Ketika membuka mata…
“Ya Allah… kamarku masih berserak ternyataa.”
Padahal, berharapnya ketika bangun tidur, kamar ini udah
rapi dengan sendirinya karena disulap oleh peri. Hehee. Setelah menunaikan
ritual subuh, aku menarik HPku dan mengupdate PM di BBM; 4th December at 22nd times.
Aku bahagiaaa sekali pagi ini. Usiaku akan genap 22 tahun sore nanti, karena
aku dilahirkan sore pukul 17.00wib, kata mami. Ucapan selamat dan doa-doa pun
mengucur seketika untukku. Dan, diantara sekian banyak ucapan, ada 1 ucapan yang
sangat sederhana tapi pemberinya adalah orang yang istimewa…
HBD
ya El, moga sehat selalu. Maaf agak terlambat. Tadinya mau ngucapin pas
pergantian tanggal, tapi tadi malam ketiduran.
Dia bernama SOFI. Dia laki-laki. Karena, kepanjangan namanya
adalah SOFIUDIN hehe, unik kan? Aku mengenalnya ketika dia duduk di kelas 3 MTS
dan aku di kelas 1 SMP, kami beda sekolah. Sejak pertemuan pertama itu dia
mengaku menyukaiku. Tapi, yaaa… karena aku punya ideologi yang ku pegang teguh, maka aku hanya menganggapnya teman. Sampai
sekarang, sudah 9 tahun berlalu, tidak pernah sekali pun dia lupa tanggal
lahirku. Sederhana memang. Tapi, ini bener-bener SESUATU; anugerah yang harus aku
syukuri dan ku terimakasih-i. Mengingat tanggal lahir orang bukanlah perkara mudah, apalagi tanggal lahir orang yang tidak
pernah menganggapmu ‘lebih’. Tapi inilah yang ku apresiasi dari kak SOFI.
Mungkin, karena kesederhanaannya inilah sampai sekarang kami masih berteman baik. Ya Allah, baikkan akhlaknya
juga dan semoga masa depannya juga cerah. Aamiin..
Ucapan selanjutnya yang tak kalah spesial datangnya dari
Teguh.
Karena
pagi tak melulu soal roti dan secangkir teh. Selamat ulang tahun
Maaaakkkk..semoga semakin jauh lebih baik, terimakasih sudah menjadi paket
komplit (kawan, kakak, guru, sahabat) dalam sisa usia adek. Barakallahu fii
umrik. ^_^
Dek Teguh ini adalah adek sekaligus sahabat bagiku. Dia juga
adalah pembaca blogku yang ter-SETIA. Ntah sejak kapan dia memulai kesetiaan
itu, yang jelas aku bersyukur disetia-i olehnya. Di hari ulang tahunnya
kemarin, aku memberinya buku. Buku hasil tulisannya di facebook yang diam-diam ku tulis
ulang dan ku cetak sebagai buku. Hari ini… aku tak sabar untuk gantian dihadiahi olehnya. *ngarep.com. ehhee.
Assalamualaikum
Eli.. selamat ulang tahun yea Eli. Semoga umurnya yang bertambah semakin
dewasa, apa yang dicita-citakan tercapai. Aamiin. Dan usia yang berkurang
semakin memperbaiki diri. Dan semoga cepat dapat jodoh. Aamiin. Hehe.
JODOH? Kamu mendoakanku untuk cepat berjodoh? Sementara kamu
adalah orang yang masih menunda menjemputnya. Alangkah lebih indah kalau DOAMU
itu adalah DIRIMU juga. Tapi, lagi-lagi ini adalah doa baik. Semoga demikian
baiknya juga untukmu. Dia adalah seseorang yang tak kalah lama menyukaiku. Sejak
aku kelas 1 SMA (mungkin) masih hingga sekarang. Sama seperti sebelumnya,
terhadap yang lainnya, aku sangat berharap tetap bisa bersahabat meskipun
penolakan sudah tersurat. Olehku.
Tambah umur ya dek? Tanya bang Yopi pada PMku.
Iya bang. Heheee.
Subhanallah, ^_^ met
selamet ya dek. Tulisan edisi tambah umur kapan di uploadnya? Hehe.
Hehee..makasih bang. Yang jelas belum sekarang. Karena cerita hari ini kan belum selesai. Hehe.
Oh iyaa..betul
sekali. *thumb up.
Dan… yang ter-SPESIAL di antara yang spesial adalah ucapan
dari bidadariku, wanita calon penghuni syugra; MAMI. Aku sedari tadi menantikannya.
Khawatir kalau mami tidak akan memberiku sesuatu yang spesial karena mami
sudah begeser ‘faham’ tentang ucap-mengucapkan di hari ulang tahun.
Detik
demi detik terasa kembali nyata di ingatan, menjelangkehadiranmu di dunia. Tak
terasa 22 tahun berlalu, Alhamdulillah masih diberi kesehatan, kebahagiaan dan
dikelilingi orang-orang terkasih. Semoga lebih baik lagi, lebih dewasa n sukses
menanti. Muacchhhh… *kissing
Kalimat ini benar-benar punya kekuatan MAGIS. Aku
benar-benar bahagia membacanya, tapi seketika bahagia berubah menjadi haru dan
haru menjelma sebagai tangis. “Ya Allah, ternyata Mami sudah membesarkanku
selama 22 tahun. Lamaaa sekali yaaa. Apakah aku sudah benar-benar menjadi
kebahagiaan baginya? Rasanya beluuuummm. Aku mohon ampun ya Allah. Bantu aku
membahagiakannya.” Detik ini, aku menangis untuknya. Atas semua kasih sayangnya
juga untuk merindunya.
***
Sudah pukul 10.00wib dan aku masih bertengkus lumus di
kamar, merapikan barang-barang yang sudah terlanjur ku keluarkan semua. Aku
harus mengeliminasi satu demi satu barang yang masih layak ku pakai, layak ku
simpan atau harus ku buang. Posisi tempat tidur, lemari dan rak-rak sudah fix
sejak kemarin siang penataannya, sekarang tinggal pe-rapiannya saja.
Dreettt…dreettt…
panggilan masuk dari Lia.
“… lagi di mana Cin?”
“Di kamar nih.”
“Nggak ke luar doo?”
“Nggak kayaknya Cin. Kamarku kayak kapal pecah kena bom
nuklir nih. Aku harus merapikannya segera, udah nggak berbentuk kamar lagi Cin
kamar iniii..”
“Ohh kaciannyaaa. Ke luar lah Cin, masak di hari ulang
tahunmu mu di kamar aja? Selamat milad ya Cin, barokallahu.”
“Makaciihhhh Cin. Emangnya mu mau ngajakin aku ke mana?”
“Ada dehhh.. pokoknya aku tunggu mu jam 1 ini di perpus UR
ya! Awas kalau terlambat!”
“Ya deh, yaaa. Bububuyuuuu.”
Terkhusus hari ini, aku rela dipaksa oleh siapa pun. ^_^
Biasanya kan aku yang selalu maksa orang, hehe.
***
Lia memanggil…
“Heh? Udah di mana sih?”
“Masih di kamar. Heehee.”
“Huhh, buruanlah ke siniii! Kami udah di sini haa.”
“Iyo iyoooo. Eh, itu ada suara Dek Okta ya?” tanyaku.
Sepertinya Okta sedang ngobrol atau sedang menelvon.
“Iya. Dengar ya suaranya?”
“Dengarlah. Jelas. Gede gitu.”
“Pokoknya 5 menit! Cepat ke sini. Kami tunggu. Titik!”
telvon dimatikan.
Sebenarnya aku udah sadar kalau ini jam 13.00wib. Tapi, aku
masih dalam kondisi FLOW pada aksi beres-beres kamar ini. Makanya, sengaja nunggu
Lia teriak-teriak kayak gini baru aku akan beranjak. Ehhee. Mungkin, karena
akunya lelet, Lia sampai menelvon lagi, meneriakiku untuk bergerak
cepat.
“..Pokoknya dalam 5 menit mu nggak datang juga, kami bubar!”
ancam Lia.
“Ya udah, bubar aja sanahhh! Weekkk,” balasku pula.
“Huuu, dasar! Cepetan ya. Kami tunggu.”
Hari ini aku pakai gamis ber-polkadote hijau dan long cardie
hitam plus pashmina bermotif songket pemberian dek Reza yang sengaja ku pakai
di bagian hijau mudanya. Feel so green.
^_^ Sesampainya di perpus, aku celingukan karena nggak ngelihat ada tanda-tanda
keberadaan mereka di sana. Pas aku cek HP…
Cin, kami di saung
jembatan kupu-kupu ya.
Hemmm… kenapa nggak
bilang dari kemarin subuh sih?
Aku langsung menuju saung dan terlihatlah dari kejauhan balon
warna-warni mengelilingi saung itu.
“Bububuyuuuu wooyyy?” teriakku ketika melangkah di jembatan
kupu-kupu, menuju mereka.
“Eh, itu siapa ya?” tanya Okta, sok-sok nggak kenal.
“Nggak tahu juga. Kenal woy?” balas Teguh pula.
“Kalian kok nggak ngerjain aku sih? Aku kan pengen
dikerjaiiiinnnn,” rengekku ketika naik ke atas saung.
“Nggak ada ide untuk ngerjain doh!” kata Lia.
“Tadinya Okta yang disuruh Kak Lia ngerjain Kakak. Disuruh
minta Kakak ke sini untuk ngerjain KTI. Mana mau Okta, lagian Kakak pun pasti
udah nyadar kalau dikerjain! Malas ah!”
“Kannnn… kok kalian nyerah sih sebelum berusaha
ngerjaiiinn?” tambahku lagi. *ini edisi ngerjain yang dirindukan, heeheh.
“Cantikkk ngetsss balonnya. Kuenya juga kayaknya enak bangett tuh! Loh, kok bacaannya;
Barokallahu Cin dan Sahabat Semut.
Kok sahabat semut Cin?” tanyaku.
“Iya, kita kan sahabat semuttt, ye yeeee. Yuk, langsung kita
mulai aja!” kata Lia.
Kayaknya itu Sahabat
Semua deh tulisannya, tapi bagian A nya udah cacat karena goresan
sesuatu. hehehe. Tapi, lucu juga ya kalau disebut Sahabat Semut. Sempat terjadi perdebatan tentang siapa yang memulia
membuka acara. Lia pengen yang memimpin adalah salah satu dari pada cowok sedangkan mereka pegennya Lia saja yang memulai. Akhirnya, Lia yang mengalah. Lia memberikan kata sambutan tentang mendadaknya
rencana ini dan menjelaskan bahwa yang bertambah usia bukan hanya aku, tapi
kami semua. Dan, aku yang terakhir berulang tahun di antara mereka di tahun
ini.
“…lagian dari kemarin kita kan emang mau meet up tapi belum
kesampaian juga kan? Nah, inilah ajang kita bersilaturahim. Yeeeee,” kata Lia.
Selanjutnya, aku meminta Okta untuk memberikan kata
sambutan. Awalnya dia menolak… lalu keluarlah jurus paksaanku…
“Plisss Dek, di hari ulang tahun Kakak aja pun Kakak
mintanya ni. Belum tentu tahun depan Cek masih berkesempatan ngucapin loh!”
ancamku. Akhirnya dia menyerah.
“Selamat bertambah umur untuk seseorang yang telah memaksaku
dalam meraih impian yang udah sejak lamaaaa sekali aku inginkan. Sebenarnya,
sebelum dia ini memaksa Okta, Bang Hendra dan Kak Vivien juga udah pernah
mendorong Okta untuk ikut pemilihan Duta Bahasa, tapi nggak ada yang MEMPAN. Ha, tiba ketemu sama orang aneh kayak dia ni lah woy, akhirnya Okta mau
mencoba. Berpasangan pula nomor urut di pengumuman 10 besarnya, berpasangan
juga waktu final.”
“Dan berpasangan juga nggak menang,” sahutku.
“Iyaaa… hahaa. Sebenarnya Okta juga udah memutuskan untuk
nggak ikut pemilihan kayak gini lagi setelah dari Duta Bahasa kemarin. Dan…
mulailah dia memaksa Okta lagi untuk ikut seleksi Duta Lingkungan ini sejak
Okta masih di INHIL, KKN kemarin.”
“Oooooooo…” Lia ber-O panjang.
“Okta hanya mengiyakannya aja dan setelah Okta selesai KKN,
malah nggak semangat Okta untuk ikut karena persyaratannya adalah menulis KTI.
Dah tahu Okta paling malas nulis KTI gitu. Tapi, bukan Elysa Rizka Armala
namanya kalau nggak berhasil memaksa orang. Akhirnya, singkat cerita, Okta
sudah berhasil menjemput impian Okta sebagai Duta Pohon kota Pekanbaru 2015
ini. Yeeee. Dulu, Okta inget banget
waktu Okta bilang; ‘Kak, padahal Okta banyak tahu loh tentang perdutaan ini,
tapi kok nggak ada satu pun selempang yang mampir di bahu Okta ya?’ lalu si
Elis gilo ini menjawabnya; ‘Karena kamu nggak menjemputnya Dek,’ kalimat itulah
yang membius Okta selama berhari-hari sampai memutuskan untuk ikut Duta Bahasa
kemarin. Nah, Okta hari ini nggak mau mengucapkan selamat ulang tahun kepada
Cek, karena itu nggak diperbolehkan oleh Rosulullah. Karena Rosulullah juga
melarang umatnya untuk merayakan maulidnya.”
Lia langsung menyambut, “Iya, makanya di sini nggak ditulis Selamat Ulang Tahun, tapi Barokallahu Cint.”
“Eh, tapi tunggu dulu! Okta baca dalilnya tentang pelarangan
itu?” tanya Teguh.
“Emmm… nggak sih, tapi katanya gitu, hehee. Dah lah woy,
jangan tanya itu dulu ya, Okta pun belum tahu pasti dalilnyaaa looh!”
“Eh, tunggu dulu deh! Aku mau bicara juga jadinya.”
“Lah? Ini kok jadi diskusi di tengah kata sambutan sih?”
Yudi tertawa.
“Ya nggak apa-apa, biar sekalian nih dapat ilmu, ehhe,”
lanjutku. “Gini, sebenarnya perkara boleh atau tidak ini sebenarnya udah
pembahasan lama ya teman-teman dan memang belum ada dalil yang benar-benar
tegas menyatakan bahwa ini dilarang. Tapi, logika sederhanannya seperti ini,
kalau mengucapkan selamat ulang tahun dianggap mengikuti suatu golongan, maka
golongan mana yang sebenarnya kita ikuti? Bukankah semua orang melakukannya,
terlepas dari apapun agama mereka. Dan, yang berulang tahun itu kan bukan
hanya orang nasrani atau yahudi aja loh, tapi semua orang. SEMUA ORANG ber-UMUR dan
semua orang ber-ULANG TAHUN. Bener kan? Jujur, kalau aku pribadi
sangat-sangat-sangat berharap loh diucapin selamat ulang tahun karena ada doa
di dalamnya.”
"Okta juga ngarep loh! Jujur!" sahut Okta.
“Iya, mungkin supaya tidak menyerupai suatu kaum, kita
menghindari propertinya.”
“Yap, kan nggak ada tiup lilin hari ini,” kata Lia.
“Eh, satu lagi! Pernah ada yang menyarankan untuk mengucapkan
‘Selamat Millad’ sebagai ganti ‘Selamat Ulang Tahun’ dan menurutku itu SAMA
AJA. Yang beda hanya bahasanya saja.”
“Yap, setujuuuu!” kata Teguh.
“Mungkin kita ganti aja dengan; ‘Selamat mengulang bulan
kelahiran yaa’ gitu,” sambung Okta.
“SAMA AJA DEEEK! Intinya kan berulang tahun juga. Tujuannya
sama, ingin mengucapkan dan memberikan selamat di hari ulang tahun orang
tersebut kan?”
“Beda loh Cek. Mana ada tahun di ulang?” tanya Okta.
“Sama Cek. Tapi orang sastra ngakunya? Masa gini aja
diperdebatkan sih? Itu kan makna tersirat namanya. Kita hanya menggunakan
istilah yang lazim di gunakan oleh banyak orang. sementara yang istilah Cek
tadi nggak familiar. Gitu!”
“Iyolah iyo! Dah lah, Okta akhiri aja sambutan ini.
Assalamualaikum!” tutup Okta sambil manyun. Hahaa.
“Oke sekarang giliran aku lagi ya ngasih beberapa patah
kata. Hehehe. Terimakasih ya teman-teman atas hadiah ini. Aku seneeeeng banget.
Sangat bersyukur kepada Allah karena telah memberikan aku kesempatan untuk
menikmati usia 22 tahun ini. Karena, belum tentu aku bisa menikmati usia 23
tahun di tahun depan, umur seseorang siapa yang tahu? Tapi, jika pun aku tidak
berkesampatan sampai di sana, semoga segala sesuatu di antaranya adalah
KEBAIKAN. Semoga aku semakin sholeha, semakin taat padanya, semakin baik bagi
sesama dan semakin penyayang dengan keluarga. Dan mohon doanya ya teman-teman,
semoga aku bisa amanah di BANK SAMPAH ini dan jadi bisnisku juga. Karena,
setelah wisuda nanti aku nggak mau NGELAMAR pekerjaan, aku kan maunya aku yang
DILAMAR. Hehee. Sekian.”
“Kode keras nih!” kata Teguh.
Selanjutnya adalah acara pembagian kue dan makan bersama
(bersama kue maksudnya, ehhe). Aku memberikan irisan kue ini kepada mereka satu
per satu dan di abadikan oleh kamera Pro-nya dek Teguh yang ntah sejak kapan dibelinya.
“Ini kok nggak romantis kali ya? Kayak megang skop aja aku
haaa,” kataku.
“Iyaa…hahaa.. nggak ada sendok sih Ciin.”
Sambil menikmati kue ini, Lia kembali memulai sesi ucapan
dan doa untukku. Karena mereka nggak ada yang mau jadi yang pertama, akhirnya
hom pim pa jadi pilihan untuk mengundi. Dannnn… tetap aja Lia yang pertama.
Ehhe.
“…Semoga umur yang tersisa menjadi berkah dan telah berlalu
diampuni oleh-Nya. Semoga SKRIPSImu segera selesai dan kita bisa wisuda bareng
di bulan Februari nanti. Dan selamat atas amanah barunya sebagai Duta Bank
Sampah, semoga bisa menjalankan tugas dengan baik. Semoga lebih pandai lagi
menempatkan perasaan dan nggak terperangkap dengan hasil tes STIFIN sebagai
orang Feeling. Gini, kemarin aku ada lihat orang yang komen di FB tentang link
blogmu yang mu share. Orang itu bilang gini; Tulisannya
panjang banget, paket ngadat. Gimana hasilnya, El? Dan mu sadis banget
jawabnya; Nggak menang. Simpel kan
jawabannya? Itu menurutku agak kasar Ciin.”
“Loh, dia kan nggak mau baca dan langsung nanya gimana
hasilnya, Cin? Berarti dia itu ingin hal yang simpel kan? Makanya ku kasih
jawaban yang simpel. Terus, aku salah?”
“Ohh gituuu,” Lia berkomentar lembut. “Nggak salah sih, tapi
menurutku, mu jangan terbawa perasaan. Coba mu komennya agak panjang dikit
meskipun orang itu nanyanya cuek. Intinya, kalau ada orang yang nggak ramah
sama kita, cobalah berfikir dan berperasaan out of the box di luar perlakuan
orang itu kepada kita, Cin. Sekalipun dia cuek, coba kita balas dengan ramah. Apa
yang terjadi? Mungkin dia akan jadi ramah. Tapi, kalau kita tambah cuekin?
Jangankan mau tahu, baca blogmu pun takutnya malah dia jadi nggak berselera
lagi. Saranku sih gituuu. Pokoknya, semoga mu bisa lebih baik lagi, aku juga.
Dan… tetaplah menjadi saudariku dunia akhiraaat.”
“Amiiinn..maacih nasehatnyaaa Cin. Bububuyuuuu. Hayok! Siapa
lagi selanjutnyaaa?!”
Diam-diam, aku merangkai sebuah kesimpulan indah dari
nasehat Lia tadi; Bukan hanya FIKIRAN yang harus out of the box, PERASAAN juga.
Teguh, Okta dan Yudi kemudian hom pim pa lagi. Dan, sekarang giliranOktalah.
“Eheemmm… bener yang disampaikan oleh Kak Lia tadi. Okta
juga mendoakan Cek supaya nggak baper, hehehe. Ini dikit-dikit dihubungkan
dengan; ‘Kakak ini golongan darahnya B loh Dek!’ Ntah hapa pun hubungannya. Ya
kan Kak Lia? hhehe. Pokoknya, Cek harus lebih pandai lagi mengatur perasaan
Cek, kadang apa yang terlihat dari orang lain tidak selalu sesuai dengan apa
yang kita fikirkan. Dan, satu lagi… semoga cepat menikah! Hehe.”
Ternyata menentukan Teguh atau Yudi yang lebih dulu
menyampaikan doanya adalah hal tersulit dalam pertemuan ini pemirsaaa. Mereka
sampai berdebat untuk menggunakan cara SWIT yang mana. Hahaah. Ternyata Teguhlah
yang lebih dulu.
“… hidup Teguh mulai berubah setelah mengenal Mak dan Daeng di
FMRB. Teguh yang dulunya hanya sibuk berorganisasi mulai tertarik dengan
kompetisi dan bahkan sampai berani mencoba ikut MAWAPRES. Maha Besar Allah,
bahkan Teguh diizinkan untuk menjadi perwakilan FEKON dan mendapat gelar
MAWAPRES PERSAHABATAN di Universitas. Sebenarnya, Mak juga udah ngajak Teguh
untuk ikut Duta Lingkungan dan KTInya sebenarnya udah jadi tinggal diperbaiki
sedikit lagi, tapi mendadak Teguh ragu. Lagian, Teguh juga kan harus menjadi
Fasil untuk acara KKP kemarin dan setelah Teguh hitung-hitung, kalau dijalani
keduanya memang nggak akan maksimal. Walaupun sebenarnya agak sedih dan nyesel juga sih. Tapi, seperti kata Emak di blognya; Tiada
KEHILANGAN, tanpa PENGGANTIAN, Adek percaya itu. Makasih Mak udah
jadi paket KOMPLIT buat Adek, sosok sahabat, kakak, teman dan juga guru.”
“Hah? Dia ini GURU? Tak ado dohhhh!” celetuk Okta.
Aku memlototinya.
“Iya kan guru tu nggak mesti di sekolah tempatnya! Kalau dia
sedang ngajarin aku bikin KTI kan berarti dia itu GURUku. Huh!” balas Teguh,
galak. “Dan, pesan terakhir Teguh sama kayak Okta, semoga cepat menikah! Hehe.”
Ini para bocah kenapa pada mendoakanku cepat menikah ya?
Kali ini Lia yang nggak menyinggung sama sekali tentang itu, malah mereka pula
yang mengarah ke sana. Hemmm… tapi anyway, ini adalah doa baik. Aku
meng-aamiin-kannya. ^_^
“Dah, Daeng lagiii!” kata Teguh.
“Ehemmm…sebenarnya aku agak kurang nyaman disuruh
menyampaikan secara langsung kayak gini. Karena aku udah tes STIFIN dan aku
orang Intuiting, orang Intuiting itu kekuatannnya memang pada kata-kata.”
“Yeeeee… keyeen udah tes,” katakuu.
“…Semoga di umur yang tersisa ini semakin bermanfaat dan
berprestasi lagi. Dan, satu lagi! Ditunggu buku selanjutnyaaa.”
“Weeeww…aamiiin,” sahut kami.
GLEKKK! Benar-benar doa tercantik hari ini. Ditunggu buku barunya. Terharuuuu.
“Eh, tolong ya semua kata-kata kami diingat tadi ditulis di
blog!” pinta Yudi.
“Udah tersimpan nya tuh sama diaaa!” sahut Okta. “Tapi,
kalau nulisin tentang Okta biasanya sih dia sering salah. Kayak kemarin, Okta
bilang; ‘Ayah, sayap anakmu patah’ ditulisnya; ‘Ayah, sayap kiri anakmu patah’
hhahaha.. kan aneh si Elis ni woyy!”
“Ditambah-tambahin pula ya kan Dek?” kata Lia.
Selanjutnya adalah ngobrol santai di antara kami. Kami
bercerita tentang banyak hal, loncat-loncat dan berganti-ganti cerita atau
penceritanya. Hingga pukul 14.30wib, kami pun bubar. Okta yang lebih dulu
permisi karena harus ikut gladi resik untuk acara seminar kewirausahaan
anak-anak bidik misi. Selanjutnya, Teguh yang pergi karena ada kelas.
“Kita ke Pondok Hijau yuk?” ajak Lia.
“Aku nggak ada motor tapiii,” kata Yudi.
“Aku kan bisa sama Cin Elis, Daeeng.”
Sebelum meninggalkan saung ini, kami sempat bernarsis ria
bersama pasukan balon ini. Saking sayangnya, aku sampai ingin mengempeskan satu
per satu balon ini supaya bisa ku simpan di rumah. Tapi, Lia nggak setuju
karena pasti bakal repot dan buang waktu. Lagian, iya juga sih. Bukannya
membiarkannya tetap di sini pun adalah sebuah persembahan keindahan untuk
setiap penglihatan? *dasar Elysa aneh!
“Ini bensinnya ada nggak?” tanya Yudi ketika aku menyerahkan
kunci motorku. “Dia ni biasanya selalu bermasalah sama bensin,” lanjutnya lagi.
Aku benar-benar nggak bisa menahan tawa. Segitu selalu kah
aku kehabisan bensin sampai Yudi hafal gini? Haahhaah.
“Hehhee, iya iya, ini masih ada kok bensinnya. Dijamin!
Emangnya udah berapa kali Yudi ku repoti karena kehabisan bensin?”
“Setidaknya 2 kali; Waktu habis sosialisasi DISPORA kemarin
sama waktu sosialisasi MAWAPRES di FEKON.”
“Hahaaha… bener-bener. Keterlaluan ya emang nih! Itu baru
yang Yudi tahu, yang belum Yudi tahu banyak yang lebih parah lagi. Aku pernah
mogok di pertigaan jalan Diponegoro loh!”
“Waduh!”
Kami segera bergerak menuju Pondok Hijau. Ini benar-benar
kebalik, karena Lia lah mentraktir kami. Aku sih, seneng-seneng aja. Masak
kebaikan ditolak sih? Kan nggak boleh ya? Setelah makan, aku dan Lia sholat
Ashar bersama di mushola rektorat dan menyambung obrolan dengan Okta di
halamannya. Sore ini adalah sore tak biasa dari biasanya. Selain karena
menyudahi hari dengan obrolan bergizi, juga karena sebuah VISI baru telah
terkonsep dengan pasti.
***
“Kak Eeeelll?” sapa seorang wanita yang sejak tadi ku lihat
mengaji di sudut kanan mushola Arrafah ini.
“Loh? Dek Yanaa toh? Kakak kira siapaaalaah tadi.”
Kami bersalaman.
“Selamat Milad ya Kak. Semoga berkah umurnya.”
“Makasih Dekkk.”
“Kakak dari mana ni?”
“Dari eemmm… ngisi bensin tadi di SPBU depan pasar Panam.
Yana dari mana?”
“Kalau Yana emang sering sholat ke sini Kak kalau maghrib,
sampai Isya.”
Wahhh… rajin!. Subhanallah, semoga seterusnya rajin begini ya
Dek. Selanjutnya, kami menyimak ceramah dari seorang ustad. Aku sempat kaget
waktu baru datang tadi, shaf laki-laki sampai nggak muat di dalam dan beberapa
orang terlihat sholat di teras. Motor pun banyak banget sampai aku nggak nemuin
celah untuk parkir lagi. Alhamdulillah, kesadaran untuk sholat di mesjid
ternyata semakin tinggi.
“Kakak udah makan?” tanya Yana setelah sholat Isya.
“Belum. Makan bareng yuk Dek?” ajakku dengan mata berbinar.
“Ayuk Kak! Di mana?”
“Di mana enaknya ya?” tanyaku.
“Terserah kakak aja. Yana ikut!”
Hemmm…kalau dengar jawaban model ini jadi teringat dengan
Rini yang serba ‘ngikut’ aja dan aku jadi pemegang kendali sepenuhnya.
“Di Sambal Lesung yuk?”
“Yuk!”
Kami bergerak ke Manyar Sakti dan memilih tempat duduk di
dekat etalase makanan. Aku yang akan memesan makanan.
“Bakmie godok itu maksudnya Bakmie rebus ya Mas?” tanyaku. “Adek
apa Dek?”
“Bakmie juga deh kayak Kakak.”
“Oke deh. Mas, Bakmienya 2 ya! Kami duduk di situu,”
tunjukku pada tempat dudukku.
Dan… setelah Bakmie yang kami nanti tersaji, aku terbengong.
Kok Bakmie rebus sih?! Aku jadi teringat dengan bakmie rebus yang pernah ku
nikmati bersama Okta di jalan Delima dan aku kurang puas. Ingin sekali rasanya
segera ku klarifikasi kepada si Mas itu. Tapi… aku sadar kemudia bahwa ini
memang salahku. Tadi, aku nggak menyebutkan Bakmie goreng, aku hanya menyebut
Bakmie dan karena sebelumnya aku bertanya tentang Bakmie Godok, makanya yang
ter-mindset adalah Bakmie Godok. Emmm.. nggak apa-apa deh! Ini rezekiku malam
ini berarti.
“Pelan-pelan ya Dek makannya, panas banget nih!”
“Iya, masaknya aja sampai apinya ke mana-mana gitu Kak.
hahaha.”
“Eh, Adek kemarin datang kan waktu malam puncak Duta
Lingkungan? Tapi cepet banget ya pulangnya?”
“Iya Kak, soalnya Novi nggk bisa pulang di atas jam 10 Kak.
Itu aja dia terkunci setengah jam di luar pagar. Yana bahkan nggak sempat
ngelihat Kakak waktu jawab pertanyaan. Jadi, kami itu cuma kebanyakan ngelihat
kata sambutan doank Kak. hehehe.”
“Wahh.. iya yaa. Berarti waktu kami pakai baju daur ulang
juga Adek nggak lihat donk?”
“Padahal itulah yang sangat kami tunggu-tunggu Kak. Yana
nungguin postingan Kakak di Instagram loh jam 12 malam. Siapa tahu Kak Elis
udah update, setidaknya Yana bisa lihat dari sini. Eh, ternyata belum ada. Lanjut
tidur lagi lah Yana Kak.”
“Huahhhhh…mana sempat mau apdet Dek. Badan udah remuk semua.
Lagian jam 12 itu kami baru selesai acara. Jadi ya kebayangkan repotnya
berkemas.”
“Ya kan siapa Tahu Kakak langsung apdet saat itu juga. Hehehe.”
Malam ini aku berteman dengan Yana. Terimakasih Dek atas
cerita-cerita hikmah dan semangatnya untuk Kakak. Demikian juga yang terbaik
untuk adek.
***
Setelah membuka pintu kamar, barulah aku tersadar kalau kamar
ini masih berantakan. Huahhhh.. jadilah aku menghabiskan malam dengan merapikan
segala sesuatunya. Bagian lemari hias
belum rapi sama sekali, tapi semua barang-barang yang akan mengisinya sudah ku
letakkan di sana supaya kamar ini segera terlihat lapang dan lelah segera
berganting senang. Aku baru beranjak tidur pukul 00 lewat. Selain karena kasur
baru layak ditiduri, juga untuk kembali menyaksikan pergantian waktu.
Selamat datang usia 22
tahunku…selamat ulang tahun wahai diriku, ini adalah hadiah untukmu. Kataku,
sambil memandangi seisi kamar bernuansa baru ini.
Semangat baru.
Taat baru.
Mimpi baru.

1 komentar:
Wohooo
bububuyu sekali lagi selamat ulang tahun, ke-baper-an-nya dikurangi ya... ^^
Tetep menginspirasi mak!
Posting Komentar