Motor melaju dalam kemudiku…
“Ini kita udah sampai desa apa
Cin?”
“Koto Tuo.”
“Koto Tuo? Ini kan tempat KKNnya
Bang *** kan?”
“Iyeeee.”
“Walaupun orangnya udah nggak di
sini lagi, tapi kok rasanya senang banget ya Cin walaupun cuma ngelewati
desanya aja? hehe. Lobay kan?”
“Sihiyyyyyyy.. walaupun dia nggak
ada, tapi seolah-olah masih ada ya Cin?”
“Yuhuuuu. Eh, Abang tu kan
perokok Cin. Jadi, aku tu udah nawarin dia minum kopi Radix. Kan bisa berguna
juga tuh untuk mengurangi tingkat kecanduannya. Tapi, dia malah jawabnya gini; ‘Emmm…
Gitu ya Lis? Tapi, Abang belum ingin dulu untuk sekarang’, artinya, secara
sadar dia tu memilih untuk nggak menyembuhkan dirinya sesegera mungkin kan Cin?”
“Ohhh..perokok ya Abang tu? Sayang
banget ya! Lagian Cin, mana mungkin kita bisa mengubah orang lain sebelum dia
berkata; IYA pada dirinya sendiri untuk berubah,” kata Lia.
“Apa tadi Cin? Coba ulang lagi
kalimatmuu barusan!”
“Mana mungkin kita bisa mengubah
orang lain sebelum dia berkata; IYA pada dirinya sendiri untuk berubah,” Ulang
Lia.
“Sihiyyyyy. Keren ah untuk
dijadikan judul! ‘Sampai ia berkata IYA pada dirinya sendiri’. Keyeen!”
“Itu tema kita hari ini Ciiin?”
“Iyaaa..bubububuyuuu.”
Cerita-cerita hangat terus saja
mengalir dari bibir kami. Sesekali aku yang mendengarkannya, sesekali dia pula
yang gantian mendengarkanku. Kami selalu seperti ini. Aku terus saja fokus
dengan laju dan tujuku. Aku akui, aku memang agak tega dan sampai hati dalam
mengemudi. Makanya, setiap sebentar-sebentar, Lia selalu mengingatkanku; ‘Baik-baik
Cin nyupirnya!’ heheh. Hari ini, aku yang akan menyupir motor, kasihan Lia
sejak kemarin selalu dia yang menyupir. Tapi ya, resikonya, Lia harus
tahan-tahan rasa takutnya di bawah kemudiku. Ehhee.
***
“Mana pengantinnya?” kata Lia
sambil celingukan. “Ohhh..itu mereka!”
“Ihh.. aku suka dengan
panggungnya Cin. Cocok banget kalau bikin pesta taman kayak di film AKU, KAU
dan KUA. Aku pengen besok pernikahanku konsepnya taman gitu Ciin.”
“Waahhh..iya yaa..bagus banget
tuh Ciiin! Eh, kita ngantri dulu yuk? Habis foto baru deh kita makan.”
“Sipp!”
Aku meminta tolong kepada abang
fotografer untuk memfotokanku menggunakan HPku. Barulah aku tenang untuk
menyelamati kedua mempelai karena moment ini akan terabadikan di HPku.
“Lia Bang, teman Facebook,
hehee,” sapa Lia sambil mengucapkan selamat kepada bang Dian.
“Ohh… Nama Facebooknya apa?”
tanya bang Dian.
“Nur Jamaliah Bang.”
“Ohh, iya yaaa.. Oh ini ternyata
orangnya.”
“Saya Elysa Bang, temannya Liaa.”
“Wahh….makasih ya sudah mau
datang ke sini. Elysa dan Lia, tolong doakan Abang supaya proyek kreta apinya
sukses.”
“Aaamiin..”
Giliran kami menyalami Kak
Stelly, mengucapkan selamat dan doa untuk keduanya dan barulah kami berfoto.
“Mau langsung ke Pekanbaru nih?”
“Nggak Bang, kami di Kampar,
soalnya sedang pulang kampung.”
“Ohhh..iya ya, makasih ya
hati-hati di jalan.”
Kemudian kami berdua menuju meja
hidangan. Kami memilih makan nasi, sayur dan lauk daripada menu lainnya.
Soalnya, perut udah laper banget dan harus dipenuhi kebutuhan makan
siangnya. Karena bangku sudah pada
penuh, kami memilih untuk makan melantai di ruang tamu saja.
“Ciiiinnn… Kakaknya cantik banget
kan?” kata Lia.
“Iyaaa Cin.. Cantik dan ganteng.
Cocok banget deh! Kakak itu pun jilbabnya dalam ya Cinn.”
“Iyaa. Dan, nampaknya mereka pun
cuma pakai 1 konstum itu aja ya? Nggak perlu pakai konde yang terlalu
berlebihan ya Cin, cukup jilbab dan selendang pun udah cantik banget
Kakaknyaa.”
“Iyaa, persis banget kayak
bidadari syurgaaaa, apalagi mereka sama-sama pakai baju putih kayak gitu. Cin,
aku menyimpulkan sesuatu; Ternyata, cowok
dan cewek sholeh itu mereka ada di mana-mana, tugas kita adalah memperluas
silaturahmi sehingga siapa tahu salah satu dari orang-orang sholeh itu memilih
kita. Sihiiyyy,” kataku.
“Yuhuuuu.. aamiin.”
Setelah selesai makan, Lia
berencana mengajakku ke Sungai Hijau. Karena Lia nggak tahu jalannya, ia pun
bertanya ke penjaga parkiran. Aku mendengar penjelasan si abang membayangkan
rempong dan cukup jauh juga menuju ke sana. Akhirnya aku berbisik kepada Lia…
“Cin, ndak jadi aja deh ke sana.
Daripada ntar kita pulangnya kesorean. Sungai Hijau itu dekat rumah penduduk
nggak?” tanyaku sambil memandangi langit yang mulai kelabu.
Sambil melaju pelan, aku dan Lia
berdiskusi tentang tempat tujuan selanjutnya.
“Nggak ada rumah penduduk di sana
Cin. Sepi, karena memang tempatnya masih alami, banyak kebun-kebun milik
perusahaan gitu.”
“Wahhh.. serem deh kalau gitu
Cin. Ndah usah aja deh Cin! Tapam-tapam (baca: kapan-kapan) aja.”
“Nggak apa-apa Cin?”
“Nggak apa-apa. Lagian, langit
udah mulai mendung, takutnya ntar kita kehujanan. Mending kita ke tempat yang
mu bilang tadi tu! Apa tadi namanya Cin?”
“Kampung Wisata Desa Belimbing?”
“Nah iya! Ada apa aja di sana
Cin?”
“Ada rumah adat, ada sungai yang
besar. Bagus kok tempatnya!”
“Ya udah, mari kita ke sanaaa!”
Perhatianku tercuri pada Rumah
Makan di pinggir jalan yang bertuliskan IKAN KOPIOK NDAK BATULANG.
“Cin? Ikan Kopiok Ndak Batulang
tu maksudnya apa Cin?” tanyaku.
“Ikan Kapiak tu nama ikan Cin.”
“Terus? Ndak batulang tu
maksudnya apa? Emangnya Ikan itu nggak punya tulang sama sekali?”
“Ntahlah ya! kurang tahu juga
akunya.
“Kayaknya betulang deh Cin! Tapi,
cara masaknya diprestto kayaknya, jadi tulangnya lembut.”
“Apa tu Cin dipresto?”
“Aku nggak tahu pastinya, ntah
direbus biasa atau menggunakan alat tertentu. Yang jelas, cara masa dengan cara
presto itu bikin tulang jadi lunak Cin. Tapi, uniknya, ayam kalau dipresto tu
walaupun tulangnya lunak, dagingnya tetap normal lunaknya. Nggak makin lembek,
normal aja dia. Unik kan?”
“Ohhh gituu. Kece banget ya!”
Hanya butuh waktu sekitar 15
menit dari Bangkinang menuju arah pulang, kami sudah memasuki gerbang
bertuliskan Selamat Datang di Kampung Wisata Desa Belimbing. Bentangan padi
hijau menyambut kedatangan kami di sebelah kiri dan kanan jalan. Masih sekitar
300 meter lagi masuk ke dalam. Dan…
“Wahhh..Cin, sungainya lebar juga
ya! Kayak sungai Siak di bawah jembatan Letton,” kataku.
“Iya yaaa.”
Kami berfoto di pinggiran sungai
yang sudah diberi pembatas beton ini. Mirip seperti di pinggiran taman Batu 6
Bagansiapi-api, tepat di tepi sungai Rokan. Kebetulan, ada mesjid tepat di
depan kami, setelah azan Ashar berkumandang, Lia sholat di sana dan aku
menyusulnya untuk mengecas HP. Karena mengantuk, aku sampai ketiduran menunggui
Lia sholat.
“Ada setengah jam aku tidur
barusan Cin?” tanyaku yang baru saja tersadar.
“Ndah ah! Aku aja sholat nggak
sampai setengah jam! Yuk?” ajak Lia.
“Mana rumah adat yang mu bilang
tu Cin?”
Lia mengaku tidak tahu. Akhirnya
ia bertanya kepada anak-anak yang sedang main di dekat sungat. Ternyata tak
sampai 5 menit dari sini jaraknya. Rumah adat ini bernama RUMAH LONTIOK.
“Lontiok itu apa artinya Cin?”
tanyaku.
“Lentik Cin.”
Oh..mungkin karena atapnya
lengkung banget, bentuknya persis seperti reruncingan atap rumah adat Sumatera
Barat. Mungkin itulah sebabnya dinamai ‘Rumah Lentik’. Aku dan Lia berfoto
bergantian di depan rumah adat ini. Sayangnya, kami nggak bisa masuk ke dalam
karena nampaknya pintunya memang sengaja dikunci.
“Pengen kali aku beli tongsis
yang ada tomboknya langsung Cin, jadi nggak perlu pakai timer lagi dan kita
bisa foto berdua juga.”
“Iya yaa.. Kece tuh!”
Aku jadi berfikir, daripada beli
sepatu boot, lebih baik ku dahulukan saja tongsis ini lebih dulu. Berfoto sudah
menjadi kebutuhan bagiku.
“Udah? Pulang kita lagi?”
“Yuhuuuu…mari kita pulang! Biar
aku yang nyupir ya Cin!” pintaku.
Kami langsung menggunakan mantel
supaya sekalipun hujan di tengah jalan, kami tetap bisa melanjutkan perjalanan.
Dan… benar saja, ternyata hujan
pun mulai turun, setelah kami melewati pasar Kuok. Aku terus melaju, membawa
Lia menerabas rinai hujan. Segala sesuatunya sudah aman, tidak khawatir lagi
akan air hujan karena kami sudah bermantel.
“Cin, mari kita berdiskusi
tentang Tuhan!” ajakku.
“Allah?”
“Iya Ciin.”
“Mari!”
Mulailah kami berdiskusi tentang
segala hal yang berhubungan dengan priritas hidup, relativitas penilaian
manusia, relativitas benar-salah versi manusia, hingga bagaimana caranya meraih
syurga.
“Menurutku Cin, kita hanya
bersaing dengan diri kita sendiri. Kita hanya harus menjadi versi yang terbaik
dari diri kita. Karena, rasanya tidak adil kalau standarnya adalah standar
umum. Masak kita yang sehat dan masih muda kayak gini ibadahnya disamakan
dengan mereka yang nggak punya kaki dan terbatas? Ya kan? Hemmm.. yang jelas,
Syurga itu banyak pintu masuknya dan Syurga itu ada banyak tingkatannya,” jelas
Lia.
Aku manggut-manggut dan
tersenyum. Mataku berbinar, segalanya terasa jauh lebih cerah sekarang.
Terimakasih wahai sahabat. Menjadi sahabatmu adalah kemewahan bagi hidupku.
Alhamdulillah.
***
“Cin, nanti kalau jumpa Sate Ayam
Kampuang, kita singgah dulu yuk?” ajak Lia.
“Ayuuukkk!”
Kami sudah berada di jalan Raya
XIII Koto Kampar. XIII Koto Kampar adalah salah satu 21 Kecamatan yang ada di
Kabupaten Kampar. Kami melintasi Desa Batu Basurat, Desa Binamang, Desa Pongkai
Istiqomah, Desa Koto Tuo dan singgah sebentar di Desa Muara Takus untuk membeli
Sate Ayam Kampuang.
“Mu pesan berapa Cin?” tanyaku.
“2,5 dan 2,4.”
“Apaan tu Cin?”
“Kalau di sini, sate per tusuk
itu harganya seribu dan dan lontongnya juga seribuan. Jadi, mesannya gampang.
2,5 itu artinya 2 lontongnya dan satenya 5 tusuk.”
“Oooo…gituuuu…”
“Kalau di Pekanbaru kan biasanya
kita bilang beli se porsi atau setengah bungkus, kan?”
“Iya yaaa. Unik juga! Sama halnya
kayak Bakso Malang Cin. Mie per gulungnya seribu, kerupuknya seribu, tahunya
seribu, jadi ngitungnya gampang.”
Kami duduk menunggu sate
pesananan tanpa melepas mantel. Kami merasa orang-orang sedang ngelihatin kami,
karena kami terlihat seperti orang jauh yang baru datang ke kampung ini,
apalagi di sini sedang nggak hujan.
“Cin, motor mio merah itu mirip
kayak motornya Bang *ul,” kataku.
“Iya Cin? Ciyeee… ingat dank!”
“Hhehee. Nggak tahu kenapa ya
Cin, semua tentang dia itu sangat ku ingat. Tadi, waktu kita ngelewati Desa
Koto Tuo tu aku ngerasa seneeeng banget karena tahu dia pernah KKN di sana.
Padahal orangnya udah nggak ada lagi di sana dan dia pun nggak tahu kalau aku
ke sini, hahaha. Aneh ya?”
“Ciyeee. Kalau dilamar sama Abang
tu, mu mau Cin?”
Aku tertohok dengan pertanyaan
Lia barusan. Meskipun aku merasa kagum dengan bang **l, tapi medengar
pertanyaan barusan ternyata tidak membuatku sigap menjawab ‘IYA’. Ntahlah!
Mungkin itu bukti bahwa arahku belum ke sana.
“Pelan-pelan aja ya Cin
nyupirnya, kita udah memasuki jalan yang rusak soalnya,” kata Lia.
“Yuhuu.. bububuyu.”
“Bububuyuu yaa!” kata Lia. “Eh,
aku nggak lancar loh bilang Bububuyuu, Cin.”
“Okta lah yang paling lancar Cin.
Ahahha.”
Aku memfokuskan pandangan ke
jalanan yang terbentang di hadapanku. Ketika mengitari tikungan, aku selalu
membunyikan klakson supaya kendaraan yang datang dari arah berlawanan lebih waspada.
Setelah melewati desa Gunung Bungsu ini, kami mulai memasuki kecamatan Koto
Kampar Hulu. Ada Saat ini aku sudah memasuki kecamatan Koto Kampar Hulu. Ada 7
desa di kecamatan ini, tapi desa desa di
kecamatan ini; Desa Tanjung, desa Tabing, Gunung Malelo, Sibiruang, Bandur
Picak dan desa Batas. Tapi, kami hanya berhenti sampai di desa Tabing, di rumah
kediaman Lia berada. Mungkin, besok Lia akan mengajakku jalan-jalan ke desa
lainnya.
“Wahhhh… mereka sedang sholat
ternyata,” kata Lia.
Aku melirik ke arah ruang
keluarga sambil melepas mantel, terlihat dek Ulmi, Emak dan Apak sedang sholat
maghrib berjamaah. Aku segera masuk ke dalam rumah sementara Lia masih menjemur
mantel kami di teras.
“Loh? Mana HPku ya?” Aku
kebingungan sendiri ketika membongkar tas di kamar, ternyata HPku nggak ku
temui.
“Ciyeeee…pasti dapat spot baru
lagi tadi kan untuk foto-foto?” tanya dek Ulmi dalam balutan mukenanya.
“Iyaaa doonkk..seru dehh!”
jawabku, berusaha tenang. Tapi, sesaat kemudian panik lagi.
Aku meminta dek Ulmi
menge-check-kan jok motor, siapa tahu HPku ada di sana. Meskipun rasanya mustahil
banget rasanya ada di sana. Aku terus mencarinya di tas ini. Ku
goncang-goncangkan tasnya supaya terasa kalau ada sesuatu yang berat di
dalamnya.
“Yang ada cuma ini aja Kak!” Dek
Ulmi menunjukkan flowercrownku yang udah basah kuyup dan meletakkannya di
dekatku.
Aku semakin panik. Lia hanya
menanyai apa yang terjadi dan tidak ambil peduli lalu langsung sholat maghrib.
Ketika sadar bahwa waktu Maghrib sangat singkat, aku pun segera mandi untuk
mengejar sholat Maghrib. Sepanjang mandi dan sholat Maghrib, hatiku terus
menyebut-nyebutnya dalam doa. Semuanya jadi serba tak karuan.
“Ya Allah… maafkan hamba. Hamba tak
bermaksud untuk mengingkarimu lewat diskusi tentangMu tadi di perjalanan. Hamba
justru ingin menemukan kebenaran supaya hati ini menjadi semakin mantap dan
yakin padaMu. Ampuun ya Allah…aammpuuun kalau ternyata Engkau marah padaku. Tapi
tolong ya Allah, jangan ambil HPku dariku.. hamba sangat membutuhkannya. Hukum saja
aku dengan cara lainnya ya Allah. Ammpuuunn. Hamba tak bermaksud membuatMu
marah. Ampuuni akuuu.”
“Alah jumpo HPnyoo Cin?” tanya
Lia yang baru selesai sholat sunnah.
“Belummm Ciiiinnn.. Hikss.. aku
nggak tahu lagi dia di mana Ciinnn,” jawabku dengan memelas.
Lia segera ke kamar sementara aku
masih ingin mengulang doa lagi.
“Woyyyy! Bububuuyuuuu! Iko apo
namonyooo?” pekik Lia dari dalam kamar. “Bongkar dulu semuanya, barulah bilang
nggak adoooo. Bububuyuuu!” lanjut Lia lagi.
Ada sesungging senyum yang terbit
dari bibirku dengan tangan yang masih tengadah dan mata yang masih terpejam
takzim.
“Di mana jumpanya Ciiinnn?”
“Saku tas yang sebelah kiri.”
“Ya ampuuuunn Ciiiiin, legaaaaa
kali hatikuuuuu haa! Sampai nangis-nangis aku daritadi karena khawatir. Tapi,
yang aku herankan, baik dirimu ataupun Dek Ulmi kok nyantai aja. nggak ada yang
terlihat prihatin kepadaku. Seolah-olah kalian tu nggak percaya kalau HPku
beneran hilang.”
“Hah! Mu aja yang cerboh! Lupa naruknya
di manaa!. Eh iya Cin, malam ini ada acara mauled nabi di mushola, pergi kita?”
“Yuk!”
“Mariii! Kita seimbangkan antara
jalan-jalan dan menuntut ilmu ya! Ye yeee! Mu nggak capek kan?”
“Nggak terlalu kok!”
“Urusan ngantuk atau capek,
nantilah kita fikirkan ya! Yang penting kita berangkat dulu!”
Setelah makan malam bersama, kami
berangkat ke mushola dengan menggunakan motor dan payung, karena langit belum
juga menyeka runtuhan airnya ke bumi.
***
“Kita duduk paling depan yuk Cin?”
ajak Lia.
“Yuk!”
Tepat setelah kami duduk, acara
inti mulai berlangsung. Pak Ustad yang diundang dari Bangkinan pun mulai
membuka bicara…
“…Ingatlah Aku, maka aku akan
mengingatmu. Bersyukurlah kepadaKu dan janganlah melampaui batas. Allah telah
meridhoi iman kita, kesehatan kita, kesempatan kita sehingga pada malam ini
kita bisa hadir di sini. Tapi, jangan sampai pula kedatangan kita ke sini
adalah karena ada RIA. Bapak-Ibu ada yang tahu Ria itu apa?” tanya pak Ustad.
“Tahuuuu.. Somboooongg,” jawab
beberapa suara dari jamaah perempuan.
“Ria itu adalah MEMBANGGAKAN,
Pak, Buk! Ada 2 jenis Ria; Ria Individu
dan Ria Global. Contoh Ria individu adalah mengharapkan pujian orang banyak
atas kebaikan yang kita lakukan. Sedangkan contoh Ria Global adalah
membanggakan seseorang yang menyebabkan kita melakukan sesuatu. Misalnya, kita
datang ke sini malam ini karena tahu bahwa ada pak Ibrahim Ali dan kita merasa
bangga,” jelas pak Ustad sambil memandang ke arah nama yang disebutnya.
“Ibrahim Ali tu siapa Cin?”
tanyaku pada Lia.
“Wakil Bupati Kampar Cin.”
“Ohhhh… luar biasa banget ya
Bapak tu mau jauh-jauh ke sini dengan kondisi jalan yang nggak terlalu bagus.”
“Alhamdulillah. Kabarnya, Bapak
tu mau mencalonkan diri jadi Bupati Kampar tahun depan Cin.”
“Semoga terpilih sosok yang
terbaik nantinya ya Ciin. Aamiin.”
Selanjutnya pak Ustad
menceritakan tentang kisah kelahiran Rosulullah dan keteladanan hidupnya. Aku sempat
beberapa saat terkantuk-kantuk, Lia juga. Tapi, kami sangat bersyukur banget karena di
ujung ceramahnya, pak Ustad menjelaskan tentang pakaian wanita muslimah yang
sesuai dengan ajaran Islam. Aku dan Lia merasa sangat lega mendengar penjelasan
itu. Semoga akan lebih banyak lagi wanita muslimah di desa ini yang benar-benar
menutup auratnya. Aamiin.
“Cin, kita pulang duluan? Udah ngantuk?”
tanya Lia.
“Yuklah!”
Sebenarnya acara belum selesai. Saat
ini sedang berlangsung sosialisasi tentang LIRA (Lumbung Aspirasi Rakyat) yang
merupakan bentukan dari pemerintah kabupaten Kampar, berisi pemuda-pemuda yang
mengadvokasi kebijakan, fenomena dan kejanggalan yang terjadi di masyarakat.
“Jujur, aku kurang suka Cin kalau
ujung-ujungnya jadi berbau politik kayak gini,” bisik Lia sambil menghidupkan
motor.
“Iyaaa. Sejak awal tadi pun aku
udah mendengar banyak ‘sanjungan’ untuk pak Wakil tu. Yaaa.. tapi semoga saja
segala sesuatunya berjalan dengan baik dan jujur ya Cin. Aamiin.”
Mungkin benar, aku sangat lelah
hari ini. Setelah sampai di rumah, aku dan Lia langsung bersiap untuk tidur. Mata sudah sangat
mengantuk. Padahal, aku ingin menuntaskan ketikan tentang cerita hari ini. Tapi,
apa daya mataku tak sanggup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar