Senin, 06 Juli 2015

Ramadhan ke-19; The Have & The Have No

Aku bahagiaaaaaaa banget hari ini. *tanyaklah kenapa? Hehe. Karena, aku nggak tidur lagi setelah sholat Subuhhh *1 senyum untuk keberhasilan ini. Aku dan Rini sempat tertidur setelah sahur dan baru terbangun pukul 05.30wib. Setelah sholat Subuh, Rini mengaji sementara aku berinisiatif untuk segera membersihkan kamar.
Aku menunrunkan satu per satu bantal, melepas sprei dari tempat tidurku yang semalam penuh kulit jeruk dan bijinya. *hisss,, jorki. Tapi, semalam aku nggak tidur di situ. *jadi tidur di mana El emangnya? Aku tidur di lantai, hanya beralaskan selimut, kipas angin menyala sedangkan aku sendiri nggak pakai selimut. Biasalah, keanehanku sedang kambuh. Niatnya sih supaya ketika alarm berbunyi, aku mudah terbangun karena tidurku tidak nyaman. Eh, ternyata prediksiku masih meleset; aku bahkan tetap nyenyak meskipun tidur di lantai kayak gitu. Hiksss.
Kamu adalah bagaimana caramu menggunakan waktu.
Aku mendapat inspirasi untuk menuliskan quotes itu di HP dan mengirimkannya ke beberapa orang; Teguh, Novi, Romi, Lia, Okta. Semoga bisa menginspirasi pagi mereka pula.

Setelah kamar rapi, Rini berkomentar, “Hemmm…rapinyaaa. Tumben?” Aku hanya tersenyum aja. Menumbenkan hal baik kan nggak apa-apa ya?  Yang ku lakukan selanjutnya adalah nulis, melengkapi beberapa cerita kemarin yang masih terhutang. Ntah memang seperti inilah suasana pagi selama ini, atau pengaruh kipas angin yang masih menyala atau hari ini memang lebih sejuk dari biasanya, ntahlah. Yang jelas, aku benar-benar merasa udara pagi ini sejuk sekali.
Abang nggak mau tahu, Elis pokoknya harus datang ke SMP Abang pagi ini. Abang tunggu..
Iya bang, jawabku di dalam hati. Ini masih pukul 07.35wib. Aku kembali melanjutkan ketikan jemari. Ah, andai saja sejak kemarin aku seperti ini. Tentu akan lebih banyak lagi pekerjaan yang bisa ku selesaikan. *maaf ya Allah.
“Rin, ustad yang cerama kemarin malam tu bicara tentang apa ya?” tanyaku atas kelupaanku.
“Itu, tentang polisi tidur.”
“Ohh ya, ya. Aku ingat. Itu ngomongin tentang manfaat puasa untuk membentuk kejujuran kan?”
Rini manggut-manggut. Lalu, kami tenggelam ke dalam kesibukan masing-masing.

***
Pukul 08.09wib, bang Hendra menelvonku untuk segera datang. Aku bergegas menyelesaikan postingan terakhir untuk hari kemarin dan bergegas bersiap-siap. Rini katanya mau nebeng, aku suruh juga dia cepet-cepet bersiapnya.
“El, nggak dialas lagi motornya tu?” teriak kak Dewi dari dalam kamar. Sebelumnya, aku sudah berfirasat akan diteriaki seperti ini, Hemm…kalau dengar suaraku ngeluarin motor, pasti bakal ada komentar nih. Dan, ternyata benar.
Ah, ini pertanyaan klasik. Kadang, aku nggak suka dan bosan juga diingatkan terus menerus. Toh, walaupun oli motroku menetes, setiap pagi sebelum pergi pun selalu ku bersihkan bekasnya.
“Iya Kak, lupa semalam,” jawabku tegas. “Rin, tolongin dunkkk?” aku memberi isyarat kepada Rini.
Setelah motor dipanaskan, kami melaju.
“El, pelan-pelan woy! Aku sedang masang tali sepatu ini.”
Rini minta disinggahi sebentar di tempat fotokopian. Aku memintanya supaya gesit karena aku segan dengan bang Hendra yang takutnya menungguku lama.

“Mungkin ini agak lama karena agak banyak yang diprin El. El nulis aja dulu, daripada waktu El terbuang nanti.”
“Baru aja aku mau bilang kayak gitu. Ehhe.”
“Syudah ku duga.”
Dari tempat fotokopian, Rini minta disinggahi di dekat parkiran FISIP. Setelah itu, aku langsung melaju ke SMP Madani di Bangau Sakti. Sesampainya di sana, aku melihat anak-anak SMP itu sedang gotong royong, bersih-bersih sampai di luar pagar sekolah.
“Ustad Hendranya mana?” tanyaku kepada salah satu murid, setelah aku celingukan dan nggak menemukan sosok bang Hendra.
“Di kantor nggak Kak?”
“Tolong donk panggilin ustad Hendranya Dek?” pintaku.
Bang Hendra nongol dengan pandangan awas terhadap pekerjaan anak-anaknya ini.
“Yang ini kok belum dibersihkan Nak? Tolong dipel dulu yang ini. Teras-teras kelas juga belum bersih tu.”
Aku melihat bang Hendra menghimbau muridnya untuk segera menyelesaikan bersih-besih. Dia tidak segera menghampiriku yang pasti sudah ia lihat sedang menunggunya. Aku nggak masalah sih, soalnya ini adalah jam tugasnya sebagai guru di sini.
“Lia, maaf ya Lis. Tunggu sebentar dulu,” pinta bang Hendra ketika melintas di depanku.
“Iya Bang, nggak apa-apa. Abang apakabar?”
“Alhamdulillah sehat. Masuk ke dalam aja Lis,” bang Hendra menunjuk ke dalam kantor kepala sekolah.
Aku menurut, segera masuk dan ternyata ada kakak yang kemarin dinner bareng aku waktu gladi resik untuk acara Madani Award. Tapi, aku lupa namanya. Hehe. Aku menyalaminya yang sedang menelvon. Aku melanjutkan ketikanku di posisi yang lebih pewe; di atas meja dan kursi plastik.
“Kak, anak-anak kapan liburnya Kak?”
“Ini baru aja masuk setelah liburan semester genap. Makanya gotong-royong.”
“Ohhh..gituu toh. Terus, liburnya kapan Kak?”
“Masih lama Lis, soalnya mereka ada Itikaf juga nanti. Pas hari terakhir itu barulah libur.”
“Gimana keliling-kelilingnya Lis?” tanya si kakak.
“Keliling ke mana Kak?”
“Loh yang KPN kemarin itu gimana?” aku jadi teringat lagi dengan fragmen perjuangan itu. Harapanku begitu tinggi sementara kenyataannya hasil tak sama tinggi.
“Ngga lolos Kak,” jawabku dengan ekspresi memelas.
“Loh? Kata ustad Hendra lolos kemarin.”
“Sayangnya tidak Kak. Hemm..nggak rezekinya di sana Kak.”

***

Tidak ada komentar: