Aku terjaga pukul 03.00wib. Langsung beristighfar karena
ternyata laptop dan baterai kamera masih ter cas. Menyesal. Rumusnya masih
seperti rumus lama; kenapa tadi tidur-tiduran kalau belum ingin tidur? Yah,
begini kejadiannya.
Aku nggak tidur lagi sampai waktu sahur tiba; pukul
04.35wib. Rini sudah bangun.
“Rin, tanganku udah 2 malam ini kram.”
“Salah posisi tidur nggak?”
“Nggak kok. Tadi aja waktu aku bangun, tidurku lurus aja.
Lagian, udah sejak tadi aku bangun, tapi ini belum hilang juga.”
Kami tukaran lauk. Rini yang punya ide. Aku makan teri+tempe
dari Rini dan Rini makan ekor ikan Leleku.
“Ternyata aku nggak bisa mendustai lidahku El,” kata Rini
sambil menyodorkan lauknya.
Aku masih memikirkan kalimat panjang dari Lia ketika aku
membuka FB tadi. Kenapa tiba-tiba? Apa dia baru bongkar-bongkar blogku?
*tingkah para penggemar itu emang kadang-kadang lucu, pemirsaaa...huhuuu.
Menjelang subuh, aku sempat tertidur sebentar dan
dibangunkan oleh Rini. Maklumlah, aku nggak pernah-pernahnya bangun sedini
tadi.
“Ada apa itu? Pagi-pagi ginii..”
Aku baru berwudhu jadi bingung dengan gumaman Rini.
Tok..tok..tok…
“Rin?”
Ku buka pintu kamarku. Ada Andin di depan pintu.
“Numpang wudhu ya. Bisa-bisanya air ke kamar atas
diputuskan. Apalah!”
Setelah Andin masuk ke toilet, aku berbisik ke Rini,
“Kayaknya emang sengaja diputusin Rin, karena aku dengar kemarin semen yang
baru di perbaiki kemarin ambles gitu deh. Mungkin karena ada air ngalir tuh.
Tapi, salah juga sih, kenapa nggak dikasih tahu si Andin biar dia nggak syok begini.
Ah, atau dikira Andin sedang nginap di tempat Kakaknya lagi kali ya?”
Rini manggut-manggut aja. Tak lama, Andin udah ke luar.
***
Andai hari senin ini adalah milikku. Andai. Andai. Dan,
andai. Aku masih menggemari kebiasaan yang satu itu. Tentu saja di sana sedang
berlangsung ujian jelang wisuda. Tadi pagi sih sempat terniat untuk melihat.
Tapi, niat sudah berubah alamat. Aku tak ingin lagi.
“Hari ini adalah untukku!”
Yap. Aku memutuskan untuk tidak ke mana-mana. Pak Suarman
jadi penguji hari ini dan pak Danur kemungkinan besar juga iya. Aku berniat
menyempurnakan ‘urusan’ku yang belum sempurna.
“Rin, kok belum juga ilang ya kramku ini? Kadang, ilang
bentar dia. Eh, tiba-tiba terasa lagi.”
“Yakin El tidurnya nggak terjepit emang?”
“Iya. Yakin. Semalam, aku kan ada baca-baca di Google,
katanya kalau sebentar aja kramnya itu masih wajar. Tapi, kalau lamaa aku
nemuin ada yang nulis gejala Diabetes, kanker otaklah, syaraf kejepit. Pokoknya
yang ngeri-ngeri lah penyakitnya Riin.”
“Kanker otak? Ngerii.”
“Intinya Rin, berat badan berlebih itu nggak bagus. Banyak
resiko penyakit yang akan timbul. Walau gimana pun pengennya Rini untuk gemuk,
kurus itu jauh lebih aman Rin. Paling-paling kalau orang kurus itu anemia dan
cepet capek.”
“Iyaa, cepet capekan aku orangnya.”
“Itu lebih baik daripada resiko kelebihan berat badan Rin.”
Aku langsung teringat kepada papi yang udah positif
Diabetes. Terlintas pula di fikiranku, Katanya
kan Diabetes itu bisa menurun. Jangan-jangan, akuuu? Hikssss.. Harus
kurangi berat badan! Kalau pun cuma gejala, semoga hanya tinggal gejala saja.
Jangan sampai positif ya Allah. Aammpuun.
***
“Rin, lihat bekas lipatan ini. Menurut Rini terlihat nggak
sih garis putihnya?”
Rini mengamati rok hitam
semi jeans yang baru ku beli kemarin. “Kelihatan El.”
Ternyata, pandagan Rini sama sepertiku. Segera ku cari ide.
Aha!
“Rin, tahu nggak aku mau ngilangin garis putih ini pakai
apa?”
“Apaa?”
“Pakai tinta spidol permanent. Hehe.”
“Good idea!”
Aku langsung beraksi. Mencoret sana-sini rok hitam yang
sedikit bergaris putih itu. Memang, inilah resiko kalau beli sesuatu yang nggak
sempurna jadi.
“Aku nggak tahu harus percaya ke tukang jahit yang mana lagi
di sini Rin. Makanya, ku buka jahitan bawah rok ini dan ku jahit ulang. Wong
aku aja bisa kok! Ngapain harus makan hati dulu ke tukang jahit? Huhuu.”
“Iya… Yang kencang-an ngomongnya tukang jahit sini.”
“Bandit (baca: Rini) pun kalah kan?”
“Iyaa.”
“Rin, dari bekas lipatan rok ini aku belajar sesuatu?”
kataku sambil terus mengoleskan tinta spidol ke rok.
“Apa itu, Bung?”
“Segala sesuatu yang
terlalu lama, akhirnya bekasnya pun akan lama hilangnya.”
“Cihuuyyy, ngeri dank!”
Akhirnyaa…tibalah waktunya kami berburu bebukaan… Rencana
pengen beli mie goreng Brebes, tapi malah nggak buka. Akhirnya, kami beli 2
lauk, gorengan, dan jus Mangga. Aku tahu Rini nggak suka bakwan, tapi yang ada
cuma itu; bakwa biasa dan bakwan jagung. Kalau bakwan jagung masih lumayan suka
lah Rini.
“Allahumma lakasumtuu..”
“Belum azan lagi El.”
Air sudah berada di dalam mulut dan siap ku telan. Tapi…
“Iya, belum ada suara azan. Padahal udah gelap loh. Lihatlah
ke luar Rin!” Air minum tadi sudah ku ke luarkan dari mulut.
“Kan azan itu nggak tergantung sama cuaca El. Kalau emang
belum waktunya ya sama doank.”
Aku masih termangu di dekat jendela kamar. “Nah, itu dia
azanny!”
“Yakinn?”
“Yuhuuu..wah, hampir aja aku batal puasa dalam 1 menit
menjelang azan ya Rin. Hehe.”
Rini udah pasti ngajakin sholat maghrib dulu, baru makan.
Karena, katanya perutnya sesak dan nggak bisa kalau langsung makan. Aku turut.
Meskipun perut udah luaperrr banget. Setelah sholat Maghrib, aku ingin melihat
apa yang akan dilakukan Rini selanjutnya; Mengaji atau langsung nyamber
makanan?
Ternyata Rini ngaji. Aku yang tadinya ngira bakal langsung
makan dengan ajakan Rini, akhirnya mengaji juga. Luar biasa kamu, Cuy! Jangan tiru majikanmu yang jahat ini ya. Huhuu.
“Rin, belajarlah mencintai Bakwan seperti aku mencintai
Bakwan!”
“Hehhhh.. El lah cobak? Belajarlah mencintai Korea seperti
aku mencinta Korea. Mau El?”
“Nggak mau. Korea kan nggak bisa dimakan! Aku maunya yang
bisa dimakan lah.”
“Huuu..dasar.”
Aku makan sambil nonton film Woman in Black 2 sedangkan Rini
nonton reality show Korea yang aku nggak pernah ngerti lucunya di mana. Huaahhh…
beginilah kami everybadehhh; Walaupun berbeda, tapi tetap 1 kamar juga. Hehe.
“El, aku sering loh ngelihat adek-adek itu nyiksa binatang.”
“Hah? Kapan tuh Rin?”
“Seringlah pokoknya. Kemarin, aku lihat orang itu naruk
kucing yang warna coklat di gorden jendela, terus dilempari bola sama
orang itu. Kucingnya kan ragu, mau turun
takut disakiti. Akhirnya, dia bertahanlah di atas walaupun sakit di lempari
bola.”
“Rini diam aja ngelihat semua itu?!”
“Ku marain lah orang itu. Ku ambil kucingnya, ku bawa masuk
ke dalam. ‘Kalian nggak boleh kayka gitu lah. Kasihan kan kucingnya,’ kataku.
Terus, waktu itu pernah lagi capung, diikat ekornya sama tali, terus
diterbangkan orang tu ke sana ke mari kayak burung aja.”
“Ya ampuuuun. Kalau aku lihat, mungkin ku pelototi orang tu
Rin. Geram kalii aku. Kadang, kalau ada anak orang yang degil (baca: Bandel)
main ke rumahku, pas Mamaknya lengah, ku cubit dia. Biar kapok. Huh!”
“Tadi waktu kita mau beli lauk pun kucing itu di kibas-kibas
pakai bajunya. Kan takut kucing tu jadinya.”
“Masa iya Rin? Kok aku nggak lihat ya?”
“El sedang ngobrol sama Abang tadi tu. Pas manasin motor.”
“Mari Bung, kita haru berjuang bersama! Demi kehidupan
per-KUCING-an di sini!”
“Iya Bung! Mari kita bersatu! Demi para kucing itu.”
“MERDEKAAA!”
***
Malam ini, kembali pengen nggarap kolom TETIMONI di blogku.
Ada beberapa teman Thailand juga yang ku tanyai, beberapa teman dekat dan 1
teman dari Bangladesh. Aku jadi senyam-senyum sendiri membaca berbagai
penilaian mereka tentang Elysa Rizka Armala. Setiap penilaian mereka itu pasti
ku post dan di dalamnya, giliran aku yang memberikan penilaian dan menempelkan
foto mereka. Setelah jadi, taraaamm…gantian aku yang menyenangkan hati mereka
dengan mempost link blogku tadi di wall mereka.
Bahagia itu sederhana. Saat kamu mendapat penghargaan dan sapa tulus
dari orang-orang di sekitarmu.
Membahagiakan orang lain itu sederhana. Sesederhana ketika kamu berbagi
lewat tulisan ^_^
Yap, sesederhana itu!
Aku membuka ballon
pemberitahuan yang baru saja muncul di sisi kiri laman FB. Hah?! Dia ngomen status Novi? Karena penasaran, segera ku buka
isinya.
Ohh..ternyata adek
yang masuk Koran. Pantesan, kok kayak pernah tahu namanya..
WHAT? Sejak kapan dia
tahu nama Novi memangnya?
Cek, abang itu
ngomen statusmu tuh hehe.!
hahhaaa iya ceek.. Apa Novi balas
ni?
Dia tau gak ya kalau cek pernah
ceritain dia ke Novi? Wkwkwk.
Cek lah balas dulu.. Bingung Novi
balasnya, kalian sama-sama di kolom itu hahahhaa, Jodoh kali kalian cek…
Ya dia liat dari nama pas cek suruh
Novi add fb dia itulah -.-
Brarti Novi pura2 gak tau kalau dia
temannya kakak ya?
Novi rencana tadi mau balas gini :
hehee makasih bg.
salam kenal dari adik asuhnya kek
elis..
ya.. aku lupa bahwa kemarin aku udah nyuruh Novi nge-add dia. Pantesan
ajalah dia langsung ingat kalau nama Novi yang ada di Risin Star itu.
ceeeek udah gak ada lagi koment-nya
hahahaa
udah dihapus kayaknya.. Kayaknya dia
tau
kalau kita dekat kali cek..
ha? serius cekkk?
Aku segera mengecheck ulang kolom komenku di statusnya Novi.
Benar saja. udah nggak ada lagi jejaknya di sana. Hemm..walaupun dihapus, aku udah lihatt puuunnn..huhuu
Lampu sudah ku padamkan. Saatnya tidur. Rasanya udah lama
banget aku nggak tidur dengan lampu padam sejak kemarin ke sini. Maklumlah, aku
selalu tidur larut dan takut untuk lelap dalam gelap. Karena, semakin larut aku
tidur, semakin horor lah perasaanku. Hihii.
Masih ada suara dari HPnya Rini. Hemmm.. pasti dia sedang
dengeri lagu dan belum dimatikan. Kalau pas
ku copot handfreenya di terbangun dan marah gimana ya? Hemm..aku akan bilang; ‘Rin,
jangan dengeri lagu Korea juga menjelang tidur.’
Ketika ku miringkan badanku ke kiri, ke arah Rini,
terdengarlah olehku suara murothal
Al-Quran. Loh, ini anak nggak
sedang dengeri lagu Korea toh? Subhanallah..
Terimakasih Rin telah
mengajariku bagaimana cara memaafkan tanpa membuat orang itu meminta maaf
kepada kita. Terimakasih telah mengajariku bagaimana menyingkat marah. Terimakasih
telah mengajariku tentang serahasia-rahasianya ibadah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar