Minggu, 28 Februari 2016

Dengan Sampah, Kita Bersedekah



Tidak semua yang kita TAHU harus DIBERITAHU. Karena ada kalanya  orang lain TAK PERLU TAHU dan ada kalanya juga mereka tidak MAU TAHU. Ketika kita memberi tahu padahal mereka tidak perlu tahu, berarti kita sudah BERLEBIHAN. Sedangkan ketika kita memberi tahu padahal mereka tidak mau tahu, berarti kita sudah melakukan KECEROBOHAN. Oleh sebab itu, sangat perlu bagi kita untuk belajar menempatkan segala sesuatu sesuai tempat dan masanya.
Ada kalanya kita perlu menjadi Gelas Setengah Kosong; Punya sesuatu untuk DIBAGIKAN dan punya ruang untuk menerima PEMBERIAN. Semoga kita bisa menjadi orang-orang yang selalu bisa DITERIMA keberadaannnya meskipun belum tentu benar-benar DISUKAI.
*Tentang Tahu dan Memberi Tahu – Metamor(Prosa)


***

Aku bergerak meninggalkan kosan. Ku tinggalkan Nilam sendirian di kosan dengan laptop supaya dia bisa mengusir suntuk dengannya. Duh! Aku baru ingat, kemarin kak Tami mengharuskanku membawa botol soft drink besar dan 3 buah Aqua Gelas. Hemmm... bagaimana ini? Sempat terniat untuk mampir di tong sampah di pinggir jalan aja, tapi kok kurang kerjaan banget sih? Hehee, akhirnya ku lanjutkan perjalanan. Semoga bu Elma nggak marah. Aamiin.
“Pak, Paaakk… numpang tanya. Villa Panam Melur Indah di mana ya Pak?” tanyaku pada seorang bapak yang baru ke luar dari Alfamart di jalan Melur Ujung.
“Villa Panam? Oh, udah kelewatan. Putar balik, nanti kelihatan di sebelah kiri tuu kompleknya.”
“Makasih Pak.”
Aku kembali memutar arah, ternyata aku kembali melewati EZ. Aku sudah menemukan komplek Villa Panam dan sudah memasuki jalannya.
Ah, itu sepertinya Michiko! Bathinku ketika melihat cewek berpakaian serba hijau di depanku.
“Heyyy Ciin?” sapaku ketika kami sudah sama-sama sampai.
“Hayyy Kak?”

Kami berbarengan menuju pos pengolahan kompos di depan rumah bu Elma. Ada dek Cirip, Nova, Michi dan aku pagi ini, tak ada satu pun cowok yang datang ternyata. Nggak nyangka, ternyata pak Camat Tampan hadir juga pagi ini dan beberapa wartawan yang meliput kami.
“Kita foto bareng Pak Camat duluuuu yaaa!” pinta bu Elma.
Kami segera menengah bersama pak Camat dan jajarannya.
“Eh, Pak Camatnya ganteng ya ternyata?” celetukku kepada Nova.
“Namanya aja Camat Tampan, Lis.”
“Oh iyaaa yaa.. cucok sama nama kecamatannya.”
Setelah sesi dokumentasi, kami kembali melanjutkan pekerjaan; ada yang memilah-milah sampah-sampah plastik yang tercampur ke dalam sampah daun, ada yang memasukkan hasil cacahan ke dalam drum dan komposter, ada juga yang memasukkan sampah organic ke dalam mesin pencacahn.
“Eh, tengoklah dek Michi tuuu.. dia sedang wawancarai bu Elma dan pak Camat. Memanglah yaa si reporter satu tuuu! Eh, berarti kita bakal masuk koran lagi donk yaa?” kataku.
“Ah, nggak perlu nunggu masuk koran pun cerita kita kan selalu terbit di blognya Kak Elissss,” sahut dek Cirip.
“Sihiiiiiiiiyyyy.”

“Eh, Kak, andaikan aku juga rajin nulis diary, pasti hari-hari penting yang udah aku lewati semuanya tercatat dengan rapi,” aku dek Cirip. “Eh, Woyyy kemarin kan pas aku pulang kampung, ku baca-baca lagi diaryku waktu SD, ya ampuuuuunn ternyata aku nulisnya cuma setahun sekali. Pas ku buka eh curhatan tahun 2007 dan pas ku buka lagi sebelahnya eh curhatan tahun 2008. Hahaaa.”
“Kampung Cirip di mana sih sebenarnya?” tanya Nova.
“Di Ujung Batu, tapi kampung nenek di Medan. Jadi kemarin tu aku pulang kampungnya ke Medan jugaa.”


“Dek Cirippp.. ada seseorang yang pernah bilang gini ke Kakak; ‘Cirip itu udah full package. Semuanya udah komplit dalam dirinya’. SIhiyyy.”
Dek Cirip tersipu malu.
“Ternyata kisah Adek hampir mirip dengan Kak Vivien ya Dek?”
“Iya Kak. Sama-sama dari kampung. Adek dulu bener-bener nggak ngerti gimana caranya pake heels Kak. Bener-bener nggak ngerti make up. Ya ampuuun, udah dandan lama-lama malah dibilang kayak nggak pake bedak! Sial kali kan kak? haha. Adek tu ngikutin ini-itu tujuannya cuma 1 Kak; Pengen belajar. Ih, gimana sih rasanya ikutan ini, gimana sih rasanya ikutan ituu! Terus, aku tuh suka banget mengenal orang baru Kak. Tapi ya itu masalahnya, aku belum nemuin passion aku tu sebenarnya di mana? Karena semuanya ku ikutin Kak. Kata orang kan lebih baik sedikit, tapi dalam daripada banyak tapi tipis-tipis.”
“Dek, kata mario Teguh; ‘Keahlian-keahlian yang tipis tadi akan jadi pondasi yang KOKOH ketika nanti passion kita udah ditemukan. Nah, sambil mencari, teruskanlah membangun pondasi tadi Dek.”
“Wihhhhh, cerita sama Kak Elisa ini langsung bikin aku mikir yaa!” kata Dek Cirip sesaat sebelum ia benar-benar berfikir.
 
Setelah memperhatikan sambil bertanya dan mendengarkan pejelasan bu Elma, aku mulai faham bahwa proses pembuatan kompos itu sangat mudah. Pertama, kita perlu mencecah sampah organik (bukan sisa makanan olahan), lalu memasukkannya ke dalam drum kompster sambil memercikkan larutan EM4 atau air rendaman beras, lalu diamkanlah hingga seminggu. Jadi deh!
“Bu, pupus kompos ini bisa dijual nggak sih? Kalau dijual, ke mana menjualnya?” tanyaku.
“Sebenarnya kalau warga di sini sih menggunakan kompos ini untuk tanamannya. Tapi, kalau mau dijual bisa. Biasanya orang-orang yang jual-jual bunga itu mau beli kompos,” jelas bu Elma.
“Udah sejak kapan Ibu mendirikan pos pengolahan kompos ini Buuukk?” tanya michi.
“Udah sejak tahun 2014 lah kira-kira.”

Kami bekerja sambil bercerita. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 09.00wib. Aku teringat agenda di Happy Chef Resto bersama alumni BAT di jam ini. Tapi, segan banget kalau aku iizin sementara yang lainnya meluangkan waktunya di sini. Hikss.
“SIlahkan diminum esnyaaaa.”
Kami beristirahat setelah merapikan kembali pos pembuatan kompos tadi. Aku fikir, agenda sudah selesai, tapi ternyata bu Elma akan mengajari kami Hidroponik dan Biopori. Agenda ini mendadak ku stel sebagai prioritas hari ini.
“Dekk! Coba dengarkan inii!” ku sodorkan rekaman puisiku kepada dek Cirip. Ada Michi juga di sebelahnya yang ikut mendengarkan.
Ini adalah jarak ter-aman antara kita.
Antara aku dan kamu
Terlalu dekat justru akan saling menyakiti
Aku ingin mencintaimu dalam JARAK dan DOA
Tak harus dekat untuk menjadi SATU, kan?
*Elysa Rizka Armala

“Ih, bagus Kak! Ini suara Kakak?” tanyak dek Cirip.
“Iyaaaa Dek. Hehhee. Tadi pagi tuh ngerekamnya.”
“Aku yaa woy kalau buka Instagramnya Kak Elis, paling suka baca captionnya. Tulisan Kak Elis ni jenisnya adalah hal-hal yang pernah dialami dan dirasakan. Makanya, ngena banget di hati. Kadang kan ada orang yang nulisin hal yang sama, tapi karena nggak ngena di hati karena belum dialami.”
“Makaciiih Dek. Anyway, tulisan Kakak tu basicnya adalah PERASAAN Dek.”
“Ohhh gituu. Awalnya aku tadi agak serem Kak karena musiknya. Aku kira music muhasabah gitu kan? Aku tu paling takut kalau dengar ustad yang ceramah, suaranya serak dan berat, bener-bener takut kali aku dengernya. Biasanya langsung minta Mamaku ganti chanel, hehee.”
“Itu tandanya kita banyak dosa Dek,” kataku sambil menyentuk lutuk dek Cirip.
“Itulah Kak.”
Setelah kami berselfie ria, Bu Elma mengajak kami ke rumahnya.
“Kita makan lontong dulu yuk di rumah Ibukkk!” ajak bu Elmaa.
“Yeee yeeee,” kataku kegirangan.
Anak bungsu bu Elma ternyata sedang demam. Kami agak mengecilkan suara kami supaya di adek nggak terganggu.

“Ihh aku udah lama kali nggak makan sayur Gori rumahan gini loooh,” kata dek Cirip.
“Goriii?”
“Iyaa.. Nangka muda ini bahasa jawanya Gori. Kalau yang tua baru kami sebut Nangkaa,” jelasku.
“Ohh, kalau orang Minang nyebutnya Cubadak, mau muda atau tua sama aja,“ jelas bu Elma.
Setelah selesai makan lontong, kami ngobrol dengan Bu Elma di ruang tamu…
“Untung aja tadi tu aku nggak nyasar loh ke sini! Lumayan gampang nemuin alamatnya ternyata. Biasanya aku susaaah banget kalau nyari alamat rumah,” ujar dek Michi.
“Ih, samaaaa looooh Dek,,,” sahutku.
“Memang cewek tu seperti itu. Tingkat kejeliannya di bawah laki-laki. Ibuk kalau udah diantar sama anak Ibuk, pasti nggak peduliin jalannya. Ntar kalau Ibuk harus ke sana sendirian, pasti Ibuk bingung tuh! Hehehe,” jelas bu Elma.
“Saya pernah juga baca buku psikologi gitu Bukk, jadi tingkat navigasi cewek itu memang lebih lemah dibandingin cowok. Makanya, kadang kita kalau dibonceng ngebut-ngebut sama cowok pasti ketakutan banget, padahal bagi dia biasa aja karena tingkat navigasi dia lebih hebat dari kita,” jelas Michi lagi.
Wah, dapat ilmu dan fakta baru nih! Berarti bukan aku aja di dunia ini yang susaaaaaah banget nemuin alamat, hehee.
“Yuk kita langsung belajar Biopori!” ajak Bu Elma

Alhamdulillah, yang datang hari ini beruntung banget pokoknya! Karena kami dikasih alat pembuat lubang biopori oleh bu Elma. Selain itu, kami juga dikasih serbuk pembusuk sampah Kompos dan juga Rohkol untuk menanam benih di Hidroponik. Yang paling asik di penghujung pertemuan ini adalah ketika kami ngobrolin tentang Bank Sampah.
“Kalau masyarakat di sini masih berorientasi pada profit ketika menabungkan sampahnya. Sementara Ibu pernah baca, di Pekalongan, sampah ini murni untuk sedekah. Siapa yang bisa mengolahnya, dialah yang mendapatkan keuntungan. Jadi temanya ‘Dengan Sampah, kita Bersedekah’. Ibu butuh orang-orang yang mau komit untuk menghidupkan lagi Bank Sampah di kantor Camat Tampan itu. Orang-orang yang bermental sama; mencintai lingkungan. Nggak ada keuntungan yang kita dapatkan selain kepuasan bathin. Tapi, kalau bank Sampah itu sudah besar, apa sih yang tidak mungkin kan?” jelas bu Elma.
Jam sudah menunjukkan pukul 11.35wib. Bu Elma mesti mengantarkan anaknya ke Klinik untuk diobati sedangkan kami memohon diri. Yana dan Nilam sudah menunggu di depan Robinson. Kami akan kondangan ke Gedung Juang siang ini.

***

“Kak, kita nggak ada bawa kado loooh! Gimana nih?” kata Yana.
“Iyaaa yaa. Kan biasanya Ibuk tu kalau ngundang kita emang cuma untuk makan-makan aja, hehee. Lagian kita pun nggak tahu siapa-nya yang menikah hari ini.”
Aku mengajak Yana dan Nilam masuk dengan tenang dan pedenya. Di meja Registrasi, kami mengisi buku tamu dan mendapatkan souvenir cantik berupa piring kaca dan gelas kaca.
“Dek, nggak apa-apa nih kita nggak ngasih amplop?” tanyaku, karena khawatir penerima tamu memperhatikan kami yang nyelonong aja.
“Nggak apa-apa Kak. kita kan ke sini untuk memenuhi undangan Ibuuuk,” kata Yana.
Kami menikmati makan siang sambil memperhatikan panggung megah di depan kami. Sepasang pengantin itu sedang berfoto bersama dengan keluarga besar dan para undangan yang menyalaminya. Ruangan ini benar-benar didesain sehingga terlihat mewah dan elegan dengan nuansa ungunya. Setelah selesai makan, aku dan Yana bergantian berfoto di photo boot yang bertabur bunga-bunga.
“Yuk kita pulang Kak?” ajak Yana setelah selesai dengan semuanya.
Ketika kami kembali ke parkiran, ternyata baru kami sadari bahwa kedua mempelai yang sedang berbahagia di dalam sana adalah sepasang Dokter dan Insinyur. Wawwww, luar biasa! Semoga sakinah, mawadah, warohmah ya Kak, Bang…

***

“Nilam lewat jalan mana sama kak Yana tadi?” tanyaku.
“Nggak tahu. Kakak mana ngerti jalan, Mbak.”
Aku memang menitipkan Nilam kepada Yana karena aku membawa tongkat pembuat lubang biopori dan agak menyulitkan berkendara.
“Kok baju Mbak basah kuyup?”
“Kan hujan tadi di jalan. Memangnya Nilam nggak kehujanan?” tanyaku.
“Ah, gerimis dikit aja pun.”
Kami tidur siang bersama kucing. Aku baru terbangun pukul 16.00wib itu pun setelah dibangunkan oleh Nilam. Benar-benar tidur yang lelap dan ketika bangun, kepalaku agak terasa sakit. Kami lalu menunaikan sholat Ashar bersama dan aku segera mengantarkan Nilam pulang.
“Lam, pakailah sepatu karet Mbak nii! Sempit ternyata dan sakit kaki Mbak dibuatnya.”
“Ya Allah Mbakkkk… kok panjang kali kaki Mbak? Padahal ini udah nomor 40.”
“Itulah masalahnya. Memang nggak ada nomor 41nya Lam.”
Sesampainya di depan pesantren…
“Hati-hati ya Mbak berangkatnya besok. Semoga selamat sampai tujuan.”
“Nilam juga belajarnya yang rajin yaaa. Cemunguuuddd!”
Tadi aku sudah berterus terang juga kepada bu Elma perihal pengabdianku selama 2,5 bulan nanti. Alhamdulillah bu Elma sangat mendukungku. Semoga pengabdian ini akan semakin mempekayaku dengan pengetahuan, pengalaman dan kebijaksanaan. Aamiin.

***

Aku langsung ke kosan Yana. Yana baru saja bangun tidur ketika aku datang. Ternyata dia dan aku sama-sama capek karena perjalanan ke Gedung Juang yang tadi pake nyasar segala. Huahhhh.
“…Dek, bacalah chat Kakak  nih! Tapi, pertama-tama, baca dulu blognya Dek!”
What is your response?
Nggak tahu mau ngomen apa
Ah, males. Dah!
Kakak setuju-setuju aja soalnya. Dan,
tulisanmu kali ini kasar banget menurut kak.
Nah, gitu donk. adek kan kamu dengar sesekali
yang kontra, biar dapet tambahan pandangan.
So, dari sisi mana kasarnya kak?
Semuanya. Emosional banget. Dari awal. Sinisme gitu.
Ah, kak kek nggak tahu sarkasnya adek aja.
Kakak melihat kesombongan dalam tulisanmu dek.
Hati-hati. Tulisan itu mencerminkan
kondisi emosional plus pengetahuan penulisnya.
Ada orang yang cerdas, tapi tulisannya sangat
santun dan terasa rendah hatiiiii banget.
Ini pendapat loh ya, peace!
Ohhh. Jadi gegara kita tak sependapat
(dalam kasus ini), kak menganggap ini sebuah
kesombongan? Cara dek nulis untuk buah pikir
emang sarkas kak. Coba deh sesekali kak baca
artikel di mojok.com, kak akan sadar bahwa
tulisan serius tak melulu tentang alur
beruntun dan momok monoton.
Siapa bilang kak menilai tulisanmu sarkas
karena kita nggak sependapat? Big no! itu pendapat
kak…sebelum nanti (mungkin) nanti ada
yang berpendapat sama. Tapi yang tulisanmu sebelumnya
nggak kelihatan sombong kok, asik bacanya.
Oh iya dah… Adek cuma minta pendapat balasan
dari isi tulisan kok. Sama halnya dengan
balasan tulisan-tulisan kak. karena adek
lebih fokus ke sini yang disampaikan, bukan
penyajian. Padahal kakak sendiri kan yang bilang;
‘Apa hebatnya aku jika hanya menyama?’
yahhh..di saat aku mulai menemukan jati diri ternyata.
Ah, mungkin cara pandang nulis kita berbeda kak. ^_^
Penyajian dan isi itu nggak terpisahkan. Sama halnya
dengan PENDAPAT dan cara menyampaikannya.
Kata Mario Teguh; Caramu berbicara jauh lebih penting
daripada apa yang akan kamu bicarakan. Suatu hari,
ketika kamu sudah makin dewasa dan hatimu lebih
peka, kamu akan faham kalima kak tadi; Bahwa
keangkuhan penulis itu bisa terlihat dari tulisannya.
Bukan hanya keangkuhan sih sebenarnya, tapi
semuanya; kasih sayang, dendam, benci, cinta, rindu, sayang.
 Tetap be yourself dek. Tapi jadilah versi yang terbaik.
Karena jati diri itu bisa DIBANGUN dan nggak mentah.
Ya terimakasih kak. setidaknya adek tak akan
mampu membahagiakan semua orang. begitu juga
dengan tulisan. Kita nggak akan bisa memaksa orang
untuk berpendapat sama dengan apa yang kita inginkan.
Terkadang juga, cara terbaik dalam MEMBALAS ialah dengan tidak MEMBALASnya. Sekali lagi terimakasih atas masukannya.
Maafkan Kak juga. Atas benar dan
salahnya kakak ya dek.
“Gimana menurut Adek? Apa yang Adek tangkap dari tulisannya?”
“Emmm…menurut Na, banyak kali dia menghujatnya Kak! Memang sih  mereka artis dan beritanya udah jadi konsumsi publik, tapi sebenarnya nggak perlu segitunya kan diungkit.”
“Iya Dek, Kakak setuju. Dalam tulisan itu, dia seolah-olah ingin mengungkapkan semua yang dia tahu. Padahal itu nggak ngefek dengan ide utamanya. Kalau dalam KTI, itu jelas frontal banget karena dalam KTI, prinsip ke-netral-an itu harus dijunjung Dek.”
“Kak, tolonglah kasih tahu dia… berdebat itu nggak boleh loh sebenarnya. Na ada baca kemarin. Rosulullah nggak suka.”
“Kakak juga pernah baca Dek. Insya Allah akan Kakak sampaikan ke dia Dek.”
“Semakin dia sering berdebat, semakin keras nanti hatinya Kak. Di Grup Cendol pun Na perhatikan dia gitu. Pantaaang banget kayaknya kalau dia ‘dibawah’. Na kan ngikutin chat di grup itu meskipun nggak selalu nimbrung. Na sering membathin; ‘Ini loh sebenarnya yang orang tu nggak suka darimu.’ Na yakin Kak, bukannya teman-teman yang lainnya nggak MAMPU meninggi, tapi memang mereka nggak MAU meninggi. Kalau dia, tema ceritanya sering kali; ‘Ini loh aku!’ sedangkan teman-teman yang lain itu tema ceritanya; ‘Ini loh kitaaa!’.”

Aku tersenyum. Mataku membulat. Blogku tentang a Wisdom from Someone akan segera terisi dengan inspirasi kebijaksanaan yang satu ini. ^_^
“Dulu waktu SMA Kakak pernah merasa dikucilkan Dek, padahal saat itu Kakak merasa berada di puncak.  Sekarang Kakak baru nyadar bahwa ternyata dalam pergaulan… ada kalanya kita nggak perlu menunjukkan KEHEBATAN yang kita punya karena ada kalanya orang  lain nggak MEMBUTUHKAN itu. Tapi, ada 1 kemampuan yang membuat kita selalu bisa diterima di mana pun kita berada; KEMAMPUAN MEMBAUR bersama orang lain. Nah, ini nih yang ternyata banyak dilupakan oleh orang pinter! Hehe. Sesekali, penting juga ternyata merelakan diri kita lebih rendah daripada orang lain sekalipun hanya dalam berpendapat. Sesekali penting juga bagi kita mempersilahkan orang lain lebih dulu berbicara daripada kita. Intinya, kita nggak melulu harus jadi yang TER-baik, TER-cepat, TER-hebat atau TER-unggul. Sesekali, kita perlu juga berada di tengah atau di bawah,” kenangku pada masa lalu itu...

***

“Kak, jalan yuk ke pasar Senggol?” Ajak Yana setelah kami selesai makan malam di Kantin Alif.
“Yuk!”
Aku sholat dulu di mushola Arrafah dan barulah kami melaju ke pasar senggol.
“Dek, lihat cowok yang sedang memutar motor di depan kita ini!” bisikku kepada Yana. “Okta jodohin Kakak sama dia loh!”
“Nggak apa-apa Kak, Na dukung. Wajahnya adem banget loh Kak! Terus, dia tu tipe cowok yang suka di rumah dan pengen punya istri yang suka di rumah. Sementara Kakak kan suka keluyuran, hahaah berarti nggak cocok lah!” kata Yana.
Kami sudah sampai di pasar senggol. Hal yang mengesalkan dari teman perempuan adalah ketika kita udah capek muter-muter ke sana kemari dan awalnya aku ngira dia nggak mau belanja, tapi ketika aku sudah selesai belanja, barulah dia minta ditemenin nyari keperluannya. Huahhhhhhhh… ^_^. Aku beli rok hitam dan sepatu karet lagi pemirsaaa, semoga yang ini lebih nyaman dan tahan lama. Yana hanya membeli jilbab langsungan aja ternyata. Sementara yang kami cobain udah buanyak banget mulai dari kaca mata sampai topi koboy. Hahaha. Teman perempuanmu kayak kami juga nggak ya?

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Astaga kaakkk, gak nyangka kakak inget semua dan alurnya yaaa
Tulisan kakak nih emang udah gak di ragukan lagilah pokoknya.
Di tunggu tulisannya menjadi buku ya kak;);) *Cirip*