Dan… benar saja, ternyata hujan pun mulai turun, setelah
kami melewati pasar Kuok. Aku terus melaju, membawa Lia menerabas rinai hujan.
Segala sesuatunya sudah aman, tidak khawatir lagi akan air hujan karena kami
sudah bermantel.
“Cin, mari kita berdiskusi tentang Tuhan!” ajakku.
“Allah?”
“Iya Ciin.”
“Mari!”
Mulailah kami berdiskusi tentang segala hal yang berhubungan dengan priritas hidup, relativitas penilaian manusia, relativitas benar-salah versi manusia, hingga bagaimana caranya meraih syurga.
“Menurutku Cin, kita hanya bersaing dengan diri kita
sendiri. Kita hanya harus menjadi versi yang terbaik dari diri kita. Karena,
rasanya tidak adil kalau standarnya adalah standar umum. Masak kita yang sehat
dan masih muda kayak gini ibadahnya disamakan dengan mereka yang nggak punya
kaki dan terbatas? Ya kan? Hemmm.. yang jelas, Syurga itu banyak pintu masuknya
dan Syurga itu ada banyak tingkatannya,” jelas Lia.
Aku manggut-manggut dan tersenyum. Mataku berbinar,
segalanya terasa jauh lebih cerah sekarang. Terimakasih wahai sahabat. Menjadi
sahabatmu adalah kemewahan bagi hidupku. Alhamdulillah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar