Minggu, 04 Oktober 2015

Ofcourse, We are I-YES Generation



Sifat perempuan itu seperti air sumur; ia akan terbawa bersama timba yang menimbanya. Timba itu adalah perumpaan untuk si laki-laki. Pada dasarnya, seorang perempuan akan menerima saja seorang laki-laki yang benar-benar siap menikahinya. Benar-benar siap ya, ku ulangi lagi. Sekalipun sebelumnya mungkin tidak ada rencana atau gambaran bahwa ia akan menikah dengan laki-laki tadi, tapi jika ia dengan sepenuh hati diminta; ‘Jadilah istri untukku dan ibu dari anak-anakku’ perempuan mana yang tidak akan luluh hatinya? Bukankah bukti kesungguhan cinta itu adalah PERNIKAHAN? Bukankah pengakhiran terindah dari cinta itu adalah PERNIKAHAN? Bukankah perhentian terakhir dari sebuah pencarian cinta itu adalah PERNIKAHAN?

Jadi, jangan tanya bagaimana caranya agar aku jatuh hati padamu tapi buktikanlah bahwa aku memang layak memilihmu.

***

Harnila menevon…
“Duh, Nila ini pasti ngira aku belum bangun nih!” tebakku sebelum menekan tombol accept. “Hallo Dek?”
“Halooo Kak Cinnn. Kak Ciin udah bangun tidurrrr?”
Kaaann… bener firasatku. “Udahlah Dek. Sedang pakai jilbab nih.”
“Oke dehh. Nila tunggu ya Kak Ciinn. Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalammm.”
“Emang El mau ke mana sih?”
“Mau ke agenda I-YES Rin; I-YES Mengajar.”
“Cantik kali bajunya. Untuk aku ajalah.”
“Weeee… enak aja, ini beli loh kemarin. Bukan jatah. Hhihii.”
Sebenarnya 
 aku pengen ngajak Rini hari ini untuk jadi volunteer, tapi ntar Nila sama siapa donk berangkatnya? Lagian Rini harus mengurus segala sesuatunya tentang kepastian keberangkatannya hari ini ke Siak; tempat KKNnya dulu.
Di kosan Nila… “Kita ke mana dulu nih Dek?”
“Ke Hoya Bakery Kak Ciin. Kita mau ngambil kue dulu.”
“Okeeehhh.”

Asap makin pekat. Pagi ini aku membuktikan bahwa postingan-postingan di FB itu memang benar adanya; jarak pandang hanya 100 meter. Lupa bawa masker pula nih!
“Dek, emangnya nggak mahal beli kue ginian di Hoya?”
“Rp 800 Kak Cin per kuenya.”
“Masak iyaaa?”
“Iyaaa. Itulah makanya, nggak mahal dan enak. Termasuk murah kan untuk harga roti yang seribuan gini biasanya di warung-warung.”
“Murah binggo Dek.”
Ada teman-teman I-YES lainnya juga yang udah nunggu di Hoya. Setelah 70 roti dan beberapa box susu dibeli, kami langsung melaju ke harapan raya.
“Dek, ini udah agenda I-YES Mengajar yang keberap kalinya?”
“Emmmm…. 4 kali Kak dengan yang sekarang kalau NIla nggak salah yaa.”
Wahhh… 4. Berarti aku udah 3 kali nggak pernah ikut serta. Ya Allah, maaf. Di dekat Alpha hotel, ada beberapa lagi teman I-YES yang sudah berkumpul. Kami langsung bergerak ke TKP; Panti Asuhan Istiklal.
“Ini udah dekat banget ya Dek ke Alam Mayang?”
“Iya ya Kak,” jawab dek Erna. Kami udah bertukar pasangan, pemirsaaa; Nila dengan yang lainnya.
“Adek masih sering ke EZ?”
“Masih Kak. Adek kan jurusan Bahasa Inggris Kak, kalau seminggu aja lidah ni nggak dipakai untuk speaking, beuh!”
“Udah kaku ya pasti rasanyaa?”
“Itulah Kak. Makanya Ena paksain untuk terus datang ke sana. Kalau di I-YES ini, Ena pengen menyalurkan ilmu keguruan pula Kak karena basicnya kan pendidikan. Jadi, 2 2nya ilmu Ena tu bisa terpakai sejak sekarang Kak. Suntuk kali rasanya kalau nggak ada kegiatan Kak, rugi banget kalau cuma kuliah aja.”
“Bener banget tuh Dek!”

“Kakak udah wisuda?”
“Hikssss.. belum bisa Oktober ini Dek.”
“Ah, nggak apa-apa. Kakak enak, walaupun agak terlambat wisudanya tapi pengalaman Kakak udah banyak. Nggak rugi lah Kak.”
1 hal yang aku suka dari Ena; Dia positif banget orangnya. Sekalipun dia udah lebih senior di EZ, sejak awal aku kenal dia, dia selalu ramah kepadaku. Kadang, justru aku yang minder sama keaktifannya. Tapi, bisa-bisanya dia memuji seperti barusan. Aku menyimpulkan bahwa orang yang bisa me-LUARBIASA-kan orang lain hanyalah orang yang juga LUARBIASA. Seorang pendengki, mana mungkin mau memuji orang lain karena dirinya sendiri adalah pencela. Benar kan? Begitulah kira-kira perumpamaannya.
“Aamiin Dek. Makasih ya Dek. Adek harus bisa lebih aktif lagi yaa.”
“Iyaa Kak. Ena berusaha. Eh, Kakak ikut komunitas apa aja sih Kak?”
“Lebih banyak ke yang kepenulisan sih Dek, selebihnya komunitas pendidikan atau lingkungan, kayak I-YES gini.”
“Ena nggak tahu loh sebelumnya kalau Kakak I-YES jugaa.”
“Hehheee. Iyaa, Kakaknya jarang datang sih kalau rapat Dek. Pas ada agenda aja Kakak baru nongol. Hihii.”

***
Kami sudah tiba di Panti Asuhan Istiklal. Aku diminta Nila untuk menjadi MC. Siapa takut? Hehe. Sebenarnya, aku kurang ngerti dengan teknis pelaksanaan agenda hari ini, tapi karena Nila adalah projek leadernya maka setelah pembukaan, ku persilahkan Nila untuk menjelaskannya.
“…nah, jadi kita punya 3 kelas ya Adik-adik; yang pertama adalah English class, motivation class dan dream class. Setelah ini Adik-adik akan dibagi kelompoknya dan akan diajar orang Kakak-kakak dan Abang-abang yang cantik dan ganteng di sini,” jelas Nila dengan ceria maksimal.
Ada 3 kelompok yang dibentuk; kelompok SD, SMP dan SMA. Aku dan beberapa orang lagi menjadi assistant kelas bahasa inggris untuk SMP yang dipandu oleh Nila. Kami memilih mushola sebagai tempat belajar kami.
“Kak, biar Aldi aja yang pegang kamera Kakak. Biar Aldi foto-foto untuk dokumentasi,” usul Aldi.
“Okeh deh Dek,” ku serahkan kamera merahku ke tangannya. Aku bisa jadi lebih fokus menyimak Nila untuk memandu mereka mengerjakan soal.

NIla mengajari 17 Adik-adik ini bernyanyi My sisters, My brothers sambil mengisi titik-titik yang kosong di antara lagunya. Suasana kelas yang awalnya kaku akhirnya mencair. Mereka terlihat masih cukup asing dengan bahasa inggris dan masih malu-malu untuk tampil. Tapi, berkat trik jitu dari Nila, mereka jadi lebih aktif dan mulai berani unjuk gigi.
Setelah 40 menit berlalu…
“Kak, yang ngajar untuk motivation classnya kan cuma sedikit yang datang Kak. Setelah ini Aldi minta tolong Kakak ya yang lanjut ngajar.”
“Ini maksudnya Kakak pindah ke kelas lain atau tetap di sini Dek?”
“Di sini juga Kak. Tempatnya tetap di sini. Langsung aja berpindah ke motivation class Kak setelah Nila selesai.”
“Oh… okeeehh.”

Aku mengajarkan mereka tentang pentingnya memiliki CITA-CITA. Mereka ku tugasi untuk menuliskan 3 cita-cita mereka dan mengedarkannya kepada teman di sebelah kanannya untuk memberikan sarang atas 3 cita-citanya tersebut. Waaahhh… mereka semangat banget ternyata pemirsaaa. sedikit ribut memang, tapi masih bisa ku kendalikan kok! Kalau ngajar ya memang begini resikonya. Harus latihan vokal nih nampaknya, plus olah suara perut, hoaaammmm.
“…Baiklah Adik-adik, kelas kita sudah berakhir hari ini. tugasnya jangan lupa dikerjakan yaa, 2 minggu lagi sewaktu Kakak kembali ke sini harus sudah selesai ya. Kakak dan Abang mohon maaf kalau ada kesalahan, tetap semangat, tetap rajin beribadah dan bangun paginya yaaa. Assalamualaikum wr wb..” tutupku.
“Waalaikumsalam.. wr wb,” jawab mereka serentak, kompak.
“Yeee…tepuk tangan donk untuk kita semuaaaa,” pintaku. Well, aku memang sudah berubah jadi kekanakan hari ini pemirsaaaahh. “Yukkk, kita tutup kelas ini dengan berfoto bersamaa. Sini, sinii merapaattt!” ajakku kepada murid kelas ini dan para pengajar.
Dari mushola, beralih ke lapangan. Ada Joshua yang sedang mengadakan games. Seluruh kami diminta membuat satu lingkaran besar dan Joshua mendongeng tentang berbagai kisah klasik untuk masa depan *loh? Hehehe. Setelah Joshua mendongeng, anak-anak tadi ditantang untuk menjawab pertanyaannya dan atau melengkapi cerita tadi. Alhamdulillah, salah satu dari murid kelasku ada yang berani maju meskipun jawabannya salah.

Pukul 11.30wib. Setelah ber-games ria, kami berfoto bersama di dalaman panti dan dilanjutkan dengan pembagian roti dan susu sebelum penutupan.
“….terimakasih untuk Adek-adek yang sudah meluangkan waktu dan ilmunya untuk kami di sini. Jujur, Panti ini sudah berdiri sejak tahun 2008 dan jujur kami sangat minim donator. Kami juga butuh seorang ustad karena seperti yang bisa Adek-adek lihat, anak-anak ini memang belum baik akhlaknya, untuk itulah Bapak berharap kalau ada teman Adek-adek yang bersedia mengabdi di sini, Bapak sangat berterimakasih. Insya Allah tempat tinggalnya kami sediakan, lumayan kan daripada bayar kosan…”
Acara tutup dengan lafaz hamdalah dan diakhiri dengan bersalam-salaman, ku iringi dengan alunan sholawat dengan menggunakan toa.
“Kak Elisss, tolonglah naik motornya pelan-pelan ajaa,” pinta Joshua.
“Loh, memangnya Kakak ngebut ya?”
“Kakak kan yang tadi hampir ketabrak mobil? Aku sama Derki menggeletek loh pas noleh ke belakang. Memang ngeri Kak Elysa niii.”
“Masih jauh pun tadi dari mobilnya Dek. Mobilnya aja yang lebay nglaksoon panjang banget gitu, ya udahlah Kakak balas juga nglakson lama-lama. Hehee.”
“Pasti nanti masuk ke blog!” kata Mila.
“Heh, awas ya nanti Kakak jelek-jelekin Adek di blog!” ancamku kepada Joshua.
“Tuh kaaann... Matilah akuuuuu,” kata Joshua. “Yang bagus-bagusnya ajalah Kak diceritaiin.”
Aku terkekeh melihat tingkah Joshua.
 
***
“Nongkrong di mana nih kita Dek?”
“Terus aja dulu Kak Ciin, Nila sambil lihat-lihat nih!”
Aku dan Nila melaju paling dulu untuk menemukan tempat untuk breafing yang asyik. Sementara teman-teman yang lain mengikuti kami dari belakang.
“Di mana sih Nilaaa?” tanya Joshua ketika aku menghentikan motor karena kebingungan.
“Nggak tahu nih, bingung. Di Warung Bude itu gimana?” tanya Nila sambil menunjuk ke kantin di sebelah kiri kami.
“Ikuti aku ajalah. Ke Taman Sari kitaa.”
“Okeeehh, maaf ya teman-teman,” sesalnya, karena tadi Nila yang menyanggupi mencari tempat.
Aroma Café. Sebuah kafe dengan desain kekinian banget dan tempatnya luas sehingga kami bisa menentukan di mana kami akan duduk beramai-ramai. Breafing dibuka oleh Aldi, evaluasi bersama dan dilanjutkan oleh penjelasan dari Nila untuk pertemuan 2 minggu mendatang.
El, di mana? Orang ni dah mau jemput. Aku udah di rumah Mumut.
Membaca BBM dari Rini membuatku galau dan bengong sejenak. Ku lemparkan pandangan ke luar dari jendela kaca di belakangku. Menimbang-nimbang keputusan yang harus segera ku ambil.
Rin, gimana yaaa… aku masih breafing pula nih. Nggak kelamaan ntar nungguin aku?
Cepetan aja El. Orang tu masih di jalan juga.
Sebenarnya masih bimbang, tapi kapan lagi aku bisa ke Istana Siak? Bersama Rini pula. Akhirnya, ku putuskan untuk mohon izin dengan Harry dan teman-teman yang lainnya. Demi mengejar waktu.
“Loh, Kakak kok ngeluarin uang?” tanya Mila yang duduk di sebelahku.
“Ya, buat ntar bayar Deek.”
“Kan masih belum mau pulang kita Kak.”
Aku jadi ragu lagi. Ku cek kembali BBM, semoga mendapatkan petunjuk dari sana.
El, orang ini nggak mau ke Istana Siak pula. Yang parahaan. Lain kali ajalah ya kita mainnya sama orang Okta. Aku ingat kok jalannya. Daripada El nanti nyesal jalan sama kami.
Sebenarnya, nggak cuma Istana siak sih tujuanku. Desa KKNnya Rini pun ingin ku lihat dan berharap menemukan inspirasi dari sana. Tapi, aku berfikir dalam keadaan kabut asap seperti ini pun berfoto di tempat sebagus apa pun pasti nggak ada maksimal. Ya udah deh, aku nggak jadi pergi bareng Rini kali ini. lagian, kalau teringat dengan janji nanti sore, aku merasa sangat nggak enak kalau ngak datang. Karena, akulah yang mengusulkan hari ini dan udah teman-teman udah menyetujui sejak seminggu yang lalu.

“Kak, gimana sih caranya supaya rajin nulis?” tanya Mila.
“Emmmm… gimana yaaa?”
“Kasih Mila nasehat Kak. Mila punya blog waktu kelas 1 SMA, tapi sekarang udah nggak pernah dibuka lagi. Keinginan itu selalu ada, tapi bertindak itu kok berat banget rasanya. Dulu, Mila semangat nulis karena ada teman yang juga hobi nulis, tapi sekarang dia ngilang ntah ke mana dan Mila pun ikut-ikutan pasif jadinya.”
“Emmm..gituuu. Kan sekarang Mila kenal sama Kakak walaupun teman Mila yang dulu udah ngilang. Gini Dek, ada 1 nasehat yang ampuh banget buat Adek; Menulislah dengan ikhlas, seolah-olah kita nggak butuh apapun. Nggak butuh terkenal, nggak butuh dibaca orang, nggak butuh dibayar. Dan, nggak perlu menunggu untuk menulis dengan jenis tertentu. Mulai saja dari dirimu. Kalaupun kisah kita nggak menjadi apa-apa, setidaknya itu sudah menjadi tulisan.”
“Ihhhhh… keren kaliii Kakkkk. Eh, Kakak bikin buku deh! Udah cocok banget loh Kak.”
“Makasih Adeeeekkk. Doain yak. Sebenarnya udah ada sih Dek.”
“Ih, seriusan Kak? Buku apa?”
“Antologi puisi Dek. Tapi udah nggak RO lagi sekarang, setelah yang 100 cetakan kemarin habis.”
“Yaaahhhh.. Mila boleh minta soft filenya nggak Kak?”
Waduh! Kalau aku lebih mentingin materi, pasti aku akan langsung nolak permintaan Mila nih!

“Ada Dek. Mau?”
“Yeyeyee…Sekarang Kakak bawa?”
“Nggak Dek. Kan Kakak nggak bawa laptop sekarang. Kirim ke email Mila aja gimana?”
Aku menyodorkan HPku dan Mila menuliskan alamat emailnya di sana.
“Wooooyyy! Kalian ngomongin apa sih? Jangan ada forum di dalam forum laah!” tegur Joshuaaa.
Aku dan Mila berpandang-pandangan, tersenyum. Karena kepergok oleh Joshua, padahal dia duduknya berseberahan dan jauh dari kami yang di sudut ini duduknya, ehe.
“…Kalian mau buat rencana Kelas Kebersihan boleh-boleh aja. Tapi, kalian ada ngelihat nggak gimana toilet di sana tadi? Jorok loh. Ember nggak ada. Airnya kotor. Baju berserak di mana-manaa, aku ngamatin semua soalnya. Logika sederhananya ginilah, untuk apa kita ngajarkan cara sikat gigi yang baik kalau air yang ada di sana aja kotor? Jorok! Sama doank kan? Pertanyaannya, kalian siap nggak mengadakan air bersih dan segala pendukungnya. Ngundang anak kedokteran itu bukan sekedar untuk jelasin gimana sikat gigi yang baik aja. Itu sih saran aku,” jelas Joshua.
“Emang ngeri Joshua ini yaa,” bisikku kepada Mila.
“Joshua memang gitu Kak. Dia kalau udah nyambung dengan yang dia sukai, ya gitu jadinya, idenya sreeeeeeeett banyak banget. Tapi, kalau dia nggak suka, sebagus apapun yang dibicarakan orang, dia nggak akan merespon.”
“Ooooo..gituuuu.”

“Kak, udah ngangsur untuk nulis belum?”
“Nulis apa Dek Harii?”
“Nulis untuk postingan tulisan hari ini.”
“Ohooo..belumlah. Ntar malam langsung sekaligus aja. Lagian Kakak nggak bawa laptop hari ini.”
Bukan hanya teliti dalam menganalisa, Joshua juga kaya dengan ilmu mengajar. Bahkan, dia punya RPP versi luar negeri yang kece badai. Mendengarnya menjelaskan, membuatku seolah sedang kembali ke dalam kelas mendengarkan dosen menjelaskan. Hihiiihi..
“…Ngajar itu nggak sekedar ngajar ya teman-teman. Kalau nggak ada persiapan dan nggak punya leason plan, mending nggak usah ngajar aja. nanti aku kirimkan ke email teman-teman dan hari kamis besok, aku mau teman-teman udah pada punya leason plan masing-masing ya! Contohnya tadi ya aku nggak suka waktu pergantian dari English class ke motivation class, bener-bener nggak rapi dan anak-anak itu jadi ribut. Masa sih volunteer I-YES kayak gini kinerjanya? Jadi Volunteer itu nggak asal jadi volunteer aja, kita harus totalitas dan tetap professional. Kalian belum lihat sih di komunitas lain yang volunteernya itu keren banget dan sangat professional.”

Nggak enaknya breafing sambil makan itu ya gini; tiap sebentar, pasti ada waitress yang datang dengan makanan yang baru selesai dihidangkan. Kalau udah gini, momen serius dan fokus pasti tersita beberapa detik. Setelah breafing selesai, diputuskanlah bahwa agenda selanjutnya adalah hari kamis siang di Gaboh Burger untuk membahas AD ART menuju legalitas I-YES. Bismillah.
“Kak Eliss, ditunggu yaa!” kata Harry sebelum aku beranjak duluan.
“Apanyaa Dek?” aku berfikir sejenak. “Ohhh…okeh.”
“Pastinya tuh, ya kan Kak Eliss. Tolong jangan jelekin aku lagi Kak, tolong!” kata Joshua. “Pokoknya nanti aku mau lihat postingan Kakak yang ada gambar itunyaa,” tunjuknya ke wallpaper Aroma Café ini.
“Amaan tuhh!”
Puncak tulisanku ini adalah ketika orang lain merasa sangat bahagia menjadi bagian dari hari-hariku karena tentang mereka pasti akan ku abadikan di dalam tulisan. Aku teringat kembali kalimat klasik itu.
Nila nebeng dengan yang lainnya karena setelah ini aku mau ke asramanya Lia sebelum ketemu teman-teman BAT ntar sore. Kami berpisah arah. Sekarang, aku jadi was-was hati sendiri, khawatir kalau bensinku nggak cukup dan akhirnya mogok di atas fly over ini gimana coba?
Ya Allah, izinkan hamba melewati fly over ini dan ketemu tukang jual minya di pinggir jalan sebelum bensinnya benar-benar habiss. Hamba mohon ya Allah…. Pintaku dalam hati saat berada tepat di lengkungan puncak fly over.

***
Sebelum ke asrama MAN 2 Model, aku mampir di jelan Seberut, ke masjid Al-Falah Darul Hikmah. Suasana sepi dan hening untuk ukuran masjid sebesar ini. Ada mobil terparkir di halaman masjid, mungkin ada jamaah lain yang sedang sholat juga di dalam.
Tiba-tiba…. “Mbak!”
Aku menoleh ke belakang. Ternyata ada seorang cowok berwajah teduh di belakangku.
“Iya?”
“Masuk k edalam masjidnya lewat mana ya?”
“Lewat sini nggak Bang?” kataku sambil mendorong pintu masjid.
“Nggak bisa Mbak. Dikunci. Oohh! Atau naik ke atas dulu yaa?”
“Haaa.. mungkinlah!”
Ternyata benar. Yang dibuka adalah ruangan di lantai 2. Mungkin di lantai bawah itu adalah aula untuk pertemuan atau seminar. Mesjid ini sungguh indah, antik dan luas. Tentu saja, aku nggak mau melewatkan moment ini begitu saja. Agak kerepotan sih punya 2 kamera gini, setelah menjepret dengan android, dilanjutkan dengan kamera pocket. Yahhhh, benilah resikonya kalau punya 2 kamera yang kece badai ini pemirsaaaa. Hehehe.

“Mu dari mana Cin? Kok lamaa amat datangnya?” tanya Lia ketika aku baru sampai di asramanya.
“Breafing dulu tadi soalnya setelah acara Cin,” jawabku sambil mengunyah kue tart Lia. Mungkin kue ini adalah hadiah dari anak-anak asramanya. “Ciiinnn…laperrr,” keluhku. Merasa belum sah kalau belum makan nasi.
“Yuk, yuk kita makan dulu. Aku fikri mu udah makan tadi, makanya nggak ku ajak-ajak. Ehhehe.”
“Beyuuummmm.”
Setelah sholat ashar di masjid MAN 2, aku buru-buru meminjam laptop Lia. Teringat bahwa hari ini aku harus menyelesaikan editan untuk novelnya bang Putra.
“Cin, Adingga adalah nama yang bagus nggak menurutmu?” tanyaku kepada Lia.
“”Bagus.”
“Tapi, kalau dia dipanggil Ading? Aneh nggak kedengarannya?”
“Aneh banget.”
“Aku pun merasa gitu.”
Kembali ku koreksi setiap kata yang tuliskan bang Put di sini. Ada beberapa kalimat yang rancu menurutku dan ku perbaiki supaya lebih menarik dan padat.
“Lah, ini apa maksudnya ya? Bang Put ini pakai sudut pandang orang pertama atau ke-tiga sih? Kalau orang ketiga, nggak boleh ada ‘kami’ di sana. Subjey ‘saya’ nggak boleh masuk, karena kami itu kan menunjukkan bahwa ada’saya’ di sana.”
“Tanya aja Ciiin. Tapi, Abang itu ngajar sih biasanya full day.”
“Ngajar di mana Cin?”
“Di Santa Maria, Darma Yudhaa.. emm…. Di mana lagi yaa.”
“Masa iya Cin? Keren kali Abang ituu. Ngajar Bahasa Inggris?”
“Nggak. Komputer.  Hahhaa.. ntah ke mana-mana kan larinya.”
“Waaaahhh. Keren juga tuh. Ehmmm.. enaknya Bang Put itu ada di sampingku, biar gampang kalau tulisannya mau ku pertanyakan atau mau ku luruskan. Hemmm…tapi, aku kagum banget loh dengan penulis cowok yang tulisannya itu romantis. Coba bayangkan, seberapa pekanya lah hatinya itu sehingga dia bisa menghasilkan tulisan yang sedemikian menyentuh, Cin?”
“Ciyeee..bentar lagi muncul deh tulisan tentang cowok berhati lembuuttt.”
“Hahaaa… tunggu aja deh!”

Adek-adek… kalau udah mau berangkat, kasih tahu Mbak Wien ya. Ditunggu di Mie Ayam Pak De. Hati-hati di jalan…
SMS dari bang Wira itu mengingatkanku bahwa aku harus segera otw ke TKP. Aku segera menyusul Lia ke lantai 2 untuk berpamitan dengannya. Hari ini dia nggak bisa ikut karena anak-anak asramanya harus dipantau gotong royongnya.
“Besok kalau jadi fasilitator BAT 9, mu bisa Cin?”
“Emmmm…gimana ya? Aku takut nggak bisa menepati janji lagi nanti Cin. Gini ajalah, kalau aku memang bisa ikut, aku akan langsung bantu-bantu aja dihari H. Bantu apapun yang bisa dibantu.”
“Oke dehhh.” Aku menyalaminya sebelum memunggunginya. Wajahnya selalu bersinar seperti biasanya, tapi bening matanya lebih dari biasanya. Sayangnya, hari ini ia tak turut bersama.

***
Ketika memasuki jalan Sumatera… aku kembali tersadar bahwa bensinku udah sekarat. Celingak-celinguk ke sana ke mari untuk nyari penjual bensin, tapi nggak ketemu juga. Terpaksa, aku kembali ke jalan Diponegoro dari pintasan jalan Seberut, berharap ada yang jual bensin di sekitar hotel Arya Duta. Tapi, aku kurang beruntung kali ini, yang jual makanan sih banyak tapi yang jual bensin nggak ada.
Di pertigaan lampu merah jalan Diponegoro menuju bundaran Zapin, fikiranku mulai kacau.
24
23
22
21
Hitungan lampu merah itu terasa sangat lamban pergulirannya. Hatiku semakin tak menentu. Nggak sanggup membayangkanapa jadinya kalau motor ini mogok. Di hiruk pikuk pertigaan pula.

“Ya Allah, mohon izinkan hamba menemukan penjual bensin dulu yaa. Kayaknya di dekat masjid Agung An-Nur itu ada ya Allah. Toloooonngggg.”
Dan, setelah kalimat terakhirku terhenti, motoku benar-benar mati. tepat pula dengan lampu hijau yang menyala. Aku panik. Segera ku tempikan motorku di pembelokan di arah kiri. Untung pengendara lainnya tidak menggesaku dengan klakson-klakson ribut atau bahkan makian. Syukurlah, aku berhasil menepi tanpa membuat orang lain terhalangi.
“Ciinnnn..tolonglah angkaaatt! Aku butuh pertolongaaann,” harapku. Sudah berkali-kali Lia ku hubungi, tapi nggak juga diangkat. Aku teringat bahwa HPnya ada di kamar sebelum aku pergi tadi dan mungkin Lia masih berada di lantai 2. Hiksss.
“Ya Allah, tolong aku ya sebagaimana dulu aku pernah juga menolong orang yang kehabisan bensin di tengah jalan…”
Nggak mungkin kan ku minta mbak Win atau bang Wira ke sini? Kasihan mereka donk. Aku harus bisa menyelesaikan semua ini tanpa merepotkan orang jauh.
“Bang, Bang, Bang…” aku melambaikan tangan kepada orang yang berbelok ke sebelah kiri. Kebetulan motor yang satu ini agak lambat lajunya sehingga aku berhasil menyetopnya. “Bang, saya kehabisan bensin, boleh minta tolong belikan bensin nggak di sekitar sini? Ini uangnya,” ku sodorkan uang Rp 10.000 kepadanya. “Maaf banget ya Bang, Kak, merepotkaan,” dia bersama pacarnya sepertinya.
“Okee.. tunggu dulu yaa di sini,” pintanya.
Alhamdulillah. Melegakan sekali pemirsaa. Ku lihat jam di tangan, sudah pukul 17.00wib.
“Dek, motornya kenapa?” tanya pak Satpam yang menjaga rumah putih di belakangku.
“Kehabisan bensin Pak.”
“Tepikan lagi motornya ke sini, nanti menghalangi orang lewat. Bahaya tuu!”

Aku mendorong motorku lebih maju sampai di depan gerbang rumah putih ini.
“Ini rumah dinas ya Pak?”
“Iya.”
“Rumah dinas siapa ya Pak?”
“Pak Rektor.”
“Rektor mana Pak? UNRI?”
“Iya.”
“Seriuslah Pak.”
“Iyaa.”
“Pak Arash kah?”
“Iyaa.”
Owalahhh… ternyata. Kalau nggak kayak gini, mungkin aku nggak akan pernah tahu kalau ini adalah rumah dinasnya pak Arash dan ternyata aku mogok di depan rumahnya. Saat ini, bapak sedang di luar kota rupanya. Pak satpamnya baik dan ramah pula.
“Mogok atau kehabisan bensin motornya?”
“Kehabisan bensin Pak. Tapi, tadi udah minta tolong teman kok Pak untuk nyarikan bensin.”
Tak lama, kakak dan abang tadi datang dengan membawa seliter bensin. Aku segera menuangkannya ke dalam tangki minyakku dan mengucapkan terimakasih kepada mereka.
“Bang, kalau ada kembaliannya, buat Abang aja ya. Makasih banyak ya Bang, Kak atas bantuannya. Mari Pakkk.. permisiii… assalamualaikumm.”

Sesampainya di jalan Pepaya, aku bertanya kepada seorang laki-laki di pinggir jalan tentang alamat Mie Ayam Pak De. Katanya masuk ke jalan Durian. Tapi, waktu ku telvon bang Wira, katanya nggak sampai masuk ke jalan Durian. Aku yang udah nyampek jalan Durian pun akhirnya putar arah. Ku telusuri pelan-pelan jalan Pepaya sampai nyaris mencapai jalan lintas Tuanku Tambusai pula.
“Kak!” sapa seorang wanita yang menyelisiku dan akhirnya menghentikan motornya.
“Emmm…Aisyaah ya?”
“Ana loh ini Mbaak. Masa lupa.”
“Oh iyaaaa… maaf-maaf Dek. Lupa.”
Akhirnya aku dan Ana bekerja sama untuk menemukan alamat. Sempat nyasar ke jalan Mangga juga dan ujung-ujungnya bang Wira nelvon lagi untuk mengklarifikasi bahwa benar alamatnya di jalan Durian, nggak jauh dari gangnya. Howalahhhh! Fatal banget ternyata akibatnya.
Aku melihat bang Wira menunggu kami di pinggir jalan untuk menyambut kami. “Kok bisa salah sih Bang nama jalannya? Tadi kami udah masuk ke jalan ini, tapi karena Abang bilang nggak sampai masuk ke jalan Durian, akhirnya kami balik lagi.”
“Iyaaa, Abang yang salah. Karena, dulu tu jalan Durian ini masih termasuk jalan Pepaya sampai ke simpang itu Liss,” jelas bang Wira.
“Kakak ini udah wisudaa?” tanya Yoga yang baru saja datang bareng bung Misnan.
Ini adalah pertanyaan kedua, padahal baru beberapa menit duduk di sini bersama mbak Wien dan bang Wira, Aisyah dan Ana, Yoga dan bung Misnan.
“Jangan ditanya gitu, Elisnya ntar sediih,” kata mbak Wien, lembut.

Ia memang selalu lembut. Tadi pun ia begitu lembut ketiba menyambutku. Ya Allah, jaga kakakku ini.
“Elis nih baru nyadar sekarang bahwa segera tamat itu penting ternyataa. Hahahah,” ejek bang Wira. “Kemarin masih ngotot, pengen ngambil semua peluang lah, pengen ini dan itu lah. Ya kan Lis?” ejeknya lagi.
“Nggak kok! Sekarang pun belum nyadar Bang. Hahhaa.”
Kami saling bertukar kabar dan cerita sembari menunggu pengantin baru yang belum kunjung datang; Adit dan Mona.
“Nanti jangan-jangan mereka nyasar pula kayak kami tadi Bang?” sindirku ke bang Wira. “Masa jalan Durian dibilang jalan Pepaya. Bingunglah kami. Padahal tadi udah masuk ke jalan ini, akhirnya lalu-lalang ntah sampai ke mana-mana. Huhhh!”
“Iya, Abang yang salah. Maunya dikirimin peta aja ya ke kalian, biar lebih jelas. Soalnya dulu, jalan ini nih masih termasuk jalan Pepaya Liss.”
“Ohhh begondronggg..”
Berkumpul dengan orang-orang yang baik lagi cerdas itu memang sangat mencerahkan kita. Dari obrolan tentang training dan trainer, obrolan kami pun beralih ke MLM.

“Jadi gini, ada 3 sistem bisnis; yang pertama, direct selling atau penjualan secara konvensional. Kita jual barang dan kita mendapatkan selisih harga sebagai keuntungan kita. Yang kedua, network marketing. Misalnya, Abang punya barang, Elis membantu Abang menjualkan barang dan keuntungan yang Abang dapat akan Abang share ke Elis juga. Dan yang terakhir adalah MLM. Halal, apabila syarat sah transaksinya terpenuhi; ada akad, ada barang ada saksi. Sejauh ini, yang benar-benar halal itu sedikti jumlahnya, contohnya K-LINK, Tiens, CNI karena mereka punya barang dan mereka mendapatkan share komisi dari barang yang terjual. Makanya kenapa harga produknya mahal? Karena di dalam produk itu terkandung rantai distribusi dan rantai komisi. Itu nggak masalah. Dikatakan haram apabila yang diharapkan itu adalah kalau keuntungan kita bersumber dari perekrutan orang, bukan dari keuntungan barangnya. Kenapa bisa haram, karena kita sistemnya piramida, kerjanya hanya merekrut orang lain. Yang di atas akan dapat keuntungan dari yang di bawah, kita nggak tahu kan keuntungan dari siapa (asalnya) yang kita dapatkan? Nah, sampai disitu aja ilmu Abang.”
“Ohhh gituuuuuuuuu. Kalau Forex itu gimana Bang?”
“Wah, itu udah jelas-jelas nggak boleh Lis. Karena sejatinya mata uang itu nggak bisa diperdagangkan dan nggak bisa diperjual belikan. Itu menganduk unsure spekulatif yang abang sebutkan tadi.”
“Ohhh gituuu.”
“Elis banyak-banyak deh bergaul dengan orang-orang yang udah kerja. Jangan bergaul dengan mahasiswa aja, karena akan ada gep yang sangat jauh antara dunia kampus dengan dunia sesungguhnya. Setidaknya, Elis udah banyak belajar dari mereka sebelum Elis benar-benar terjun ke sana.” Jelas bang Wira. Aku manggut-manggut.
Mona dan Adit baru saja datang. Kami langsung memulai santap mie ayam ini. Nikmat banget pemirsaaa…mienya banyak dan rasanya nggak lebay. Soal harga, aku kurang tahu, soalnya mbak Wien yang nraktir. Hehe. makasih ya Mbak. Semoga dedek bayinya di perut cepet gede, sehat dan jadi anak yang berbakti nantinya. Aamiin.

“…gas elpiji yang 3kg itu banyak sebenarnya, tapi ada oknum yang menimbunnya. Dan, itu nggak boleh. Karena dalam islam, kekayaan itu didapat dari distribusi, bukan penimbunan seperti itu. Sehingga, kekayaan itu bisa merata, nggak timpang; menumpuk pada satu golongan saja,” jelas bang WIra. “Banyak orang yang mengeluh tentang lapangan pekerjaan. Sebenarnya, lapangan kerja itu banyak, tapi kita yang nggak pandai menyesuaikan diri seperti permintaan. Tentu aja perusahaan nggak mau rugi membayar orang yang nggak kompeten di posisi yang mereka butuhkan. Ada 6 hal yang skill secara umum yang sangat inti kalau kita ingin siap pakai di dunia kerja; 1. Public Speaking, 2. Sales marketing, 3. Menulis, 4. Slide optimation.”
“2 lagi apa Bang?” tanyaku tak sabar.
“2 lagi adalaahh… ikutilah trainingnya Lisss. Yoga sama Misnan ini tinggal dalam tahap mentoring berkelanjutan lagi.”
“Besok datang ya Kak waktu kami diwisuda. Kamilah yang akan jadi trainernya dihari ituuu,” kata Yoga pula.
“Ihhh.. jahat! Kok nggak ngasih tahu Elis sih! Kapan trainingnya emangnya?” mulutku manyun.
“Dedeeeekkk….. Dedek tu menghilang loooh kemariin,” sahut mbak Wien, lembut.
“Iyaaaa Kak, Kakak tu bener-bener hilang loh! Aisyah aja benar-benar nggak tahu gimana kabar Kakak. Tulah kaaannn… kakak sih menghilang-menghilaaaang,” tambah Aisyah pula. Aku semakin cemberut.

“Nanti deh Lis, setelah angkatan ini ada Abang adakan lagi.”
“Kemarin berapa biayanya, Dek?” bisikku kepada Yoga. Yoga menyebutkan jumlahnya. Hemmm.. tidak terlalu mahal menurutku.
“Trainingnya 3 hari Kak dan pembinaannya 3 bulan.”
“Wahhhh..bagus tuh, memang yang paling penting itu adalah pembinaannya,” simpulku antusias.
Kami sudah selesai makan ketika azan maghrib berkumandang. Masjid Al-Khairat menjadi pilihan kami selanjutnya untuk berkumpul.
Di tempat wudhu wanita…. “Kak, gimana sih cara makai jilbabnya?” tanya Mona ketika aku memasang jilbab.
“Oh,, ini? Agak aneh gitu ya modelnya Dek?” tanyaku.
“Nggak loh Kak, cantik dan unik. Mona udah pernah nyoba, tapi kok nggak bisa kayak gini yaa?”
“Ohhh, gampang! Gini caranyaa…” ku jelaskan dengan praktis dan mudah kepada Mona bagaimana caraku memakainya.
“Ohhhh…gituuu.. bagus yaaa,” kata Mbak Wien pula. “Kalau Mbak Win biasanya harus lihat youtube dulu baru bisa, Dekkk.”
“Waaahhh, kalau yang kayak Elis ini dijamin nggak ada diyoutube Mbak, karena ini murni kreasi Elis sendiri. Wahh, maunya Elis upload yak e youtube. Ngeksis. Hehehe.”
Mona yang ternyata masih memperhatikanku bertanya lagi, “Ini kok bisa tingkat gini Kak lipatannya?”

“Ohh, ini kan karena tadi lebih panjang yang sebelah kanan Dek bidangnya, makanya ketika disatuin jadinya menumpuk gini. Cantik ya?”
“Iyaa. Cantik, rapi. Tetap lebar bidangnya. Nanti deh Mona coba lagi. Kemarin udah pernah sih, tapi nggak bisa Kak ternyata.”
“Kan sekarang udah Kakak tunjukin nih, ntar dicoba lagi ya di rumah. Pasti bisa.”
Usai sholat maghrib, bang Wira kayaknya udah ngode mbak Wien untuk pulang, tapi kami tahan mbak Wien bersama kami sampai azan Isya berkumandang. Habisnya masih kangen sih. Kami berlima ngobrolin tentang pernikahan, kuliah, bisnis sampai tipe kepribadian.
“Kak Elisss Feeling ya? Sama donk kita Kak. Aisyah mau nanya, biasanya kalau Kakak ada masalah yang berat banget, bawaannya pengen tidur nggak sih? Soalnya setahu Aisyah, orang Feeling kayak gitu.”
“Waaahh, iyakah Dek? Bener banget loh. Kakak sering bawa tidur kalau udah stress banget.”
“Haaa..kan bener.”
“Kalau Mbak lihat ya, tipenya calon suami Elis ini harus yang lebih dewasa beberapa tahun ya dari Elis, bener Dek?”
“Ih, bener Mbaak.”
“Iya, kalau sama yang seumuran kayaknya nggak bisa. Elis pengennya diemong (baca: diayomi) ya kan orangnya?”
“Iya Mbak, bener. Soalnya Elis bakal jinak kalau dia lebih dewasa dan kebapakan. Kalau nggak, takutnya Elis yang bakal mendominasi Mbak, karena Elis tahu gimana karakter Elis.”

Nggak nyangka sebelumnya, ternyata Aisyah justru udah ditanyai oleh orang tuanya kapan wisuda dan kapan menikah. Aku malah belum ditanya sama sekali. Ya, mungkin karena orang tuaku demokratis dan tidak terlalu memaksakan kehendak mereka kepada anak-anaknya.
“…memang Dek, ada beberapa peluang pekerjaan yang mengharuskan karyawannya berstatus single. Agak kesulitan deh jadinya untuk yang udah berkeluarga kan. Tapi Dek, yakinlah Allah akan merawat rezekinya orang-orang yang sudah menikah. Kalaupun dek Mona nggak kerja, Allah akan melewatkan rezeki Adek melalui Adit. Sebenarnya sama aja, Adek bekerja atau tidak, karena rezeki yang Adit dapat pun terkandung rezeki Mona di dalamnya. Yang penting, rawatlah suami kita, diurus, sayangi dia. Ingat, surganya Adek ada di kakinya, dia bertanggung jawab atas Adek sampai ke akhirat nanti, makanya kita harus berbakti kepada suami kita.”
“Semangaaat Monaaa!” kataku, antusias. “Insya Allah, kesulitas yang tetap berdua dalam kesulitan, akan tetap berdua pula dalam kebesaran.”
“Wiiwwww.. sejak tadi puitis banget ya kak Eliss niii,” celetuk Aisyah dan ditimpali dengang yang lainnya.
Ternyata kisah rumah tangganya Mona dan Adit lebih luar biasa lagi. Ketika Mona menceritakannya kepada kami, ada rasa harus, kagum dan bangga tentang Mona dan Adit. Kalian luar biasa, semoga Allah menjaga pernikahan kalian hingga ke syurga.. aamiin.
“Kapaaan ya Mbak kita bisa ngumpul lagi kayak ginii?”
“Iya ya Dekk. Dek Elis mainlah ke galeri Mbak. Insya Allah dari hari Selasa sampai jumat, Mbak standby terus kok di sanaa.”
“Insya Allah Mbak.”

Setelah sholat Isya, pertemuan hangat ini berakhir. Tertunda sementara untuk pertemuan berikutnya yang masih ntah kapan. Aku pulang sendirian karena nggak ada satu pun dari mereka yang juga pulang ke Panam. Tak masalah bagiku, selagi ada Allah semuanya akan baik-baik saja.
Motorku melaju, melewati keramaian malam di jalan Pepaya, menebas hiruk-pikuk kendaraan dan melesat di bawah bias cahaya lampu kota. Aku kembali di sambut dengan kamar kosong yang lengang tanpa orang. Terulang.

Tidak ada komentar: