
Jangan berfikir, diary-diaryku ini selalu tepat waktu
postingannya. Meskipun terlihat bahwa setiap tanggalnya selalu terisi dengan
rapi, tapi ketahuilah bahwa itu tidak selalu tepat waktu. Karena, jemariku ini
bukan jemari malaikat. Jemariku ini adalah jemari manusia biasa yang bisa
merasa lelah, ingin istirahat, sesekali juga berteman dengan penundaan dan
kadang punya prioritas lain yang mesti didahulukan.
“Kebahagiaan
tertinggi seorang PENULIS adalah ketika tulisannya DIBACA.”
Aku pernah mengatakan kalimat itu ntah kepada siapa. Aku
lupa. Tapi, itu memang benar. Tulisan ini ku selesaikan pada hari Rabu, 23
Desember 2015. Ada pengaruh yang luar biasa dari ucapan seseorang pada tanggal
21 Desember lalu, sejak pukul 11.15-13.10wib.Butuh merenung untuk mengingat lagi tentang semuanya.
Aku
: “Udah dibaca postinganku yang tentang perjalanan tu?”
Dia
: “Udah. Tapi selintas aja. Boring bacanya! Aku kira itu tentang ulang tahunnya
Jhon kemarin. Eh, ternyata bukan.”
Selama ini, dialah yang menjadi pendorongku untuk terus
ber-diary. Dia bukan satu-satunya alasanku untuk terus MENULIS. Tapi, dia adalah
salah satu alasanku untuk tidak berhenti MENULIS. Dia pasti akan tersenyum membaca tulisan ini. Detik ini aku kembali menyadari sesuatu, tentang panggilanku sebagai 'Pengingat Ulung'. Ternyata, aku bisa mengingat dengan baik segala sesuatu yang berhubungan dengan PERASAAN. Dan, tidak sebaik itu jika hanya tentang FIKIRAN.
***
Yudi memanggil…
“Mak, kalau jam 2 nanti bisa kita ngerayain ulang tahun
Jhon?”
Aku melirik jam. Pukul 11.40wib. “Emmmm.. sore aja gimana?”
jawabku dengan malas.
“Jhon pulang kampungnya jam 4 loh! Nggak bisa memangnya
siang ini?”
“Bisa sih, hehee. Eh, tapi memangnya Teguh bisa? Tanya dia
dulu. Nanti nggak bisa pula. Sama aja kayak kemarin kalau gitu. Tapi, aku nggak
ada uang sama sekali nih buat ngurusin kue dan balon. Yudi bisa?” tanyaku.
“Bisa, bisa.”
“Jangan lupa hubungi Teguh yaa.”
“Sippp.”
Aku beranjak dari khusukku di depan laptop dan mulai
merapikan kamar yang berserakan kayak kepingan kapal Titanic ini. Nilam pun
baru saja SMS memintaku menjemputnya pukul 3 nanti. Ini kepulangannya yang
terakhir sebelum ujian nanti.
Teguh memanggil…
“Jadi kita ngumpul kan Mak?”
“Jadi. Adek sama Yudi ya yang ngurusin belum kue dan
balonnya!”
“Iya, siap-siaplah cepat. Aku nggak mau ya kalau ngaret!
Awas kalau lama nanti!”
“Iya iyaa, ini kan baru jam setengah satu. Ngapain siap-siap
sekarang?” tanyaku yang sudah berniat ingin tidur siang di samping kucing.
“Haa.. kan, kan.. ini pasti bakal lama nih! Nggak mau lah
Adek Mak!”
“Nggak doooh!!! Sumprit dah!”
“Ya udah ya, Adek makan siang dulu. Laper!”
Aku menghidupkan alarm pukul 13.30wib. Mulailah aku
memejamkan mata sambil mengelus-elus kucing. Tiba-tiba, aku tersenyum karena
teringat dengan dek Titik yang berbeda penilaian terhadap kucing; Aku menyebut
semua kucing itu ganteng, dek Titik menyebut semua kucing itu cantik. Hehee.
Apa ya kira-kira maknanya secara psikologis? Ehhe.
***
“Iya…iyaa, Mak sedang siap-siap ni haaa!” kataku seketika
sebelum Teguh sempat berbicara di sana.
“Buruan Mak! Jangan sampai telat! Kami udah di saung nih!”
“Iyaaa iyaaaa. Halah, kayak dia nggak pernah telat aja pun!”
“Heh, kalau Adek tuh telatnya masih bisa ditoleransi,
emangnya Emak? Pelupa. Tolong bawain pisau sekalian Mak!”
“Ada pisau di sana Dek?”
“Maaakk! Kalau ada, ngapain Adek minta tolong bawakan? Grrrr!”
“Hhahhaa.. maklum, agak budek nih! Hahaa. Ya udah, Mak OTW.”
Mendadak, hujan turun cukup lebat. Aku menunggu sebentar.
Tapi, ketika motor sudah ku nyalakan, hujan yang baru saja reda mulai gerimis
lagi. Ah, basah sedikit tidak masalah!
“Bububuyuuuuuuu!” sapaku pada Yudi dan Teguh yang sedang
meniup balon. “Siapa mereka?” tanyaku pada Teguh, pelan sekali, sambil
menggerak-gerakkan bola mata ke arah 2 orang cowok di saung ini.
“Nggak tahu Mak. Kita tetap aja bertahan di sini, palingan
juga mereka bentar lagi pergi! Hehe. Ngusir secara halus ya kita, ehhe.”
Kata Yudi, Jhon masih di kelas. Kami merapikan tempat ini
terlebih dulu sebelum Yudi menelvon Jhon untuk ke mari.
“Oh iyaaa… gimana caranya supaya mata Jhon tertutup? Soalnya
kalau dia langsung lihat, ya nggak surprise lah,” kataku.
“Tulah, tadi lupa pula minta tolong bawakan jilbab,” kata
Yudi.
“Ahaaa! Kita minta aja Jhon nutup matanya sendiri, gimana?”
“Mak! Plissssss. Kalau ngasih saran yang waras dikit!” kata
Teguh.
“Dia jadi ke sini sama temannya kan Yud? Haa… mintalah
temannya itu untuk nutup mata si Jhon? Tahu nggak dia bakal ke sini sama
temannya yang mana?”
“Nggak tahu. Tapi, kayaknya dia sendirian lah ke sininya.
Kakinya kan udah sembuh.”
“Wah, susah juga ya kalau gini!”
“Guh! Lepaskan jaketmu!” pinta Yudi.
“Oh iya yaa.. cerdas! Eh, tapi awas Jhon ntar pingsan. Udah
dicuci belum jaketmu tuh Dek?” sindirku pada Teguh.
“Heh! Enak aja! Harum nih yaa! Tuh, tuhhh..haruum!” kata
Teguh sambil mencium jaketnya berulang-ulang.
Aku dan Teguh agak membungkukkan badan supaya nggak terlihat
ketika Jhon lewat nanti. Sementara Yudi langsung ke jembatan kupu-kupu
menyambut kedatangan Jhon. Ia dan Jhon berjalan sangat pelan lantaran mata Jhon
benar-benar terikat dengan jaket dan harus berhati-hati menuruni tangga. Yudi
sudah mirip seorang perawat pasien yang sedang berlatih berjalan saja. hehee..
so sweet.
Kameraku dan Teguh sudah standby merekam kedatangan mereka.
bagus.
Udah sampai kita!”
Teguh berusaha menyalakan Lilin sedangkan aku mengumpulkan
balon yang beterbangan. Kami bergerak sangat halus, tanpa menimbulkan suara
sama sekali.
“Udah boleh dibuka nih mataku?” tanya Jhon.
“Belum, beluum..” kata Yudi.
“Duh! Aku kehabisan Oksigen nih kayaknya, Daeng!”
“Ah, tahan dulu bentar! Nanti Abang kasih oksigen dari Bali
di kosan Abang banyak! Haaha.”
Teguh memintaku duduk di samping Jhon supaya lilinnya tidak
tertiup angin. Dan…
“Silahkan buka Jhon!” kata Yudi.
“Baaaaaa!” kataku dan Teguh bersamaan.
“Huahhh… kalian ternyataaa. Aku udah ada firasat kalau bakal
diginiin,” sambil menunjuk balon dan kue tart, “Tapi, aku nggak nyangka kalau
ada kalian. Aku fikir emang beneran Daeng sendirian aja. Thanks guys.”
“Selamat ulang tahun Dek Jhooon. Semoga semakin berprestasi,
semakin sehat, semakin baik, semakin yang baik-baik deh pokoknya. Tiup lilinnya
cepaaat! Nanti mati lagi diaaaa…” pintaku segera.
Lilin pun dititup oleh Jhon dengan semangat.
“Semalam waktu aku ikut sama teman-temannya ngerayain ulan
tahun di kosannya ngeri kali loh, sampai pake quarter segala. Udah kelompok
pertama masuk, barulah yang kedua. Aku kelompok ke empat pula. Tengah malam
loh, kosannya Jhon seramai itu!” kata Yudi.
“Ini kue ke… emmm…. Tujuh!” kata Jhon.
“Wahhh… luar biasaaa! Itu artinya, banyak yang sayang sama
Adek.”
“Hati-hati loh, kalau banyak teman yang sayang sama kita,
ntar mereka pada Baper! Hahaa,” sahut Yudi.
“Bener tuh! Jangan sampai ada yang baper ntar gara-gara Jhon
nggak pandai bagi perhatian.”
“Eh, yoklah kita bikin kayak kemarin; pakai kata sambutan
dan doa untuk yang berulang tahuuun!” ajakku.
“Eh, nggak boleh main
langsung-langsung, pakai hom pim pa jugalah!” kata Yudi.
Dan, ternyata memang Yudi telah ditakdirkan jadi yang
pertama. Berikut ini doanya…
“Semoga diusia ke 21 ini, Jhon semakin pandai membagi waktu.
Karena, orang yang sukses itu adalah orang yang bijak terhadap waktunya; ada
waktu untuk keluarga, ada waktu untuk sahabatnya dan ada waktu untuk dirinya
sendiri. Jaga kesehatan juga dan semoga semakin sukses!”
Selanjutnya giliran Teguh karena dia kalah swit denganku.
“Emmm.. aku pernah baca cerita yang keren banget. Gini
ceritanya… seorang professor menyediakan pasir, kerikil, kopi dan bola kasti di
dalam kelasnya. Dia memasukkan bola kasti ke dalam sebuah ember hingga penuh.
Lalu dia bertanya kepada siswanya; ‘Sudah penuh kah ember ini?’ kata siswanya;
‘Sudah, Prof’. Tapi, ternyata belum. Ember itu masih bisa diisi kerikir. Terus
ditanya lagi kayak tadi, siswanya menduga itu sudah penuh. Ternyata ember itu
masih bisa diisi oleh pasir. Lalu professor itu menumpahkan pasir ke dalam
ember tadi hingga mengisi ruang kosong di dalamnya. Terakhir, barulah
diletakkan kopi di atasnya. Maknanya apa? Ketika kita punya skala prioritas
yang BESAR, maka hal-hal kecil lainnya akan otomatis terlaksana juga. Tapi,
kalau kita hanya memikirkan target-target kecil, maka target BESAR itu akan
tertinggal. Dan… sesibuk apapun kita, sempatkanlah minum kopi. Haha..” Teguh
tertawa renyah.
Kami pun ikut menertawakan kalimatnya.
“Kenapa mesti minum kopi pula?”
“Ya maksudnya tuh gini; Sesibuk apapun, sempatkanlah untuk
bercengkrama dengan sahabat kita. Jangan sampai kesibukan kita membuat kita
nggak punya waktu lagi untuk orang-orang tercinta,” lanjut Teguh.
“Hayooo! Harus lebih bagus ya!” kata Yudi sambil menunjukku.
“Iya nih! Lagi mikir keras.hehhe.” Aku berfikir sejenak.
“Gimana kalau kita minta dia mengawali kalimatnya dengan 1
kata?”
“Apaan sih? Susahhh ntarr!” kataku.
“Eh, wajib nurut yaa!” kata Yudi lagi. “Ahaa! Coba mulai
dengan kata ‘Ketakutan’, soalnya sejak tadi Jhon selalu takut selama ku tuntun
dari sana ke sini.”
Aku menyanggupi. “Emmm… ketakutan adalah… KEBERANIAN yang
terunda. Ahhahaah.”
“Duh, maksa banget ya agaknya!” kata Yudi.
“Sumpah itu maksa bangettt!” kata Teguh pula.
Jhon hanya tertawa tanpa ikut-ikutan menyusahkanku. *anak
pintar. Hehe.
“Ini serius lagi ya wooy!. Gini, Kakak pernah dengar cerita
tentang iklan Thailand. Ceritanya ada seorang bayi yang ditinggal ibunya ke
supermarket, belanja. Nah, anaknya tu nangis dan susah kali didiamkan sama
Bapaknya. Akhirnya, ditelvonlah ibunya siapa tahu dia bakal diam kalau dengar
suara ibunya di telvon. Ternyata nggak berhasil. Akhirnya, ibunya pakai video
call supaya anaknya bisa ngelihat wajah ibunya secara langsung. Bayi itu sempat
terdiam, tapi sebentar aja, selanjutnya dia nangis lagi. Nah, hikmah dari kisah
itu adalah bahwa TEKNOLOGI tidak akan mampu MENGGANTIKAn CINTA.”
“Sihiyyyyyyyyyyy” kata Teguh, seketika. *kalau sama yang
romantis emang cepet banget nyambungnya nih bocah.
Jhon dan Yudi pun terkesima dengan ungkapanku barusan.
“Kakak pengen merangkum semua doa dari Yudi dan Teguh ya
Dek. Yang pertama, tentang menejemen waktu. Menejemn waktu bagi Kakak adalah
mata kuliah seumur hidup. Meskipun hari ini, kita udah merasa produktif banget,
bisa jadi besoknya kita tiba pada titik jenuh dan rasanya pengen bermalasan aja
di rumah; menghabiskan hari dengan manjain diri, nonton TV, makan, ngelamun dan
nggak pengen berurusan dengan siapapun. Ya, itu nggak masalah, karena Kakak pun
sering begitu. Tapi, jangan lama-lama. Segera kejar target baru! Siapa yang
bisa mengontrol dan mengendalikan semua itu? Ya diri kita sendiri. makanya,
kalau ada yang nanya; ‘Gimana caranya supaya jangan malas?’ jawabannya cuma
satu; ‘Ya, rajinlah!’, karena malas itu emang nggak ada obatnya.”
“Hhahaha..cucoklogi tuuh!” kata Teguh.
“Contohnya gini; Key Success adalah Kunci Suskes, hahaha,”
sahut Yudi.
“Dan yang kedua, tentang nasehatnya Teguh; Sediakanlah waktu
untuk sahabat. Itu bener banget, Dek! Karena, Kakak merasa, kita memang nggak
sesempat dulu untuk sering-sering ngumpul. Nyari Adek juga susah sekarang.
Kalau di SMS, balasnya ntah kapan-kapan. Kalau di BBM ntah kapan direadnya.
Jadi ya, intinya kita harus bijak membagi waktu dan membagi diri sih, hehe.”
“Dan satu lagi!” kata Yudi tiba-tiba. Kami menatap ke
arahnya. “Teknologi tak mampu gantikan CINTA. Hehehe,” lanjutnya.
“Yuhuuu.. bububuyuuuu!” kataku. “Okeehh! Sekarang giliran
Dek Jhon yang berdoa untuk dirinya sendiri.”
“Eh, udah ngucapin selamat belum sama Kak Elis? Duta
Lingkungan nihhh!” kata Teguh.
“Iyaa.. aku udah tahu juga, baca di facebooknya dan kalau
nggak salah udah ku aminin juga kan Kak?”
“Kalau mau cerita selengkapnya, langsung aja baca blognya!
Dijamin, live streaming banget! Sampai-sampai kita tahu, mereka di mana
posisinya, penonton gimana hebohnya. Semuanyalah pokoknya. Hahaa,” jelas Yudi.
“Iya, bener tuh Daeng! Live streaming banget kalau baca
blognya Emak!” kata Teguh.
Aku jadi tersipu malu. Mendengar testimonial yang cetar
membahana barusan. “Ssssttt….dah, dah! Kita dengarkan lagi dek Jhon ni haa!”
potongku.
“Aku terkesan sekali ya dengan semua ini. Ya, mungkin benar
bahwa kita memang selalu bersama, tapi nyatanya kita tidak selalu saling
menyapa. Mungkin raga kita memang terlihat dekat, tapi sebenarnya kita jauh.
Ketika jarak sudah dekat, kadang kita pun sibuk dengan diri kita masing-masing.
Kalaupun mendengar, belum tentu kita memahami. Maka, kalau seperti ini, siapa
yang peduli? Aku berterimakasih sekali sama Daeng, kemarin malam udah ku bilang
juga dengan kawan-kawanku tu; ‘Daeng tu nggak bisa gabung ramai-ramai kayak
gini. Biasanya dia lebih sudah yang personal’, tapi ya begitulah kondisi
teman-temanku. Aku pun sampai heran, padahal menurutku aku nggak terlalu dekat
sama mereka. Ya, kami berteman biasa aja, tapi ya seperti yang Daeng
saksikanlah kemarin malam itu. “
“Berarti banyak yang sayang sama Adekkk,” kataku.
“Iya Kak. nggak terasa ya ternyata udah setahun kita kenal,
semenjak FMRB kemarin. Mungkin, banyak orang yang lebih hebat dari kalian, tapi
cuma nama kalianlah yang sering kali ku sebut-sebut.”
“Sihiyyyy..bububuyuuu!” sahutku, kegirangan.
“Yang bikin aku lebih terharu, ketika aku jatuh kemarin,
kawan-kawanku kan pada jengukin aku. Si Ucha itu sampai nangis loh. Dia bilang;
‘Ini cara Tuhan supaya kau istirahat. Kami pun udah susah kali nyariin kau
sekarang. Sebentar lihat kau di biro, sebentar lihat kau udah pergi lagi.’
Sampai nangis dia bilang gitu. Disitulah aku sadar bahwa udah banyak kali waktu
kebersamaan itu hilang. Dan, aku juga sedang sibuk di persiapan PSN, memang aku
nggak jadi ketuanya, tapi aku jadi Co yang kerjanya mirip kayak ketua. Kondisi
badan juga kurang fit akhir-akhir ini, makanya yang paling pertama kali ku
doakan adalah kesehatanku.”
“Aaamiinn. Mari kita makan kuenyaaaa!”
Aku, Yudi dan Teguh bergantian menyuapi Jhon sambil
diabadikan dengan kamera. Sambil menikmati kue dan ditemani susu kotak, kami
bercerita tentang banyak hal. Tentang masing-masing kami, tentang ide-ide gila,
tentang resolusi 2016. Hingga suara azan menyudahi pertemuan ini.
“Duh, mana ya kunci motorku?” kata Teguh.
Aku tidak menggubrisnya karena aku sedang mengempeskan
balon-balon. Aku nggak rela kalau balon-balon ini nasibnya sama seperti
balon-balonku kemarin; ditinggalkan di sini.
“Oh ini diaaa!” kata Teguh akhirnya. “Parah kali aku ni
pelupanya.”
“Hhaha, kalau Teguh masalahnya pelupanya. Kalau Elisa tu
masalahnya sama BENSIN. ahhaa. Selalu kehabisan bensin, udah berapa kali aja
selama yang ku tahu.”
“Hhaaa.. udah ditulis di blognya tuh Daeng!”
“Oh iya, Yudi belum ku kasih link blog tentang ulang tahunku
kemarin ya?”
“Belum.”
“Owalaahh…lupa. Nanti ya ku kirimin.”
“Pokoknya kami tunggu cerita tentang hari ini ya!. Jhon dan
Mak harus nulisin,” kata Yudi. “Jangan sampai ada satu katapun yang tertinggal
ya!”
“Aku belum bisa kalau hari ini Bang, tapi akan ku tulis,”
kata Jhon.
Teguh dan Yudi ke mushola rektorat, sedangkan Jhon langsung
pulang. Dan aku menuju ke pesantrennya Nilam. Papi barusan menelvonku lagi
supaya aku nggak lupa menjemput Nilam.
***
“Nilam pengen makan apa?”
“Terserah Mbak aja.”
Tadinya, aku mau mencari
inspirasi makanan di Bina Krida atau Balam Sakti saja, tapi mendadak aku
berubah fikiran. Tepat di depan serbaguna FKIP, aku berputar arah menuju Bangau
Sakti. Tapi, melihat kondisi gerbang FEKON yang ramai banget, akhirnya ku
putuskan untuk berbelok lagi. Ramainya tidak lazim. Sepertinya sesuatu telah
terjadi di sana. Aku sudah bertanya kepada seorang perempuan yang baru masuk
dari arah Bangau Sakti, tapi dia pun tidak tahu apa yang terjadi.
“Kita beli Ayam Krek-Krek ya!”
kataku.
Tadinya aku ingin makan di sini,
tapi karena khawatir ada sesuatu yang mengecewakan, akhirnya ku pututskan untuk
membeli satu porsi saja dan dibungkus. Sesampainya di kosan, ternyata benar
saja… untuk seporsi ayam dengan harga Rp 14.000 menurutku kualitasnya agak
mengecewakan. Memang, ayamnya cukup besar dan nasinya lumayan banyak, tapi
tidak ada sayur atau krupuk sama sekali. Hanya sambal, itu pun pas-pasan
porsinya. Hemmm… andai semua penjual tahu bagaimana isi hati pembeli!
“Mbak, cantik kali loh kamar ini
jadinya! Siapa yang nolongin mindah-mindahin barang kemarin, Mbak?” tanya
Nilam.
“Di bantu sama Si Ganteng (baca:
Kucing) kemarin.”
“Seriuslah Mbak!”
“Sendirian loh Lam. Semuanya serba
sendiri. Kalau Nilam ada di sini pas Mbak beres-beres kemarin, pasti pusing
lihat kamar ini. Karena bentuknya kayak kapal pecah. Sekarang sih emang rapi
banget.”
“Jadi tambah lebar aja kamar ini
kesannya, Mbak.”
“Yuhuuu.. bubuubuyuuu ya!”
Malam ini aku menuntaskan
menonton film EXAM. Sebenarnya, aku nggak suka dengan film yang terlalu mikir,
tapi film ini asyik banget. Aku memang diajak untuk mikir, tapi mikirnya cukup
memainkan insting otak kananku dan tidak membosankan. Ceritanya juga unik; 8
orang diminta mengerjakan tes untuk masih ke sebuah perusahaan. Tapi, anehnya
satu-satunya kertas yang diberikan itu hanya bertuliskan CANDIDATE 1, hingga 8.
Tidak ada pertanyaan yang tertulis di sana, tapi peserta harus menemukan jawaban. Misi menemukan
jawaban inilah yang seru banget. Selamat menonton buat kamu yaa ^_^


Tidak ada komentar:
Posting Komentar