Jumat, 23 Oktober 2015

Menulislah! Lalu Persilahkan Dunia Membacamu



Aku pernah berkata seperti ini secara langsung dan lewat tulisan; Aku hanya ingin BERKABAR. Kepada mereka yang menantikan kabar atau mencari kabar tentangku. Lewat foto-foto, tulisan, ide-ide dan momen yang ku share setiap harinya. Sekalipun tidak ada yang MEMBACAnya, aku akan terus MENULIS. Ku persilahkan DUNIA MEMBACAKU. Ku izinkan siapapun MENGAMBIL HIKMAH dari setiap sajianku.

Dunia boleh saja berputar, waktu boleh saja berlalu, tapi jangan sampai aku tak menorehkan apapun pada HARI-HARIku yang berlalu. Sebenarnya, terlalu banyak hal yang bisa kita tuliskan setiap harinya, bahkan setiap menitnya. Aku tidak percaya jika ada yang berkata; “Aku tidak ada ide untuk menulis.” Karena sebenarnya ide itu adalah DIRIMU. Kamu tidak pernah menyadari bahwa setiap harimu adalah ide-ide segar yang berkelebatan. Menunggumu MENGIKATNYA dalam KARYA.



***
“Rin, gimana kalau kita ke SKAnya hari ini aja? Soalnya kalau besok pagi, aku jadi pembicara PKTI Rin di HIMA PGPAUD. Dan, siangnya Nilam minta jemput karena dia libur seminggu karena asap ni. Yuk lahh sekarang ajaa?”
“Hemmmm… Nanggung nggak El? Udah jam 10 niii.”
“Nggak apa-apa, yang penting udah ketemu Kak Dila nanti pulang lah kita lagi. Lagian kan aku nggak ngajar les malam ini, jadi bisa pulang agak sorean kita.”
“Ya udah deh, lagian aku belum bisa juga ngurus SK-ku hari ini. Eh, tapi aku mau ngembalikan toga dulu yaa. Antarkan aku ke kos Risky ntar, El nunggu aja di kamarnya sambil ngetik, biar waktu El nggak terbuang-buang. Heheee.”
“Okeee.”
Seperti beberapa hari yang lalu, aku dan Rini menggunakan trik untuk ke luar dari kosan. Aku mengeluarkan motor dan memanaskan mesin terlebih dahulu sementara Rini tetap stay di depan pintu kamar dan ketika ku lihat kondisi aman, ku nyalakan klakson motorku dan Rini akan ke luar dengan cepat, langsung naik ke atas motorku. Baru deh kami melaju. Selamaaat! Yeaaahhhh. Heheeh..
“Aku nebeng di kamarmu ya Kiii.”

“Iya, nggak apa-apa. Tapi sedang mati lampu loh Saaa.. nggak apa-apa?” tanya Risky.
“Ya nggak apa-apalah Kii.”
Ternyata Rini lebih lama dari yang ku duga. Sampai jam 11.20wib, dia belum juga kembali. Aku bahkan udah sempat tertidur di sini. Ku check HPku, ternyata Rini SMS bahwa dia berfoto-foto dulu menggunakan toga dengan teman-teman HI-nya di taman Ekaliptus. Howalaaahh!
Panitia PKTI menelvonku…
“Hallo Kak Elysaa? Boleh tolong kirimkan emailnya Kak? Supaya kami bisa mengirimkan TORnya kepada Kakak.”
“Oke, ntar Kakak SMSkan ya. Kira-kira apa aja yang harus Kakak sampaikan besok Dek?”
“Oh ya, besok Kakak tolong sampaikan aja tentang cara menyusun PROPOSAL ya Kak.”
“PROPOSAL apa Dek?”
“PROPOSAL SKRIPSI Kak.”
“Lah? Katanya kemarin PKTI, kok sekarang jadi PROPOSAL SKRIPSI sih? Itu agak berbeda loh Dek. Emangnya pesertanya bukan MABA ya?”
“Bukan Kak, pesertanya besok angkatan 2013 dan 2014 mayoritasnya Kak. Bisa kan Kak? Pliss Kak.”

“Gini Dek, Kakak agak segan juga soalnya Kakak kan belum wisuda, bahkan belum ujian proposal juga, masa iya Kakak ngasih materi tentang PROPOSAL sih? Emang sih PROPOSAL SKRIPSI Kakak udah selesai, tapi kan belum ujian sampai sekarang Dek karena belum ada jadwal.”
“Ya nggak apa-apa Kak, yang penting kan Kakak udah pernah nyusun PROPOSAL kan? Nggak apa-apa doh Kak, kami percaya sama Kakak. Walaupun mereka udah belajar METOPEL, tapi di PKTI ini kan bisa dijelaskan lagi dengan ringan Kak, karena mungkin mereka masih banyak yang belum faham.”
“Hemmmm.. okelah Dek. Kalau boleh tahu, satu lagi siapa pembicaranya?”
“Bang Teguh Kak.”
“Ohoohoo.. Teguuh. Dia nyampaikan tentang apa besok?”
“Dia lebih ke motivasi dan cara menumbuhkan minat menulis Kak.”
“Ohh gituu.. Okelah Dek.”
Wewww, this is new chalange to me. Wish me luck! They ask me because they believe me. Its doesn’t matter am I perfect or not.

***
Rini datang bersama Riski dan mamanya. Ada Resti juga –teman mereka.
“Ki, aku nggak apa-apa kok ditinggal sendirian di sini, soalnya aku ditemani sama kue-kue ini, hehhee.”
Aku udah nyolongin kue-kuenya Riski sejak tadi.
“Itu kulit apa El?” tanya Rini.
“Kulit pisang.”
“Bah! Dapat pisang darimana pula dia?” tanya Rini.
“Pandailah dia nyarinya Riiin,” kata Riski.
Aku dan Rini sempat sholat Zuhur dulu di sini sebelum berangkat ke SKA. Karena mukenanya hanya 1, maka kami bergantian sholatnya, nggak bisa berjamaah.
“Suka kali Ibuuukk lihat badannya Elysa iniii,” kata mamanya Riski tiba-tiba, sambil memegang lenganku.
Aku melirik ke arah Rini yang sedang sholat membelakangi kami. Kalau Rini sedang nggak sholat, dia pasti langsung mengejekku.

“Ah, masa sih Buk? Saya ini gendut loh Buuukkk.”
“Nggak kok, udah pas ini. Padat badannya, suka Ibu ngelihatnyaaa, berisi.”
“Elysa justru pengen kurus kayak Riski loh Buukk.”
“Mana pulaaa, Riski itu terlalu kuruss malah.”
“Hehhehe.. saya jadi terharu Bu, baru kali ini ada yang memuji badan saya yang gendut ini. hehehe.”
Di perjalanan menuju SKA…
“Rini tadi waktu sholat dengar nggak apa yang dibilang Mamanya Riski tentang aku?”
“Dengar! Salah lihatnya Mama Riski tu Elll!”
“Aku pun berfikir kayak gitu Rin. Alhamdulillah, ternyata ada juga orang yang salah lihat badanku ini Riiiinnn. Saya jadi terharuuu pemirsaaaa.”
“Nyadar diri lah woooyy!” ledek Rini lagi.
Sesampainya di SKA…
“SMSlah Kak Dilaaa cepet!” pinta Rini.
“Aku nggak ada pulsa Rinn.”
“Nah, telvonlah. Tapi, cepet-cepet ya ngomongnya! Jangan lama-lama.”
“Okeee.” Ku raih HP Rini dan kak Dila segera bersuara di sana, “Hallo Kak? Ini El. Di mana sih bazarnya Kak?”

“Howalaaahh Dek, belum mulai loh bazarnya. Hari senin besok aja baru pembukaannya loh. Nanti kalau Kakak udah di Pekanbaru pasti Kakak kabari El. Amannn tuuh! Kakak aja hari Seni baru berangkat Dek ke sanaaa. El udah di SKA yaa?”
Aku menelan ludah dan perlahan melirik ke arah Rini. Wajahnya Rini udah berubah raut.
“Howalaaah El, selalapnya salah fokus gituuu!”
“Hiksss… aku kira udah dimulai loh Rin Exponyaaaa,” elakku sambil menyodorkan kembali HP Rini.
“Kenapa pula nggak El tanya dulu jelas-jelas kemarin?”
“Aku fikir exponya udah mulai Rin soalnya Kak dila kan bilang di FB; Dek, mainlah ke SKA, Kakak ada buka bazaar juga di sana. Ajak Rini juga. Kak Dila nggak menyebutkan NANTI atau BESOK kan di kalimat itu? Artinya apa? Secara logika deh Rin, kita kan langsung berfikir itu sedang berlangsung, saat ini. Iya kan? Yahhh.. ternyata malah acaranya baru dimulai minggu depan. Ehhehe.. maap yaaak!”
“Howalaaa… salah fokuuusss, salah fokussss. Yuklah cari tempat makan, udah lapar kali aku ni haa!”
AW akhirnya jadi pilihan kami untuk lunch kali ini. Setelah dari AW, kami nongkrong di Gramedia. Setelah  dari Gramedia, kami nongkrong di tempat wifi. Untung aja tempat wifian ini dekat dengan mushola dan toilet. Mendadak, perutku mules-mules lagi dan membuatku berbolak-balik ke toilet.

“Masih mules perut El?” tanya Rini.
“Iya nih Rin. Sejak tadi pagi loh.”
“Makan apa ya kita kemarin kok jadi kayak gini?”
“Lah? Emangnya Rini juga iyaa?”
“Iyaa. Tadi pagi itu kan aku bangunnya bukan gara-gara alarm, tapi karena mules.”
“Hemmm… kayaknya gara-gara mangga yang dibawain Mamiku deh Rin. Soalnya itu kan sebenarnya belum terlalu matang, tapi karena udah diperam, makanya matang gitu.”
“Atau gara-gara sambal semalam ya?”
“Ah, mungkin juga tuh. Sampai kram kakiku dibuatnya karena kelamaan jongkok Rin.”
“Pulang aja yuk? Aku pun nggak enak badan rasanya ini. Tenggorokanku agak sakit.”
“Eh, nanti dulu Rin, aku rencananya mau ketemu sama Bang Wawan, yang kuliah di Malaysia itu loh. Karena besok kayaknya dia bakal pulang ke KL deh!”

***
“Dek, di mana? Kata dia, El.”
“Kata siapaa?” tanyaku.
“Kata Bang Wawan loh.”
“Jawablah. Kami di dekat toilet cewek Bang, dekat parkiran motor.”
Beberapa detik ku tunggu, sosok itu tak juga menampakkan diri. Akhirnya ku ajak Rini berputar ke sisi sebalik arah, di tempat parkiran  mobil. Aku berjalan lebih cepat daripada Rini yang roknya sangat sempit itu.
“Rin, di mana ya Abang itu?” tanyaku sambil membalikkan badan ke arah Rini.
Rini menunjuk ke arah depan, ke sebalikku. Aku menoleh. Dan… bang Wawan! Tangaku melambai kepadanya.
“Abaaaanggg… apakabaaarr?” sapaku sambil menangkupkan kedua tangan di depan wajahku.
“Hallo Ibuuk penulisss.. Kabar baiiikkk.. nunggu di mana sih tadi?” tanya laki-laki berkaus merah dan bergaya casual itu.
“Di dekat tempat wudhu cewek Bang. Kirain Abang bakal nongol dari sebelah sana tadii.”
“Udah sholat belum?” tanyanya lembut.
“Udah Bang. Duh, udah S2 tapi masih jadi anak Mamiiii nih!” ledekku. Teringat BBMnya tadi yang memburuku karena mamanya sudah menelvon-nelvon.

“Hheeee..soalnya kan Abang sekaligus jemput Adek  nih dan dia itu belum pulang sejak tadi pagi, makanya dikhawatirin Mama. Dia itu sedang suka-sukanya nge-dance, makanya sibuuukk aja ngelihatin video-video dance tuh di mobil.”
“Ohhooo gituu. Adik Abang cewek atau cowok? SMA?”
“Masih kelas 1 SMP. Cewekkk.”
Tak terlalu lama kami ngobrol, sekitar 10 menit saja. Tapi, Alhamdulillah setidaknya sudah bertemu langsung dan mendengar kabar berita tentang bang Wawan. Tak banyak yang berubah darinya. Masih tetap tinggi (ya eyalahh, masa berubah jadi pendekk? Hihii), masih kuyusss, masih lembut ngomongnya, yahh..pokoknya masih semua-semuanya deh seperti saat pertama kali aku melihatnya di Ed-Link Connect dulu.
“Jadi Abang udah selesai atau belum nih S2nya?”
“Belum lagi, hehe. Kan gini ceritanya, kemarin waktu Abang S1 di Malaysia, sebelum wisuda udah dapat kerja. Jadi sambil kerja, Abang lanjut S2 eh sampai sekarang belum kelar. Makanya nih Papa mintaaa untuk segera selesaiii.. hehe. Elysa ini udah selesai atau belum?”
Aku geleng-geleng kepala.

“Lah? Apa lagi yang ditunggu?” tanyanya lembut.
“Nggak nunggu apa-apa juga sih Bang. Jadwal ujiannya yang belum ada. Semenjak asap ini udah berapa kali libur, terus ketua prodinya juga sering sakit dan beberapa kendala birokrasi juga sih yang agak ribet. Ya udah deh, semoga segera selesai untuk kita semuaa.. aamiin. Abang jurusan apa sih sekarang?”
“Manajemen Teknologi.”
“Weewww… keyeen. Sebelum Abang pulang, kita foto dulu ya Bang! Riiiinnn?” panggilku kepada Rini.
Rini sudah faham apa yang ku maksud. Hehee. Dia memang fotographerku yang paling setia.
“Nah, ini yang namanya Rini Banngg.. yang tadi BBMnya Elysa pinjamm. Hehe.”
“Ohhh..harus di ping dulu ya baru masuk BBM Abang ke Elysa?”
“Emmm….enggg… nggak juga sih Bang, tapi tadi pagi itu kan paketnya habis dan setelah diaktifkan giliran HPnya yang lowbat. Makanya pinjam HPnya Rini. Hati-hati di jalan ya besook Banggg…” sapaku terakhir kali.
“Iyaa.. makasih. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam..”

Aku dan Rini membalikkan badan menuju ke tempat parkir.
“Gimana Rin bang Wawan?”
“Ganteng. Tapi, kelihatan kali anak Maminyaa. Hemmm… susah juga kalau terlalu anak Mami nampaknya.”
“Emmm… iya sih, yang aku lihat juga gitu, kayaknya Abang ituu nurrrutt banget sama Mamanya. Tapi, sisi baiknya kalau cowok dekat dengan keluarga itu insya Allah terjaga Rin dari pergaulan yang nggak bener. Dan, yang udah pasti adalah penyayang.”
“Iyaaa, penyayang itu yang jelas.”
“Hemmmm…seneng banget rasanya bisa kenal dengan orang yang luar biasa dan baik hati Rin.”
“Ho’oh.”
Selanjutnya, kami ke luar dari jalan Ronggowarsito untuk berputar arah menunju jalan Sudirman di pembelokan jalan Diponegoro. Tapi… kakiku kananku! 

“Auuuuwwhhhhh!” pekikku. Kakiku tiba-tiba melemah dan tergesek tepian pembatas jalan. Pedih!
“Hati-hati El. Jangan grogiii.”
“Aku nggak tahu kenapa Rin, tiba-tiba kakiku melemah. Rini tahu kan aku sering kayak gituu?”
“Iyaaa.. aneh kali puun.”
“Ditambah lagi aku ragu tadi Rin, soalnya mobil yang sama-sama mau belok di depan kita tu agak mepet ke motor kita. Ya udah deh! Duh, kita berhenti sebentar yaaa..kayaknya lecet dan memar nih! Sakit banget soalnya.”
Ku turunkan kaus kakiku dan benar saja rupanya, lecet. Tapi, syukurlan kakiku dilindungi kaus kaki ini dan lecetnya hanya sedikit saja. Aku nggak tahu gimana nasib kakiku ini kalau tidak memamkai kaus kaki. Ya Allah, terimakasih atas perintah-Mu yang mulia ini, selalu ada kesyukuran dan hikmah dibalik semua anjuran-Mu. Alhamdulillah.
“Yuk! Jalan lagi kita. Ke mana tadi alamat meet upnya?”
“Jalan Gatot Subroto,” kata Rini.

***
Kami berhenti di depan toko roti sekaligus cafĂ©; BQ –Bread Boutique. Kesan elegan dan mewah langsung terasa dari tampak luar tempat ini. Aku memasuki area parkir dan ternyata bertemu dengan Kuntum, teman Rini sekaligus juara 3 Duta Bahasa kemarin. Aku menyalaminya dan menanyai kabarnya.
“El, aku masuk nggak ya ke dalam?” tanya Rini, ragu. “Andin nggak bisa datang soalnya, aku agak kurang nyambung dengan yang lainnya. Mereka itu orang-orang borjuis El. Pokoknya kurang nyaman lah aku. Gimana nih yaa?”
“Masuk lah Riiinnn.. apalagi yang ditunggu?” ajak Kuntum.
“Iya, iya, duluanlah. Sebentar lagi aku nyusul!”
Rini masih ragu. Bahkan, baru saja dia mengajakku untuk langsung kabur. Tapi, ujung-ujungnya ragu lagi.

“Rin… menurut aku, masuklah dulu. Sekedar menyapa dan menampakkan wajah ke mereka. Nah, nanti alasannya pulang karena udah maghrib, gitu aja. Niatkan untuk memenuhi undangan Riin.”
“Iya lah. Yuk! El ikut juga!”
Sekitar 15 menit saja kami duduk di dalam. Rini pun udah sempat ngorol dengn 4 orang temannya itu. Kebetulan memang sepi banget yang datang.
“Ciyeee…selamat ya yang udah wisudaa,” sapaku kepada Arisky, dia adalah teman SMAku yang juga teman sekelas Rini di HI.
“Makasih ya Lis.”
“Rencananya mau lanjut ke mana lagi Ki?”
“Masih belum tahu Lis. Mungkin S2.”
“Cari beasiswa aja Kii.. LPDP tuh coba, kereeen abis!”
“Ada rencana mau langsung kerja juga sih Lis. S2nya masih ragu.”
“Rin, orang sepintar Arisky aja bisa bingung kayak gitu yaa,” bisikku kepada Rini.
Sesuai rencana, Rini langsung permisi ketika maghrib. Intinya, alasannya adalah ketidaknyamanannya. Aku sih ngikut aja. Lagian semua menu di tempat ini harganya sangat tinggi. Na hadong pitih dah!

***
“Rin, kita sampai Isya aja ya di sini?”
“Yuklah!”
“Sippp.”
Aku ingat mami, kalau di rumah pasti mami-papi pad abaca surat Al-Kahfi setiap hari jumat. Sementara aku baru ingat kalau hari ini aku belum membacanya sama sekali. Ku sempatkan sekarang walaupun hanya 2 lembar karena memang lumayan banyak juga jumlah halamannya. Belum sempat searching secara lugas dan tuntas sih tentang faedah membaca surat ini, tapi yang jelas anjurannya jelas dalam hadist shahih. Insya Allah.
“Rin, apa nama aplikasi di Play Store yang tentang Blood Type itu?”
“Webtoon.”
“Webtoon Line ini ya?” tanyaku sambil menyodorkan HP. Rini mengangguk.
“Line?”
“Iyaaa.. aplikasi Line itu memang keren-keren loh.”

“Berat nggak nih datanya?”
“Lumayan juga. Nanti El suka baca komik pula gara-gara download aplikasi itu.”
“Eh, aku memang suka banget loh baca komik Rin. Komik Doraemon. Hehe.”
“Yaelaahhh.. kalau itu sih semua orang juga suka kelesss. Hoaaaaammmm… El baru jam setengah 7 noh! Masih setengah jam lagi Isya-nya. Aku tidur dulu yaaa. Ngantukk.. hemmm..”
Rini sudah memejamkan mata dengan nyamannya dan aku mulai beraksi; mengeluarkan laptop dari tas dan mulailah jemariku meliuk-liuk di atas keyboard putih ini. Aku selalu menyempatkan diri menangkap moment di berbagai tempat. Tidak hanya menangkap moment lewat jeprat-jepret foto untuk dishare di Instagram aja, aku pun menangkapnya melalui tulisan untuk ku share di Blog Diariku. Bismillah… terima tulisanku ini sebagai kebaikan ya Allah… aamiin.

***
Lampu mushola telah dipadamkan ketika kami mulai bergerak meninggalkan pekarangan.
“Eh, Rin? Apa nama mushola itu? Nggak ku abadikan pula tadi, sekarang malah udah gelap.”
“Emmm… mushola Senapelan.”
“Oh, iyaa, iyaa. Biar ingat nanti waktu ku tulis di diariku. Masa ku tulis mushola lupa nama kan? Haha.”
“Arasssoooh.”
“Rin, Bang Wawan tuh suka melihara bunga loh di dalam rumah. Aku pernah lihat di FBnya, dia baru beli bunga gitu kayak bunga kaktus.”
“Ya Allah… dia kok kayak perempuan gitu sih? Aku besok kalau punya anak laki-laki nggak maulah terlalu ku manjain.”
“Loh Rin? Melihara bunga kan bagus dan nggak harus cewek aja yang melihara bunga. Justru itu menunjukkan kalau Bang Wawan tu penyayang sama tumbuhan. Dan, kayaknya dia hepi kok dengan hobinya itu. Nggak ada paksaan dari emaknya. Hihii.”
“Iya juga siihhh.. Tapi yang tadi El bilang dia ada difoto pas lagi disuapin sama Mamanya itu kok lucu kali sih. Dia udah besaaar loh.”

“Di captionnya tu ditulisnya gini; Udah lama nggak ketemu sama Mama soalnya. Yaa.. mungkin dia sedang ingin bermanja Rin. Emang lucu sih kesannya karena jarang kan anak cowok yang segitunya. Heheh. Yaa.. semoga aja Abang tu selalu berada di jalan yang benar.”
“Aaamiin..”
Kami sudah melewati jalan Riau dan mulai memasuki jalan Soekarno Hatta. Kendaraan berlalu lalang dengan kecepatan tinggi. Semuanya seolah terburu-buru dan mengejar waktu. Suara bising klakson kendaraan terkadang mengagetkanku. Hemmmm… pantas saja kemacetan lalu lintas mempengaruhi kondisi emosial para pengguna jalan, ya karena seperti ini keadaannya!
“Rini lagi ngapain?” *pertanyaan anehku kambuh lagi.
“Lagi nonton TV. El lagi ngapain?”
“Aku lagi eemmmm… bobok nih. Rini sedang nonton film apppahhh?”
“Nih sedang nonton film Korea.”
“Oooohh..”
Obrolan macam apa itu? Sudah jelas kami sedang berada di atas motor yang melaju di bawah  temaran lampu kota. Hihiii.

***
Rini sudah tidur, tak lama setelah kami sampai di kosan. Rencananya, aku mau langsung beristirahat dengan caraku (baca: menulis), tapi tanganku sedang ingin diistirahatkan ternyata. Ku putar lagi film ATM Error 2 dari laptopnya Rini sambil memijat pelan-pelan memarnya kakiku karena benturan tadi.
Lia menelvon…
“Halloo?”
“Lagi ngapain Cin? Ini ada Jenesys loh, fully funded, KEMENPORA yang mengadakan. Coba daftar yuukk?”
“Emmmm…? Enggg… kapan deadlinenya?”
“Malam ini. Jam 23.59wib. Sekarang jam 10.20wib, masih ada waktu sejam lagi.”
“APAAA? Banyak nggak yang diisi? Rempong nggak? Berapa banyak essaynya?” *kok pesimis gini ya pertanyaanku?
“Nggak terlalu repot kok, cuma 1 halaman aja. Ada 3 essay yang harus diisi, kenapa kamu tertarik ikut program ini, apa hubungannya dengan latar belakangmu, apa yang akan kamu lakukan terhadap komunitasmu, dah itu aja kok! Maksimal 300 kata. Yuk lah! Bismillah..”
“Iya deh, ntar aku daftar juga. Hoammm…” sahutku dengan malas.
“Cin, semangat! Siapa tahu yang nggak kita seriusi dan dipenghujung deadline ini justru rezeki kita,” bujuk Lia.

Iya juga yaaa, jangan sampai kamu nyesal El kalau ternyata nanti Lia lolos sementara kamu nggak. Pasti kamu akan menyesal; Coba aja kalau malam itu aku mau sedikit berjuang! Pasti akan bla bla blaaa…
Dalam obrolan selanjutnya… “Cin, aku mendadak punya kesimpulan terhadap sesuatu nih. Menurutku, penting banget loh kita ini rajin update di medsos yang kita punya. Pembicaraan ini terlepas ya dari kita sedang diam-diam mengagumi seseorang atau ada seseorang yang diam-diam mengagumi kita atau hanya sekedar ingin mencari tahu kabarnya saja. Misalnya nih, aku sedang rindu dengan seseorang, tapi aku nggak mau dia tahu kalau aku sedang rindu padanya. Jadi, lewat apdetan-apdetannya itu kan setidaknya aku udah tahu gimana kabarnya, apa kesibukannya sekarang atau apa yang sedang dirasakannya. Istimewanya adalah, dia nggak perlu tahu kalau kita sedang mencari tahu tentangnya. Bukankah ini adalah cara yang aman Cin? Kita pun nggak mengotori hatinya karena dia nggak tahu bahwa kita mencari tahu. Iyaa nggak sih?”

“Bener banget Cin! Seperti yang pernah mu tulis sebelumnya; AKU HANYA INGIN BERKABAR. Itu ngena banget loh Cin. Ya, berkabarlah lewat sosmed yang kita punya tentang hal-hal baik atau ide-ide kita setiap harinya, karena secara nggak langsung sebenarnya kita sedang berkabar kepada dunia tentang diri kita, kan?”
“Yup! Sepakat.”
“Eh, aku jadi pengen bikin quotes nih! Tapi mu jangan nulis yang sama ya, ntar ketahuan deh inspirasinya dari siapa.. hehehe.”
“Ohhh, monggo Cin. Gini kalimatnya; Cukup aku dan Allah yang Maha Tahu saja yang tahu bahwa aku sedang mencari tahu. Dia tidak perlu tahu. Gimana?”
“Keyeennnn Cin. Bentar ku ketik dulu yaa!” Lia hening sejenak. “Oke, dah siap. Nanti tinggal ku jabarkan pakai kalimatku sendiri, biar agak rame. Hehe.”
“Aku sangat menyayangkan banget Cin medsos yang nggak diupdate oleh pemiliknya. Kadang aku juga kecewa ketika ingin tahu kabar seseorang, tapi dia tu nggak pernah nulis status atau ngeshare info apapun di wallnya beminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan padahal aku lihat dia sering OL. Huahhhh.”
“Bener banget Cin. Kita jadi mikir kan; ‘Nih orang sebenarnya ke mana sih? Kok nggak sempat update sekalipun!’ gitu kan jadinya? Hahaaa. Bener banget Cin. Luar biasa obrolan kita malam ini! Dah, yuk, kita daftar JENESYS sekarang. Daaaa… assalamulaikum.”
“Waalaikumsalam. Lup yuuhhh!”
“Lup Yuhhh tuuuu."

Tidak ada komentar: