Hati selalu menyimpan berjuta misteri. Ada yang terungkap
ada pula yang mengendap. Ada yang berusaha mengungkap dan ada yang sengaja
diendap. Pilihannya tergantung kepada pemiliknya. Aku adalah satu dari berjuta
di antara mereka yang sering salah memahami hati. Lebih sering keliru daripada
benarnya. Bahkan, ada yang mengatakan ‘Jangan coba mengukur dalamnya hati.
Karena itu akan melelahkan.’ Aku setuju.
Tapi sebagai manusia biasa, tak ada salahnya mencoba menerka-nerka.
Kekeliruan pun bukan sebuah kesalahan, karena dari sana kita dituntun untuk
kembali mengingat bahwa hanya Dialah satu-satunya yang PASTI.
Aku baru saja mengecewakan hati seseorang. Ia menganggapku
menyembunyikan sesuatu darinya. Padahal tidak. Tidak menceritakan bukan berarti
menyembunyikan, bukan? Mungkin, ia menilaiku akan selalu memberitahu semua hal
kepadanya, tapi nyatanya dia salah. Hemm… sebenarnya, aku sudah menceritakannya
di sini, tapi mungkin tak terbaca olehnya. Secara langsung, aku memang belum
bercerita kepadanya. Selain karena terkendala jarak dan waktu, juga terkendala
oleh ketidakpastian; Yang akan ku ceritakan belum tentu benar terwujud. Itu
saja poinnya.
Aku yakin, dia tidak akan lama marah kepadaku. “I promise
for never left u.” Semoga ia akan selalu mengingat ini. aamiin.
***
Aku udah buru-buru mengakhiri film Indiaku untuk segera tiba
di sini. Eh, tapi ternyata yang dijemput bahkan belum tiba di tempat. Tadi, aku
nonton di kosan Titin. Dia sedang sakit jadi aku berniat menjenguk sekaligus
berada di sana untuk menemaninya. Kasihan dia, setiap malam badannya kepanasan
dan kalau siang kedinginan disertai dengan batuk yang tak kunjung reda. Mungkin
seharusnya aku membawakan jeruk nipis untuknya bukan roti tawar ya? hemmm…
semoga cepat sembuh ya Ciinn.. I love you.
Ketika aku menyarankan Titin untuk mengecheck kesehatannya
di RS UR, dia bercerita begini,
“Nggak yakin Mamake. Tin udah 3 kali berobat ke situ, tapi
nggak puas rasanya. Pertama, Tin bilanglah apa keluhan Tin kan, jadi dikasihnya
obat batuk dan demam. Terus, waktu Tin sakit lagi, teman Tin bilang gini; ‘Dia
kan dokter, pasti dia tahu apa sakit kita tanpa harus kita bilang’ Jadi nggak
ada Tin bilang apa sakitnya Tin kan Mamake. Diceknya lah tensi Tin, terus detak
jantung dan dibilangnya; ‘Ini cuma demam biasa ni’ dikasihnya obat demam buat
Tin. Padahal nggak itu do yang Tin derita. Kalau siang kedinginan kalau malam
kepanasan dan batuk-batuk, apalah coba tu? Atau mungkin karen gratis ya berobat
di situ tuu? Makanya agak ngasal jadinya.”
“Hemmm..kemarin Mamake baru baca juga Cin, bahwa kebanyakan
dokter itu cuma memberi kita obat atas keluhan kita. Jarang ada yang mau
mencari tahu lebih jauh apa penyebab sakitnya kita itu dan ngasih obat yang
benar-benar tepat sasaran. Jarang Tin.”
“Itulah Tin pengennya priksanya langsung ke Awal Bros gitu
aja Mamake..”
“Besok kalau mau minta temenin ke sana bilang aja ya Ciinn.
Jangan segan-segan.”
Ah, mungkin Yana udah sampai LPPM, ku SMS dia deh. Eh, pas
mau diSMS, dia udah nelvon duluan. Aku segera menuju LPPM untuk menjemputnya. 1
koper besar miliknya naik ke atas motorku. Untung Yana dan aku masih bisa duduk
walaupun di ujung. Hikss.
“Teguh turun di mana tadi Dek?”
“Itulah Kak, tadi Yana bilang gini; ‘Guh, turunnya di LPPM
aja, tapi katanya mau ngobrol sama Kak Elisss?’ Eh dia malah bilang, ‘Nggak ah,
males. Aku turun di sini aja!’ gitu katanya Kak.”
“Iya, dia tu marah sama Kakak gara-gara Kakak nggak ngasih tahu
dia kalau Kakak lolos ke Bangladesh. Kakak juga nggak tahu dia tu tahu dari
siapa.”
“Yana yang bilang Kak. Yana tahunya dari Monik.”
“Loh? Monik tahunya dari mana?”
“Mungkin dari Romi Kak soalnya mereka 1 desa KKNnya.”
“Haaa, mungkin iya tuh. Soalnya Romi itu tahu. Kakak juga
heran dari mana dia tahu, jangan-jangan dia ngintipin blog Kakak. Tapi, Teguh
kan hobi baca blog Kakak juga, kok dia bisa kelewatan baca cerita tentang itu?
huahh… Kakak emang nggak ada cerita-cerita ke orang karena belum pasti
berangkatnya Dek.”
“Eh, berangkatlah Kak. Ke Bangladesh loh.”
Hemm…maunya sih gitu Dek. Tapi…banyak tapinya nih.
“Kok jadi baperan gitu si Teguh sih Dek? Dia ngakunya
kemarin tuh bukan orang yang baperan Dek.”
“Iya, di KKN apalagi Kak. Baperan kali dia tuh. Sampai anak-anak
posko bilang gitu juga. Habisnya dia dikit-dikit ngambek. Tapi, kalau dia
ngambek, kami beruntung Kak karena kalau sedang marah, dia tu sambil
bersih-bersih. Hahaha.. lucu Teguh tu.”
“Dia kalau marah ngomel-ngomel gitu nggak Dek?”
“Diam Kak.”
“Oh, diam aja?”
“Iya. Asli kayak Cewek Kak dia tuh. Tapi dia cepat marah,
cepat pula redanya.
“Gimana sama teman-teman seposko Dek? Aman kan sampek akhir?”
“Alhamdulillah aman Kak. tapi kami sempat buka forum 2 kali
untuk mengungkapkan semua keluhan-keluhan kami. Disitulah semua kami
mengungkapkan apa yang nggak kami suka. Sebenarnya Kak, kami tu terbagi jadi 2
kubu; Gank Dus dan Gank Gos.”
“Apa itu Dek?”
“Gank Dusta dan Gank Gosip. Hahaha. Gank Gosip itu karena
kerjanya suka gosipin orang sedangkan Gank Dus itu karena semuanya serba dusta,
senyumnya dusta, ketawanya dusta, ramahnya dusta.”
“Lah, Adek termasuk kelompok mana?”
“Yana Gank Dus Kak, hhehe. Kalau Gank Gos itu cowoknya 1
orang. Kalau Gang Dus, ceweknya yang 1 orang Kak, hahaha.”
"Yana lah cewek yang 1 orang itu ya?"
"Iya Kak. heheh. Tapi, alhamdulillah sampai akhir kemarin kami baik-baik aja dan udah saling memaafkanlah Kak."
"Syukurlah. Itulah ya Dek, KKN itu sekalipun indah, tapi cukup 1 kali aja dan nggak mau diulang lagi."
"Bener tuh Kak."
Aku ikut masuk ke kosannya Yana. Kami sempat ngobrol
sebentar tentang pengalaman KKNnya. Lucu, terharu, aneh, konyol dan ada
serem-seremnya juga. Hehe. That’s why I said
that KKN is urgent. Yana dapat banyak hadiah dari anak-anak dan penduduk
sana dan aku jadi teringat dengan masa KKNku dulu. Dari teman-teman seposko,
yang mirip kayak Yana adalah Yaumil. Karena dia penyayang sama anak-anak dan
dekat dengan penduduk. Aku? Hemmm… kurang suka dekat-dekat anak kecil dan sama
penduduk pun apa adanya aja. Makanya, akulah satu-satunya cewek yang nggak
pernah digangguin pemuda sana. Hihiii, mungkin karena rautku galak kali yee?.
Tapi, Alhamdulillah aku dekat dengan anak-anak SMA karena aku ngajar di sana. Dari
merekalah aku banyak dapat hadiah. Alhamdulillah, nama kita selalu punya tempat
di hati orang-orang meskipun nggak semua orang.
***
Aku dan Rini memilih halte bus UR di dekat masjid Arfaunnas
sebagai tempat kami menunggu. Dek Aldi udah ku SMS sejak tadi tapi belum juga
dibalasnya.
“Rin, pinjam HP lah buat nelvon Aldi.”
Rini menyodorkan HPNnya.
“Katanya di Arfaunnas Rin kita rapatnya. Dia bahkan masih
ngira kita rapatnya di MAN-nya Lia.”
“Lia tadi BBM katanya dia aja baru pulang pelatihan jam 5.
Aldi udah sampek mana katanya?”
“Baru mau berangkat katanya. Hemm… jadi, intinya panitia
inti sekarang cuma kita berlima aja Rin. Huh! Sebenarnya kita hanya harus lebih
gencar lagi promosi lewat FB Rin. Itu salah satu jalan yang efektif dan
efisien.”
“He’eh. El, kita langsung ke Arfaunnas ajalah yuk kalau
gitu.”
“Sini ajalah dulu, aku baru mulai nulis ni haaa.”
“Geser lah El dikit, aku mau nyandar. Kalau duduk di sebelah
situ, dilihatin mukaku sama orang-orang yang lewat.” Rini berpindah ke sebelah
kananku.
“Idihhh, yang pede-annya. Memangnya siapa yang mau lihatin
Rini?”
Aku mengetik dan Rini main Android. Mau ngasih makan Tom
katanya –game kucingnya di HP.
“El, itu nggak Adek tuu?” tanya Rini.
Aku mengikuti pandangannya. Benar saja, ternyata Aldi yang
baru saja memarkirkan motornya di dekat halte ini. Ia langsung bergabung
bersama kami dan tanpa beringsut ke Arfaunnas kami segera mengeksekusi bahasan
rapat kali ini. Aku punya ide tiba-tiba untuk menyebarluaskan info ini lewat
radio. Yap, itu pasti akan lebih luas jangkauannya. Tinggal bagaimana kami
harus menghubungi orang-orang yang dapat memudahkan jalan kami menuju radio.
“Kak Bela katanya mau ke sini juga Kak,” kata Aldi.
Ketika Bela datang, Rini berbisik kepadaku; “El, look at her
shoes!”
Aku memperhatikan sepatu boot yang dipakai sepupunya Bela.
Wow! Awesome. I want it too. Hiksss..
very want. But still not for now.
"Tanyaklah El, beli di mana dia?"
"Apa loe kate? Gengsi lah aku Riin. huh."
"Ohh.. begonoh?" kata Rini, pelan.
“Bela belum ada nyebarin brosur kan? Ini ada beberapa
lembar, coba Bela sebarin di sekolah tempat Bela ngajar atau di mana pun tempat
yang bisa di pasangin brosur ini yaa.”
“Oke Ciinn.”
“Eh, Bela ngajar di mana sih sekarang?”
“Di An-Nur sama Al-Azhar, privat-privat gitulah Liis.”
Luar biasa kamu, Bela! Aku bahkan nggak kefikiran lagi buat
ngajar; privat or theacer in school. Ku lirik Android milik Bela, hemm..bukan jenisnya
yang membuat hatiku berdesir, tapi pertanyaan; ‘Kapan aku punya Andro yang
lebih layak?’ terwujud. Semoga segera ya Allah. Aamiiin. Asalkan: 1. Aku mau
melebihkan usaha dan 2. Mengurangi waktu luang.
***
Setelah rapat, Rini mengajakku kembali ke kosannya Fani
–teman SMAnya, karena laptopnya masih tertinggal di sana. Sekaligus juga aku
mau melihat 3 kucing Persia milik temannya itu.
“Halloo.. Elysa,” sapaku kepada Fani sambil menyalaminya.
Perhatianku langsung tertuju sepenuhnya kepada 3 kucing milik
Fani; ada yang berbulu kuning kecokelatan, abu-abu dan hitam. Hiksss… gemeesss
kali ngelihat mereka yang bulunya lembut dan ngembang banget giniii. Aku
cubit-cubit dan ku gendong-gendong mereka 1 per 1. Bener kata Rini, rasanya
kayak sedang nggendong boneka hidup aja, hehe. Pengen jugalah nanti kalau udah
menikah melihara kucing kayak gini. Lucuuuu banget dan aku juga pernah baca
bahwa menyayangi kucing itu adalah salah satu sunnah nabi karena nabi pun
menyukai kucing.
“Ini kenapa Emaknya diam aja Fann?”
“Iya, induknya memang diam aja tuh akhir-akhir ini. Mungkin
stress dia nggak bisa kawin.”
“Kau suntuk karena udah lama nggak jumpa sama Ibu-ibu arisan
ya Nis? Kau tahu 2 kucing imut ini adalah anakmu rupanya? Tidur aja kerjamu
nisss…niiss. Nyuci baju kek sana!” aku ngobrol sambil mengelus-ngelus kucing
hitam.
“Jangan bikin malu Ell,” kata Rini.
Aku mana peduli. Tetap aja aku ngajakin 3 kucing ini ngobrol
nggak jelas. Seneeeeng banget rasanya. Mungkin, kalau aku punya kucing kayak
gini, aku nggak bakal ke luar lama-lama
dari kosan karena kangen terus sama mereka, hihii. Tapi, bulunya rontok
gini aku jadi khawatir tentang penelitian bahayanya bulu kucing karena bisa
menyebabkan kemandulan. Naudzubillah ya Allah…
“Fani, berapa sih harga makanan kucing tuh? Mahal nggak?”
tanyaku.
“Tergantung El. Kalau yang aku punya sekarang itu 3kg
harganya Rp 300.000.”
“Kucing kayak gini nih perawatannya mahal El,” kata Rini.
“Iya, harus sering-sering bersihin badannya, terutama
telinganya. Biar nggak berkutu.”
“Kucing itu kayak manusia juga kan Fan? Kalau dikorekin
telinganya kegelian?” tanya Rini.
“Ciyeee..yang udah pernah jadi kucing. Iyalaah tuuu,”
sahutku.
Eh, ngelihat kucing-kucing Persia ini jadi ingat sama Teguh.
Dia masih ngambek nggak ya sama aku?
Dek, beneran ngambek
nih sama mak? Kefikiran terus loh mak nii..
Bosan menunggu balasan dari Teguh dan seseorang lainnya membuatku
suntuk. Ajang bertukar film antara Fani dan Rini juga belum selesai. Ku cas
laptopku yang udah lowbat ini dan mulailah aku menarikan jemari kembali. I love writing too much. If you wanna love me,
just love my writing first. If you don’t even feel match, maybe you cant love
me. *Ini ngomongin apaan ya?
***
“El, aku disuruh cepat pulang sama orang tuaku.”
Aku menduga yang menelvon Rini barusan pasti keluarganya. “Kapan?”
“Sekitar tanggal 17an September inilah. Supaya aku bisa
bantu-bantu Ibukku jualan juga di sana.”
“Ya, kalau gitu nggak usah aja jadi LO sejak sekarang!”
*Duh, kok refleksku bisa sekejam itu ya? maaf ya Rin. Aku benar-benar kacau setiap
kali mendengar perpisahan.
“Ya udah lah, aku bantu-bantu nyebarin info aja lewat
twitter kalau gitu.”
Aku mengetikkan kalimat di HP sebagai luahan perasaan…
Kadang, aku memilih
untuk berpura tidak sedih di hadapannya karena sadar bahwa dia tidak akan
sesedih itu terhadapku.
Jujur. Apa
adanya. Dan sering ku rasakan. Yap, menit-menit selanjutnya aku sudah netral
lagi dengan keadaan. Sedih yang tadi sempat ada sudah cepat ku obtain
diam-diam. Rin tidak perlu tahu itu.
“Rin,
Rinn.. Bang Zull SMS…!” pekikku.
“Ciyeee..”
“Tumben. Eh,
mana kameraku? Biar ku abadikan. Heehehe, jarang-jarang nih.”
Setelah ku
foto tampak depan SMSnya lalu ku baca pesannya.
“Ya
elaaahh, ternyata dia belum juga baca cerita kemarin Riin. Udah seminggu
berlalu dah. Barulah dia minta lagi linknya. Owalaaahhhh.. aku kira ntah SMS
apa dia tadi.”
“Hihiii..kacian
deh lo..”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar