Senin, 03 Agustus 2015

Kecerobohan yang Dibayar Mahal


“Rin, sarapan di mana kita?”
“Beli Lontong Medan yuk?”
“Emangnya enak Lontong Medan itu Rin?”
“DIcobakk duluuu,” jawab Rini sok lembut.
Kami kembali ke tempat beli mie ayam kemarin. Ternyata menu sarapannya nggak ada, mie ayam dan bakso malahan yang pagi-pagi gini udah buka. Kami menelusuri Manyar Sakti untuk menemukan mie bihun goreng. Rini sih ngikut aja, karena biasanya di mana ada mie bihun goreng, di situ pasti ada nasi goreng. Hehe.
Setelah penelusuran selesai, yang dicari nggak ditemukan juga. Akhirnya, kami putuskan untuk makan di Kalasan dengan memesan menu Nasi Goreng Hijau. Terakhir kali aku makan nasi goreng hijau ini sih udah sekitar 2 tahun yang lalu ketika dia yang ku sebuh sahabat, masih di sisi, di sini. Aku masih ingat, waktu itu aku mau nyobain nih nasi goreng ya gara-gara dia yang ngajakin.
“El, duduk di mana nih? Lesehan?”
“Eh, janganlah. Kita di sudut aja. Kalau kita lesehan, Adek itu pasti negur aku dan ngajak ngobrol, masalahnya aku sedang nggak pengen ngobrol Rin. Ada saatnya aku hanya ingin diam dan memperhatikan.”
“Ciyeeee..nyindir ya?”
“Loh?!”

Aku dan Rini mengambil beberapa tempe goreng sebagai peneman dan pelengkap nasi goreng. Rasanya jadi jauh lebih gurih dan asyik. Setelah kami selesai dengan Kalasan, tujuan selanjutnya adalah onlie di perpus. Ada beberapa postingan untuk Truly Elysa yang udah siap posting nih.
“Duh, Rin. Kok kepalaku jadi agak puyeng ya setelah makan nasi goreng hijau itu?”
“Karena karbohidratnya tuuhh.”
Aku mencoba percaya aja dengan pendapatnya Rini barusan.

***
Yun? Udah di puswil?
Udah dari tadi sih El. tapi ni ke kampus dulu, dipanggil.
Emm..gimana ya Yuunn, aku nggak ada urusan lain ke sana sih. Jadinya, agak males ke sanaa. Jauh juga kan.
*Ini ada ya orang yang mau dibayar utangnya tapi ogah-ogahan berangkat? Biasanya kan orang selalu sigap dan kalau bisa detik ini pun berangkat menjemputnya. Saya memang aneh pemirsaa. Giliran orang itu susah bayar utangnya, aku rajin ngingatkan. Tapi giliran orang itu niat mau bayar, aku malah nunda-nunda. Hihii ya gini contohnya.
 “El, kabarnya tahun depan, kalau kita daftar S2, minimal lama studinya 4 tahun loh.”
“Seriusan Rin?”
“Iya. Tapi kalau daftarnya masih di tahun ini, masih 2 tahun masa studinya. Ada peraturan baru.”
“Heeemmm…Harus nih! Harus segera mengejar S2. Harus.”
Aku kembali ngelanjutin penggarapan laman Truly Elysa-ku. Wifi perpus UR sedang kenceng banget nih. Rini pun sedang online di depanku.

***
“Rini ingat mushola ini nggak?”
“Ingat.”
“Tempat kita ngapain?”
“Sholat dan tidur, hehe.”
Azan sedang berkumandang, kami memutuskan untuk sholat si Arrafah. Tadinya, Rini udah bilang kalau dia ngantuk. Tapi aku menolak untuk pulang, karena kalau udah pulang lain lagi ceritanya ntar; kalau nggak nonton ya tidur.
Aku terkesima melihat jamaah laki-laki yang mencapai 3 shaf. Motor yang terparkir di depan pun banyak. Alhamdulillah, semakin banyak calon-calon imam yang sadar akan pentingnya sholat di mushola.
Aku sholat duluan, karena mukenanya cuma 1. Mungkin yang lainnya sedang di laundry. Hemm…harusnya aku menyudahi kemalasanku membawa mukena sendiri. Harusnya aku malu sama seorang karyawan Mall SKA kemarin yang bawa mukena sendiri padahal di musholanya banyak banget mukena yang bisa dipake. Dia nggak berjilbab, tapi dia faham pentingnya kebersihan dan kesucian. Meskipun mukena itu akan semakin memberatkan tasnya. Lalu, aku ini bagaimana?
“El, kita ke KFC yuk? Aku pengen kali makan es krim loh.”
“Lalaaap nya! Aku nggak mau waktuku terbuang di sana Rin.”
“Haalaah, kan El bisa nulis juga nyaa di sana.”
“Oh iyaa ya. Hehe.”

Sebelum masuk ke KFC, kami terlebih dahulu masuk ke Giant untuk beli lipstic. Karena aku merasa wajahku terlihat cerah dan bersinar berkat pakai lipstic mate-pinknya Rincuy, akhirnya aku pengen juga. Tapi, aku tetap pakai pixy.
“Coba aja kalau ragu El.”
Diam-diam, aku mengoleskan lip colour conditioner berwarna pink itu ke bibirku, sedikit. Aku biasanya sih pakai yang orange, tapi ini mau coba warna baru dulu.
“Mohon maaf Mbak, Mbak tadi mencoba lipstik ini? Ini bukan taster Mbak. Nggak boleh dicoba.”
“Kan cuma sedikit Mbak,” bantahku.
“Iya, tapi tetap kelihatan bekasnya ini Mbak.”
“Jadi gimana?”
“Ya harus dibeli Mbak. Maaf ya Mbak.”
“Lagian bagus kok warnanya El. Ya udah, beli aja.”
Setelah membayar Rp 25.000, kami langsung bertolak ke KFC. Rini memesan es krim Rp 5000. Aku mesen spaghetti Rp 5000 dan mango float Rp 5000. Kami memilih ruangan di lantai atas, di sofa empuk berwarna hitam di sudut ruangan. Aku pengen nyobain spagetinya tu untuk bertahan selama 2 jam ke depan. Kata Rini, dia masih kenyang dan ngajak makan jam 3 aja. hiksss.

“Ya jelas ajalah tadi ketahuan kalau aku udah nyoba lipstiknya Rin, karena ku minta tolong ambilkan kaca sama Mbak itu. Buat apa lagi kan kalau bukan untk ngelihat hasil polesan?.”
“Arassooh. Nggak apa-apalah. Kan bagus tuh kok warnanya.”
Aku jadi dapat ide untuk menulis kalimat inspiratif. Karena kecerdasan kita DIBAYAR mahal sedangkan karena kebodohan kita MEMBAYAR mahal. Harus ku akui bahwa yang baru saja terjadi itu adalah karena kebodohanku. Harusnya aku tanya dulu, ada nggak disediakan tasternya? Jangan asal main comot aja. Kalau pun nggak ketahuan sama Mbak itu, tapi kan udah ketahuan juga sama Allah. Hiksss.
“Hidup wifinya Rin?”
“Nggak nih. Kita kurang beruntung.”
“Nah, kalau di kosan ada kursi dan meja yang kayak gini, pasti aku bakalan betah ngetik seharian,” kataku sambil berpindah tempat duduk dan selanjutnya mengetik.

***
Sedang asyik-asyiknya ngetik, eh malah Rini yang ngajak pulang. Kami sempat bingung menentukan ingin makan di mana. Dan, akhirnya Ayam Gopek jadi tujuan.
“El mesen terong penyet ya?”
“Yuhuuu.. I love terong.”
“Hissss..ntah kayak apa pun rasanya. Aku mau sih makan terong, asal diiris tipis-tipis dan itu pun harus disambal dengan tambahan lainnya. Baru mau ku makan.”
“Lalaap nya! Sama doank pun.”
Karena terongnya banyak, aku minta 1 nasi tambahan untuk mengimbanginya hehe. Tapi, kali ini aku nggak minum pakai teh es pemirsaaa. Kenapa? Ngirit. Heehe.
Ketika mau bayarr…
“Rin, uangku cuma ada 8ribu nih. Pinjam uang Rini yaa.”
“Uangku pas 10ribu loh El. Ih, emang nggak tahu diri El niii, udah tahu nggak ada uang malah nambah pula tadi tuu.”
“Emangnya berapa sih semuanya? 11ribu kan?”
“Mana pula. Tambah nasi El tadi. 13ribu semuanya. Ihh, apalaah El niii. Dah lah ku tinggal pulang aja.”
“Pulanglah sana! Giliran aku susaah, Rini tinggalin aku sendiri. Giliran senang-senang, sama aku.”
“Makanya besok lihat-lihat kalau mau nambah. Yang geraman nya aku dibuat El niii,” Rini nyengir sambil menahan kesal.
“Kan tadi sebelum ke sini Rini bilang ada uang lebih. Makanya aku nyantai aja.”
“Kalau ternyata aku cuma bercanda gimana? Mau El disuruh nyuci piring dulu di sini untuk ganti rugi?”
“Kan kenyataannya Rini emang punya uang lebih kan? Hehhe.. yuhuuuu..bayarin yaahh. Ntar ku ganti. Kapan-kapan.”
“Owalaaah El, El…”

***
“El, si Andin ngajakin ke Angkringan.”
“Heemm.. pengen sih, tapi aku masih kenyang Rin dan pengen nulis.”
“Selalaap nya!”
Andin turun ke bawah dan ngajak Rini cap cuss. Aku tetap nggak tergiur untuk pergi. Pergi itu butuh waktu setidaknya 1 jam. Sedangkan, aku masih kenyang dan kalau disubstitusikan ke tulisan, udah dapet 5 halaman toh?
“El nggak nitip apa-apa nih? Tanya Andin.
“Nggak Ndiiinn. Yuhuu. Hati-hati yaa.”
Tapi, setelah sejam kepergian mereka, akhirnya aku sms juga, Cuy, aku pesen mie bihun goreng ya. Maacih. Dan, ketika mereka pulang, ternyata yang dibelikan oleh Rini bukan mie bihun, tapi mie kuning biasa.
“Nggak apa-apa deh, semua ku makan kok! Hehe.”
“Kami dapat rezeki nomplok tadi El. kami kan ketemu dengan senior kami, nah dialah yang nraktir kami.”
“Termasuk mie ini?”
“Iyaa.”
“Alhamdulillah ya Allah. Ngiriitt. Hehe.”
Aku nguping obrolan Rini dan Andin dan tiba-tiba aku nyeletuk.
“Andin diterima kerja di mana sih?”
“Alfa mart El. Sebenarnya agak malu juga sih nyebutinnya. Hehe.”
“Andin di bagian apanya?”
“Inilah keuntungan kita kalau S1 El, aku jadi kepala tokonya. Jadi, ada 2 kepala toko dalam 1 toko Alfa mart. Ya tugasnya mantauin toko, kita harus tahu istilah-istilah di dalamnya. Waktu interview kemarin aku ditanya, ‘Kalau ada kekurangan, kamu mau bertanggung jawab untuk nombokin?’ aku jawablah, ‘Ya harus mau Pak’. Kemarin itu yang daftar 20 orang. disisihkan jadi 15 orang, disisihkan lagi jadi 5 orang dan yang lolos itu cuma 2 orang termasuk aku. Alhamdulillah.”
“Weeww.. keren banget Andin ah.”
“Aku ada tanya-tanya sama teman aku yang udah kerja di sana juga kan El. katanya gajinya lumayanlah, di atas 2 jutaan.”
“Weeww, udah mantap kali lah tuh Ndin. Honorer aja nggak sampek segitu. Jauh bahkan.”
Aku berfikir, Apa aku kerja di sana juga ya setelah ini? Kayaknya asyik.
“Tapi El, aku kan nanya boleh nggak kalau pakai rok. Terus, kata Bapak itu, ‘Ya nggak boleh lah Dek’.”

Andin seolah tahu apa yang sedang ku fikirkan. Kalau gitu, aku urung. Apalagi waktu Andin bilang jilbabnya harus di atas dada. Hikss.. cedihhh.
Obrolan kami kini beralih topik ke pernikahan. Bukan hanya aku dan Rini yang terjangkit sindrom married ternyata, Andin juga.
“El, taaruf itu gimana sih?”
“Taaruf itu proses perkenalan Ndin antara cewek dan cowok tapi harus ada muhrimnya juga di sana. Dan, hal-hal yang ditanyakan itu bukan hal-hal sepele, kayak; warna kesukaan kamu apa, kamu suka apel nggak. Tapi, lebih ke hal-hal yang prinsipil, kayak; Kamu berencana untuk tinggal di mana setelah menikah, apakah aku boleh bekerja juga. Nah, yang kayak gitu Ndin.”
“Aku pengen loh El taaruf. Tapi sama siapa? Siapa yang mau taaruf sama aku?”
Aku tersentak. Pertanyaan Andin barusan membuatku berfikir; ‘Mungkin ada banyak cewek di luar sana yang bermimpi sama seperti Andin. Tapi, karena tidak tahu bagaimana caranya dan dengan siapa bertanya, maka jadilah banyak yang ber-taaruf dengan caranya sendiri. Ya Allah, maafkan aku yang kurang peka ini.’

Intinya, mereka punya mimpi untuk menikah tanpa pacaran, tapi sayangnya nggak punya teman yang ‘faham’ hal itu. Untung aja aku ada untuk Andin. Ya Allah, rasanya pengen banget menolongnya. Tapi, pertanyaan selanjutnya, ‘Adakah laki-laki yang alim yang nggak ‘memilih’? Andin bilang gini, “El, aku pengen kali punya suami yang membimbingku untuk lebih baik lagi. Aku mau kok nurut. Kemarin aku lihat ada suami istri di mall. Istrinya sedang duduk, mungkin dia capek dan suaminya yang gendong anaknya sambil sesekali nanyai istrinya dengan lembut. Istrinya itu biasa aja, tapi karena jilbabnya dalam akhirnya terlihat anggun. Suaminya itu wajahnya teduuuh kali loh El, ada janggutnya dan celananya agak gantung gitu. Ihh ya Allah, nggak nolak aku kalau ada yang kayak gitu mau sama aku Elll. Huhuu.”

Cewek, sejatinya memang penurut. Kecenderungannya adalah mengikuti nasehat suami. Makanya, memilih suami yang sholeh menjadi problem yang sangat penting untuk difikirkan.
“Insya Allah kalau udah waktunya, dia akan datang ke Andin,” jawabku. Sebenarnya, aku pun nggak puas dengan jawabanku. Tapi, aku harus terlihat meyakinkan supaya Andin nggak bertambah bingung.
“Itulah El yang selalu aku fikirkan. Apakah mungkin dia akan datang dengan sendirinya sementara aku nggak pernah memberitahu dan mencari tahu?”
Aku semakin berfikir keras atas pertanyaan Andin barusan. Benar yang diduganya itu. Kalau yang punya khalaqoh, bisalah minta tolong sama mentornya untuk mencarikan. Kalau yang nggak ikutan kayka Andin, gimana caranya? Aku percaya bahwa hidup kita membentuk pola. Kehidupan Andin sudah terpola dengan pergaulannya. Dan, darimana jalurnya orang-orang seperti tadi mengenal Andin hingga ingin bertaaruf dengannya?
“Hemm..bisa aja Ndin. Emangnya kemarin  waktu ada cowok yang nembak Andin, Andin pernah promosiin diri Andin? Nggak pernah kan? Tapi, kenapa dia bisa yakin untuk nembak Andin? Nah, begitu juga dengan jodoh. Kalau memang udah masanya, insya Allah Andin akan dijemputnya. Aamiin.”

Eh, itu aku yang ngomong ya barusan? Kok kayak nggak percaya gitu akunya. Hehe, kece juga kalimatku. Semoga Engkau menunjukkan Andin ke jalan yang lurus dan jika aku harus jadi perantara-Mu, tunjuki aku jalannya ya Rabb. Aamiin.

Tidak ada komentar: