Minggu, 06 Desember 2015

Jangan Menyepelekan KEBAIKAN kecil!


Saat ini pukul 23.45wib.
Aku baru membuka FB. Dan sebuah postingan link suatu blog muncul di berandaku. Akhir-akhir ini aku seolah dihantui oleh tulisannya. Setelah ku perhatikan, dia setiap harinya selalu menulis di blog dan menyebarkan linknya di FB. Aku baru selesai membaca tulisannya hari ini tentang MEMAKNAI HARI. Apa yang dijelaskan di sana benar-benar menjadi angin segar bagiku. Seolah sedang mendorongku untuk meneruskan kebiasaanku selama ini; menulis diary.
“Harus ada catatan setiap harinya. Haru ada inspirasi, kreativitas dan catatan harian setiap harinya. Kalau kebiasaan ini berlanjut terus menerus, maka kita akan mendapatkan apa yang tidak orang lain dapatkan karena kita melakukan apa yang orang lain tidak lakukan.”

Usai membaca tulisannya yang luar biasa itu, aku langsung menarikan jemariku di laptop ini. Baru nyadar, kalau aku udah berhari-hari nggak nulis diary. Bahkan, tentang hari ulang tahunku pun belum. Teguh sampai menagihnya tadi. hiksss. Memang, ini adalah kesulitan yang sering kali ku rasakan; ketika tanganku berjeda untuk menulis karena kesibukan lainnya, biasanya jeda tadi akan berketerusan menjadi kemalasan. Contohnya ya beberapa hari ini.
“Yang harus diinsyafi itu bukan hanya KESOMBONGAN terhadap harta, tapi juga terhadap kesombongan tentang ingatan dan penundaan,” gumamku dalam hati.

Karena aku merasa mempunyai daya ingat yang tinggi terhadap kejadian sehari-hari, kadang aku sering menyepelekan untuk segera menyelesaikan diary hari itu juga. Ya Allah, maafkan aku. Apa jadinya kalau Engkau mengambil ingatan-ingatan ini dariku seketika? Tentu aku tak berdaya pada akhirnya.
“Bahkan hari yang dianggap spesial pun hanya dihabiskan dengan membalas ucapan selamat ulang tahun atau menghabiskan waktu bersama. Salah? Gak juga sih. Tapi makna apa yang bisa kamu ambil dari hal itu?

Dari keseluruhan tulisannya yang berjudul MEMAKNAI HARI itu, aku benar-benar tidak sepakat dengan kalimat yang satu ini. Karena, di tanggal 4 kemarin, aku benar-benar membalas semua ucapan selamat ulang tahun untukku. Semua. Kalau dia hanya mengucapkan HBD atau met ultah atau happy birthday ya, aku sampai cari cara cepat dan praktis untuk membalasnya, yaitu dengan mengkopi-paste ini; Makasih yaaaa… Tak lupa, aku pun me-like semua ucapan itu setelah membalasnya.

Aku justru memaknainya sebagai sesuatu yang luar biasa dan tidak bisa disepelekan. Ini adalah hal kecil, tapi mungkin menjadi kebahagiaan bagi mereka yang ku respon seperti itu. Benar nggak? Dan… setelah ku check, benar saja, di hari ulang tahunnya (5 Desember, setelah hariku), tak ada satu ucapan pun yang diresponnya sekalipun itu terlihat dari orang terdekatnya. Termasuk puisiku. Ya! Aku juga telah meluangkan waktu untuk menulis puisi untuknya di blog dan pantas saja tidak mendapat respon. Ini di luar kebiasaan, biasanya mereka yang ku hadiahi puisi akan sangat bahagia dan berterimakasih padaku. Bagaimana tidak? Ucapan dariku bisa dibilang yang ter-UNIK di antara ucapan lainnya. Tapi tidak baginya. Semoga Allah memberinya petunjuk. Jangan sampai kita bermimpi melakukan hal-hal besar lalu menyepelekan hal-hal kecil seperti ini, padahal juga adalah KEBAIKAN. Aku jadi terfikir kalimat inspiratif nih!...
“Menyepelekan perbuatan kecil pun adalah bibit kesombongan. Padahal, siapa tahu justru di sanalah sumber berkah berlimpah. Bukankah membahagiakan orang lain adalah  kebahagiaan sesungguhnya?”

***

Usai dari ‘ritual’ subuh, aku berniat untuk menata lemari hias dan menempelkan souvenir-souvenir perjalananku di sterofoam. Tapi, ketika ngelihat si ganteng (baca: kucing) tidur dengan nyenyak di atas tempat tidur, akhirnya aku malah lebih tertarik mengelus-elusnya. Akhirnya, aku terlelap di sampingnya sampai pukul 8. Huahhhh… matahari sudah sangat terik dan langit biru terbentang luas di atas sana. Aku maluuuu pada hariiiii. Hiksss.
Karena merasa sangat menyesal karena kebablasan ini, aku segera membereskan dan merapikan apa yang tadi sudah terniatkan. Dannn… taraaammm… lemariku sudah cantik dan tembok di dekat jendela pun sudah dipenuhi dengan aneka souvenir dan aksesorisku. Ye yeeee. Ternyata kalau dikerjakan dengan fokus dan totalitas, apapun bisa cepat selesai ya! Coba aja ini sudah ku mulai sejak selepas subuh tadi, tentu sekarang aku sudah bisa melakukan hal lain.
“Dek Teguuuuhhh.. map ya, Mak nggak bisa ngelihatmu ngisi materi di EFEC karena Mak belum ‘selesai’ dengan diri Mak sendirii. Maap.”
Aku benar-benar menikmati kamarku ini. hemmmm… Nyaman sekali berada di dalamnya. Fikiran jadi lapang, ibadah pun jadi jauh lebih khusyuk. Semuanya sudah tertata rapi dan bener-bener gue banget! Selepas Dhuha, aku langsung ngangkatin jemuran dan langsung nyetrika sambil dengerin stand up komedi. Sampai pukul 11.45 wib barulah selesai. Tepat setelah itu, pesanan makan siangku pun datang. Yeee… have happy lunch guysss! Sebenarnya ini bukan lunch, tapi brunch (breakfast and lunch) heehee. Sengaja nggak sarapan tadi, sebagai hukuman untuk diri yang lalai terhadap PAGI.

***

Kreativitasku sedang meletup-letup sepertinya. Ku raih selendang unguku untuk menutupi rakku supaya terlihat rapi lebih rapi. Sejak kemarin aku udah mikirin, mau diapakan rak ini supaya tidak terlihat berserak karena isinya bukan buku-bukuan. Sempat ingin menutupnya dengan spanduk saja tapi pas ngelirik ke hanger jilbab, eh tiba-tiba dapat ide!
Nggak jadi moderator toh dek? Tanyaku pada Teguh ketika melihat DPnya adalah acara talkshow di EFEC. Setahuku pagi ini dia akan jadi moderator di acara bidik misi deh!
KESAAAL ADEKK. Ga PROFESIONALLLL.. GRRRR.. balasnya dengan
menggunakan emot marah dan emot tinju.
Jadi penasaran dengan apa yang terjadi. Ah, nanti aja deh akan ku telvon dia supaya lebih puas denger ceritanya. Lanjut lagi pada kreativitasku, dengan menggunakan tali raffia, aku berhasil menciptakan head band antik, berbalut pernak-pernik dari gantungan HP, hehee. Head bandnya ini sebenarnya mirip flower crown kalau saja pernak-perniknya diganti dengan bunga. Setelah selesai, sippp ku gantung di antara souvenirku. Lanjut lagi dengan kreativitas kata. Aku memoto rangkaian balon di perayaan hari ultahnya Okta dan Lia kemarin, yang udah kempes ini dan mempostnya di Instagram. Ku tulis di captionnya; Meskipun aku menyadari pada akhirnya balon-balon ini akan KEMPES juga, tapi aku tetap memilih MENYAKSIKANNYA menyusut perlahan daripada langsung MEMBUANGNYA.  Intagram ini sudah menjadi mini-diary-ku, aku selalu bercerita di sana.

Pas sedang asyiknya bongkar-bongkar laci, ak menemukan surat usang dari seorang sahabat. Dulu. Karena, sekarang dia tidak lagi menganggapku sahabatnya meskipun aku padanya masih tetap sama. Ku baca lagi kalimat polosnya yang benar-benar tulus ini. Sesekali aku tersenyum mengenangnya..
Happy birthday ya sayang…
semoga makin sayang dan cinta sama Allah, ortu dan sahabat-sahabat. Semoga di tahun ini makin sukses.
Maaf kalau kadonya jelek. Jangan dilihat dari harga atau bentuknya ya say… tapi lihat dari keikhlasannya. Aku dari kemarin ngumpulin uang sendiri loh hehee.
Sengaja kemarin aku ke puswil hujan-hujan buat beli kado ini. sengaja nggak jajan-jajan buat ngumpulin uang. Jadi, tolong dipake n dijaga yah kadonya sayang!!!.
Tetap menjadi Elisa yang sekarang. Elysa yang buat aku sayang. Akhirnya, setelah beberapa bulan di UNRI, aku menemukan juga sosok sahabat yang selama ini aku cari…
semoga kita bisa menjadi sahabar dunia n akhirat.
YOU’r MY BEST FRIEND.

Aku kembali tersenyum. Ingin sekali rasanya kembali ke tahun 2011. Ke masa di mana aku dan dia selalu SAMA dan disebut SAMA. Aku pun mempost foto surat ini di Instagram dengan caption;
Surat usang, 2011. Hey kamu! Iyaa.. kamu. Terimakasih atas masa lalu yang indah untukku. Meskipun kau mengaku telah membawa pergi hatimu, tapi rasa sayangku padamu masih tertinggal di surat ini. Aku rindu. 2 tahun sudah tanggal ulang tahun kita telalh berlalu tanpa KITA yang dulu. Sekarang, hanya sendiri, sendiri, menyepi. Sebab, kita memang telah kehabisan kata-kata untuk sekedar jadi alasan SAPA. Mungkin kita sudah KADALUARSA.  Suratmu ini akan tetap ku simpan. Ntah sampai bila. Mungkin sampai ADA menjadi TIADA atau sampai TIADA menjadi ADA. Ntahlah.
Kembali ku lipat surat ini dan ku masukkan lagi ke dalam laci. Aku juga menemukan bungkus kado terakhirku untuknya. Kado yang spesial yang sengaja ku sisihkan untuknya dari Thailand. Sebuah kado berwarna ungu, warna kesukaannya. Aku meletakkannya di atas rak sepatunya di depan pintu kamarnya supaya ia terkejut dan segera membukanya di hari ulang tahunnya. Tapi, yang terjadi di luar prediksi. Kadoku terjatuh dan tak dihiraukannya sama sekali. Karena sedih, diam-diam aku mengambilnya kembali. Itu adalah kisah si kado terakhir. Sekarang aku bungkam.

***

“Halloooo… assalamualaikuuummm,” sapaku dari teras.
Indah membukakan pintu dan aku segera masuk ke dalam. Tasya sudah datang juga ternyata. Aku sengaja agak terlambat datang supaya bisa langsung memulai belajar dan sudah sempat mengaji dari rumah. Malam ini, Indah dan Tasya nggak ada PR, jadi aku meminta mereka untuk mengerjakan sola latihan di buku sambil ku awasi dan ku periksa lagi.
“Nteee… unggas tu apa?” tanya Indah.
Tapi, belum sempat aku menjawabnya, Indah sudah menerka-nerka artinya.
“Burung yang tidak bisa terbang ya Ntee?” tanyanya lagi.
Spontan, aku jadi terbahak-bahak dengan tebakan polosnya itu.
“Burung itu termasuk unggas loh Ndah, bisa terbang kan dia?” tanyaku lagi di sela tawa.
“Unggas itu hewan berkaki duaaa!” jelas Tasya.
“Nah, bener tuh kata Tasya!”
“Berarti manusia juga unggas donk Nte? Manusia kan kakinya 2 jugaa?” tanya Tasya.
“Hewaaaann, Tasyaaa… hewaaaann..bukan Manusiaaa,” pekik Indah.

Aku semakin tak bisa menahan tawa jadinya. Hahaha. Ketika Azan Isya berkumandang, aku mengajak mereka untuk segera sholat Isya.
“Lohhh, Ndahhh? Kok buku-buku Indah udah diberesin semuanya sih? Emangnya kita udah selesai belajarnya?” tanyaku, dengan nada tinggi. Seperti seorang guru yang sedang ngajar di kelas dan takut kalau muridnya kabur begitu saja ketika mendengar bel. *perumpamaan yang dipaksakan. Hehe.
“Biar nggak berserak ajaa loh Nteee. Kan bisa dikeluarin lagi nanti bukunyaa,” jawab Indah dengan suara tertahan, mencoba membuatku faham.
“Ohh,,  ehehe.”

***

Di warung Mie Goreng Brebes…
Aku baru saja membeli pulsa dan langsung membuat TM. Ada beberapa orang yang ingin ku hubungi malam ini. Rini. Tapi tak diangkat-angkatnya juga. Padahal, aku ingin mengulang rindu akan tempat ini bersamanya. Sengaja aku makan di tempat karena ingin meminimalisir penggunaan plastik pembungkusnya. Selanjutnya, Mami. Langsung diangkatnya…
“Mami lagi ngapain? Apo citooo?” tanyaku. El tahu, Mami merindukan ini, kan? Maaf ya Mi, El sering lalai dari mengabarimu. Tapi percayalah, El tak pernah melupa.
“Tak adooo..nonton TV haa. Lagi di mana ni? Kok ribut kali?”
“Biasalah Mi, lagi nongkrong. Namanya aja anak muda, mana mau duduk, hehee.” Sebenarnya aku takut banget kalau mami nanya aku udah makan atau belum dan pakai lauk apa. Mami pasti akan marah kalau aku ngaku makan mie goreng. Tapi, syukurlah mami tak menanyakannya.
“…eh, El, ingat kan waktu kita duduk-duduk di kantin SD dan kita foto-foto? Ada 1 fotomu tuh yang masih Ummi simpan.”

Aku langsung beranjak ke tempat duduk yang lebih ke depan karena tadinya aku duduk paling belakang. Aku punya firasat, mami akan menceritakan sesuatu yang serem-serem soalnya.
“Iya ingat. Memangnya kenapa Mi dengan foto Ela?”
“Koe (baca: kamu) itu bagusnya senyum Nampak giginya kalau difoto El. kalau nggak Nampak giginya Nampak kali pipimu itu bulatnya. Kemarin Ummi perhatikan juga foto-foto SMA-mu, yang Nampak giginya cantik-cantik semua daripada fotomu yang di LINE itu. Apalaahhh.”
“Emangnya foto El di LINE yang mana ya Mi?”
“Yang pakai baju jadulnya Ummi, terus temboknya itu banyak tulisannya.”
Oh, di KLAPER PIE. “Ohhh…itu justru yang paling kece menurut Elaa Miiii. Mantap dah tu Miii! Hehheeh. La jadi?”
“Beuhhh… nggak selera makan orang dibuatnya. Pokoknya kalau udah pesan makanan di restoran dan tiba-tiba ngelihat fotomu itu jadi hilang selera makannya.”
“Hhahaa.. kalau El sih setelah lihat foto itu justru makin selera makan, Miii..hehehe.”

Mami selalu seperti ini. Ada hal-hal dari diriku yang menurutku dan kebanyakan orang cantik, tapi bagi mami justru jelek banget. Dulu, aku suka banget pakai poni karena ngelihat artis-artis dan beberapa teman perempuan di sekolah juga berponi. Tapi, mami nggak setuju. Mukaku tenggelam lah, nggak cocok lah, makin jelek lah, macem-macem deh pokoknya. Tapi, sejauh ini memang bener sih apa yang mami pilihkan untukku itu memang yang the best. Selalu benar dan selalu tepat. Sekalipun awalnya selalu sulit aku fahami. Ya, contohnya tentang foto tadi. hehee. But, anything happen, you are mine, Mii.

Menjelang tidur, aku mencoba merenungi hari ini. Dan, muncullah buah fikir berikut ini...

 “Aku sadar sekarang, kenapa Allah tidak pernah menetapkan nilai ANGKA  atas pahala kebaikan kita. Sekalipun Allah berkata bahwa pahala sholat sendirian itu adalah 1 dan jika berjamaah itu menjadi 27 kali lipat, tapi kita tidak pernah tahu angka 1 yang dimaksud oleh Allah itu sebesar apa? Inilah hikmahnya. Hanya Ia yang mengetahui seberapa besar ukuran pahala dan dosa itu. karena, kalau kita tahu bahwa mengaji itu nilainya adalah 100 sedangkan menolong orang lain itu nilainya 50, kita pasti akan jadi PERHITUNGAN dan PEMILIH. Tentu kita akan lebih memilih mengaji daripada menolong orang, bukan? Maha Besar dan Maha Benar Allah dengan segala aturanNya.”

2 komentar:

Teguh Pambudi mengatakan...

Obrolan ditelp ga di post. Huft

Teguh Pambudi mengatakan...

Obrolan ditelp ga di post. Huft