Minggu, 11 Oktober 2015

Hati-hati dengan Penjahat Kelamin!



Seumur hidup, rasanya baru kali ini aku nambah lagi ketika sarapan di luar. Mungkin karena sedang sama Okta, jadi nafsu makan yang sama-sama besar menyatu atau gimana. Yang jelas, dia mesan Mie Tek-tek dan aku mesan Mihun Goreng dan setelah habis kami mesan 1 porsi Mihun Goreng lagi dan rebutan makannya. Huahhh.. memang kayak bocah-bocah banget kaminya.

“…Dek…nggak boleh buruk sangka gituuuu doh! Itu hanya prasangka Adek aja. padahal belum tentu kenyataannya seperti ituuu!” jelasku ketika Okta terus berceloteh tentang seseorang yang tidak ia senangi. Segala sesuatunya serba salah tentang orang tersebut.
“Iya juga sih,” sadarnya.
“Adek nggak akan berhasil berburuk sangka di depan Kakak Dek. Kakak selalu punya cara meyakinkanmu kalau itu hanya prasangkamu aja. Karena apa coba?”
“Karena apa memangnya Cek?” tanya Okta, penasaran.
“Karena Kakak juga suka berburuk sangka sama orang. Tapi ketika Kakak sedang dalam keadaan positif seperti ini, Kakak nggak rela kalau orang lain seburuk Kakak. Selagi bisa, Kakak akan berupaya meyakinkannya tentang hal yang baik-baik.”
“Selalaapnyaaa!”

Tujuan kami selanjutnya adalah ke ATM di Rektorat UR. Akan ditransefer sejumlah uang kepada Matahari Mall atas beberapa item belanjaku. Tapi sayangnya saldoku tidak mencukupi batas minimal cadangan ATM. Akhirnya kami beralih ke BNI, mencari pecahan Rp 20.000 yang tertera di mesinnya. Dan… ternyata sama saja, ketika transfer tetap gagal. Karena ATM BRI-ku harus tetap mematuhi aturan minimal saldo yaitu Rp 100.000. hiksss.
“Dek, numpang nelvon Kak Rincuy. Ada TM kan?”
Ternyata Rini malah nggak punya uang lagi di ATM karena udah ditarik semua kemarin. Harapan selanjutnya adalah Teguh.
“…oke deh Dekkk, makasih ya. Jangan sampai lupa bawa rekeningmu nanti waktu ke sini!” legaku.
“Mak, yang dibawa itu kartu ATM, bukan rekening Mak! Ngapain aku bawa rekening ke mana-mana?”
“Ohohooo..iya ya? Salah yaa? Kemarin aja pernah Mak sebut boneka Mickey Mouse itu Hello Kity Dek. Ahhaha.”
“Owalah, MAWAPRES… MAWAPRESS!”
Setelah telvon dimatikan…
“Dek, kita langsung ke FEKON atau photoshoot dulu di temboh hitam?”
“Photoshoot ajalah dulu Cek! Paling-paling orang tu juga belum pada ngumpul semua.”
“Oke deh!.”

Menemukan background yang keren dan nggak lazim memang sangat menyenangkan bagi kami yang hobi berfoto. Spot itu mungkin ada di sekitar kita, tapi karena sudah terlalu sering dilihat akhirnya nggak terlalu terlihat special di mata kita. Padahal, bisa jadi itu adalah ‘lahan’ yang unik dan menarik.
“Gantianlah woooyyy!” paksaku kepada Okta. Karena, kalau ditotalkan jumlah jepretannya, mungkin lebih banyakan dia daripada aku –si pemilik kamera. Hihii.
Cek, lihatlah statusnya si anu nii… pasti dia nyindir Okta. Aku lebih dulu mengenalnya sebelum mengenalmu.
Setelah menyudahi photo hunt, sebelum menyalakan mesin motor, tiba-tiba aku teringat cerita Okta ketika sarapan tadi.
“Astagfirullah! Astaghfirullah! Astaghfirullah!!!!” kataku dengan nada tak percaya.
“Kenapa nyaaaa?”
“Ya Allah Dek, status temanmu tadi pagi itu benar-benar persis dengan yang pernah Kakak alami dulu. Kok bisa selalu persis gini sih kita Cek? Dan, pembandingnya itu sama-sama dengan lawan jenis.”
“Maksudnya?”
“Gini loh, sohibmu itu kan sedang membandingkanmu dengan seorang cewek kan? Nah, sama juga, dulu Kakak dibandingkan oleh sahabat Kakak dengan cowok yang dikenalnya lebih dulu sebelum dia mengenal Kakak. Persis lagi dengan kisahmu itu waktunya; hanya beberapa bulan berjarak sebelum dia mengenal kita.”
“Hemmm…biar ajalah Cek! Kalau ada orang yang ingin datang kepada kita, ya silahkan datang. Kalau dia mau pergi, ya biarkan. Bukankah Cek yang mengajarkan Okta?”
“Iyaaa..itu ilmu dari Mami Cek.”
“Ya udah, berarti kita ini muridnya Mami. Hhiihiii.”

***
ternyata benar, MC yang akan dilatih Okta baru 2 orang yang datang sementara 2 lainnya belum. Alhamdulillah, salah satu panitia acara memberiku dan Okta Aqua dingin, kebetulan banget aku sedang merasa sangat haus.
“Kak, kita kerjain Mami yuk?”
“Yuk! Telvonlah. Ini nomornya.
“Hallooo?” sapa Okta.
“Hallo. Ini siapa?” balas mami dari sana.
“Ini Mami ya?”
“Iya. Ini siapa? Ohhhh…pasti Okta yaaa?” tebak mami.
“Iya Mi, masa Kak Elis bilang; ‘Yuk kita kerjain Mami!’ jahat kan dia Mii?” Okta menjulurkan lidahnya ke arahku. “Ini dia Kak Elisnya Miii!” Okta buru-buru menyodorkan HPnya kepadaku. “Nggak tahu lagi apa yang mau Okta bilang Cek!” bisiknya.
“Lagi ngapain Mi?”
“Yahhh…lagi duduk-dudk aja nih. Lagi ngapain kalian memangnya?”
“Mau ngelatih MC untuk seminar tanggal 13 nanti di FEKON Mii.”
“Ngapa nggak El yang jadi MC?” tanya mami.
“Ya nggak lah Mi, biar Adek-adek ini ajalah. Udah nggak masanya El lagi kalau di sini. Hihi..”
“Ohhh…gituuu.”

Sekitar 5 menit saja kau ngobrol dengan mami karena Okta udah mengode bahwa ia mau bercerita serius. Ceritanya kali ini adalah tentang sebuah fenomena pelanggaran kodrat manusia dari-Nya. Aku ternganga mendengar ceritanya. Bahkan sebelum ia bercerita, aku dimintanya untuk bersumpah atas nama Allah bahwa aku tidak akan menceritakannya kepada siapapun. Insya Allah, aku menyanggupinya. Bahkan, belum selesai ia bercerita, aku sudah merasakan gelisah dan ketakutan yang juga ia rasakan.
“Kak, sejatinya, manusia itu diciptakan untuk amar ma’ruf nahi mungkar.”
“Benerrr Dekkk. Duh,, gimana caranya ya Dek mengatasi hal ini?” aku mulai panik.
Tapi, belum sempat kami membahas lebih lanjut, Afif sudah
mengkode Okta untuk melatih 2 orang MC tadi, karena yang 2nya lagi memang nggak nongol-nongol. Aku turut membantu memberikan pendapat juga tentang intonasi dan penampilan.
Kakak di mana Kak? 1 pesan dari Yudi –-Manajemen 2012.
Di KASEI FEKON Dek. Ada apa tuh?
Yudi mau minta ilmu nih dari kakak.
Ya udah, sini, sini.
Tak lama kemudia, Yudi datang dan menceritakan halnya. Ternyata dia mau mengikuti LKTI di Sumatera Barat yang diadakan oleh Himpunan Pemuda Pasaman di sana dan bermaksud meminta saran ide dan contoh LKTI dariku. Aku berupaya menyarankannya beberapa hal yang ku ketahui dan Alhamdulillah dari beberapa saranku tersebut, dia sudah membulatkan keputusan untuk sebuah ide.
Lis… boleh minta alamat blog Elis? BBM dari Delvi barusan mengejutkannku. Tumben banget.
Boleh donkkk. Buat apa memangnya cin?
Delvi pengen buat blog. Makanya mau lihat punya Elis dulu. Tapi, Delvi masih agak bingung nih Lis, mau nulis apa ntar di sana?
Gampang Vi, Delvi awali aja dengan nulis diary. Lihatlah blogku ini elysarizka.blogspot.com ini, isinya adalah diary harianku.
Nggak semua orang loh bisa nulisind diary dengan rapi dan menarik.

***
Setelah sholat zuhur di mushola Fekon…
“Cek, Okta sama Ditra ya makan siangnya?”
“Ya udah, pergilah.”
“Marah?”
“Nggak loh!”
Rencana awalnya, aku akan makan siang bareng Teguh dan Okta ke tempat rekomendasinya Teguh. Tapi, aku nggak bisa menghalangi Ditra juga yang berhak ditemani oleh Okta. *aseeekkk. Hihii. Sebelumnya, aku meminta ATMnya Teguh untuk mentransfer uang tadi. Alhamdulillah, everything is easy and clear.
“Jadi curigaa nih! Apakah gerangan yang Mak beli tadi ya?” tebak Teguh penuh curiga, karena melihat nomor referensi yang ku masukkan. “Biasanya kalau Adek pesan tiket online pun nggak sebanyak itu nomor referensinya. Hemmm…”
“Bukan tiket kok!”
“Apa donk Mak? Ciyeeee… yang jadi anak e-commerce…” ledeknya lagi ketika mendapati nomor rek. tujuanku ada e-commercenya. Huahhaa..
“Ini barang cewek loh Dek. Masa Mak bilang sih apa itemnya?”
“Hehhe.”

Aku mengikuti Teguh dari belakang. Setelah ke luar dari gerbang UNRI, sekarang kami memasuki jalan Swakarya, masuuuukkk lagi ke dalam dan akhirnya berbelok ke kiri.
“Jauh amat sih Dek!”
“Tapi sebanding Mak dengan kepuasannya. Buktiin aja nanti!” katanya dengan sangat yakin.
PRASMANAN ARAFAH, 1 jepretan untuk sebuah keabadian.
Aku mengambil nasi setelah Teguh, sepotong ikan Patin bagian ekor, tempe bacem, kerupuk, sambal dan sayur tumis. Nggak nyangka, ternyata ada Risky juga di sini. Kami makan semeja bertiga dan memperbincangkan tentang tempat ini.
“Risky inilah orang yang udah menjerumuskanku ke sini Mak!”
“Ohhhh..gitu yaa.”
“Udah 4 orang yang ku ajak ke sini dan belum pernah ada yang kecewa.”
“Jangan sampai Mak pula nanti jadi satu-satunya orang yang kecewa ya Dek!”
“Nggak bakal! Buktikanlah.”
Benar saja, untuk porsi sepuas itu hanya Rp 10.000. Menunya sangat rumahan dan rasanya nggak lebai. Wajib deh kamu cobain!!! Buat yang pengen makan nikmat, puas dengan harga pas, silahkan ke mari yaa.

“Mak, kemarin Adek lihat di blog, Mak ada posting gambar minuman dengan irisan jeruk gitu ya? Kayaknya seger banget. Beli di mana sih?”
“Itu di stadion mini Dek. Emang seger banget Dek dan rasanya mirip banget kayak lemon tea kalau dicampur dengan teh. Asem-asem seger gitu deh pokoknya.”
“Jadi kepengen pula Adek kan!”
Kami berpisah arah di perempatan pendidikan sejarah dan kampus FISIP. Aku langsung menuju saung jembatan kupu-kupu untuk rapat I-YES. Ramai banget ternyata di saung. Aku langsung mengedarkan pandangan ke sekitar, eh ternyata ada dek *mi dan dek *ila di dekat hutan Arboretum.
Kok mereka cuma berdua ya? Kebetulan atau disengaja?
Aku nggak mau berfikir negatif, langsung saja bergabung dengan mereka. Memang, aku mencium gelagat nggak beres dari mereka. Tapi, aku terus berdoa dan berharap prasangkaku itu salah.
“Mana sih yang lainnya Dek?”
“Nggak tahu nih Kak. Coba ngeribut ah di grup. Heyy… kalian di mana? Kami udah di TKP nih!”
Setengah jam di antara pohon-pohon rindang ini membuat mataku benar-benar mengantuk. Nyaris saja aku merebahkan kepadaku ke batang pohon. Tapi, akhirnya ku ajak mereka menge-check kembali saungnya, siapa tahu teman-teman yang lain sudah di sana. Dan, benar saja, sudah ada 5 orang ternyata. Kami segera bergabung dan beberapa menit kemudia rapat dimulai. Yang akan dibahas hari ini adalah tentang slipper donation dan hal-hal internal di I-YES.

Suasana menjadi hening dan iba ketika Hari berbicara di akhir rapat…
“Aku kan nggak pernah menjanjikan ke kalian bahwa dengan bergabung di I-YES ini kalian akan mendapatkan ini dan itu. Akan lolos ini dan itu. Nggak sama sekali! Aku hanya menunjuki kalian jalan, perkara lulus atau tidak, itu benar-benar nggak kuasaku. Agak sedikit shock aja waktu dengar ada yang ngomong kayak gitu dari belakang. Ya… kita kan udah sama-sama dewasa, aku harap kalau ada keluhan atau kritikan, tolonglah katakan langsung ke orang yang bersangkutan. Jangan dari belakang.”
Tapi, sayangnya aku harus permisi lebih cepat sebelum usainya rapat. Setelah mohon diri… tiba-tiba Hary bertanya..
“Kak, gimana yang kemarin? Udah dipost?”
DEGGG! Oh.. pantesan aja Hari nggak tahu, kan aku postnya cuma di grup BBM aja screenshootnya. Hiksss.. aku lupa bahwa ada beberapa orang penting yang nggak tergabung di grup.

***
Aku datang ke stadion utama lebih cepat karena kak Era mengundangku untuk makan lontong bareng di sana. Sore ini agak sedikit berbeda dari biasanya, karena kami menikmati senja bersama-sama di sini. Alhamdulillah, aku seneng banget waktu nemenin Keysha main mobil-mobilan, jalan-jalan ke sekitar gerbang stadion dan ngaji di kursi terujung di wilayah jualannya kak Era. Cara yang berbeda dalam mensyukuri senja.
“Lisss, ini dia Adek Kakak tuu. Kenalanlah!” kata kak Era sambil menepuk bahu laki-laki muda  di sebelahnya.
“Dwi,” katanya. Bang Dwi sebenarnya bukan adek kandungnya kak Era, tapi kak Era dekat dengannya lantaran ia sering menolongnya di sini.
“Elysa Bang.”
Ada adik kandungnya kak Era juga di antara aku dan bang Dwi. Kami tak banyak berbicara karena hari sudah senja dan aku harus segera pulang ke rumah bersama Indah dan Keysha.
“Nteee.. Indah banyak PR haaa.”
“Sini, mana PRnya! Yuk kita kerjakan,” ajakku kepada Indah setelah sholat maghrib di rumahnya.
Mengajari Indah membuatku kembali belajar. Apalagi waktu membantunya mengerjakan soal cerita matematika. Huaahhhh… bener-bener dibuat mikir oleh soalnya yang agak rumit. Tapi, Alhamdulillah semuanya selesai tepat waktu. Sebelum aku pulang, kak Era datang dengan adeknya. Karena, adeknya akan pulang ke kosan bersamaku. Kosannya di Bangau Sakti, jadi sekalian lewat aja.

“Indah hati-hati ya kalau pulang sekolah ada yang nawarkan jemput atau minta tolong sesuatu dan Indah diiming-imingi duit, jangan mau ya!”
“Pokoknya selain Bunda dan Ayah yang jemput, Indah jangan pulang dulu!” tegas kak Era.
Ternyata yang mereka maksud dari nasehat ini adalah kekhawatiran tentang PK (penjahat kelamin). Kamu udah pernah tahu kasus ini kan? Ah, itu loh laki-laki yang nggak normal dan nggak bisa ngendalikan nafsunya sekalipun di tempat umum. Naudzubillah ya Allah, jaga aku dan keluargaku.
“Kakak udah sering Lis lihat orang kayak gitu. Kadang di bus kota, kadang di simpang Arengka. Orang-orang kayak gitu tu makin suka kalau cewek ketakutan. Kakak aja pernah dikejarnya karena Kakak memekik waktu ngelihat dia. Pokoknya Elis kalau di lampu merah, nggak usah lihat ke mana-mana. Lurus aja ke depan, jangan pedulikan kiri-kanan. Kalau udah dilihatnya kita, bisa kita dikejarnya nanti Lis.”
“Kayaknya orang itu udah nggak punya malu dan nggak punya takut lagi ya Kak? Astaghfirullah!” tiba-tiba fikiranku semakin pesimis dengan dunia ini.

Tidak ada komentar: