Selasa, 24 November 2015

"Karena kamu sudah menjemputnya, Dek!"



Heemmm.. ternyata begini caranya. Kalau mau fokus ngetik, aku harus mencabut modem dari laptop. Karena, kalau nggak kayak gini, aku pasti akan sering banget ngelihat berbagai notif atau ngedit-ngedit blog lagi. Hhehee. Ternyata begini ya rasanya bahagia ketika berhasil membaca diri sendiri.
“Ya Allah, tanganku kok gemetaran ginii?”
Kayaknya aku sedang kelaparan parah deh! Owalah, udah jam 2 ya ternyata pemirsa? Huahhh, pantesan. Tapi kemarin siang kok nggak terasa kayak gini ya? Duuuhhh,, nulis pun jadi agak susah nih! Karena gemetaran banget dan salah-salah neka
n tuts keyboard. Hiksss.
Kak, pesan nasi bungkus 1. Lauknya telur dadar ya kak. Di pondokan Chichi, kamar nomor 2. Makasih kak.
Untung aja ada si kakak pengantar lauk yang selalu siap antar setiap saat. Bahkan, walaupun aku nggak punya pulsa, SMSku selalu dibiayainya. Jadi nggak perlu khawatir deh! Alhamdulillah...

Okta menelvon…
“Cek, siap-siap cepat ya! Okta nggak jadi ke pelatihan website tu. Kita langsung ke BLH aja!”
“Eh, tapi…”
“Dah! Assalamualaikum!”
Waalaikumsalam. Yah, udah dimatikan pula. Gimana nih nasib nasi bungkusku? Nggak mungkin kan dibatalin karena pasti udah dimasak.
Aku berfkir keras, mau ku kemanakan nasi bungkus ini. Kalau ku biarkan sampai malam pasti bakal basi. Atau  sebaiknya ku kasihin ke adik kos aja.
“Cekkk! Bububuyuuuu!!!” teriak Okta dari teras.
Wah, udah sampai pula dia.
“Pesanaan!”
Wah, kakak pengantar nasi udah sampai juga. Aku tambah bingung. Atau aku makan sendirian aja ya di kamar? Heheee, biarin aja Okta nungguin.
“Cekkk, Okta belum makaaan. Lapeeeer,” adu Okta dari dekat tangga ke lantai 2. Suaranya sampai terdengar jelas dari kamarku.
Hemmm… pucuk dicinta ulam pun tiba. Aku nggak perlu bingung mau ku apakan nasi ini.
“Yuk kita makan! Kakak baru aja beli nasi bungkus nih!” aku ke luar dengan sebungkus kerupuk, sebungkus nasi dan 2 sendok makan.
“Eh,,, ndak cukup nanti! Biar Okta beli satu lagi ya nasi bungkusnyaa.”
“Nggak usah! Ini aja bagi 2. Biar kita cepat selesainya. Nanti kalau beli satu lagi, pasti makannya jadi tambah enak Cekkk.”

***
Aku, Okta dan Cirip masuk berbarengan ke dalam aula BLH. Ada seorang laki-laki berkoko dan berpeci putih yang duduk tepat di lengkungan tengah U dan seorang mbak duduk di ujung U sisi kiri.
“Ini rombongan terakhir ya?” kata abang itu ketika kami baru duduk.
“Iya Bang,” kata yang lainnya.
“Oke, jadi begini, kami tadi sedang membahas tentang cara berdiri dan cara berjalan di catwalk. Tapi, sebelumnya saya ingin tahu kesibukan kalian bertiga, karena teman-teman yang lainnya tadi udah semua. Elysa Rizka Armala… yang mana orangnya?”
Aku mengangkat tangan.
“Di sini tertulis… MC pada Earth Day di Pustaka Soeman HS. Emmm…. Earth Day ini apa? Yap, saya tahu maksudnya hari bumi. Tapi, acara apa yang diadakan di sana?”
“Seminar Bang. Kemarin kita ada ngundang pembicara juga dari Amerika (tapi nggak jadi). Dan beberapa pembicara dari Jawa. Pada sesi siangnya kita workshop gimana caranya mengkampanyekan penyelematan lingkungan ala anak muda. Mereka dibagi menjadi kelompok-kelompok dan diskusi tentang kampanye lingkungan, gitulah Bang kira-kira.”
“Okeee.. tapi kamu MCnya ya di sanaa.”
“Iya Bang.”

“Pernah punya pengalaman catwalk.”
“Pernah sih waktu Duta Bahasa kemarin Bang. Okta juga nih ikut. Kebetulan kami berpasangan kemarin. Ya, sejauh ini hanya itu pengalaman catwalk saya.”
“Ohh.. yang jelas udah pernah lah ya. Dan, kalau udah terbiasa ngeMC biasanya kata-katanya udah bagus dan bicaranya udah mantap ya.”
“Aamin. Insya Allah.”
Giliran Cirip yang ditanya dan terakhir adalah Okta. Lalu, kami diberi pengarahan tentang cara berdiri yang bagus dan cara menjawab yang pas.
“…Inilah yang sering keliru dalam berbagai pemilihan model atau fashion show. Ada yang protes biasanya; ‘Loh, aku kan keren, kok aku nggak terpilih sih?’ itu kan menurutmu. Lah menurut gua, beneran lu kagak enah dilihaaat. Gua kagak bohooong.”
Kami tertawa terbahak-bahak melihat cara mbak Dinda menjelaskan.
“Dan yang banyak disalah artikan oleh para MC non formal dan juga pelawak-pelawak sekarang itu adalah ketika penonton ketawa, itu bukan karena kalian yang ketawa duluan. Tapi karena omongan kalian yang lucu. Ingat itu yaa! Justru kalau kaliannya yang ketawa terbahak-bahak supaya penonton pun ikut tertawa, itu malah garing banget. Serius!”

“Gimana caranya supaya kita nggak grogi di atas panggung Mbak?” tanya salah seorang finalis.
“Sebenarnya, semua orang pasti akan grogi di atas panggung. Tapi, ada banyak cara yang bisa dilakukan supaya grogi tadi menurun. Intinya, usahakan tetap tersenyum, tarik nafas dalam-dalam, buang perlahan. Nah, kalau hati kita udah tenang, fikiran udah nyaman, jawaban pun akan datang! Tapi, kalau kalian grogi, jawaban yang tadinya ada di kepala pun bisa hilang.”
“Itu penyakit Okta kali tuuu!” celetuk Okta.
“Intinya, ilmu itu nggak bisa dipelajari, tapi bisa dilatih. Banyak kok referensinya di google, coba deh cari dan baca ntar. Ingat, cara berdiri juga mempengaruhi. Kalau cara berdirinya udah terasa nyaman, pasti lebih gampang untuk mengatur nafas supaya nggak grogi. Coba latihan berbicara itu dengan jeda, jangan terlalu cepat dan jangan terlalu pelan. Usahakan selalu ada jeda dan mainkan intonasinya.”
Kami memperhatikan dengan seksama ketika mbak Dinda dan bang Angga memperagakan cara berdiri yang benar dan enak dilihat.
“Okey, sekarang kita coba ya, satu per satu tampil ke depan. Kami ingin melihat gimana cara kalian berdiri dan gimana cara menjawabnya. Pertanyaannya; ‘Apa motivasimu untuk menjadi Duta Lingkungan Hidup kota Pekanbaru?’ silahkan! Siapa mau jadi yang pertama?”
Tak ada respon dari kami. Akhirnya bang Angga mengundi kami. 

“Jufriadi. Silahkan!”
Penampilan Jufri dikomentari tentang cara menjawabnya yang kurang luwes padahal boleh menggerakkan tangan sebagai penegasan dan juga cara berdirinya yang masih belum rilex.
“Ingat yaaa… ketika kalian di atas panggung, gerakan badan sekecil apapun terlihat sangat mencolok di mata penonton.”
“Oh ya, ada satu tips nih supaya kita nggak ragu sewaktu menjawab. Anggap aja semua penonton itu GOBLOK. Dengan begitu, kalian nggak perlu khawatir kalau jawaban kalian itu salah. Toh mereka pun belum tentu ngerti tentang lingkungan. Iya kan?” kata bang Angga.
“Bukan benar atau salahnya jawaban kalian yang akan diperhatikan penonton, tapi bagaimana cara kalian menjawabnya. Penonton itu tahunya cuma bersorak, kalau menurut mereka cara kalian menjawab udah pede dan mantep, pasti mereka akan langsung; ‘Huaaahhhhh… yeeeeee!’ gitu.”
Lagi-lagi kami tertawa karena eskpresi mbak Dinda yang lucu banget ketika menjelaskan.

“Besok kita ontime ya jam 3 dan usahakan tidak ada yang terlambat lagi supaya kita punya banyak waktu untuk latihan,” kata bang Angga.
“Berapa lama pastinya kita dikasih waktu di atas panggung untuk menjawab pertanyaan Mbak?”
“Nah itu yang belum pasti oleh BLHnya. Belum pasti juga pertanyaannya udah disediakan atau cuma pilih nama jurinya aja dan jurinya yang langsung nanya. Yang jelas, besok itu ada 4 juri dan pak walikota juga yang ngasih pertanyaan.”
Kami saling berpandangan. Tak menyangka akan ada pak wali juga.
“Yang jelas, kita nggak mau molor ya. Kita nggak pengen kayak pemilihan Bujang Dara yang sampai jam 12 belum selesai-selesai juga. Karena, Pak Walikota juga nggak bisa berlama-lama juga,” jelas mbak Dinda.
“Iya yaaa.. kita kan beda,” bisikku pada dek Cirip. “Dek, pake high heel itu sebenarnya sakit nggak sih bagi Adek?”
“Sakitlah Kak. Pasti sakit. Adek dulu pertama kali belajar pakai Heels, seminggu kaki ini mati rasa.”
“Ya ampuuuunnnnn.”
“Emang harus dibiasakan Kak. Sekarang udah terbiasa, jadi nggak terlalu kaget kayak waktu pertama kali dulu.”

“Ingat ya, yang dipilih itu yang terutama adalah isi kepala kamu, bukan lemah gemulainya kamu atau cantik dan gantengnya kamu. Yaaa,  itu penunjang saja. Jadi tolong, kalau diberikan waktu 1 menit, manfaatkanlah waktu 1 menit itu untuk menjawab, jangan terlalu cepat dan singkat yaa,” jelas mbak Dinda lagi.
“Masalahnya, jawaban itu ntah masih ada ntah nggak di kepala ini kalau udah di atas panggung tuuu,” kata dek Cirip kepadaku.
“Itu emang problem semua orang Dek..hahaa.”
“Kabar baiknya buat kalian…” mbak Dinda tersenyum dulu. “Kalian akan mendapatkan hadiah semua. Jumlahnya sama besar, tingal atributnya saja yang membedakan. Nanti ke-10 besar ini akan menjadi Duta semua. Ada Duta Air, Duta Hutan, Duta Bank Sampah dan ada beberapa lagi tapi saya lupa. Gelar itu untuk yang selain juara 1, 2, 3 dan favorit yaa.”
Mataku berbinar seketika. Yang ku fikirkan bukan tentang bahagiaku, tapi bahagianya Okta.
“Mbak, nanti kita itu waktu nampil di depan udah langsung pakai selempang finalis atau nggak?” tanya dek Cirip.

“Nggak pakai. Kan kalian nanti akan dipakaikan semua sesuai gelar masing-masing. Ya hanya itu selempangnya.”
“Dinilainya darimana tuh Mbak?” tanya yang lainnya.
“Kemarin kalian kan ada pembekalan dan kunjungan, nah itu kan tetap dinilai oleh panitia. Ya dari sanalah pertimbangannya,” jelas mbak Dinda.
Mataku semakin berkaca-kaca. Okta melihat ke arahku dan ternyata dia pun sama.
“Kak, padahal Okta banyak kali tahu tentang ilmu per-duta-an loh, tapi kenapa ya nggak ada satu pun selempang yang mampir di bahu Okta?”
“Karena kamu nggak menjemputnya Dek.”
Teringat lagi olehku obrolan pada penghujung April lalu. Sekarang kamu sudah menjemputnya Dek! Kamu akan memakai selempang sebentar lagi. Selamat yaa Dekkk. Aku malah menyelamati Okta terlebih dahulu daripada menyelamatiku. Ini akan jadi yang pertama dan semoga ‘mengubahnya’.

***
Meskipun gerimis masih merintik, kami tetap nekat menerobos jalanan. Sebelum maghrib, harus sudah sampai di ZOYA supaya bisa leluasa fiting baju dan pulangnya nggak kemalaman.
“Cek, kita nggak punya uang lagi loh untuk bayar parkiraaan,” keluh Okta sewaktu ia menekan tombol tiket di pintu masuk Sudirman Square.
“Iya nih! Kita ngutang dulu sama yang lain aja ntar. Hiksss.”
Awalnya kami mengira kami akan diarahkan untuk memilih baju atau sudah ada baju bertema tertentu yang akan kami pakai. Ternyata tidak. Kami dibebaskan untuk memilih sendiri. Mulailah tangan-tangan haus mode ini berkeliaran ke segala penjuru.
“Kami nggak tahu tentang itu Mas. Yang jelas, kami dikabari bahwa kalian akan ke sini untuk fiting baju,” jelas salah satu SPB.
“Ada apa Dek?” tanyaku pada Osbron.
“ZOYA kan semuanya baju-baju cewek Kak. Kami gimana nih?”
“Oh iyaa yaaa. Kok nggak ada yang nyadar ya kita tadi sebelum ke sini?”
“Ini udah dihubungi kok kak orang BLHnya tapi belum ada kabar.”
Aku kembali melihat-lihat berbagai model baju yang ada di sini.
“Dek? Bagus nggak?” tanyaku pada Okta sambil menunjukkan long Cardi berwarna pink berbahan sifon.

“Nggak cocok Cek. Cek kan pakai rok. Itu bagusnya pakai celanaaa.”
“Cocok-cocok aja kok! Kakak sering lihat orang pakai ini dan bisa pakai rok jugaa.”
“Nggak cocok Cekkk.. Ini udah ngembang soalnyaa.”
Iya juga sih. Akhirnya aku mencari-cari lagi. Dan… finally, nemu deh long cardi juga tapi ini warnanya hitam dan modelnya kancing di bagian dadanya seperti jas dan bawahnya nggak ngembang.
“Mbak, ini kalau dipasangin sama terusan bagus nggak? Atau harus pakai celana?”
“Bagus juga kok kalau dipasangin sama terusan di dalamnya,” kata si mbak.
“Bagusnya dalamnya warna merah atau pink ya Mbak?”
“2 2nya ada warnanya di atas, nanti saya ambilkan. Tapi, kayaknya lebih coock pink fanta deh, supaya warnanya hidup dan cerah,” sarannya.
“Oke deh Mbak!”
Seketika, aku pun udah nemuin jilbabnya. Alhamdulillah mbak tadi pun ngarahin aku supaya pakai jilbab yang bidangnya lebar supaya bisa menjulur lebar. Makasih ya Allah… aku udah dapat baju yang akuuu bangetsss!

“Kak Elis udah?” tanya dek Putri.
“Udah. Tuh bajunya Dek!”
“Cepeeet kaliiii. Put masih bingung ni haaa. Bantuin donk Kak! Hemmm… baju itu memang Kak Eliss banget deh!” kata Putri, mengomentari bajuku.
“Alhamdulillah Dek. Akhirnya.”
Ini adalah rekor. Hanya butuh 10 menit saja untuk menemukan baju tadi. Padahal, biasanya aku nggak pernah sebentar kalau yang namanya milih-memilih. Hahaa.

***
“Cekkk…lapeeerrr! Tapi nggak ada duiiittt,” keluh Okta di atas motor yang melaju di sebelahku.
Dari Arifin Ahmad, baru saja berpindah ke Arengka 1.
“Iya nih Cekkk. Kakak juga nggak ada duiiitt.”
“Di rekening Kakak masih ada uangnya?” tanya Okta antusias.
“Oh iyaaa.. masih, masihh!”
Kami langsung mampir ke Indomart. Syukurlah kartu ATMku terbawa.
“Itu uang Cek dari kemarin waktu narik sama Okta tu belum berkurang jugaaa?” tanyanya, histeris.
“Belum.”
“Ya ampuuuuun. Hematttnyaaaa.”
“Nah, makanya nanti kalau cari istri yang hemat kayak Kakak!” kataku sambil mendahuluinya ke luar dari Indomart.
Aku melihat Okta berjalan di belakangku tapi tak bersuara. Firasatku jadi nggak enak.
“Tapi bukan Kakak orangnyaaa!” lanjutku lagi.
“Hhahaaaa,” dia malah terbahak-bahak.

Alhamdulillah kami bisa menikmati makan malam di Sambal Lesung, Manyar Sakti. Niatnya mau ngajak Yana juga apalagi ini dekat banget dengan kosannya. Tapi, dihubungi malah nomornya sibuk terus. Ya udah dehhh! Malam ini aku putuskan untuk nggak ngajar les karena badanku udah capek banget sebenarnya dan kebetulan grimis pun belum juga reda.
“Cek, tadi di jalan Kakak berdoa gini; Ya Allah, aku yakin saat ini Engkau sedang mengadakan penilaian terhadap kami bersepuluh ini. Mana yang akan Engkau pilih sebagai pemenangnya nanti. Dan, aku yakin pada-Mu, yang Engkau pilih nanti bukan hanya tentang kecerdasan atau kecantikannya saja, tapi juga kepantasannya menjadi contoh. Maka, bantulah aku ya Allah untuk menjadi sepantas yang Engkau harapkan itu’.
“Iya Cek, semoga yang terpilih nanti adalah ia yang memang pantas. Aamiinn. Okta jadi juara 2 pun tak apalaah Cek. Karena cuma juara 1 dan 2 kan yang diberangkatkan ke Surabaya kata Mbak Dinda tadii?”
“Iya Cek. Nanggung kan? Kenapa yang juara 3 juga nggak dipilih?”
“Maunya kesepuluh ini diberangkatkan semua lah Cek.”

“Heh! Eluuu pikir ini nggak pakai danaa Cuyyy? Apa-apaan luh. Banyak amat rombongannya.”
“Hheee…Okta mau juga Cekkkk. Okta janji akan mempelajari ilmu ini Cek. Kalau nanti misalnya Okta terpilih jadi Duta Air, haaa semua tentang air itu pengen Okta pelajari Cekk.”
“Aamiin. Eh, tiba-tiba Kakka teringat sama Teguh. Rugi kali kan dia nggak jadi ikut kemarin. Padahal peluangnay besar banget. Kemarin tu udah sering Kakak tanya ke dia; Nggak pengen diajarin sama Mak nih bikin KTInya?  Eh dia malah bilang; Mak sibuk. Kakak bilanglah; Nggak kok! Mak nggak sibuk, malah sering ketemu Okta nih di kantin. Soalnya Cek, kalau dia nggak ada menampakkan diri, Kakak kan nggak mungkin selalu ingat untuk ngajarin dia. Dia pun nggak terlalu antusias nemuin Kakak. Eh, ada sih waktu itu. sekali. Tapi, pas hari H, ternyata dia pasrah mundur. Ya udah.”

“Itu juga yang Okta fikirkan tadi Cek. Hahaah, rugi banget Teguh tu. Haha. Cek, Okta harus berterimakasih sama Romi Cek. Dia yang udah membuat Okta sampai ke titik iniii. Tapi, nanti aja deh. Biar surprise waktu Okta makai selempang. Ya Allahh…. Bahagianyaa akuuuuuu.”
“Iya Cek. Jangan lupakan orang-orang yang saat ini bersamamu dan membuatmu jadi seperti saat ini ya Cek.”
“Bububuyuu yaaa.”
"Eh iya, Kakak masih penasaran loh dengan Mbak Dinda tu. Dia bilang sekarang dia jadi penulis majalah SKA kan? Kakak penasaran banget gimana  caranya Kakak bisa ke sana. Karena, Kakak fikir Kakak ini cocoknya di penulisan kreatif gitu. Jadi penasaran baca majalah SKA Cek, kan tadi Mbak Dinda bilang; 'Sekarang saya nulis. Untuk majalah SKA. Itu semua tulisan sayaaa.' Ya Allah, pengen kerja sebagai creative script gituuu."
“Bububuyuu yaaa.” 

Tidak ada komentar: