kau ini wanita tercantik di kampus kita kemarin. Lalu,
kenapa kau sampai mau menikah dengan pria botak seperti dia?” tanya seorang
wanita yang sedang menghadiri pernikahan temannya.
“Pria tampan itu kadang tak pintar. Sedangkan dia, memang
tidak tampan tapi dia pintar,” bisik mempelai wanita.
“Lalu bagaimana halnya dengan pria yang tampan, baik dan
pintar?”
“Ah, sudahlah! Kau coba saja cari dan menikahlah dengannya.”
Ya Allah, berikan aku
jodoh yang seperti Virat ya Allah, doaku dalam hati ketika tokoh utamanya
nongol. Hehe.
***
Ketika makan siang bersama…
“Loh nggak nambah Fi?”
“Nggak enak kalau nggak ada Pak Uwo. Nggak lemak nian (baca:
Enak banget).”
Setelah anak-anak selesai makan duluan, tinggallah aku dan
mami di dapur dan mulailah aku bercerita kepadanya tentang ‘kenyataan seleksi
KPN’ kemarin.
“Masak nasi 3 canting, piring-piring ini ditaruk ke
tempatnya, makanan ditutup,” pinta mami sambil berlalu setelah makan siangnya
selesai.
“Mami ni haa! El belum selesai cerita lagi!”
“Habisnya kelamaan ceritanya. Orang udah mau pindah tempat
dah,” jawab mami santai. Ini bukan yang pertama kali pemirsaaa, mami sering
bilang aku lambat banget kalau cerita. Tapi, menurutku udah cepet loh.
*kepriben iki?”
“Memang ceritanya panjang kok.”
Setelah perintah mami ku laksanakan, aku mengejarnya ke
kamar depan untuk melanjutkan cerita. Aku nggak mau tahu pokoknya mami harus
dengarkan ceritaku sampai selesai! Titik. Nggak pake koma atau tanda seru.
“…kalau udah rusak nanti harganya Rp 150.000 tuh! HP tu bisa
lebih awet kalau nggak dipake main game. Ini maiiiiin game terusss. Untungnya
itu HP Bapak, kalau sempat HPku, nggak akan ku pinjamkan ke kalian untuk main
game gitu.”
Nilam diam aja di sudut kamar. Tangan kanannya memang VIVO,
tapi Jemarinya tak bergerak. Tak salah lagi, Nilam pasti baru dimarah gara-gara
main game di HP papi.
“Lah itu Mami mau main game juga?” tanyaku.
“Ini udah jelas laptop rusak,” jawab mami singkat dan
meneruskan main Zumanya.
“Kalau nggak ada kerjaan, mending baca buku sana. Ngaji kek,
emangnya udah benar kali bacaanmu? Banyak lagi yang harus dipelajari sama
kalian yang sekolah tu, bukan hanya pelajaran di sekolah aja. Jangan main game
aja fikirannya.”
Aku pun ikut tersindir juga. Sudah beberapa hari ini
tulisanku di blog nggak kelar. Memang, aku selalu menyangkutkan beberapa
kalimat di laptop. Tapi, itu kan sama aja menumpuk pekerjaan karena menunda
menyelesaikannya. Harusnya, sakitku ini ku manfaatkan untuk menulis. Hemm, tapi
mau bagaimana lagi kalau nyatanya kemarin perutku emang sakit banget dan
akhirnya banyakin tidur?
Aku membawa laptop, HP dan Hardisk-ku ke ruang tamu. Supaya
lebih tenang. Tapi, mood nulis belum terkumpul nih! Nonton Comic Story dulu ah!
Alfi mendekat dan ikutan nonton. “Heh, belajar sanah! Jangan
ikut-ikutan,” pintaku sambil membuka file word untuk mengalihkan perhatiannya.
“Alaaah, Mbak Ela ini haaa. Pelittt,” kata Alfi sambil
pergi.
Berikutnya, Moza pula yang datang. Tapi, kalau Moza ku
sambut dan ku pangku. Soalnya, dia pun pasti nggak ngerti dengan tontonanku ini
dan cuma bentar aja ke sini.
Dari ruang tamu, aku berpindah ke ruang keluarga karena
merasa gerah. Kebetulan, kipas angin di ruang keluarga sedang menyala. Aku
mengetikkan beberapa kalimat, hampir satu halaman dan lalu merasa butuh break
lagi. Akhirnya ku putar film Malam Minggu Miko. Eh, sekarang giliran Salsa yang
mendekat.
“Mbak Ela ni haa, jahat tadi sama Alfi!” gerutu Salsa.
“Jahat kenapa?”
“Tadi dia nggak boleh nonton, tapi waktu Moza datang malah
dibolehin.”
“Alffiii?” teriakku
“Nggak mauu! Nanti diusir lagiii,” sahutnya dari dalam
kamar. Aku tergelak jadinya.
Nyaris aja aku tertidur sempurna karena membiarkan Salsa menonton
beberapa episode Malam Minggu Miko. Eh, pas aku terbangun, ternyata Alfi udah
ikutan nonton.
“Setelah yang satu ini udah ya Sal,” pintaku kepada Salsa.
Setelah itu, aku langsung mengambil alih laptop dan mengetik dengan semangat
sebagai pengganti penyesalan ketidakproduktifanku.
***
“El, Magnum kalau dibawa pulang, kira-kira bisa nggak ya?
Mengecil nggak dia?”
“Dari Tanah Merah Mi? ya nggak apa-apa. Paling-paling
mencair dikit.”
“Rencananya mau dibawa pulang terus dimasukkan kulkas.”
“Emang Mami mau beli berapa banyak Magnum? Kok pake
dimasukkan kulkas segala?” tanyaku.
“1 aja. Buatku sendiri,” jawab mami.
“Aiih? Parah ko! Yuklah Mi kita beli Magnum sekarang yuk?”
“Lah lah lah? Kami yang berencana, koe pula yang
ngajak-ngajak? Nilam ni haa, sedang ngumpulin recehan katanya.”
“Alaheek, Mi?” sela Nilam yang sedang nemenin mami main
Zuma.
“Eh, makhluk-makhluk luar angkasa itu sedang ngapain?”
“Sedang ngotak-ngatik sepeda kayaknya,” jawab Nilam.
“Oiy? Nggak usahlah mikirin keluyuran yaa! Sepeda itu rusak
supaya kalian tenang di rumah. Ngelayap (baca: Ngeluyur) aja yang difikirin!”
seru mami dari kamar kepada anak-anak. Suara berisik bola-bola Zuma kembali
mencuri perhatian dan konsentrasinya.
Setelah sholat Ashar, mami menyudahi main Zummanya.
“Ehh, CD ini pada ke mana ya?” tanya mami.
“Buat apa CD Mi? Mau nonton apa?”
Ngomong-ngomong tentang CD, satu-satunya CD yang bisa
membuatku keringat dingin, jantungku berdegub cepat dan badanku melemah adalah
CD tentang Kekuasaan Allah plus siksa kubur. CD itu sempat booming di daerah
sini waktu aku kelas 3 SMP. Aku, Nilam dan Salsa diajak nonton itu di rumahnya
Mbak Nanik pada suatu siang yang terik. Tapi, terik itu seakaan mengendap
seluruhnya di dalam tubuhku setelah aku menyaksikan CD itu. Sungguh, aku benar-benar
takut. Waktu mami menyebut CD barusan pun mendadak aku jadi parno, jangan
sampai mami mutar film yang aneh-aneh.
“Mi, untuk apa sih nyariin CD tadi? Apa kaset-kaset itu mau
dijual atau gimana?” tanyaku kepada mami di kamar.
“Apalah Mbak Ela ni? Nggak nyambung!” tanya Nilam.
“Loh kenapa?”
“CD itu Celana Dalam maksudnya loh Mbak. Nggak nyambung kali
pun!”
“Hhahhaa… iya ya Mi? haha.”
“Tegolak? (baca: Ketawa).”
“Emangnya celana dalam Mami pada ke mana semua? Hahah,
paling-paling El salah masukkan ke lemari Nilam tuuu kemarin. Hihiihii.”
Mami menelvon papi di kamar untuk menanyakan dimana kwitansi
pencucian foto di CCL kemarin. Nilam dan aku ikutan ngomong sama papi.
“Pi, kapan pulang?” tanyaku.
“Haaa, lebaran lah,” jawab papi, melawak.
“Pi, El udah nggak ada mencret lagi.”
“Mantap?”
“Tapi, kentut El bauuuk kali loh!”
Lalu, aku benar-benar terkentut lalu Mami dan Nilam
benar-benar kabur semua dari kamar.
“Baru aja El bilang Pi, orang pada kabur semua dah! Hahha.”
“Hiihh, sampek sini bauknya. Preeet!!!”
Aku ikut-ikutan ke luar dari kamar dan duduk di dekat kipas
angin.
“Malah ikut ke luar pula. Bauk pula nanti lagi,” kata mami.
Setelah telvon ku serahkan kepada mami, aku melanjutkan
mengetik lagi.
“Eh, kirain ntah siapa tadi kresek-kresek. Ternyata kambing!
Heeh kambinggg.. pergiii kauuuuuuuuu saannaaaaaaaaaa,” pekikku kepada kambing
yang sedang memakan rumput di samping rumah.
“Alahek Mbak? Masak gitu ngusir kambingnya?” Salsa
keheranan.
“Dia itu heran El, kayaknya ada yang bauk kambing juga di
dalam rumah ini. Jadi, dia mau lihat kawannya,” ejek mami kepadaku.
Melihat keromantisan mami dan papi, aku jadi berdoa, Ya
Allah, hamba ingin menikah diwaktu yang tepat menurut-Mu. Dan, pastikan saat itu tidak ada keraguan dan aku tidak punya alasan
atau keinginan untuk menolak imamku itu. Aamiin. Karena sesungguhnya, aku takut
merasa lelah dengan keraguanku sendiri.
***
Sejak sholat Ashar tadi hingga sholat Isya, Alfi berangkat
ke mushola sendirian dengan menggunakan motor. Nggak mungkin kan gara-gara papi
mandah, lalu Alfi nggak pernah ke mushola lagi?
Okta menelvonku ketika aku baru saja mulai mengetik lagi.
Ada seseorang yang ku tunjukkan kepadanya dari FB dan aku ingin Okta menilai
dirinya seperti apa. Aku merekam semua obrolan itu dari HP sehingga setelah
selesai, aku bisa memperdengarkannya kepada mami dan Nilam.
Dia itu adalah orang
yang suka menetap di satu titik untuk waktu yang sangat lama. Dia bukan orang
yang pembosan. Dia adalah orang yang suka mengklarifikasi. Dia menyukai kakak
karena satu hal yang udah lamaa banget. Dia benar-benar menyayangi seseorang
dalam waktu yang lama bahkan sampai penghabisan. Dia berusaha mencari tahu
tentang kakak, tentang keluarga kakak, tentang adik-adik kakak, meskipun kakak
nggak tahu itu.
Setidaknya itu yang berhasil ku ingat dari obrolan panjangku
dengan Okta yang banyak diselingin dengan candaan konyolnya. Mami sempat
beberapa kali terbahak-bahak mendengar ceplas-ceplos dan asbunnya Okta itu.
Nilam? Kalau Nilam, ada beberapa kali nggak terima ketika Okta mengatakan hal
jelek tentang sosok itu.
“Al, Al, gonceng Mak Uwo cepet! Malah unak-unuk pula (baca:
gaya berjalan seperti orang culun),” pinta mami ketika Alfi baru saja pulang
dari sholat Isya.
Mami dan Alfi pergi untuk membeli Mie Ayam tak jauh dari
sini. Kata mami sih enak, mari kita cek benar atau benar?
“Mbak, lantaklah baterai kamera Mbak Ela habiss!” kata
Nilam.
“Kenapa emangnya?”
“Biasanya Mbak Ela kalau makan selalu moto-moto.”
Aku nggak nyangka pemirsaa, Nilam ingat dengan kebiasaan
alayku itu.
“La jadi? Kan bisa dicas sekarang. Itu casnya kan?”
“Sekarang?!” kata Nilam sambil melirik malas. Seolah
mengartikan usahaku sia-sia jika waktunya sesempit ini.
15 menit kemudian, mami dan Alfi pulang.
“Mana tea jusnya nii? Pasti belum dibikin. Apa kerja kalian
dari tadi?” tanya mami.
“Lah? Ela kira Mami cuma bercanda tadi. Eheh.”
“Apalah Mbak Ela ni, serius na itu Mbak,” kata Salsa.
Aku menumpahkan 6 bungkus Mie Ayam itu ke dalam
masing-masing mangkok. Sementara mami menyiapkan es teh.
“Yaahh, pecah pula batu gilingannya. Nggak bisa nggiling
lagi deh,” kata mami.
Aku melihat ke arah batu gilirannya, benar saja sudah cuil
sebagian karena pecah. “Yah Mii, itu batu giling bersejarah loh. Sejak El kecil
kan?”
Bersanding dengan es teh, kami menyantap dengan nikmat Mie
Ayam ini. Mienya agak gede emang, tapi cocoklah dengan gede irisan ayamnya.
“Mami nggak pake nasi Mi?” tanyaku.
Mami meraih nasi dari samping Nilam dan menyantapnya bersama
tumis mentok.
“Loh? Mami nggak mau lagi Mie Ayamnya?” tanyaku.
“Nggak. Agak muak rasanya.”
“Loh? Yakin ni Mi?” tanyaku sambil menarik mangkok mami.
Mami mengangguk. Aku segera bagi 2 dengan Nilam.
Selain mami, semuanya terus saja menyantap dengan nikmat.
Terakhir, tinggal moza yang belum selesai juga makannya. Udah sejak tadi aku
meminta sawinya, tapi barusan aja dia bersedia ngasih.
“Bu, minta sedekahnya Buuukk?” aku memelas kepada Moza
supaya kebagian ayamnya.
Moza lalu melemparkan tulang ke mangkokku. Aku langsung
mencaploknya.
“Ih, congok kalilah Mbak Ela nii. Padahal itu tulang naa
Mbakk.”
Bagimu tulang, tapi
bagimu ini anugerah, gumamku di hati.
Nilam malah ikut-ikutan juga. “Bu, bagi sedekahnya donk
Buuukkk,” kata Nilam sambil mendekatkan mangkoknya kepada Moza melebihiku.
“Buk, sama saya ajalah Buuukk?” pintaku, tak mau kalah
dengan Nilam.
Dengan polosnya, Moza mengulum ayam ke dalam mulutnya lalu
mengelurkannya lagi dan menyuir-nyuirnya dengan adil ke dalam mangkokku dan
mangkok Nilam. Hheeee *jorkii. Untuk Salsa dan Alfi nggak tertarik mengikuti
langkah kami ini. ehhe.
“Jangan cuma ayamnya donk Bukk, kuahnya juga donk..hehe.”
Moza pun membagikan kuahnya beberapa sendok kepadaku dan
kepada Nilam.
“Alhamdulillah ya Allah, makasih ya Allah,” kataku, kayak
orang yang baru menang undian aja.
Kami berhasil menggerogoti porsinya Moza hingga suapan terakhirnya
itu. hehe, yah daripada dia makannya nggak bersih kan? Mending kami bersihiin.
Hehe.
“Jangan lupa nasi dicolokkan Mbak. Tadi pagi aku kena marah
sama Ummi gara-gara semalam Mbak Ela bilang nasinya nggak usah dicolokkan. Ummi
bilang, ‘Ngapainlah koe dengarkan kata-kata Mbak Ela tu?’ Alahekk Mbak, jangan
sampek lupa lagi ya.”
“Yuhuu Ciin.”
Semua orang udah bubar dan kini giliran aku mencuci piring.
“Keleeppiii?” teriakku sambil menyabuni piring-piring kotor
ini.
Alfi datang dengan wajah malas, “Pasti aku disuruh bilasin
lagi kan? Males naa Mbaak Elaa. Salsa kan ada. Aku laki-lakiii, masa nyuci
piring kayak cewek sih?”
“Heh, emangnya Alfi lupa siapa yang udah njemput Alfi
pagi-pagi dari loket bus kemarin?” aku mulai menggunakan ancaman.
“Itu bukan Mbak Ela. Mbak Ela kan nggak pake jilbab kayak
sekarang, yang itu pake jilbab, jadi bukan Mbak Elaa tuu.”
“La jadi siapa? Kodok?”
Sekalipun malas, Alfi tetap membilas piring-piring yang udah
ku sabuni itu. Sementara aku menyapu dan merapikan dapur. Aku pun berhasil
membuat Alfi dan Moza sikat gigi malam ini sebelum tidur. Alhamdulillah. Sempat
ku bilang ke Alfi tadi, “Kalau besok koe sakit gigi, ingat ya kalau Mbak Ela
pernah ngasih tahu untuk sikat gigi tapi koenya bandel,” sebagai peringatan
keras untuk Alfi.
***
“Mami mau tidur di mana? Di kamar?” tanyaku.
“Iyaaa.”
“El tidur sama Mami kalau gitu.”
Lalu aku mapan duluan ke kamar mami sambil dengerin lagu
Selimut Tetangga. Ini adalah lagu yang berkesan ketika KKN dulu. Kiting, alis
Faiz, alias Faisal suka banget dengan lagu itu. Dia di KKN adalah anak
bungsuku. Ehhe.
“Kalau tetangga punya banyak selimut dan selimut yang ktia
jemur belum kering, bisa juga kan kita pinjam? Hangat juga jadinya,” mami
mencoba bercanda sambil nyariin nyamuk pake raket elektrik.
“Hahhaa… iya juga ya Mi. Bener tuh!”
Setelah nyariin nyamuk, aku dengar mami membentangkan tikar
di ruang keluarga. Ah, aku jadi curiga. Kayaknya ada yang ngak beres nih!
“Mamiiiii?”
“Oiik?”
“Tidur di mana nyaaa?”
“Di sinii.”
“Laahhh? Katanya mau tidur di siniiii…”
“Nggak jadi ah. Males sekamar sama koe, bauk apeekk!” jawab
mami.
Aku segera ke luar kamar dan merebah di samping mami.
“Nah, kalau udah kayak gini apa bedanya Mi di kamar atau di
luar?” tanyaku sambil memeluk mami.
Aku tidur dengan posisi miring ke kanan. Tiba-tiba
aku berfikir tentang bagaimana posisi mayat di dalam kubur; persis seperti
posisiku sekarang. Lalu, aku membayangkan bagaimana rasanya jika saat ini
tubuhku berbalut kain kafan dan sendirian dalam kegelapan. Air mata tiba-tiba menganak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar