Sabtu, 26 Desember 2015

Sampai Ia Berkata IYA kepada Dirinya



Motor melaju dalam kemudiku…
“Ini kita udah sampai desa apa Cin?”
“Koto Tuo.”
“Koto Tuo? Ini kan tempat KKNnya Bang *** kan?”
“Iyeeee.”
“Walaupun orangnya udah nggak di sini lagi, tapi kok rasanya senang banget ya Cin walaupun cuma ngelewati desanya aja? hehe. Lobay kan?”
“Sihiyyyyyyy.. walaupun dia nggak ada, tapi seolah-olah masih ada ya Cin?”
“Yuhuuuu. Eh, Abang tu kan perokok Cin. Jadi, aku tu udah nawarin dia minum kopi Radix. Kan bisa berguna juga tuh untuk mengurangi tingkat kecanduannya. Tapi, dia malah jawabnya gini; ‘Emmm… Gitu ya Lis? Tapi, Abang belum ingin dulu untuk sekarang’, artinya, secara sadar dia tu memilih untuk nggak menyembuhkan dirinya sesegera mungkin kan Cin?”

“Ohhh..perokok ya Abang tu? Sayang banget ya! Lagian Cin, mana mungkin kita bisa mengubah orang lain sebelum dia berkata; IYA pada dirinya sendiri untuk berubah,” kata Lia.
“Apa tadi Cin? Coba ulang lagi kalimatmuu barusan!”
“Mana mungkin kita bisa mengubah orang lain sebelum dia berkata; IYA pada dirinya sendiri untuk berubah,” Ulang Lia.
“Sihiyyyyy. Keren ah untuk dijadikan judul! ‘Sampai ia berkata IYA pada dirinya sendiri’. Keyeen!”
“Itu tema kita hari ini Ciiin?”
“Iyaaa..bubububuyuuu.”
Cerita-cerita hangat terus saja mengalir dari bibir kami. Sesekali aku yang mendengarkannya, sesekali dia pula yang gantian mendengarkanku. Kami selalu seperti ini. Aku terus saja fokus dengan laju dan tujuku. Aku akui, aku memang agak tega dan sampai hati dalam mengemudi. Makanya, setiap sebentar-sebentar, Lia selalu mengingatkanku; ‘Baik-baik Cin nyupirnya!’ heheh. Hari ini, aku yang akan menyupir motor, kasihan Lia sejak kemarin selalu dia yang menyupir. Tapi ya, resikonya, Lia harus tahan-tahan rasa takutnya di bawah kemudiku. Ehhee.

***

“Mana pengantinnya?” kata Lia sambil celingukan. “Ohhh..itu mereka!”
“Ihh.. aku suka dengan panggungnya Cin. Cocok banget kalau bikin pesta taman kayak di film AKU, KAU dan KUA. Aku pengen besok pernikahanku konsepnya taman gitu Ciin.”
“Waahhh..iya yaa..bagus banget tuh Ciiin! Eh, kita ngantri dulu yuk? Habis foto baru deh kita makan.”
“Sipp!”
Aku meminta tolong kepada abang fotografer untuk memfotokanku menggunakan HPku. Barulah aku tenang untuk menyelamati kedua mempelai karena moment ini akan terabadikan di HPku.
“Lia Bang, teman Facebook, hehee,” sapa Lia sambil mengucapkan selamat kepada bang Dian.
“Ohh… Nama Facebooknya apa?” tanya bang Dian.
“Nur Jamaliah Bang.”
“Ohh, iya yaaa.. Oh ini ternyata orangnya.”
“Saya Elysa Bang, temannya Liaa.”
“Wahh….makasih ya sudah mau datang ke sini. Elysa dan Lia, tolong doakan Abang supaya proyek kreta apinya sukses.”
“Aaamiin..”
Giliran kami menyalami Kak Stelly, mengucapkan selamat dan doa untuk keduanya dan barulah kami berfoto.

“Mau langsung ke Pekanbaru nih?”
“Nggak Bang, kami di Kampar, soalnya sedang pulang kampung.”
“Ohhh..iya ya, makasih ya hati-hati di jalan.”
Kemudian kami berdua menuju meja hidangan. Kami memilih makan nasi, sayur dan lauk daripada menu lainnya. Soalnya, perut udah laper banget dan harus dipenuhi kebutuhan makan siangnya.  Karena bangku sudah pada penuh, kami memilih untuk makan melantai di ruang tamu saja.
“Ciiiinnn… Kakaknya cantik banget kan?” kata Lia.
“Iyaaa Cin.. Cantik dan ganteng. Cocok banget deh! Kakak itu pun jilbabnya dalam ya Cinn.”
“Iyaa. Dan, nampaknya mereka pun cuma pakai 1 konstum itu aja ya? Nggak perlu pakai konde yang terlalu berlebihan ya Cin, cukup jilbab dan selendang pun udah cantik banget Kakaknyaa.”
“Iyaa, persis banget kayak bidadari syurgaaaa, apalagi mereka sama-sama pakai baju putih kayak gitu. Cin, aku menyimpulkan sesuatu; Ternyata, cowok dan cewek sholeh itu mereka ada di mana-mana, tugas kita adalah memperluas silaturahmi sehingga siapa tahu salah satu dari orang-orang sholeh itu memilih kita. Sihiiyyy,” kataku.
“Yuhuuuu.. aamiin.”

Setelah selesai makan, Lia berencana mengajakku ke Sungai Hijau. Karena Lia nggak tahu jalannya, ia pun bertanya ke penjaga parkiran. Aku mendengar penjelasan si abang membayangkan rempong dan cukup jauh juga menuju ke sana. Akhirnya aku berbisik kepada Lia…
“Cin, ndak jadi aja deh ke sana. Daripada ntar kita pulangnya kesorean. Sungai Hijau itu dekat rumah penduduk nggak?” tanyaku sambil memandangi langit yang mulai kelabu.
Sambil melaju pelan, aku dan Lia berdiskusi tentang tempat tujuan selanjutnya.
“Nggak ada rumah penduduk di sana Cin. Sepi, karena memang tempatnya masih alami, banyak kebun-kebun milik perusahaan gitu.”
“Wahhh.. serem deh kalau gitu Cin. Ndah usah aja deh Cin! Tapam-tapam (baca: kapan-kapan) aja.”
“Nggak apa-apa Cin?”
“Nggak apa-apa. Lagian, langit udah mulai mendung, takutnya ntar kita kehujanan. Mending kita ke tempat yang mu bilang tadi tu! Apa tadi namanya Cin?”
“Kampung Wisata Desa Belimbing?”

“Nah iya! Ada apa aja di sana Cin?”
“Ada rumah adat, ada sungai yang besar. Bagus kok tempatnya!”
“Ya udah, mari kita ke sanaaa!”
Perhatianku tercuri pada Rumah Makan di pinggir jalan yang bertuliskan IKAN KOPIOK NDAK BATULANG.
“Cin? Ikan Kopiok Ndak Batulang tu maksudnya apa Cin?” tanyaku.
“Ikan Kapiak tu nama ikan Cin.”
“Terus? Ndak batulang tu maksudnya apa? Emangnya Ikan itu nggak punya tulang sama sekali?”
“Ntahlah ya! kurang tahu juga akunya.
“Kayaknya betulang deh Cin! Tapi, cara masaknya diprestto kayaknya, jadi tulangnya lembut.”
“Apa tu Cin dipresto?”
“Aku nggak tahu pastinya, ntah direbus biasa atau menggunakan alat tertentu. Yang jelas, cara masa dengan cara presto itu bikin tulang jadi lunak Cin. Tapi, uniknya, ayam kalau dipresto tu walaupun tulangnya lunak, dagingnya tetap normal lunaknya. Nggak makin lembek, normal aja dia. Unik kan?”
“Ohhh gituu. Kece banget ya!”

Hanya butuh waktu sekitar 15 menit dari Bangkinang menuju arah pulang, kami sudah memasuki gerbang bertuliskan Selamat Datang di Kampung Wisata Desa Belimbing. Bentangan padi hijau menyambut kedatangan kami di sebelah kiri dan kanan jalan. Masih sekitar 300 meter lagi masuk ke dalam. Dan…
“Wahhh..Cin, sungainya lebar juga ya! Kayak sungai Siak di bawah jembatan Letton,” kataku.
“Iya yaaa.”
Kami berfoto di pinggiran sungai yang sudah diberi pembatas beton ini. Mirip seperti di pinggiran taman Batu 6 Bagansiapi-api, tepat di tepi sungai Rokan. Kebetulan, ada mesjid tepat di depan kami, setelah azan Ashar berkumandang, Lia sholat di sana dan aku menyusulnya untuk mengecas HP. Karena mengantuk, aku sampai ketiduran menunggui Lia sholat.
“Ada setengah jam aku tidur barusan Cin?” tanyaku yang baru saja tersadar.
“Ndah ah! Aku aja sholat nggak sampai setengah jam! Yuk?” ajak Lia.
“Mana rumah adat yang mu bilang tu Cin?”
Lia mengaku tidak tahu. Akhirnya ia bertanya kepada anak-anak yang sedang main di dekat sungat. Ternyata tak sampai 5 menit dari sini jaraknya. Rumah adat ini bernama RUMAH LONTIOK.
“Lontiok itu apa artinya Cin?” tanyaku.
“Lentik Cin.”

Oh..mungkin karena atapnya lengkung banget, bentuknya persis seperti reruncingan atap rumah adat Sumatera Barat. Mungkin itulah sebabnya dinamai ‘Rumah Lentik’. Aku dan Lia berfoto bergantian di depan rumah adat ini. Sayangnya, kami nggak bisa masuk ke dalam karena nampaknya pintunya memang sengaja dikunci.
“Pengen kali aku beli tongsis yang ada tomboknya langsung Cin, jadi nggak perlu pakai timer lagi dan kita bisa foto berdua juga.”
“Iya yaa.. Kece tuh!”
Aku jadi berfikir, daripada beli sepatu boot, lebih baik ku dahulukan saja tongsis ini lebih dulu. Berfoto sudah menjadi kebutuhan bagiku.
“Udah? Pulang kita lagi?”
“Yuhuuuu…mari kita pulang! Biar aku yang nyupir ya Cin!” pintaku.
Kami langsung menggunakan mantel supaya sekalipun hujan di tengah jalan, kami tetap bisa melanjutkan perjalanan.

Dan… benar saja, ternyata hujan pun mulai turun, setelah kami melewati pasar Kuok. Aku terus melaju, membawa Lia menerabas rinai hujan. Segala sesuatunya sudah aman, tidak khawatir lagi akan air hujan karena kami sudah bermantel.
“Cin, mari kita berdiskusi tentang Tuhan!” ajakku.
“Allah?”
“Iya Ciin.”
“Mari!”
Mulailah kami berdiskusi tentang segala hal yang berhubungan dengan priritas hidup, relativitas penilaian manusia, relativitas benar-salah versi manusia, hingga bagaimana caranya meraih syurga.
“Menurutku Cin, kita hanya bersaing dengan diri kita sendiri. Kita hanya harus menjadi versi yang terbaik dari diri kita. Karena, rasanya tidak adil kalau standarnya adalah standar umum. Masak kita yang sehat dan masih muda kayak gini ibadahnya disamakan dengan mereka yang nggak punya kaki dan terbatas? Ya kan? Hemmm.. yang jelas, Syurga itu banyak pintu masuknya dan Syurga itu ada banyak tingkatannya,” jelas Lia.
Aku manggut-manggut dan tersenyum. Mataku berbinar, segalanya terasa jauh lebih cerah sekarang. Terimakasih wahai sahabat. Menjadi sahabatmu adalah kemewahan bagi hidupku. Alhamdulillah.

***

“Cin, nanti kalau jumpa Sate Ayam Kampuang, kita singgah dulu yuk?” ajak Lia.
“Ayuuukkk!”
Kami sudah berada di jalan Raya XIII Koto Kampar. XIII Koto Kampar adalah salah satu 21 Kecamatan yang ada di Kabupaten Kampar. Kami melintasi Desa Batu Basurat, Desa Binamang, Desa Pongkai Istiqomah, Desa Koto Tuo dan singgah sebentar di Desa Muara Takus untuk membeli Sate Ayam Kampuang.
“Mu pesan berapa Cin?” tanyaku.
“2,5 dan 2,4.”
“Apaan tu Cin?”
“Kalau di sini, sate per tusuk itu harganya seribu dan dan lontongnya juga seribuan. Jadi, mesannya gampang. 2,5 itu artinya 2 lontongnya dan satenya 5 tusuk.”
“Oooo…gituuuu…”
“Kalau di Pekanbaru kan biasanya kita bilang beli se porsi atau setengah bungkus, kan?”
“Iya yaaa. Unik juga! Sama halnya kayak Bakso Malang Cin. Mie per gulungnya seribu, kerupuknya seribu, tahunya seribu, jadi ngitungnya gampang.”

Kami duduk menunggu sate pesananan tanpa melepas mantel. Kami merasa orang-orang sedang ngelihatin kami, karena kami terlihat seperti orang jauh yang baru datang ke kampung ini, apalagi di sini sedang nggak hujan.
“Cin, motor mio merah itu mirip kayak motornya Bang *ul,” kataku.
“Iya Cin? Ciyeee… ingat dank!”
“Hhehee. Nggak tahu kenapa ya Cin, semua tentang dia itu sangat ku ingat. Tadi, waktu kita ngelewati Desa Koto Tuo tu aku ngerasa seneeeng banget karena tahu dia pernah KKN di sana. Padahal orangnya udah nggak ada lagi di sana dan dia pun nggak tahu kalau aku ke sini, hahaha. Aneh ya?”
“Ciyeee. Kalau dilamar sama Abang tu, mu mau Cin?”
Aku tertohok dengan pertanyaan Lia barusan. Meskipun aku merasa kagum dengan bang **l, tapi medengar pertanyaan barusan ternyata tidak membuatku sigap menjawab ‘IYA’. Ntahlah! Mungkin itu bukti bahwa arahku belum ke sana.
“Pelan-pelan aja ya Cin nyupirnya, kita udah memasuki jalan yang rusak soalnya,” kata Lia.
“Yuhuu.. bububuyu.”
“Bububuyuu yaa!” kata Lia. “Eh, aku nggak lancar loh bilang Bububuyuu, Cin.”

“Okta lah yang paling lancar Cin. Ahahha.”
Aku memfokuskan pandangan ke jalanan yang terbentang di hadapanku. Ketika mengitari tikungan, aku selalu membunyikan klakson supaya kendaraan yang datang dari arah berlawanan lebih waspada. Setelah melewati desa Gunung Bungsu ini, kami mulai memasuki kecamatan Koto Kampar Hulu. Ada Saat ini aku sudah memasuki kecamatan Koto Kampar Hulu. Ada 7 desa di kecamatan ini, tapi desa  desa di kecamatan ini; Desa Tanjung, desa Tabing, Gunung Malelo, Sibiruang, Bandur Picak dan desa Batas. Tapi, kami hanya berhenti sampai di desa Tabing, di rumah kediaman Lia berada. Mungkin, besok Lia akan mengajakku jalan-jalan ke desa lainnya.
“Wahhhh… mereka sedang sholat ternyata,” kata Lia.
Aku melirik ke arah ruang keluarga sambil melepas mantel, terlihat dek Ulmi, Emak dan Apak sedang sholat maghrib berjamaah. Aku segera masuk ke dalam rumah sementara Lia masih menjemur mantel kami di teras.

“Loh? Mana HPku ya?” Aku kebingungan sendiri ketika membongkar tas di kamar, ternyata HPku nggak ku temui.
“Ciyeeee…pasti dapat spot baru lagi tadi kan untuk foto-foto?” tanya dek Ulmi dalam balutan mukenanya.
“Iyaaa doonkk..seru dehh!” jawabku, berusaha tenang. Tapi, sesaat kemudian panik lagi.
Aku meminta dek Ulmi menge-check-kan jok motor, siapa tahu HPku ada di sana. Meskipun rasanya mustahil banget rasanya ada di sana. Aku terus mencarinya di tas ini. Ku goncang-goncangkan tasnya supaya terasa kalau ada sesuatu yang berat di dalamnya.
“Yang ada cuma ini aja Kak!” Dek Ulmi menunjukkan flowercrownku yang udah basah kuyup dan meletakkannya di dekatku.
Aku semakin panik. Lia hanya menanyai apa yang terjadi dan tidak ambil peduli lalu langsung sholat maghrib. Ketika sadar bahwa waktu Maghrib sangat singkat, aku pun segera mandi untuk mengejar sholat Maghrib. Sepanjang mandi dan sholat Maghrib, hatiku terus menyebut-nyebutnya dalam doa. Semuanya jadi serba tak karuan.
“Ya Allah… maafkan hamba. Hamba tak bermaksud untuk mengingkarimu lewat diskusi tentangMu tadi di perjalanan. Hamba justru ingin menemukan kebenaran supaya hati ini menjadi semakin mantap dan yakin padaMu. Ampuun ya Allah…aammpuuun kalau ternyata Engkau marah padaku. Tapi tolong ya Allah, jangan ambil HPku dariku.. hamba sangat membutuhkannya. Hukum saja aku dengan cara lainnya ya Allah. Ammpuuunn. Hamba tak bermaksud membuatMu marah. Ampuuni akuuu.”

“Alah jumpo HPnyoo Cin?” tanya Lia yang baru selesai sholat sunnah.
“Belummm Ciiiinnn.. Hikss.. aku nggak tahu lagi dia di mana Ciinnn,” jawabku dengan memelas.
Lia segera ke kamar sementara aku masih ingin mengulang doa lagi.
“Woyyyy! Bububuuyuuuu! Iko apo namonyooo?” pekik Lia dari dalam kamar. “Bongkar dulu semuanya, barulah bilang nggak adoooo. Bububuyuuu!” lanjut Lia lagi.
Ada sesungging senyum yang terbit dari bibirku dengan tangan yang masih tengadah dan mata yang masih terpejam takzim.
“Di mana jumpanya Ciiinnn?”
“Saku tas yang sebelah kiri.”
“Ya ampuuuunn Ciiiiin, legaaaaa kali hatikuuuuu haa! Sampai nangis-nangis aku daritadi karena khawatir. Tapi, yang aku herankan, baik dirimu ataupun Dek Ulmi kok nyantai aja. nggak ada yang terlihat prihatin kepadaku. Seolah-olah kalian tu nggak percaya kalau HPku beneran hilang.”
“Hah! Mu aja yang cerboh! Lupa naruknya di manaa!. Eh iya Cin, malam ini ada acara mauled nabi di mushola, pergi kita?”
“Yuk!”
“Mariii! Kita seimbangkan antara jalan-jalan dan menuntut ilmu ya! Ye yeee! Mu nggak capek kan?”
“Nggak terlalu kok!”
“Urusan ngantuk atau capek, nantilah kita fikirkan ya! Yang penting kita berangkat dulu!”
Setelah makan malam bersama, kami berangkat ke mushola dengan menggunakan motor dan payung, karena langit belum juga menyeka runtuhan airnya ke bumi.

***

“Kita duduk paling depan yuk Cin?” ajak Lia.
“Yuk!”
Tepat setelah kami duduk, acara inti mulai berlangsung. Pak Ustad yang diundang dari Bangkinan pun mulai membuka bicara…
“…Ingatlah Aku, maka aku akan mengingatmu. Bersyukurlah kepadaKu dan janganlah melampaui batas. Allah telah meridhoi iman kita, kesehatan kita, kesempatan kita sehingga pada malam ini kita bisa hadir di sini. Tapi, jangan sampai pula kedatangan kita ke sini adalah karena ada RIA. Bapak-Ibu ada yang tahu Ria itu apa?” tanya pak Ustad.
“Tahuuuu.. Somboooongg,” jawab beberapa suara dari jamaah perempuan.
“Ria itu adalah MEMBANGGAKAN, Pak, Buk! Ada 2 jenis Ria; Ria Individu dan Ria Global. Contoh Ria individu adalah mengharapkan pujian orang banyak atas kebaikan yang kita lakukan. Sedangkan contoh Ria Global adalah membanggakan seseorang yang menyebabkan kita melakukan sesuatu. Misalnya, kita datang ke sini malam ini karena tahu bahwa ada pak Ibrahim Ali dan kita merasa bangga,” jelas pak Ustad sambil memandang ke arah nama yang disebutnya.

“Ibrahim Ali tu siapa Cin?” tanyaku pada Lia.
“Wakil Bupati Kampar Cin.”
“Ohhhh… luar biasa banget ya Bapak tu mau jauh-jauh ke sini dengan kondisi jalan yang nggak terlalu bagus.”
“Alhamdulillah. Kabarnya, Bapak tu mau mencalonkan diri jadi Bupati Kampar tahun depan Cin.”
“Semoga terpilih sosok yang terbaik nantinya ya Ciin. Aamiin.”
Selanjutnya pak Ustad menceritakan tentang kisah kelahiran Rosulullah dan keteladanan hidupnya. Aku sempat beberapa saat terkantuk-kantuk, Lia juga.  Tapi, kami sangat bersyukur banget karena di ujung ceramahnya, pak Ustad menjelaskan tentang pakaian wanita muslimah yang sesuai dengan ajaran Islam. Aku dan Lia merasa sangat lega mendengar penjelasan itu. Semoga akan lebih banyak lagi wanita muslimah di desa ini yang benar-benar menutup auratnya. Aamiin.
“Cin, kita pulang duluan? Udah ngantuk?” tanya Lia.
“Yuklah!”

Sebenarnya acara belum selesai. Saat ini sedang berlangsung sosialisasi tentang LIRA (Lumbung Aspirasi Rakyat) yang merupakan bentukan dari pemerintah kabupaten Kampar, berisi pemuda-pemuda yang mengadvokasi kebijakan, fenomena dan kejanggalan yang terjadi di masyarakat.
“Jujur, aku kurang suka Cin kalau ujung-ujungnya jadi berbau politik kayak gini,” bisik Lia sambil menghidupkan motor.
“Iyaaa. Sejak awal tadi pun aku udah mendengar banyak ‘sanjungan’ untuk pak Wakil tu. Yaaa.. tapi semoga saja segala sesuatunya berjalan dengan baik dan jujur ya Cin. Aamiin.”
Mungkin benar, aku sangat lelah hari ini. Setelah sampai di rumah, aku dan Lia langsung  bersiap untuk tidur. Mata sudah sangat mengantuk. Padahal, aku ingin menuntaskan ketikan tentang cerita hari ini. Tapi, apa daya mataku tak sanggup.

Tidak ada komentar: