Aku bahagiaaaaaaa banget hari ini. *tanyaklah kenapa? Hehe.
Karena, aku nggak tidur lagi setelah sholat Subuhhh *1 senyum untuk
keberhasilan ini. Aku dan Rini sempat tertidur setelah sahur dan baru terbangun
pukul 05.30wib. Setelah sholat Subuh, Rini mengaji sementara aku berinisiatif
untuk segera membersihkan kamar.
Aku menunrunkan satu per satu bantal, melepas sprei dari
tempat tidurku yang semalam penuh kulit jeruk dan bijinya. *hisss,, jorki.
Tapi, semalam aku nggak tidur di situ. *jadi tidur di mana El emangnya? Aku
tidur di lantai, hanya beralaskan selimut, kipas angin menyala sedangkan aku
sendiri nggak pakai selimut. Biasalah, keanehanku sedang kambuh. Niatnya sih
supaya ketika alarm berbunyi, aku mudah terbangun karena tidurku tidak nyaman.
Eh, ternyata prediksiku masih meleset; aku bahkan tetap nyenyak meskipun tidur
di lantai kayak gitu. Hiksss.
Kamu adalah
bagaimana caramu menggunakan waktu.
Aku mendapat inspirasi untuk menuliskan quotes itu di HP dan
mengirimkannya ke beberapa orang; Teguh, Novi, Romi, Lia, Okta. Semoga bisa
menginspirasi pagi mereka pula.
Setelah kamar rapi, Rini berkomentar, “Hemmm…rapinyaaa.
Tumben?” Aku hanya tersenyum aja. Menumbenkan hal baik kan nggak apa-apa
ya? Yang ku lakukan selanjutnya adalah
nulis, melengkapi beberapa cerita kemarin yang masih terhutang. Ntah memang
seperti inilah suasana pagi selama ini, atau pengaruh kipas angin yang masih
menyala atau hari ini memang lebih sejuk dari biasanya, ntahlah. Yang jelas, aku
benar-benar merasa udara pagi ini sejuk sekali.
Abang nggak mau tahu,
Elis pokoknya harus datang ke SMP Abang pagi ini. Abang tunggu..
Iya bang, jawabku di dalam hati. Ini masih
pukul 07.35wib. Aku kembali melanjutkan ketikan jemari. Ah, andai saja sejak
kemarin aku seperti ini. Tentu akan lebih banyak lagi pekerjaan yang bisa ku
selesaikan. *maaf ya Allah.
“Rin, ustad
yang cerama kemarin malam tu bicara tentang apa ya?” tanyaku atas kelupaanku.
“Itu,
tentang polisi tidur.”
“Ohh ya,
ya. Aku ingat. Itu ngomongin tentang manfaat puasa untuk membentuk kejujuran
kan?”
Rini
manggut-manggut. Lalu, kami tenggelam ke dalam kesibukan masing-masing.
***
Pukul
08.09wib, bang Hendra menelvonku untuk segera datang. Aku bergegas
menyelesaikan postingan terakhir untuk hari kemarin dan bergegas bersiap-siap.
Rini katanya mau nebeng, aku suruh juga dia cepet-cepet bersiapnya.
“El, nggak
dialas lagi motornya tu?” teriak kak Dewi dari dalam kamar. Sebelumnya, aku
sudah berfirasat akan diteriaki seperti ini,
Hemm…kalau dengar suaraku ngeluarin motor, pasti bakal ada komentar nih.
Dan, ternyata benar.
Ah, ini
pertanyaan klasik. Kadang, aku nggak suka dan bosan juga diingatkan terus
menerus. Toh, walaupun oli motroku menetes, setiap pagi sebelum pergi pun
selalu ku bersihkan bekasnya.
“Iya Kak,
lupa semalam,” jawabku tegas. “Rin, tolongin dunkkk?” aku memberi isyarat
kepada Rini.
Setelah
motor dipanaskan, kami melaju.
“El,
pelan-pelan woy! Aku sedang masang tali sepatu ini.”
Rini minta
disinggahi sebentar di tempat fotokopian. Aku memintanya supaya gesit karena
aku segan dengan bang Hendra yang takutnya menungguku lama.
“Mungkin
ini agak lama karena agak banyak yang diprin El. El nulis aja dulu, daripada
waktu El terbuang nanti.”
“Baru aja
aku mau bilang kayak gitu. Ehhe.”
“Syudah ku
duga.”
Dari tempat
fotokopian, Rini minta disinggahi di dekat parkiran FISIP. Setelah itu, aku
langsung melaju ke SMP Madani di Bangau Sakti. Sesampainya di sana, aku melihat
anak-anak SMP itu sedang gotong royong, bersih-bersih sampai di luar pagar
sekolah.
“Ustad
Hendranya mana?” tanyaku kepada salah satu murid, setelah aku celingukan dan
nggak menemukan sosok bang Hendra.
“Di kantor
nggak Kak?”
“Tolong
donk panggilin ustad Hendranya Dek?” pintaku.
Bang Hendra
nongol dengan pandangan awas terhadap pekerjaan anak-anaknya ini.
“Yang ini
kok belum dibersihkan Nak? Tolong dipel dulu yang ini. Teras-teras kelas juga
belum bersih tu.”
Aku melihat
bang Hendra menghimbau muridnya untuk segera menyelesaikan bersih-besih. Dia
tidak segera menghampiriku yang pasti sudah ia lihat sedang menunggunya. Aku nggak
masalah sih, soalnya ini adalah jam tugasnya sebagai guru di sini.
“Lia, maaf
ya Lis. Tunggu sebentar dulu,” pinta bang Hendra ketika melintas di depanku.
“Iya Bang,
nggak apa-apa. Abang apakabar?”
“Alhamdulillah
sehat. Masuk ke dalam aja Lis,” bang Hendra menunjuk ke dalam kantor kepala
sekolah.
Aku
menurut, segera masuk dan ternyata ada kakak yang kemarin dinner bareng aku
waktu gladi resik untuk acara Madani Award. Tapi, aku lupa namanya. Hehe. Aku
menyalaminya yang sedang menelvon. Aku melanjutkan ketikanku di posisi yang
lebih pewe; di atas meja dan kursi plastik.
“Kak,
anak-anak kapan liburnya Kak?”
“Ini baru
aja masuk setelah liburan semester genap. Makanya gotong-royong.”
“Ohhh..gituu
toh. Terus, liburnya kapan Kak?”
“Masih lama
Lis, soalnya mereka ada Itikaf juga nanti. Pas hari terakhir itu barulah
libur.”
“Gimana
keliling-kelilingnya Lis?” tanya si kakak.
“Keliling
ke mana Kak?”
“Loh yang
KPN kemarin itu gimana?” aku jadi teringat lagi dengan fragmen perjuangan itu.
Harapanku begitu tinggi sementara kenyataannya hasil tak sama tinggi.
“Ngga lolos
Kak,” jawabku dengan ekspresi memelas.
“Loh? Kata
ustad Hendra lolos kemarin.”
“Sayangnya
tidak Kak. Hemm..nggak rezekinya di sana Kak.”
***



Tidak ada komentar:
Posting Komentar