
Loh? Mereka siapa? Pasukannya dek Bangun kah?, tanyaku dalam hati,
melihat 2 orang laki-laki sedang sibuk mempersiapkan name tag.
Aku melangkah masuk ke dalam aula
rektorat ini dan mendekat ke arah mereka.
“Emmm… ini teman-temannya Dek
Bangun Suryadi ya?” tanyaku kemudian.
“Iya Kak.”
“Dek Bangunnya mana?”
“Menuju ke sini katanya Kak.”
Ini sudah pukul 08.10wib. Tadi,
aku sampai tunggang-langgang memacu motor menuju ke mari. Tapi nyatanya, bahkan
dek Yoga yang kemarin bersepakat datang pukul 07.00wib pun belum tiba. Ku
lemparkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan. Kursi-kursi merah yang sudah
ditata rapi itu ku majukan ke depan lagi sehingga jarak dari sini ke panggung,
ideal.
Memanggil Yoga…
Ini adalah panggilanku yang
ketiga padanya.
Yoga
udah masuk UNRI ni kak.
Syukurlah kalau Yoga sudah dekat.
Dek Bangun baru saja tiba. Dia sedang berkoordinasi dengan teman-temannya yang
tadi. Aku mendekat ke jendela dan melihat halaman rektorat dan vew Ekaliptus
terbentang di depan mata. Di halaman rektorat, sedang berlangsung upacara
tanggal 17 seperti setiap bulannya. Aku jadi teringat dengan hari
penganugerahan MAWAPRES tahun 2014 dan tahun 2015 yang digelar pada tanggal 2
Mei dan selalu didahului oleh upacara HARDIKNAS. 1 jepretan untuk 1 momen
pengingat masa lalu.
“Kak Eliss…” sapa Yoga padaku.
“Maap lama Kak.”
Aku tersenyum padanya dan
langsung memintanya untuk segera memasang back
drop panggung. Setelah itu aku duduk di sampingnya, di sofa hitam di sisi
kanan panggung untuk membahas konsep per-MC-an kami. Selalu seperti ini sebelum
kami mulai berduet nantinya.
“Eh, Kak, Bang Wira nanya nih,
gimana caranya dia parkir sedangkan akses ke parkiran ditutup karena upacara?”
tanya Yoga.
“Iya yaaa. Kasihan bang Wira.
Bisa kok Dek parkir di dekat mushola Rektorat aja! Atau di perpus UR.”
10 menit kemudian, bang Wira
tiba. Tentu saja bersama istri setia-nya di sampingnya.
“Mbakk Wiiinnnn?” pelukku kepada
mbak Win yang nafasnya masih tersengal-sengal. “Capek ya Mbak?”
“Iyaa Dek. Ya ampuuunn… tinggi
banget ya naik tanggannya. Mbak Win nggak kuaaat Dek…hahaa.”
“Emang iya Mbak. Elis yang
sendirian gini aja ngos-ngosan banget, apalagi Mbak Win yang punya dedek di
dalam perut, hehe. Loh, nggak digendong sama Bang Wira memangnya Mbak?”
“Diseret kali Dek! Haha.”
“Ini baru pertama kalinya ya Mbak
ke sini?”
“Iya Dek. Pertama banget. Tapi,
oke juga ya ruangannya Dek.”
“Lucu ya UNRI nii!” sahut bang
Wira.
“Apanya yang lucu Bang?”
“Pakai upacara segala.”
“Iya Bang. Setiap tanggal 17,
setiap bulannya emang selalu upacara.”
Sebenarnya, kami sudah ready
sejak pukul 09.00wib, tinggal menunggu juru kunci ruangan sound system yang sepertinya masih upacara. Ini yang membuatku
gelisah dan berulang kali mendesak dek Bangun untuk menghubungi juru kunci
tersebut berkali-kali. Belum lagi setelah mendengar kabar dari dek Yoga bahwa
juniornya banyak yang mendadak UTS sehingga batal mengikuti acara BAT Goes to
Campus ini. Hiksss.
El…
aku nggak jadi ikut acara BAT. Nggak bisa, karena hari ini aku harus bimbingan
sama dosenku, biasanya bapak ini susah kali ditemui. Makanya, mumpung hari ini
bisa, aku mau bimbingan. Maaf ya.
Aku tersenyum membaca SMS dari
Yudi barusan. Ternyata, dia sudah lama ingin mengikuti BAT, tapi temasuk hari
ini pun nyatanya dia belum juga bisa. Ah, lagipula skripsinya memang jauh lebih
berhak untuk diutamakan. Mungkin nanti di BAT 10 dia berkesempatan
mengikutinya. Aamiin.
Aku dan mbak Win membunuh waktu
dengan ngobrolin banyak hal sedangkan Yoga dan Bangun membantu bang Wira
mempersiapkan infocus. Barulah sekita pukul 09.50wib, pintu ruangan sound
system dibukakan. Kami segera check mic dan sinkronisasi lagu pengiring.
“Wah, parah kali nih, telatnya
sampai 1 jam acaranya,” kata dek Yoga.
“Kalau telat kayak gini, ngurangin konsentrasi Elis nggak?”
tanya mbak Win, lembut.
“Konsentrasi ngomong waktu nge-MC
nanti maksudnya, Mbak?” tanyaku, memperjelas.
“Iyaaa.”
“Nggak Mbak. Elis akan tetap
tenang dan pede walau apapun yang terjadi. Cuma, yang Elis fikirin, pesertanya
pada ngedumel nggak ya di hati karena
telat kayak gini?”
“Lis! Standby ya,” kata bang
Wira.
Pintu ruangan dibuka dan peserta
dipersilahkan masuk. Aku dan Yoga sudah standby dengan mic untuk menyambut
mereka yang memberikan beberapa informasi untuk mengisi interval. Ada sekitar
25 orang yang sudah mengisi bangku-bangku kosong ini. Sedikit, menurutku. Tapi,
mungkin akan ada yang menyusul nanti ketika acara berlangsung.
Bang Wira mengode kami bahwa
acara siap dimulai. Aku dan
Yoga mulai membuka bicara…
***
“Mbak… sholatnya di sini aja yuk?
Kalau ke bawah, ntar Mbak kecapean pas naik lagi.”
“Iya Dek, di sini aja lebih baik.”
Aku dan mbak Win beriringan
menuju toilet untuk berwudhu.
“Mbak, sebelum Mbak nikah
kemarin, ada nggak sih rasa khawatir di hati. Contohnya; ‘Ya Ampun, sebentar
lagi aku akan jadi istri ya? berarti aku nggak bisa sebebas waktu masih sendiri
donk. Ke mana-mana harus izin dulu, harus nurut sama suami, harus mikirin
kebutuhannya dia. Yang biasanya aku bisa makan di mana pun sesukaku, nantinya
nggak bisa lagi suka-suka hati kayak gitu’, ada nggak Mbak?”
Mbak Win tersenyum. Lalu,
menjawab… “Ada Dek. Bang Wira itu kan cari istri yang bisa ikut ke mana pun dia
pergi, di ajak ke mana aja bisa. Pokoknya istri yang nggak sibuk, yang di ajak
ke sini bisa, ke sana bisa. Ya, makanya cocok karena Mbak Win kan kesibukannya
cuma di Sakinah aja. Itu pun bisa ditinggalin karena udah ada yang standby
jagain gallery.”
“Ooohh.. gitu ya Mbak. Mbak masih
ada teori di kampus?”
“Masih, tapi cuma 1 mata kuliah aja.”
Ketika ku cek sajadah yang
biasanya tergulung di sudut ruangan, eh malah nggak ada. Ruangan depan pun
terkunci. Bang Wira sampai nyaranin pakai kertas HVS aja dan disusun-susun. Hehe.
Untung aja Yoga nemuin spanduk yang bisa kami pakai sebagai sajadah. Aku dan
Mbak Win akhirnya sholat di balik layar proyektor. Mbak Win jadi imamnya.
“Gantiaann..gantiaann,” kata bang
Wira, usai kami berdoa.
“Yuhuuuuu Bang,” jawabku sambil
memakai sepatu.
“Eh, Lis, ntar bikini treasure lagi ya kayak kemarin!” pinta
bang Wira.
“Sipooo Bang!”
Aku dan mbak Win memulai makan
siang lebih dulu sementara bang Wira, Yoga dan Bangun masih sholat Zuhur. Berada
di samping mbak Win membuatku merasa seolah memiliki kakak sungguhan. Mulutku nggak
pernah berhenti ngoceh dan ide-ide cerita selalu bertumbuhan di kepala. 5 menit
kemudian, barulah bang Wira, Yoga dan Bangun bergabung bersama kami. Aku nggak
sadar, ntah sejak kapan nasi bungkus ini udah standby di sini. Kayaknya pasukannya
dek Bangun deh yang nyiapin semuanya.
“Bung Misnan kok nggak jadi
gabung sama kita sih hari ini?” aku melempar pertanyaan.
Yoga menangkapnya, “Ada kuliah
katanya Kak. Semalam katanya bisa ya Bang?” tanya Yoga kepada bang Wira.
“Belum ada ngasih kabar sih. Soalnya
semalam juga Abang hubungi dia nggak bisa.”
“Mending hari ini kita bertiga,
kemarin kita di BAT 9 cuma berdua ya kan Dek?” kataku kepada Yoga.
“Iya Kak. Tapi kan yang penting
acaranya sukses Kak.”
Pandanganku beralih pada tumpukan
sayur daun ubinya mbak Win.
“Loh, Mbak nggak suka sama daun
ubi?” tanyaku dengan tujuan tersirat.
“Dek Elis mau? Ambil aja Dek.”
YESSS!, kataku dalam hati, ehehe.
“Mbak Win suka, tapi rasanya udah
cukup yang tadi.”
“Owalah Mbak, bisa ya terukur
kayak gitu. kalau Elis, cuma 1 ukurannya; Kalau masih ada di depan mata, ya
berarti masih terus Elis makan. Gitu aja. hehee.”
“Oh iyaa ya Dek? Hahaa.”
Pukul 13.45wib, acara dimulai
kembali. Aku dan Yoga membuka dengan salam dan sedikit arahan tentang Pidato Kematian yang harus ditulis
oleh seluruh peserta. Barulah kesempatan
sepenuhnya kami serahkan kepada bang Wira.
“…andaikan saat ini jenazah anda
sudah terbujur kaku, namun Allah memberikan keajaiban kepada anda untuk menyampaikan
kalimat-kalimat terakhir anda, apakah anda akan membacakan pidato yang jelek?”
tanya bang Wira dengan nada meninggi. “Tentunya tidak! Anda pasti akan
membacakan pidato terbaik anda sebagai persembahan terakhir sebelum anda pergi.
Silahkan tulis pidato kematian anda untuk mereka yang anda cintai.”
Bang Wira memberi waktu kira-kira
10 menit untuk memperbaiki lagi teks yang sudah mereka tuliskan saat istirahat
tadi dan kemudian mempersilahkan 3 orang untuk membacakannya. Peserta pertama
tampil seperti sedang membacakan prosa nan indah. Sedangkan peserta kedua
berhasil membuat beberapa peserta menitikkan air mata karena
melihatnya terisak
di depan. Sebuah air mata yang jujur manakala ia mengutarakan permintaan maaf
kepada kedua orangtuanya yang belum mampu dibahagiakannya. Hati ku pun ikut
teraduk-aduk, tertunduk di tempat duduk.
“Terharuuu…” kodeku dengan ucapan
tanpa suara kepada Yoga di sebelah kananku.
“Iya Kak,” balasnya.
Dan… peserta ketiga tampil dengan
nada bicara yang sangat mirip seperti pidato sungguhan. Sehingga, unsur
kesedihannya tidak terlalu muncul.
“Terimakasih untuk ketiga orang
yang telah membacakan Pidato Kematiannya, luar biasa sekali!”
Ruangan kembali bergemuruh dengan
tepuk tangan peserta.
“Pidato tadi sebenarnya
mengarahkan kita menuju VISI hidup kita. Tentunya kita ingin dikenal sebagai
seseorang yang banyak manfaatnya bagi orang-orang di sekitar kita. Pidato tadi
juga mengajarkan kita untuk percaya diri supaya orang tahu SIAPA kita dan orang
tahu kita BISA apa,” jelas bang Wira.
Ini adalah sesi ke dua;
Sistematis. Selama bang Wira menjelaskan tentang bagaimana caranya berbicara
yang sistematis, mataku semakin berat rasanya. Ku coba mengalihkan perhatian ke
HP, tapi justru kantukku semakin menjadi-jadi. Ku lihat wajah Yoga yang sedang
fokus kepada penjelasan bang Wira dan ketika dia melihat ke arahku, ku katakan
padanya…
“Ngantuk kaliiii.”
Yoga hanya tertawa. Aku bahkan
nyaris nekat untuk rebahan di kursi kosong di belakang atau ke ruang sound
system, demi menuruti kantuk ini sejenak supaya ia segera pergi. Tapi, tidak
mungkin hal seaneh itu. Akhirnya, ku lipat kedua tanganku di atas sandaran
kursi kosong di depanku dan aku pun tertidur dengan kepala tertunduk. Aku baru
tersadar ketika peserta tepuk tangan. Untung saja aku sudah standby lagi,
karena bang Wira langsung menyebut namaku untuk mengawasi kelompok. Bang Wira
meminta mereka untuk mencari 30 kata yang berhubungan dengan tema sebagai
brainstorming.
“Dari 30 kata-kata tersebut,
pilihlah 3 saja dan sisakan 1. Silahkan diskusikan dengan kelompoknya!” pinta
bang Wira.
Ini yang disebut oleh bang Wira
sebagai Experimental Training. Materi-praktek, materi-praktek. Bang Wira
menjelaskan 3 metode bercerita yang bisa digunakan untuk menyusun materi
presentasi; PNH, PREP, dan KOTAK MOVE ON. Setelah beberapa peserta diminta
untuk membawakan materinya per metode tersebut, bang Wira meminta mereka
memilih 1 metode yang akan digunakan dalam Show Time setelah sholat Ashar.
***
“Siapa itu Dek?” bisikku pada
Yoga sambil melihat bang Wira ngobrol dengan seseorang.
“Kak Rahma itu, Kak. Loh? Kakak
nggak kenal ya?”
“Nggak,” jawabku polos.
“Masa iya Kak? Kak Rahma itu BAT
6 kalau nggak salah. Kakak waktu BAT 6 ikut jadi fasilitator juga kan?”
“Nggak Dek. Kakak kan cuma 2 kali
jadi fasil, BAT 5 dan BAT 9 kemarin. Iya yaa.. kenapa Kakak nggak ikut di BAT
6,7 dan 8? Kakak ke mana memangnya waktu itu?” aku malah balik bertanya.
“Oh iyaaa.. Kakak kan menghilang
kemarin 3 dekade. Ahhaa.”
“OOOOHHH iyaa! Yang waktu HP
Kakak non aktif kemarin itu kan?”
“Iya. Kan kami kehilangan Kakak
berbulan-bulan kemarin. Kakak benar-benar ngilang nggak ada kabar.”
“Hhahaa… ya ampuuuun Dek, Kakak
baru ingat loh! Tulah, memang susah kali ya Dek informasi ni ngalir ke kita
kalau HP kita nggak bisa sosmed-an. Memang sepele kayaknya, tapi inilah
buktinya; Kakak kehilangan informasi karena HP nggak aktif. Untung sekarang
udah ganti HP Dek. Hehe. VIVO ini awet baterainya, jauh dibanding ASUS kemarin,
Dek.”
“Iya Kak, Yoga pun pakai ASUS. Nih
udah lowbat dari tadi.”
Bang Wira berjalan mendekat ke
arah kami.
“Elis kenal sama Kak Rahma kan?”
tanya bang Wira.
“Kenal, Bang. Baru aja
diceritakan sama Yoga.”
“Kak Rahma ini keren banget Lis! Dia
udah keliling dunia.”
“Emang dia bisnis apa Bang?”
tanyaku, penasaran.
“K-LINK. Wah, udah tinggi dia
posisinya di K-LINK Lis, makanya sering dapat kesempatan ke luar negeri. Nanti sebelum
peserta bertanding, kasih kesempatan untuk Kak Rahma bicara dulu ya!”
“Untuk promosi K-LINK ya Bang?”
tanyaku lagi.
“Bukan, untuk memotivasi peserta
aja supaya semangat dan pede.”
“Ooohhh..okeh Bang.”
“Kak Elis, biar Bangun aja yang
manggil Kak Rahma ya!” kata Bangun, memelas.
“Serius? Halah, tadi malu-malu,
sekarang kok jadi malu-maluin Dek? Hehee,” kataku.
“Iya Kak, serius nih! Biar Bangun
aja yang buka acaranya lagi dan manggil Kak Rahma.”
Aku dan Yoga geleng-geleng. Masih
sangat jelas di ingatan bagaimana tadi pagi dek Bangun itu serba nggak pede dan
mengaku malu. Kami pun sempat susah payah meyakinkannya untuk pede memberikan
ice breaking sebelum bang Wira presentasi. Sekarang? Beda jauh. Aneh memang!
“Elis ya?” kata kak Rahma,
menyapaku.
“Hai Kak Rahmaaa. Elis baru ketemu Kakak kan hari ini? Kita belum
pernah ketemu sebelumnya. Hikss.”
“Tapi, Kakak udah lama loh kenal
Elis. Justru Kakak tertarik ikutan gara-gara berteman sama Elis di Facebook.”
“Hah? Masa iya Kak?”
“Iya. Kan Bang Wira sering tuh
nge-BC tentang alumni-alumni BAT, jadi Kakak iseng-iseng berteman dengan nama-nama
yang tag Bang Wira itu. Nah, salah satunya ya Elisss.”
Ya allah. Aku terharuuuuu… Ini
adalah nikmat dan anugerah bagiku. Ketika ada orang yang mengenalku dan ramah
menyapaku padahal sebelumnya aku belum mengenalnya sama sekali. Ini hadiah ya
Allah! Hadiah. Terimakasih. Apalagi seseorang sehebat kak Rahma. Siapalah Elysa
baginya? Huahhhhh.
Setelah kak Rahma selesai
memberikan suntikan semangat, tibalah seluruh peserta untuk bertanding antar
tim. Ada beberapa peserta yang baru hadir setelah sholat Zuhur tadi dan ada
beberapa peserta yang izin tidak bisa mengikuti sampai selesai. Tapi, tidak
masalah, karena yang terpenting adalah jumlah peserta tidak mempengaruhi
kinerja. Seperti pada BAT umumnya, seluruh peraih nilai tertinggi dari
masing-masing kelompok kemudian dipertandingkan lagi dan diambillah 1 peserta
terbaiknya. Kali ini dimenangkan oleh Latifah dari FT Uniersitas Riau.
“Seluruh peserta BAT Goes to
Campus hari ini saya undang untuk mengikuti BAT 10 pada tanggal 16 Januari
nanti. Sampai jumpa ya di BAT 10,” tutup bang Wira.
“Loh Dek? Kirain cuma peserta
terbaiknya aja yang diundang, ternyata semuanya ya?” bisikku pada Yoga.
“Iya Kak, ternyata semuanya. Bakal
rame nih berarti nanti Kak!”
Bang Wira meminta tolong kepadaku
untuk membuatkan treasure dan memvideokan 3 testimonial peserta tentang BAT
Goes to Campus hari ini. Every body feel
satisfied, every body feel happy. ^_^
***
“Mana lah Mbak Win nih ya? Kok
belum kembali jugaa…” tanya bang Wira.
Aku dan bang Wira sudah berada di
halaman rekorat, tepat di depan teras utama.
“Abang langsung ke seminarnya pak
Krisna Murti ya berarti?”
“Iya. Nggak sempat lagi mau
pulang nih! Elis nggak ikutan?”
“Pengen sih Bang, tapi anak-anak
les Elis besok pada ujian, jadi nggak bisa ditinggalin.”
“Ohhh..iya juga. Berapa anak yang
Elis privatin itu?”
“2 Bang.”
“Nggak mau cari tambahan murid
lagi?”
“Wahhh.. ini aja udah cukup
menyita waktu Bang. Meskpun cuma malam aja belajarnya.
“Berapa gajinya Lis?”
Lalu aku menyebutkannya.
“Cukup segitu?”
“Kalau ditanya cukup atau nggak,
ya pasti nggak cukuplah Bang. Sebenarnya, Elis udah pernah digantikan dengan
orang lain sebelum ini, tapi dia udah nggak bisa lagi ngajar dan orang tuanya
murid Elis ni minta Elis ngajar lagi. Agak segan nolaknya Bang, karena Elis dekat
dengan beliau.”
“Oooohh..gitu.”
Aku berpamitan dengan bang Wira
sebelum aku didahului pulangnya senja ke rumah petang. Azan maghrib sebentar
lagi berkumandang. Aku bergerak cepat, meninggalkan Universitas Riau sementara Bang
Wira masih menunggu mbak Win di sana.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar