
Pergi. Nggak. Pergi. Nggak. Pergi. Nggak. Pergi. Nggak.
“Duh, pergi nggak ya?” ku lirik jam di HP, sudah pukul
10.30wib.
Waktu ku buka whatsap, ternyata Teguh juga mengirimkan pesan
yang sama ke sana, bukan hanya ke BBM dan SMS, tapi Whatsap juga iya.
Mak, nanti datang ya
ke seminar EF di rektorat. Adek jadi moderatornya.
Sebenarnya malas
banget ke luar rumah kalau aku nggak punya lebih dari 2 tujuan. Tapi, harapan
Teguh itu akhirnya mengalahkan egoku. Aku harus pergi! Kemarin aku yang selalu
memintanya untuk datang ke acara-acaraku, sekarang aku harus melakukan yang
sama untuknya.
“Udah mulai
Dek acaranya?” sapaku kepada Monik.
“Ehh, Kak
Elisss,” sambutnya sambil menyalami dan mencium pipiku. “Udah Kak, tapi belum
terlalu lama kok. Langsung masuk aja Kak.”
“Okeeeh
Dek. Maaciih.”
Aku segera
ke meja registrasi. Dari sini, aku bisa mendengar suara Teguh dan suara cewek
yang kemungkinan adalah pembicaranya.
“Udah mulai
sejak kapan acaranya ini Dek?”
“Udah ada
sejam yang lalu lah Kak.”
WEWWW! I am late enough. Begitu duduk,
telingaku langsung jeli dan tajam menyimak kalimat demi kalimat Teguh dan
bagaimana sikapnya dalam memoderatori. Ku tulis beberapa catatan untuknya,
sebagai saran. Penampilannya hari ini rapi parah. Nggak pernah sebelumnya aku
melihatnya serapi ini. Luar biasa, memang niat banget nih adek untuk tampil;
totalitas tiada batas.
“…Bagi
orang luar, Indonesia itu adalah Negara yang seksi. Seksi dari berbagai sisi. Salah
satu native speaker kami di EF dan ketika ditawarkan ngajar di Negara lain, dia
lebih memilih di Indonesia karena baginya Indonesia sangat nyaman, bahkan dia
udah sangat lancar berbahasa Indonesia. Sementara kita? Terbuai karena
menganggap tidak perlu belajar bahasa inggris karena tanpa bahasa inggris pun
kita bisa berkomunikasi dengan mereka di sini,” jelas kak Wulan sebagai
pembicara 1 hari ini.
Aku tak
sekedar manggut-manggut. Ku catat poin-poin penting dari penjelasannya untuk
nanti dituliskan kembali.
“Benar
sekali yang dijelaskan Dik Wulan tadi bahwa Indonesia begitu seksi. Menurut penelitian
internasional, Indonesia termasuk 5 negara terkaya potensial. Potensial ya.
Artinya banyak sekali potensi yang belum terkelola dengan baik di sini. Karenanya,
mereka menyebut Indonesia sebagai Sleeping
Nation; Negara yang tertidur. Orang luar mempelajari bahasa Indonesia,
mereka pasti bertujuan untuk ke sini. Masa kita nggak mau seperti mereka sih? Mencuri
bahasa mereka untuk memanfaatkan Negara mereka,” tambah pak Saeri sebagai
pembicara kedua.
Luar biasa
banget!
***
“…Sekian
talkshow kita pada hari ini. Semoga ilmu yang teman-teman dapatkan dapat
bermanfaat. Berusahalah sepenuh hati, berupayalah sekuat tenaga dan
bersungguhlan sekeras upaya. Mohon maaf atas segala kekurangan, assalamualaikum
wr..wr,” tutup Teguh. Disambut dengan tepuk tangan penonton yang menyesaki
ruangan ini.
Teguh sudah
menemukan posisiku. Ia menghampiriku yang tetap stay di tempat duduk,
menyilahkan peserta lainnya berantrian ke luar ruangan.
“Ciyeeee…ciyeee..HP
baruuu dankkk!”
“Baru
lihaaat?”
“Rajin
bangeeeeet ya, posting teruuuus di Instagraaam,” ledeknya.
“Hihiii..
emangnya Adek nggak rajin juga?”
“Adek untuk
foto-foto tertentu aja Mak.”
“Emangnya
Mak?”
“Mak setiap
haaall. Semuanya diposting. Ngeksiiisss, huuuu,” ledeknya lagi. “Eh, Mak,
gimana Adek tadi?” tanyanya tentang pendapatku.
“Emmm…
secara penampilan udah keren, rapi dan dari wawasan juga kece. Tapiii, ada
beberapa saran nih buat Adekk.”
“Ya, nggak
apa-apa Mak.”
“Nada
bicara Adek masih fluktuatif banget. Pas ngomongin yang ini nadanya datar, tapi
tiba-tiba nanti meninggi dan itu ngagetin loh Dek. Mak tadi bener-bener nyimak
soalnya. Hehee. Terus, kalau Adek mau mengulas sesuatu sebelum ngasih pertanyaan
ke pembicara itu bagus, tapi jangan sampai kita udah bertanya eh malah Adek
tutup lagi dengan kalimat baru. Contoh; ‘Saya juga pernah Mbak nonton film
dengan teks bahasa inggris, supaya saya sambil nyari tahu ini artinya apa. Nah,
kalau dari EF sendiri ada nggak metode belajar bahasa inggris yang asyik dan
seru. Boleh tolong dijelaskan, Mbak?’ dah, cukup sampai di situ aja Dek, jangan
dilanjutkan lagi dengan; ‘Yaa, soalnya kan kita semua tahu bahwaa…’ lalu Adek
ulangi lagi pertanyaan tadi, kan itu nggak efisien jadinya. Latih lagi
emosinya, biar tertata apa yang mau disampaikan.”
“Ooohhh..gitu
ya Makk. Iya sihh.”
“Dan,
jangan terlalu banyak menceritakan tentang diri kita. Sesekali boleh untuk
menandakan bahwa kita juga pernah mengalami hal yang sama, tapi jangan terlalu
sering. Kita kan talkshow tujuannya untuk mengorek ilmunya pembicara, jadi
posisikanlah diri kita sebagai wakilnya penonton yang banyak ingin tahunya,
Dek. Jangan sampai pula terlihat kalau kita ingin menyaingi pengetahuan
pembicaraa.”
“Menurut
Mak, lebih bagus mana; waktu Adek dengan Kak Wulan atau waktu Adek dengan Pak
Saeri?”
“Lebih
bagus waktu Adek dengan Pak Saeri.”
“Ya,
soalnya Adek bener-bener pengen tahu banyak dari Bapak ituuu.”
“Nah,
that’s it! Itu dia jawabannya Dek! Memang seharusnya seperti itu sedangkan
waktu dengan Kak Wulan, Adek nggak terlihat seperti itu. Dan satu lagi, Adek
hanya terfokus kepada pembicara dan melupakan audiens, seolah-oleh Adek hanya
berbicara 4 mata dengan si pembicara. Tadi peserta nggak fokus loh Dek, ada
yang main HP, ngobrol sama temennya dan mungkin Adek nggak tahu itu. Sesekali,
penonton harus diajak berinteraksi juga Dek. Semangat! Harus bisa lebih baik!”
“Makasih ya
Mak.”
“Yuhuuuu…mari
kita futuuuu.”
Aku dan
Teguh ber-candid pose di atas panggung, seolah aku yang menjadi pembicara dan
Teguh yang memoderatori.
“Adek ke
mana lagi setelah ini?”
“Eeee… Adek
puasa Mak, nggak bisa makan bareng Mak.”
“Ya udah,
semangat ya puasanya! Mak permisi.”
“Makasih ya
Mak, udah datang.”
Lah? Ini
kok kayak hajatannya dia sih jadinya? Hihiiii.
“Eh, Mak,
tolong kirim dulu foto-foto tadi ke HP Teguh.”
Aku
mengirimkan beberapa foto dan video yang ku ambil tadi, sementara Teguh dan
teman-teman KEMENLU BEM UR bergotong royong membersihkan ruangan. Iseng-iseng,
ku coba selfie pakai SAMSUNGnya Teguh. Eh, langsung kepergok sama yang punyaa….
“Huuuu…dasar
tukang selfie!” celetuknya sambil ngangkatin kursi.
“Yuhuuuu…
numpang ya!” balasku.
Ketika aku
menuruni lantai 4 rektorat ini, azan sedang berkumandang. Aku kira itu adalah
azannya mushola rektorat, tapi ternyata bukan; suara itu memang berasal dari
gedung rektorat; sengaja dibunyikan di setiap lantai dengan pengeras suara.
“Subhanallah!
Kalau gini, seluruh pegawainya pasti rajin sholat semua nih!” gumamku.
Tujuanku
selanjutnya adalah sholat di mushola Arrafah. Ku lirik Warung Gopek, tumben
banget tutup hari gini. Mungkin kalau buka, aku akan makan siang di situ. Usai
sholat zuhur, ku paksakan diri untuk menyelesaikan cerita kemarin tentang I-YES
dan meet up BAT.
“Nggak
boleh makan sebelum ini selesai El!” paksaku pada diri sendiri.
Sudah pukul
14.00wib, perutku udah mewajibkanku untuk makan nampaknya. Tulisanku udah 90%,
tinggal nyusun gambarnya dan ngedit dikit-dikit aja lagi. Aku pengen makan nasi
bungkus dengan lauk telur dada raja di kosan. Eh, pas mau ku pesan, nomor HP
kakak tu ternyata nggak ada di HPku. Akhirnya ku smskan ke Rini, supaya dia
nolongin aku ngirim pesan itu ke kakak lauk. Hihii.. maaf ya Cuy, ngerepotin
lagi.
***
“Pesanaaaaannnnn!”
teriak kakak pengantar lauk.
Aku segera
menyantapnya sambil mengulang film PK. Suntuk banget nih, hardisk pake
ketinggalan segala sih, sementara semua film dan foto ada di sana semua.
Hiksss.
“Assalamualaikummm,”
ucap Rini sambil membuka pintu kamar.
“Loh, udah
pulang nyaa?”
“Udah
duunnkkk.”
“Gimana?
Emang beneran nggak mau orang tu diajak ke Istana Siak?”
“Iyaa. Yang
parahan kaan? Untunglah El nggak jadi ikut.”
“Rini udah
makan?”
“Belum.”
Akhirnya
Rini ikutan nimbrung dengan nasi bungkusku. Sambil makan, Rini menceritakan keseruannya
di desa KKNnya dan aku menceritakan tentang Teguh yang menjadi moderator hari
ini.
“…menurutku
Rin, moderator itu umpama wakil rakyat. Rakyat di sini adalah peserta artinya.
Moderator harus memposisikan dirinya seperti orang yang sebenarnya tahu tapi
ingin banyak tahu. Sepakat nggak Rin?”
Rini
manggut-manggut.
“Kalau
Teguh mempoles lagi public speakingnya, pasti kece banget tuh dia!” lanjutku
lagi.
“Iya, dia
wawasannya luas kan.”
Bangga
padamu dek yang selalu gigih belajar dan mencoba banyak hal. Semoga semakin
Berjaya dan sukses dunia-akhirat. Aamiin.
“Aku ada
film Thailand El.”
“Film
hantu?” tanyaku atusias.
“Iya. Tapi
lucu-lucu gitu, biasalaaah hantu versi Thailand gimana. Tahu sendiri kaaan..
hehhehe.”
Tapi aku
malah memutar film. Yang ku putar adalah film romansa Thailand yang nggak kalah
kece. Di pertengahan film, barulah ku tanya ke Rini…
“Mana nya
hantunya? Kok nggak ada Rin?”
“Bukan yang
itu loh filmnya. Yang satu lagi. Ta ha haa puun! Itu memang so sweet filmnya,
makanya ku kopi juga.”
“Owalaaahh,
bilanglah dari kemarin subuuuh!”
***
“Rin, aku
pergi dulu ya!”
“Yuhuuu..hati-hati
ya Titapuuu.”
Azan magrib
hampir berkumandang. Aku melaju menuju kampus, masuk ke Bangau Sakti, ke luar
ke Stadion utama, masuk lagi ke jalan Melati dan berhenti pada sebuah rumah.
Ini rumah kak Era –iparnya bang Un. Ternyata sudah hampir setahun tak ku
sambangi sejak hari terakhir aku mengajar les anaknya. Hari ini, aku akan
menjadi guru privat lagi untuk Indah dan 2 orang temannya. Bismillah.
Tok..tok..tok!
“Ante
Eliiiiiiiiiiiissssssssssssss,” Indah berhamburan dari gugunya semula pada layar
TV. Ia langsung memelukku. “Anteeeeeee apakabar?”
“Baikkk.
Indah apa kabar?”
“Baik juga
Nteeeee. Dah lama ya Ntee kita nggak ketemuu.”
“Iyaa yaaa.
Halooo Kesyaaa? Ingat sama Anteee nggak?” tanyaku kepada si kecil berusia 4
tahun.
Yang
ditanya hanya geleng-geleng kepala.
“Ante
Eliiisss nii lohhh, masa Kesya lupa?” jelasku.
Setelah
kami sholat magrib berjamaah, Indah langsung ku ajak mengaji. Alhamdulillah
bacaan dan tajwidnya Indah sudah sangat bagus, aku tinggal memperbaiki
sedikit-sedikit saja. Keysa juga sudah sampai di lembar terakhir menuju Iqro’
2. Wahh… mereka memang anak-anak yang hebat.
“Yuk, kita
belajar lagi ya. Indah ada PR?”
“Ada
Nteeeee,” teriaknya sambil membuka buku paket Matematika dan PRnya.
“Ante boleh
ikutan makan kacang kulitnya, Keysaa?’ pintaku kepada Keysa.
“Boleh donk
Nteee,” kata Indah.
Yeyeeee…
aku bisa ngemil. Hehee, *nggak nyadar dengan bengkaknya badan nih. Keysa juga
minta bukain kulitnya, Indah pun sambil belajar sambil ngunyah. Yah, nggak
apa-apa, karena memang aku mengajarinya dengan metode 3S, Santai-Serius-Selesai
(ala bu Fitri, guru SMPku).
“Mana 2
teman Indah yang mau les itu?”
“Nggak tahu
Nte. Ntah hari ini, ntah besok orang tu lesnya.”
“Memangnya
rumah mereka di mana?”
“Agak ke
belakang sana lagi Nte. Mungkin ayahnya belum pulang dan nggak ada yang ngantar
mereka ke sini Nteee. Ante nanti mau makan bakso? Kemarin kan ada arisan di
sini, jadi Bunda Indah bikin bakso. Ante mau?” tanyanya dengan mata berbinar.
Mata yang sangat bening dan penuh harapan di dalamnya.
“Mauuuu
doonnkkkk!” jawabku antusias.
“Nanti kita
bikin ya Nteeee.”
“Ukeeehhh.”
“Oya Nteee…
kemarin Indah jumpa sama Ante Dara.”
“Oh iya? Di
mana?”
“Di Azzura.
Pertamanya Indah ragu, bener nggak ya itu Ante Dara? Terus, Indah tanya;
‘Ustazah kenal dengan Ante Elisss?’ berdua sama Iza waktu itu Ntee.”
“Terus, apa
katanya?”
“Nggak ada
Nte. Dia diam aja. Terus, Indah dekatin dan agak berbisik; ‘Ustazah pernah jual
Jamur Krispy ya dulu?’ gitu Indah tanya.”
“Nggak
dijawab juga sama dia?”
“Nggak.
Mungkin Antenya lupa sama Indah. Udah lama juga kan Indah nggak pernah jumpa.”
“Dia ada
nanya; ‘Adek siapa namanya?’ gitu nggak ke Indah?”
“Nggak ada
Nte. Ante tu diam aja. Iza pun bisik ke Indah, mungkin Ante tu lupa.”
Kamu polos
banget dek. Semoga Allah menjagamu dalam kepolosan yang serba baik ya. aamiin.
Ini bukan tentang lupa Dek, tapi tentang melupa dan dilupa. Cukup hatiku yang
berkecamuk, wajahku tak perlu ikut semrawut atas kabar ini.
Kak Era
datang ketika aku dan anak-anak baru selesai sholat Isya. Aku berfikir bahwa
sebenarnya mudah mendidik anak sejak kecil, karena ia seperti kertas putih-polos
yang keindahannya tergantung goresan tinta dari orang tuanya. Alhamdulillah,
sejak pertama kali aku mengajar mereka, meraka gampang banget ku ajak sholat. Kepolosan yang demikian suci.
“Anteeeeeee…gendoonng!” pinta Keysa.
Ia ku
gendong sambil melihat kak Era menyiapkan Bakso dibantu dengan Indah.
“Keysa tu
beraat Naak,” kata kak Era.
Memang iya,
keysa cukup berat. Tingginya tak terlalu jauh bertambah sepertinya, tapi
beratnya lumayan juga. Tak ada yang berubah darinya, tetap ceria, manja dan
rambutnya masih juga ikal.
“Kakak udah
nggak catering dan jual sate lagi Lisss, makanya nggak pakai kayu bakar lagi
masaknya.”
“Ohhh..gituu.
Pantesan Elis lihat kok nggak ada lagi kayu bakarnya di sini. Kenapa berhenti
Kak? nggak terlalu besar juga keuntungannya atau gimana?”
“Yang itu
ia juga Lis, terus uang kita banyak tertahan sama orang. sekarang aja ada 300ribuan
yang masih sama orang, belum dibayar juga. Ya udahlah, Kakak fokus aja sama
jual jus. Ini sebenarnya ada 1 gerobak lagi untuk jual jus, tapi nyari orang
jujur ni kan sulit Lisss, kalau ada mau Kakak buka 1 lagi.”
“Ahaaa..kalau
nggak, Ante Elis aja yang jual jus, Bun?” usul Indah.
“Lah? Indah
mau diajar les atau nggak nih? Kalau Ante jual jus, nggak bisa lagi donk ngajar
Indah,” sahutku.
“Kemarin tu
sebenarnya ada anak UIN Lis yang mau ngajar les Indah, tapi Kakak ragu. Kakak
bilang aja; ‘Sebenarnya ada Adek Kakak yang ngajar les Indah biasanya. Kemarin
dia memang nggak bisa, cobalah Kakak hubungi dia dulu ya. nanti kalau memang
dia nggak bisa, sama Adek aja Indah lesnya’. Syukurlah ternyata Elis bisa.”
Ya Allah,
bagaimana mungkin aku menolak orang yang sangat mengeharapkan dan mempercayaiku
seperti ini? Subhanallahi wabikhamdi.
“Dia agak
kecewa sih kalau Kakak lihat, tapi mau gimana lagi Lis. Elis tahu sendiri lah
gimana rumah ini, anak-anak berdua aja di rumah, Kakak sama Abang jualan sampai
malam. Kita kan harus waspada Lis, jangan sampai salah pilih orang.”
“Kakak
memang pas banget loh kemarin waktu nawarin ke Elis, soalnya Elis memang lagi
pengen ngajar untuk ngisi kekosongan ini Kak. Makasih ya Kak. Elis justru segan
karena udah lamaaaa banget nggak main ke sini, takut Kakak marah juga.”
“Ndak apa
doh Dek. Kakak bersyukur Elis bisa ngajar les Indah lagi.”
Ya Allah,
tolong katakan bagaimana caraku membalas kepercayaan yang satu ini?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar