Kamis, 03 Desember 2015

Izinkan aku Menjadi Penguatmu



“Mamake pernah nggak sih merasa pesimis dengan impian Mamake?”
Pertanyaan Titin barusan membuatku berekspresi serius dari yang tadinya sumringah saat menceritakan mimpi-mimpi. Pertanyaan sederhana tapi menimbulkan banyak tanya lagi sesudahnya. Dariku.
“Emmm… pernah lah Cin. Kok nanya itu sih?”
“Soalnya Tin lihat Mamake optimis banget dengan impian-impian Mamake. Kayak nggak pernah kecewa dan dikecewakan kehidupan rasanya,” jelas Titin dengna wajah datar.
“Cinnn.. Kalau bukan kita yang percaya dengan impian kita, lalu siapa lagi?” tanyaku kembali.
“Tin pengen bisa kayak Mamake, tapi emmm… susah sekali rasanya. Bukan hanya tentang impian, bahkan tentang kehidupan pun Tin sering pesimis.”

Aku heran. Kenapa Titin sampai demikian? Tapi, pertanyaanku terjawab dari penjelasannya yang membuatku terperanga sekitar setengah jam lalu aku ikut menangis bersamanya.
“Ya Allahhh!” kataku dengan nada kesal. “Kalau Mamake di posisi Cin, belum tentu Mamake sekuat Cin loh! Cin itu wanita kuat! Bahkan Cin udah berhasil menyimpan semua ini selama 2 tahun kita kenal. Sama sekali Mamake nggak nyangka kalau Cin berada dalam keadaan kayak gitu dan hebatnya Cin terlihat sangat TEGAR! Mamake yang harus belajar tentang hidup dari Cin,” kataku, dengan mata berembun.

“Sejak semalam lagi Tin membathin di dalam hati; ‘Mamake ini kok optimis kali ya orangnya?’ waktu Mamake semangat kali menceritakan impian-impian itu. Beruntunglah Mamake berasal dari latar belakang yang ‘sempurna’ dan mungkin itulah penyebabnya kondisi psikologis Mamake baik, makanya Mamake bisa optimis kayak gitu. Beda dengan Tin,” kata Titin lagi dengan suara rendah.
“Ciiiinnnn… izinkan Mamake jadi penguatmu yaaa!”
Usai dari cerita melo ini, aku mengajak Titin menonton film AKU, KAU dan KUA sambil menikmati nasi rames. Kali ini Titin yang nraktir aku karena aku mengaku padanya, kantongku sedang kemarauuuu. Hehe. Aku senang melihat Titin tertawa dan mendapatkan angin segar tentang cinta dan JODOH dari film ini. Niatku untuk mengetik urung dulu, karena aku ikut mendampingi Titin nonton film yang sudah ku tonton berulang kali itu. ahahaa. Setelah sarapan dan nonton film selesai, aku berpamitan.

***

Sejak pulang dari kosan Titin pukul 09.00wib tadi, sampai 20 menit sudah berlalu, aku masih terbengong di atas tempat tidur memandangi langit-langit kamar, bahkan sudah nyaris tertidur pula. Ah, daripada bengong, mending aku sekarang mikirin gimana caranya kamar ini berganti suasana yang ‘Gueee banget’. Ku gambarkan di atas kertas, sketsa rancangan kamar ini. Aku mengukur lebar lemari kabinet, rak buku dan tempat tidur supaya mudah disesuaikan letaknya. Mulailah aku merancang perletakan meraka di kamar ini. Sempat ingin mengurungkan niat saja, karena toh aku sudah merasa nyaman dengan posisi kamar yang sekarang. Tapi, sekalipun aku masih bingung dengan perletakan posisi, sayangnya aku sudah terlanjut menurunkan barang-barang ke lantai. Jadi, nggak ada alasan untuk BATAL. Aku harus melanjutkan semuanya dan menuntaskannya hingga selesai.

“Suasana kamar yang baru nanti akan membuatku lebih betah di kamar dan lebih betah berlamaan menulis karena kreativitas beterbangan karena kenyamanan tadi. aamiin.”

Hingga pukul 15.35wib, aku masih bertengkus lumus dengan kamar yang lebih mirip gudang ini. Hanya ada sedikit celah yang ku sisakan sebagai tempat sholat. Selebihnya? Barang-barang berserakan di mana-mana. Tapi, kabar baiknya, lemari kabinet, tempat tidur dan rak-rak sudah menemukan takdir (baca: posisi) yang tepat dan apik. Jadi, urusanku tinggal sama barang-barang kecil yang harus dirapikan ke tempatnya masing-masing.

***

Aku memasuki halaman ZOYA. Setelah memarkirkan motor, aku membuka pintu toko dan langsung menuju kasir.
“Mbak… saya mau ngembalikan baju ZOYA yang kemarin mensponsori pemilihan Duta  Lingkungan,” kataku.
“Oh mariii, biar saya priksa dulu yaa!” kata si mbak, ramah. Tapi…. “Loh? Ini apa Mbak?” tanyanya padaku lagi dengan wajah heran.
Aku melongok ke arah plastik hitam berisi baju gamis tersebut. “Loh? Eh, maaf Mbak. Hehehe,” kataku, salah tingkah sambil mengambil celana dalamku yang ntah bagaimana ceritanya bisa berada di sana. Hiksss. Maluuu. “Hheee.. maaf ya Mbak, nggak tahu gimana kok bisa ada di situ. Soalnya baju ini udah lama juga saya rapikan di dalam plastik ini dan tertumpuk-tumpuk pakaian lainnya. Ehhe.”

“Ya nggak apa-apa Mbak. Udah saya cek nih, kondisi barang OK. Makasih ya Mbak.”
“Sama-sama Mbak,” masih dengan wajah malu. “Berapa orang lagi ya Mbak yang belum ngembalikan baju?” tanyaku, mulai agak ceria.
“Ada 2 lagi Mbak. Tolong kasih tahu temannya ya Mbak, supaya segera ngembalikan.”
“Oke Mbak, nanti saja kasih tahu yang lain.”
“Terimakasih Mbak.”
“Sama-sama Mbak. Marii…”
Buru-buru aku melaju, menebas batas, melipat waktu, memburu temu. Sekarang sudah hampir pukul 17.00wib, itu berarti aku sudah telat 1 jam dari janji temu rapat dengan teman-teman Duta Lingkungan. Tapi, sesampainya aku di parkiran rektorat, eh kok mereka nggak ada sih di sini?
Kami di pustaka UR Kak. Sini Kak.

Seseorang membalas pertanyaanku di LINE. Aku segera beranjak. Ada Okta, dek Osbron dan Nova di sana. Hanya kami berempat yang bisa hadir ternyata.
“…Gimana kalau judulnya langsung aja kita buat dalam bahasa inggris? GREEN HERO STORY, gitu gimana?” saranku.
“Setuju. Kita langsung bahas kontennya yuk!” ajak Nova.
“Sayangnya Michi nggak bisa datang sekarang. Coba kalau dia ada, kita kan bisa lebih mudah ngonsepinnya. Takutnya ada perbedaan persepsi ntar kalau kita terpisah gini kerjanya.”
“Udah nggak apa-apa. Kita buat aja deskripsi keadaannya sedangkan gambar dan dialognya kita serahin aja ke Michi gimana? Karena keputusan kan ada di tangan dia, dia juga yang lebih tahu gimana nyesuaikan gambar dengan dialog dan ruang yang ada,” saranku.

Kami langsung bekerja. Dan dalam waktu setengah jam, selesailah sudah 1 script cerita. Tinggal di screenshoot dan di upload ke LINE aja. ye yeeee.
“Woy… Okta sebenarnya pengeeen banget kita yang ber-10 ni ngumpul dan Okta pengen ngasih tahu apa yang Okta tahu dari ilmu per-DUTA-an selama ini. Okta pengen nyampaikan tentang marwah dan makna SELEMPANG dan juga attitude. Okta merasa wajib ngasih tahu kalian karena Okta banyak tahu tentang ini.”
“Aku setuju Bang Okta, tapi kendala kita ya ngumpul secara lengkap nih.”
“Kapan kita pas bisa ngumpul semua di BLH aja ntar Okta nyelip di sana Dek,” saranku.
“Bisa juga. Kondisional aja kayaknya.”



***

Apaan nih? Tanyaku dalam hati, melihat kotak merah berbentuk love terletak di atas rak sepatu. Sebelum membuka pintu kamar, ku raih kotak cantik ini dan ku buka dengan bismillah. Ada KTPku ternyata. Huahhhh… bahkan aku sampai nggak nyadar kalau KTPku nggak ada di tanganku. Hhiksss. Lalu, ada 3 bros cantik yang salah satunya berbentuk huruf E. Dan, ada surat juga. Ku buka surat itu dan ku baca sekedar untuk mengetahui siapa pemberinya. YAUMIL ternyata. Ah, romantisss banget Ciin.

“Duh, mana sih kuncinya nih?” ujarku, geram, karena tak berhasil menemukan kunci kamar di dalam tas. “Apa mungkin ketinggalan di rumah Indah ya? huahhhh… jauh kalau harus balik lagi!” aku terus mencarinya. Akhirnya, ku keluarkan semua isi tasku, barang-barangku berserakan seketika di depan pintu kamar. Barulah ketemu kuncinya. Huft!

Setelah masuk kamar…. Aku kembali tersadar oleh kondisi kamarku yang masih kayak kapal pecah kena bom atom ini. hiksss. Segera ku raih lagi surat dari Yaumil tadi dan ku baca hingga selesai. Aku tersenyum terus sepanjang membacanya. Bukan hanya berisi doa dan ucapan, surat ini pun berisi curhatannya padaku. Ternyata Yaumil sedang sakit dan harus pulang kampung untuk waktu yang cukup lama.
…Umil berangkat ke Medan malam ini Mamake. Doakan Umil cepat sembuh ya. Maafin Umil, karena seharusnya Umil standby di penghujung deadline seperti ini, tapi justru mamake Umil tinggalin sendirian. Semoga Mamake bisa ya walaupun tanpa Umil dan apa yang bisa Umil bantu dari kejauhan akan Umil bantu…

Segera ku raih HP. Tak sabar untuk segera mengucapkan terimakasih dan selamat jalan kepada Yaumil. Tapi…… Grrr! Aku baru sadar kalau udah beberapa hari ini aku nggak ada pulsa. Kalaupun lewat WA, percuma karena Umil sekarang sedang nggak ada paket juga. Hiksss…
“Makasih ya Ciiinnn.. Ini kado yang PERTAMA banget Mamake terima sebelum tanggal lahir Mamake tiba. Hehe. super early gift banget nih!. Makasih Umiiil. Semoga persaudaraan kita hingga ke Syurga. Aamiin."

Tidak ada komentar: