Jumat, 04 Desember 2015

Umur yang Menyempurna; 22 tahun-ku



Ketika membuka mata…
“Ya Allah… kamarku masih berserak ternyataa.”
Padahal, berharapnya ketika bangun tidur, kamar ini udah rapi dengan sendirinya karena disulap oleh peri. Hehee. Setelah menunaikan ritual subuh, aku menarik HPku dan mengupdate PM di BBM; 4th December at 22nd times. Aku bahagiaaa sekali pagi ini. Usiaku akan genap 22 tahun sore nanti, karena aku dilahirkan sore pukul 17.00wib, kata mami. Ucapan selamat dan doa-doa pun mengucur seketika untukku. Dan, diantara sekian banyak ucapan, ada 1 ucapan yang sangat sederhana tapi pemberinya adalah orang yang istimewa…
HBD ya El, moga sehat selalu. Maaf agak terlambat. Tadinya mau ngucapin pas pergantian tanggal, tapi tadi malam ketiduran.

Dia bernama SOFI. Dia laki-laki. Karena, kepanjangan namanya adalah SOFIUDIN hehe, unik kan? Aku mengenalnya ketika dia duduk di kelas 3 MTS dan aku di kelas 1 SMP, kami beda sekolah. Sejak pertemuan pertama itu dia mengaku menyukaiku. Tapi, yaaa… karena aku punya ideologi yang ku pegang teguh, maka aku hanya menganggapnya teman. Sampai sekarang, sudah 9 tahun berlalu, tidak pernah sekali pun dia lupa tanggal lahirku. Sederhana memang. Tapi, ini bener-bener SESUATU; anugerah yang harus aku syukuri dan ku terimakasih-i. Mengingat tanggal lahir orang bukanlah perkara mudah, apalagi tanggal lahir orang yang tidak pernah menganggapmu ‘lebih’. Tapi inilah yang ku apresiasi dari kak SOFI. Mungkin, karena kesederhanaannya inilah sampai sekarang kami masih berteman baik. Ya Allah, baikkan akhlaknya juga dan semoga masa depannya juga cerah. Aamiin..


Ucapan selanjutnya yang tak kalah spesial datangnya dari Teguh.
Karena pagi tak melulu soal roti dan secangkir teh. Selamat ulang tahun Maaaakkkk..semoga semakin jauh lebih baik, terimakasih sudah menjadi paket komplit (kawan, kakak, guru, sahabat) dalam sisa usia adek. Barakallahu fii umrik. ^_^
Dek Teguh ini adalah adek sekaligus sahabat bagiku. Dia juga adalah pembaca blogku yang ter-SETIA. Ntah sejak kapan dia memulai kesetiaan itu, yang jelas aku bersyukur disetia-i olehnya. Di hari ulang tahunnya kemarin, aku memberinya buku. Buku hasil tulisannya di facebook yang diam-diam ku tulis ulang dan ku cetak sebagai buku. Hari ini… aku tak sabar untuk gantian dihadiahi olehnya. *ngarep.com. ehhee.

Assalamualaikum Eli.. selamat ulang tahun yea Eli. Semoga umurnya yang bertambah semakin dewasa, apa yang dicita-citakan tercapai. Aamiin. Dan usia yang berkurang semakin memperbaiki diri. Dan semoga cepat dapat jodoh. Aamiin. Hehe.
JODOH? Kamu mendoakanku untuk cepat berjodoh? Sementara kamu adalah orang yang masih menunda menjemputnya. Alangkah lebih indah kalau DOAMU itu adalah DIRIMU juga. Tapi, lagi-lagi ini adalah doa baik. Semoga demikian baiknya juga untukmu. Dia adalah seseorang yang tak kalah lama menyukaiku. Sejak aku kelas 1 SMA (mungkin) masih hingga sekarang. Sama seperti sebelumnya, terhadap yang lainnya, aku sangat berharap tetap bisa bersahabat meskipun penolakan sudah tersurat. Olehku.

Tambah umur ya dek? Tanya bang Yopi pada PMku.
Iya bang. Heheee.
Subhanallah, ^_^ met selamet ya dek. Tulisan edisi tambah umur kapan di uploadnya? Hehe.
Hehee..makasih bang. Yang jelas belum sekarang. Karena cerita hari ini kan belum selesai. Hehe.
Oh iyaa..betul sekali. *thumb up.

Dan… yang ter-SPESIAL di antara yang spesial adalah ucapan dari bidadariku, wanita calon penghuni syugra; MAMI. Aku sedari tadi menantikannya. Khawatir kalau mami tidak akan memberiku sesuatu yang spesial karena mami sudah begeser ‘faham’ tentang ucap-mengucapkan di hari ulang tahun.

Detik demi detik terasa kembali nyata di ingatan, menjelangkehadiranmu di dunia. Tak terasa 22 tahun berlalu, Alhamdulillah masih diberi kesehatan, kebahagiaan dan dikelilingi orang-orang terkasih. Semoga lebih baik lagi, lebih dewasa n sukses menanti. Muacchhhh… *kissing
Kalimat ini benar-benar punya kekuatan MAGIS. Aku benar-benar bahagia membacanya, tapi seketika bahagia berubah menjadi haru dan haru menjelma sebagai tangis. “Ya Allah, ternyata Mami sudah membesarkanku selama 22 tahun. Lamaaa sekali yaaa. Apakah aku sudah benar-benar menjadi kebahagiaan baginya? Rasanya beluuuummm. Aku mohon ampun ya Allah. Bantu aku membahagiakannya.” Detik ini, aku menangis untuknya. Atas semua kasih sayangnya juga untuk merindunya.

***

Sudah pukul 10.00wib dan aku masih bertengkus lumus di kamar, merapikan barang-barang yang sudah terlanjur ku keluarkan semua. Aku harus mengeliminasi satu demi satu barang yang masih layak ku pakai, layak ku simpan atau harus ku buang. Posisi tempat tidur, lemari dan rak-rak sudah fix sejak kemarin siang penataannya, sekarang tinggal pe-rapiannya saja.
Dreettt…dreettt… panggilan masuk dari Lia.
“… lagi di mana Cin?”
“Di kamar nih.”
“Nggak ke luar doo?”
“Nggak kayaknya Cin. Kamarku kayak kapal pecah kena bom nuklir nih. Aku harus merapikannya segera, udah nggak berbentuk kamar lagi Cin kamar iniii..”
“Ohh kaciannyaaa. Ke luar lah Cin, masak di hari ulang tahunmu mu di kamar aja? Selamat milad ya Cin, barokallahu.”
“Makaciihhhh Cin. Emangnya mu mau ngajakin aku ke mana?”
“Ada dehhh.. pokoknya aku tunggu mu jam 1 ini di perpus UR ya! Awas kalau terlambat!”
“Ya deh, yaaa. Bububuyuuuu.”
Terkhusus hari ini, aku rela dipaksa oleh siapa pun. ^_^ Biasanya kan aku yang selalu maksa orang, hehe.

***

Lia memanggil…
“Heh? Udah di mana sih?”
“Masih di kamar. Heehee.”
“Huhh, buruanlah ke siniii! Kami udah di sini haa.”
“Iyo iyoooo. Eh, itu ada suara Dek Okta ya?” tanyaku. Sepertinya Okta sedang ngobrol atau sedang menelvon.
“Iya. Dengar ya suaranya?”
“Dengarlah. Jelas. Gede gitu.”
“Pokoknya 5 menit! Cepat ke sini. Kami tunggu. Titik!” telvon dimatikan.
Sebenarnya aku udah sadar kalau ini jam 13.00wib. Tapi, aku masih dalam kondisi FLOW pada aksi beres-beres kamar ini. Makanya, sengaja nunggu Lia teriak-teriak kayak gini baru aku akan beranjak. Ehhee. Mungkin, karena akunya lelet, Lia sampai menelvon lagi, meneriakiku untuk bergerak cepat.
“..Pokoknya dalam 5 menit mu nggak datang juga, kami bubar!” ancam Lia.
“Ya udah, bubar aja sanahhh! Weekkk,” balasku pula.
“Huuu, dasar! Cepetan ya. Kami tunggu.”
Hari ini aku pakai gamis ber-polkadote hijau dan long cardie hitam plus pashmina bermotif songket pemberian dek Reza yang sengaja ku pakai di bagian hijau mudanya. Feel so green. ^_^ Sesampainya di perpus, aku celingukan karena nggak ngelihat ada tanda-tanda keberadaan mereka di sana. Pas aku cek HP…

Cin, kami di saung jembatan kupu-kupu ya.
Hemmm… kenapa nggak bilang dari kemarin subuh sih?
Aku langsung menuju saung dan terlihatlah dari kejauhan balon warna-warni mengelilingi saung itu.
“Bububuyuuuu wooyyy?” teriakku ketika melangkah di jembatan kupu-kupu, menuju mereka.
“Eh, itu siapa ya?” tanya Okta, sok-sok nggak kenal.
“Nggak tahu juga. Kenal woy?” balas Teguh pula.
“Kalian kok nggak ngerjain aku sih? Aku kan pengen dikerjaiiiinnnn,” rengekku ketika naik ke atas saung.
“Nggak ada ide untuk ngerjain doh!” kata Lia.
“Tadinya Okta yang disuruh Kak Lia ngerjain Kakak. Disuruh minta Kakak ke sini untuk ngerjain KTI. Mana mau Okta, lagian Kakak pun pasti udah nyadar kalau dikerjain! Malas ah!”
“Kannnn… kok kalian nyerah sih sebelum berusaha ngerjaiiinn?” tambahku lagi. *ini edisi ngerjain yang dirindukan, heeheh. “Cantikkk ngetsss balonnya. Kuenya juga kayaknya enak bangett tuh! Loh, kok bacaannya; Barokallahu Cin dan Sahabat Semut. Kok sahabat semut Cin?” tanyaku.
“Iya, kita kan sahabat semuttt, ye yeeee. Yuk, langsung kita mulai aja!” kata Lia.

Kayaknya itu Sahabat Semua deh tulisannya, tapi bagian A nya udah cacat karena goresan sesuatu. hehehe. Tapi, lucu juga ya kalau disebut Sahabat Semut. Sempat terjadi perdebatan tentang siapa yang memulia membuka acara. Lia pengen yang memimpin adalah salah satu dari pada cowok sedangkan mereka pegennya Lia saja yang memulai. Akhirnya, Lia yang mengalah. Lia memberikan kata sambutan tentang mendadaknya rencana ini dan menjelaskan bahwa yang bertambah usia bukan hanya aku, tapi kami semua. Dan, aku yang terakhir berulang tahun di antara mereka di tahun ini.
“…lagian dari kemarin kita kan emang mau meet up tapi belum kesampaian juga kan? Nah, inilah ajang kita bersilaturahim. Yeeeee,” kata Lia.
Selanjutnya, aku meminta Okta untuk memberikan kata sambutan. Awalnya dia menolak… lalu keluarlah jurus paksaanku…
“Plisss Dek, di hari ulang tahun Kakak aja pun Kakak mintanya ni. Belum tentu tahun depan Cek masih berkesempatan ngucapin loh!” ancamku. Akhirnya dia menyerah.
“Selamat bertambah umur untuk seseorang yang telah memaksaku dalam meraih impian yang udah sejak lamaaaa sekali aku inginkan. Sebenarnya, sebelum dia ini memaksa Okta, Bang Hendra dan Kak Vivien juga udah pernah mendorong Okta untuk ikut pemilihan Duta Bahasa, tapi nggak ada yang MEMPAN. Ha, tiba ketemu sama orang aneh kayak dia ni lah woy, akhirnya Okta mau mencoba. Berpasangan pula nomor urut di pengumuman 10 besarnya, berpasangan juga waktu final.”

“Dan berpasangan juga nggak menang,” sahutku.
“Iyaaa… hahaa. Sebenarnya Okta juga udah memutuskan untuk nggak ikut pemilihan kayak gini lagi setelah dari Duta Bahasa kemarin. Dan… mulailah dia memaksa Okta lagi untuk ikut seleksi Duta Lingkungan ini sejak Okta masih di INHIL, KKN kemarin.”
“Oooooooo…” Lia ber-O panjang.
“Okta hanya mengiyakannya aja dan setelah Okta selesai KKN, malah nggak semangat Okta untuk ikut karena persyaratannya adalah menulis KTI. Dah tahu Okta paling malas nulis KTI gitu. Tapi, bukan Elysa Rizka Armala namanya kalau nggak berhasil memaksa orang. Akhirnya, singkat cerita, Okta sudah berhasil menjemput impian Okta sebagai Duta Pohon kota Pekanbaru 2015 ini. Yeeee.  Dulu, Okta inget banget waktu Okta bilang; ‘Kak, padahal Okta banyak tahu loh tentang perdutaan ini, tapi kok nggak ada satu pun selempang yang mampir di bahu Okta ya?’ lalu si Elis gilo ini menjawabnya; ‘Karena kamu nggak menjemputnya Dek,’ kalimat itulah yang membius Okta selama berhari-hari sampai memutuskan untuk ikut Duta Bahasa kemarin. Nah, Okta hari ini nggak mau mengucapkan selamat ulang tahun kepada Cek, karena itu nggak diperbolehkan oleh Rosulullah. Karena Rosulullah juga melarang umatnya untuk merayakan maulidnya.”
Lia langsung menyambut, “Iya, makanya di sini nggak ditulis Selamat Ulang Tahun, tapi Barokallahu Cint.”

“Eh, tapi tunggu dulu! Okta baca dalilnya tentang pelarangan itu?” tanya Teguh.
“Emmm… nggak sih, tapi katanya gitu, hehee. Dah lah woy, jangan tanya itu dulu ya, Okta pun belum tahu pasti dalilnyaaa looh!”
“Eh, tunggu dulu deh! Aku mau bicara juga jadinya.”
“Lah? Ini kok jadi diskusi di tengah kata sambutan sih?” Yudi tertawa.
“Ya nggak apa-apa, biar sekalian nih dapat ilmu, ehhe,” lanjutku. “Gini, sebenarnya perkara boleh atau tidak ini sebenarnya udah pembahasan lama ya teman-teman dan memang belum ada dalil yang benar-benar tegas menyatakan bahwa ini dilarang. Tapi, logika sederhanannya seperti ini, kalau mengucapkan selamat ulang tahun dianggap mengikuti suatu golongan, maka golongan mana yang sebenarnya kita ikuti? Bukankah semua orang melakukannya, terlepas dari apapun agama mereka. Dan, yang berulang tahun itu kan bukan hanya orang nasrani atau yahudi aja loh, tapi semua orang. SEMUA ORANG ber-UMUR dan semua orang ber-ULANG TAHUN. Bener kan? Jujur, kalau aku pribadi sangat-sangat-sangat berharap loh diucapin selamat ulang tahun karena ada doa di dalamnya.”

"Okta juga ngarep loh! Jujur!" sahut Okta.
“Iya, mungkin supaya tidak menyerupai suatu kaum, kita menghindari propertinya.”
“Yap, kan nggak ada tiup lilin hari ini,” kata Lia.
“Eh, satu lagi! Pernah ada yang menyarankan untuk mengucapkan ‘Selamat Millad’ sebagai ganti ‘Selamat Ulang Tahun’ dan menurutku itu SAMA AJA. Yang beda hanya bahasanya saja.”
“Yap, setujuuuu!” kata Teguh.
“Mungkin kita ganti aja dengan; ‘Selamat mengulang bulan kelahiran yaa’ gitu,” sambung Okta.
“SAMA AJA DEEEK! Intinya kan berulang tahun juga. Tujuannya sama, ingin mengucapkan dan memberikan selamat di hari ulang tahun orang tersebut kan?”
“Beda loh Cek. Mana ada tahun di ulang?” tanya Okta.
“Sama Cek. Tapi orang sastra ngakunya? Masa gini aja diperdebatkan sih? Itu kan makna tersirat namanya. Kita hanya menggunakan istilah yang lazim di gunakan oleh banyak orang. sementara yang istilah Cek tadi nggak familiar. Gitu!”
“Iyolah iyo! Dah lah, Okta akhiri aja sambutan ini. Assalamualaikum!” tutup Okta sambil manyun. Hahaa.

“Oke sekarang giliran aku lagi ya ngasih beberapa patah kata. Hehehe. Terimakasih ya teman-teman atas hadiah ini. Aku seneeeeng banget. Sangat bersyukur kepada Allah karena telah memberikan aku kesempatan untuk menikmati usia 22 tahun ini. Karena, belum tentu aku bisa menikmati usia 23 tahun di tahun depan, umur seseorang siapa yang tahu? Tapi, jika pun aku tidak berkesampatan sampai di sana, semoga segala sesuatu di antaranya adalah KEBAIKAN. Semoga aku semakin sholeha, semakin taat padanya, semakin baik bagi sesama dan semakin penyayang dengan keluarga. Dan mohon doanya ya teman-teman, semoga aku bisa amanah di BANK SAMPAH ini dan jadi bisnisku juga. Karena, setelah wisuda nanti aku nggak mau NGELAMAR pekerjaan, aku kan maunya aku yang DILAMAR. Hehee. Sekian.”
“Kode keras nih!” kata Teguh.
Selanjutnya adalah acara pembagian kue dan makan bersama (bersama kue maksudnya, ehhe). Aku memberikan irisan kue ini kepada mereka satu per satu dan di abadikan oleh kamera Pro-nya dek Teguh yang ntah sejak kapan dibelinya.

“Ini kok nggak romantis kali ya? Kayak megang skop aja aku haaa,” kataku.
“Iyaa…hahaa.. nggak ada sendok sih Ciin.”
Sambil menikmati kue ini, Lia kembali memulai sesi ucapan dan doa untukku. Karena mereka nggak ada yang mau jadi yang pertama, akhirnya hom pim pa jadi pilihan untuk mengundi. Dannnn… tetap aja Lia yang pertama. Ehhe.
“…Semoga umur yang tersisa menjadi berkah dan telah berlalu diampuni oleh-Nya. Semoga SKRIPSImu segera selesai dan kita bisa wisuda bareng di bulan Februari nanti. Dan selamat atas amanah barunya sebagai Duta Bank Sampah, semoga bisa menjalankan tugas dengan baik. Semoga lebih pandai lagi menempatkan perasaan dan nggak terperangkap dengan hasil tes STIFIN sebagai orang Feeling. Gini, kemarin aku ada lihat orang yang komen di FB tentang link blogmu yang mu share. Orang itu bilang gini; Tulisannya panjang banget, paket ngadat. Gimana hasilnya, El? Dan mu sadis banget jawabnya; Nggak menang. Simpel kan jawabannya? Itu menurutku agak kasar Ciin.”

“Loh, dia kan nggak mau baca dan langsung nanya gimana hasilnya, Cin? Berarti dia itu ingin hal yang simpel kan? Makanya ku kasih jawaban yang simpel. Terus, aku salah?”
“Ohh gituuu,” Lia berkomentar lembut. “Nggak salah sih, tapi menurutku, mu jangan terbawa perasaan. Coba mu komennya agak panjang dikit meskipun orang itu nanyanya cuek. Intinya, kalau ada orang yang nggak ramah sama kita, cobalah berfikir dan berperasaan out of the box di luar perlakuan orang itu kepada kita, Cin. Sekalipun dia cuek, coba kita balas dengan ramah. Apa yang terjadi? Mungkin dia akan jadi ramah. Tapi, kalau kita tambah cuekin? Jangankan mau tahu, baca blogmu pun takutnya malah dia jadi nggak berselera lagi. Saranku sih gituuu. Pokoknya, semoga mu bisa lebih baik lagi, aku juga. Dan… tetaplah menjadi saudariku dunia akhiraaat.”
“Amiiinn..maacih nasehatnyaaa Cin. Bububuyuuuu. Hayok! Siapa lagi selanjutnyaaa?!”
Diam-diam, aku merangkai sebuah kesimpulan indah dari nasehat Lia tadi; Bukan hanya FIKIRAN yang harus out of the box, PERASAAN juga.

Teguh, Okta dan Yudi kemudian hom pim pa lagi. Dan, sekarang giliranOktalah.
“Eheemmm… bener yang disampaikan oleh Kak Lia tadi. Okta juga mendoakan Cek supaya nggak baper, hehehe. Ini dikit-dikit dihubungkan dengan; ‘Kakak ini golongan darahnya B loh Dek!’ Ntah hapa pun hubungannya. Ya kan Kak Lia? hhehe. Pokoknya, Cek harus lebih pandai lagi mengatur perasaan Cek, kadang apa yang terlihat dari orang lain tidak selalu sesuai dengan apa yang kita fikirkan. Dan, satu lagi… semoga cepat menikah! Hehe.”
Ternyata menentukan Teguh atau Yudi yang lebih dulu menyampaikan doanya adalah hal tersulit dalam pertemuan ini pemirsaaa. Mereka sampai berdebat untuk menggunakan cara SWIT yang mana. Hahaah. Ternyata Teguhlah yang lebih dulu.
“… hidup Teguh mulai berubah setelah mengenal Mak dan Daeng di FMRB. Teguh yang dulunya hanya sibuk berorganisasi mulai tertarik dengan kompetisi dan bahkan sampai berani mencoba ikut MAWAPRES. Maha Besar Allah, bahkan Teguh diizinkan untuk menjadi perwakilan FEKON dan mendapat gelar MAWAPRES PERSAHABATAN di Universitas. Sebenarnya, Mak juga udah ngajak Teguh untuk ikut Duta Lingkungan dan KTInya sebenarnya udah jadi tinggal diperbaiki sedikit lagi, tapi mendadak Teguh ragu. Lagian, Teguh juga kan harus menjadi Fasil untuk acara KKP kemarin dan setelah Teguh hitung-hitung, kalau dijalani keduanya memang nggak akan maksimal. Walaupun sebenarnya agak sedih dan nyesel juga sih. Tapi, seperti kata Emak di blognya; Tiada KEHILANGAN, tanpa PENGGANTIAN, Adek percaya itu. Makasih Mak udah jadi paket KOMPLIT buat Adek, sosok sahabat, kakak, teman dan juga guru.”

“Hah? Dia ini GURU? Tak ado dohhhh!” celetuk Okta.
Aku memlototinya.
“Iya kan guru tu nggak mesti di sekolah tempatnya! Kalau dia sedang ngajarin aku bikin KTI kan berarti dia itu GURUku. Huh!” balas Teguh, galak. “Dan, pesan terakhir Teguh sama kayak Okta, semoga cepat menikah! Hehe.”
Ini para bocah kenapa pada mendoakanku cepat menikah ya? Kali ini Lia yang nggak menyinggung sama sekali tentang itu, malah mereka pula yang mengarah ke sana. Hemmm… tapi anyway, ini adalah doa baik. Aku meng-aamiin-kannya. ^_^
“Dah, Daeng lagiii!” kata Teguh.
“Ehemmm…sebenarnya aku agak kurang nyaman disuruh menyampaikan secara langsung kayak gini. Karena aku udah tes STIFIN dan aku orang Intuiting, orang Intuiting itu kekuatannnya memang pada kata-kata.”
“Yeeeee… keyeen udah tes,” katakuu.
“…Semoga di umur yang tersisa ini semakin bermanfaat dan berprestasi lagi. Dan, satu lagi! Ditunggu buku selanjutnyaaa.”
“Weeeww…aamiiin,” sahut kami.

GLEKKK! Benar-benar doa tercantik hari ini. Ditunggu buku barunya. Terharuuuu.
“Eh, tolong ya semua kata-kata kami diingat tadi ditulis di blog!” pinta Yudi.
“Udah tersimpan nya tuh sama diaaa!” sahut Okta. “Tapi, kalau nulisin tentang Okta biasanya sih dia sering salah. Kayak kemarin, Okta bilang; ‘Ayah, sayap anakmu patah’ ditulisnya; ‘Ayah, sayap kiri anakmu patah’ hhahaha.. kan aneh si Elis ni woyy!”
“Ditambah-tambahin pula ya kan Dek?” kata Lia.
Selanjutnya adalah ngobrol santai di antara kami. Kami bercerita tentang banyak hal, loncat-loncat dan berganti-ganti cerita atau penceritanya. Hingga pukul 14.30wib, kami pun bubar. Okta yang lebih dulu permisi karena harus ikut gladi resik untuk acara seminar kewirausahaan anak-anak bidik misi. Selanjutnya, Teguh yang pergi karena ada kelas.
“Kita ke Pondok Hijau yuk?” ajak Lia.
“Aku nggak ada motor tapiii,” kata Yudi.
“Aku kan bisa sama Cin Elis, Daeeng.”
Sebelum meninggalkan saung ini, kami sempat bernarsis ria bersama pasukan balon ini. Saking sayangnya, aku sampai ingin mengempeskan satu per satu balon ini supaya bisa ku simpan di rumah. Tapi, Lia nggak setuju karena pasti bakal repot dan buang waktu. Lagian, iya juga sih. Bukannya membiarkannya tetap di sini pun adalah sebuah persembahan keindahan untuk setiap penglihatan? *dasar Elysa aneh!

“Ini bensinnya ada nggak?” tanya Yudi ketika aku menyerahkan kunci motorku. “Dia ni biasanya selalu bermasalah sama bensin,” lanjutnya lagi.
Aku benar-benar nggak bisa menahan tawa. Segitu selalu kah aku kehabisan bensin sampai Yudi hafal gini? Haahhaah.
“Hehhee, iya iya, ini masih ada kok bensinnya. Dijamin! Emangnya udah berapa kali Yudi ku repoti karena kehabisan bensin?”
“Setidaknya 2 kali; Waktu habis sosialisasi DISPORA kemarin sama waktu sosialisasi MAWAPRES di FEKON.”
“Hahaaha… bener-bener. Keterlaluan ya emang nih! Itu baru yang Yudi tahu, yang belum Yudi tahu banyak yang lebih parah lagi. Aku pernah mogok di pertigaan jalan Diponegoro loh!”
“Waduh!”
Kami segera bergerak menuju Pondok Hijau. Ini benar-benar kebalik, karena Lia lah mentraktir kami. Aku sih, seneng-seneng aja. Masak kebaikan ditolak sih? Kan nggak boleh ya? Setelah makan, aku dan Lia sholat Ashar bersama di mushola rektorat dan menyambung obrolan dengan Okta di halamannya. Sore ini adalah sore tak biasa dari biasanya. Selain karena menyudahi hari dengan obrolan bergizi, juga karena sebuah VISI baru telah terkonsep dengan pasti.

***
“Kak Eeeelll?” sapa seorang wanita yang sejak tadi ku lihat mengaji di sudut kanan mushola Arrafah ini.
“Loh? Dek Yanaa toh? Kakak kira siapaaalaah tadi.”
Kami bersalaman.
“Selamat Milad ya Kak. Semoga berkah umurnya.”
“Makasih Dekkk.”
“Kakak dari mana ni?”
“Dari eemmm… ngisi bensin tadi di SPBU depan pasar Panam. Yana dari mana?”
“Kalau Yana emang sering sholat ke sini Kak kalau maghrib, sampai Isya.”
Wahhh… rajin!. Subhanallah, semoga seterusnya rajin begini ya Dek. Selanjutnya, kami menyimak ceramah dari seorang ustad. Aku sempat kaget waktu baru datang tadi, shaf laki-laki sampai nggak muat di dalam dan beberapa orang terlihat sholat di teras. Motor pun banyak banget sampai aku nggak nemuin celah untuk parkir lagi. Alhamdulillah, kesadaran untuk sholat di mesjid ternyata semakin tinggi.
“Kakak udah makan?” tanya Yana setelah sholat Isya.
“Belum. Makan bareng yuk Dek?” ajakku dengan mata berbinar.
“Ayuk Kak! Di mana?”
“Di mana enaknya ya?” tanyaku.
“Terserah kakak aja. Yana ikut!”

Hemmm…kalau dengar jawaban model ini jadi teringat dengan Rini yang serba ‘ngikut’ aja dan aku jadi pemegang kendali sepenuhnya.
“Di Sambal Lesung yuk?”
“Yuk!”
Kami bergerak ke Manyar Sakti dan memilih tempat duduk di dekat etalase makanan. Aku yang akan memesan makanan.
“Bakmie godok itu maksudnya Bakmie rebus ya Mas?” tanyaku. “Adek apa Dek?”
“Bakmie juga deh kayak Kakak.”
“Oke deh. Mas, Bakmienya 2 ya! Kami duduk di situu,” tunjukku pada tempat dudukku.
Dan… setelah Bakmie yang kami nanti tersaji, aku terbengong. Kok Bakmie rebus sih?! Aku jadi teringat dengan bakmie rebus yang pernah ku nikmati bersama Okta di jalan Delima dan aku kurang puas. Ingin sekali rasanya segera ku klarifikasi kepada si Mas itu. Tapi… aku sadar kemudia bahwa ini memang salahku. Tadi, aku nggak menyebutkan Bakmie goreng, aku hanya menyebut Bakmie dan karena sebelumnya aku bertanya tentang Bakmie Godok, makanya yang ter-mindset adalah Bakmie Godok. Emmm.. nggak apa-apa deh! Ini rezekiku malam ini berarti.
“Pelan-pelan ya Dek makannya, panas banget nih!”
“Iya, masaknya aja sampai apinya ke mana-mana gitu Kak. hahaha.”
“Eh, Adek kemarin datang kan waktu malam puncak Duta Lingkungan? Tapi cepet banget ya pulangnya?”

“Iya Kak, soalnya Novi nggk bisa pulang di atas jam 10 Kak. Itu aja dia terkunci setengah jam di luar pagar. Yana bahkan nggak sempat ngelihat Kakak waktu jawab pertanyaan. Jadi, kami itu cuma kebanyakan ngelihat kata sambutan doank Kak. hehehe.”
“Wahh.. iya yaa. Berarti waktu kami pakai baju daur ulang juga Adek nggak lihat donk?”
“Padahal itulah yang sangat kami tunggu-tunggu Kak. Yana nungguin postingan Kakak di Instagram loh jam 12 malam. Siapa tahu Kak Elis udah update, setidaknya Yana bisa lihat dari sini. Eh, ternyata belum ada. Lanjut tidur lagi lah Yana Kak.”
“Huahhhhh…mana sempat mau apdet Dek. Badan udah remuk semua. Lagian jam 12 itu kami baru selesai acara. Jadi ya kebayangkan repotnya berkemas.”
“Ya kan siapa Tahu Kakak langsung apdet saat itu juga. Hehehe.”
Malam ini aku berteman dengan Yana. Terimakasih Dek atas cerita-cerita hikmah dan semangatnya untuk Kakak. Demikian juga yang terbaik untuk adek.

***

Setelah membuka pintu kamar, barulah aku tersadar kalau kamar ini masih berantakan. Huahhhh.. jadilah aku menghabiskan malam dengan merapikan segala sesuatunya.  Bagian lemari hias belum rapi sama sekali, tapi semua barang-barang yang akan mengisinya sudah ku letakkan di sana supaya kamar ini segera terlihat lapang dan lelah segera berganting senang. Aku baru beranjak tidur pukul 00 lewat. Selain karena kasur baru layak ditiduri, juga untuk kembali menyaksikan pergantian waktu.
Selamat datang usia 22 tahunku…selamat ulang tahun wahai diriku, ini adalah hadiah untukmu. Kataku, sambil memandangi seisi kamar bernuansa baru ini.
Semangat baru.
Taat baru.
Mimpi baru.

1 komentar:

Teguh Pambudi mengatakan...

Wohooo
bububuyu sekali lagi selamat ulang tahun, ke-baper-an-nya dikurangi ya... ^^
Tetep menginspirasi mak!