“Rin,
sarapan di mana kita?”
“Beli
Lontong Medan yuk?”
“Emangnya
enak Lontong Medan itu Rin?”
“DIcobakk
duluuu,” jawab Rini sok lembut.
Kami
kembali ke tempat beli mie ayam kemarin. Ternyata menu sarapannya nggak ada,
mie ayam dan bakso malahan yang pagi-pagi gini udah buka. Kami menelusuri
Manyar Sakti untuk menemukan mie bihun goreng. Rini sih ngikut aja, karena biasanya di mana ada mie bihun
goreng, di situ pasti ada nasi goreng. Hehe.
Setelah
penelusuran selesai, yang dicari nggak ditemukan juga. Akhirnya, kami putuskan
untuk makan di Kalasan dengan memesan menu Nasi Goreng Hijau. Terakhir kali aku
makan nasi goreng hijau ini sih udah sekitar 2 tahun yang lalu ketika dia yang
ku sebuh sahabat, masih di sisi, di sini. Aku masih ingat, waktu itu aku mau
nyobain nih nasi goreng ya gara-gara dia yang ngajakin.
“El, duduk
di mana nih? Lesehan?”
“Eh,
janganlah. Kita di sudut aja. Kalau kita lesehan, Adek itu pasti negur aku dan
ngajak ngobrol, masalahnya aku sedang nggak pengen ngobrol Rin. Ada saatnya aku
hanya ingin diam dan memperhatikan.”
“Ciyeeee..nyindir
ya?”
“Loh?!”
Aku dan
Rini mengambil beberapa tempe goreng sebagai peneman dan pelengkap nasi goreng.
Rasanya jadi jauh lebih gurih dan asyik. Setelah kami selesai dengan Kalasan,
tujuan selanjutnya adalah onlie di perpus. Ada beberapa postingan untuk Truly
Elysa yang udah siap posting nih.
“Duh, Rin.
Kok kepalaku jadi agak puyeng ya setelah makan nasi goreng hijau itu?”
“Karena
karbohidratnya tuuhh.”
Aku mencoba
percaya aja dengan pendapatnya Rini barusan.
***
Yun? Udah di puswil?
Udah dari tadi sih
El. tapi ni ke kampus dulu, dipanggil.
Emm..gimana ya
Yuunn, aku nggak ada urusan lain ke sana sih. Jadinya, agak males ke sanaa.
Jauh juga kan.
*Ini ada ya orang yang mau dibayar utangnya tapi ogah-ogahan
berangkat? Biasanya kan orang selalu sigap dan kalau bisa detik ini pun
berangkat menjemputnya. Saya memang aneh pemirsaa. Giliran orang itu susah
bayar utangnya, aku rajin ngingatkan. Tapi giliran orang itu niat mau bayar,
aku malah nunda-nunda. Hihii ya gini contohnya.
“El, kabarnya tahun
depan, kalau kita daftar S2, minimal lama studinya 4 tahun loh.”
“Seriusan Rin?”
“Iya. Tapi kalau daftarnya masih di tahun ini, masih 2 tahun
masa studinya. Ada peraturan baru.”
“Heeemmm…Harus nih! Harus segera mengejar S2. Harus.”
Aku kembali ngelanjutin penggarapan laman Truly Elysa-ku.
Wifi perpus UR sedang kenceng banget nih. Rini pun sedang online di depanku.
***
“Rini ingat mushola ini nggak?”
“Ingat.”
“Tempat kita ngapain?”
“Sholat dan tidur, hehe.”
Azan sedang berkumandang, kami memutuskan untuk sholat si
Arrafah. Tadinya, Rini udah bilang kalau dia ngantuk. Tapi aku menolak untuk
pulang, karena kalau udah pulang lain lagi ceritanya ntar; kalau nggak nonton
ya tidur.
Aku terkesima melihat jamaah laki-laki yang mencapai 3 shaf.
Motor yang terparkir di depan pun banyak. Alhamdulillah, semakin banyak
calon-calon imam yang sadar akan pentingnya sholat di mushola.
Aku sholat duluan, karena mukenanya cuma 1. Mungkin yang
lainnya sedang di laundry. Hemm…harusnya aku menyudahi kemalasanku membawa
mukena sendiri. Harusnya aku malu sama seorang karyawan Mall SKA kemarin yang
bawa mukena sendiri padahal di musholanya banyak banget mukena yang bisa
dipake. Dia nggak berjilbab, tapi dia faham pentingnya kebersihan dan kesucian.
Meskipun mukena itu akan semakin memberatkan tasnya. Lalu, aku ini bagaimana?
“El, kita ke KFC yuk? Aku pengen kali makan es krim loh.”
“Lalaaap nya! Aku nggak mau waktuku terbuang di sana Rin.”
“Haalaah, kan El bisa nulis juga nyaa di sana.”
“Oh iyaa ya. Hehe.”
Sebelum masuk ke KFC, kami terlebih dahulu masuk ke Giant
untuk beli lipstic. Karena aku merasa wajahku terlihat cerah dan bersinar
berkat pakai lipstic mate-pinknya Rincuy, akhirnya aku pengen juga. Tapi, aku
tetap pakai pixy.
“Coba aja kalau ragu El.”
Diam-diam, aku mengoleskan lip colour conditioner berwarna
pink itu ke bibirku, sedikit. Aku biasanya sih pakai yang orange, tapi ini mau
coba warna baru dulu.
“Mohon maaf Mbak, Mbak tadi mencoba lipstik ini? Ini bukan
taster Mbak. Nggak boleh dicoba.”
“Kan cuma sedikit Mbak,” bantahku.
“Iya, tapi tetap kelihatan bekasnya ini Mbak.”
“Jadi gimana?”
“Ya harus dibeli Mbak. Maaf ya Mbak.”
“Lagian bagus kok warnanya El. Ya udah, beli aja.”
Setelah membayar Rp 25.000, kami langsung bertolak ke KFC. Rini
memesan es krim Rp 5000. Aku mesen spaghetti Rp 5000 dan mango float Rp 5000.
Kami memilih ruangan di lantai atas, di sofa empuk berwarna hitam di sudut
ruangan. Aku pengen nyobain spagetinya tu untuk bertahan selama 2 jam ke depan.
Kata Rini, dia masih kenyang dan ngajak makan jam 3 aja. hiksss.
“Ya jelas ajalah tadi ketahuan kalau aku udah nyoba
lipstiknya Rin, karena ku minta tolong ambilkan kaca sama Mbak itu. Buat apa lagi kan kalau bukan untk ngelihat hasil polesan?.”
“Arassooh. Nggak apa-apalah. Kan bagus tuh kok warnanya.”
Aku jadi dapat ide untuk menulis kalimat inspiratif. Karena kecerdasan kita DIBAYAR mahal
sedangkan karena kebodohan kita MEMBAYAR mahal. Harus ku akui bahwa yang baru saja terjadi itu adalah karena
kebodohanku. Harusnya aku tanya dulu, ada nggak disediakan tasternya? Jangan
asal main comot aja. Kalau pun nggak ketahuan sama Mbak itu, tapi kan udah
ketahuan juga sama Allah. Hiksss.
“Hidup
wifinya Rin?”
“Nggak nih.
Kita kurang beruntung.”
“Nah, kalau
di kosan ada kursi dan meja yang kayak gini, pasti aku bakalan betah ngetik
seharian,” kataku sambil berpindah tempat duduk dan selanjutnya mengetik.
***
Sedang
asyik-asyiknya ngetik, eh malah Rini yang ngajak pulang. Kami sempat bingung
menentukan ingin makan di mana. Dan, akhirnya Ayam Gopek jadi tujuan.
“El mesen
terong penyet ya?”
“Yuhuuu.. I
love terong.”
“Hissss..ntah
kayak apa pun rasanya. Aku mau sih makan terong, asal diiris tipis-tipis dan
itu pun harus disambal dengan tambahan lainnya. Baru mau ku makan.”
“Lalaap
nya! Sama doank pun.”
Karena
terongnya banyak, aku minta 1 nasi tambahan untuk mengimbanginya hehe. Tapi,
kali ini aku nggak minum pakai teh es pemirsaaa. Kenapa? Ngirit. Heehe.
Ketika mau
bayarr…
“Rin,
uangku cuma ada 8ribu nih. Pinjam uang Rini yaa.”
“Uangku pas
10ribu loh El. Ih, emang nggak tahu diri El niii, udah tahu nggak ada uang
malah nambah pula tadi tuu.”
“Emangnya
berapa sih semuanya? 11ribu kan?”
“Mana pula.
Tambah nasi El tadi. 13ribu semuanya. Ihh, apalaah El niii. Dah lah ku tinggal
pulang aja.”
“Pulanglah
sana! Giliran aku susaah, Rini tinggalin aku sendiri. Giliran senang-senang,
sama aku.”
“Makanya
besok lihat-lihat kalau mau nambah. Yang geraman nya aku dibuat El niii,” Rini
nyengir sambil menahan kesal.
“Kan tadi
sebelum ke sini Rini bilang ada uang lebih. Makanya aku nyantai aja.”
“Kalau
ternyata aku cuma bercanda gimana? Mau El disuruh nyuci piring dulu di sini
untuk ganti rugi?”
“Kan
kenyataannya Rini emang punya uang lebih kan? Hehhe.. yuhuuuu..bayarin yaahh.
Ntar ku ganti. Kapan-kapan.”
“Owalaaah
El, El…”
***
“El, si
Andin ngajakin ke Angkringan.”
“Heemm..
pengen sih, tapi aku masih kenyang Rin dan pengen nulis.”
“Selalaap nya!”
Andin turun
ke bawah dan ngajak Rini cap cuss. Aku tetap nggak tergiur untuk pergi. Pergi
itu butuh waktu setidaknya 1 jam. Sedangkan, aku masih kenyang dan kalau
disubstitusikan ke tulisan, udah dapet 5 halaman toh?
“El nggak
nitip apa-apa nih? Tanya Andin.
“Nggak
Ndiiinn. Yuhuu. Hati-hati yaa.”
Tapi,
setelah sejam kepergian mereka, akhirnya aku sms juga, Cuy, aku pesen mie bihun goreng ya. Maacih. Dan, ketika mereka pulang, ternyata
yang dibelikan oleh Rini bukan mie bihun, tapi mie kuning biasa.
“Nggak
apa-apa deh, semua ku makan kok! Hehe.”
“Kami dapat
rezeki nomplok tadi El. kami kan ketemu dengan senior kami, nah dialah yang
nraktir kami.”
“Termasuk
mie ini?”
“Iyaa.”
“Alhamdulillah
ya Allah. Ngiriitt. Hehe.”
Aku nguping
obrolan Rini dan Andin dan tiba-tiba aku nyeletuk.
“Andin
diterima kerja di mana sih?”
“Alfa mart
El. Sebenarnya agak malu juga sih nyebutinnya. Hehe.”
“Andin di
bagian apanya?”
“Inilah
keuntungan kita kalau S1 El, aku jadi kepala tokonya. Jadi, ada 2 kepala toko
dalam 1 toko Alfa mart. Ya tugasnya mantauin toko, kita harus tahu
istilah-istilah di dalamnya. Waktu interview kemarin aku ditanya, ‘Kalau ada
kekurangan, kamu mau bertanggung jawab untuk nombokin?’ aku jawablah, ‘Ya harus mau Pak’. Kemarin itu yang
daftar 20 orang. disisihkan jadi 15 orang, disisihkan lagi jadi 5 orang dan
yang lolos itu cuma 2 orang termasuk aku. Alhamdulillah.”
“Weeww..
keren banget Andin ah.”
“Aku ada
tanya-tanya sama teman aku yang udah kerja di sana juga kan El. katanya gajinya
lumayanlah, di atas 2 jutaan.”
“Weeww,
udah mantap kali lah tuh Ndin. Honorer aja nggak sampek segitu. Jauh bahkan.”
Aku
berfikir, Apa aku kerja di sana juga ya
setelah ini? Kayaknya asyik.
“Tapi El,
aku kan nanya boleh nggak kalau pakai rok. Terus, kata Bapak itu, ‘Ya nggak boleh
lah Dek’.”
Andin
seolah tahu apa yang sedang ku fikirkan. Kalau gitu, aku urung. Apalagi waktu
Andin bilang jilbabnya harus di atas dada. Hikss.. cedihhh.
Obrolan
kami kini beralih topik ke pernikahan. Bukan hanya aku dan Rini yang terjangkit
sindrom married ternyata, Andin juga.
“El, taaruf
itu gimana sih?”
“Taaruf itu
proses perkenalan Ndin antara cewek dan cowok tapi harus ada muhrimnya juga di
sana. Dan, hal-hal yang ditanyakan itu bukan hal-hal sepele, kayak; warna kesukaan kamu apa, kamu suka apel
nggak. Tapi, lebih ke hal-hal yang prinsipil, kayak; Kamu berencana untuk
tinggal di mana setelah menikah, apakah aku boleh bekerja juga. Nah, yang kayak
gitu Ndin.”
“Aku pengen
loh El taaruf. Tapi sama siapa? Siapa yang mau taaruf sama aku?”
Aku tersentak.
Pertanyaan Andin barusan membuatku berfikir; ‘Mungkin ada banyak cewek di luar
sana yang bermimpi sama seperti Andin. Tapi, karena tidak tahu bagaimana
caranya dan dengan siapa bertanya, maka jadilah banyak yang ber-taaruf dengan
caranya sendiri. Ya Allah, maafkan aku yang kurang peka ini.’
Intinya,
mereka punya mimpi untuk menikah tanpa pacaran, tapi sayangnya nggak punya
teman yang ‘faham’ hal itu. Untung aja aku ada untuk Andin. Ya Allah, rasanya
pengen banget menolongnya. Tapi, pertanyaan selanjutnya, ‘Adakah laki-laki yang
alim yang nggak ‘memilih’? Andin bilang gini, “El, aku pengen kali punya suami
yang membimbingku untuk lebih baik lagi. Aku mau kok nurut. Kemarin aku lihat
ada suami istri di mall. Istrinya sedang duduk, mungkin dia capek dan suaminya
yang gendong anaknya sambil sesekali nanyai istrinya dengan lembut. Istrinya
itu biasa aja, tapi karena jilbabnya dalam akhirnya terlihat anggun. Suaminya
itu wajahnya teduuuh kali loh El, ada janggutnya dan celananya agak gantung
gitu. Ihh ya Allah, nggak nolak aku kalau ada yang kayak gitu mau sama aku
Elll. Huhuu.”
Cewek,
sejatinya memang penurut. Kecenderungannya adalah mengikuti nasehat suami.
Makanya, memilih suami yang sholeh menjadi problem yang sangat penting untuk
difikirkan.
“Insya
Allah kalau udah waktunya, dia akan datang ke Andin,” jawabku. Sebenarnya, aku
pun nggak puas dengan jawabanku. Tapi, aku harus terlihat meyakinkan supaya
Andin nggak bertambah bingung.
“Itulah El
yang selalu aku fikirkan. Apakah mungkin dia akan datang dengan sendirinya
sementara aku nggak pernah memberitahu dan mencari tahu?”
Aku semakin
berfikir keras atas pertanyaan Andin barusan. Benar yang diduganya itu. Kalau
yang punya khalaqoh, bisalah minta tolong sama mentornya untuk mencarikan.
Kalau yang nggak ikutan kayka Andin, gimana caranya? Aku percaya bahwa hidup
kita membentuk pola. Kehidupan Andin sudah terpola dengan pergaulannya. Dan,
darimana jalurnya orang-orang seperti tadi mengenal Andin hingga ingin
bertaaruf dengannya?
“Hemm..bisa
aja Ndin. Emangnya kemarin waktu ada
cowok yang nembak Andin, Andin pernah promosiin diri Andin? Nggak pernah kan?
Tapi, kenapa dia bisa yakin untuk nembak Andin? Nah, begitu juga dengan jodoh.
Kalau memang udah masanya, insya Allah Andin akan dijemputnya. Aamiin.”
Eh, itu aku
yang ngomong ya barusan? Kok kayak nggak percaya gitu akunya. Hehe, kece juga
kalimatku. Semoga Engkau menunjukkan
Andin ke jalan yang lurus dan jika aku harus jadi perantara-Mu, tunjuki aku
jalannya ya Rabb. Aamiin.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar