Selasa, 25 Agustus 2015

Ada Silaturahmi, Jodoh dan Peradaban



Pukul 09.43wib. aku sedang duduk di pelataran FEKON, sendirian. Dek Teguh pasti tahu tempat ini, karena di sini kami pernah berjuang bersama sambil menikmati reruntuhan buah Matoa. Eh, sebenarnya sih nggak runtuh begitu aja matoanya tapi ada orang lain yang manjat dan kami rampok hasilnya. Ehheh. Detik ini, aku benar-benar merasa seperti penulis sungguhan; Mengetik lancar, tanpa melihat konsep. Cukup menuliskan apa yang dirasa dan apa yang terfikir. Semoga. Segera. Aamiin.

Aku berniat melegalisir sertifikat kak Dila, hasil seleksi tenaga Akuntan kemarin. Eh, tapi kejadiannya nggak jauh beda; Kantornya kosong melompong dan ketika ku tanya ke staf di sebelahnya selalu dijawab ‘Sebentar lagi datang tuh orangnya.’ That’s why, I am waiting here by writing. Menulis benar-benar membuat hidupku lebih hidup. Menulis juga mengajariku apa yang harus ku lakukan untuk mengisi masa menunggu. Menunggu apa pun itu. Sebab, semua kita sejatinya sedang menunggu dan nilai mereka ditentukan oleh bagaimana cara mereka menunggu

Aku pernah baca bahwa membiasakan diri menulis setiap hari minimal 15 menit, bisa meningkatkan daya ingat, meminimalisir stress dan membuat awet muda. Apalagi kalau nulisnya pakai pena atau pensil secara manual. Pokoknya keep writing for everlasting yaa pemirsaa..

***
“El mau ke mana hari ini?”
“Ke kampus. Mau daftar ujian Rin.”
“Kalau gitu aku ikut lah. Ika ntah gimana nih, belum ada kabar.”
“Ukeeehhh. Luluran dulu yuk Rin?” ajakku. Tapi, Rini masih sibuk dengan berkas-berkasnya. “Rin, kalau daguku kayak Rini, bakal gimana mukaku Rin?”
“Hemmm..kayak gini nih,” Rini menggembungkan mulutnya.
“Hihiii.. emang segitu ngaruhnya ya bentuk daguku Rin? Kalau aku diam aja, nggak kelihatan pun runcingnya kan?”
“Masih kelihatan juga kok. El tu harusnya bersyukur dan berterimakasih kepada dagu El tu karena bentuk muka El udah diselamatkan olehnya. Kalau nggak, pasti jadi kayak bola basket muka El tuu bulatnya. hihhii”
“Oh, gicuuuhh ya Cinn.”
“Besok yang make-up-in aku siapa ya? Duh, duit lagi nih.”
“Titin aja.”
“Emangnya dia udah balik ke sini?”
“Emmm…kayaknya sih udah. Emangnya kapan Rini mau dimake-up-innya? Masih lama nyo kan?”
“Loh, Sabtu ini lah El.”
“WHAATTTTT? Jadi, Sabtu ini Rini yudisiumnya? Gileee, cepat amat!”
“Itulah makanya. Pusing aku ni haaa. Baju pun belum dibelii.”
“Oh kalau hari Sabtu yudisiumnya, hari ini ajalah yok ku temenin nyari bajunya?”
“Betul ya? Awal nanti kalau El bilang; ‘Aduh Rin, tiba-tiba aku nggak bisa nih. Huhu.. aku harus gini, aku harus ke situ’ awas ya kalau El ngomong gitu.”
“Hehehe..doakan aja nggak kayak gitu aku nanti.
"El, Pokoknya besok waktu yudisium, aku maunya El yang makein jilbabku. Percuma El tutorialan tiap malam kalau nggak bisa nolongin aku.  El kan stylish.”
"Sip, sip."

***
Aku mengantarkan Rini ke kosan Ika, di Balam Sakti. Selanjutnya, aku langsung ke Prodi untuk daftar ujian. Semoga bapak ada dan aku bisa segera daftar. Aamiin ya Allah. Oh ya, hari ini aku pakai rok hitam semi jeans, kemeja merah plus blazer hitam dan jilbab merah bermotif berlapis jilbab polos di dalamnya. This caused me so confidence today. Ye yee.. bismillah for this tuesday. ^_^
“Widuuutt.. assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam Lis. Subhanallah, Eliiss.”
“Widut mau ketemu Bapak ya?”
“Iya, tapi Bapaknya nggak ada datang-datang juga sampai hari ini Lis.”
“Widut mau berurusan untuk apa dengan Bapak?”
“Minta tandatangan Lis.”
“Widut udah Kompre kan? Ciyee…selamat. Icha gimana?”
“Icha udah juga, Widya Asrini udah juga Lis. Kami sama-sama teruss. Elis cepetlah, insyaallah ya Elis cepat nih.”
“Semoga Duutt. Kapan deadline pendaftaran Yudisium rupanya Dut?”
“Belum tahu lagi Lis.”
“FISIP Sabtu ini yudisiumnya.”
“FEKON hari ini Lis.”
“Oh, iyakah?”
“FKIP kan beda Lis. Kalau fakultas lain tu asal udah memenuhi quota peserta ya langsung yudisum. Kalau di FKIP kan nunggu sekaligus semuanya dulu.”

Aku nggak ngerti nunggu semuanya dulu itu maksudnya apa. Tapi, semoga itu baik untukku.
Sisi burukku : Kenapa El? Sedih? Tahu rasa kan sekarang gimana sulitnya prosedur ini? Kalau kamu bisa memaksimalkan dan memaksa dirimu untuk ujian tanggal 10 Agustus kemarin, tentu sekarang kamu punya waktu lebih banyak untuk mempersiapkan ujian hasil. Hahaha… sudahlah Elysa. Semua itu hanya tinggal mimpi sekarang!
Sisi baikku : El, Elysa adalah wanita yang kuat dan konsekuen dengan apa yang telah diputuskan dan dipilih. Jangan pernah berhenti berharap kepada Allah El, sampai benar-benar nyata tak ada lagi yang bisa kamu harapkan. Selagi segala sesuatunya masih mungkin, selama itu pula harapan selalu ada. Semangat El! Biarkan rencana Allah mengambil alih rencanamu. ^_^

***
“Permisi Bang, Pak Ruslinya ada Bang?”
“Nggak ada Mbak. Bapaknya sedang ke luar kota, semua urusan dialihkan ke Sekjur.”
“Sedang ke mana Sekjurnya sekarang Bang?”
“Ada. Sedang ngajar tapi.”
“Oh ya udah, makasih Bang. Saya tunggu aja.”
Aku melihat-lihat pengumuman di mading di luar ruangan. Wahhh..banyak banget acara seminar internasional dan info call for papper di sini. Great! Aku jadi ingat bahwa hasil penelitian bang Put kemarin udah masuk ke jurnal internasional katanya. Aku fikir berbayar, tapi kata bang Put banyak tersedia yang gratis dan dia pilih yang gratis aja. Weww! Aku mau jugalah nanti hasil penelitianku di unggah ke jurnal internasional. Tapi, mungkinkah? Tentang KOPMA UR? Masih entahlah.
Aku mau ngasihkan sertifikat juri MAWAPRES kemarin
kepada pak Rusli. Hemm.. tapi setelah ku fikir-fikir, kurang pas rasanya kalau aku titipkan lewat Sekjurnya. Mungkin lebih baik kalau aku kasihkan langsung kalau bapak udah kembali.

Aku mengecheck kembali schedule yang sudah ku tulis di noteku tadi pagi. Tujuan selanjutnya adalah... Jreng, jreng.

***
Bang Putt.. di mana ngumpulnya nih?
Di Elang Futsal, Balam Sakti.
Aku sempat bingung nyari di mana Elang Futsal itu berada. Kalau sedang nggak dicari, rasanya aku sering banget lihat. Tapi, kalau sedang dicari, ntah ke mana rimbanya. Kenapa selalu seperti itu ya? Butuh perjuangan untuk sampai ke tempat ini. aku udah sempat sampai ke Giant dan bertanya kepada dua orang tentang tempat ini. Beruntungnya, 2 orang yang ku tanyai itu bukan pemberi alamat palsu seperti yang pernah terjadi kepadaku sebelumnya. Hehe.
“…Itulah, Abang pusing kali sekarang nih. Target kita 300 peserta, tapi sampai sekarang, 100 orang pun belum ada loh. Kalian ini sebenarnya mau dijadikan LO, bukan panitia inti. Tapi, yah ginilah mau nggak mau kita bantai semuanya jadi panitia karena yang awal malah nggak komit dan ngilang.”
Aku dan Lia mendengarkan keluhan bang Put sambil berfikir keras, mencoba mencari pencerahan.
“Bang, ini kan buku Abang kan yang menunjang acara ini? Sebenarnya, tanpa mereka-mereka ini pun Abang bisa lanjut. Ini kalau kita mikir keegoisan ya.”

“Itulah Lis. Tapi Abang nggak mau pula kayak gitu. Biarlah ini kita selesaikan dulu semaksimal mungkin.”
“Nah, setelah acara ini, Abang bisa tuh roadshow ke kampus-kampus dengan buku Abang itu sekaligus workshop. Beuh! Keren banget tuh Bang.”
“Iya, bener juga ya. Nanti, buku-buku yang udah kalian terbitkan pun bisa ikutan dipromosikan kan?”
“Ahhh..itu ide bagus, asalkan jangang dieksekusi 3 hari setelah acara ini loh ya! Banyak fikiran kali soalnya nih,” Lia menyambung.
“Iya. Abang faham kali lah sama kalian. Dulu Abang udah ngerasin juga gimana susahanya. Kita cari waktu luang yang pas nanti. Aman lah pokoknya! Yang penting kita selesaikan dulu acara ini.”

***
“Cin, mu mau langsung ke Razzaku dan nunggu di sana atau bareng aku aja?”
“Ennggg… bareng mu ajalah. Emang mu mau ke mana?”
“Aku mau beli sesuatu dulu."
Aku penasaran, apa yang akan dibeli Lia? Apa ini ada hubungannya dengan bang Saide? Mentel! Nggak pernah dia merahasiakan sesuatu dariku seperti ini. Kami berhenti di depan RM Pondok Hijau. Aku kira Lia mau beli makanan, ternyata ke ruko di sebelahnya toh; Printing+Studio foto. Hemm… aku nunggu di atas motor aja deh. Walaupun penasaran dengan apa yang dibelinya, tapi aku tidak ingin membuat diriku dan dirinya nggak nyaman karena ke-kepo-anku. Hihiii.. I believe her too much dah pokoknya.
“Udah?”
“Udah. Yukk langsung ke TKP.”
“Aku nggak pake helm nih Cinn, nggak apa-apa kan?”
“Nggak apa-apa, kan cuma di situ doank. Eh, cuma pula tuh ya?” kata Lia.
Sesampainya di parkiran Razakku, ternyata sepi banget suasananya dan sepenglihatanku nggak ada wajah bang Saide di dalam sana.
“Cin, lihat ini! Kurang asem kan? Mau kita bunuh nih orang?!” kata Lia sambil menyodorkan HPnya.
“Hemmm… berarti mu salah faham tadi. Bukannya dia udah di sini, tapi dia baru mau ke sini.”
“Itulah. Yuk, temenin aku dulu ke bang BNI. Ngambil duit.”
“Yuhuuuu…”

Lia menitipkan map biru beningnya kepadaku di luar ATM. Aku melirik apa gerangan yang dibeli Lia tadi. Heemmm.. mataku tertuju kepada white frame di mapnya berisi pola-pola abstrak. Aku berusaha mengejanya dari jauh, takut terlalu mencolok banget memata-matainya. Hehe. Ah, Lia udah keburu ke luar. Yang jelas, isinya tentang; Kalau udah azan, segerakanlah sholat. Gitu deh kurang lebih. Hihii..
“Cin, kayaknya Bang Saide tahu kalau kita kelaperan. Disuruhnya kita mesen duluan.”
“Ye yeee…”
Tak lama setelah kami duduk, bang Saide nongol dengan kaos bola berwarna pink (iyuuhhh, nggak banget warnanya buat cowok, hehehe) dan jaket biru bola juga. Karena aku nggak hobi nonton bola, aku kurang mengamati club bola mana yang diidolakannya itu. hehe
“Eh, ada Elis rupanyaa!”
“Kenapa Bang? Nggak senang Abang sama Elis doh? Y udah, Elis pulang nih.”
“Eh, kalau tahu ada Elis, nggak mau Abang tadi datang. Abang malas ketemu Elis niih.. hehe..”
“Huuu… Elis juga terpaksa ketemu Abang. Hehe.”
“Eh, tapi Elis kayaknya tambaaahhh..”
“Tambah gendut kan!”

“Nggak kok, bukan itu maksud Abang. Kok langsung ke sana Elis nebaknya?”
“Iya, soalnya semua orang bilang gituu.”
“Nggak kok, Elis tu sekarang tambah cerah menurut Abang..”
“Wah, baru kali ini ada orang yang penglihatannya salah kayak Abang. Hahaha.”
Aku dan bang Saide memesan mie goreng seafood plus jus Jeruk Nipis dan Jeruk biasa sementara Lia memesan mie kuah hotplate dan jus terong belanda.
“Eh, Bang Zu ldi mana sih Bang?”
“Ada. Sedang di kantor dia.”
“Di Pekanbaru kan dia sekarang?”
“Iya Liss. Telvonlah dia Lis, ke sinilah Bang Zulll, bilang gitu.”
“Eh, Abang lah yang bilang. Masak Elis pula yang nelvon.”
“Iya, soalnya kemarin pernah waktu Abang nelvon dia kan ada suara-suara cewek di dekat Abang, ditanyanya; ‘Siapa yang nyuruh nelvon, Elis yaa?’ gitu katanya. Makanya Elis aja langsung yang nelvon.”
GLEKKK! Apa aku seusil itu ya? Sampai-sampai bang Zul langsung menebakku yang menyuruh bang Saide. hihii. Aku tetap menolak dan akhirnya benar bang Saide yang menelvonnya. Aku dan Lia berpandangan; Pandangan berkode rahasia, hehe.

Eh, tapi, tunggu dulu! Aku jadi curiga sama Lia, sepertinya dia tidak restu ya kalau bang Zul ke sini. Padahal sejak kemarin dia BBMan dengan bang Saide, tapi untuk meminta bang Zul datang malah pakai Line. Aku baru menyadari hal ini ketika bang Saide ngaku bahwa dia jarang aktif di Line. *What do you mind Ciinnn? Grrr…

Menjelang pesanan datang, aku dan Lia sholat di lantai 2. Dan, ketika kami turun, bang Zul baru saja tiba. Weewwww, welcome again brother ^_^. Long time no news…
“Kok jadi kayak orang India gini Elis?”
“Apanya yang kayak orang India Baaaang? Dari mananya coba?” tanyaku heran.
“Tuuu kannn..bener dugaan Abang di awal tadi Lis,” tambah bang Saide.
Hemmm... baru ada 2 orang yang salah tebak terhadap wajahku. Benar-benar kebalikan dari yang selama ini ku dengar. hheehe, semoga ini pertanda baik.
Makanan sudah terhidang, tapi kami harus menunggu pesanan bang Zul selesai terlebih dahulu.
“Abang udah sholat?” tanya Lia kepada bang Saide.
“Belum. Gimana mau sholat, sajadahnya aja nggak ada.”
“Bang Zul udah sholat?” Tanya Lia kepada bang Zul.
“Udah donk.”
“Tuh kan, semua orang udah sholat Bang. Buruan sholat dulu Bangg!” pinta Lia.
Bang Saide naik ke lantai 2. Kami ngobrol ngalor ngidul sambil nunggu pesanan dan bang Saide turun.
“Elis, makasih ya ucapan yang kemariin,” kata bang Zul, dengan serius.
“Yaaahhh, itu kan udah lama Bang. Sekarang baru bilang makasihnya.”
“Kan kemarin udah juga, sekarang secara langsung.”
“Oh, gituu. Ya, ya, sama-sama Bang. Itu udah kewajiban Elis karena Elis bisa menulis maka sudah seharusnya Elis berbagi lewat tulisan.”
“Ya, ya, mantap Lis. Pertahankan terus. Abang pun setelah ini ingin segera fokus menulis. Yaahhh.. nulis di blog juga mungkin. Sebenarnya, Abang udah punya 2 blog kemarin tapi nggak terkelola dengan baik dan…”
“Menghilang begitu aja ditelan masa.”
“Haaaa.. semacam itulah.”
Kan… ideku nggak salah. Kalau ada bang Zul di sini, jadinya makin rame dan lebih berwarna. Lengkap deh silaturahmi kita. *Colek cin Lia. ehehe. Kapan lagi kan bisa ketemu orang-orang luar biasa seperti mereka? Bang Saide bentar lagi bakal terbang ke Taiwan, bang Zul bakal balik lagi ke Yogya.
“Jadi, gimana yang kemarin itu Lis? Masihh?”
“Yang mana tuh Bang?”
“Yahh, yang dari pasar Pagi Arengka itu loh tempatnya.”
Aku meneplok kening. Beuh! Kok yang itu sih yang diingat sama bang Zul pemirsaaaa?
“Hhehe, itu udah tutup buku Bang. Nggak ada lagi tu dohh.”
“Apa tuh Cin memangnya?” tanya Lia.
“Abang sebutin aja ya merknya?” pinta bang Zul.
“Duh, jangan Bang. Nggak tahu nih si Lia cerita soal itu Bang.”
“Hemmm..keras kepala kali dia nih Liaaa. Ya ampuuunnn…sampek kewalahan Abang dibuatnya.”
“Apa sih Cin memangnya?” tanya Lia penasaran.
“Udah banyak tuh teman-teman yang Abang selamatkan dari yang seperti itu.”
“Oh, tahu Abang,” bang Saide tiba-tiba nimbrung aja dan langsung nyambung.. 

Kami segera memulai santap siang. Pembacaan doanya sih judulnya dipimpin oleh bang Saide, tapi sebenarnya ini berdoa masing-masing karena nggak ada instruksi dan aba-aba, tiba-tiba udah selesai aja berdoanya. Hihii.
“Elis ni Liaaa… susah kali Abang ngasih tahu dia supaya nggak terjerumus. Udah Abang nyerah, barulah dia nyadar sendiri.”
“Dia memang gitu Bang orangnya. Nah, Abang pun berarti udah maksimal usahanya. Kan kata orang kalau berusaha itu memang harus maksimal dan nggak boleh setengah-setengah.”
“Siapa Bang Zul, yang keras kepala?” tanya bang Saide.
“Nih si Elisss.”
Iya, bener. Elis tuh memang keras kepala.”
“Loh, kok Abang ikut-ikutan membully Elis?”
“Elis merasa nggak kemarin pernah beberapa kali Elis SMS atau BBM nggak ada Abang balas?”
“Oh, jadi Abang dendam sama Elis Bang? Maaflah ya Bang kalau gituu.”
“Hhahaa.. jangan serius kali Lis. Nggak marah Abang doh, tapi ya biar Elis nyadar aja kalau Elis kayak gitu orangnya.”
“Oh, jadi gitu ya Bang. Elis nggak nyangka Bang Saide menyimpan marah sama Elis.”
“Hahha.. nggak gitu Lis. Kan kadang kita mikir, ada SMS yang mesti kita balas, ada yang biarlah kita abaikan saja. Tapi, jujur Abang akui Elis memang luar biasa. Abang bener-bener nggak bisa ngimbangin pertanyaan-pertanyaan Elis itu. Serius.”
“Iya, pertanyaan yang membombardir kan? Hheheh.”
“Iya Lis. Kalian berdua memang luar biasa. Lia, tolong agak-agak diawasi dan dibimbing Elis ini,” kata bang Zul.
“Elis banyak belajar Bang dari Lia. Tapi ya gini deh, nggak mempan-mempan juga sama Elis.”

Obrolan kami benar-benar random. Dari ngebahas makanan loncat ngebahas kesukuan, loncat lagi ngebahas perkuliahan, mimpi sampai ke MLM. Inilah yang disebut obrolan nano-nano.
"Bang, jadi Elis salah ya Bang? Maafin Elis kalau gitu ya Bang."
"Haaa..kok ke sana lagi yang dibahas Lis? hahaa.. Abang nggak marah doh Elis. Abang dan Bang Zul ini nggak bisa dinilai hanya dari 1 sisi aja karena kami orangnya zig-zag, nggak linear Lis. Nah, kalau Abang nggak balas, bukan berarti juga Abang marah."
"Ya kan Elis takut aja Bang menyimpan marah itu. Buktinya tadi Abang tiba-tiba ngaku kan?"
"Ya itu karena Abang lihat peluang. Pas aja kalau Abang ikutan membully Elis waktu orang ini mmbully Elis. Makanya Abang nimbrung langsung. heheh."
"Kalau gitu, maafin Elis lah Bang."
"Haa kann..Elis ni butuh belajar Ignore Management nampaknya. Move on lah Liss.. hahha."
"Apaan itu Ignore Management Bang?" tanya Lia.
"Ya, bagaimana kita meng-Ignore hal-hal yang nggak penting dari hidup kita. Biar nggak selalu teringat dan membebani kita."
"Oh, kalau gitu kia Ignore aja Bang Saidee..."
"Setujuu. hahah," sahutku cepat. Ajang balas dendam. hihi.
Thanks for this afternoon ya para abang. Walau bagaimapun, kalian sangat banyak berjasa dan andil dalam perjalanan kami berdua; Aku dan Lia. Semoga kita selalu bisa berbagi yang baik-baik. aamiin.

***
Kami beranjak dari Razakku pukul 14.35wib. Sebelum bubar, aku mewajibkan mereka untuk berfoto dulu sebelum pulang di depan Razakku. Saking niatnya, aku minta tolong sama bapak yang sedang bersihin bus, tapi dia nggak bersedia karena tangannya kotor. Dan, ketika ada seorang bapak yang ke luar dari mobil mewah, aku langsung meminta tolong kepadanya. Hehe.
“Ayok—ayookk kita foto! Semua momen ini harus ditangkap. Nggak boleh ada yang terlewat satu pun.”
“Haaa..inilah tujuan kami ketemu Elis hari ini, supaya cerita kami ni terbit juga di blognya. Hehe,” kata bang Saide.
“Iya Bang, tunggu aja beberapa jam lagi. Nongol tuh ntar di blognya Elis,” kata Lia.
Setelah 2 jepretan foto, kami saling berpamitan.
“Elis, perlu dibantuu?” tanya bang Zul ketika aku mengengkol motor berkali-kali tapi belum menyala.
“Nggak usah Bang. Bisa kok. Kadang-kadang emang bandel dia,” jawabku. Dan, motorku langsung menyala.
“Bandel? Kayak Elis donk?”
“Yuhuuu..hehe. Heh, Bang Saide,, maafin lah ya kalau Elis salah Bang.”
“Hehhe.. ini serius ya Liss.. Abang nggak marah loh sama Elisss. Kemarin itu Abang emang iseng aja.”
“Oke deh, rajin-rajin berkabar ya Bang dan jangan-jangan sombong ntar setelah di Taiwan.”
“Insya Allah.”
Aku dan Lia sama-sama memasuki Balam Sakti menuju kampus.
“Cin, mu buru-buru nggak?”
“Nggak. Kenapring tuhh?” Duh, aku jadi ingat waktu bang Saide nanya apa artinya ‘Di mandos?’ dan aku langsung nimpalin, ‘Owalaah Bang, itu tuh bahasa bencong. Artinya di mana?’ Kalau bang Saide dengar bahasa anehku pun pasti bakal puyeng. Hihii.
“Aku mau ngajak mu ke kos temanku. Ikutt?”
“Yuklah.”
Ternyata kosan temannya Lia adalah kosan Nurul. Hiksss, kangen Nuruuul. Di parkiran kosan, Lia mengeluarkan kotak Vanholanho.
“Temanmu ulang tahun ya Cin?”
“Iya. Kebetulan aku tahu tadi malam dari PMnya.”
2 buah cake imut bin lucu terlihat saat Lia membuka kota itu.
“Nggak pake lilin Cin?”
“Nggak usah. Ntar dosa dan nggak berkah.”
Aku manggut-manggut.
“Mu tahun ini akan genap 22 tahun ya Cin?”
“Yuhuuu.. Mu juga kan?” tanyaku.
“Aku udah 23 lah. Kan aku lahirnya tahun 1992.”
“Halaahh…udahlah, samain aja biar samaan kita.”
“Iya ya? Kan nggak ada yang tahu. Heheh. Tapi di administrasi selalu tercantum 1993 kok Cin.”
“Udah pas lah tuh. Hhiihii. Samaan kita. Ye yeee.”
Kami langsung menuju kamar Tiara untuk mengucapkan selama ulang tahun dan mendoakannya. Wahhh… aku semakin kagum dengan sahabatku ini. Dia selalu mengajariku bahwa selalu ada alasan dan cara untuk berbuat baik, terutama yang berhubungan dengan membahagiakan orang lain. Ini adalah hal yang sederhana, tapi sangat luar biasa maknanya. Lia mengajariku semuanya.
“Duhhh,, Tiaraa… Ayahmu kok so sweet banget gitu sih ucapannyaa?”
“Iya, Papa memang romantis gitu orangnya Li,” jawab Tiara.
“Emang mu tahu dari mana Cin?” tanyaku.
“Baca PMnya Tiara semalam dengan screenshoot SMS Papanya. Papanya bilang; 22 tahun yang lalu Tiara terlahir ke dunia, Papa mengazankanmu dan mamamu terharu. Kini, di usiamu yang sudah 22 tahun ini, Tiara tetaplah gadis kecil Papa. Ya Allah Ciinn, aku terharuu kali bacanya.”
Iya Cin, aku juga terharu banget dengarnya. Sungguh lembut hati papanya Tiara. Kalau nurutin haru, tentu air mataku sudah turut.
“Kita harus jadi orang tua yang romantis juga ya Cin untuk anak-anak kita kelak.”
“Ammiin.”

***
2 orang anak kecil berlari memasuki masjid. Aku heran.
“Kita di sini aja yuk?” salah satunya mengajak sholat di ujung shaf makmum perempuan.
“Eh, di sini donk. Dekat sama Kakak ya sholatnya! Nggak boleh jauh-jauh, harus rapat ya.”
Mereka berdua mendekat ke sisi kananku, mengeluarkan sajadah dari dalam tasnya kemudia meletakkan mukena di atasnya. Anak pintar, gumamku. Mereka berhamburan ke luar masjid untuk berwudhu dulu, sementara sholat berjamaah baru saja dimulai.
Di pertengahan sholat, aku menerka bahwa 2 anak ini sedang sholat berjamaah. Karena, salah satu dari mereka membaca bacaan sholat dengan suara yang jelas, namun tidak terlalu keras. Tapi, ternyata setelah aku salam, hanya si kecil saja yang sholat dengan suara lantang dan tidak sesuai gerakan imam, sementara si kakak sama denganku hingga selesai.
“Hey, kalian ini darimana?”
“Kami dari rumah Kak.”
“Baru pulang sekolah?”
“Nggak Kak. Udah tadi sekolahnya. Nanti malam kami mau les lagi.”
“Loh, kok bawa-bawa tas nih?”
“Iya, untuk bawa ini Kak,” ia menunjuk sajadah.
“Oh, ini sajadah kalian ya? Weeww, pinter sekali bawa-bawa sajadah ke mushola.”
“Kami sholat terus Kak, karena sejak kecil kami diajarkan unutk rajin sholat supaya kami dapat pahala dan bisa masuk syurga. Kata Mama; ‘Fita, fita harus rajin sholat ya Nak sejak kecil. Supaya bisa doakan Mama dan Bapak sampai nanti Mama udah meninggal. Doakan supaya kita semua bisa masuk syurga bersama ya’ gitu kata Mama Kak. Kami ke sininya pakai sepeda.”
Bibir mungil itu berceloteh dengan renyah dan polosnya. Setiap kata-kata yang teruntai membuatku bertasbih berkali-kali di dalam hati. Allahuakbar! Maha Besar Engkau yang telah menciptakan anak-anak soleha seperti mereka ini ya Allah.
“Eh, bentar-bentar! Kita foto dulu ya. Senyuumm.. cisss.. nampakkan giginyaaa,” pintaku sebelum mereka berkemas.
“Kakak nanti malam sholat di sini lagi nggak? Kami ke sini lagi Kak.”
“Insya Allah yaaa.”
Ya Allah, betapa sejuk hati ini melihat mereka berdua yang begitu polosnya tapi sedemikian cinta kepada-Mu. Bahkan, cintaku kepada-Mu mungkin belum ada apa-apanya dibanding mereka yang masih suci ini. Jaga mereka ya Allah.
“Kami pulang ya Kak.. Assalamuaikumm…” kata mereka sambil bergantian menyalamiku.
“Waalaikumsalamm..”
Ya Allah, jadikanlah mereka penyejuk mata dan hati bagi kedua orang tua mereka, demikian juga aku bagi orang tuaku. Aamiin ya Allah.

***
Aku ke luar dari mushola Arrafah, meninjau dorsmeer di depan, apakah motorku udah selesai dicuci atau belum?
“Berapa Bang?”
“Motornya yang mana Dek?”
“Tuh, yang Supra.”
“Oh, Rp 10.000.”
Aku menyerahkan uang pas dan berterimakasih kepada abang pencuci motorku dan bapak pemiliknya. Hemm… tujuanku selanjutnya adalah rumah. Tapi, mendadak pengen Chocolate changer nih. Akhirnya, aku langsung beli minuman favoritku ini dan 1 Riau Pos dikoran tempat fotokopian, tak jauh dari lapak Choco Canger. Ada info yang ingin ku lihat di Koran ini, tapi aku sedang baik hati dan nggak pengen sekedar membaca selintas lalu nggak jadi beli. Hehe, sekali-kali loyal sama sumber informasi kan nggak apa-apa ya pemirsaa?
“Berapa nih korannya Bang?”
“Rp 5000 Dek.”
Hemm… kok rasanya motorku jadi jauh lebih nyaman ya? Mulai dari suaranya sampai gerakannya. Apa ini ada pengaruhnya karena mencuci motor tadi? Ah, kalau memang iya, berarti segitu berpengaruhnya ya kebersihan motor terhadap kesehatan motor itu sendiri. hihii.. sejak pulang kemarin emang belum pernah ku cuci nih motor. *Isshhh… jorkii.
Saking senengnya dengan motor bersihku ini, aku sampai menyempatkan diri memfotonya di depan kosan sebelum dimasukkan ke dalam. Yuhuuuu.
“Kok SMSku nggak ada Rini balas? Ditanya mau nitip apa malah diam aja.”
“Udah loh ku balas langsung tadi.”
“Apa Rini bilang?”
“Nitip Ayam Bumbu ku bilang.”
“Kok nggak ada masuk ya? Berarti HPku eror lagi nih.”
Aku rebahan di samping Rini dan menonton film Aku, Kau dan KUA. Padahal film ini udah pernah ditonton, tapi aku dan Rini suka banget, makanya diputar lagi.
“Rini mau kalau ada cowok yang serius ngajak Rini taaruf?”
“Ya maulah. Apalagi seganteng Deon gitu. hihii.”
“Aku juga mau Rin. Unik ya kisah mereka ini, ceweknya nggak berjilbab, cowoknya juga nggak alim-alim banget, tapi cowoknya faham bahwa taaruf itu lebih aman daripada pacaran. Akhirnya, mereka menikah dan bahagia juga. Ini bukti sebenarnya Rin, bahwa jalur ta'aruf itu bisa digunakan oleh siapa aja. Nggak harus orang pengajian. Siapa pun bisa. Bahkan, untuk anak-anak alay kayak kita gini. Heheh.”
“Bener-bener-bener. Eh, tapi ngomong-ngomong El nih bauk kali laahh.”
“Hehehe..iya nih, belum mandi. Aku juga merasa gitu. Tapi, aku nyaman kok dengan diriku.”
“Iya El nyaman, orang lain pingsan.”
“Hiihiii.. Eh, Rin, aku menyadari suatu 1 lagi hikmah dari medsos, yaitu dengannya kita bisa berbuat baik lebih banyak lagi ke orang lain karena kita bisa mengidentifikasi kebutuhan orang lewat status atau postingannya. Misalnya, ada yang update; Duh, HP yang mau dijual belum laku-laku juga nih. Haaa… berarti si kawan itu sedang butuh pembeli untuk HPnya? Kalau nggak ada medsos, kita nggak akan semudah itu tahu si kawan-kawan yang lain sedang butuh apa. Ya kan?”
“Hemmm..arassooh. Emang ngeri El ni pemikirannya.”

"Rin, ku tanyaklah sama Rini. apakah untuk menginspirasi orang lain itu kita hanya boleh menceritakan yang baik-baik saja dari diri kita?"
"Ya nggak lah El. Justru sebaiknya ceritakan 2 2nya. Dari sanalah muncul inspirasi. Kalau El hanya menceritakan yang baik-baik aja, berarti El pencitraan. eheh."
Setelah selesai dari nonton film, aku membuka-buka koran yang ku beli tadi. Bang Alam bilang kemarin ada info di Riau Pos tentang Anugerah Sagang. Aku coba menemukannya di koran ini, tapi nggak ketemu juga.
“Rin, aku tahu apa judul postingan blogku hari ini.”
“Apa?”
“Ada Silaturahmi, Jodoh dan Peradaban.”
“Ngeriii dank!”
“Ini loh, aku terinspirasi dari judul berita tentang Lomba Pacu Jalur di Kuansing. Keren kan?”
“Buatlah buaaat.”
“Rin, tadi Bang Zul dan Bang Saide bilang gini; ‘Nilah tujuan kami ketemu Eliss..bukan sekedar ketemuan. Kami pengen juga cerita kami di terbitin di blog Elis’ gitu kata mereka Rin. Aku baru terfikir, bahwa puncak dari hobiku ini adalah aku ingin membuat semua orang merasa bahagia dan bangga karena berinteraksi denganku.”
“Ya, karena mereka pasti akan El ceritakan di blog kan?”
“Iya. Tentang mereka akan ku ceritakan dan terabadikan di sana. Yaah, yang paling banyak namanya sejauh ini ya Rini lah. Sihiiiyyy..”
“Huweekk.”
 
Pernahkah kamu berfikir tentang seseorang yang sangat berarti bagimu? Seseorang yang menyayangimu dengan segenap jiwanya? Seseorang yang selalu menghapus air matamu saat kau sedih? Seseorang yang selalu mendekapmu dalam doa-doa? Padahal kamu selalu membuatnya menangis dan kecewa. Good night dear..
1 pesan dari mami ku buka…
Pernah donkk (emot cium). Lup yuuhh mamiiii..

Tidak ada komentar: