Sabtu, 27 Februari 2016

Mencintaimu dengan Merelakanmu



Aku pernah berkata seperti ini kepada seseorang; “Aku punya keinginan untuk bekerja di Bandara.” Lalu ia bertanya; “Kenapa? Sepertinya itu bukan duniamu deh!”. Aku menarik nafas, kemudian perlahan berkata; “Aku ingin menyaksikan orang DATANG dan PERGI. Aku ingin menjadi melihat bagaimana orang-orang menyambut KEDATANGAN dan melepas KEPERGIAN. Supaya aku lebih bisa MENCINTAI KEHILANGAN dan MENGHARGAI PERTEMUAN.” Ia mengangguk, aku tersenyum.
*Tentang Bandara – Metamor(Prosa)


***

Kak Dewi meminta tolong padaku untuk menjemput Ami. Padahal Rini sudah SMS sejak tadi dan aku ingin segera sampai kepadanya. Tapi, akhirnya ku putuskan untuk mendahulukan menjemput Ami karena tidak ada yang bisa menjemputnya selain aku. Sesampainya di sekolah, aku celingukan mencari Ami dari sekian banyak murid yang berbaur di lapangan.
“Dek, kamu kelas berapa?” tanyaku kepada anak laki-laki yang berseragam Pramuka. Tadi pagi Ami pun menggunakan baju Pramuka.
“Kelas 1 Kak.”
“Kenal sama Fahmi?”
“Kenal Kak.”
“Tolong panggilkan dia ya Dek.”

Tak lama Ami muncul. Aku mengajaknya pulang, tapi ternyata gurunya belum mengizinkannya pulan sekalipun acara hari ini hanya perlombaan ‘Real Good goes to School’. Ku putuskan untuk menemui gurunya. Awalnya aku ragu dan agak takut karena perawakannya yang tinggi-besar. Tapi, dengan bismillah ku beranikan diri…
“Bu… Bolehkah saya bawa Ami pulang lebih awal, Bu? Soalnya nanti nggak ada yang bisa jemput Ami sementara saya harus ke kampus, Buu.”
“Ohh gituu.. ya sudah, bawa saja Ami-nyaa. Nama lengkapmu siapa Nak?” tanya bu guru kepada Fahmi.
Ia lalu membaca nama yang tersemat di seragamnya Ami. Kemudian, kami bergegas pulang.

***

“Maaf Cuuuyyy! Eke mesti jemput Ami dulu tadiii.”
“Ku pikir El kerasukan menulis tadi. haha.”
Kami segera menuju PUSKOM. Ternyata bangku panjang yang biasa kami duduki sudah tidak ada lagi. Ntah disengaja supaya tempatnya lebih lapang atau bagaimana. Akhirnya aku dan Rini duduk lesehan. Rini menggunakan laptopku untuk mendownload banyak video. Sementara proses mendownload berlangsung, ku manfaatkan untuk mempost beberapa diaryku dan mengupdate armalaa.blogspot.co.id.
“Rin, sebentar lagi Rini akan pulang dan aku kembali sendiri. Aku sedih Riiin. Kapan kita bisa berduaan di puskom seperti ini lagi?”
Kami di sini sampai azan Zuhur berkumandang. Lalu pulang. Rini minta ditemankan membeli Paket Internet yang sedang promo (XL, 4,5GB 24 jam only 27rb) seperti yang ku pakai saat ini. Sementara Rini membeli kartu, aku membeli nasi bungkus. Kali ini kami akan makan berdua untuk menghemat keuangan Negara. Nasi bungkus+nasi tambah+lauk ikan Nila Bakar. Hemmm… Nyummiiii. Sepanjang perjalanan pulang… ada satu pertanyaan yang berulang-ulang terulang oleh fikiran dan hati…

“Rin, kapan kita bisa ketemu lagi yaa?”
Tapi tak jua ku tanyakan kepadanya. Takut aku semakin SEDIh dan takut dia menjadi BERAT pergi. Kami sudah semakin dekat ke kosan dan sama-sama diam, seolah sibuk ngobrol dengan diri masing-masing.
“Rin, kapan ya kita bisa ketemu lagi?” tanyaku, akhirnya.
“Emmm…doakanlah aku bisa main ke sini lagi Ell. Makanya, cepat-cepatlah punya rumah sendiriii!”
“Aamiin ya Allah. Ntar datang ya ke rumah barukuuu!”
“Asal lah El kirimin aku ongkos untuk naik pesawat. Hahaha.”
Kami masuk ke dalam kamar, aku sholat dulu sementara Rini berkemas. Lalu kami makan siang bersama sambil menikmati video OK-JEK yang baru Rini download tadi.
“Rin, kapan kita bisa makan bareng kayak gini; Berdua sambil nonton lelucon?”

***

Aku baru saja menjemput Nilam. Sengaja. Supaya dia sempat ketemu Rini dulu sebelum Rini ku antara ke loket. Setelah menyalami Rini, kami bersantai bersama di kamar. Sebenarnya nggak bersantai sih, karena aku sedang sibuk menghitung detik yang berubah jadi menit dan menit yang berubah jadi jam.
"Eh, kucing yang satu lagi ke mana ya El? Yang Mamaknya si ganteng ini?" tanya Rini.
"Ohh iyaaaaa yaa Rin. Ke mana ya dia? Udah nggak ada sejak sebulan ini lah. Aku pun baru nyadar. Jangankan Mamaknya Rin, Adeknya si ganteng yang pemalu tu pun ntah ke mana dia."
Aku jadi teringat dengan si Ketty, Kucingnya Teguh yang tanggal 25 lalu menghilang. Ah, barangkali jauh lebih menyedihkan daripada kehilangan 2 kucing yang memang tak  selalu bersamaku.
"Rin, kenapa ya film-film barat tu nggak ada yang romance-nya berkesan kecuali Titanic atau Romeo-Juliet yang selalu disebut-sebut orang? Film-film barat tu jarang banget yang menunjukkan keagungan cinta ya Rin? Kecuali kalau film tentang rumah tangga ya... tapi itu pun nggak terlalu menyayat-nyayat hati. Beda dengan film India; Film actionnya pun pasti selalu menyelipkan romantisme. Setiap perempuan yang dihadirkan di film-filmnya, pasti punya tujuan dan nggak ada yang hanya lewat begitu saja atau sekedar jadi hiburan."

"Iyaaa..yaa, gimana cara orang tu buat filmnya ya? Ngajak orang sebanyak itu untuk ikut menari. Kalau emang bukan kulturnya, mana mungkin segitunya penghayatannya ya kan? Orang tu memang suka menari dan menyanyi."
"Aku jadi pensaran Rin, kayaknya kekhasan film itu mencerminkan psikologi bangsanya deh! Tengoklah film-film Barat; Serba sadis dan canggih. Mereka memang cerdas secara otak, tapi mereka miskin rasa. Makanya mereka suka menjajah. Lihatlah India? Mereka kaya rasa banget Rin dan mana mungkin negara se-so sweet itu menjajah dan berperang? Ya nggak?"
"Iya ya El. Kayaknya ada berhubungan tuh!"

“Rin, yuk! Otw kita lagii!” ajakku ketika jam sudah menunjukkan pukul 15.00wib.
Kami mampir ke kosan Vani terlebih dulu untuk berpamitan dan menjemput kotak nasinya Rini yang ketinggalan. Setelah itu, kami membeli nasi goreng di warung di depan kosan Vani untuk bekal Rini di perjalanan. Sambil menunggu, aku mengajak Rini selfie dan ngobrolin hal-hal konyol yang pastinya nanti akan kami rindukan. Ku sempatkan membuka BBM dan mengupdate PM…
Aku berharap, ini masih lama bagi KITA…

Dan ku ganti Depe BBMku dengan foto Rini ketika membeli kartu yang diam-diam ku ambil tadi.
“Duh, aku makannya gimana nanti kalau nggak ada sendok nih?”
“Lah? Kenapa nggak bilang dari kemarin sore sih? Di kosan kan banyak sendok loh Riiin!”
Untungnya ibu penjual nasi goreng ini sangat baik dan mau memberikan sendoknya 1 untuk Rini. Gerimis sudah turun beberapa menit yang lalu dan belum juga reda. Aku takut Rini terlambat sampai di tempat meskipun sebenarnya aku akan
sangat suka jika ia lebih lama lagi di sini. Tapi tidak mungkin kan? Saat ini, bukti bahwa aku mencintainya adalah dengan MERELAKANNYA pulang. Hiksss.
“Yuk! Capcuss kita lagi?” ajakku ketika gerimis mulai reda.
Sekarang sudah pukul 15.35wib. Kami melewati pertengahan jalan Balam Sakti, tembus ke depan Sambal Lesung, belok ke Manyar ujung dan ke luar dari jalan Kutilang Sakti. Karena jalanan cukup berair, maka berkali-kali sudah motorku mencipratkan air, membasahi kaki kami.
“Rin, kita mutar lewat Soekarno Hatta aja yuk? Biar ku tunjukkan kantornya si Kim itu.”
“Walaaah El, nggak nyampek-nyampek nanti aku Eell hahaa.”

Lagipula aku tak sampai hati membawa Rini muter-muter sejauh itu pemirsaaa. Kami terus melaju sampai ke ujung jalan SM. Amin, belok ke kanan sampai bertemu loket bus INTRA. Rini segera membayar tiket dan kami duduk berdua di teras sambil menunggu berangkat.
“Padahal semalam Lia ngajakin photoshoot bareng pakai toga loh. Aku dipinjamin toga temannya Lia dan Rini dipinjamin Toga temannya Yudi. Tapi, malah si Cin ini nggak ada kabar sama sekali hari ini. Dah hampir pulang pula Rini dah!” jelasku.
Ternyata waktu seminggu itu tak lama ya? Kalau sudah di ujung waktu begini. barulah terasa. Banyak rencana yang ternyata belum sempat dilakukan. Banyak spasi yang tak terisi dengan padatnya cerita atau inspirasi. Ah, andai setiap orang sadar bahwa waktu yang kita punya tak lama, tentu segala sesuatunya akan menjadi SEMAKSIMAL saat-saat terakhir….

“Dah, daahh, naiklaah naikkk!” seru pak supir.
“Da daaaa… Eeelll. Makasih ya untuk semuanya. Love you pull.”
Mataku mulai berkaca-kaca. “Semoga kita bisa bertemu lagi ya Rin. kalau nggak di dunia, semoga di syurga. Jangan lupa sholat dan ngajii!”
“Iyaaa… dah, dah jangan nangiiisss!” kata Rini sambil melambaikan tangannya.
Ku tarik nafas dan ku netralkan lagi sesak di dada, supaya air mata ini tak benar-benar jadi air mata. Ketika aku mendekati motor, ku foto Rini dari bawah karena kebetulan Rini duduk di dekat jendela. Rini melambaikan tanganku dan memintaku masuk ke dalam bus juga. aku segera masuk bus sambil menunggu supirnya naik.
“El, El, tadi waktu El motoin aku, orang belakang bilang gini; ‘Weyyy, kita di fotooo!’ hahaa. Makanya ku panggil El ke sini.”
“Ah, ketruk kali pun orang tuuu. Haha.”
“El, tengok nih!” Rini menunjuk poster bertuliskan…Percuma Ganteng, kalau nggak sholat.”

“Emang supirnya sholat Rin?”
“Ntahlah yaa. Kurang tahu juga. biasanya sih jarang yang sholat El. penumpangnya aja beberapa paling-paling yang sholat. Ntah karena memang banyak orang kristennya atau memang merekanya nggak mau sholat. Nanti post ya El poster tadi. bikin captionnya gini; Cuma ada di bus Siantar. Hehee.”
“Sippooo.”
Sekitar 10 menit aku duduk di sebelah Rini di dalam bus. Setelah pak Supir mengabsen dan bersiap-siap berangkat, aku turun lagi. Menjelang bus itu bergerak dan kemudian pergi, aku sudah standby dengan kameraku dan merekamnya. See you Riiin. Pekanbaru selalu terbuka untukmu.. ^_^

***

Untunglah setelah Rini pergi, aku nggak langsung sendirian karena malam ini ada Nilam di sini. Aku sudah menyuruhnya tidur di atas ranjang dan aku di bawah saja. Tapi Nilam lebih memilih untuk menurunkan kasurnya dan tidur di sampingku. Aku tau dan faham betul apa yang dirasakan Nilam; semacam perasaan ingin selalu dekat, ingin berbagi dan yang pasti ingin menghabiskan sepanjang malam di sisiku. Malam ini, ada si ganteng (baca: kucing) juga yang tidur di antara kami…

Tidak ada komentar: