Minggu, 30 Agustus 2015

Gank Gos dan Gank Dus



Hati selalu menyimpan berjuta misteri. Ada yang terungkap ada pula yang mengendap. Ada yang berusaha mengungkap dan ada yang sengaja diendap. Pilihannya tergantung kepada pemiliknya. Aku adalah satu dari berjuta di antara mereka yang sering salah memahami hati. Lebih sering keliru daripada benarnya. Bahkan, ada yang mengatakan ‘Jangan coba mengukur dalamnya hati. Karena itu akan melelahkan.’ Aku setuju.  Tapi sebagai manusia biasa, tak ada salahnya mencoba menerka-nerka. Kekeliruan pun bukan sebuah kesalahan, karena dari sana kita dituntun untuk kembali mengingat bahwa hanya Dialah satu-satunya yang PASTI.

Aku baru saja mengecewakan hati seseorang. Ia menganggapku menyembunyikan sesuatu darinya. Padahal tidak. Tidak menceritakan bukan berarti menyembunyikan, bukan? Mungkin, ia menilaiku akan selalu memberitahu semua hal kepadanya, tapi nyatanya dia salah. Hemm… sebenarnya, aku sudah menceritakannya di sini, tapi mungkin tak terbaca olehnya. Secara langsung, aku memang belum bercerita kepadanya. Selain karena terkendala jarak dan waktu, juga terkendala oleh ketidakpastian; Yang akan ku ceritakan belum tentu benar terwujud. Itu saja poinnya.
Aku yakin, dia tidak akan lama marah kepadaku. “I promise for never left u.” Semoga ia akan selalu mengingat ini. aamiin.

***
Aku udah buru-buru mengakhiri film Indiaku untuk segera tiba di sini. Eh, tapi ternyata yang dijemput bahkan belum tiba di tempat. Tadi, aku nonton di kosan Titin. Dia sedang sakit jadi aku berniat menjenguk sekaligus berada di sana untuk menemaninya. Kasihan dia, setiap malam badannya kepanasan dan kalau siang kedinginan disertai dengan batuk yang tak kunjung reda. Mungkin seharusnya aku membawakan jeruk nipis untuknya bukan roti tawar ya? hemmm… semoga cepat sembuh ya Ciinn.. I love you.

Ketika aku menyarankan Titin untuk mengecheck kesehatannya di RS UR, dia bercerita begini,
“Nggak yakin Mamake. Tin udah 3 kali berobat ke situ, tapi nggak puas rasanya. Pertama, Tin bilanglah apa keluhan Tin kan, jadi dikasihnya obat batuk dan demam. Terus, waktu Tin sakit lagi, teman Tin bilang gini; ‘Dia kan dokter, pasti dia tahu apa sakit kita tanpa harus kita bilang’ Jadi nggak ada Tin bilang apa sakitnya Tin kan Mamake. Diceknya lah tensi Tin, terus detak jantung dan dibilangnya; ‘Ini cuma demam biasa ni’ dikasihnya obat demam buat Tin. Padahal nggak itu do yang Tin derita. Kalau siang kedinginan kalau malam kepanasan dan batuk-batuk, apalah coba tu? Atau mungkin karen gratis ya berobat di situ tuu? Makanya agak ngasal jadinya.”
“Hemmm..kemarin Mamake baru baca juga Cin, bahwa kebanyakan dokter itu cuma memberi kita obat atas keluhan kita. Jarang ada yang mau mencari tahu lebih jauh apa penyebab sakitnya kita itu dan ngasih obat yang benar-benar tepat sasaran. Jarang Tin.”
“Itulah Tin pengennya priksanya langsung ke Awal Bros gitu aja Mamake..”
“Besok kalau mau minta temenin ke sana bilang aja ya Ciinn. Jangan segan-segan.”
Ah, mungkin Yana udah sampai LPPM, ku SMS dia deh. Eh, pas mau diSMS, dia udah nelvon duluan. Aku segera menuju LPPM untuk menjemputnya. 1 koper besar miliknya naik ke atas motorku. Untung Yana dan aku masih bisa duduk walaupun di ujung. Hikss.

“Teguh turun di mana tadi Dek?”
“Itulah Kak, tadi Yana bilang gini; ‘Guh, turunnya di LPPM aja, tapi katanya mau ngobrol sama Kak Elisss?’ Eh dia malah bilang, ‘Nggak ah, males. Aku turun di sini aja!’ gitu katanya Kak.”
“Iya, dia tu marah sama Kakak gara-gara Kakak nggak ngasih tahu dia kalau Kakak lolos ke Bangladesh. Kakak juga nggak tahu dia tu tahu dari siapa.”
“Yana yang bilang Kak. Yana tahunya dari Monik.”
“Loh? Monik tahunya dari mana?”
“Mungkin dari Romi Kak soalnya mereka 1 desa KKNnya.”
“Haaa, mungkin iya tuh. Soalnya Romi itu tahu. Kakak juga heran dari mana dia tahu, jangan-jangan dia ngintipin blog Kakak. Tapi, Teguh kan hobi baca blog Kakak juga, kok dia bisa kelewatan baca cerita tentang itu? huahh… Kakak emang nggak ada cerita-cerita ke orang karena belum pasti berangkatnya Dek.”
“Eh, berangkatlah Kak. Ke Bangladesh loh.”
Hemm…maunya sih gitu Dek. Tapi…banyak tapinya nih.
“Kok jadi baperan gitu si Teguh sih Dek? Dia ngakunya kemarin tuh bukan orang yang baperan Dek.”
“Iya, di KKN apalagi Kak. Baperan kali dia tuh. Sampai anak-anak posko bilang gitu juga. Habisnya dia dikit-dikit ngambek. Tapi, kalau dia ngambek, kami beruntung Kak karena kalau sedang marah, dia tu sambil bersih-bersih. Hahaha.. lucu Teguh tu.”
“Dia kalau marah ngomel-ngomel gitu nggak Dek?”
“Diam Kak.”
“Oh, diam aja?”
“Iya. Asli kayak Cewek Kak dia tuh. Tapi dia cepat marah, cepat pula redanya.

“Gimana sama teman-teman seposko Dek? Aman kan sampek akhir?”
“Alhamdulillah aman Kak. tapi kami sempat buka forum 2 kali untuk mengungkapkan semua keluhan-keluhan kami. Disitulah semua kami mengungkapkan apa yang nggak kami suka. Sebenarnya Kak, kami tu terbagi jadi 2 kubu; Gank Dus dan Gank Gos.”
“Apa itu Dek?”
“Gank Dusta dan Gank Gosip. Hahaha. Gank Gosip itu karena kerjanya suka gosipin orang sedangkan Gank Dus itu karena semuanya serba dusta, senyumnya dusta, ketawanya dusta, ramahnya dusta.”
“Lah, Adek termasuk kelompok mana?”
“Yana Gank Dus Kak, hhehe. Kalau Gank Gos itu cowoknya 1 orang. Kalau Gang Dus, ceweknya yang 1 orang Kak, hahaha.”
"Yana lah  cewek yang 1 orang itu ya?"
"Iya Kak. heheh. Tapi, alhamdulillah sampai akhir kemarin kami baik-baik aja dan udah saling memaafkanlah Kak."
"Syukurlah. Itulah ya Dek, KKN itu sekalipun indah, tapi cukup 1 kali aja dan nggak mau diulang lagi."
"Bener tuh Kak."

Aku ikut masuk ke kosannya Yana. Kami sempat ngobrol sebentar tentang pengalaman KKNnya. Lucu, terharu, aneh, konyol dan ada serem-seremnya juga. Hehe. That’s why I said that KKN is urgent. Yana dapat banyak hadiah dari anak-anak dan penduduk sana dan aku jadi teringat dengan masa KKNku dulu. Dari teman-teman seposko, yang mirip kayak Yana adalah Yaumil. Karena dia penyayang sama anak-anak dan dekat dengan penduduk. Aku? Hemmm… kurang suka dekat-dekat anak kecil dan sama penduduk pun apa adanya aja. Makanya, akulah satu-satunya cewek yang nggak pernah digangguin pemuda sana. Hihiii, mungkin karena rautku galak kali yee?. Tapi, Alhamdulillah aku dekat dengan anak-anak SMA karena aku ngajar di sana. Dari merekalah aku banyak dapat hadiah. Alhamdulillah, nama kita selalu punya tempat di hati orang-orang meskipun nggak semua orang.

***
Aku dan Rini memilih halte bus UR di dekat masjid Arfaunnas sebagai tempat kami menunggu. Dek Aldi udah ku SMS sejak tadi tapi belum juga dibalasnya.
“Rin, pinjam HP lah buat nelvon Aldi.”
Rini menyodorkan HPNnya.
“Katanya di Arfaunnas Rin kita rapatnya. Dia bahkan masih ngira kita rapatnya di MAN-nya Lia.”
“Lia tadi BBM katanya dia aja baru pulang pelatihan jam 5. Aldi udah sampek mana katanya?”
“Baru mau berangkat katanya. Hemm… jadi, intinya panitia inti sekarang cuma kita berlima aja Rin. Huh! Sebenarnya kita hanya harus lebih gencar lagi promosi lewat FB Rin. Itu salah satu jalan yang efektif dan efisien.”
“He’eh. El, kita langsung ke Arfaunnas ajalah yuk kalau gitu.”
“Sini ajalah dulu, aku baru mulai nulis ni haaa.”

“Geser lah El dikit, aku mau nyandar. Kalau duduk di sebelah situ, dilihatin mukaku sama orang-orang yang lewat.” Rini berpindah ke sebelah kananku.
“Idihhh, yang pede-annya. Memangnya siapa yang mau lihatin Rini?”
Aku mengetik dan Rini main Android. Mau ngasih makan Tom katanya –game kucingnya di HP.
“El, itu nggak Adek tuu?” tanya Rini.
Aku mengikuti pandangannya. Benar saja, ternyata Aldi yang baru saja memarkirkan motornya di dekat halte ini. Ia langsung bergabung bersama kami dan tanpa beringsut ke Arfaunnas kami segera mengeksekusi bahasan rapat kali ini. Aku punya ide tiba-tiba untuk menyebarluaskan info ini lewat radio. Yap, itu pasti akan lebih luas jangkauannya. Tinggal bagaimana kami harus menghubungi orang-orang yang dapat memudahkan jalan kami menuju radio.
“Kak Bela katanya mau ke sini juga Kak,” kata Aldi.
Ketika Bela datang, Rini berbisik kepadaku; “El, look at her shoes!”

Aku memperhatikan sepatu boot yang dipakai sepupunya Bela. Wow! Awesome. I want it too. Hiksss.. very want. But still not for now.
"Tanyaklah El, beli di mana dia?"
"Apa loe kate? Gengsi lah aku Riin. huh."
"Ohh.. begonoh?" kata Rini, pelan.
“Bela belum ada nyebarin brosur kan? Ini ada beberapa lembar, coba Bela sebarin di sekolah tempat Bela ngajar atau di mana pun tempat yang bisa di pasangin brosur ini yaa.”
“Oke Ciinn.”
“Eh, Bela ngajar di mana sih sekarang?”
“Di An-Nur sama Al-Azhar, privat-privat gitulah Liis.”
Luar biasa kamu, Bela! Aku bahkan nggak kefikiran lagi buat ngajar; privat or theacer in school. Ku lirik Android milik Bela, hemm..bukan jenisnya yang membuat hatiku berdesir, tapi pertanyaan; ‘Kapan aku punya Andro yang lebih layak?’ terwujud. Semoga segera ya Allah. Aamiiin. Asalkan: 1. Aku mau melebihkan usaha dan 2. Mengurangi waktu luang.

***
Setelah rapat, Rini mengajakku kembali ke kosannya Fani –teman SMAnya, karena laptopnya masih tertinggal di sana. Sekaligus juga aku mau melihat 3 kucing Persia milik temannya itu.
“Halloo.. Elysa,” sapaku kepada Fani sambil menyalaminya.
Perhatianku langsung tertuju sepenuhnya kepada 3 kucing milik Fani; ada yang berbulu kuning kecokelatan, abu-abu dan hitam. Hiksss… gemeesss kali ngelihat mereka yang bulunya lembut dan ngembang banget giniii. Aku cubit-cubit dan ku gendong-gendong mereka 1 per 1. Bener kata Rini, rasanya kayak sedang nggendong boneka hidup aja, hehe. Pengen jugalah nanti kalau udah menikah melihara kucing kayak gini. Lucuuuu banget dan aku juga pernah baca bahwa menyayangi kucing itu adalah salah satu sunnah nabi karena nabi pun menyukai kucing.
“Ini kenapa Emaknya diam aja Fann?”
“Iya, induknya memang diam aja tuh akhir-akhir ini. Mungkin stress dia nggak bisa kawin.”
“Kau suntuk karena udah lama nggak jumpa sama Ibu-ibu arisan ya Nis? Kau tahu 2 kucing imut ini adalah anakmu rupanya? Tidur aja kerjamu nisss…niiss. Nyuci baju kek sana!” aku ngobrol sambil mengelus-ngelus kucing hitam.
“Jangan bikin malu Ell,” kata Rini.

Aku mana peduli. Tetap aja aku ngajakin 3 kucing ini ngobrol nggak jelas. Seneeeeng banget rasanya. Mungkin, kalau aku punya kucing kayak gini, aku nggak bakal ke luar lama-lama  dari kosan karena kangen terus sama mereka, hihii. Tapi, bulunya rontok gini aku jadi khawatir tentang penelitian bahayanya bulu kucing karena bisa menyebabkan kemandulan. Naudzubillah ya Allah…
“Fani, berapa sih harga makanan kucing tuh? Mahal nggak?” tanyaku.
“Tergantung El. Kalau yang aku punya sekarang itu 3kg harganya Rp 300.000.”
“Kucing kayak gini nih perawatannya mahal El,” kata Rini.
“Iya, harus sering-sering bersihin badannya, terutama telinganya. Biar nggak berkutu.”
“Kucing itu kayak manusia juga kan Fan? Kalau dikorekin telinganya kegelian?” tanya Rini.
“Ciyeee..yang udah pernah jadi kucing. Iyalaah tuuu,” sahutku.
Eh, ngelihat kucing-kucing Persia ini jadi ingat sama Teguh. Dia masih ngambek nggak ya sama aku?
Dek, beneran ngambek nih sama mak? Kefikiran terus loh mak nii..
Bosan menunggu balasan dari Teguh dan seseorang lainnya membuatku suntuk. Ajang bertukar film antara Fani dan Rini juga belum selesai. Ku cas laptopku yang udah lowbat ini dan mulailah aku menarikan jemari kembali. I love writing too much. If you wanna love me, just love my writing first. If you don’t even feel match, maybe you cant love me. *Ini ngomongin apaan ya?

***
“El, aku disuruh cepat pulang sama orang tuaku.”
Aku menduga yang menelvon Rini barusan pasti keluarganya. “Kapan?”
“Sekitar tanggal 17an September inilah. Supaya aku bisa bantu-bantu Ibukku jualan juga di sana.”
“Ya, kalau gitu nggak usah aja jadi LO sejak sekarang!” *Duh, kok refleksku bisa sekejam itu ya? maaf ya Rin. Aku benar-benar kacau setiap kali mendengar perpisahan.
“Ya udah lah, aku bantu-bantu nyebarin info aja lewat twitter kalau gitu.”
Aku mengetikkan kalimat di HP sebagai luahan perasaan…
Kadang, aku memilih untuk berpura tidak sedih di hadapannya karena sadar bahwa dia tidak akan sesedih itu terhadapku.
Jujur. Apa adanya. Dan sering ku rasakan. Yap, menit-menit selanjutnya aku sudah netral lagi dengan keadaan. Sedih yang tadi sempat ada sudah cepat ku obtain diam-diam. Rin tidak perlu tahu itu.
“Rin, Rinn.. Bang Zull SMS…!” pekikku.
“Ciyeee..”
“Tumben. Eh, mana kameraku? Biar ku abadikan. Heehehe, jarang-jarang nih.”
Setelah ku foto tampak depan SMSnya lalu ku baca pesannya.
“Ya elaaahh, ternyata dia belum juga baca cerita kemarin Riin. Udah seminggu berlalu dah. Barulah dia minta lagi linknya. Owalaaahhhh.. aku kira ntah SMS apa dia tadi.”
“Hihiii..kacian deh lo..”

Tidak ada komentar: