Senin, 05 Oktober 2015

Indonesia itu Seksi!



Pergi. Nggak. Pergi. Nggak. Pergi. Nggak. Pergi. Nggak.
“Duh, pergi nggak ya?” ku lirik jam di HP, sudah pukul 10.30wib.
Waktu ku buka whatsap, ternyata Teguh juga mengirimkan pesan yang sama ke sana, bukan hanya ke BBM dan SMS, tapi Whatsap juga iya.
Mak, nanti datang ya ke seminar EF di rektorat. Adek jadi moderatornya.
Sebenarnya malas banget ke luar rumah kalau aku nggak punya lebih dari 2 tujuan. Tapi, harapan Teguh itu akhirnya mengalahkan egoku. Aku harus pergi! Kemarin aku yang selalu memintanya untuk datang ke acara-acaraku, sekarang aku harus melakukan yang sama untuknya.
“Udah mulai Dek acaranya?” sapaku kepada Monik.
“Ehh, Kak Elisss,” sambutnya sambil menyalami dan mencium pipiku. “Udah Kak, tapi belum terlalu lama kok. Langsung masuk aja Kak.”
“Okeeeh Dek. Maaciih.”

Aku segera ke meja registrasi. Dari sini, aku bisa mendengar suara Teguh dan suara cewek yang kemungkinan adalah pembicaranya.
“Udah mulai sejak kapan acaranya ini Dek?”
“Udah ada sejam yang lalu lah Kak.”
WEWWW! I am late enough. Begitu duduk, telingaku langsung jeli dan tajam menyimak kalimat demi kalimat Teguh dan bagaimana sikapnya dalam memoderatori. Ku tulis beberapa catatan untuknya, sebagai saran. Penampilannya hari ini rapi parah. Nggak pernah sebelumnya aku melihatnya serapi ini. Luar biasa, memang niat banget nih adek untuk tampil; totalitas tiada batas.



“…Bagi orang luar, Indonesia itu adalah Negara yang seksi. Seksi dari berbagai sisi. Salah satu native speaker kami di EF dan ketika ditawarkan ngajar di Negara lain, dia lebih memilih di Indonesia karena baginya Indonesia sangat nyaman, bahkan dia udah sangat lancar berbahasa Indonesia. Sementara kita? Terbuai karena menganggap tidak perlu belajar bahasa inggris karena tanpa bahasa inggris pun kita bisa berkomunikasi dengan mereka di sini,” jelas kak Wulan sebagai pembicara 1 hari ini.
Aku tak sekedar manggut-manggut. Ku catat poin-poin penting dari penjelasannya untuk nanti dituliskan kembali.
“Benar sekali yang dijelaskan Dik Wulan tadi bahwa Indonesia begitu seksi. Menurut penelitian internasional, Indonesia termasuk 5 negara terkaya potensial. Potensial ya. Artinya banyak sekali potensi yang belum terkelola dengan baik di sini. Karenanya, mereka menyebut Indonesia sebagai Sleeping Nation; Negara yang tertidur. Orang luar mempelajari bahasa Indonesia, mereka pasti bertujuan untuk ke sini. Masa kita nggak mau seperti mereka sih? Mencuri bahasa mereka untuk memanfaatkan Negara mereka,” tambah pak Saeri sebagai pembicara kedua.
Luar biasa banget!


***
“…Sekian talkshow kita pada hari ini. Semoga ilmu yang teman-teman dapatkan dapat bermanfaat. Berusahalah sepenuh hati, berupayalah sekuat tenaga dan bersungguhlan sekeras upaya. Mohon maaf atas segala kekurangan, assalamualaikum wr..wr,” tutup Teguh. Disambut dengan tepuk tangan penonton yang menyesaki ruangan ini.
Teguh sudah menemukan posisiku. Ia menghampiriku yang tetap stay di tempat duduk, menyilahkan peserta lainnya berantrian ke luar ruangan.
“Ciyeeee…ciyeee..HP baruuu dankkk!”
“Baru lihaaat?”
“Rajin bangeeeeet ya, posting teruuuus di Instagraaam,” ledeknya.
“Hihiii.. emangnya Adek nggak rajin juga?”
“Adek untuk foto-foto tertentu aja Mak.”
“Emangnya Mak?”
“Mak setiap haaall. Semuanya diposting. Ngeksiiisss, huuuu,” ledeknya lagi. “Eh, Mak, gimana Adek tadi?” tanyanya tentang pendapatku.
“Emmm… secara penampilan udah keren, rapi dan dari wawasan juga kece. Tapiii, ada beberapa saran nih buat Adekk.”
“Ya, nggak apa-apa Mak.”
“Nada bicara Adek masih fluktuatif banget. Pas ngomongin yang ini nadanya datar, tapi tiba-tiba nanti meninggi dan itu ngagetin loh Dek. Mak tadi bener-bener nyimak soalnya. Hehee. Terus, kalau Adek mau mengulas sesuatu sebelum ngasih pertanyaan ke pembicara itu bagus, tapi jangan sampai kita udah bertanya eh malah Adek tutup lagi dengan kalimat baru. Contoh; ‘Saya juga pernah Mbak nonton film dengan teks bahasa inggris, supaya saya sambil nyari tahu ini artinya apa. Nah, kalau dari EF sendiri ada nggak metode belajar bahasa inggris yang asyik dan seru. Boleh tolong dijelaskan, Mbak?’ dah, cukup sampai di situ aja Dek, jangan dilanjutkan lagi dengan; ‘Yaa, soalnya kan kita semua tahu bahwaa…’ lalu Adek ulangi lagi pertanyaan tadi, kan itu nggak efisien jadinya. Latih lagi emosinya, biar tertata apa yang mau disampaikan.”
“Ooohhh..gitu ya Makk. Iya sihh.”
“Dan, jangan terlalu banyak menceritakan tentang diri kita. Sesekali boleh untuk menandakan bahwa kita juga pernah mengalami hal yang sama, tapi jangan terlalu sering. Kita kan talkshow tujuannya untuk mengorek ilmunya pembicara, jadi posisikanlah diri kita sebagai wakilnya penonton yang banyak ingin tahunya, Dek. Jangan sampai pula terlihat kalau kita ingin menyaingi pengetahuan pembicaraa.”
“Menurut Mak, lebih bagus mana; waktu Adek dengan Kak Wulan atau waktu Adek dengan Pak Saeri?”
“Lebih bagus waktu Adek dengan Pak Saeri.”
“Ya, soalnya Adek bener-bener pengen tahu banyak dari Bapak ituuu.”
“Nah, that’s it! Itu dia jawabannya Dek! Memang seharusnya seperti itu sedangkan waktu dengan Kak Wulan, Adek nggak terlihat seperti itu. Dan satu lagi, Adek hanya terfokus kepada pembicara dan melupakan audiens, seolah-oleh Adek hanya berbicara 4 mata dengan si pembicara. Tadi peserta nggak fokus loh Dek, ada yang main HP, ngobrol sama temennya dan mungkin Adek nggak tahu itu. Sesekali, penonton harus diajak berinteraksi juga Dek. Semangat! Harus bisa lebih baik!”
“Makasih ya Mak.”
“Yuhuuuu…mari kita futuuuu.”
Aku dan Teguh ber-candid pose di atas panggung, seolah aku yang menjadi pembicara dan Teguh yang memoderatori.
“Adek ke mana lagi setelah ini?”
“Eeee… Adek puasa Mak, nggak bisa makan bareng Mak.”
“Ya udah, semangat ya puasanya! Mak permisi.”
“Makasih ya Mak, udah datang.”
Lah? Ini kok kayak hajatannya dia sih jadinya? Hihiiii.
“Eh, Mak, tolong kirim dulu foto-foto tadi ke HP Teguh.”
Aku mengirimkan beberapa foto dan video yang ku ambil tadi, sementara Teguh dan teman-teman KEMENLU BEM UR bergotong royong membersihkan ruangan. Iseng-iseng, ku coba selfie pakai SAMSUNGnya Teguh. Eh, langsung kepergok sama yang punyaa….
“Huuuu…dasar tukang selfie!” celetuknya sambil ngangkatin kursi.
“Yuhuuuu… numpang ya!” balasku.
Ketika aku menuruni lantai 4 rektorat ini, azan sedang berkumandang. Aku kira itu adalah azannya mushola rektorat, tapi ternyata bukan; suara itu memang berasal dari gedung rektorat; sengaja dibunyikan di setiap lantai dengan pengeras suara.
“Subhanallah! Kalau gini, seluruh pegawainya pasti rajin sholat semua nih!” gumamku.
Tujuanku selanjutnya adalah sholat di mushola Arrafah. Ku lirik Warung Gopek, tumben banget tutup hari gini. Mungkin kalau buka, aku akan makan siang di situ. Usai sholat zuhur, ku paksakan diri untuk menyelesaikan cerita kemarin tentang I-YES dan meet up BAT.
“Nggak boleh makan sebelum ini selesai El!” paksaku pada diri sendiri.
Sudah pukul 14.00wib, perutku udah mewajibkanku untuk makan nampaknya. Tulisanku udah 90%, tinggal nyusun gambarnya dan ngedit dikit-dikit aja lagi. Aku pengen makan nasi bungkus dengan lauk telur dada raja di kosan. Eh, pas mau ku pesan, nomor HP kakak tu ternyata nggak ada di HPku. Akhirnya ku smskan ke Rini, supaya dia nolongin aku ngirim pesan itu ke kakak lauk. Hihii.. maaf ya Cuy, ngerepotin lagi.

***
“Pesanaaaaannnnn!” teriak kakak pengantar lauk.
Aku segera menyantapnya sambil mengulang film PK. Suntuk banget nih, hardisk pake ketinggalan segala sih, sementara semua film dan foto ada di sana semua. Hiksss.
“Assalamualaikummm,” ucap Rini sambil membuka pintu kamar.
“Loh, udah pulang nyaa?”
“Udah duunnkkk.”
“Gimana? Emang beneran nggak mau orang tu diajak ke Istana Siak?”
“Iyaa. Yang parahan kaan? Untunglah El nggak jadi ikut.”
“Rini udah makan?”
“Belum.”
Akhirnya Rini ikutan nimbrung dengan nasi bungkusku. Sambil makan, Rini menceritakan keseruannya di desa KKNnya dan aku menceritakan tentang Teguh yang menjadi moderator hari ini.
“…menurutku Rin, moderator itu umpama wakil rakyat. Rakyat di sini adalah peserta artinya. Moderator harus memposisikan dirinya seperti orang yang sebenarnya tahu tapi ingin banyak tahu. Sepakat nggak Rin?”
Rini manggut-manggut.
“Kalau Teguh mempoles lagi public speakingnya, pasti kece banget tuh dia!” lanjutku lagi.
“Iya, dia wawasannya luas kan.”
Bangga padamu dek yang selalu gigih belajar dan mencoba banyak hal. Semoga semakin Berjaya dan sukses dunia-akhirat. Aamiin.
“Aku ada film Thailand El.”
“Film hantu?” tanyaku atusias.
“Iya. Tapi lucu-lucu gitu, biasalaaah hantu versi Thailand gimana. Tahu sendiri kaaan.. hehhehe.”
Tapi aku malah memutar film. Yang ku putar adalah film romansa Thailand yang nggak kalah kece. Di pertengahan film, barulah ku tanya ke Rini…
“Mana nya hantunya? Kok nggak ada Rin?”
“Bukan yang itu loh filmnya. Yang satu lagi. Ta ha haa puun! Itu memang so sweet filmnya, makanya ku kopi juga.”
“Owalaaahh, bilanglah dari kemarin subuuuh!”

***
“Rin, aku pergi dulu ya!”
“Yuhuuu..hati-hati ya Titapuuu.”
Azan magrib hampir berkumandang. Aku melaju menuju kampus, masuk ke Bangau Sakti, ke luar ke Stadion utama, masuk lagi ke jalan Melati dan berhenti pada sebuah rumah. Ini rumah kak Era –iparnya bang Un. Ternyata sudah hampir setahun tak ku sambangi sejak hari terakhir aku mengajar les anaknya. Hari ini, aku akan menjadi guru privat lagi untuk Indah dan 2 orang temannya. Bismillah.
Tok..tok..tok!
“Ante Eliiiiiiiiiiiissssssssssssss,” Indah berhamburan dari gugunya semula pada layar TV. Ia langsung memelukku. “Anteeeeeee apakabar?”
“Baikkk. Indah apa kabar?”
“Baik juga Nteeeee. Dah lama ya Ntee kita nggak ketemuu.”
“Iyaa yaaa. Halooo Kesyaaa? Ingat sama Anteee nggak?” tanyaku kepada si kecil berusia 4 tahun.
Yang ditanya hanya geleng-geleng kepala.
“Ante Eliiisss nii lohhh, masa Kesya lupa?” jelasku.
Setelah kami sholat magrib berjamaah, Indah langsung ku ajak mengaji. Alhamdulillah bacaan dan tajwidnya Indah sudah sangat bagus, aku tinggal memperbaiki sedikit-sedikit saja. Keysa juga sudah sampai di lembar terakhir menuju Iqro’ 2. Wahh… mereka memang anak-anak yang hebat.
“Yuk, kita belajar lagi ya. Indah ada PR?”
“Ada Nteeeee,” teriaknya sambil membuka buku paket Matematika dan PRnya.
“Ante boleh ikutan makan kacang kulitnya, Keysaa?’ pintaku kepada Keysa.
“Boleh donk Nteee,” kata Indah.
Yeyeeee… aku bisa ngemil. Hehee, *nggak nyadar dengan bengkaknya badan nih. Keysa juga minta bukain kulitnya, Indah pun sambil belajar sambil ngunyah. Yah, nggak apa-apa, karena memang aku mengajarinya dengan metode 3S, Santai-Serius-Selesai (ala bu Fitri, guru SMPku).
“Mana 2 teman Indah yang mau les itu?”
“Nggak tahu Nte. Ntah hari ini, ntah besok orang tu lesnya.”
“Memangnya rumah mereka di mana?”
“Agak ke belakang sana lagi Nte. Mungkin ayahnya belum pulang dan nggak ada yang ngantar mereka ke sini Nteee. Ante nanti mau makan bakso? Kemarin kan ada arisan di sini, jadi Bunda Indah bikin bakso. Ante mau?” tanyanya dengan mata berbinar. Mata yang sangat bening dan penuh harapan di dalamnya.
“Mauuuu doonnkkkk!” jawabku antusias.
“Nanti kita bikin ya Nteeee.”
“Ukeeehhh.”
“Oya Nteee… kemarin Indah jumpa sama Ante Dara.”
“Oh iya? Di mana?”
“Di Azzura. Pertamanya Indah ragu, bener nggak ya itu Ante Dara? Terus, Indah tanya; ‘Ustazah kenal dengan Ante Elisss?’ berdua sama Iza waktu itu Ntee.”
“Terus, apa katanya?”
“Nggak ada Nte. Dia diam aja. Terus, Indah dekatin dan agak berbisik; ‘Ustazah pernah jual Jamur Krispy ya dulu?’ gitu Indah tanya.”
“Nggak dijawab juga sama dia?”
“Nggak. Mungkin Antenya lupa sama Indah. Udah lama juga kan Indah nggak pernah jumpa.”
“Dia ada nanya; ‘Adek siapa namanya?’ gitu nggak ke Indah?”
“Nggak ada Nte. Ante tu diam aja. Iza pun bisik ke Indah, mungkin Ante tu lupa.”

Kamu polos banget dek. Semoga Allah menjagamu dalam kepolosan yang serba baik ya. aamiin. Ini bukan tentang lupa Dek, tapi tentang melupa dan dilupa. Cukup hatiku yang berkecamuk, wajahku tak perlu ikut semrawut atas kabar ini.
Kak Era datang ketika aku dan anak-anak baru selesai sholat Isya. Aku berfikir bahwa sebenarnya mudah mendidik anak sejak kecil, karena ia seperti kertas putih-polos yang keindahannya tergantung goresan tinta dari orang tuanya. Alhamdulillah, sejak pertama kali aku mengajar mereka, meraka gampang banget ku ajak sholat.  Kepolosan yang demikian suci.
 “Anteeeeeee…gendoonng!” pinta Keysa.
Ia ku gendong sambil melihat kak Era menyiapkan Bakso dibantu dengan Indah.
“Keysa tu beraat Naak,” kata kak Era.
Memang iya, keysa cukup berat. Tingginya tak terlalu jauh bertambah sepertinya, tapi beratnya lumayan juga. Tak ada yang berubah darinya, tetap ceria, manja dan rambutnya masih juga ikal.
“Kakak udah nggak catering dan jual sate lagi Lisss, makanya nggak pakai kayu bakar lagi masaknya.”
“Ohhh..gituu. Pantesan Elis lihat kok nggak ada lagi kayu bakarnya di sini. Kenapa berhenti Kak? nggak terlalu besar juga keuntungannya atau gimana?”
“Yang itu ia juga Lis, terus uang kita banyak tertahan sama orang. sekarang aja ada 300ribuan yang masih sama orang, belum dibayar juga. Ya udahlah, Kakak fokus aja sama jual jus. Ini sebenarnya ada 1 gerobak lagi untuk jual jus, tapi nyari orang jujur ni kan sulit Lisss, kalau ada mau Kakak buka 1 lagi.”

“Ahaaa..kalau nggak, Ante Elis aja yang jual jus, Bun?” usul Indah.
“Lah? Indah mau diajar les atau nggak nih? Kalau Ante jual jus, nggak bisa lagi donk ngajar Indah,” sahutku.
“Kemarin tu sebenarnya ada anak UIN Lis yang mau ngajar les Indah, tapi Kakak ragu. Kakak bilang aja; ‘Sebenarnya ada Adek Kakak yang ngajar les Indah biasanya. Kemarin dia memang nggak bisa, cobalah Kakak hubungi dia dulu ya. nanti kalau memang dia nggak bisa, sama Adek aja Indah lesnya’. Syukurlah ternyata Elis bisa.”
Ya Allah, bagaimana mungkin aku menolak orang yang sangat mengeharapkan dan mempercayaiku seperti ini? Subhanallahi wabikhamdi.
“Dia agak kecewa sih kalau Kakak lihat, tapi mau gimana lagi Lis. Elis tahu sendiri lah gimana rumah ini, anak-anak berdua aja di rumah, Kakak sama Abang jualan sampai malam. Kita kan harus waspada Lis, jangan sampai salah pilih orang.”
“Kakak memang pas banget loh kemarin waktu nawarin ke Elis, soalnya Elis memang lagi pengen ngajar untuk ngisi kekosongan ini Kak. Makasih ya Kak. Elis justru segan karena udah lamaaaa banget nggak main ke sini, takut Kakak marah juga.”
“Ndak apa doh Dek. Kakak bersyukur Elis bisa ngajar les Indah lagi.”
Ya Allah, tolong katakan bagaimana caraku membalas kepercayaan yang satu ini?

Tidak ada komentar: