Sabtu, 25 Juli 2015

Kalau Kita Tidak Menyimak, Bagaimana Bisa Memperbaiki?

Aku terjaga pukul 04.10wib. Rencananya ingin segera bangun untuk sholat Tahajud dan nulis. Tapi, aku khawatir kalau aku bangun, perutku akan kambuh lagi mules-mulesnya. Akhirnya, ku putuskan untuk kembali tidur supaya tidak sadarkan diri dan nggak bolak-balik toilet jam segini. Barulah aku bangun lagi ketika mami membangunkanku sholat Subuh.
Ku paksakan diriku untuk bangkit, meskipun perut masih terasa sakit. Tapi, semoga nggak sampai bocor kayak kemarin lagi.
“Udah aman?” papi menepuk pundakku.
“Sendawanya sih masih bauk Pi.”
“Tapi kan yang penting semalaman nggak ada kebelet ke WC. Tandanya udah nggak apa-apa tuh.”
“Semoga aja deh Pi. La jadi?”
Sholat Subuh kali ini diimami oleh Nilam dan bacaannya lumayan panjang. Perutku sempat kembali kerucukan di pertengahan sholat. Tapi, untungnya bisa ku tahan hingga selesai. Setelah salam terakhir, aku tergeletak dan berusaha tidur lagi supaya perutnya semakin membaik. Aku fikir sih begitu.
“Eh, sebenarnya yang koe baca krusak-krusuk-krusak-krusuk pas imam baca surat pendek itu apa El?” tanya mami.
“Maksudnya Mi?”
“Waktu imam sedang baca surat pendek, koe baca apa? Alfatiha?”
“Iya. Kan dulu Papi ngajarinnya gitu kan?”
“Kan waktu itu udah dikasih tau lagi kalau yang bener tu nggak kayak gitu.”
“Jadi gini, sewaktu imam menziharkan suara (mengeraskan), maka kita harus mengikuti bacaan imam. Jadi, waktu imam baca Alfatiha, kita pun baca begitupun kalau imam baca surat pendek. Jadi, sewaktu imam ada kesalahan bacaan, kita langsung nyambung dan bisa memperbaiki. Kalau misalnya kita aja sibuk baca Alfatiha, gimana kita bisa menyimak bacaan imam? Kalau kita nggak tahu surat apa yang dibaca sama imam, minimal kita mendengarkannya. Kan berpahala juga,” jelas papi dengan mantap.
Aku menyimak penjelasan papi itu. kemudian melanjutkan mengaji. Biasanya ketika imam membaca Alfatiha, aku merenungi terjemahnya. Tapi, yang dibilang papi emang bener juga, kalau kita nggak menyimak, gimana kita bisa memperbaiki?
“Heh, heh, heh, jangan tidur lagi! Masukin bantal-bantal itu ke kamar kan bisa, jendela-jendela dibuka,” pinta mami.
“Cupp! El nggak sedang sakit ya Mi,” selaku.
“Alaaheekk Mbak, alasan aja,” sahut adek-adek yang lain.
“Eh, kemarin perasaan ada cas Nokia ini yang kecil, sekarang di mana ya?” tanya papi sambil celingukan.
“Nggak tahu. Apa nggak yang lu pegang itu?” tanya mami kepada papi.
“Lain lagi. Ada yang lebih kecil daripada ini kemarin tu.”
Aku tiba-tiba teringat dengan charger yang mirip banget dengan charger SAMSUNG untuk ASUSku kemarin.
“Ada kalau nggak salah Pi di kamar Ela tuu.”
“Ambilkan coba,” pinta papi.
“El sakiit na Piii…” kataku manja. Papi mendengus, keheranan melihat kelebayan ekspresiku. “Lihatlah Pi di atas tempat tidur tu atau di lemari merah.”
Papi langsung mencari dan akhirnya menemukan charger tersebut.
“Kalau udah El yang beresin, semuanya pasti pada berhilangan kan?” kataku.
Aku terbangun pukul 06.55wib ketika Nilam berteriak mengajak sarapan. *Kalau udah dengar makanan aja, cepet banget. Hihii.
“Tumben Mi mau masak sayuran yang nggak masuk akal gini?” tanyaku.
“Ntah apanya yang nggak masuk akal ni?” tanya Nilam.
“Eh, ini masuk akal ya? Hhee, atau El aja yang baru lihat nih?” aku memperhatikan sayur sawi pahit yang ditumis tapi kuahnya banyak ini.
“Kata Nilam, harusnya yang diginiin tu sawi putih, bukan sawi pahit gini,” kata mami.
“Hemmm… enak juga yaa!” kataku setelah makan beberapa suap.
Papi melihatku dan berkomentar, “Orang sakit tu biasanya makan nggak berselera. Ini malah ampek nambah-nambah.”
“Iya, orang sakit parah tu biasanya matanya cekung,” balas mami.
“Ini udah cekung kok Mi,” kataku sambil memegang lingkar mata. Tapi, yang ku rasakan malah hanya pipi yang tembem aja. heehee.

***
“Papi jam berapa berangkatnya, Pi?”
“Bentar lagi lah.”
Papi lalu ke luar mengangkati satu per satu karung berisi perlengkapan mandah itu. Ada sekitar 6karung, 3 botol dan beberapa kardus.
“Dek, coba carikan tali raffia di dekat tempat nyapu tadi. Dikit aja jadilah,” pinta papi sambil memegangi rambatan tumbuhan sirih.
“Buat apa sirih merah itu Pi?”
“Katanya bisa buat kencing manis.”
“Kenapa nanamnya cuma 1 aja Pi? Nggak banyak-banyak sekalian?”
“Ahh, kemarin aja udah nanam 5 tapi cuma ini yang berhasil.”
Moza datang dengan membawa tali raffia. “Ini Bii.”
“Weeh, manyaak? (baca: Banyak) Tapi kamu nggak marah kan?” tanya papi.
“Mi, ini ada Lidah Buaya sebesar ini nyaa? Salsa harusnya rajin-rajin make ini biar alisnya tumbuh.”
“Pakelah situ. Lidah ada. Buaya banyak. Tapi, masih juga malas makenya.”
Aku tak bisa menahan tawa mendengar kalimat mami barusan. Mami emang paling pinter kalau ngelucu. Kadang, orang udah marah-marah malah dibilang, “Kok marah terbahak-bahak sih?” haha.
“Untuk apalah pelepah tebu pun dibersihkan Mi?” tanyaku.
“Dia menghasilkan.”
“Menghasilkan apa Mi?”
“Menghasilkan air tebu, menghasilkan gula, menghasilkan uang.”
“Emang ada yang mau beli tebu kita?”
“Adaaa.”
Setelah membersihkan tebu di samping rumah, mami, aku, papi dan Moza duduk santai di bawah pohon mangga yang sedang lebat berbunga. Dan, aku merekam momen ini pendek-pendek. Lumayan, sebagai rekaman bersejarah. Kalau foto kan cuma gambarnya aja.
“Jam berapa berangkat Pi? Udah jem 10 lewat ni dah,” tanya mami.
“Papi berapa lama sih mandahnya?” ini adalah pertanyaan ketigaku yang belum juga terjawab.
“Paling cepat 14 hari.”
“Paling lama Pi?” tanyaku lagi. Jangan dijawab bercanda, selama-lamanya ya Pi?
“Mbak Ela nii, Abi belum berangkat pun udah ditanyain,” kata Nilam.
“Paling lama 17 hari.”
“Ohh, berarti waktu Papi pulang besok, Nilam masih di sini juga ya? Belum pulang kan?”
“La jadi?
“Hemm..Ela pulangnya hari Senin Pi. Nggak jadi hari minggu. Lumayan, numpang makan sehari lagi. Hehe.”
“Tekorlah kalau gitu! (baca: Rugi),” kata mami.
Mobil prah yang ditunggu papi udah datang. *tahu mobil prah nggak pemirsaa? Kayak mobil pick up itu loh, tapi yang gedean lagi. Dibantu dengan anggota kerjanya, papi mengangkut barnag-barang bawaannya ke atas bak mobil. Setelah itu, kami semua bersalaman kepada papi. Aku mereka papi ketika ia masuk ke tempat duduk di samping supir lalu disusul oleh pak Poider. Lalu, mobil berangkat dan bukannya papi yang melambaikan tangan, malah pak Poider. Hehe.

***
“Aii? Sodap nek Laaam?” kataku ketika melihat Nilam udah berpindah dari film Front of Class ke film Holiday. Aku malah  jadi ikutan nonton karena tahu film itu bagus. Habis, pemeran utamanya keren banget sih Ciiin. Hehe. Dia seorang tentara sekaligus Intel. Udahlah ganteng, cerdas, baik, cool, romantis lagi. Hehehe. *Kalau si Teguh baca, dia pasti bilang ,  Makk Jorkiii...
Aku teringat dengan pak Danur. Kalau memang benar hari senin ia bisa ku temui, maka positif aku akan pulang besok pagi. Tapi, jika belum pasti, mungkin ada baiknya (bagi hatiku) jika aku masih tinggal di sini.
Assalamualaikum.. selamat pagi Pak ^_^. Bapak sedang mudik atau berada di Pekanbaru pak? Hari senin ini apakah Elysa bisa bertemu Bapak untuk bimbingan pak?
Ku kirim sms itu ke nomor pak Danur yang digunakan untuk membalas ucapan idul fitriku kemarin. Tapi, setelah ku tunggu setengah jam, nggak juga pesanku itu terbalas. Akhirnya, ku putuskan untuk memforwardnya ke nomor pak Danur yang 1 lagi. *Aku tahu resikonya mungkin aku akan disebut nggak sopan atau terlalu maksa. Tapi, ini resiko pemirsaa. Diam, atau tidak mendapatkan hasil sama sekali.
Alaikumsalam. Saya ada hari selasa seharian di kampus gobah.
Membaca balasan pak Danur barusan membuatku lega. Aku baru ingat, Atika pernah bilang kepadaku bahwa biasanya pak Danur standby di kampus Gobah pada hari selasa dan kamis. Syukurlah.
Oh.. baiklah Pak.. ^_^
“Mi, I will go back to new market on monday. Because, on Tuesday ia can meet will my lecture,” kataku kepada mami dengan bahasa inggris supaya adik-adik tetap berfikir aku pulang besok. *surprise.
“New market itu apa?” tanya mami.
“Pekanbaru loh Mi…” Ah, niatnya pake bahasa isyarat, akhirnya mami pula yang nggak ngerti.
“Apa itu bener bahasa inggrisnya?” tanya mami lagi.
“Lah? Orang cuma pake inisial aja loh Mi. Ya jelas ajalah salah tu.”

Lia menelvon…
“…kayaknya aku nggak pergi deh Cin ke Kubu.”
“Kenapa gitu?”
“Jalannya rusak dan jauh juga Cin. Lagian aku nggak ada kawan,” jawabku. Aku males bilang ke Lia kalau aku masih belum sehat. Nah, inilah aku, ada saatnya aku ingin bercerita A ke A tapi kadang aku justru pengen cerita A ke B. Tergantung mood juga. Bisa jadi juga setelah aku cerita A kepada si A, aku nggak mau lagi cerita A ke B. *ini tulisan macam apa ya? Hahha. Intinya, kalau aku cerita ke seseorang, artinya aku udah percaya dan nyaman sama dia. Karena bisa jadi, aku hanya cerita hal itu kepadanya.
“Duh, jadi siapa ya yang kira-kira ke sana? Kasihan Nisa kita nggak ngunjungi pernikahannya.”
“Eh, Winda apa kesibukannya sekarang?”
“Winda mau SM3T lagi dia Cin. Udah lolos, tinggal pembekalan aja 2 minggu trus berangkat deh.”
“Ke Papua Cin?”
“Kalimantan sih kayaknya. Mu mau ikutan juga Cin.”
“Huuhuu, nggak mauuu,” jawabku sambil merengek.
“Aku pun nggak mau Cin. Nanti setelah itu ada PPGnya kan setahun dan nggak boleh nikah selama 2 tahun itu Cin.”
“Yalah, mu kan mau nikah tahun depan. Makanya nggak mungkin mau ikut itu!”
“Hhahaa.. nggak juga gara-gara itu sih Cin. Emang aku nggak mau ikut sejak kemarin. Hehe. Mari kita segera menyelesaikan S1 kita dan segera lanjut S2. Semoga si imam datang di antara waktu itu.”
“Heehee… iya,” jawabku ragu. Jujur, aku mulai kurang suka kalau arah pembicaraannya ke sana.
“Aku mau bikin kue dulu ya Ciin.”
“Kue apa tyuu?”
“Ini untuk dibawa ke kota besok. Bolu Ciiin. Suka?”
“Kurang suka Cin. Soalnya cepat mengenyangkan. Bawain yang kriuk-kriuk ya Cin..?”
“Yuhuuu, peyeklah ya mungkin Cin.”
“Yuhuuu… boleh tuh.
“Salam buat Mami dan adek-adek ya Cin. Assalamualaikum.”
Aku kembali nonton Holiday dengan Nilam. Ada 1 adegan yang aku suka…
“Kau ini wanita tercantik di kampus kita kemarin. Lalu, kenapa kau sampai mau menikah dengan pria botak seperti dia?” tanya seorang wanita yang sedang menghadiri pernikahan temannya.
“Pria tampan itu kadang tak pintar. Sedangkan dia, memang tidak tampan tapi dia pintar,” bisik mempelai wanita.
“Lalu bagaimana halnya dengan pria yang tampan, baik dan pintar?”
“Ah, sudahlah! Kau coba saja cari dan menikahlah dengannya.”
Ya Allah, berikan aku jodoh yang seperti Virat ya Allah, doaku dalam hati ketika tokoh utamanya nongol. Hehe.

***
Ketika makan siang bersama…
“Loh nggak nambah Fi?”
“Nggak enak kalau nggak ada Pak Uwo. Nggak lemak nian (baca: Enak banget).”
Setelah anak-anak selesai makan duluan, tinggallah aku dan mami di dapur dan mulailah aku bercerita kepadanya tentang ‘kenyataan seleksi KPN’ kemarin.
“Masak nasi 3 canting, piring-piring ini ditaruk ke tempatnya, makanan ditutup,” pinta mami sambil berlalu setelah makan siangnya selesai.
“Mami ni haa! El belum selesai cerita lagi!”
“Habisnya kelamaan ceritanya. Orang udah mau pindah tempat dah,” jawab mami santai. Ini bukan yang pertama kali pemirsaaa, mami sering bilang aku lambat banget kalau cerita. Tapi, menurutku udah cepet loh. *kepriben iki?”
“Memang ceritanya panjang kok.”
Setelah perintah mami ku laksanakan, aku mengejarnya ke kamar depan untuk melanjutkan cerita. Aku nggak mau tahu pokoknya mami harus dengarkan ceritaku sampai selesai! Titik. Nggak pake koma atau tanda seru.
“…kalau udah rusak nanti harganya Rp 150.000 tuh! HP tu bisa lebih awet kalau nggak dipake main game. Ini maiiiiin game terusss. Untungnya itu HP Bapak, kalau sempat HPku, nggak akan ku pinjamkan ke kalian untuk main game gitu.”
Nilam diam aja di sudut kamar. Tangan kanannya memang VIVO, tapi Jemarinya tak bergerak. Tak salah lagi, Nilam pasti baru dimarah gara-gara main game di HP papi.
“Lah itu Mami mau main game juga?” tanyaku.
“Ini udah jelas laptop rusak,” jawab mami singkat dan meneruskan main Zumanya.
“Kalau nggak ada kerjaan, mending baca buku sana. Ngaji kek, emangnya udah benar kali bacaanmu? Banyak lagi yang harus dipelajari sama kalian yang sekolah tu, bukan hanya pelajaran di sekolah aja. Jangan main game aja fikirannya.”
Aku pun ikut tersindir juga. Sudah beberapa hari ini tulisanku di blog nggak kelar. Memang, aku selalu menyangkutkan beberapa kalimat di laptop. Tapi, itu kan sama aja menumpuk pekerjaan karena menunda menyelesaikannya. Harusnya, sakitku ini ku manfaatkan untuk menulis. Hemm, tapi mau bagaimana lagi kalau nyatanya kemarin perutku emang sakit banget dan akhirnya banyakin tidur?
Aku membawa laptop, HP dan Hardisk-ku ke ruang tamu. Supaya lebih tenang. Tapi, mood nulis belum terkumpul nih! Nonton Comic Story dulu ah!
Alfi mendekat dan ikutan nonton. “Heh, belajar sanah! Jangan ikut-ikutan,” pintaku sambil membuka file word untuk mengalihkan perhatiannya.
“Alaaah, Mbak Ela ini haaa. Pelittt,” kata Alfi sambil pergi.
Berikutnya, Moza pula yang datang. Tapi, kalau Moza ku sambut dan ku pangku. Soalnya, dia pun pasti nggak ngerti dengan tontonanku ini dan cuma bentar aja ke sini.
Dari ruang tamu, aku berpindah ke ruang keluarga karena merasa gerah. Kebetulan, kipas angin di ruang keluarga sedang menyala. Aku mengetikkan beberapa kalimat, hampir satu halaman dan lalu merasa butuh break lagi. Akhirnya ku putar film Malam Minggu Miko. Eh, sekarang giliran Salsa yang mendekat.
“Mbak Ela ni haa, jahat tadi sama Alfi!” gerutu Salsa.
“Jahat kenapa?”
“Tadi dia nggak boleh nonton, tapi waktu Moza datang malah dibolehin.”
“Alffiii?” teriakku
“Nggak mauu! Nanti diusir lagiii,” sahutnya dari dalam kamar. Aku tergelak jadinya.
Nyaris aja aku tertidur sempurna karena membiarkan Salsa menonton beberapa episode Malam Minggu Miko. Eh, pas aku terbangun, ternyata Alfi udah ikutan nonton.
“Setelah yang satu ini udah ya Sal,” pintaku kepada Salsa. Setelah itu, aku langsung mengambil alih laptop dan mengetik dengan semangat sebagai pengganti penyesalan ketidakproduktifanku.

***
“El, Magnum kalau dibawa pulang, kira-kira bisa nggak ya? Mengecil nggak dia?”
“Dari Tanah Merah Mi? ya nggak apa-apa. Paling-paling mencair dikit.”
“Rencananya mau dibawa pulang terus dimasukkan kulkas.”
“Emang Mami mau beli berapa banyak Magnum? Kok pake dimasukkan kulkas segala?” tanyaku.
“1 aja. Buatku sendiri,” jawab mami.
“Aiih? Parah ko! Yuklah Mi kita beli Magnum sekarang yuk?”
“Lah lah lah? Kami yang berencana, koe pula yang ngajak-ngajak? Nilam ni haa, sedang ngumpulin recehan katanya.”
“Alaheek, Mi?” sela Nilam yang sedang nemenin mami main Zuma.
“Eh, makhluk-makhluk luar angkasa itu sedang ngapain?”
“Sedang ngotak-ngatik sepeda kayaknya,” jawab Nilam.
“Oiy? Nggak usahlah mikirin keluyuran yaa! Sepeda itu rusak supaya kalian tenang di rumah. Ngelayap (baca: Ngeluyur) aja yang difikirin!” seru mami dari kamar kepada anak-anak. Suara berisik bola-bola Zuma kembali mencuri perhatian dan konsentrasinya.
Setelah sholat Ashar, mami menyudahi main Zummanya.
“Ehh, CD ini pada ke mana ya?” tanya mami.
“Buat apa CD Mi? Mau nonton apa?”
Ngomong-ngomong tentang CD, satu-satunya CD yang bisa membuatku keringat dingin, jantungku berdegub cepat dan badanku melemah adalah CD tentang Kekuasaan Allah plus siksa kubur. CD itu sempat booming di daerah sini waktu aku kelas 3 SMP. Aku, Nilam dan Salsa diajak nonton itu di rumahnya Mbak Nanik pada suatu siang yang terik. Tapi, terik itu seakaan mengendap seluruhnya di dalam tubuhku setelah aku menyaksikan CD itu. Sungguh, aku benar-benar takut. Waktu mami menyebut CD barusan pun mendadak aku jadi parno, jangan sampai mami mutar film yang aneh-aneh.
“Mi, untuk apa sih nyariin CD tadi? Apa kaset-kaset itu mau dijual atau gimana?” tanyaku kepada mami di kamar.
“Apalah Mbak Ela ni? Nggak nyambung!” tanya Nilam.
“Loh kenapa?”
“CD itu Celana Dalam maksudnya loh Mbak. Nggak nyambung kali pun!”
“Hhahhaa… iya ya Mi? haha.”
“Tegolak? (baca: Ketawa).”
“Emangnya celana dalam Mami pada ke mana semua? Hahah, paling-paling El salah masukkan ke lemari Nilam tuuu kemarin. Hihiihii.”

Mami menelvon papi di kamar untuk menanyakan dimana kwitansi pencucian foto di CCL kemarin. Nilam dan aku ikutan ngomong sama papi.
“Pi, kapan pulang?” tanyaku.
“Haaa, lebaran lah,” jawab papi, melawak.
“Pi, El udah nggak ada mencret lagi.”
“Mantap?”
“Tapi, kentut El bauuuk kali loh!”
Lalu, aku benar-benar terkentut lalu Mami dan Nilam benar-benar kabur semua dari kamar.
“Baru aja El bilang Pi, orang pada kabur semua dah! Hahha.”
“Hiihh, sampek sini bauknya. Preeet!!!”
Aku ikut-ikutan ke luar dari kamar dan duduk di dekat kipas angin.
“Malah ikut ke luar pula. Bauk pula nanti lagi,” kata mami.
Setelah telvon ku serahkan kepada mami, aku melanjutkan mengetik lagi.
“Eh, kirain ntah siapa tadi kresek-kresek. Ternyata kambing! Heeh kambinggg.. pergiii kauuuuuuuuu saannaaaaaaaaaa,” pekikku kepada kambing yang sedang memakan rumput di samping rumah.
“Alahek Mbak? Masak gitu ngusir kambingnya?” Salsa keheranan.
“Dia itu heran El, kayaknya ada yang bauk kambing juga di dalam rumah ini. Jadi, dia mau lihat kawannya,” ejek mami kepadaku.
Melihat keromantisan mami dan papi, aku jadi berdoa, Ya Allah, hamba ingin menikah diwaktu yang tepat menurut-Mu. Dan, pastikan saat itu tidak ada keraguan dan aku tidak punya alasan atau keinginan untuk menolak imamku itu. Aamiin. Karena sesungguhnya, aku takut merasa lelah dengan keraguanku sendiri.

***
Sejak sholat Ashar tadi hingga sholat Isya, Alfi berangkat ke mushola sendirian dengan menggunakan motor. Nggak mungkin kan gara-gara papi mandah, lalu Alfi nggak pernah ke mushola lagi?
Okta menelvonku ketika aku baru saja mulai mengetik lagi. Ada seseorang yang ku tunjukkan kepadanya dari FB dan aku ingin Okta menilai dirinya seperti apa. Aku merekam semua obrolan itu dari HP sehingga setelah selesai, aku bisa memperdengarkannya kepada mami dan Nilam.
Dia itu adalah orang yang suka menetap di satu titik untuk waktu yang sangat lama. Dia bukan orang yang pembosan. Dia adalah orang yang suka mengklarifikasi. Dia menyukai kakak karena satu hal yang udah lamaa banget. Dia benar-benar menyayangi seseorang dalam waktu yang lama bahkan sampai penghabisan. Dia berusaha mencari tahu tentang kakak, tentang keluarga kakak, tentang adik-adik kakak, meskipun kakak nggak tahu itu.
Setidaknya itu yang berhasil ku ingat dari obrolan panjangku dengan Okta yang banyak diselingin dengan candaan konyolnya. Mami sempat beberapa kali terbahak-bahak mendengar ceplas-ceplos dan asbunnya Okta itu. Nilam? Kalau Nilam, ada beberapa kali nggak terima ketika Okta mengatakan hal jelek tentang sosok itu.
“Al, Al, gonceng Mak Uwo cepet! Malah unak-unuk pula (baca: gaya berjalan seperti orang culun),” pinta mami ketika Alfi baru saja pulang dari sholat Isya.
Mami dan Alfi pergi untuk membeli Mie Ayam tak jauh dari sini. Kata mami sih enak, mari kita cek benar atau benar?
“Mbak, lantaklah baterai kamera Mbak Ela habiss!” kata Nilam.
“Kenapa emangnya?”
“Biasanya Mbak Ela kalau makan selalu moto-moto.”
Aku nggak nyangka pemirsaa, Nilam ingat dengan kebiasaan alayku itu.
“La jadi? Kan bisa dicas sekarang. Itu casnya kan?”
“Sekarang?!” kata Nilam sambil melirik malas. Seolah mengartikan usahaku sia-sia jika waktunya sesempit ini.

15 menit kemudian, mami dan Alfi pulang.
“Mana tea jusnya nii? Pasti belum dibikin. Apa kerja kalian dari tadi?” tanya mami.
“Lah? Ela kira Mami cuma bercanda tadi. Eheh.”
“Apalah Mbak Ela ni, serius na itu Mbak,” kata Salsa.
Aku menumpahkan 6 bungkus Mie Ayam itu ke dalam masing-masing mangkok. Sementara mami menyiapkan es teh.
“Yaahh, pecah pula batu gilingannya. Nggak bisa nggiling lagi deh,” kata mami.
Aku melihat ke arah batu gilirannya, benar saja sudah cuil sebagian karena pecah. “Yah Mii, itu batu giling bersejarah loh. Sejak El kecil kan?”
Bersanding dengan es teh, kami menyantap dengan nikmat Mie Ayam ini. Mienya agak gede emang, tapi cocoklah dengan gede irisan ayamnya.
“Mami nggak pake nasi Mi?” tanyaku.
Mami meraih nasi dari samping Nilam dan menyantapnya bersama tumis mentok.
“Loh? Mami nggak mau lagi Mie Ayamnya?” tanyaku.
“Nggak. Agak muak rasanya.”
“Loh? Yakin ni Mi?” tanyaku sambil menarik mangkok mami. Mami mengangguk. Aku segera bagi 2 dengan Nilam.
Selain mami, semuanya terus saja menyantap dengan nikmat. Terakhir, tinggal moza yang belum selesai juga makannya. Udah sejak tadi aku meminta sawinya, tapi barusan aja dia bersedia ngasih.
“Bu, minta sedekahnya Buuukk?” aku memelas kepada Moza supaya kebagian ayamnya.
Moza lalu melemparkan tulang ke mangkokku. Aku langsung mencaploknya.
“Ih, congok kalilah Mbak Ela nii. Padahal itu tulang naa Mbakk.”
Bagimu tulang, tapi bagimu ini anugerah, gumamku di hati.
Nilam malah ikut-ikutan juga. “Bu, bagi sedekahnya donk Buuukkk,” kata Nilam sambil mendekatkan mangkoknya kepada Moza melebihiku.
“Buk, sama saya ajalah Buuukk?” pintaku, tak mau kalah dengan Nilam.
Dengan polosnya, Moza mengulum ayam ke dalam mulutnya lalu mengelurkannya lagi dan menyuir-nyuirnya dengan adil ke dalam mangkokku dan mangkok Nilam. Hheeee *jorkii. Untuk Salsa dan Alfi nggak tertarik mengikuti langkah kami ini. ehhe.
“Jangan cuma ayamnya donk Bukk, kuahnya juga donk..hehe.”
Moza pun membagikan kuahnya beberapa sendok kepadaku dan kepada Nilam.
“Alhamdulillah ya Allah, makasih ya Allah,” kataku, kayak orang yang baru menang undian aja.
Kami berhasil menggerogoti porsinya Moza hingga suapan terakhirnya itu. hehe, yah daripada dia makannya nggak bersih kan? Mending kami bersihiin. Hehe.
“Jangan lupa nasi dicolokkan Mbak. Tadi pagi aku kena marah sama Ummi gara-gara semalam Mbak Ela bilang nasinya nggak usah dicolokkan. Ummi bilang, ‘Ngapainlah koe dengarkan kata-kata Mbak Ela tu?’ Alahekk Mbak, jangan sampek lupa lagi ya.”
“Yuhuu Ciin.”
Semua orang udah bubar dan kini giliran aku mencuci piring.
“Keleeppiii?” teriakku sambil menyabuni piring-piring kotor ini.
Alfi datang dengan wajah malas, “Pasti aku disuruh bilasin lagi kan? Males naa Mbaak Elaa. Salsa kan ada. Aku laki-lakiii, masa nyuci piring kayak cewek sih?”
“Heh, emangnya Alfi lupa siapa yang udah njemput Alfi pagi-pagi dari loket bus kemarin?” aku mulai menggunakan ancaman.
“Itu bukan Mbak Ela. Mbak Ela kan nggak pake jilbab kayak sekarang, yang itu pake jilbab, jadi bukan Mbak Elaa tuu.”
“La jadi siapa? Kodok?”
Sekalipun malas, Alfi tetap membilas piring-piring yang udah ku sabuni itu. Sementara aku menyapu dan merapikan dapur. Aku pun berhasil membuat Alfi dan Moza sikat gigi malam ini sebelum tidur. Alhamdulillah. Sempat ku bilang ke Alfi tadi, “Kalau besok koe sakit gigi, ingat ya kalau Mbak Ela pernah ngasih tahu untuk sikat gigi tapi koenya bandel,” sebagai peringatan keras untuk Alfi.


***
“Mami mau tidur di mana? Di kamar?” tanyaku.
“Iyaaa.”
“El tidur sama Mami kalau gitu.”
Lalu aku mapan duluan ke kamar mami sambil dengerin lagu Selimut Tetangga. Ini adalah lagu yang berkesan ketika KKN dulu. Kiting, alis Faiz, alias Faisal suka banget dengan lagu itu. Dia di KKN adalah anak bungsuku. Ehhe.
“Kalau tetangga punya banyak selimut dan selimut yang ktia jemur belum kering, bisa juga kan kita pinjam? Hangat juga jadinya,” mami mencoba bercanda sambil nyariin nyamuk pake raket elektrik.
“Hahhaa… iya juga ya Mi. Bener tuh!”
Setelah nyariin nyamuk, aku dengar mami membentangkan tikar di ruang keluarga. Ah, aku jadi curiga. Kayaknya ada yang ngak beres nih!
“Mamiiiii?”
“Oiik?”
“Tidur di mana nyaaa?”
“Di sinii.”
“Laahhh? Katanya mau tidur di siniiii…”
“Nggak jadi ah. Males sekamar sama koe, bauk apeekk!” jawab mami.
Aku segera ke luar kamar dan merebah di samping mami.

“Nah, kalau udah kayak gini apa bedanya Mi di kamar atau di luar?” tanyaku sambil memeluk mami.
Aku tidur dengan posisi miring ke kanan. Tiba-tiba aku berfikir tentang bagaimana posisi mayat di dalam kubur; persis seperti posisiku sekarang. Lalu, aku membayangkan bagaimana rasanya jika saat ini tubuhku berbalut kain kafan dan sendirian dalam kegelapan. Air mata tiba-tiba menganak.

Tidak ada komentar: