Pukul 09.43wib. aku sedang duduk di pelataran FEKON, sendirian. Dek
Teguh pasti tahu tempat ini, karena di sini kami pernah berjuang bersama sambil
menikmati reruntuhan buah Matoa. Eh, sebenarnya sih nggak runtuh begitu aja matoanya
tapi ada orang lain yang manjat dan kami rampok hasilnya. Ehheh. Detik ini, aku
benar-benar merasa seperti penulis sungguhan; Mengetik lancar, tanpa melihat
konsep. Cukup menuliskan apa yang dirasa dan apa yang terfikir. Semoga. Segera.
Aamiin.
Aku berniat melegalisir sertifikat kak Dila, hasil seleksi
tenaga Akuntan kemarin. Eh, tapi kejadiannya nggak jauh beda; Kantornya kosong
melompong dan ketika ku tanya ke staf di sebelahnya selalu dijawab ‘Sebentar
lagi datang tuh orangnya.’ That’s why, I am waiting here by writing. Menulis
benar-benar membuat hidupku lebih hidup. Menulis juga mengajariku apa yang
harus ku lakukan untuk mengisi masa menunggu. Menunggu apa pun itu. Sebab,
semua kita sejatinya sedang menunggu dan nilai mereka ditentukan oleh bagaimana cara mereka menunggu
Aku pernah baca bahwa membiasakan diri menulis setiap hari
minimal 15 menit, bisa meningkatkan daya ingat, meminimalisir stress dan
membuat awet muda. Apalagi kalau nulisnya pakai pena atau pensil secara manual.
Pokoknya keep writing for everlasting yaa pemirsaa..
***
“El mau ke mana hari ini?”
“Ke kampus. Mau daftar ujian Rin.”
“Kalau gitu aku ikut lah. Ika ntah gimana nih, belum ada
kabar.”
“Ukeeehhh. Luluran dulu yuk Rin?” ajakku. Tapi, Rini masih
sibuk dengan berkas-berkasnya. “Rin, kalau daguku kayak Rini, bakal gimana mukaku Rin?”
“Hemmm..kayak gini nih,” Rini menggembungkan mulutnya.
“Hihiii.. emang segitu ngaruhnya ya bentuk daguku Rin? Kalau
aku diam aja, nggak kelihatan pun runcingnya kan?”
“Masih kelihatan juga kok. El tu harusnya bersyukur dan berterimakasih kepada dagu El tu karena bentuk muka El udah diselamatkan olehnya. Kalau nggak, pasti jadi kayak bola basket muka El tuu
bulatnya. hihhii”
“Oh, gicuuuhh ya Cinn.”
“Besok yang make-up-in aku siapa ya? Duh, duit lagi nih.”
“Titin aja.”
“Emangnya dia udah balik ke sini?”
“Emmm…kayaknya sih udah. Emangnya kapan Rini mau dimake-up-innya? Masih lama nyo kan?”
“Loh, Sabtu ini lah El.”
“WHAATTTTT? Jadi, Sabtu ini Rini yudisiumnya? Gileee, cepat
amat!”
“Itulah makanya. Pusing aku ni haaa. Baju pun belum
dibelii.”
“Oh kalau hari Sabtu yudisiumnya, hari ini ajalah yok ku
temenin nyari bajunya?”
“Betul ya? Awal nanti kalau El bilang; ‘Aduh Rin, tiba-tiba
aku nggak bisa nih. Huhu.. aku harus gini, aku harus ke situ’ awas ya kalau El ngomong gitu.”
“Hehehe..doakan aja nggak kayak gitu aku nanti.
"El, Pokoknya besok waktu yudisium, aku maunya El yang makein jilbabku. Percuma El tutorialan tiap malam kalau nggak bisa nolongin aku. El kan stylish.”
"Sip, sip."
***
***
Aku mengantarkan Rini ke kosan Ika, di Balam Sakti.
Selanjutnya, aku langsung ke Prodi untuk daftar ujian. Semoga bapak ada dan aku
bisa segera daftar. Aamiin ya Allah. Oh ya, hari ini aku pakai rok hitam semi
jeans, kemeja merah plus blazer hitam dan jilbab merah bermotif berlapis jilbab
polos di dalamnya. This caused me so confidence today. Ye yee.. bismillah for
this tuesday. ^_^
“Widuuutt.. assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam Lis. Subhanallah, Eliiss.”
“Widut mau ketemu Bapak ya?”
“Iya, tapi Bapaknya nggak ada datang-datang juga sampai hari
ini Lis.”
“Widut mau berurusan untuk apa dengan Bapak?”
“Minta tandatangan Lis.”
“Widut udah Kompre kan? Ciyee…selamat. Icha gimana?”
“Icha udah juga, Widya Asrini udah juga Lis. Kami sama-sama
teruss. Elis cepetlah, insyaallah ya Elis cepat nih.”
“Semoga Duutt. Kapan deadline pendaftaran Yudisium rupanya
Dut?”
“Belum tahu lagi Lis.”
“FISIP Sabtu ini yudisiumnya.”
“FEKON hari ini Lis.”
“Oh, iyakah?”
“FKIP kan beda Lis. Kalau fakultas lain tu asal udah
memenuhi quota peserta ya langsung yudisum. Kalau di FKIP kan nunggu sekaligus
semuanya dulu.”
Aku nggak ngerti nunggu
semuanya dulu itu maksudnya apa. Tapi, semoga itu baik untukku.
Sisi burukku : Kenapa El? Sedih? Tahu rasa kan sekarang
gimana sulitnya prosedur ini? Kalau kamu bisa memaksimalkan dan memaksa dirimu
untuk ujian tanggal 10 Agustus kemarin, tentu sekarang kamu punya waktu lebih
banyak untuk mempersiapkan ujian hasil. Hahaha… sudahlah Elysa. Semua itu hanya
tinggal mimpi sekarang!
Sisi baikku : El, Elysa adalah wanita yang kuat dan
konsekuen dengan apa yang telah diputuskan dan dipilih. Jangan pernah berhenti berharap
kepada Allah El, sampai benar-benar nyata tak ada lagi yang bisa kamu harapkan.
Selagi segala sesuatunya masih mungkin, selama itu pula harapan selalu ada.
Semangat El! Biarkan rencana Allah mengambil alih rencanamu. ^_^
***
“Nggak ada Mbak. Bapaknya sedang ke luar kota, semua urusan
dialihkan ke Sekjur.”
“Sedang ke mana Sekjurnya sekarang Bang?”
“Ada. Sedang ngajar tapi.”
“Oh ya udah, makasih Bang. Saya tunggu aja.”
Aku melihat-lihat pengumuman di mading di luar ruangan.
Wahhh..banyak banget acara seminar internasional dan info call for papper di
sini. Great! Aku jadi ingat bahwa hasil penelitian bang Put kemarin udah masuk
ke jurnal internasional katanya. Aku fikir berbayar, tapi kata bang Put banyak
tersedia yang gratis dan dia pilih yang gratis aja. Weww! Aku mau jugalah nanti
hasil penelitianku di unggah ke jurnal internasional. Tapi, mungkinkah? Tentang
KOPMA UR? Masih entahlah.
Aku mau ngasihkan sertifikat juri MAWAPRES kemarin
kepada
pak Rusli. Hemm.. tapi setelah ku fikir-fikir, kurang pas rasanya kalau aku titipkan lewat Sekjurnya. Mungkin lebih baik kalau aku kasihkan langsung kalau bapak
udah kembali.Aku mengecheck kembali schedule yang sudah ku tulis di noteku tadi pagi. Tujuan selanjutnya adalah... Jreng, jreng.
***
Bang Putt.. di mana
ngumpulnya nih?
Di Elang Futsal, Balam Sakti.
Aku sempat
bingung nyari di mana Elang Futsal itu berada. Kalau sedang nggak dicari, rasanya aku
sering banget lihat. Tapi, kalau sedang dicari, ntah ke mana rimbanya. Kenapa
selalu seperti itu ya? Butuh perjuangan untuk sampai ke tempat ini. aku udah
sempat sampai ke Giant dan bertanya kepada dua orang tentang tempat ini.
Beruntungnya, 2 orang yang ku tanyai itu bukan pemberi alamat palsu seperti yang
pernah terjadi kepadaku sebelumnya. Hehe.
“…Itulah,
Abang pusing kali sekarang nih. Target kita 300 peserta, tapi sampai sekarang,
100 orang pun belum ada loh. Kalian ini sebenarnya mau dijadikan LO, bukan
panitia inti. Tapi, yah ginilah mau nggak mau kita bantai semuanya jadi panitia
karena yang awal malah nggak komit dan ngilang.”
Aku dan Lia
mendengarkan keluhan bang Put sambil berfikir keras, mencoba mencari
pencerahan.
“Bang, ini
kan buku Abang kan yang menunjang acara ini? Sebenarnya, tanpa mereka-mereka
ini pun Abang bisa lanjut. Ini kalau kita mikir keegoisan ya.”
“Itulah
Lis. Tapi Abang nggak mau pula kayak gitu. Biarlah ini kita selesaikan dulu
semaksimal mungkin.”
“Nah,
setelah acara ini, Abang bisa tuh roadshow ke kampus-kampus dengan buku Abang
itu sekaligus workshop. Beuh! Keren banget tuh Bang.”
“Iya, bener
juga ya. Nanti, buku-buku yang udah kalian terbitkan pun bisa ikutan
dipromosikan kan?”
“Ahhh..itu
ide bagus, asalkan jangang dieksekusi 3 hari setelah acara ini loh ya! Banyak
fikiran kali soalnya nih,” Lia menyambung.
“Iya. Abang
faham kali lah sama kalian. Dulu Abang udah ngerasin juga gimana susahanya.
Kita cari waktu luang yang pas nanti. Aman lah pokoknya! Yang penting kita
selesaikan dulu acara ini.”
***
“Cin, mu mau langsung ke Razzaku dan nunggu di sana atau
bareng aku aja?”
“Ennggg… bareng mu ajalah. Emang mu mau ke mana?”
“Aku mau beli sesuatu dulu."
Aku penasaran, apa yang akan dibeli Lia? Apa ini ada
hubungannya dengan bang Saide? Mentel! Nggak pernah dia merahasiakan sesuatu
dariku seperti ini. Kami berhenti di depan RM Pondok Hijau. Aku kira Lia mau
beli makanan, ternyata ke ruko di sebelahnya toh; Printing+Studio foto. Hemm… aku nunggu di atas motor aja
deh. Walaupun penasaran dengan apa yang dibelinya, tapi aku tidak ingin membuat
diriku dan dirinya nggak nyaman karena ke-kepo-anku. Hihiii.. I believe her too
much dah pokoknya.
“Udah?”
“Udah. Yukk langsung ke TKP.”
“Aku nggak pake helm nih Cinn, nggak apa-apa kan?”
Sesampainya di parkiran Razakku, ternyata sepi banget
suasananya dan sepenglihatanku nggak ada wajah bang Saide di dalam sana.
“Cin, lihat ini! Kurang asem kan? Mau kita bunuh nih orang?!”
kata Lia sambil menyodorkan HPnya.
“Hemmm… berarti mu salah faham tadi. Bukannya dia udah di
sini, tapi dia baru mau ke sini.”
“Itulah. Yuk, temenin aku dulu ke bang BNI. Ngambil duit.”
“Yuhuuuu…”
Lia menitipkan map biru beningnya kepadaku di luar ATM. Aku
melirik apa gerangan yang dibeli Lia tadi. Heemmm.. mataku tertuju kepada white frame di mapnya berisi pola-pola
abstrak. Aku berusaha mengejanya dari jauh, takut terlalu mencolok banget
memata-matainya. Hehe. Ah, Lia udah keburu ke luar. Yang jelas, isinya tentang;
Kalau udah azan, segerakanlah sholat. Gitu deh kurang lebih. Hihii..
“Cin, kayaknya Bang Saide tahu kalau kita kelaperan.
Disuruhnya kita mesen duluan.”
“Ye yeee…”
Tak lama setelah kami duduk, bang Saide nongol dengan kaos
bola berwarna pink (iyuuhhh, nggak banget warnanya buat cowok, hehehe) dan
jaket biru bola juga. Karena aku nggak hobi nonton bola, aku kurang mengamati club bola mana yang diidolakannya itu. hehe
“Eh, ada Elis rupanyaa!”
“Kenapa Bang? Nggak senang Abang sama Elis doh? Y udah, Elis
pulang nih.”
“Eh, kalau tahu ada Elis, nggak mau Abang tadi datang. Abang
malas ketemu Elis niih.. hehe..”
“Huuu… Elis juga terpaksa ketemu Abang. Hehe.”
“Eh, tapi Elis kayaknya tambaaahhh..”
“Tambah gendut kan!”
“Nggak kok, bukan itu maksud Abang. Kok langsung ke sana
Elis nebaknya?”
“Iya, soalnya semua orang bilang gituu.”
“Nggak kok, Elis tu sekarang tambah cerah menurut Abang..”
“Wah, baru kali ini ada orang yang penglihatannya salah
kayak Abang. Hahaha.”
Aku dan bang Saide memesan mie goreng seafood plus jus Jeruk
Nipis dan Jeruk biasa sementara Lia memesan mie kuah hotplate dan jus terong
belanda.
“Eh, Bang Zu ldi mana sih Bang?”
“Ada. Sedang di kantor dia.”
“Di Pekanbaru kan dia sekarang?”
“Iya Liss. Telvonlah dia Lis, ke sinilah Bang Zulll, bilang
gitu.”
“Eh, Abang lah yang bilang. Masak Elis pula yang nelvon.”
“Iya, soalnya kemarin pernah waktu Abang nelvon dia kan ada
suara-suara cewek di dekat Abang, ditanyanya; ‘Siapa yang nyuruh nelvon, Elis
yaa?’ gitu katanya. Makanya Elis aja langsung yang nelvon.”
GLEKKK! Apa aku seusil itu ya? Sampai-sampai bang Zul langsung menebakku yang menyuruh bang Saide. hihii. Aku tetap menolak dan akhirnya benar bang Saide yang
menelvonnya. Aku dan Lia berpandangan; Pandangan berkode rahasia, hehe.
Eh, tapi, tunggu dulu! Aku jadi curiga sama Lia, sepertinya dia tidak restu ya kalau bang Zul ke sini. Padahal sejak kemarin dia BBMan dengan bang Saide, tapi untuk meminta bang Zul datang malah pakai Line. Aku baru menyadari hal ini ketika bang Saide ngaku bahwa dia jarang aktif di Line. *What do you mind Ciinnn? Grrr…
Eh, tapi, tunggu dulu! Aku jadi curiga sama Lia, sepertinya dia tidak restu ya kalau bang Zul ke sini. Padahal sejak kemarin dia BBMan dengan bang Saide, tapi untuk meminta bang Zul datang malah pakai Line. Aku baru menyadari hal ini ketika bang Saide ngaku bahwa dia jarang aktif di Line. *What do you mind Ciinnn? Grrr…
Menjelang pesanan datang, aku dan Lia sholat di lantai 2.
Dan, ketika kami turun, bang Zul baru saja tiba. Weewwww, welcome again brother
^_^. Long time no news…
“Kok jadi kayak orang India gini Elis?”
“Apanya yang kayak orang India Baaaang? Dari mananya coba?” tanyaku heran.
“Tuuu kannn..bener dugaan Abang di awal tadi Lis,” tambah
bang Saide.
Hemmm... baru ada 2 orang yang salah tebak terhadap wajahku. Benar-benar kebalikan dari yang selama ini ku dengar. hheehe, semoga ini pertanda baik.
Hemmm... baru ada 2 orang yang salah tebak terhadap wajahku. Benar-benar kebalikan dari yang selama ini ku dengar. hheehe, semoga ini pertanda baik.
“Abang udah sholat?” tanya Lia kepada bang Saide.
“Belum. Gimana mau sholat, sajadahnya aja nggak ada.”
“Bang Zul udah sholat?” Tanya Lia kepada bang Zul.
“Udah donk.”
“Tuh kan, semua orang udah sholat Bang. Buruan sholat dulu
Bangg!” pinta Lia.
Bang Saide naik ke lantai 2. Kami ngobrol ngalor ngidul
sambil nunggu pesanan dan bang Saide turun.
“Elis, makasih ya ucapan yang kemariin,” kata bang Zul,
dengan serius.
“Yaaahhh, itu kan udah lama Bang. Sekarang baru bilang
makasihnya.”
“Kan kemarin udah juga, sekarang secara langsung.”
“Oh, gituu. Ya, ya, sama-sama Bang. Itu udah kewajiban Elis
karena Elis bisa menulis maka sudah seharusnya Elis berbagi lewat tulisan.”
“Ya, ya, mantap Lis. Pertahankan terus. Abang pun setelah
ini ingin segera fokus menulis. Yaahhh.. nulis di blog juga mungkin.
Sebenarnya, Abang udah punya 2 blog kemarin tapi nggak terkelola dengan baik
dan…”
“Menghilang begitu aja ditelan masa.”
“Haaaa.. semacam itulah.”
Kan… ideku nggak salah. Kalau ada bang Zul di sini, jadinya
makin rame dan lebih berwarna. Lengkap deh silaturahmi kita. *Colek cin Lia.
ehehe. Kapan lagi kan bisa ketemu orang-orang luar biasa seperti mereka? Bang
Saide bentar lagi bakal terbang ke Taiwan, bang Zul bakal balik lagi ke Yogya.
“Jadi, gimana yang kemarin itu Lis? Masihh?”
“Yang mana tuh Bang?”
“Yahh, yang dari pasar Pagi Arengka itu loh tempatnya.”
Aku meneplok kening. Beuh! Kok yang itu sih yang diingat
sama bang Zul pemirsaaaa?
“Hhehe, itu udah tutup buku Bang. Nggak ada lagi tu dohh.”
“Apa tuh Cin memangnya?” tanya Lia.
“Abang sebutin aja ya merknya?” pinta bang Zul.
“Duh, jangan Bang. Nggak tahu nih si Lia cerita soal itu
Bang.”
“Hemmm..keras kepala kali dia nih Liaaa. Ya ampuuunnn…sampek
kewalahan Abang dibuatnya.”
“Apa sih Cin memangnya?” tanya Lia penasaran.
“Udah banyak tuh teman-teman yang Abang selamatkan dari yang
seperti itu.”
“Oh, tahu Abang,” bang Saide tiba-tiba nimbrung aja dan
langsung nyambung..
Kami segera memulai santap siang. Pembacaan doanya sih judulnya dipimpin oleh bang Saide, tapi sebenarnya ini berdoa masing-masing karena nggak ada instruksi dan aba-aba, tiba-tiba udah selesai aja berdoanya. Hihii.
Kami segera memulai santap siang. Pembacaan doanya sih judulnya dipimpin oleh bang Saide, tapi sebenarnya ini berdoa masing-masing karena nggak ada instruksi dan aba-aba, tiba-tiba udah selesai aja berdoanya. Hihii.
“Elis ni Liaaa… susah kali Abang ngasih tahu dia supaya
nggak terjerumus. Udah Abang nyerah, barulah dia nyadar sendiri.”
“Dia memang gitu Bang orangnya. Nah, Abang pun berarti udah
maksimal usahanya. Kan kata orang kalau berusaha itu memang harus maksimal dan
nggak boleh setengah-setengah.”
“Siapa Bang Zul, yang keras kepala?” tanya bang Saide.
“Nih si Elisss.”
Iya, bener. Elis tuh memang keras kepala.”
“Loh, kok Abang ikut-ikutan membully Elis?”
“Elis merasa nggak kemarin pernah beberapa kali Elis SMS
atau BBM nggak ada Abang balas?”
“Oh, jadi Abang dendam sama Elis Bang? Maaflah ya Bang kalau
gituu.”
“Hhahaa.. jangan serius kali Lis. Nggak marah Abang doh,
tapi ya biar Elis nyadar aja kalau Elis kayak gitu orangnya.”
“Oh, jadi gitu ya Bang. Elis nggak nyangka Bang Saide menyimpan
marah sama Elis.”
“Hahha.. nggak gitu Lis. Kan kadang kita mikir, ada SMS yang
mesti kita balas, ada yang biarlah kita abaikan saja. Tapi, jujur Abang akui
Elis memang luar biasa. Abang bener-bener nggak bisa ngimbangin
pertanyaan-pertanyaan Elis itu. Serius.”
“Iya, pertanyaan yang membombardir kan? Hheheh.”
“Iya Lis. Kalian berdua memang luar biasa. Lia, tolong
agak-agak diawasi dan dibimbing Elis ini,” kata bang Zul.
“Elis banyak belajar Bang dari Lia. Tapi ya gini deh, nggak
mempan-mempan juga sama Elis.”
Obrolan kami benar-benar random. Dari ngebahas makanan loncat ngebahas kesukuan, loncat lagi ngebahas perkuliahan, mimpi sampai ke MLM. Inilah yang disebut obrolan nano-nano.
"Bang, jadi Elis salah ya Bang? Maafin Elis kalau gitu ya Bang."
"Haaa..kok ke sana lagi yang dibahas Lis? hahaa.. Abang nggak marah doh Elis. Abang dan Bang Zul ini nggak bisa dinilai hanya dari 1 sisi aja karena kami orangnya zig-zag, nggak linear Lis. Nah, kalau Abang nggak balas, bukan berarti juga Abang marah."
"Ya kan Elis takut aja Bang menyimpan marah itu. Buktinya tadi Abang tiba-tiba ngaku kan?"
"Ya itu karena Abang lihat peluang. Pas aja kalau Abang ikutan membully Elis waktu orang ini mmbully Elis. Makanya Abang nimbrung langsung. heheh."
"Kalau gitu, maafin Elis lah Bang."
"Haa kann..Elis ni butuh belajar Ignore Management nampaknya. Move on lah Liss.. hahha."
"Apaan itu Ignore Management Bang?" tanya Lia.
"Ya, bagaimana kita meng-Ignore hal-hal yang nggak penting dari hidup kita. Biar nggak selalu teringat dan membebani kita."
"Oh, kalau gitu kia Ignore aja Bang Saidee..."
"Setujuu. hahah," sahutku cepat. Ajang balas dendam. hihi.
Thanks for this afternoon ya para abang. Walau bagaimapun, kalian sangat banyak berjasa dan andil dalam perjalanan kami berdua; Aku dan Lia. Semoga kita selalu bisa berbagi yang baik-baik. aamiin.
***
Kami beranjak dari Razakku pukul 14.35wib. Sebelum bubar,
aku mewajibkan mereka untuk berfoto dulu sebelum pulang di depan Razakku. Saking
niatnya, aku minta tolong sama bapak yang sedang bersihin bus, tapi dia nggak
bersedia karena tangannya kotor. Dan, ketika ada seorang bapak yang ke luar
dari mobil mewah, aku langsung meminta tolong kepadanya. Hehe.
“Ayok—ayookk kita foto! Semua momen ini harus ditangkap. Nggak
boleh ada yang terlewat satu pun.”
“Haaa..inilah tujuan kami ketemu Elis hari ini, supaya
cerita kami ni terbit juga di blognya. Hehe,” kata bang Saide.
“Iya Bang, tunggu aja beberapa jam lagi. Nongol tuh ntar di
blognya Elis,” kata Lia.
Setelah 2 jepretan foto, kami saling berpamitan.
“Elis, perlu dibantuu?” tanya bang Zul ketika aku mengengkol
motor berkali-kali tapi belum menyala.
“Nggak usah Bang. Bisa kok. Kadang-kadang emang bandel dia,”
jawabku. Dan, motorku langsung menyala.
“Bandel? Kayak Elis donk?”
“Yuhuuu..hehe. Heh, Bang Saide,, maafin lah ya kalau Elis
salah Bang.”
“Hehhe.. ini serius ya Liss.. Abang nggak marah loh sama
Elisss. Kemarin itu Abang emang iseng aja.”
“Oke deh, rajin-rajin berkabar ya Bang dan jangan-jangan
sombong ntar setelah di Taiwan.”
“Insya Allah.”
Aku dan Lia sama-sama memasuki Balam Sakti menuju kampus.
“Cin, mu buru-buru nggak?”
“Nggak. Kenapring tuhh?” Duh, aku jadi ingat waktu bang
Saide nanya apa artinya ‘Di mandos?’ dan aku langsung nimpalin, ‘Owalaah Bang,
itu tuh bahasa bencong. Artinya di mana?’ Kalau bang Saide dengar bahasa anehku
pun pasti bakal puyeng. Hihii.
“Aku mau ngajak mu ke kos temanku. Ikutt?”
“Yuklah.”
Ternyata kosan temannya Lia adalah kosan Nurul. Hiksss,
kangen Nuruuul. Di parkiran kosan, Lia mengeluarkan kotak Vanholanho.
“Temanmu ulang tahun ya Cin?”
“Iya. Kebetulan aku tahu tadi malam dari PMnya.”
2 buah cake imut bin lucu terlihat saat Lia membuka kota
itu.
“Nggak pake lilin Cin?”
“Nggak usah. Ntar dosa dan nggak berkah.”
Aku manggut-manggut.
“Mu tahun ini akan genap 22 tahun ya Cin?”
“Yuhuuu.. Mu juga kan?” tanyaku.
“Aku udah 23 lah. Kan aku lahirnya tahun 1992.”
“Halaahh…udahlah, samain aja biar samaan kita.”
“Iya ya? Kan nggak ada yang tahu. Heheh. Tapi di
administrasi selalu tercantum 1993 kok Cin.”
“Udah pas lah tuh. Hhiihii. Samaan kita. Ye yeee.”
Kami langsung menuju kamar Tiara untuk mengucapkan selama
ulang tahun dan mendoakannya. Wahhh… aku semakin kagum dengan sahabatku ini. Dia selalu mengajariku bahwa selalu ada alasan dan cara untuk berbuat
baik, terutama yang berhubungan dengan membahagiakan orang lain. Ini adalah hal
yang sederhana, tapi sangat luar biasa maknanya. Lia mengajariku semuanya.
“Duhhh,, Tiaraa… Ayahmu kok so sweet banget gitu sih ucapannyaa?”
“Iya, Papa memang romantis gitu orangnya Li,” jawab Tiara.
“Emang mu tahu dari mana Cin?” tanyaku.
“Baca PMnya Tiara semalam dengan screenshoot SMS Papanya. Papanya
bilang; 22 tahun yang lalu Tiara
terlahir ke dunia, Papa mengazankanmu dan mamamu terharu. Kini, di usiamu yang
sudah 22 tahun ini, Tiara tetaplah gadis kecil Papa. Ya Allah Ciinn, aku
terharuu kali bacanya.”
Iya Cin, aku juga
terharu banget dengarnya. Sungguh lembut hati papanya Tiara. Kalau nurutin
haru, tentu air mataku sudah turut.
“Kita harus jadi orang tua yang romantis juga ya Cin untuk
anak-anak kita kelak.”
“Ammiin.”
***
2 orang anak kecil berlari memasuki masjid. Aku heran.
“Kita di sini aja yuk?” salah satunya mengajak sholat di
ujung shaf makmum perempuan.
“Eh, di sini donk. Dekat sama Kakak ya sholatnya! Nggak
boleh jauh-jauh, harus rapat ya.”
Mereka berdua mendekat ke sisi kananku, mengeluarkan sajadah
dari dalam tasnya kemudia meletakkan mukena di atasnya. Anak pintar, gumamku. Mereka berhamburan ke luar masjid untuk
berwudhu dulu, sementara sholat berjamaah baru saja dimulai.
Di pertengahan sholat, aku menerka bahwa 2 anak ini sedang
sholat berjamaah. Karena, salah satu dari mereka membaca bacaan sholat dengan
suara yang jelas, namun tidak terlalu keras. Tapi, ternyata setelah aku salam,
hanya si kecil saja yang sholat dengan suara lantang dan tidak sesuai gerakan
imam, sementara si kakak sama denganku hingga selesai.
“Hey, kalian ini darimana?”
“Kami dari rumah Kak.”
“Baru pulang sekolah?”
“Nggak Kak. Udah tadi sekolahnya. Nanti malam kami mau les
lagi.”
“Loh, kok bawa-bawa tas nih?”
“Iya, untuk bawa ini Kak,” ia menunjuk sajadah.
“Oh, ini sajadah kalian ya? Weeww, pinter sekali bawa-bawa
sajadah ke mushola.”
“Kami sholat terus Kak, karena sejak kecil kami diajarkan
unutk rajin sholat supaya kami dapat pahala dan bisa masuk syurga. Kata Mama; ‘Fita,
fita harus rajin sholat ya Nak sejak kecil. Supaya bisa doakan Mama dan Bapak
sampai nanti Mama udah meninggal. Doakan supaya kita semua bisa masuk syurga
bersama ya’ gitu kata Mama Kak. Kami ke sininya pakai sepeda.”
Bibir mungil itu berceloteh dengan renyah dan polosnya.
Setiap kata-kata yang teruntai membuatku bertasbih berkali-kali di dalam hati. Allahuakbar! Maha Besar Engkau yang telah
menciptakan anak-anak soleha seperti mereka ini ya Allah.
“Eh, bentar-bentar! Kita foto dulu ya. Senyuumm.. cisss..
nampakkan giginyaaa,” pintaku sebelum mereka berkemas.
“Kakak nanti malam sholat di sini lagi nggak? Kami ke sini
lagi Kak.”
“Insya Allah yaaa.”
Ya Allah, betapa sejuk hati ini melihat mereka berdua yang
begitu polosnya tapi sedemikian cinta kepada-Mu. Bahkan, cintaku kepada-Mu
mungkin belum ada apa-apanya dibanding mereka yang masih suci ini. Jaga mereka
ya Allah.
“Kami pulang ya Kak.. Assalamuaikumm…” kata mereka sambil
bergantian menyalamiku.
“Waalaikumsalamm..”
Ya Allah, jadikanlah
mereka penyejuk mata dan hati bagi kedua orang tua mereka, demikian juga aku
bagi orang tuaku. Aamiin ya Allah.
***
Aku ke luar dari mushola Arrafah, meninjau dorsmeer di depan, apakah motorku udah
selesai dicuci atau belum?
“Berapa Bang?”
“Motornya yang mana Dek?”
“Tuh, yang Supra.”
“Oh, Rp 10.000.”
Aku menyerahkan uang pas dan berterimakasih kepada abang
pencuci motorku dan bapak pemiliknya. Hemm… tujuanku selanjutnya adalah rumah. Tapi,
mendadak pengen Chocolate changer nih. Akhirnya, aku langsung beli minuman
favoritku ini dan 1 Riau Pos dikoran tempat fotokopian, tak jauh dari lapak
Choco Canger. Ada info yang ingin ku lihat di Koran ini, tapi aku sedang baik
hati dan nggak pengen sekedar membaca selintas lalu nggak jadi beli. Hehe,
sekali-kali loyal sama sumber informasi kan nggak apa-apa ya pemirsaa?
“Berapa nih korannya Bang?”
“Rp 5000 Dek.”
Hemm… kok rasanya motorku jadi jauh lebih nyaman ya? Mulai dari
suaranya sampai gerakannya. Apa ini ada pengaruhnya karena mencuci motor tadi? Ah,
kalau memang iya, berarti segitu berpengaruhnya ya kebersihan motor terhadap
kesehatan motor itu sendiri. hihii.. sejak pulang kemarin emang belum pernah ku
cuci nih motor. *Isshhh… jorkii.
Saking senengnya dengan motor bersihku ini, aku sampai
menyempatkan diri memfotonya di depan kosan sebelum dimasukkan ke dalam. Yuhuuuu.
“Kok SMSku nggak ada Rini balas? Ditanya mau nitip apa malah
diam aja.”
“Udah loh ku balas langsung tadi.”
“Apa Rini bilang?”
“Nitip Ayam Bumbu ku bilang.”
“Kok nggak ada masuk ya? Berarti HPku eror lagi nih.”
Aku rebahan di samping Rini dan menonton film Aku, Kau dan KUA. Padahal film ini udah
pernah ditonton, tapi aku dan Rini suka banget, makanya diputar lagi.
“Rini mau kalau ada cowok yang serius ngajak Rini taaruf?”
“Ya maulah. Apalagi seganteng Deon gitu. hihii.”
“Aku juga mau Rin. Unik ya kisah mereka ini, ceweknya nggak
berjilbab, cowoknya juga nggak alim-alim banget, tapi cowoknya faham bahwa
taaruf itu lebih aman daripada pacaran. Akhirnya, mereka menikah dan bahagia
juga. Ini bukti sebenarnya Rin, bahwa jalur ta'aruf itu bisa digunakan oleh
siapa aja. Nggak harus orang pengajian. Siapa pun bisa. Bahkan, untuk anak-anak
alay kayak kita gini. Heheh.”
“Bener-bener-bener. Eh, tapi ngomong-ngomong El nih bauk kali
laahh.”
“Hehehe..iya nih, belum mandi. Aku juga merasa gitu. Tapi,
aku nyaman kok dengan diriku.”
“Iya El nyaman, orang lain pingsan.”
“Hiihiii.. Eh, Rin, aku menyadari suatu 1 lagi hikmah dari
medsos, yaitu dengannya kita bisa berbuat baik lebih banyak lagi ke orang lain
karena kita bisa mengidentifikasi kebutuhan orang lewat status atau postingannya.
Misalnya, ada yang update; Duh, HP yang
mau dijual belum laku-laku juga nih. Haaa… berarti si kawan itu sedang butuh pembeli untuk HPnya? Kalau
nggak ada medsos, kita nggak akan semudah itu tahu si kawan-kawan yang lain
sedang butuh apa. Ya kan?”
“Hemmm..arassooh.
Emang ngeri El ni pemikirannya.”
"Rin, ku tanyaklah sama Rini. apakah untuk menginspirasi orang lain itu kita hanya boleh menceritakan yang baik-baik saja dari diri kita?"
"Ya nggak lah El. Justru sebaiknya ceritakan 2 2nya. Dari sanalah muncul inspirasi. Kalau El hanya menceritakan yang baik-baik aja, berarti El pencitraan. eheh."
"Rin, ku tanyaklah sama Rini. apakah untuk menginspirasi orang lain itu kita hanya boleh menceritakan yang baik-baik saja dari diri kita?"
"Ya nggak lah El. Justru sebaiknya ceritakan 2 2nya. Dari sanalah muncul inspirasi. Kalau El hanya menceritakan yang baik-baik aja, berarti El pencitraan. eheh."
Setelah selesai
dari nonton film, aku membuka-buka koran yang ku beli tadi. Bang Alam bilang
kemarin ada info di Riau Pos tentang Anugerah Sagang. Aku coba menemukannya di
koran ini, tapi nggak ketemu juga.
“Rin, aku
tahu apa judul postingan blogku hari ini.”
“Apa?”
“Ada Silaturahmi, Jodoh dan Peradaban.”
“Ngeriii dank!”
“Ini loh,
aku terinspirasi dari judul berita tentang Lomba Pacu Jalur di Kuansing.
Keren kan?”
“Buatlah
buaaat.”
“Rin, tadi
Bang Zul dan Bang Saide bilang gini; ‘Nilah tujuan kami ketemu Eliss..bukan sekedar
ketemuan. Kami pengen juga cerita kami di terbitin di blog Elis’ gitu kata
mereka Rin. Aku baru terfikir, bahwa puncak dari hobiku ini adalah aku ingin membuat semua orang
merasa bahagia dan bangga karena berinteraksi denganku.”
“Ya, karena
mereka pasti akan El ceritakan di blog kan?”
“Iya. Tentang
mereka akan ku ceritakan dan terabadikan di sana. Yaah, yang paling banyak
namanya sejauh ini ya Rini lah. Sihiiiyyy..”
“Huweekk.”
Pernahkah kamu
berfikir tentang seseorang yang sangat berarti bagimu? Seseorang yang
menyayangimu dengan segenap jiwanya? Seseorang yang selalu menghapus air matamu
saat kau sedih? Seseorang yang selalu mendekapmu dalam doa-doa? Padahal kamu
selalu membuatnya menangis dan kecewa. Good night dear..
1 pesan
dari mami ku buka…
Pernah donkk (emot
cium). Lup yuuhh mamiiii..




Tidak ada komentar:
Posting Komentar