Jumat, 21 Agustus 2015

Semuanya Bermula dari Gigi



HPku bergetar. Ku picingkan mata. Ternyata Novi yang menelvonku…
Ku reject panggilannya. Malu kalau ketahuan baru bangun. Hikksss. Eh, udah jam 9.08wib ternyata. Hoaaammm. Aku langsung ngacir kekamar mandi. 15 menit kemudian, aku melaju menuju kosan Novi. *eh, semoga 15 menitnya emang pas ya.
“Heiii,” sapa Novi yang ternyata udah ready di depan kosnya.
“Maap ya Cekkk.. Tadi eke ngetik sampai ketiduran. Hiksss. Waktu Novi SMS itu baru aja bangun.”
“Huuu…pantesan kok Novi SMS nggak ada direspon.”
“Rok Novi dipegang ya, awas masuk ke dalam rantai.”
“Iya Cekkk..”
Tidak ada hal yang lebih membahagian selain dari mampunya kita menolong orang lain, menurutku. Karena, kalau hidup cuma sekedar untuk diri sendiri, terlalu luas rasanya dunia ini untuk dipeluk sendiri dan terlalu kerdil rasanya akhirat nanti untuk dikejar sendiri. Terimakasih ya Allah untuk selalu membuatku bermanfaat dengan hadirnya mereka yang membutuhkanku...

***
“Kak, kemarin Kakak yang pengen VIVO dan sekarang Novi yang beli duluan, hehe.”
“Mana-mana, Lihat?”
Aku mengotak-ngatik HP Novi yang kece badaii ini. Punya Novi yang 5 inch, 0,5 inch lebih besar daripada punya papi. Ya Allah, segerakanlah hamba untuk punya HP impian juga ya, supaya semua pertukaran informasi lebih cepat.
“Cek udah bikin Instagram?”
“Udah. Udah Novi follow pun Kakak. Tapi masih kosong melompong ya akunnya?”
“Nah, ini dia Cek, sebenarnya Kakak masih ragu tentang upload-upload-an foto ini. Baik nggak sih sebenarnya Cek?”
“Novi pun awalnya ragu Cek. Novi pernah baca-baca artikel kan dan ada 2 pendapat tentang sisi buruk dan sisi baiknya. Kalau yang buruknya, ada yang mengkhawatirkan akan menimbulkan nafsu cowok, takutnya wajah kita dimanfaatkan untuk situs-situs nggak bener atau diguna-guna gitu Cek.”
“Kakak berfikir gini Cek, kalau seseorang meyakini bahwa mengupload foto ke medsos itu nggak boleh, seharusnya dia pun nggak boleh menikmati hasil uploadan orang lain donk!”
“Maksudnya Cek?”

“Gini loh, misalnya Kakak meyakini bahwa mengupload foto itu nggak boleh, ya harusnya Kakak pun nggak boleh menikmati foto-foto orang lain sekalipun itu artis. Tapi, kalau Kakak suka lihat-lihat foto Oki, Bella, Shireen karena Kakak berkeyakinan bahwa mengupload foto itu nggak masalah selama itu bukan foto lebay atau terlalu dekat wajahnya. Gitu aja sih kalau menurut Kakak.”
“Nah, Novi pernah juga baca Cek; Ada seorang cowok yang bilang ‘Tolong bantu kami menjaga nafsu kami’ akibat melihat foto-foto cewek . Sebenarnya, tanpa melihat foto pun, seorang cowok bisa aja bernafsu hanya dari membaca status cewek di medsos. Jadi, sebenarnya yang harus dididik itu nafsunya si cowok itu yang harus dijaga, bukan matanya.”
“Bener banget tuh Cek. Sekarang, pertanyaannya adalah; ‘Apa tujuan dia ngelihatin foto cewek dengan sengaja kalau memang dia tahu itu bisa mengundang nafsunya?’ Apalagi kalau dia seseorang yang udah faham.”
“Tulah Cek. Ntahlah. Novi hanya ingin menginspirasi orang lain dengan berbagi apa yang bisa Novi bagi Cek.”

Salah satu dari panitia mendekati Novi dan berbisik.
“Cek, bentar lagi Novi maju. Ntar tolong fotoin Novi ya Cek.”
“Ukeeehhh.”
Kemarin Novi yang menyaksikan aku berbicara di depan, hari ini waktu itu pun tiba; aku yang menyaksikan adek kecilku ini berbicara dengan penuh percaya diri di depan. Aku bangga kepadanya.
“….Kalau Kakak boleh tahu, Adek-adek di PSIK ini UKT-nya yang tertinggi berapa?”
“6 jutaan Kak,” jawab beberapa suara.
“Nah, itu mahal loh. Kalau di FKIP sekitar 4 juta UKT tertingginya. Nah, Adek-adek jangan mau hanya duduk-diam-dengar lalu pulang ke kosan tanpa melakukan sesuatu yang lebih di kampus ini. Nikmatilah segala fasilitas yang ada dan peluang yang tersedia di sini. Wisuda dengan gelar S.Kep itu adalah hal yang sangat biasa kalau kita hanya lulus dengan meraih itu. Tapi, kalau selama kuliah Adek banyak mendapatkan pengalaman dari organisasi atau kompetisi bahkan menyumbangkan piala untuk kampus, itu baru luar biasa.”

Aku senyum-senyum memandang Novi. Di tengah penjelasannya, dia sempat menyebut namaku sebagai ‘pemaksa’nya.  Hehe. Aku jadi malu nih pemirsaaa. Melihat Novi kali ini seolah sedang melihatku berbicara di depan sana; hanya beda orangnya saja, tapi ruhnya sama. ^_^
“…Baiklah Adek-adek, Kakak ucapkan selamat berjuang untuk meraih prestasi dan kebanggaan di kampus Biru Langit ini. Jika Adek berniat menjadi seorang MAWAPRES, mulailah usaha-usaha yang sudah Kakak jelaskan tadi sejak saat ini. Karena, persiapan menjadi seorang MAWAPRES itu harus dimulai sejak Adek menginjakkan kaki pertama kali di sini, bukan persiapan selama seminggu saja…”

Sebelum pulang, aku menemani Novi mengurus surat Akreditasi titipan kakaknya. Sebelumnya, kami udah sempat mau pulang karena stafnya nggak ada di tempat. Tapi, ternyata waktu kami udah sampai di parkiran, malah dikasih tahu sama panitia bahwa bu Riri, yang sedang dicari, udah ada di ruangan. Ya udah, kami kembali lagi ke atas untuk segera menyelesaikan urusan yang satu ini. Kasihan Novi kalau harus balik lagi ke sini untuk itu. Bakalan repot.
“Cek, habis ini mau ke mana lagi?”
“Nggak ada. Pulang ke kosan langsung Cek.”
“Kita makan siang bareng dulu yuk Cek?”
“Yuhuuuu.. kalau Cek maksa ya udah deh, Kakak mau. Hhee.” *Kambuh.
Aku ngusulin Pondok Hijau tapi Novi nggak suka ternyata. Ya udah deh, aku sih ngikut sama Bandar aja diajak ke mana. Soalnya, aku kan nggak pemilih kalau sama makanan. Hehe, inilah keuntungannya kalau ngajak aku makan. Yuhuuuu..
“Ya udah, kita ke Ampera favorit Novi aja yuk!” ajakku. Novi setuju banget.
Sambil menikmati santap siang, kami saling bercerita tentang hal-hal seru yang nggak mungkin muat kalau diketikkan di SMS atau diobrolin di HP. Hihii..
“Cek, kemarin Kakak pernah certain hal ini ke Kak Rini dan Kak Rini sependapat ternyata. Nah, bagaimana menuru Cek nanti? Gini, kita kan kalau sakit sering banget menyalahkan makanan yang kita konsumsi. Padahal, ada yang seharusnya lebih kita pertanyakan dan kita persalahkan Cek. Apa itu kira-kira?”
“Emmm… apa ya? Perasaan? Jiwa? Fikiran?”

Aku selalu menggeleng. “Kebersihan gigi Cek, jawabannya. Karena makanan itu pertama kali diolah kan dimulut. Coba seandainya kita malas sikat gigi, banyak kuman yang menumpuk di sana dan ketika ada makanan masuk, tentu makanan itu terolah bersama kuman-kuman tadi kan? Terus, tertelan. Terus, tercerna di dalam lambung. Berarti kuman-kuman dari mulut kita tadi udah terbawa sampai ke sana Cek.”
“Iyaaa yaaa,” ujar Novi sambil berfikir jauh.
“Dokter pun sangat jarang mempertanyakan kesehatan mulut si pasien kan Cek? Yang pertama kali ditanya pasti kebiasaan mengkonsumsi apa. Padahal, ketika kita sakit perut, belum tentu karena makanan, bisa jadi karena mulut kita yang kotor. Nih, contohnya lagi kalau kita sedang flu kan tenggorokan ada dahaknya juga tuh. Kan ada kalanya dahak itu tertelan sementara itu mengandung banyak banget kuman. Dahak yang tadinya terletak di antara hidung, telinga dan tenggorokan malah terbawa sampai ke pencernaan. Bener nggak Cek fikiran ngawur Kakak ini?”
“Bener Cek. Iya yaaaa.. AHAA! Pokoknya judul Blog Kakak hari ini harus ada gigi-giginya ya? Hehe.”
Setelah berterimakasih atas traktirannya Novcek, dia minta diantarkan ke Balai Bahasa. Mau persiapan untuk debat karena besok udah berangkat ke Medan. Kami berpisah di pelataran Balai Bahasa.

***
Aku sedang mengetik dan Rini nonton film Suzanna. “Mumpung ada temen nonton,” katanya gitu karena kalau sendirian, mana berani dia. Hihii.
“Suara apa nya ituu? Macam orang ngorok!” tanyaku pada suatu misteri suara tanpa rupa yang sedang ditelisik oleh pemeran utama.
“Loh itu kenapa kok tiba-tiba ada kepala nongol dari kloset?”
“Ih, seremmm! Huwekk.”
“Loh ,tapi kok Bapak itu biasa aja? Udah jelas itu aneh.  Bukannya seharusnya dia nyari tahu ngapain hantu itu nongol dari kloset? Ini malah diam aja.”
Rini tampak berfikir juga tentang apa maksud dari penampakan barusan dan hubungannya dengan jalan cerita.
“Eh, iya ya. Aneh. Tapi, kok waktu masih kecil dulu kita bisa-bisanya ngerti gitu aja ya?”
“Itulah. Sekarang kita baru mikir ntah apa maksud dan tujuannya.”

Kami kembali fokus sambil menikmati roti Vanholanno dari PSIK tadi.
“El dari mana rupanya kok bisa dapta roti ini?”
“Dari PSIK tapiii. Nemenin Novi, dia sosialisasi MAWAPRES tadi di sana.”
“Ohhh gitu.. Novi itu kayaknya calon penerus El tuu.”
“Aamiin ya Allah. Semoga dia lebih baik daripada aku. Tadi di jalan dia bilang gini Rin; ‘Kak dalam sosialisasi beberapa hari ini Novi sering kali menyebut nama-nama orang yang luar biasa dan Novi berharap suatu saat nanti pun ada orang yang menyebut nama Novi.’ Aku bilanglah, ‘Ammin. Insya Allah ada Dek. Hidup ini kan bersiklus.’ Gicuuuu ceritanyaa.”

***
“El, El udah jam 4. Katanya mau nyebarin brosur ke UIN tadii?”
“Hoaaaaaaaaaammm..”
Aku beranjak dari tempat tidur, sholat Ashar kemudian cap cusss ke UIN.
“Mas, Chocholate Cangernya 1 ya. Esnya dikit aja Mas,” aku mampir sebentar untuk beli minuman kesukaan.
“Ngapain pula esnya dikit El?”
“You don’t know the trick, Rin,” bisikku dengan mulut nyaris seperti tak bergerak.
“Ohh..i know, I know. Arassooohhh…hehe.”
Setelah membayar, barulah ku jelaskan ke Rini apa maksud dan tujuanku tadi.
“Rin, kalau Esnya dikit aja, cokelatnya berarti akan lebih banyak. Masa gitu aja nggak ngerti sih?”
“Ngertiii loh. Ngerti aku nyooo. Haha.”
Di ujung Bina Krida, aku memompa ban motor depan dan belakang karena rasanya udah kempes banget. Tadi waktu membonceng Novi baru nyadar kandasnya. *Badannya sih kecil, tapi ternyata berat juga. Hehehe.

Setiap kali lewat jalan pintas dari Bangau Sakti menuju Garuda Sakti, aku selalu teringat dengan momen-momen PPLku kemarin. Berangkat pagi-pagi (kalau memang diwajibkan berangkat, hehe) dan pulang jam 3 (kalau aku nggak sedang mengaburkan diri, eheh).
“El, ada Chocholate Canger juga tuh!” kata Rini ketika kami sampai di lingkungan Bina Kridanya UIN.
“Masa iya Rin? Sama persis?”
“Iyaa. Berarti sama pemiliknya tuh.”
Kami sempat blank mau nempeli di mana nih brosur. Ada sih banyak MABA yang kami temui di pinggir jalan, tapi sayang aja rasanya kalau brosur secantik ini hanya berada di tangan 1 orang aja. Kalau ditempelin di mading kan bakal banyak yang melihatnya.
“El, tinggi ni semennya! Motor El kasihan.”
Kami agak bingun gimana caranya pindah lajur setelah melewati rektorat UIN SUSQA dan bertemu jalan 2 arah. Jadi, waktu nemuin jembatang kecil, langsung aja aku belok. Eh, ternyata jembatannya di desain untuk pejalan kaki, bukan untuk motor.
“Emmm..kalau gitu, Rini fotoin aku aja dulu ya!” pintaku kepada Rini sebagai ide pengganti kecewa.
Awalnya Rini malas, tapi aku membujuknya dengan memfoto-fotonya tanpa dia minta. Jadi, mau nggak mau dia harus gantian donk motion akyuuuu, hehe. *Ratu Modus.

Aku tetap menuruni semen yang lumayan tinggi dari jalan lintas ini dengan menuntut motorku perlahan. Rini malah njerit-njerit kayak motorku bakal kenapaaaa gitu. Padahal, aku yang ndorong pun biasa aja. Ternyata Rini suka lebay tidak pada saatnya. Hihii.
Karena masih bingung mau nempeli nih brosur di mana, akhirnya aku dan Rini duduk-duduk dulu di tepi waduk yang diapit oleh Islamic Centre dan gedung PKM.
“Rini nggak ada kerjaan kan? Tolonglah fotoin aku.”
“Ada.”
“Ngapain emangnya?”
“Balas BBM orang.”
“Halaahh, cuma balas BBM pun. Cepatlah ha!”
Rini memotoku dengan terpaksa sepertinya pemirsaaa… sampai tanduk Aries (baca: Kambing) muncul di atas kepalanya. Ternyata di gedung PKM itu sedang ada penyambutan MABA. Awalnya kami mengira ada acara apa gitu sampai-sampai rame banget mahasiswa yang jualan di pelatarannya. Eh, ternyata mereka sedang menunggu mangsa (baca: MABA).
“El, si **e itu masih ada utang loh sama aku.”
“Berapa?”
“Rp 100.000. Tapi aku segan mintanya karena kayaknya dia udah marah sama aku semenjak yang kemarin itu.”

“Dia itu ikhwanul muslimin (baca: Ikhwan) kan?”
“Iya. Dia anak Almadani.”
“Tapi kok agresif gitu sih?”
“Itulah makanya. Aku pun nggak suka sama cowok yang sering kali BBM atau SMS tapi nggak ada tujuannya. Makanya ku cuekin dia. Makanya dia marah sama aku sekarang. Hehe.”
“Eh, dia itu sebenarnya ganteng loh kalau bisa sedikit MEMAHALKAN dirinya.”
“Emang iya.”
“Bener kan? Aku aja awalnya kagum sama dia, tapi setelah tahu dia agresif ke banyak cewek, hemmm… ntahlah! Hanya Allah yang tahu, Rin. Ehhe.”
Usai ngobrol ria dan sengaja berjalan di tengah-tengah deretan stand barulah kami cabut. Ngerasa banyak yang memperhatikan sih, tapi kayaknya cuma kami ajalah yang merasa. Hehe. Karena sejak tadi belum juga nemuin mading, aku mengelilingi kampus ini dan Alhamdulillah nemu juga beberapa mading dan 1 halte Trans Metro Pekanbaru yang jadi sasaran brosur kami.
“Yang pelitan nya ngasih double tipnya? Kayak mau terbang brosurnya jadinya, Rin. Aku bilang tadi kan 3 titik, bukan 2 titik aja tempelannya di belakang brosur.”
“Alaaahh, biar aja. Biar hemat double tipnya. Ehhe.”
Menjelang Maghrib, aku dan Rini nyebarin di FKIP, FISIP dan FMIPA UR. Lumayan juga capeknya karena buanyaaaak banget mading di sini. Nyebarin brosur gini aja ternya melelahkan juga ya pemirsaa. Huhh.

Dalam perjalanan pulang, usai membeli mie goreng dan sate untuk dinner malam ini, “Rin, sebenarnya hidup ini baru terasa nikmatnya kalau kita merasa lelah loh. Bahkan, aku pernah baca hadist bahwa ada dosa-dosa yang tidak terhapus hanya dengan sholat dan zikir saja kecuali dengan rasa lelah. Tapi, aku nggak tahu pula bunyi selengkapnya. Pokoknya aku pernah baca itu.”
“Hemmm…arassooh.”
“Masih banyak lagi barang-barang palakan (baca: brosur yang tersisa) kita?”
“Masih banyak nih.”
“Selanjutnya, kita akan ke PCR dan UNILAK Rin.”

***
“Elysaaaaaa? Ellll?” teriak Reni.
Ku hentikan ngajiku dulu, “Iyaaaa Reeeen?”
“Nih, double tipnya udah ketemuuuu,” kata Reni sambil membuka pintu dan meletakkan double tipku di atas lemari piala. “Makasih yaa,”
“Yuhuuuu,” jawabku sambil melihat Reni selintas. Aku melanjutkan mengaji sementara Reni dan Rini sedang ngobrolin tentang Yudisium.
“Riiinn…. 26 Agustus ini ya ternyata?” keluhku kepada Rini ketika Reni udah kembali ke kamarnya dan aku udah selesai mengaji.
“Itulah cepat kali kan? Kami tanggal 29 ini terakhir pendaftarannya.”
“Kenapa sih kok cepat kali gini? Kan wisuda akhir Oktober biasanya. Kenapa kok Yudisium buru-buru gini? Takut data nggak terinput dengan baik? Emang lama banget ya ngerjain begituan? Kayaknya kampus kita ini udah saatnya terkomputerize lah Rin. Semuanya serba lambat dan segalanya jadi serba dipercepat.”
“Itulah. Padahal bulan Juni kemarin kami baru aja kami ada yudisium, sekarang Agustus udah deadline lagi. Kan mepet kali jaraknya.”

Kami menyambung obrolan sambil makan malam dengan hasil palakan tadi sore (baca: sate dan mie goreng).
“Kadang ntahlah Rin. Ini tentang perbedaan pola fikir kayaknya. Contohnya pemilihan MAWAPRES kemarin, kalau bisa, aku pengen ngadain seleksi tingkat universitasnya awal Mei aja karena awal Juni itu jadwal pendaftaran yang tingkat nasional. Tujuannya ya supaya semua finalis fakultas itu masih punya waktu lebih banyak untuk persiapan. Dan, ternyata kemarin disepakatinya pertengahan April sama panitia. Aku sih mikirnya gini Rin, kalau dipercepat gitu pemilihannya kan berarti secara otomatis semakin mempersingkat masa persiapan kan. Sementara setelah pemilihan, waktu sebulan lebih itu hanya untuk yang juara 1 mendaftaran ke tingkat nasional lagi kan?”
“Itu dia yang aku nggak habis fikir El, ini kan masih Agustus, setidaknya September ajalah Yudisium tuh. Atau biar lebih praktis lagi, Yudisiumnya dibanyakin dalam setahun dan biarlah wisudanya tetap 2 kali, nggak masalah. Kan yang penting itu Yudisiumnya, karena SKL kami diserahkannya waktu Yudisium El.”

“Sebenarnya Rin, kesimpulan dari masalah yang kita hadapi sekarang adalah; ‘Jangan coba-coba menantang dan menentang waktu’. Ya beginilah hasilnya, kita yang capek dan ngos-ngosan. Sebaik-baik pekerjaan adalah yang diselesaikan sebelum deadline.
“Arasoooh. Aku aja nyadarnya kalau aku harus segera nyelesaikan SKRIPSI ini ya setelah kita gagal ke Jakarta kemarin El. Udahlah, apa lagi yang mau ku kejar kalau bukan SKRIPSI, gitulah kataku waktu itu.”
“Itulah Rin, sama kita. Aku pun baru nyadar itu ya setelah kita gagal kemarin itu. Kalau kita ke Jakarta kan setidaknya ada yang kita perjuangkan dulu selain SKRIPSI. Tapi, ternyata Allah nyuruh kita ngerjain SKRIPSI daripada terbang ke sana. Barulah di akhir Juni itu aku ngangsur ngurusin judul. Howalaahh, El, Ell.”
“Iya, aku aja awal Juli kemarin baru dapat judul baru El. Bayangkanlah udah 8 bulan ku anggurin SKRIPSIku ini. huahhhh. Tapi, Alhamdulillah lah El aku senang waktu Ika kemarin bilang gini; ‘Kau udah termasuk cepet loh Rin ngerjain SKRIPSInya, Agustus selesai dan langsung ujian. Lah aku? Aku santai aja nya selama kuliah, di kosan aja kerjaku tapi sama juga kayak kau selesainya. Kau kemarin udah ikut PPRU, udah pernah ikut MTQ, banyak jadinya pengalamanmu Rin.’ Ika itulah yang positif penilaiannya sama aku El.”

“Aku pun bersyukur banget Rin, kawan-kawan aku pada positif semua sama aku. Selalu aja ada dugaan dan anggapan baik dari mereka kepadaku Rin. Bahkan, ada temanku yang pernah bilang gini; ‘Elis enak lah, bener-bener pintar memanfaatkan masa kuliah dan SPPnya. Hehe, kalau aku bisa, aku mau juga kayak Elis lah. Tapi, kalau aku nggak cepat tamat, aku nggak tahu mau ngapain lagi di kampus ini Lis’ gitu loh katanya Rin. Terharu aja dengarnya.”
“El kan istilahnya, banyak prestasi yang udah El raih. Sekalipun El nggak cepat tamat, orang nggak akan underestimate sama El.”
“Yah, semoga aku juga nggak lalai Rin untuk menyelesaikan apa yang wajib segera ku selesaikan ini. Kalau memang aku nggak terkejar wisuda di bulan Oktober ini, aku akan tetap berupaya untuk selesai di bulan September Rin, supaya tetap terhitung selesai tepat waktu. Dan, menjelang hari wisuda itu, aku ingin melakukan hal-hal yang selama ini terbatas ku lakukan. Semoga bisa meraih yang lebih besar.”
“Amiinn..”
“Tos dulu kita!”
TOSSSSS!!! Sambil tetap mengunyah makanan. Selanjutnya, aku dan Rini saling mengakui bahwa sebelum berada di semester 8 ini, aku dan Rini nggak dekat. Yaaa, Rini hanya teman sekamarku dan aku adalah teman sekamar Rini. That’s it! Lagian, kemarin-kemarin itu Rini sering diajak pergi sama teman-temannya dan sekarang mereka udah pergi satu per satu hingga aku pun mengambil kemudi. Hehee.. *Oh, gitu ya pak supir? Hehe.

Tidak ada komentar: