
“Mamake pernah nggak sih merasa pesimis
dengan impian Mamake?”
Pertanyaan Titin barusan
membuatku berekspresi serius dari yang tadinya sumringah saat menceritakan
mimpi-mimpi. Pertanyaan sederhana tapi menimbulkan banyak tanya lagi
sesudahnya. Dariku.
“Emmm… pernah lah Cin. Kok nanya
itu sih?”
“Soalnya Tin lihat Mamake optimis
banget dengan impian-impian Mamake. Kayak nggak pernah kecewa dan dikecewakan
kehidupan rasanya,” jelas Titin dengna wajah datar.
“Cinnn.. Kalau bukan kita yang
percaya dengan impian kita, lalu siapa lagi?” tanyaku kembali.
“Tin pengen bisa kayak Mamake,
tapi emmm… susah sekali rasanya. Bukan hanya tentang impian, bahkan tentang
kehidupan pun Tin sering pesimis.”
Aku heran. Kenapa Titin sampai
demikian? Tapi, pertanyaanku terjawab dari penjelasannya yang membuatku
terperanga sekitar setengah jam lalu aku ikut menangis bersamanya.
“Ya Allahhh!” kataku dengan nada
kesal. “Kalau Mamake di posisi Cin, belum tentu Mamake sekuat Cin loh! Cin itu
wanita kuat! Bahkan Cin udah berhasil menyimpan semua ini selama 2 tahun kita
kenal. Sama sekali Mamake nggak nyangka kalau Cin berada dalam keadaan kayak
gitu dan hebatnya Cin terlihat sangat TEGAR! Mamake yang harus belajar tentang
hidup dari Cin,” kataku, dengan mata berembun.
“Sejak semalam lagi Tin membathin
di dalam hati; ‘Mamake ini kok optimis kali ya orangnya?’ waktu Mamake semangat
kali menceritakan impian-impian itu. Beruntunglah Mamake berasal dari latar
belakang yang ‘sempurna’ dan mungkin itulah penyebabnya kondisi psikologis
Mamake baik, makanya Mamake bisa optimis kayak gitu. Beda dengan Tin,” kata
Titin lagi dengan suara rendah.
“Ciiiinnnn… izinkan Mamake jadi
penguatmu yaaa!”
Usai dari cerita melo ini, aku
mengajak Titin menonton film AKU, KAU dan
KUA sambil menikmati nasi rames. Kali ini Titin yang nraktir aku karena aku
mengaku padanya, kantongku sedang kemarauuuu. Hehe. Aku senang melihat Titin
tertawa dan mendapatkan angin segar tentang cinta dan JODOH dari film ini. Niatku
untuk mengetik urung dulu, karena aku ikut mendampingi Titin nonton film yang
sudah ku tonton berulang kali itu. ahahaa. Setelah sarapan dan nonton film
selesai, aku berpamitan.
***
Sejak pulang dari kosan Titin
pukul 09.00wib tadi, sampai 20 menit sudah berlalu, aku masih terbengong di
atas tempat tidur memandangi langit-langit kamar, bahkan sudah nyaris tertidur
pula. Ah, daripada bengong, mending aku sekarang mikirin gimana caranya kamar
ini berganti suasana yang ‘Gueee banget’. Ku gambarkan di atas kertas, sketsa
rancangan kamar ini. Aku mengukur lebar lemari kabinet, rak buku dan tempat
tidur supaya mudah disesuaikan letaknya. Mulailah aku merancang perletakan
meraka di kamar ini. Sempat ingin mengurungkan niat saja, karena toh aku sudah
merasa nyaman dengan posisi kamar yang sekarang. Tapi, sekalipun aku masih
bingung dengan perletakan posisi, sayangnya aku sudah terlanjut menurunkan
barang-barang ke lantai. Jadi, nggak ada alasan untuk BATAL. Aku harus
melanjutkan semuanya dan menuntaskannya hingga selesai.
“Suasana kamar yang baru nanti akan
membuatku lebih betah di kamar dan lebih betah berlamaan menulis karena
kreativitas beterbangan karena kenyamanan tadi. aamiin.”
Hingga pukul 15.35wib, aku masih
bertengkus lumus dengan kamar yang lebih mirip gudang ini. Hanya ada sedikit
celah yang ku sisakan sebagai tempat sholat. Selebihnya? Barang-barang
berserakan di mana-mana. Tapi, kabar baiknya, lemari kabinet, tempat tidur dan
rak-rak sudah menemukan takdir (baca: posisi) yang tepat dan apik. Jadi,
urusanku tinggal sama barang-barang kecil yang harus dirapikan ke tempatnya
masing-masing.
***
Aku memasuki halaman ZOYA. Setelah memarkirkan motor, aku
membuka pintu toko dan langsung menuju kasir.
“Mbak… saya mau ngembalikan baju
ZOYA yang kemarin mensponsori pemilihan Duta Lingkungan,” kataku.
“Oh mariii, biar saya priksa dulu
yaa!” kata si mbak, ramah. Tapi…. “Loh? Ini apa Mbak?” tanyanya padaku lagi
dengan wajah heran.
Aku melongok ke arah plastik
hitam berisi baju gamis tersebut. “Loh? Eh, maaf Mbak. Hehehe,” kataku, salah
tingkah sambil mengambil celana dalamku yang ntah bagaimana ceritanya bisa
berada di sana. Hiksss. Maluuu. “Hheee.. maaf ya Mbak, nggak tahu gimana kok
bisa ada di situ. Soalnya baju ini udah lama juga saya rapikan di dalam plastik
ini dan tertumpuk-tumpuk pakaian lainnya. Ehhe.”
“Ya nggak apa-apa Mbak. Udah saya
cek nih, kondisi barang OK. Makasih ya Mbak.”
“Sama-sama Mbak,” masih dengan
wajah malu. “Berapa orang lagi ya Mbak yang belum ngembalikan baju?” tanyaku,
mulai agak ceria.
“Ada 2 lagi Mbak. Tolong kasih
tahu temannya ya Mbak, supaya segera ngembalikan.”
“Oke Mbak, nanti saja kasih tahu
yang lain.”
“Terimakasih Mbak.”
“Sama-sama Mbak. Marii…”
Buru-buru aku melaju, menebas
batas, melipat waktu, memburu temu. Sekarang sudah hampir pukul 17.00wib, itu
berarti aku sudah telat 1 jam dari janji temu rapat dengan teman-teman Duta
Lingkungan. Tapi, sesampainya aku di parkiran rektorat, eh kok mereka nggak ada
sih di sini?
Kami
di pustaka UR Kak. Sini Kak.
Seseorang membalas pertanyaanku
di LINE. Aku segera beranjak. Ada Okta, dek Osbron dan Nova di sana. Hanya kami
berempat yang bisa hadir ternyata.
“…Gimana kalau judulnya langsung
aja kita buat dalam bahasa inggris? GREEN HERO STORY, gitu gimana?” saranku.
“Setuju. Kita langsung bahas
kontennya yuk!” ajak Nova.
“Sayangnya Michi nggak bisa
datang sekarang. Coba kalau dia ada, kita kan bisa lebih mudah ngonsepinnya. Takutnya
ada perbedaan persepsi ntar kalau kita terpisah gini kerjanya.”
“Udah nggak apa-apa. Kita buat
aja deskripsi keadaannya sedangkan gambar dan dialognya kita serahin aja ke
Michi gimana? Karena keputusan kan ada di tangan dia, dia juga yang lebih tahu
gimana nyesuaikan gambar dengan dialog dan ruang yang ada,” saranku.
Kami langsung bekerja. Dan dalam
waktu setengah jam, selesailah sudah 1 script cerita. Tinggal di screenshoot
dan di upload ke LINE aja. ye yeeee.
“Woy… Okta sebenarnya pengeeen
banget kita yang ber-10 ni ngumpul dan Okta pengen ngasih tahu apa yang Okta
tahu dari ilmu per-DUTA-an selama ini. Okta pengen nyampaikan tentang marwah
dan makna SELEMPANG dan juga attitude. Okta merasa wajib ngasih tahu kalian
karena Okta banyak tahu tentang ini.”
“Aku setuju Bang Okta, tapi
kendala kita ya ngumpul secara lengkap nih.”
“Kapan kita pas bisa ngumpul
semua di BLH aja ntar Okta nyelip di sana Dek,” saranku.
“Bisa juga. Kondisional aja
kayaknya.”
***
Apaan nih? Tanyaku dalam hati, melihat kotak merah berbentuk love
terletak di atas rak sepatu. Sebelum membuka pintu kamar, ku raih kotak cantik
ini dan ku buka dengan bismillah. Ada KTPku ternyata. Huahhhh… bahkan aku
sampai nggak nyadar kalau KTPku nggak ada di tanganku. Hhiksss. Lalu, ada 3
bros cantik yang salah satunya berbentuk huruf E. Dan, ada surat juga. Ku buka
surat itu dan ku baca sekedar untuk mengetahui siapa pemberinya. YAUMIL
ternyata. Ah, romantisss banget Ciin.
“Duh, mana sih kuncinya nih?”
ujarku, geram, karena tak berhasil menemukan kunci kamar di dalam tas. “Apa
mungkin ketinggalan di rumah Indah ya? huahhhh… jauh kalau harus balik lagi!”
aku terus mencarinya. Akhirnya, ku keluarkan semua isi tasku, barang-barangku
berserakan seketika di depan pintu kamar. Barulah ketemu kuncinya. Huft!
Setelah masuk kamar…. Aku kembali
tersadar oleh kondisi kamarku yang masih kayak kapal pecah kena bom atom ini.
hiksss. Segera ku raih lagi surat dari Yaumil tadi dan ku baca hingga selesai.
Aku tersenyum terus sepanjang membacanya. Bukan hanya berisi doa dan ucapan,
surat ini pun berisi curhatannya padaku. Ternyata Yaumil sedang sakit dan harus
pulang kampung untuk waktu yang cukup lama.
…Umil berangkat ke Medan malam ini Mamake. Doakan
Umil cepat sembuh ya. Maafin Umil, karena seharusnya Umil standby di penghujung
deadline seperti ini, tapi justru mamake Umil tinggalin sendirian. Semoga Mamake
bisa ya walaupun tanpa Umil dan apa yang bisa Umil bantu dari kejauhan akan
Umil bantu…
Segera ku raih HP. Tak sabar untuk segera mengucapkan
terimakasih dan selamat jalan kepada Yaumil. Tapi…… Grrr! Aku baru sadar kalau
udah beberapa hari ini aku nggak ada pulsa. Kalaupun lewat WA, percuma karena
Umil sekarang sedang nggak ada paket juga. Hiksss…
“Makasih
ya Ciiinnn.. Ini kado yang PERTAMA banget Mamake terima sebelum tanggal lahir
Mamake tiba. Hehe. super early gift banget nih!. Makasih Umiiil. Semoga persaudaraan
kita hingga ke Syurga. Aamiin."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar