Seumur hidup, rasanya baru kali ini aku nambah lagi ketika
sarapan di luar. Mungkin karena sedang sama Okta, jadi nafsu makan yang
sama-sama besar menyatu atau gimana. Yang jelas, dia mesan Mie Tek-tek dan aku
mesan Mihun Goreng dan setelah habis kami mesan 1 porsi Mihun Goreng lagi dan
rebutan makannya. Huahhh.. memang kayak bocah-bocah banget kaminya.
“…Dek…nggak boleh buruk sangka gituuuu doh! Itu hanya
prasangka Adek aja. padahal belum tentu kenyataannya seperti ituuu!” jelasku
ketika Okta terus berceloteh tentang seseorang yang tidak ia senangi. Segala
sesuatunya serba salah tentang orang tersebut.
“Iya juga sih,” sadarnya.
“Adek nggak akan berhasil berburuk sangka di depan Kakak
Dek. Kakak selalu punya cara meyakinkanmu kalau itu hanya prasangkamu aja.
Karena apa coba?”
“Karena apa memangnya Cek?” tanya Okta, penasaran.
“Karena Kakak juga suka berburuk sangka sama orang. Tapi
ketika Kakak sedang dalam keadaan positif seperti ini, Kakak nggak rela kalau
orang lain seburuk Kakak. Selagi bisa, Kakak akan berupaya meyakinkannya
tentang hal yang baik-baik.”
“Selalaapnyaaa!”
Tujuan kami selanjutnya adalah ke ATM di Rektorat UR. Akan
ditransefer sejumlah uang kepada Matahari Mall atas beberapa item belanjaku.
Tapi sayangnya saldoku tidak mencukupi batas minimal cadangan ATM. Akhirnya
kami beralih ke BNI, mencari pecahan Rp 20.000 yang tertera di mesinnya. Dan…
ternyata sama saja, ketika transfer tetap gagal. Karena ATM BRI-ku harus tetap
mematuhi aturan minimal saldo yaitu Rp 100.000. hiksss.
“Dek, numpang nelvon Kak Rincuy. Ada TM kan?”
Ternyata Rini malah nggak punya uang lagi di ATM karena udah
ditarik semua kemarin. Harapan selanjutnya adalah Teguh.
“…oke deh Dekkk, makasih ya. Jangan sampai lupa bawa
rekeningmu nanti waktu ke sini!” legaku.
“Mak, yang dibawa itu kartu ATM, bukan rekening Mak! Ngapain
aku bawa rekening ke mana-mana?”
“Ohohooo..iya ya? Salah yaa? Kemarin aja pernah Mak sebut
boneka Mickey Mouse itu Hello Kity Dek. Ahhaha.”
“Owalah, MAWAPRES… MAWAPRESS!”
Setelah telvon dimatikan…
“Dek, kita langsung ke FEKON atau photoshoot dulu di temboh
hitam?”
“Photoshoot ajalah dulu Cek! Paling-paling orang tu juga
belum pada ngumpul semua.”
“Oke deh!.”
Menemukan background yang keren dan nggak lazim memang
sangat menyenangkan bagi kami yang hobi berfoto. Spot itu mungkin ada di
sekitar kita, tapi karena sudah terlalu sering dilihat akhirnya nggak terlalu
terlihat special di mata kita. Padahal, bisa jadi itu adalah ‘lahan’ yang unik
dan menarik.
“Gantianlah woooyyy!” paksaku kepada Okta. Karena, kalau
ditotalkan jumlah jepretannya, mungkin lebih banyakan dia daripada aku –si
pemilik kamera. Hihii.
Cek, lihatlah
statusnya si anu nii… pasti dia nyindir Okta. Aku lebih dulu
mengenalnya sebelum mengenalmu.
Setelah menyudahi photo hunt, sebelum menyalakan mesin motor,
tiba-tiba aku teringat cerita Okta ketika sarapan tadi.
“Astagfirullah! Astaghfirullah! Astaghfirullah!!!!” kataku
dengan nada tak percaya.
“Kenapa nyaaaa?”
“Ya Allah Dek, status temanmu tadi pagi itu benar-benar
persis dengan yang pernah Kakak alami dulu. Kok bisa selalu persis gini sih
kita Cek? Dan, pembandingnya itu sama-sama dengan lawan jenis.”
“Maksudnya?”
“Gini loh, sohibmu itu kan sedang membandingkanmu dengan
seorang cewek kan? Nah, sama juga, dulu Kakak dibandingkan oleh sahabat Kakak
dengan cowok yang dikenalnya lebih dulu sebelum dia mengenal Kakak. Persis lagi
dengan kisahmu itu waktunya; hanya beberapa bulan berjarak sebelum dia mengenal
kita.”
“Hemmm…biar ajalah Cek! Kalau ada orang yang ingin datang
kepada kita, ya silahkan datang. Kalau dia mau pergi, ya biarkan. Bukankah Cek
yang mengajarkan Okta?”
“Iyaaa..itu ilmu dari Mami Cek.”
“Ya udah, berarti kita ini muridnya Mami. Hhiihiii.”
***
ternyata benar, MC yang akan dilatih Okta baru 2 orang yang datang sementara 2 lainnya belum. Alhamdulillah, salah satu panitia acara memberiku dan Okta Aqua dingin, kebetulan banget aku sedang merasa sangat haus.
ternyata benar, MC yang akan dilatih Okta baru 2 orang yang datang sementara 2 lainnya belum. Alhamdulillah, salah satu panitia acara memberiku dan Okta Aqua dingin, kebetulan banget aku sedang merasa sangat haus.
“Kak, kita kerjain Mami yuk?”
“Yuk! Telvonlah. Ini nomornya.
“Hallooo?” sapa Okta.
“Hallo. Ini siapa?” balas mami dari sana.
“Ini Mami ya?”
“Iya. Ini siapa? Ohhhh…pasti Okta yaaa?” tebak mami.
“Iya Mi, masa Kak Elis bilang; ‘Yuk kita kerjain Mami!’
jahat kan dia Mii?” Okta menjulurkan lidahnya ke arahku. “Ini dia Kak Elisnya
Miii!” Okta buru-buru menyodorkan HPnya kepadaku. “Nggak tahu lagi apa yang mau
Okta bilang Cek!” bisiknya.
“Lagi ngapain Mi?”
“Yahhh…lagi duduk-dudk aja nih. Lagi ngapain kalian
memangnya?”
“Mau ngelatih MC untuk seminar tanggal 13 nanti di FEKON
Mii.”
“Ngapa nggak El yang jadi MC?” tanya mami.
“Ohhh…gituuu.”
Sekitar 5 menit saja kau ngobrol dengan mami karena Okta
udah mengode bahwa ia mau bercerita serius. Ceritanya kali ini adalah tentang
sebuah fenomena pelanggaran kodrat manusia dari-Nya. Aku ternganga mendengar
ceritanya. Bahkan sebelum ia bercerita, aku dimintanya untuk bersumpah atas
nama Allah bahwa aku tidak akan menceritakannya kepada siapapun. Insya Allah,
aku menyanggupinya. Bahkan, belum selesai ia bercerita, aku sudah merasakan
gelisah dan ketakutan yang juga ia rasakan.
“Kak, sejatinya, manusia itu diciptakan untuk amar ma’ruf
nahi mungkar.”
“Benerrr Dekkk. Duh,, gimana caranya ya Dek mengatasi hal
ini?” aku mulai panik.
Tapi, belum sempat kami membahas lebih lanjut, Afif sudah
mengkode Okta untuk melatih 2 orang MC tadi, karena yang 2nya lagi memang nggak nongol-nongol. Aku turut membantu memberikan pendapat juga tentang intonasi dan penampilan.
mengkode Okta untuk melatih 2 orang MC tadi, karena yang 2nya lagi memang nggak nongol-nongol. Aku turut membantu memberikan pendapat juga tentang intonasi dan penampilan.
Kakak di mana Kak? 1 pesan dari Yudi –-Manajemen 2012.
Di KASEI FEKON Dek. Ada apa tuh?
Yudi mau minta ilmu
nih dari kakak.
Ya udah, sini, sini.
Tak lama kemudia, Yudi datang dan menceritakan halnya.
Ternyata dia mau mengikuti LKTI di Sumatera Barat yang diadakan oleh Himpunan
Pemuda Pasaman di sana dan bermaksud meminta saran ide dan contoh LKTI dariku.
Aku berupaya menyarankannya beberapa hal yang ku ketahui dan Alhamdulillah dari
beberapa saranku tersebut, dia sudah membulatkan keputusan untuk sebuah ide.
Lis… boleh minta
alamat blog Elis? BBM dari Delvi barusan mengejutkannku. Tumben banget.
Boleh donkkk. Buat apa memangnya cin?
Delvi pengen buat
blog. Makanya mau lihat punya Elis dulu. Tapi, Delvi masih agak bingung nih
Lis, mau nulis apa ntar di sana?
Gampang Vi, Delvi
awali aja dengan nulis diary. Lihatlah blogku ini elysarizka.blogspot.com ini,
isinya adalah diary harianku.
Nggak semua orang loh
bisa nulisind diary dengan rapi dan menarik.
***
Setelah sholat zuhur di mushola Fekon…
“Cek, Okta sama Ditra ya makan siangnya?”
“Ya udah, pergilah.”
“Marah?”
“Nggak loh!”
Rencana awalnya, aku akan makan siang bareng Teguh dan Okta
ke tempat rekomendasinya Teguh. Tapi, aku nggak bisa menghalangi Ditra juga
yang berhak ditemani oleh Okta. *aseeekkk. Hihii. Sebelumnya, aku meminta
ATMnya Teguh untuk mentransfer uang tadi. Alhamdulillah, everything is easy and
clear.
“Jadi curigaa nih! Apakah gerangan yang Mak beli tadi ya?”
tebak Teguh penuh curiga, karena melihat nomor referensi yang ku masukkan.
“Biasanya kalau Adek pesan tiket online pun nggak sebanyak itu nomor
referensinya. Hemmm…”
“Bukan tiket kok!”
“Apa donk Mak? Ciyeeee… yang jadi anak e-commerce…” ledeknya
lagi ketika mendapati nomor rek. tujuanku ada e-commercenya. Huahhaa..
“Ini barang cewek loh Dek. Masa Mak bilang sih apa itemnya?”
“Hehhe.”
Aku mengikuti Teguh dari belakang. Setelah ke luar dari
gerbang UNRI, sekarang kami memasuki jalan Swakarya, masuuuukkk lagi ke dalam
dan akhirnya berbelok ke kiri.
“Jauh amat sih Dek!”
“Tapi sebanding Mak dengan kepuasannya. Buktiin aja nanti!”
katanya dengan sangat yakin.
PRASMANAN ARAFAH,
1 jepretan untuk sebuah keabadian.
Aku mengambil nasi setelah Teguh, sepotong ikan Patin bagian
ekor, tempe bacem, kerupuk, sambal dan sayur tumis. Nggak nyangka, ternyata ada
Risky juga di sini. Kami makan semeja bertiga dan memperbincangkan tentang
tempat ini.
“Risky inilah orang yang udah menjerumuskanku ke sini Mak!”
“Ohhhh..gitu yaa.”
“Udah 4 orang yang ku ajak ke sini dan belum pernah ada yang
kecewa.”
“Jangan sampai Mak pula nanti jadi satu-satunya orang yang
kecewa ya Dek!”
“Nggak bakal! Buktikanlah.”
Benar saja, untuk porsi sepuas itu hanya Rp 10.000. Menunya
sangat rumahan dan rasanya nggak lebai. Wajib deh kamu cobain!!! Buat yang
pengen makan nikmat, puas dengan harga pas, silahkan ke mari yaa.
“Mak, kemarin Adek lihat di blog, Mak ada posting gambar
minuman dengan irisan jeruk gitu ya? Kayaknya seger banget. Beli di mana sih?”
“Itu di stadion mini Dek. Emang seger banget Dek dan rasanya
mirip banget kayak lemon tea kalau dicampur dengan teh. Asem-asem seger gitu
deh pokoknya.”
Kami berpisah arah di perempatan pendidikan sejarah dan
kampus FISIP. Aku langsung menuju saung jembatan kupu-kupu untuk rapat I-YES.
Ramai banget ternyata di saung. Aku langsung mengedarkan pandangan ke sekitar,
eh ternyata ada dek *mi dan dek *ila di dekat hutan Arboretum.
Kok mereka cuma berdua
ya? Kebetulan atau disengaja?
Aku nggak mau berfikir negatif, langsung saja bergabung
dengan mereka. Memang, aku mencium gelagat nggak beres dari mereka. Tapi, aku
terus berdoa dan berharap prasangkaku itu salah.
“Mana sih yang lainnya Dek?”
“Nggak tahu nih Kak. Coba ngeribut ah di grup. Heyy… kalian
di mana? Kami udah di TKP nih!”
Setengah jam di antara pohon-pohon rindang ini membuat
mataku benar-benar mengantuk. Nyaris saja aku merebahkan kepadaku ke batang
pohon. Tapi, akhirnya ku ajak mereka menge-check kembali saungnya, siapa tahu
teman-teman yang lain sudah di sana. Dan, benar saja, sudah ada 5 orang
ternyata. Kami segera bergabung dan beberapa menit kemudia rapat dimulai. Yang akan
dibahas hari ini adalah tentang slipper donation dan hal-hal internal di I-YES.
Suasana menjadi hening dan iba ketika Hari berbicara di
akhir rapat…
“Aku kan nggak pernah menjanjikan ke kalian bahwa dengan
bergabung di I-YES ini kalian akan mendapatkan ini dan itu. Akan lolos ini dan
itu. Nggak sama sekali! Aku hanya menunjuki kalian jalan, perkara lulus atau
tidak, itu benar-benar nggak kuasaku. Agak sedikit shock aja waktu dengar ada
yang ngomong kayak gitu dari belakang. Ya… kita kan udah sama-sama dewasa, aku
harap kalau ada keluhan atau kritikan, tolonglah katakan langsung ke orang yang
bersangkutan. Jangan dari belakang.”
Tapi, sayangnya aku harus permisi lebih cepat sebelum
usainya rapat. Setelah mohon diri… tiba-tiba Hary bertanya..
“Kak, gimana yang kemarin? Udah dipost?”
DEGGG! Oh.. pantesan aja Hari nggak tahu, kan aku postnya
cuma di grup BBM aja screenshootnya. Hiksss.. aku lupa bahwa ada beberapa orang
penting yang nggak tergabung di grup.
***
Aku datang ke stadion utama lebih cepat karena kak Era
mengundangku untuk makan lontong bareng di sana. Sore ini agak sedikit berbeda
dari biasanya, karena kami menikmati senja bersama-sama di sini. Alhamdulillah,
aku seneng banget waktu nemenin Keysha main mobil-mobilan, jalan-jalan ke
sekitar gerbang stadion dan ngaji di kursi terujung di wilayah jualannya kak
Era. Cara yang berbeda dalam mensyukuri senja.
“Lisss, ini dia Adek Kakak tuu. Kenalanlah!” kata kak Era
sambil menepuk bahu laki-laki muda di
sebelahnya.
“Dwi,” katanya. Bang Dwi sebenarnya bukan adek kandungnya
kak Era, tapi kak Era dekat dengannya lantaran ia sering menolongnya di sini.
“Elysa Bang.”
Ada adik kandungnya kak Era juga di antara aku dan bang Dwi.
Kami tak banyak berbicara karena hari sudah senja dan aku harus segera pulang
ke rumah bersama Indah dan Keysha.
“Nteee.. Indah banyak PR haaa.”
“Sini, mana PRnya! Yuk kita kerjakan,” ajakku kepada Indah
setelah sholat maghrib di rumahnya.
Mengajari Indah membuatku kembali belajar. Apalagi waktu
membantunya mengerjakan soal cerita matematika. Huaahhhh… bener-bener dibuat
mikir oleh soalnya yang agak rumit. Tapi, Alhamdulillah semuanya selesai tepat
waktu. Sebelum aku pulang, kak Era datang dengan adeknya. Karena, adeknya akan
pulang ke kosan bersamaku. Kosannya di Bangau Sakti, jadi sekalian lewat aja.
“Indah hati-hati ya kalau pulang sekolah ada yang nawarkan
jemput atau minta tolong sesuatu dan Indah diiming-imingi duit, jangan mau ya!”
“Pokoknya selain Bunda dan Ayah yang jemput, Indah jangan
pulang dulu!” tegas kak Era.
Ternyata yang mereka maksud dari nasehat ini adalah
kekhawatiran tentang PK (penjahat kelamin). Kamu udah pernah tahu kasus ini
kan? Ah, itu loh laki-laki yang nggak normal dan nggak bisa ngendalikan
nafsunya sekalipun di tempat umum. Naudzubillah ya Allah, jaga aku dan
keluargaku.
“Kakak udah sering Lis lihat orang kayak gitu. Kadang di bus
kota, kadang di simpang Arengka. Orang-orang kayak gitu tu makin suka kalau
cewek ketakutan. Kakak aja pernah dikejarnya karena Kakak memekik waktu
ngelihat dia. Pokoknya Elis kalau di lampu merah, nggak usah lihat ke
mana-mana. Lurus aja ke depan, jangan pedulikan kiri-kanan. Kalau udah
dilihatnya kita, bisa kita dikejarnya nanti Lis.”
“Kayaknya orang itu udah nggak punya malu dan nggak punya
takut lagi ya Kak? Astaghfirullah!” tiba-tiba fikiranku semakin pesimis dengan
dunia ini.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar