“Mbak Elaaa…cepetlah banguuun! Bantuin Ummi di dapur tu,”
pinta Nilam.
Aku teringat doaku semalam, Ya Allah ringankan aku untuk terbangun esok pagi dan ingatkan aku untuk
lebih banyak mengaji dan lebih banyak menulis, maka aku segera bangun
meskipun sudah pasti ini bukan lagi waktu senggang untuk mewujudkan itu semua.
“Masak apa Mi?” aku melongok ke dalam kuali yang berisi
tumisan kol, kacang panjang dan tempe yang diiris kecil-kecil itu.
Segera ku siapkan nasi, air minum dan lauk ke tengah ruang
makan. Setelah sayur matang, kami segera menyantapnya dengan nikmat dan hangat.
Ekor yang semalam disisihkan oleh mami akhirnya dinikmati juga oleh para
pecinta ekor ini. eheheh.
“Fi, omongan orang di sini pada aneh-aneh kan? Banyak bilang
‘la jadi?’nya gitu kan?”
“Mana pula, koe tok ngono loh (mana pula, kamu sendiri aja
pun),” kata mami.
“Nggak ah, cuma Mbak Ela aja,” jawab Alfi.
“La jadi Fi?”
“Udahlah Mbak, pekak telingaku dengar Mbak Ela ngomong ‘La
jadi?’ terus,” pinta Alfi sambil belagak nutup telinga dengan telunjuk kirinya.
“Weh, ada rampok laaah,” sahut Papi.
“Nggak ada orang kok Pi. Sepi kali.”
“Cuma orang anehlah yang bisa tidur nyenyak di atas rumput
gitu,” sahut mami pula.
“Hhaha. El lah orangnya Mi. La jadi?
Setelah santap sahur selesai…
“Ah, El tahajud dulu ya, masih sempat nih kan?” kataku
sambil melengos pergi ke toilet. “2 rakaat pun jadiiilah.”
Setelah Tahajud, aku menunggu azan Subuh dengan mengaji
beberapa halaman. Hal yang selama beberapa tahun ini aku kagumi sekaligus
syukuri adalah kegigihan papi dalam
menghafal Al-Quran. Kali ini papi sedang melakukannya di sebelahku. Ia
mengulang kalimat demi kalimat dari Juz Amma itu sambil sesekali mengintipnya
kembali. Ah, kalau tentang irama, sejak dulu papi memang udah bagus ngajinya. Papi aja rajin banget ngafal, masa El malas
sih ya Allah? Hiksss…
Setelah papi dan Alfi pergi ke mushola, giliran aku dan
pasukan cewek sholat Subuh.
“Eh, cepet-cepet kita pura-pura tidur lagi. Biar Abi kira
kita belum pada sholat!” teriak mami ketika suara motor papi terdengar
mendekat.
Dalam hitungan detik, kami sudah kembali ke posisi sebelum
papi berangkat ke mushola tadi.
“Mi, Mi, banguunn. Sholat Subuh kita lagi Miiii,” aku
belagak memanggil mami dengan malas, sambil tetap menutup mata. Ku intip
bagaimanan respon papi, tapi ternyata dia biasa aja.
“Heh, heh, heh, sholat dulu. Tidur aja.”
Aku akhirnya mendengar papi berkata seperti itu ketika aku
hampir terlelap. Heemm, berhasil juga
ngerjain papi, kataku di dalam hati. Dan, seterusnya aku nggak tahu lagi
apa yang terjadi karena aku benar-benar terlelap jadinya.
***
“Kan, ini gara-gara ngerjain Papi tadi. El baru bangun jam
segini!”
Kataku ketika mami lewat di depanku.
“Ngerjain apo koo?” kata mami.
“Ngerjain kalau kita belum sholat Subuh tadi tuu,” jawabku
lagi.
Aku terjaga ketika ku rasakan punggungku basah oleh keringat
dan cahaya sudah sangat terang.
“Jam berapa ni Pi?” tanyaku kepada papi yang duduk di sofa.
“Jam setengah Sembilan.”
Beuhhhh! Lagi-lagi aku zholim terhadap waktu. Huaaahhh, aku
pernah bilang gini ke Lia, “Cin, aku paling suka dengan suasana Subuh. Tapi,
aku sering berkhianat dengan kecintaanku itu karena sering tidur di waktu
Subuh. Hiksss.” Dan, sampai saat ini pun aku masih terus berkhianat; mengaku cinta,
tapi malah menutup mata.
“Ya udah, ke pasar aja Buk. Nggak rame kok! Kalau besok,
mungkin rame karena pasar terakhir sebelum lebaran kan?”
Aku mendengar mami ngobrol dengan ibu-ibu di dapur. Biar ku
tebak, mungkin itu bu Suryati, yang ngasih kami si ganteng berbulu kuning dulu
dan sekarang udah dibuang karena kebuasannya makan anak ayam orang. hiksss.
“Yo wesslah Bu. Ke pasarlah sekarang kalau gitu,” kata mami.
Lah? Bukannya sejak semalam aku memang udah berniat ikut
mami ke pasar? Tapi kok aku malah bangunnya jam segini sih? Hiksss. Badan
pegel-pegel jadinya dan males gerak aja bawaannya. Aku jadi teringat ketika
semalam sebelum tidur, Moza bilang gini, “Mbak, besok kita ke pasar yuk? Ikut
Ummi kita.” Lalu ku jawab, “Oh iya ya, besok kan hari rabu, ada pasar di Tanah
Merah. Ih, kamu kok baik sekali sih ngajak aku ke pasaaarr?”
“Loh? Nilam ke mana Pi?”
“Ikut Ummi ke Ennah (baca: Tanah Merah, dengan dialeknya
Moza kecil).”
Ternyata Nilam yang ikut mami. Hemm..ya udah deh, emang
rezekinya si sipit. Yang penting, mami nggak sendirian karena ada yang nemenin.
***
Setelah tahu di HP papi ada Onet, aku jadi keasyikan mainin itu terus. Tapi, kesalnya itu udah sampai di level 26, eh tiba-tiba dia ter-close dan nggak tersave riwayatnya. Huaahhh, sebel beut!
Setelah tahu di HP papi ada Onet, aku jadi keasyikan mainin itu terus. Tapi, kesalnya itu udah sampai di level 26, eh tiba-tiba dia ter-close dan nggak tersave riwayatnya. Huaahhh, sebel beut!
“Salsa, ini bajumu beresiin! Berserak kali,” pinta papi.
Sejak beberapa menit yang lalu, papi sibuk mencari sesuatu yang udah ku tanya
apa tapi ia nggak memberi tahu. Aku udah ada feeling nggak enak kalau ngelihat
papi bingung dan beres-beresin barang yang berserak karena kebingungannya itu.
“Dedek, ini disimpan ke tempatnya dulu!” teriak papi pula
kepada Moza yang sibuk ngebantuin aku main Onet.
Khawatir mangsa berikutnya adalah aku, maka aku segera
beranjak masuk ke dalam kamar dan beresin apa yang bisa diberesin. *Ceritanya,
biar kelihatan agak sibuk gitu. hehe.
“Salsa, nyapu!” pinta papi lagi.
Aku tetap diam di kamar, melengkapi tulisan sambil melihat
pekerjaan Salsa. Kayaknya lumayan bersih juga nih hasil penyapuannya.
Hemm..boleh juga nih buat nolongin eke yang semakin tua ini. uhuk, uhuk.
“Dedek ngapain?” tanyaku kepada Moza yang baru saja
menggelar kasur di samping kanan dipan.
“Mbak, tolong hidupkan koreknya ni,” pinta Moza kepadaku.
“Untuk apa emangnya ini?”
“Tenanglah dulu Mbak Ela. Aku punya kejutan untuk Mbak Ela.”
Ternyata, yang dinyalakannya adalah lilin dan lelehannya di
oleskan di keningku layaknya henna di film India. Tapi, bedanya ini bukan warna merah,
tapi warna hijau. Hehee. Barulah setelah itu, Moza membakar obat nyamuk. Aku
berfikir, Pinter juga ni bocah! Mau tidur
tapi dipersiapkan dulu segala sesuatunya, termasuk nyamuk yang sudah pasti
banyak banget dari bawah dipan. Emang anak pintar!
***
Pukul 11.00wib
“Mbak, mana filmnya? Katanya mau nonton film yang lucu
semalam,” tagih Salsa.
Aku menyetel Comic Story dan nonton bareng Salsa.
“Siapa namanya Sal katanya?”
“Babe Cabita,” jawab Salsa, datar, sambil terus mematut film
di depannya.
Tidak sampai setengah jam Salsa nonton, dia udah berbalik
posisi.
“Kenapa Sal? Katanya mau nonton?”
“Perutku senep (baca: sesak) loh Mbak.”
“Oh gituuu, y udah Cilicil bobok aja yaa.”
Setelah Salsa tidur, giliran aku yang nonton. Film yang aku
pilih kali ini adalah dari folder yang baru ku sadari milik Titin karena
berlabel Film Titin, Jangan Dihapus Ya
Mamake. Lagi-lagi film horor yang ku nyalakan, judulnya The Messenger. Awalnya aku fikir itu adalah film tentang
perjalanan Rosulullah karena judulnya sama-sama The Messenger yang artinya Penyampai Pesan. Ternyata isinya
berbeda.
Kenapa sih film-film horor itu selalu gelap-gelapan
suasananya? Diibaratkan kalau ada orang yang nggak tahu judulnya, nggak tahu
asal mulanya, tiba-tiba ngelihat kita sedang nonton tuh film, pasti dia udah
tahu kalau itu film horor. Nggak seru kan? Gampang banget ditebak sih. Coba deh
bikin yang terang-terangan, tapi ternyata isinya horor. Kan kece tuh! Hehe.
Selesai nontonnya jam 15.20wib. Udah jelas sebentar lagi
azan, tapi aku sempet-sempetnya tidur duyu. Sadarnya ketika mami bilang, “Hoy,
hoy bangun sholat Ashar. Mempeng (baca: doyan) kali kalau udah tidur nii.”
***
Menu masakah kali ini adalah gulai kol+Jipang dan tumis
Remis. Mami beli Remis sampai 3kg loh. Tapi, ya gitu deh, beratnya cuma di
cangkangnya doank. Mami niatin beli sebanyak itu pasti supaya awet sampai
sahur, jadinya nggak perlu 2 kali masak. Eheehe. El setujuu Mi!
Aku membantu mami mengiris-iris bawang dan menumis
kol+jipang sebelum dimasukkan santannya. Lalu menumis Remis dengan panduan mami
juga.
“Kasih tahu ya Mi apa yang mesti El lakuin ni. Soalnya kalau
urusan dapur ni El nggak pinter-pinter sejak dulu. La jadi? Hehe”
Sebenarnya, aku punya beberapa hal yang ingin ku ceritakan
kepada mami. Apa lagi kalau bukan tentang perasaan? Tapi, aku paling nggak bisa
kalau ceritaku terpotong-potong oleh kegiatan lain. Aku juga nggak bisa kalau
sedang cerita, tapi yang mendengarkanku sedang memikirkan hal lain. Akhirnya,
keinginan curhatku itu malah berubah jadi pernyataan yang ku rangkai berikut
ini;
“Mi, sebenarnya permasalahan tentang TEGA itu adalah cerita
lama ya! Kita kan sering kali dengar orang bilang, ‘Nggak nyangka dia tega
banget kayak gitu’ Tapi, sebenarnya itu adalah hal yang biasa aja ya Mi?
Soalnya semua orang pasti pernah mengalaminya. Nggak cocok rasanya kalau kita
berfikir bahwa KETEGAAN yang kita alami itu adalah yang TERPARAH. Jadi ya,
sesedih apapun kita tetap aja nggak sepantasnya kita terpuruk lama-lama di
sana.”
“Betul! Kasus tentang TEGA itu akan terus menerus berulang
sepanjang zaman kepada setiap orang. Mungkin hanya kasus dan waktunya saja yang
berbeda. Kalau dibilang kitalah yang paling sedih di dunia, tunggu dulu. Pasti
masih ada orang yang lebih parah lagi daripada kita nasibnya.”
Aku menelan nasehat mami itu sebagai penawar atas keluh
kesah yang ada di hati. Obrolan barusan adalah jawaban tanpa perlu mengungkap pertanyaan.
****
Pukul 17.16wib semua masakan sudah selesai dimasak. Aku
berfikir, Ini namanya kecepetan nggak sih
Mi? Rajin amat kita yak? Hehe. Barusan, mami dan Salsa ke SK6 untuk membeli
gorengan. Rencananya sih aku yang mau ikut, tapi kata mami, akunya lelet
makanya ditinggal aja. eheehe. Aku segera meraih laptop dan mulai melengkapi
lagi cerita hari ini sambil sesekali melirik TV.
“… jadi, anak-anak harus dikuatkan dengan pemahaman tentang
pengenalan terhadap Allah. Sehingga muncul kecintaan mereka kepada Allah dan
mereka akan taat dengan sendirinya karena rasa cinta tersebut. Jadi, ketika
sholat, anak akan melaksanakan sholat dengan kesadaran mereka sendiri, bukan
karena takut dimarahi orang tua.” Jelas bitnang tamu dalam acara KULTUM bersama
OSD dan Ummi Pipik.
“Intinya Pak, terserah anak-anak mau jadi apapun asalkan
pemahaman tauhidnya kuat dan mantap, begitu ya Pak?”
“Benar sekali Mbak,” jawab Bapak dari 11 orang anak itu.
Aku menyimak lebih lanjut obrolan tentang parenting dalam
acara TV tersebut. Dan, yang membuatku takjub adalah ketika diakhir acara, ke
11 anak tersebut bisa menyanyi lagu barat dengan pronounciation yang sangat
bagus. Wew, gimana ya cara ayah dan
ibunya bisa mendidik 11 orang anaknya itu tentang agama dan mencerdaskan mereka
dengan ilmu?
Ku lirik jam dan ternyata sudah pukul 18.12wib. Aku segera
menyiapkan teh es sebelum mami pulang dan mengomeliku karena
ketidakmengertianku dengan kerjaan dapur, hehe. Setelah itu, aku melanjutkan
mengetik di meja dapur.
“Lam, ambilin pisau dulu Lam!” pinta mami ketika baru saja
tiba.
“Mbak Ela ni main laptop aja, tolong Ummi napa?” pintanya
kepadaku.
“Heh, jangan salahin Mbak Ela ya. Tugas Mbak udah Mbak
laksanakan. Nilam kenapa rupanya yang ngambilin?” pintaku pula.
“Iya, cepetlah Lam. Ngapain pula nyuruh-nyuruh Mbak Ela tu?”
tegas mami yang ingin cepat.
2 menit menjelang azan Maghrib, semua orang udah ngumpul di
dapur, mengelilingi makanan.
“Wih, tinggal besok aja nih kita puasanyaaa,” kata papi.
“Berarti malam ini kita sholat Tarawih terakhir ya?” tanya
Salsa.
“Iya. La jadi? Kita mala mini sholat Tarawih berjamaah di
rumah aja napa Pi? Malam terakhir loh?” pintaku pula kepada papi.
“La jadi?” sahut Alfi.
“Mi? Dengar apa yang bersuara barusan?”
“Apa?” tanya mami.
“SI Alfi barusan bilang, ‘La jadi?’ katanya Mi.”
Azan berkumandang, kami segera menyerbu hidangan yang
memikat mata ini. Gorengan sebaskom yang udah dibeli mami tadi dalam seketika
tinggal beberapa saja. Kunyahan lahap
bergantian dengan tegukan nikmat para pemilik perut kosong kami.
***
“Mami yang jadi imamnya ya? La jadi?” pintaku sebagai sholat Tarawih
terakhir dalam ramadhan kali ini.
“Apo payah (baca: apa susahnya)?”
“Ya Allah, berarti tinggal besok aja kita puasanya kan Mi?
Ya Allah, semoga puasa Ela benar-benar bisa tuntas sebulan. Kalaupun besok
‘cuti’ setidaknya Ela cuma punya hutang sehari aja. Kalau tahun ini El
benar-benar tuntas puasanya, berarti El ketularan Rini karena tahun lalu Rini
yang tuntas Mi. hehhe, la jadi?”
“Kalau koe nggak puasa, berarti jaga rumah ya waktu kami
sholat idul fitri besok.”
“Aiii sodiih botul naaa,” jawabku dengan tak bersemangaat.
“Tapi, El berdoa semoga Allah memberikan El kesempatan juga untuk bisa juga
sholat idul fitri Mi. aamiin. Berarti tahun ini adalah tahun keajaiban.”
Setelah sholat Tarawih, biasanya mami memintaku gantian
menjadi imam sholat Witr. Tapi, malam ini mami tak menolak ketika aku minta
mami lagi yang menjadi imamnya. La jadi?
Usai sholat, papi dan Alfi belum juga pulang. Maka, aku,
mami dan Moza makan duluan karena Nilam dan Salsa sedang main kembang api di
teras.
“El, habiskan aja sekaligus ekor ikan ini!”
“Udah ngambil kepalanya El dah tadi Mi. TInggalin untuk Papi
ajalah Mi.”
“Nanggung. Kalau dihabisin sekarang, kita aja yang dapat
kalau gitu dan mereka nggak saling menanyakan.”
“Hemmm…ya udah deh kalau Mami maksa.”
“Maafkan aku, bukan aku tak sayang. Tapi, karena aku tidak
ingin menimbulkan kecemburuan,” mami mulai berpuisi.
Ketika aku sedang menyantap makanan dengan lahapnya…
“Eh, kalau El tu makannya banyak terus dan tambah gendut,
nanti kulitmu pada pecah-pecah. Karena, kemampuan kulit tu melebihi kapasitas.
Makanya kalau orang hamil tu perutnya pecah-pecah, karena kulitnya nggak
sanggup mengimbangi pembengkakan tubuh.”
“Hemmm..la jadi Mi?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar