“Cin, Ciiinn… yuk makan! Udah jam
setengah 5.”
Aku membuka mata dan mendapai Lia
duduk di samping kananku. Setelah mencuci muka, aku segera menyantap makanan
sepiring berdua dengan Lia. Lia berniat membayar hutang puasanya hari ini
sedangkan aku hanya ingin bareng ‘sarapan’ dengannya.
“Berapa lagi hutang puasamu Cin?”
tanyaku.
“Dengan hari ini, berarti tinggal
3 lagi Cin. Aku kan hutangnya 9 hari kemarin.”
“Weewww..banyak juga yaa!”
“Makanya mau dituntasin sebelum berganti
tahun nih Cin! Hutangmu udah lunas semuanya ya?” tanya Lia.
“Udah sejak kemarin Ciiiinn,”
jawabku. Tapi, mendadak aku menyadari sesuatu yang terlupa. “Eh, aku kan nggak
ada hutang puasa kemarin Cin! Ah, baru ingat aku Cin! Kemarin kan 2 bulan lebih
aku nggak normal. Hehe.”
“Ohh…iya yaa. Enaklah nggak ada
hutangmu.”
“Alhamdulillah. Tahun
keberuntungan mungkin Cin. Hehee.”
aku jadi teringat lagi dengan
Rini dan bernostalgia tentang kenangan bersama Rini dengan menceritakannya
kepada Lia.
“…intinya Cin, Rini itu adalah
orang yang nggak butuh orang yang bersalah kepadanya meminta maaf kepadanya.
Dia udah memaafkan orang itu sebelum orang yang bersangkutan minta maaf. Mulia
banget kan Cin? Setelah bertahun-tahun sekamar sama Rini, aku baru sadar kalau
aku ini jahat banget. Kadang itulah yaa, kita justru tersadarkan bahwa diri
kita ini jahat lewat kebaikan orang lain kepada kita. Benarlah kalau ada yang
bilang; ‘Dibalik suami yang sukses, ada perempuan yang hebat’, nah kalau aku
dan Rini gini kalimatnya; ‘Dibalik sosok yang sukses, ada teman sekamar yang
hebat!’. Hehe.”
“Waaahhh… iya yaaa Cin. Bener
banget tuuuhhhh! Luar biasa banget si Cin Rini tu yaaa.”
“Iya Cin. 80% dari kesuksesanku
itu ya karena dia udah melengkapiku Cin. Aku nol besar deh kalau nggak ada dia
Cin. Pengen banget suatu hari nanti ku tulis di FB atau Instagram tentang Rini;
‘Rin, aku Rindu dengan keajaiban bersamamu. Aku rindu ketika aku pergi, kosan
dalam keadaan berantakan dan ketika aku kembali semuanya udah bersih. Aku rindu
ketika kamu selalu setia duduk di motorku untuk ikut ke mana pun aku pergi. Aku
rindu untuk bercerita konyol ke Rini dan dia nggak pernah marah. Pokoknya aku
kangen semua keajaiban ketika aku bersamanya , Ciiiin.”
“Dan..mu sadarnya kalau Rini tu
baik sejak kapan?”
“Emmm…sejak semester 6 lah Cin.
Hehe, telat banget ya? sebelum itu aku nggak pernah sadar Cin. Jahat ya?
Sebelumnya yaa.. aku tu menganggap Rini itu hanya pendamping, tapi bukan
pelengkap. Ngerti kan?”
Lia manggut-manggut.
“Aku nggak selalu cerita sama
Rini. Kalau udah cerita sama seseorang ya nggak ku ceritakan lagi ke dia.
Ibaratnya, Rini tu cuma ku ceritakan ‘sisa-sisa’ ceritaku aja. Jahat kan Cin?
Setelah KKN, barulah kami tu benar-benar dekat. Aku baru nyadar ternyata kami
tuh nyambung banget. Beberapa acara yang aku fikir Rini tu nggak nyambung,
ternyata kami sama-sama bisa ngikutin bareng kok! Luar biasa lah pokoknya
bulan-bulan menjelang perpisahan kemarin Cin.”
“Hemmm..alhamdulillah ya kalau
gitu.”
“Cin, aku teringat dengan hadist
Rosulullah tentang keutamaan menahan amarah yang sama pentingnya kayak
menghormati ibu, karena hadistnya diulang sampai 3 kali Cin. Laa taghdhob, jangan marah. Seorang sahabat
meminta nasehat ketika bertemu Rosulullah; ‘Ya Rosulullah, berikan aku nasehat’
dan dijawab oleh Rosulullah; "Laa Taghdhob,” 3 kali Cin. Luar biasa kan berarti
keutamaan menahan marah tu?” jelasku.
“Waahhh…iya yaa Cin.”
"Eh, aku niatin puasa jugalah hari ini Cin! Tapi, emangnya boleh puasa tanpa tahu ini sedang momen apa Cin?"
"Nggak boleh. Mana bisa," kata Lia.
"Loh? Bukannya Rosulullah dulu kalau nggak ada nasi untuk hari itu, dia langsung berniat untuk puasa ya Cin? Nah, itu puasa apa namanya coba?"
"Iyaaa yaa. Emmm..kalau gitu, niat puasa Nabi Daud aja Cin."
"Yuhuuu."
***
Setelah sholat Zuhur, aku
langsung merendam baju kotor yang udah menggunung. Lalu membereskan kamar dan
niatnya mau ngetik, tapi ngelihat Lia tertidur pulas, aku pun tergoda untuk
menyusulnya ke alam mimpi. Aku bahkan belum sempat mengetik 1 huruf pun. Ah,
nggak apa-apa kali ya tidur sebentar aja? Dalam sekejap, aku pun terlelap.
“Udah jam berapa nih Cin?” tanya
Lia kemudian.
Aku mengucek mata dan meraih HP
di sampingku. “Jam 10 Cin. Huaahhhhh.”
“Laa illaha illallah.
Astaghfirullah. Aku ada rencananya mau ke kampus jam 9 loh padahal! Ya Allah.”
“Aku tadi sebenarnya nggak niat
tidur loh! Dan waktu lihat mu tidur, aku pengen tidur bentar aja rencananya.
Eh, malah kebablasan.”
Aku langsung sigap meraih rendaman baju tadi
dan mencucinya.
Bila yang tertulis oleh-Nya engkau yang
terpilih untukku
Telah terbuka hati ini menyambut cintamu
Di sini sgalanya kan kita mula mengukir
buaian rindu
Yang tersimpan dulu tuk menjadi nyata dalam
hidup bersama
Selamat datang, di separuh nafasku
Selamat datang, di pertapaan hatiku…
huhuhuu..
Izinkan aku.. tuk mencintaimu, menjadi
belahan di dalam jiwaku
Ya Allah, jadikanlah ia pengantin sejati di
dalam hidupku
Izinkan aku…
Aku mencuci sambil melantunkan
lagu Mengukir Cinta di Belahan Jiwa-nya
Ecoustic. Lagu ini so sweet banget menurutku. Sejak pertama kali aku
mendengarnya, aku sudah jatuh hati dibuatnya. Setelah mencuci pakaian, aku mencuci
piring, membuang sampah dan barulah sholat Duha.
“Cin, alarmmu kok so sweet banget
sih tadi pagi?” tanya Lia.
“Masak iya? Emang lagu apa yang
mu dengar tadi?” tanyaku pula.
“Emmm… ada kata-katanya gini; Bila yang tertulis oleh-Nya engkauu..
untukku, gitulah Cin.”
“Nah! Itulah lagu so sweet yang
pernah ku ceritain sama mu kemariiin Ciiin. Nih ya ku hidupkan!”
“Wahhh..iya yaa. So sweet
kaliiii.”
***
“Cin!!!” kata Lia tiba-tiba,
seperti baru menyadari sesuatu.
“APAAA?” aku tak kalah ketakutan
dan terkejut melihatnya seperti itu.
“Eh, kok mu jadi kaget sih?”
“Iyalaah..mu serem kali pun! Ada
apa memangnya?”
“Gini, kemarin kan aku terpilih
sebagai MAWAPRES BIDANG SENI waktu Milad UR. Tapi, aku bingung, kalau orang
nanya, seni apa yang ku bisa memangnya?” tanya Lia sambil memegang keningnya.
“Emmmm… mu kan bisa nulis cerpen,
walaupun nggak sebera bagus Cin! Hehee.”
“Huahhhh. Aku malah berniat untuk
nggak ngambil hadiahnya dan ku biarkan untuk rektorat aja atau ku ambil terus
ku serahkan untuk yang berhak menang, Cin,” wajah Lia memelas.
“Apalah mu ini Cin?! Masak gitu
sih niatmu? Heh, kemarin kan waktu kita lomba KTI di Madiun dan Yogya selalu
tentang seni dan budaya yang kita angkat toh?”
“Oh iyaaa…yaaa.”
“Seni kan nggak nggak harus seni
gerak, seni tulis-menulis kan termasuk juga. Terus, kemarin waktu mu ikut
seleksi MAWAPRES di FKIP pun mu ngangkat tentang Bahasa Ocu kan? Itu kan seni
juga Cin! Piye toh? Itu memang udah rezekimu Cin. Cara Allah meneruskan
kemenanganmu di FKIP kemarin dan sekarang udah di level universitas.”
“Ya Allah… iya yaa Cin. Maacih
Cinnn. Mungkin kalau aku nggak cerita sama mu, aku udah minder Cin. Apalagi
kalau ada yang mempertanyakan tentang kemenanganku itu. huhuuu… makacih Cin.”
“Bububuyuuuu! Jam berapa ntar
ngambil uangnya Cin?”
“Jam 1.”
Kami se-motor ke kampus. Aku
minta disinggahkan di Pekon sebelum Lia menjemput dek Novi untuk ke rektorat
bersama. Di Pekon, aku bertemu Romi untuk berdiskusi tentang kisi-kisi angketku.
“…setahu Romi sih gitu Mbak.
Kalau pernyataan Mbak negatif, jawaban Sangat Setuju itu poinnya 1. Kalau
pernyataan Mbak positif, jawaban Sangat Setuju itu barulah poinnya 5. Ngerti
kan Mbak?”
“Eh, Dek, Dek! Itu kan Pak
Suarman ya? Kok Bapak tu udah ada di sini tapi nggak bilang-bilang. Semalam
masih di Batam padahal.” Aku terus melihat langkah pak Suarman menuju mobilnya.
“Apa Mbak kejar aja Bapak tu sekarang Cek?” tanyaku, antusias kepada Romi.
“Nggak usahlah Mbak, Bapak tu
udah mau pulang juga tuh! Besok aja.”
Aku kembali mendiskusikan
angketku dengan Romi. Wah, ternyata Romi lebih faham tentang procedural skripsi
ini daripada aku pemirsaaa..huahhhh. Aku malah makin puyeng nih! Ada Dini dan
Isti juga yang baru bergabung dan ngobrol bersama kami.
“..Elis mau tahu nggak nggak
gimana caranya biar cepat selesai?” bisik Dini padaku.
“Mau, mau. Gimana caranya?”
“Nanti kan angket kita tu
kemungkinan besar ada yang nggak
seimbang. Nah, jadi pandai-pandai kita lah ‘menyeimbangkan’ datanya. Faham
maksud Dini kan?”
“Iya Din. Faham.” Tapi, kalau bisa berusaha sejujur mungkin,
aku ingin mengupayakannya terlebih dulu, kataku dalam hati.
“Mbak, intinya di S1 ini kita
tahu gimana caranya menulis dengan benar, bukan meneliti dan baik,” kata Romi.
“Iya Lis, soalnya hasil skripsi
kita ini pun nggak terlalu digunakan. Kecuali kalau udah S2 atau ada proyek
penelitian dengan dosen, barulah agak diperhitungkan,” lanjut Isti.
“Iyaaa juga yaaa.”
Setelah sholat Ashar di mushola
FKIP, Romi ada agenda lainnya dan tanpa disangka aku bertemu Lia di mushola.
Huaahhhh, ternyata dia nggak ada pulsa, pantesan sejak tadi aku miscall nggak
direspon. Sementara androidku udah lowbat. Di mushola, aku bertemu dek Eri. Dia
menggunakan baju hitam-putih, ternyata baru saja ujian.
“Kak Elisss… maafin Eri Kak,
tulisannya belu selesai juga Kakkk…huhuuuuu.”
“Ya udah nggak apa-apa Dek.
Dahulukan aja yang mesti Adek dahulukan. Itu kan nggak wajib doh!”
“Iya Kak, makasih ya atas
pengertiannya Kak. Eri pengen bikin tulisan yang bener-bener bagus Kak, makanya
Eri butuh waktu untuk fokus dulu nih! Eh iya Kak, Bang Ikrom ke Pekanbaru Kak
bulan Januari nanti. Dia ngisi acara di Puswil, kalau bisa segera tentukan
harinya Kak kapan Bang Ikrom akan diundang ke UNRI soalnya setelah itu mungkin
dia nggak balik lagi ke sini dan langsung S2 di Belanda Kak.”
“Ohhhh…..gituuuuu ya Dek! Ada
brosur acara di Puswil itu nggak? Biar bisa Kakak sebarkan ke grup MURC dan
juga jadi DP BBM ntar. Jadi, anak-anak MAWAPRES tu bisa hadir juga dan langsung
bisa koordinasi tentang waktu yang pas untuk ngundang Bang Ikrom tu.”
“Oke Kak, nanti Eri kirimkan
yaa.”
Ketika aku melipat mukena dan
akan beranjak, dek Eri menarik tanganku.
“Kak Elisssss…” rengeknya.
“Iya Dek? Ada apa Dek?”
“Erik an udah buka blog Kakak
yang ARMALAA tu, ya ampuuuunnnn.. Kakak tu bener-bener orang yang pede yaaa!”
“Adek lihat apa memangnya di
situ?”
“Adek lihat tutorial hijab yang
Kakak buat tu ya ampuuunnn… luar biasa banget Kakak Elis ni pedenya! Emmm… Eri
salut sama Kakak. Tetaplah menginspirasi dan tetaplah menjadi diri Kakak
sendiri ya Kak.”
“Makasih Dek. Semangat terus buat
kita Dek!”
“Eri tunggu tutorial berikutnya
ya Kak! heheeh.”
“Tunggu aja tanggal mainnya Dek!
Hehe.”
Aku mendekati Lia dan berjalan
meninggalkan mushola bersamaan.
“Cin, itu Mr. Dahniel kan? Duh!
Aku nggak tahu harus ngomong apa kalau berpapasan sama beliau nih!” bisikku
pada Lia.
“Ngapain pake bingung sih Cin?”
Ternyata Mr. Dahniel berbelok,
tidak berpapasan dengan kami yang hendak lurus.
“Hufft! Untung aja kita nggak
berpapasan Cin. Segaannn… nggak tahu mau ngomong apa. Atau hanya menyapa
selintas aja?” tanyaku.
“Jahat banget ya kita! Nanti
kalau kita jadi dosen, terus mahasiswa kita menghindari kita kayak gini gimana
tuh Cin?” tanya Lia pula.
“Hiksss..iya yaa?”
“Eh, udah diterima uangnya?”
tanyaku.
“Udahhh,” jawab Lia dengan mata
berbinar. “Makan di mana kita malam ini?”
“Emmm.. kita beli lauk aja Cin,
makannya di rumah aja gimana?”
“Yuhuuuuu.. Eh, tapi aku ada
urusan nih sama teman-temanku bentar. Mu udah mau pulang?”
“Belum sih. Kalau gitu, aku pakai
motormu dulu ya ke sekretariat KOPMA?”
“Nih kuncinya!” Lia menyodorkan
kuncinya padaku. Aku pun segera melaju ke KOPMA.
***
Ada 3 orang laki-laki di dalam,
mungkin mereka adalah pengurus KOPMA. Setelah dipersilahkan masuk, aku segera
duduk di bangku tamu. Lalu ku sampaikan maksud kedatanganku ke sini. Ternyata,
satu pun dari mereka nggak ada yang tahu di mana berkas lengkap tentang sejarah
KOPMA berada. Bahkan, salah satu dari mereka mengaku bahwa sejarah KOPMA itu
tidak tertulis dengan rapi. Ketika ku tanyakan tentang website KOPMA, ternyata
ada tapi nggak terkelola dengan baik.
“Ada surat pengantarnya Kak?”
tanyanya kepadaku ketika ku sampaikan bahwa data ini untuk penelitianku.
“Nggak Dek. Memangnya harus pakai
ya?” tanyaku pula.
Kami sama-sama terdiam. Dia
terlihat berfikir. Tapi, sebelum dia sempat mengatakan sesuatu, aku kembali
bertanya kepadanya; “Bukannya sejarah KOPMA itu boleh diketahui oleh seluruh
mahasiswa UR ya Dek?”
Ia terlihat berfikir lagi. “Iya
sih Kak, bener.”
Ah, lega sekali rasanya. Untung
saja aku udah mempelajari hal ini dari Romi tadi. Kalau aku nggak tahu, urusan
ini pasti akan jadi jauh lebih repot. Lantaran aku nggak berhasil bernegosiasi.
Mungkin dengan polos dan lugunya, aku akan ngurus surat pengantar dari prodi dulu
baru kembali lagi ke sini. Huahhhh. Make it simple, guys!
“Apa agenda terdekat KOPMA Dek?”
tanyaku.
“Januari ini mau RAT lagi Kak.”
“Loh? Bukannya tahun kemarin di
bulan Maret ya Dek?” tanyaku.
“Iya Kak, tapi memang sengaja di
percepat Kak. Karena, kalau nunggu bulan Maret lagi, nanti fakum kegiatan kami
Kak.”
“Loh? Memangnya semua agenda
KOPMAnya udah selesai ya Dek untuk tahun ini? Atau memang nggak tahu mau
ngadain agenda apa lagi? Hehee.”
“Hemmm…ya begitulah kurang lebih
Kak.”
Aku bertanya lebih lanjut tentang
harapan mereka. Mereka mengaku sangat mengharapkan ada kontribusi dari
mahasiswa FEKON atau Pendidikan Ekonomi supaya KOPMA bisa ‘diperbaiki’.
Beberapa pertanyaan ku ajukan lagi dengan santai dan halus, hingga tidak ada
satu pun dari mereka yang sadar bahwa aku sudah bertanya ‘lebih’.
“Tulis aja email Kakak di sini.
Nanti kalau ketuanya datang, biar kami sampaikan ke dia dan datanya dikirim ke
email Kakak aja.”
“Wahhhh… makasih ya Dekkk.”
Setelah menuliskan emailku, aku
pun mohon diri. Ketika aku mau menyalakan motor, terdengar panggilan dari
seorang wanita…
“Buk Dutaaa! Bukk!”
Ketika aku menoleh ke kiri, eh
ternyata ada Vio di sana. Aku segera mendekatinya dan menyalaminya. Surprise
banget ketika dengar bahwa Vio pengen mendaki gunung Talang bersama
teman-temannya.
“Berapa bayarannya Cin?” tanyaku.
“Rp 400.000 El.”
“Huhuuuhuu.. bisa untuk aku bayar
ujian nanti tuh Cin! Hiksss.. kapan-kapan aja deh aku nyusul ndakinya. Ehhee.”
“Cin, kadang aku merasa sangat takjub dengan
orang-orang HEBAT yang mau memujiku, padahal aku bukan siapa-siapa kalau
dibandingkan dengan dia. Betapa rendah hati kan dia Cin? Karena aku percaya,
hanya mereka yang mampu menaklukkan egonya lah yang mampu memuji orang lain
dengan tulus hati.
Aku teringat kalimatku semalam yang
ku utarakan kepada Lia. bukan hanya dengan Vio, aku sering dibuat takjub oleh
orang-orang luar biasa nan rendah hati di sekitarku. Semoga aku bisa belajar
banyak dari mereka supaya menjadi orang baik. Aamiin. Aku kembali menuju Lia,
di depan kelas Bahasa Inggris.
“Cin, mu ingat itu tempat apaan?”
“Ingat. Tempat waktu kita saling
bercerita dulu.”
“Cerita yang telah membuatku
selamat sampai saat ini Cin. Kalau aku nggak cerita sama mu dulu, bisa jadi aku
udah salah langkah.”
“Alhamdulillah ya, semoga kita selalu
selamat,”
Ah, Lia selalu saja begitu. Selalu menemukan cara untuk mengakhiri
sesuatu dengan doa baik.
“Cin, ya Allah, lihat ituuu
Ciiin!” tunjukku pada kepingan-kepingan kramik yang teronggok di dekat tong
sampah. Kramik-kramik itu adalah sisa renovasi kelas. “Sayang banget loh Cin!
Masih bagus gitu kramiknya. Coba bayangkan kalau pecahan-pecahan kramik itu di
tempelkan di dinding secara random, pasti cantik banget kan Cin?”
“Wahhh… iya yaaa.”
“Ih, pengen deh ku angkut
semuanya kalau aku mampu Cin! Nggak sabar banget untuk segera menjalankan bank
sampahku nih!”
“Kita ambilin sekarang?”
“Mu nggak malu Cin?”
“Ngapain malu?”
Aku mematikan motor dan segera
memunguti pecahan kramik ini. Karena kramiknya berukuran lumayan tebal, baru 6
keping saja beratnya sudah sangat luar biasa. Aku mengajak Lia udahan aja,
karena karung yang kami temukan tidak cukup besar untuk mengangkut
kramik-kramik itu, terlalu banyak kramik yang terbuang dan tidak mungkin kami
angkut semuanya. Setidaknya aku sudah berhasil menyelamatkan beberapa sebagai
koleksi.
“Cin, aqua gelas itu kalau
dijual, perkilonya Rp 4000 loh! Mu tahu?” tanyaku.
“Kok mahal Cin? Setahuku cuma Rp
1000 loh.”
“Masa iyaaa?”
“Iyaa. Mu tahu dari mana
rupanya?”
“Dari Buk Elma, waktu pembekalan
dulu. Terus, kalau aqua gelas itu kita gunting kecil-kecil, per kilonya jadi Rp
40.000 loh Cin! Bisa kayak an kita dari sampah?”
“Ya Allah, iya ya Cin? Kok mahal
banget ya?”
“Tulah kaaann.. tapi banyak orang
yang nggak menyadari peluang ini Cin.”
***
“Yok! Makan lai awak!” ajak Lia.
“Yuhuuuuu! Sambil nonton yaa!”
ajakku pula. “Ada film barat, judulnya In Front of The Class, Cin. Dia
ganteng dan pinter banget, tapi punya kelainan; sering mengeluarkan suara-suara
aneh, kadang terdengar kayak anjing. Tapi, luar biasanya dia bercita-cita jadi
guru. Ditawarin pekerjaan lain pun dia nggak mau, pokoknya tetap berusaha
gimana dia diterima jadi guru. Setiap dia ngelamar ke sekolah, kepala
sekolahnya selalu meragukan gimana caranya dia ngajar nanti. Keren dah
pokokny!”
“Film India tu?” tanya Lia.
“No. Ini Barat Cin.”
“Kok filmmu banyak yang barat
sih?”
“Lah? Memangnya kenapa? Dosa aku
Ciiin?” tanyaku.
“Kagaaak! Dosa atau nggak dosa
sih hanya Allah yang tahu, Cin. Aku kan pengennya film India Ciiin. Soalnya,
film India tu memang nggak tergantikan sensasinyaaa.”
“Emang iya sih. Tapi, ini keyeeen
kok Cin! Dijamin.”
Mulailah aku dan Lia menikmati
makan malam kami sambil menonton film yang ku pilih ini. Dan, belum sampai
setengah film berjalan, ternyata makan malam kami telah lebih dulu selesai. Lia
mencuci piring, sementara aku membereskan yang lainnya. Setelah selesai mencuci
piring, ku lihat Lia langsung membuka laptopnya. Terus saja ku amati apa yang
akan dilakukannya. Ternyata dia membuka revisian skripsinya, mungkin sedang
ingin fokus untuk segera menyepurnakan tulisannya.
Aku nggak akan mengingatkanmu dengan
bertanya; “Mu nggak mau lanjut nonton lagi Cin?”, karena ku lihat kamu ingin
take a time dengan skripsimu, Cin. Aku akan membiarkanmu. Hingga kamu kembali
ingat dan bertanya; “Film In Front of
The Class itu belum selesai ku tonton ya Cin? Aku mau ngelanjutin donk!”
Ku close jendela film ini dan ku
buka Ms.Word. Mulailah aku mengetikkan diary dengan lihainya dengan
jemari-jemari.
“Cin, mu sedang butuh mikir ya?”
tanya Lia padaku.
“Emmm… lumayan. Emangnya kenapa?”
“Aku mau ngidupin lagu
rencananya.”
“Ya udah, hidupin ajaa. Aku nggak
terganggu kok!”
“Okeyyy! Lagi nulis diary yaaa?”
“Iyaaaa.
***
Setelah sholat Isya…
“Cin, aku menyimpulkan sesuatu hari ini,” kataku.
“Apa tu?”
“Ternyata, waktu tak selalu mengubah segalnya. Ada kalanya
waktu hanya memperjelas/memperkuat/meningkatkan dan ada kalanya waktu hanya
memudarkan/menurunkan/melemahkan suatu keadaan. Contohnya temanku yang nggak
sengaja ketemu denganku tadi. Sejak pertama kali ketemu dulu, sampai saat ini,
kok rasanya dia nggak ada perubahan juga Cin; tetap suka bercanda nggak penting
dan kadang nyakitin juga, terus kadang juga dia masih suka ngejek-ngejek orang.
Aku kasihan banget loh Cin ngelihat teman yang kayak gitu. Kasihan banget
karena hidupnya kok merugi dan nggak meningkat gitu?”
“Iya yaaa Ciiiinnn.”
“Kasihan kan dia. Gayangnya sekarang makin WOW aja, padahal
ntah gimana kehidupan orang tuanya di kampung sana, kita pun nggak tahu apakah
memang benar mampu atau nggak.”
“Iyaaa. Bener tuh! Kadang, ada orang-orang yang memang
terbiasa dan dibiasakan oleh keluarganya yang seleranya tinggi Cin.”
“Eh, Cin… aku kan sedang BBM-an sama dek Novi! Dia nyeritain
gossip baru tentang bang **** yang sedang nyari pendamping hidup. Perasaan aku
udah tahu itu sejak lama deh! Malah dek Novi ni bilang, yang cocok buat Abang
tu adalah antara aku atau mu. Ahhahaa. Ada-ada kan si Novi ni, Cin?”
“Hahahaha.. ya ampuuun. Kok bisa pula kita berdua? Apa
karena kita berdua dekat?”
“Hahha..mungkin juga nih Cin. Mu ajalah sana Cin, ajuin diri
ke Abang tuu! Hehehe, mu kan udah ngebet pengen cepet-cepetttt! Aku bilang ke
Novii yaa!”
“Heh, jangan! Siapa bilang aku mau cepet-cepet!” cegah Lia.
“Hhehehe… aku jadi dapat inspirasi buat bikin PM nih Cin.”
Jangan
tanya aku MAU atau TIDAK. Kalau kamu memang berniat kepadaku, ya langsung saja
DATANG. Maka, aku akan MEMPERTIMBANGKANMU.
“Cin, Lihat
nih banyak kali yang kepo sama akuu! Hahaha. Kak ***I bilang; Elis taaruf ya Dek?. Apa nih ku balas Cin?”
“Bilang aja
gini; Mohon doanya ya Kak. hahaha. Kak ***I tu emang sedang
baper banget Cin, tiap ada orang bikin status yang agak ngarah ke sana, dia
pasti langsung kepo. Ahhaa.”
“Oke. Aku
tulis nih!” ku kirimkan langsung balasan itu kepada kak ***i. “Cin! Dibalasnya
lagi; Jadi beneran nih Lis? Emang Elis udah wisuda? Apa nih ku balas?”
“Bilang
gini; Wisudanya OTW Kak. mohon
doanya untuk kelancarannya ya Kak.”
“Oke aku
ketik nih yaa! Hahaha, jahat kali ya kita, ngerjain orang tua! Hehee.”
Jadi, Elis mau nikah
tahun 2016 ini? Elis udah siap?
Insya Allah Kak.
Wahh.. Kakak disalip
nih! Berarti bentar lagi Kakak akan dapat undangan lah yaa.
Kakak kapan? Semoga cepat nyusul yaa.
Doakan Kakak ya Dek.
Aamiin Kak, semoga segera yaaa.
Aku
membacakan kronologi BBMku itu kepada Lia. kami tertawa cekikikan berdua.
“Jahat kali
kita Cin bohongi orang tuaa!” kataku.
“Loh? Kita
kan nggak bohong, Cin.”
“Iya yaa.
Kita nggak bohong, tapi juga nggak jujur. Hehehe. Eh Cin, kayaknya statusku ini
sensasional kali ya! banyak nih yang komen dan nge-cie-cie in aku jadinya.
Hehehe. Gara-gara Dek Novi tadi nih! Bububuyuuuu!”
“Haik!”
Tadi sian
pun aku dan dek Romi baru membicarakan topik yang sama. huahhhh… kenapa tema
hari ini serba tentang pernikahan yaa?
“Aduh Cek, stop! Mbak
belum sanggup mendengar cerita kayak gitu sekarang. Oh tidak! Mbak malas masak,
Mbak malas nyuci baju, Mbak masih pengen jalan-jalan, Mbak masih pengen
main-main.”
“Heh, bangke!
Selesaikan S1 ini dulu, jangan menggatal!”
“Cin, ada
yang bilangin aku umpan serak nih Cin!” ku tunjukkan BBMku kepada Lia.
Kakak umpan serah
heheh
Hehehe…iyakah dek?
Menurutku niatnya
bagus kak. Tapi, sisi lain menurutku
umpan serak kak.
heheh.
Konsep ‘menjaga’ dek.
Paham kak. Berarti
kakak sudah siap ya kak… pasti
udah ada orang yang
dituju.
Kebalik dek, kakak siap menjadi orang yang
dituju. *kalimat pasif.
Waaahhh… sudah siap
kak??
^_^
“Aku balas
aja dengan senyum di akhir Cin. Ehhee. Nggak tahu mau jawab apa. Banyak yang
salah faham kan? Hahhaa,” lanjutku.
“Eh, belum
tentu semua IKAN mau makan umpan loh!” celetuk Lia.
Kami saling
berpandangan sejenak, sebelum akhirnya tertawa lagi setelah menyadari bahwa
kalimat Lia barusan sangat nyambung dengat PMku dan merupakan jawaban atas
pemikiran umpan serah yang selama ini ada.
“Inspiratif
banget Cin!” kataku dengan mata berbinar.
“Nanti ya,
ku tulis juga sebagai PM. Tapi, temenin aku njilid yuk Cin?”
Aku dan Lia menerobos Bina Krida yang tengah dirintiki gerimis.
Kami memilih fotokopi Mandala, tempat langgananku sebagai tempat ngeprint dan
menjilid revisiannya Lia. Cukup lama juga aku menunggui Lia. Meskipun HPku di
tangan, tapi ternyata ada sesuatu yang kosong. Yap! Aku merasa kosong karena
diaryku untuk hari ini dan kemarin belum juga selesai. Tadi, udah sempat
berniat untuk bawa laptop, tapi karena takut malah bikin repot, akhirnya ku
urungkan. Padahal aku bisa ngetik sambil menunggu Lia di sini.
“Aku
nggak sabar untuk segera menuliskan tentang 1 hari lagi yang berlalu dari
hidupku dengan menyisakan 2 jam di penghujung malam sebelum beranjak tidur. Aku
tak sabar untuk merangkai cerita, nasehat-nasehat dan pengalaman berharga yang
ku peroleh setiap harinya dan ku abadikan di sana. Di diaryku. Aku selalu tak
sabar untuk semua itu!”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar