Sifat perempuan itu seperti air sumur; ia akan terbawa
bersama timba yang menimbanya. Timba itu adalah perumpaan untuk si laki-laki.
Pada dasarnya, seorang perempuan akan menerima saja seorang laki-laki yang
benar-benar siap menikahinya. Benar-benar siap ya, ku ulangi lagi. Sekalipun
sebelumnya mungkin tidak ada rencana atau gambaran bahwa ia akan menikah dengan
laki-laki tadi, tapi jika ia dengan sepenuh hati diminta; ‘Jadilah istri
untukku dan ibu dari anak-anakku’ perempuan mana yang tidak akan luluh hatinya?
Bukankah bukti kesungguhan cinta itu adalah PERNIKAHAN? Bukankah pengakhiran
terindah dari cinta itu adalah PERNIKAHAN? Bukankah perhentian terakhir dari
sebuah pencarian cinta itu adalah PERNIKAHAN?
Jadi, jangan tanya bagaimana caranya agar aku jatuh hati
padamu tapi buktikanlah bahwa aku memang layak memilihmu.
***
Harnila menevon…
“Duh, Nila ini pasti ngira aku belum bangun nih!” tebakku
sebelum menekan tombol accept. “Hallo
Dek?”
“Halooo Kak Cinnn. Kak Ciin udah bangun tidurrrr?”
Kaaann… bener firasatku. “Udahlah Dek. Sedang pakai jilbab
nih.”
“Oke dehh. Nila tunggu ya Kak Ciinn. Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalammm.”
“Emang El mau ke mana sih?”
“Mau ke agenda I-YES Rin; I-YES Mengajar.”
“Cantik kali bajunya. Untuk aku ajalah.”
“Weeee… enak aja, ini beli loh kemarin. Bukan jatah.
Hhihii.”
Sebenarnya
aku pengen ngajak Rini hari ini untuk jadi
volunteer, tapi ntar Nila sama siapa donk berangkatnya? Lagian Rini harus
mengurus segala sesuatunya tentang kepastian keberangkatannya hari ini ke Siak;
tempat KKNnya dulu.
“Ke Hoya Bakery Kak Ciin. Kita mau ngambil kue dulu.”
“Okeeehhh.”
Asap makin pekat. Pagi ini aku membuktikan bahwa
postingan-postingan di FB itu memang benar adanya; jarak pandang hanya 100
meter. Lupa bawa masker pula nih!
“Dek, emangnya nggak mahal beli kue ginian di Hoya?”
“Rp 800 Kak Cin per kuenya.”
“Masak iyaaa?”
“Iyaaa. Itulah makanya, nggak mahal dan enak. Termasuk murah
kan untuk harga roti yang seribuan gini biasanya di warung-warung.”
“Murah binggo Dek.”
Ada teman-teman I-YES lainnya juga yang udah nunggu di Hoya.
Setelah 70 roti dan beberapa box susu dibeli, kami langsung melaju ke harapan
raya.
“Dek, ini udah agenda I-YES Mengajar yang keberap kalinya?”
“Emmmm…. 4 kali Kak dengan yang sekarang kalau NIla nggak
salah yaa.”
Wahhh… 4. Berarti aku udah 3 kali nggak pernah ikut serta.
Ya Allah, maaf. Di dekat Alpha hotel, ada beberapa lagi teman I-YES yang sudah
berkumpul. Kami langsung bergerak ke TKP; Panti Asuhan Istiklal.
“Ini udah dekat banget ya Dek ke Alam Mayang?”
“Iya ya Kak,” jawab dek Erna. Kami udah bertukar pasangan,
pemirsaaa; Nila dengan yang lainnya.
“Adek masih sering ke EZ?”
“Masih Kak. Adek kan jurusan Bahasa Inggris Kak, kalau
seminggu aja lidah ni nggak dipakai untuk speaking, beuh!”
“Udah kaku ya pasti rasanyaa?”
“Itulah Kak. Makanya Ena paksain untuk terus datang ke sana.
Kalau di I-YES ini, Ena pengen menyalurkan ilmu keguruan pula Kak karena
basicnya kan pendidikan. Jadi, 2 2nya ilmu Ena tu bisa terpakai sejak sekarang
Kak. Suntuk kali rasanya kalau nggak ada kegiatan Kak, rugi banget kalau cuma
kuliah aja.”
“Bener banget tuh Dek!”
“Kakak udah wisuda?”
“Hikssss.. belum bisa Oktober ini Dek.”
“Ah, nggak apa-apa. Kakak enak, walaupun agak terlambat
wisudanya tapi pengalaman Kakak udah banyak. Nggak rugi lah Kak.”
1 hal yang aku suka dari Ena; Dia positif banget orangnya.
Sekalipun dia udah lebih senior di EZ, sejak awal aku kenal dia, dia selalu
ramah kepadaku. Kadang, justru aku yang minder sama keaktifannya. Tapi, bisa-bisanya
dia memuji seperti barusan. Aku menyimpulkan bahwa orang yang bisa
me-LUARBIASA-kan orang lain hanyalah orang yang juga LUARBIASA. Seorang pendengki,
mana mungkin mau memuji orang lain karena dirinya sendiri adalah pencela. Benar
kan? Begitulah kira-kira perumpamaannya.
“Aamiin Dek. Makasih ya Dek. Adek harus bisa lebih aktif
lagi yaa.”
“Iyaa Kak. Ena berusaha. Eh, Kakak ikut komunitas apa aja
sih Kak?”
“Lebih banyak ke yang kepenulisan sih Dek, selebihnya
komunitas pendidikan atau lingkungan, kayak I-YES gini.”
“Ena nggak tahu loh sebelumnya kalau Kakak I-YES jugaa.”
“Hehheee. Iyaa, Kakaknya jarang datang sih kalau rapat Dek.
Pas ada agenda aja Kakak baru nongol. Hihii.”
***
Kami sudah tiba di Panti Asuhan Istiklal. Aku diminta Nila
untuk menjadi MC. Siapa takut? Hehe. Sebenarnya, aku kurang ngerti dengan
teknis pelaksanaan agenda hari ini, tapi karena Nila adalah projek leadernya
maka setelah pembukaan, ku persilahkan Nila untuk menjelaskannya.
“…nah, jadi kita punya 3 kelas ya Adik-adik; yang pertama adalah
English class, motivation class dan dream
class. Setelah ini Adik-adik akan dibagi kelompoknya dan akan diajar orang
Kakak-kakak dan Abang-abang yang cantik dan ganteng di sini,” jelas Nila dengan
ceria maksimal.
Ada 3 kelompok yang dibentuk; kelompok SD, SMP dan SMA. Aku
dan beberapa orang lagi menjadi assistant kelas bahasa inggris untuk SMP yang
dipandu oleh Nila. Kami memilih mushola sebagai tempat belajar kami.
“Okeh deh Dek,” ku serahkan kamera merahku ke tangannya. Aku
bisa jadi lebih fokus menyimak Nila untuk memandu mereka mengerjakan soal.
NIla mengajari 17 Adik-adik ini bernyanyi My sisters, My brothers sambil mengisi
titik-titik yang kosong di antara lagunya. Suasana kelas yang awalnya kaku
akhirnya mencair. Mereka terlihat masih cukup asing dengan bahasa inggris dan
masih malu-malu untuk tampil. Tapi, berkat trik jitu dari Nila, mereka jadi
lebih aktif dan mulai berani unjuk gigi.
Setelah 40 menit berlalu…
“Kak, yang ngajar untuk motivation classnya kan cuma sedikit
yang datang Kak. Setelah ini Aldi minta tolong Kakak ya yang lanjut ngajar.”
“Ini maksudnya Kakak pindah ke kelas lain atau tetap di sini
Dek?”
“Di sini juga Kak. Tempatnya tetap di sini. Langsung aja
berpindah ke motivation class Kak
setelah Nila selesai.”
“Oh… okeeehh.”
Aku mengajarkan mereka tentang pentingnya memiliki
CITA-CITA. Mereka ku tugasi untuk menuliskan 3 cita-cita mereka dan
mengedarkannya kepada teman di sebelah kanannya untuk memberikan sarang atas 3
cita-citanya tersebut. Waaahhh… mereka semangat banget ternyata pemirsaaa.
sedikit ribut memang, tapi masih bisa ku kendalikan kok! Kalau ngajar ya memang
begini resikonya. Harus latihan vokal nih nampaknya, plus olah suara perut,
hoaaammmm.
“…Baiklah Adik-adik, kelas kita sudah berakhir hari ini.
tugasnya jangan lupa dikerjakan yaa, 2 minggu lagi sewaktu Kakak kembali ke
sini harus sudah selesai ya. Kakak dan Abang mohon maaf kalau ada kesalahan,
tetap semangat, tetap rajin beribadah dan bangun paginya yaaa. Assalamualaikum
wr wb..” tutupku.
“Waalaikumsalam.. wr wb,” jawab mereka serentak, kompak.
“Yeee…tepuk tangan donk untuk kita semuaaaa,” pintaku. Well,
aku memang sudah berubah jadi kekanakan hari ini pemirsaaaahh. “Yukkk, kita
tutup kelas ini dengan berfoto bersamaa. Sini, sinii merapaattt!” ajakku kepada
murid kelas ini dan para pengajar.
Dari mushola, beralih ke lapangan. Ada Joshua yang sedang
mengadakan games. Seluruh kami diminta membuat satu lingkaran besar dan Joshua
mendongeng tentang berbagai kisah klasik untuk masa depan *loh? Hehehe. Setelah
Joshua mendongeng, anak-anak tadi ditantang untuk menjawab pertanyaannya dan
atau melengkapi cerita tadi. Alhamdulillah, salah satu dari murid kelasku ada
yang berani maju meskipun jawabannya salah.
Pukul 11.30wib. Setelah ber-games ria, kami berfoto bersama
di dalaman panti dan dilanjutkan dengan pembagian roti dan susu sebelum
penutupan.
“….terimakasih untuk Adek-adek yang sudah meluangkan waktu
dan ilmunya untuk kami di sini. Jujur, Panti ini sudah berdiri sejak tahun 2008
dan jujur kami sangat minim donator. Kami juga butuh seorang ustad karena
seperti yang bisa Adek-adek lihat, anak-anak ini memang belum baik akhlaknya,
untuk itulah Bapak berharap kalau ada teman Adek-adek yang bersedia mengabdi di
sini, Bapak sangat berterimakasih. Insya Allah tempat tinggalnya kami sediakan,
lumayan kan daripada bayar kosan…”
Acara tutup dengan lafaz hamdalah dan diakhiri dengan
bersalam-salaman, ku iringi dengan alunan sholawat dengan menggunakan toa.
“Kak Elisss, tolonglah naik motornya pelan-pelan ajaa,”
pinta Joshua.
“Loh, memangnya Kakak ngebut ya?”
“Kakak kan yang tadi hampir ketabrak mobil? Aku sama Derki
menggeletek loh pas noleh ke belakang. Memang ngeri Kak Elysa niii.”
“Masih jauh pun tadi dari mobilnya Dek. Mobilnya aja yang
lebay nglaksoon panjang banget gitu, ya udahlah Kakak balas juga nglakson
lama-lama. Hehee.”
“Pasti nanti masuk ke blog!” kata Mila.
“Heh, awas ya nanti Kakak jelek-jelekin Adek di blog!”
ancamku kepada Joshua.
“Tuh kaaann... Matilah akuuuuu,” kata Joshua. “Yang
bagus-bagusnya ajalah Kak diceritaiin.”
Aku terkekeh melihat tingkah Joshua.
***
“Nongkrong di mana nih kita Dek?”
“Terus aja dulu Kak Ciin, Nila sambil lihat-lihat nih!”
Aku dan Nila melaju paling dulu untuk menemukan tempat untuk
breafing yang asyik. Sementara teman-teman yang lain mengikuti kami dari
belakang.
“Di mana sih Nilaaa?” tanya Joshua ketika aku menghentikan
motor karena kebingungan.
“Nggak tahu nih, bingung. Di Warung Bude itu gimana?” tanya
Nila sambil menunjuk ke kantin di sebelah kiri kami.
“Ikuti aku ajalah. Ke Taman Sari kitaa.”
“Okeeehh, maaf ya teman-teman,” sesalnya, karena tadi Nila
yang menyanggupi mencari tempat.
Aroma Café. Sebuah kafe dengan desain kekinian banget dan
tempatnya luas sehingga kami bisa menentukan di mana kami akan duduk
beramai-ramai. Breafing dibuka oleh Aldi, evaluasi bersama dan dilanjutkan oleh
penjelasan dari Nila untuk pertemuan 2 minggu mendatang.
El, di mana? Orang
ni dah mau jemput. Aku udah di rumah Mumut.
Membaca BBM dari Rini membuatku galau dan bengong sejenak.
Ku lemparkan pandangan ke luar dari jendela kaca di belakangku.
Menimbang-nimbang keputusan yang harus segera ku ambil.
Rin, gimana yaaa… aku masih breafing pula nih. Nggak kelamaan
ntar nungguin aku?
Cepetan aja El.
Orang tu masih di jalan juga.
Sebenarnya masih bimbang, tapi kapan lagi aku bisa ke Istana
Siak? Bersama Rini pula. Akhirnya, ku putuskan untuk mohon izin dengan Harry
dan teman-teman yang lainnya. Demi mengejar waktu.
“Loh, Kakak kok ngeluarin uang?” tanya Mila yang duduk di
sebelahku.
“Ya, buat ntar bayar Deek.”
“Kan masih belum mau pulang kita Kak.”
Aku jadi ragu lagi.
Ku cek kembali BBM, semoga mendapatkan petunjuk dari sana.
El, orang ini nggak mau ke Istana Siak pula. Yang parahaan. Lain
kali ajalah ya kita mainnya sama orang Okta. Aku ingat kok jalannya. Daripada
El nanti nyesal jalan sama kami.
Sebenarnya, nggak cuma Istana siak sih tujuanku. Desa KKNnya
Rini pun ingin ku lihat dan berharap menemukan inspirasi dari sana. Tapi, aku
berfikir dalam keadaan kabut asap seperti ini pun berfoto di tempat sebagus apa
pun pasti nggak ada maksimal. Ya udah deh, aku nggak jadi pergi bareng Rini
kali ini. lagian, kalau teringat dengan janji nanti sore, aku merasa sangat
nggak enak kalau ngak datang. Karena, akulah yang mengusulkan hari ini dan udah
teman-teman udah menyetujui sejak seminggu yang lalu.
“Kak, gimana sih caranya supaya rajin nulis?” tanya Mila.
“Emmmm… gimana yaaa?”
“Kasih Mila nasehat Kak. Mila punya blog waktu kelas 1 SMA,
tapi sekarang udah nggak pernah dibuka lagi. Keinginan itu selalu ada, tapi
bertindak itu kok berat banget rasanya. Dulu, Mila semangat nulis karena ada
teman yang juga hobi nulis, tapi sekarang dia ngilang ntah ke mana dan Mila pun
ikut-ikutan pasif jadinya.”
“Emmm..gituuu. Kan sekarang Mila kenal sama Kakak walaupun
teman Mila yang dulu udah ngilang. Gini Dek, ada 1 nasehat yang ampuh banget
buat Adek; Menulislah dengan ikhlas, seolah-olah kita nggak butuh apapun. Nggak
butuh terkenal, nggak butuh dibaca orang, nggak butuh dibayar. Dan, nggak perlu
menunggu untuk menulis dengan jenis tertentu. Mulai saja dari dirimu. Kalaupun
kisah kita nggak menjadi apa-apa, setidaknya itu sudah menjadi tulisan.”
“Ihhhhh… keren kaliii Kakkkk. Eh, Kakak bikin buku deh! Udah
cocok banget loh Kak.”
“Makasih Adeeeekkk. Doain yak. Sebenarnya udah ada sih Dek.”
“Ih, seriusan Kak? Buku apa?”
“Antologi puisi Dek. Tapi udah nggak RO lagi sekarang,
setelah yang 100 cetakan kemarin habis.”
“Yaaahhhh.. Mila boleh minta soft filenya nggak Kak?”
Waduh! Kalau aku lebih mentingin materi, pasti aku akan langsung
nolak permintaan Mila nih!
“Yeyeyee…Sekarang Kakak bawa?”
“Nggak Dek. Kan Kakak nggak bawa laptop sekarang. Kirim ke
email Mila aja gimana?”
Aku menyodorkan HPku dan Mila menuliskan alamat emailnya di
sana.
“Wooooyyy! Kalian ngomongin apa sih? Jangan ada forum di
dalam forum laah!” tegur Joshuaaa.
Aku dan Mila berpandang-pandangan, tersenyum. Karena
kepergok oleh Joshua, padahal dia duduknya berseberahan dan jauh dari kami yang
di sudut ini duduknya, ehe.
“…Kalian mau buat rencana Kelas Kebersihan boleh-boleh aja.
Tapi, kalian ada ngelihat nggak gimana toilet di sana tadi? Jorok loh. Ember
nggak ada. Airnya kotor. Baju berserak di mana-manaa, aku ngamatin semua
soalnya. Logika sederhananya ginilah, untuk apa kita ngajarkan cara sikat gigi
yang baik kalau air yang ada di sana aja kotor? Jorok! Sama doank kan?
Pertanyaannya, kalian siap nggak mengadakan air bersih dan segala pendukungnya.
Ngundang anak kedokteran itu bukan sekedar untuk jelasin gimana sikat gigi yang
baik aja. Itu sih saran aku,” jelas Joshua.
“Emang ngeri Joshua ini yaa,” bisikku kepada Mila.
“Joshua memang gitu Kak. Dia kalau udah nyambung dengan yang
dia sukai, ya gitu jadinya, idenya sreeeeeeeett banyak banget. Tapi, kalau dia
nggak suka, sebagus apapun yang dibicarakan orang, dia nggak akan merespon.”
“Ooooo..gituuuu.”
“Kak, udah ngangsur untuk nulis belum?”
“Nulis apa Dek Harii?”
“Nulis untuk postingan tulisan hari ini.”
“Ohooo..belumlah. Ntar malam langsung sekaligus aja. Lagian
Kakak nggak bawa laptop hari ini.”
Bukan hanya teliti dalam menganalisa, Joshua juga kaya
dengan ilmu mengajar. Bahkan, dia punya RPP versi luar negeri yang kece badai.
Mendengarnya menjelaskan, membuatku seolah sedang kembali ke dalam kelas
mendengarkan dosen menjelaskan. Hihiiihi..
“…Ngajar itu nggak sekedar ngajar ya teman-teman. Kalau
nggak ada persiapan dan nggak punya leason
plan, mending nggak usah ngajar aja. nanti aku kirimkan ke email
teman-teman dan hari kamis besok, aku mau teman-teman udah pada punya leason plan masing-masing ya! Contohnya
tadi ya aku nggak suka waktu pergantian dari English class ke motivation
class, bener-bener nggak rapi dan anak-anak itu jadi ribut. Masa sih
volunteer I-YES kayak gini kinerjanya? Jadi Volunteer itu nggak asal jadi
volunteer aja, kita harus totalitas dan tetap professional. Kalian belum lihat
sih di komunitas lain yang volunteernya itu keren banget dan sangat
professional.”
Nggak enaknya breafing sambil makan itu ya gini; tiap
sebentar, pasti ada waitress yang datang dengan makanan yang baru selesai
dihidangkan. Kalau udah gini, momen serius dan fokus pasti tersita beberapa
detik. Setelah breafing selesai, diputuskanlah bahwa agenda selanjutnya adalah
hari kamis siang di Gaboh Burger untuk membahas AD ART menuju legalitas I-YES.
Bismillah.
“Kak Eliss, ditunggu yaa!” kata Harry sebelum aku beranjak
duluan.
“Apanyaa Dek?” aku berfikir sejenak. “Ohhh…okeh.”
“Pastinya tuh, ya kan Kak Eliss. Tolong jangan jelekin aku
lagi Kak, tolong!” kata Joshua. “Pokoknya nanti aku mau lihat postingan Kakak
yang ada gambar itunyaa,” tunjuknya ke wallpaper Aroma Café ini.
“Amaan tuhh!”
Puncak tulisanku ini adalah ketika orang lain merasa sangat bahagia menjadi bagian dari hari-hariku karena tentang mereka pasti akan ku abadikan di dalam tulisan. Aku teringat kembali kalimat klasik itu.
Nila nebeng dengan yang lainnya karena setelah ini aku mau
ke asramanya Lia sebelum ketemu teman-teman BAT ntar sore. Kami berpisah arah.
Sekarang, aku jadi was-was hati sendiri, khawatir kalau bensinku nggak cukup
dan akhirnya mogok di atas fly over ini gimana coba?
Ya Allah, izinkan
hamba melewati fly over ini dan ketemu tukang jual minya di pinggir jalan
sebelum bensinnya benar-benar habiss. Hamba mohon ya Allah…. Pintaku dalam
hati saat berada tepat di lengkungan puncak fly over.
***
Sebelum ke asrama MAN 2 Model, aku mampir di jelan Seberut,
ke masjid Al-Falah Darul Hikmah. Suasana sepi dan hening untuk ukuran masjid
sebesar ini. Ada mobil terparkir di halaman masjid, mungkin ada jamaah lain
yang sedang sholat juga di dalam.
Tiba-tiba…. “Mbak!”
Aku menoleh ke belakang. Ternyata ada seorang cowok berwajah
teduh di belakangku.
“Iya?”
“Masuk k edalam masjidnya lewat mana ya?”
“Lewat sini nggak Bang?” kataku sambil mendorong pintu
masjid.
“Nggak bisa Mbak. Dikunci. Oohh! Atau naik ke atas dulu
yaa?”
“Haaa.. mungkinlah!”
Ternyata benar. Yang dibuka adalah ruangan di lantai 2.
Mungkin di lantai bawah itu adalah aula untuk pertemuan atau seminar. Mesjid
ini sungguh indah, antik dan luas. Tentu saja, aku nggak mau melewatkan moment
ini begitu saja. Agak kerepotan sih punya 2 kamera gini, setelah menjepret
dengan android, dilanjutkan dengan kamera pocket. Yahhhh, benilah resikonya kalau
punya 2 kamera yang kece badai ini pemirsaaaa. Hehehe.
“Mu dari mana Cin? Kok lamaa amat datangnya?” tanya Lia
ketika aku baru sampai di asramanya.
“Breafing dulu tadi soalnya setelah acara Cin,” jawabku
sambil mengunyah kue tart Lia. Mungkin kue ini adalah hadiah dari anak-anak
asramanya. “Ciiinnn…laperrr,” keluhku. Merasa belum sah kalau belum makan nasi.
“Yuk, yuk kita makan dulu. Aku fikri mu udah makan tadi,
makanya nggak ku ajak-ajak. Ehhehe.”
“Beyuuummmm.”
Setelah sholat ashar di masjid MAN 2, aku buru-buru meminjam
laptop Lia. Teringat bahwa hari ini aku harus menyelesaikan editan untuk
novelnya bang Putra.
“Cin, Adingga adalah nama yang bagus nggak menurutmu?”
tanyaku kepada Lia.
“”Bagus.”
“Tapi, kalau dia dipanggil Ading? Aneh nggak kedengarannya?”
“Aneh banget.”
“Aku pun merasa gitu.”
Kembali ku koreksi setiap kata yang tuliskan bang Put di
sini. Ada beberapa kalimat yang rancu menurutku dan ku perbaiki supaya lebih
menarik dan padat.
“Lah, ini apa maksudnya ya? Bang Put ini pakai sudut pandang
orang pertama atau ke-tiga sih? Kalau orang ketiga, nggak boleh ada ‘kami’ di
sana. Subjey ‘saya’ nggak boleh masuk, karena kami itu kan menunjukkan bahwa
ada’saya’ di sana.”
“Tanya aja Ciiin. Tapi, Abang itu ngajar sih biasanya full
day.”
“Ngajar di mana Cin?”
“Di Santa Maria, Darma Yudhaa.. emm…. Di mana lagi yaa.”
“Masa iya Cin? Keren kali Abang ituu. Ngajar Bahasa
Inggris?”
“Nggak. Komputer.
Hahhaa.. ntah ke mana-mana kan larinya.”
“Waaaahhh. Keren juga tuh. Ehmmm.. enaknya Bang Put itu ada
di sampingku, biar gampang kalau tulisannya mau ku pertanyakan atau mau ku
luruskan. Hemmm…tapi, aku kagum banget loh dengan penulis cowok yang tulisannya
itu romantis. Coba bayangkan, seberapa pekanya lah hatinya itu sehingga dia
bisa menghasilkan tulisan yang sedemikian menyentuh, Cin?”
“Ciyeee..bentar lagi muncul deh tulisan tentang cowok
berhati lembuuttt.”
“Hahaaa… tunggu aja deh!”
Adek-adek… kalau
udah mau berangkat, kasih tahu Mbak Wien ya. Ditunggu di Mie Ayam Pak De.
Hati-hati di jalan…
SMS dari bang Wira itu mengingatkanku bahwa aku harus segera
otw ke TKP. Aku segera menyusul Lia ke lantai 2 untuk berpamitan dengannya.
Hari ini dia nggak bisa ikut karena anak-anak asramanya harus dipantau gotong
royongnya.
“Besok kalau jadi fasilitator BAT 9, mu bisa Cin?”
“Emmmm…gimana ya? Aku takut nggak bisa menepati janji lagi
nanti Cin. Gini ajalah, kalau aku memang bisa ikut, aku akan langsung
bantu-bantu aja dihari H. Bantu apapun yang bisa dibantu.”
“Oke dehhh.” Aku menyalaminya sebelum memunggunginya.
Wajahnya selalu bersinar seperti biasanya, tapi bening matanya lebih dari
biasanya. Sayangnya, hari ini ia tak turut bersama.
***
Ketika memasuki jalan Sumatera… aku kembali tersadar bahwa
bensinku udah sekarat. Celingak-celinguk ke sana ke mari untuk nyari penjual
bensin, tapi nggak ketemu juga. Terpaksa, aku kembali ke jalan Diponegoro dari
pintasan jalan Seberut, berharap ada yang jual bensin di sekitar hotel Arya
Duta. Tapi, aku kurang beruntung kali ini, yang jual makanan sih banyak tapi
yang jual bensin nggak ada.
Di pertigaan lampu merah jalan Diponegoro menuju bundaran
Zapin, fikiranku mulai kacau.
24
23
22
21
Hitungan lampu merah itu terasa sangat lamban pergulirannya.
Hatiku semakin tak menentu. Nggak sanggup membayangkanapa jadinya kalau motor ini
mogok. Di hiruk pikuk pertigaan pula.
“Ya Allah, mohon izinkan hamba menemukan penjual bensin dulu
yaa. Kayaknya di dekat masjid Agung An-Nur itu ada ya Allah. Toloooonngggg.”
Dan, setelah kalimat terakhirku terhenti, motoku benar-benar
mati. tepat pula dengan lampu hijau yang menyala. Aku panik. Segera ku tempikan
motorku di pembelokan di arah kiri. Untung pengendara lainnya tidak menggesaku
dengan klakson-klakson ribut atau bahkan makian. Syukurlah, aku berhasil menepi
tanpa membuat orang lain terhalangi.
“Ciinnnn..tolonglah angkaaatt! Aku butuh pertolongaaann,”
harapku. Sudah berkali-kali Lia ku hubungi, tapi nggak juga diangkat. Aku
teringat bahwa HPnya ada di kamar sebelum aku pergi tadi dan mungkin Lia masih
berada di lantai 2. Hiksss.
“Ya Allah, tolong aku ya sebagaimana dulu aku pernah juga
menolong orang yang kehabisan bensin di tengah jalan…”
Nggak mungkin kan ku minta mbak Win atau bang Wira ke sini?
Kasihan mereka donk. Aku harus bisa menyelesaikan semua ini tanpa merepotkan
orang jauh.
“Bang, Bang, Bang…” aku melambaikan tangan kepada orang yang
berbelok ke sebelah kiri. Kebetulan motor yang satu ini agak lambat lajunya
sehingga aku berhasil menyetopnya. “Bang, saya kehabisan bensin, boleh minta
tolong belikan bensin nggak di sekitar sini? Ini uangnya,” ku sodorkan uang Rp
10.000 kepadanya. “Maaf banget ya Bang, Kak, merepotkaan,” dia bersama pacarnya
sepertinya.
“Okee.. tunggu dulu yaa di sini,” pintanya.
Alhamdulillah. Melegakan sekali pemirsaa. Ku lihat jam di
tangan, sudah pukul 17.00wib.
“Dek, motornya kenapa?” tanya pak Satpam yang menjaga rumah
putih di belakangku.
“Kehabisan bensin Pak.”
“Tepikan lagi motornya ke sini, nanti menghalangi orang
lewat. Bahaya tuu!”
Aku mendorong motorku lebih maju sampai di depan gerbang
rumah putih ini.
“Ini rumah dinas ya Pak?”
“Iya.”
“Rumah dinas siapa ya Pak?”
“Pak Rektor.”
“Rektor mana Pak? UNRI?”
“Iya.”
“Seriuslah Pak.”
“Iyaa.”
“Pak Arash kah?”
“Iyaa.”
Owalahhh… ternyata. Kalau nggak kayak gini, mungkin aku
nggak akan pernah tahu kalau ini adalah rumah dinasnya pak Arash dan ternyata
aku mogok di depan rumahnya. Saat ini, bapak sedang di luar kota rupanya. Pak
satpamnya baik dan ramah pula.
“Mogok atau kehabisan bensin motornya?”
“Kehabisan bensin Pak. Tapi, tadi udah minta tolong teman
kok Pak untuk nyarikan bensin.”
Tak lama, kakak dan abang tadi datang dengan membawa seliter
bensin. Aku segera menuangkannya ke dalam tangki minyakku dan mengucapkan
terimakasih kepada mereka.
“Bang, kalau ada kembaliannya, buat Abang aja ya. Makasih
banyak ya Bang, Kak atas bantuannya. Mari Pakkk.. permisiii… assalamualaikumm.”
Sesampainya di jalan Pepaya, aku bertanya kepada seorang
laki-laki di pinggir jalan tentang alamat Mie Ayam Pak De. Katanya masuk ke
jalan Durian. Tapi, waktu ku telvon bang Wira, katanya nggak sampai masuk ke
jalan Durian. Aku yang udah nyampek jalan Durian pun akhirnya putar arah. Ku
telusuri pelan-pelan jalan Pepaya sampai nyaris mencapai jalan lintas Tuanku
Tambusai pula.
“Kak!” sapa seorang wanita yang menyelisiku dan akhirnya
menghentikan motornya.
“Emmm…Aisyaah ya?”
“Ana loh ini Mbaak. Masa lupa.”
“Oh iyaaaa… maaf-maaf Dek. Lupa.”
Akhirnya aku dan Ana bekerja sama untuk menemukan alamat.
Sempat nyasar ke jalan Mangga juga dan ujung-ujungnya bang Wira nelvon lagi
untuk mengklarifikasi bahwa benar alamatnya di jalan Durian, nggak jauh dari
gangnya. Howalahhhh! Fatal banget ternyata akibatnya.
Aku melihat bang Wira menunggu kami di pinggir jalan untuk
menyambut kami. “Kok bisa salah sih Bang nama jalannya? Tadi kami udah masuk ke
jalan ini, tapi karena Abang bilang nggak sampai masuk ke jalan Durian,
akhirnya kami balik lagi.”
“Iyaaa, Abang yang salah. Karena, dulu tu jalan Durian ini
masih termasuk jalan Pepaya sampai ke simpang itu Liss,” jelas bang Wira.
“Kakak ini udah wisudaa?” tanya Yoga yang baru saja datang
bareng bung Misnan.
Ini adalah pertanyaan kedua, padahal baru beberapa menit
duduk di sini bersama mbak Wien dan bang Wira, Aisyah dan Ana, Yoga dan bung
Misnan.
“Jangan ditanya gitu, Elisnya ntar sediih,” kata mbak Wien,
lembut.
Ia memang selalu lembut. Tadi pun ia begitu lembut ketiba
menyambutku. Ya Allah, jaga kakakku ini.
“Elis nih baru nyadar sekarang bahwa segera tamat itu
penting ternyataa. Hahahah,” ejek bang Wira. “Kemarin masih ngotot, pengen
ngambil semua peluang lah, pengen ini dan itu lah. Ya kan Lis?” ejeknya lagi.
“Nggak kok! Sekarang pun belum nyadar Bang. Hahhaa.”
Kami saling bertukar kabar dan cerita sembari menunggu
pengantin baru yang belum kunjung datang; Adit dan Mona.
“Nanti jangan-jangan mereka nyasar pula kayak kami tadi
Bang?” sindirku ke bang Wira. “Masa jalan Durian dibilang jalan Pepaya. Bingunglah
kami. Padahal tadi udah masuk ke jalan ini, akhirnya lalu-lalang ntah sampai ke
mana-mana. Huhhh!”
“Iya, Abang yang salah. Maunya dikirimin peta aja ya ke
kalian, biar lebih jelas. Soalnya dulu, jalan ini nih masih termasuk jalan
Pepaya Liss.”
“Ohhh begondronggg..”
Berkumpul dengan orang-orang yang baik lagi cerdas itu
memang sangat mencerahkan kita. Dari obrolan tentang training dan trainer,
obrolan kami pun beralih ke MLM.
“Jadi gini, ada 3 sistem bisnis; yang pertama, direct selling atau penjualan secara
konvensional. Kita jual barang dan kita mendapatkan selisih harga sebagai
keuntungan kita. Yang kedua, network
marketing. Misalnya, Abang punya barang, Elis membantu Abang menjualkan
barang dan keuntungan yang Abang dapat akan Abang share ke Elis juga. Dan yang
terakhir adalah MLM. Halal, apabila syarat sah transaksinya terpenuhi; ada
akad, ada barang ada saksi. Sejauh ini, yang benar-benar halal itu sedikti
jumlahnya, contohnya K-LINK, Tiens, CNI karena mereka punya barang dan mereka
mendapatkan share komisi dari barang yang terjual. Makanya kenapa harga
produknya mahal? Karena di dalam produk itu terkandung rantai distribusi dan
rantai komisi. Itu nggak masalah. Dikatakan haram apabila yang diharapkan itu
adalah kalau keuntungan kita bersumber dari perekrutan orang, bukan dari
keuntungan barangnya. Kenapa bisa haram, karena kita sistemnya piramida,
kerjanya hanya merekrut orang lain. Yang di atas akan dapat keuntungan dari
yang di bawah, kita nggak tahu kan keuntungan dari siapa (asalnya) yang kita
dapatkan? Nah, sampai disitu aja ilmu Abang.”
“Ohhh gituuuuuuuuu. Kalau Forex itu gimana Bang?”
“Wah, itu udah jelas-jelas nggak boleh Lis. Karena sejatinya
mata uang itu nggak bisa diperdagangkan dan nggak bisa diperjual belikan. Itu
menganduk unsure spekulatif yang abang sebutkan tadi.”
“Ohhh gituuu.”
“Elis banyak-banyak deh bergaul dengan orang-orang yang udah
kerja. Jangan bergaul dengan mahasiswa aja, karena akan ada gep yang sangat
jauh antara dunia kampus dengan dunia sesungguhnya. Setidaknya, Elis udah
banyak belajar dari mereka sebelum Elis benar-benar terjun ke sana.” Jelas bang
Wira. Aku manggut-manggut.
Mona dan Adit baru saja datang. Kami langsung memulai santap
mie ayam ini. Nikmat banget pemirsaaa…mienya banyak dan rasanya nggak lebay.
Soal harga, aku kurang tahu, soalnya mbak Wien yang nraktir. Hehe. makasih ya
Mbak. Semoga dedek bayinya di perut cepet gede, sehat dan jadi anak yang
berbakti nantinya. Aamiin.
“…gas elpiji yang 3kg itu banyak sebenarnya, tapi ada oknum
yang menimbunnya. Dan, itu nggak boleh. Karena dalam islam, kekayaan itu
didapat dari distribusi, bukan penimbunan seperti itu. Sehingga, kekayaan itu
bisa merata, nggak timpang; menumpuk pada satu golongan saja,” jelas bang WIra.
“Banyak orang yang mengeluh tentang lapangan pekerjaan. Sebenarnya, lapangan
kerja itu banyak, tapi kita yang nggak pandai menyesuaikan diri seperti
permintaan. Tentu aja perusahaan nggak mau rugi membayar orang yang nggak
kompeten di posisi yang mereka butuhkan. Ada 6 hal yang skill secara umum yang
sangat inti kalau kita ingin siap pakai di dunia kerja; 1. Public Speaking, 2.
Sales marketing, 3. Menulis, 4. Slide optimation.”
“2 lagi apa Bang?” tanyaku tak sabar.
“2 lagi adalaahh… ikutilah trainingnya Lisss. Yoga sama
Misnan ini tinggal dalam tahap mentoring berkelanjutan lagi.”
“Besok datang ya Kak waktu kami diwisuda. Kamilah yang akan
jadi trainernya dihari ituuu,” kata Yoga pula.
“Ihhh.. jahat! Kok nggak ngasih tahu Elis sih! Kapan
trainingnya emangnya?” mulutku manyun.
“Dedeeeekkk….. Dedek tu menghilang loooh kemariin,” sahut
mbak Wien, lembut.
“Iyaaaa Kak, Kakak tu bener-bener hilang loh! Aisyah aja
benar-benar nggak tahu gimana kabar Kakak. Tulah kaaannn… kakak sih
menghilang-menghilaaaang,” tambah Aisyah pula. Aku semakin cemberut.
“Nanti deh Lis, setelah angkatan ini ada Abang adakan lagi.”
“Kemarin berapa biayanya, Dek?” bisikku kepada Yoga. Yoga
menyebutkan jumlahnya. Hemmm.. tidak terlalu mahal menurutku.
“Trainingnya 3 hari Kak dan pembinaannya 3 bulan.”
“Wahhhh..bagus tuh, memang yang paling penting itu adalah
pembinaannya,” simpulku antusias.
Kami sudah selesai makan ketika azan maghrib berkumandang.
Masjid Al-Khairat menjadi pilihan kami selanjutnya untuk berkumpul.
Di tempat wudhu wanita…. “Kak, gimana sih cara makai
jilbabnya?” tanya Mona ketika aku memasang jilbab.
“Oh,, ini? Agak aneh gitu ya modelnya Dek?” tanyaku.
“Nggak loh Kak, cantik dan unik. Mona udah pernah nyoba,
tapi kok nggak bisa kayak gini yaa?”
“Ohhh, gampang! Gini caranyaa…” ku jelaskan dengan praktis
dan mudah kepada Mona bagaimana caraku memakainya.
“Ohhhh…gituuu.. bagus yaaa,” kata Mbak Wien pula. “Kalau
Mbak Win biasanya harus lihat youtube dulu baru bisa, Dekkk.”
“Waaahhh, kalau yang kayak Elis ini dijamin nggak ada
diyoutube Mbak, karena ini murni kreasi Elis sendiri. Wahh, maunya Elis upload
yak e youtube. Ngeksis. Hehehe.”
Mona yang ternyata masih memperhatikanku bertanya lagi, “Ini
kok bisa tingkat gini Kak lipatannya?”
“Ohh, ini kan karena tadi lebih panjang yang sebelah kanan
Dek bidangnya, makanya ketika disatuin jadinya menumpuk gini. Cantik ya?”
“Iyaa. Cantik, rapi. Tetap lebar bidangnya. Nanti deh Mona
coba lagi. Kemarin udah pernah sih, tapi nggak bisa Kak ternyata.”
“Kan sekarang udah Kakak tunjukin nih, ntar dicoba lagi ya
di rumah. Pasti bisa.”
Usai sholat maghrib, bang Wira kayaknya udah ngode mbak Wien
untuk pulang, tapi kami tahan mbak Wien bersama kami sampai azan Isya
berkumandang. Habisnya masih kangen sih. Kami berlima ngobrolin tentang
pernikahan, kuliah, bisnis sampai tipe kepribadian.
“Kak Elisss Feeling ya? Sama donk kita Kak. Aisyah mau
nanya, biasanya kalau Kakak ada masalah yang berat banget, bawaannya pengen
tidur nggak sih? Soalnya setahu Aisyah, orang Feeling kayak gitu.”
“Waaahh, iyakah Dek? Bener banget loh. Kakak sering bawa
tidur kalau udah stress banget.”
“Haaa..kan bener.”
“Kalau Mbak lihat ya, tipenya calon suami Elis ini harus
yang lebih dewasa beberapa tahun ya dari Elis, bener Dek?”
“Ih, bener Mbaak.”
“Iya, kalau sama yang seumuran kayaknya nggak bisa. Elis
pengennya diemong (baca: diayomi) ya kan orangnya?”
“Iya Mbak, bener. Soalnya Elis bakal jinak kalau dia lebih
dewasa dan kebapakan. Kalau nggak, takutnya Elis yang bakal mendominasi Mbak,
karena Elis tahu gimana karakter Elis.”
Nggak nyangka sebelumnya, ternyata Aisyah justru udah
ditanyai oleh orang tuanya kapan wisuda dan kapan menikah. Aku malah belum
ditanya sama sekali. Ya, mungkin karena orang tuaku demokratis dan tidak
terlalu memaksakan kehendak mereka kepada anak-anaknya.
“…memang Dek, ada beberapa peluang pekerjaan yang
mengharuskan karyawannya berstatus single. Agak kesulitan deh jadinya untuk
yang udah berkeluarga kan. Tapi Dek, yakinlah Allah akan merawat rezekinya
orang-orang yang sudah menikah. Kalaupun dek Mona nggak kerja, Allah akan
melewatkan rezeki Adek melalui Adit. Sebenarnya sama aja, Adek bekerja atau
tidak, karena rezeki yang Adit dapat pun terkandung rezeki Mona di dalamnya. Yang
penting, rawatlah suami kita, diurus, sayangi dia. Ingat, surganya Adek ada di
kakinya, dia bertanggung jawab atas Adek sampai ke akhirat nanti, makanya kita
harus berbakti kepada suami kita.”
“Semangaaat Monaaa!” kataku, antusias. “Insya Allah,
kesulitas yang tetap berdua dalam kesulitan, akan tetap berdua pula dalam
kebesaran.”
“Wiiwwww.. sejak tadi puitis banget ya kak Eliss niii,”
celetuk Aisyah dan ditimpali dengang yang lainnya.
Ternyata kisah rumah tangganya Mona dan Adit lebih luar
biasa lagi. Ketika Mona menceritakannya kepada kami, ada rasa harus, kagum dan
bangga tentang Mona dan Adit. Kalian luar biasa, semoga Allah menjaga
pernikahan kalian hingga ke syurga.. aamiin.
“Kapaaan ya Mbak kita bisa ngumpul lagi kayak ginii?”
“Iya ya Dekk. Dek Elis mainlah ke galeri Mbak. Insya Allah
dari hari Selasa sampai jumat, Mbak standby terus kok di sanaa.”
“Insya Allah Mbak.”
Setelah sholat Isya, pertemuan hangat ini berakhir. Tertunda
sementara untuk pertemuan berikutnya yang masih ntah kapan. Aku pulang
sendirian karena nggak ada satu pun dari mereka yang juga pulang ke Panam. Tak
masalah bagiku, selagi ada Allah semuanya akan baik-baik saja.
Motorku melaju, melewati keramaian malam di jalan Pepaya,
menebas hiruk-pikuk kendaraan dan melesat di bawah bias cahaya lampu kota. Aku
kembali di sambut dengan kamar kosong yang lengang tanpa orang. Terulang.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar