Aku baru selesai menulis 10 nasehat di teachmelovelife.blogspot.co.id dan mensharenya di BBM.
Karena, sudah sering ku tuliskan sebelumnya bahwa kebahagiaan seorang penulis
adalah ketika tulisannya dibaca. Berharap, semoga tulisan-tulisannya pun
membuahkan kebaikan bagi para pembacanya. Beberapa menit kemudian, ada beberapa
yang memberikan komentarnya. Rata-rata semuanya berkata bahwa blog itu
inspiratif. Alhamdulillah kalau begitu. Dan, salah satu komentar yang menarik
itu adalah…
Kak, gimana caranya
Kakak ngelola banyak blog?
Bagi donk tipsnya
Kak.
Emmm…gimana ya dek? Ya, setiap ada kesempatan dan
waktu luang, selalu kakak manfaatkan untuk menulis.
Simpel kok! Hehe, yang penting kemauan…
Pukul 08.30wib, aku baru bergerak menuju LPPM UR karena hari
ini aku memakai Jarik (Kain batik panjang atau biasa disebut kain gendong) sebagai
rok. Jadi, agak butuh waktu tadi memasangnya. Pengen tampil sedikit etnic hari
ini sekaligus strategi persuasive juga supaya anak muda ikut melestarikan
budaya bangsa yang satu ini. Kalau yang pakai baju batik kan sudah banyak yaa,
tapi kalau yang pakai Jarik sebagai rok kan masih langka..
“Tuliskan nomor rekeningnya di sinii..” pinta bang Yogi, di
meja registrasi.
Ah, selalu saja aku tidak membawa apa yang diminta panitia.
Kemarin aku tidak membawa KTP di hari pertama, hari ini aku tidak hafal no.rekeningku
sendiri, hehe. Akhirnya, ku buka laptop (lagi) karena seingatku aku pernah
menyimpan no.rekku di sana.
“Lah, Elysa… kemarin pas diminta KTPnya buka laptop dulu.
Sekarang diminta no.reknya buka laptop lagi, hahaa,” celetuk kak Uci.
“Penyimpanan data-data berharga nih Kak!” sahut Yudi di
sebelahku.
Setelah registrasi selesai, aku segera masuk. Ternyata
ruangan belum terlalu ramai. Teguh pun baru datang ketika aku masuk ke dalam.
Sambil menunggu, aku membaca buku HIDUP SEKALI, BERARTI, LALU MATI.
***
Oleh : Bu Riri
Topik : Pengantar
menjelang materi
“Wahhh… hari ini kalian sudah lebih cerah yaa. Besok, kita
akan fieldtrip. Dan, menurut saya, itu adalah hal yang sangat menyenangkan.
Yang mau pakai topi, pakailah. Yang punya gitar, bawalah ya! kita akan ciptakan
perjalanann besok menjadi sangat berkesan. Setelah samapi di sana, membaurlah!
Tinggalkanlah naluri ke-kota-an kita di sini. Apalagi merasa hebat dan ingin menggurui
karena seperti yang saya katakan kemarin bahwa tingkat intelegencia seseorang
itu tidak tergantung pada pendidikannya. Kalian akan ditempa oleh keadaan.
Mungkin tidak ada jamban di rumah, barangkali di luar rumah bahkan mungkin
harus ke sungai, hehe. Itu cobaan! Yang kita lakukan setelah pengabdian ini
akan ada luaran dalam bentuk buku; supaya tidak menumpuk sebagai laporan yang
barangkali tidak akan dibaca lagi dan lagi. Sebenarnya saya merasa iri, saya
ingin berada di posisi kalian sekarang. Dulu, saya tamat kuliah hanya dalam 3,4
tahun karena nggak ada kegiatan, nggak ada yang bisa saya lakukan selain
kuliah. Kalau sekarang, ada yang tamat 5 tahun, 6 tahun, saya sudah maklum
karena kalian punya banyak kegiatan. Jadi, manfaatkanlah masa muda kalian
sebaik mungkin ya.”
Aku langsung melirik Teguh. Ingin menunjukkan kelegaan bahwa
usia kuliahku yang 4,5 tahun ternyata bukanlah sesuatu yang buruk.
Alhamdulillah, selama itu, aku sangat produktif. Terimakasih bu Riri atas keberpihakannya kepada mahasiswa tingkat
akhir seperti saya, sihiiyyyyyy.
Pukul : 09.16wib
Topik : Dampak dan
Aspek Medis, kaitannya dengan bencana kabut asap
Oleh : dr. Zulhamman
(Dosen Fakultas Kedokteran, Direktur RS UR)
“Kenapa asap kebakaran hutan itu sangat berbahaya? Ada
kandungan yang disebut PNN (partikulan) di bawah 10 mikro meter sangat berbahasa
karena bisa mengendap di paru-paru. Kalau di atas 10mm maka ia akan tersaring
oleh bulu hidung. Makanya, jangan dicabutin ya bulu hidungnya karena ada juga
kan yang hobi mencabuti bulu hidungnya? Itu baru partikelnya, belum lagi
zatnya; karbon monoksida (hasil pembakaran yang tidak sempurna) sangat kuat
mengikat darah dan menolak oksigen dan dalam kebakaran hutan, zat ini sangat
banyak dan mudah menyebar. Asap bukan hanya berbahaya bagi pernafasan orang
yang menderita asma tetapi juga bagi penderita penyakit jantung.”
“Ya Allah, ngeri kali yaaaa,” gumamku sendiri.
“Penyakit yang mendominasi masyarakat Riau ketika asap
kemarin adalah ISPA. Ispa ini bisa menjadi akut dalam seminggu, 2 minggu dan
seterusnya. Ada juga 1,34% menderita
Pneumonia; Ketidakmampuan paru-paru untuk mengembang dan mengempes dan ini jauh
lebih berbahaya daripada asma. Berbeda dengan Asma; masih bisa bernafas, tapi
hanya selangnya mengalami penyempitan makanya menimbulkan bunyi Ngik-Ngik. Sebenarnya, ketika sudah
tahap ISPU Sedang, kebakaran itu sudah harus dihentikan. Apalagi kalau sampai
pada tahap Berbahaya. Masker E95 itu hanya bertahan 8 jam untuk menyaring udara
dan setelah itu sebenarnya sudah tidak layak pakai. Makanya, solusi terbaik
ketika asap itu ya batasi ke luar rumah. Tidak ada jalan lain. Kalau tidak
terpaksa kali, janganlah ke luar rumah,” lanjut pak Dokter.
Aku memperhatikan name tagnya pak Dokter. Sepertinya ada
kesalahan gelar deh di sana! Dokter itu kan ‘dr’ bukan ‘Dr’. Kalau Dr sih
Doktor. Ya nggak sih?
“Kita harus berempati; merasakan seolah-olah kita juga
berada di sana dan menjadi korban banjir. Kemarin waktu mahasiswa demo, saya
bilang gini; ‘Kalian bisa nggak jadi polisi hari ini? Tu… ada teman-teman
kalian yang sedang main basket, suruh pulang. Kalian kan diliburkan supaya diam
di dalam rumah supaya terlindungi’. Menurut saya, DUIT itu kalau takdirnya akan
ke luar ya ke luar juga dari tempat penyimpanannya. Maka, lebih baik kalau DUIT
itu di keluarkan oleh pemerintah untuk pencegahan, daripada waterbombing atau
membagikan masker ketika kebakaran. Ya kan?”
Aku manggut-manggut, setuju.
“Saya berharap teman-teman relawan ini bisa menjadi role model dan setidaknya mendapat bekal
ilmu kesehatan terutama untuk keadaan darurat. Cara mengajak orang dewasa
disebut ilmu ANDRAGOGI; dengan memahamkan mereka untuk apa mereka harus
melakukan atau jangan melakukan sesuatu, libatkan pengalaman di sana. Bangunlah
motivasi internal; bukan karena ada relawan makanya mereka mau berubah, tapi
karena mereka memang sadar dari dalam diri sendiri. Contohnya para perokok yang
mengaku bahwa merokok adalah Way of Life-nya.
Oh ya Pak Haris, sepertinya teman-teman relawan ini harus check kesehatan dulu
sebelum diberangkatkan nantinya supaya mereka sudah dipastikan bagaimana
ketahanan tubuhnya sebagai relawan,” kata pak Dokter kepada pak Haris yang
duduk di belakang.
“Loh kemarin bukannya sudah diminta membawa surat kesehatan
ya ketika mendaftar?” tanya pak Haris.
“Nggak adaa Paak,” sahut kami.
Pak Dokte menutup sesinya dan diserahkan kembali kepada
moderatornya; Dokter Hanan.
“Teman-teman relawan boleh main ke RSUD Arifin Ahmad ke
bagian poli Paru. Ternyata kanker paru-paru itu meningkat semenjak kabut asap
kemarin,” kata Dokter Hannan.
Kami tertegun.
Pukul : 10.25wib
Oleh : Arneli wati,
M.Kep
Topik : Dampak dan
aspek medis dan kaitannya dengan bencana kabut asap
“Menurut WHO, sekitar 20 juta orang Indonesia telah terpapar
asap. Ternyata tidak dari Riau saja. Rata-rata semua orang pernah kena ISPA,
terutama dalam cuaca tertentu; merasa tenggorokan sakit, badan meriang. Banyak
masyarakat yang berkata bahwa mereka sudah terbiasa terpapar asap karena pada
zaman dulu masak pun dengan menggunakan kayu bakar dan menghirup asapnya.
Padahal, asap yang berasal dari kayu bakar dan asap karena kabakaran hutan itu
berbeda.”
“Iya yaa… orang dulu kan kalau masak pakai kayuu,”
celetukku.
“Ventilasi di rumah itu penting. Ini adalah faktor resiko.
Makanya kalau rumahnya nggak punya ventilasi, segeralah dibuat supaya udara
bisa bertukar karena saya pernah melihat rumah bertipe yang seperti itu. kalau
nanti ada yang hidungnya tersumbat nanti, coba masukkan minyak kayu putih ke
dalam air hangat dan uapnya dihirup. Ini adalah cara yang alami dan bisa
melegakan pernafasan. Atur posisinya supaya duduk atau setengah duduk, jangan
telentang karena justru bisa semakin sesak nafas. Tolong, nanti para relawan
menyampaikan kepada masyarakat untuk mencegah ISPA dengan cara; Makan yang
bergizi, olahraga, sering cuci tangan, istirahat yang cukup, jangan merokok
atau minum alkohol. Mencuci tangan ini sering kali terlupakan; udah megang
apapun dan ketika makan nggak cuci tangan. Kuman itu kan nggak terlihat dan
yang terlihat bersih itu belum tentu bebas dari kuman. Tolong beritahu ke
masyarakat untuk memakai masker yaa. Atau bisa juga dengan menggunakan sapu
tangan lembab supaya partikel-partikel berbahaya itu menempel di luar sapu
tangan. Ini masih banyak yang belum tahu soalnya. Kalian adalah ujung tombak
untuk Riau Bebas Asap,” jelas bu Arneli lebih lanjut.
Yudi bertanya; “Bagaimana penanganan dini untuk bayi atau
balita yang sesak nafas?”
“Evakuasi ke rumah yang tidak banyak asapnya; Rumah yang
menggunakan AC atau arahkan ke kipas angin, bisa juga dengan memberinya ASI supaya
tubuhnya bisa melawan asap dengan sendirinya. Tapi, kalau sedang sesak nafas,
jangan langsung disusui, gendong dulu dan tepuk-tepuk badannya terlebih dulu,”
jelas bu Neli.
Materi selanjutnya akan disampaikan oleh salah satu relawan
Jikalahari (Jaringan Kerja Perlindungan Hutan Riau) yang dimoderatori oleh pak
Ahmad.
Topik : Hukum
Ekologis Melawan Karhutla
Oleh : Made Ali, SH
Pukul : 11.14wib
“Ketika mendengar kata ‘Hukum’, maka yang terlintas
difikiran kita adalah Undang-undang, betul? Padahal, hukum tak sebatas itu
pengertiannya. Hukum yang sesungguhnya adalah apa yang hidup di nurani dan
prilaku orang-orang baik. Inilah hukum yang sesungguhnya. Karena, kalau hanya
memaknai hukum sebatas yang tertera di Undang-undang, maka itu sangat kecil
sekali nilainya. Selanjutnya, yang dimaksud dengan Hukum Ekologis adalah bahwa
manusia tidak bisa hidup tanpa lingkungan hidup. Paradigma lama yang menyatakan
bahwa manusia adalah Zoon Politicon (makhluk sosial) membuat manusia menjadi
ego karena menganggap makhluk sosial itu lebih hebat daripada alam. Maka,
sekarang sudah saatnya kita menjadi manusia yang mencintai ALAM. Saya meneyebut
RDDSIBU ini sebagai bagian dari Pejuang Ekologis ya. Dan secara hukum, kalian
dilindungi; ‘Setiap orang yang
memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat tidak dapat
dituntut secara pidana atau digugat secara perdata.’ Artinya, gerakan ini
merupakan bagian dari GNSPDA (Grakan Nasional Penyelematan SDA).”
Selanjutnya, bang Made mengemukakan fakta-fakta kerusakan
hutan dan lahan di Riau sekaligus dalang di balik itu semua yang tidak
seluruhnya dapat ditindaklanjuti secara tegas oleh hukum. Kami begitu miris
mengetahuinya.
“Yang berkuasa di Indonesia ada 2 kelompok; PARPOL dan Orang
Ber-uang. Di Indonesia juga, kekuarang UANG bisa mempengaruhi penegakan hukum.
Yang paling berwenang menetapkan tersangka/bukan tersangka adalah KAPOLRI.
Karena merekalah pemilik hak mutlak. Kalau KAPOLRI sudah tidak tegas, habislah
sudah semuanya.”
Pukul 12.32wib materi selesai dan dilanjutkan dengan
tanya-jawab. Kali ini aku nggak punya ide untuk mengajukan pertanyaan. Tapi,
yang lainnya ternyata banyak yang mengajukan pertanyaan. Mataku mulai mengantuk
dan perut mulai keroncongan. Benarlah kalau ada yang bilang; ‘Logistik terlambat, logika terhambat’,
heehe. Setelah tanya-jawab selesai, ISHOMA berlangsung sampai pukul 14.00wib.
***
“Duluanlah, aku sedang nunggu yang lain.”
“Widiiihhh, setianyaaaa.”
Kelihatannya Yudi sudah sangat klop dengan 4 orang teman
barunya itu. Aku tak bisa sesabar itu dan sebisa mungkin membaur dengan
siapapun yang sedang berada di dekatku saat ini. Kali ini, aku makan bersama
Ulfi dan Uci di bangku bagian belakang. Ternyata, Ulfi dan Uci berdarah Bugis,
sama dengan Yudi. Dan, ternyata Uci ini adalah teman sekelasnya Tika, teman
sekamarku dulu. Wah, ternyata dunia ini sempit ya pemirsa? Ehehe.
Usai makan, aku dan Uci bermaksud mencuci tangan di kran
halaman karena toilet sedang padat antrian. Sekaligus, Uci juga ku mintai
tolong untuk memfotokanku di parkiran LPPM UR. Aku ingin mempostnya di
Instagram nanti malam. ingin sekali mengampanyekan kepada anak muda supaya
melestarikan batik sebagai warisan budaya Indonesia. Terutama kain Jarik
seperti yang ku pakai ini. kebanyakan orang hanya memakainya untuk acara-acara
pesta saja, itupun rok yang siap pakai.
“Uci jadi korban kedua ya El?” tanya Diah sesampainya kami
di ruangan. Diah bertanya seperti itu karena kemarin dialah yang ku minta untuk
memfotokanku. Sampai dia bosan, hehe.
“Iyaaaa.. hehee. Semoga dia nggak kapok yaa,” jawabku.
Well, setelah jam ISHOMA berakhir, dilanjutkan dengan materi
selanjutnya tentang Penanganan KARHUTLA.
Topik : Teknis
penanganan KARHUTLA (Siapa? Apa? Bagaimana?)
Pukul : 14.04wib
Oleh : Ahmad Muhammad
“Saya ingin mengungkapkan sebuah list yang mungkin ‘mengakar’ di kalangan masyarakat desa :
-
Ketidakberdayaan (powerlessness)
-
Ketidakpedulian (apathy)
-
Kebodohan (Ignorance)
-
Ketidakpatuhan (disobedience)
-
Kenekatan (recklessness)
Kebakaran kemarin merupaan terror lingkungan yang sangat
dahsyat. Kita harus melihat apa yang melatarbelakangi masyarakat sehingga mampu
dan mau ‘dibayar’ untuk membakar hutan. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk
meningkatkan :
-
Pengetahuan dan pemahaman (awareness)
-
Kesadaran (sonciousness) dan kepedulian
(concern)
-
Kemauan (motivation) dan kesungguhan
(determination)
-
Kemampuan (capability)
Masyarakat itu sebenarnya bukan ZERO, tapi mereka sudah
mempunyai MODAL SOSIAL; Sifatnya abstrak misalnya kemampuan kolektif
masyarakat. Contoh lainnya adalah kearifan tradisional, kerukunan, kekompakan,
kemauan bergotong-royong, kemauan tolnog-menolong. Dulu, pembukaan kebun sawit
itu tidak dilakukan secara serentak, tapi sporadic sehingga resiko kebakaran
itu minim. Saya mencoba memperjelas apa yang sudah dijelaskan oleh pak Haris
kemarin. Relawan harus memiliki hal-hal berikut ini :
-
Empati (ikut merasakan, peduli) terhadap pihak
yang sangat dirugikan oleh peristiwa karhutla
-
Motivasi (dorongan) untuk ikut membantu
-
Determinasi untuk benar-benar ikut berjuang
(kata lain dari Tekad, yang akan membuat motivasi terus terpelihara)
-
Dedikasi (Kemauan untuk lebih banyak memberi
manfaat daripada menerima) untuk lebih banyak memberi daripada menerima.
Kalian sangat diharapkan untuk memiliki 4 hal tersebut.
Projek ini dilaksanakan dalam misi yang jelas :
-
Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang pentingnya melakukan
miitigasi terhadap potensi becana karhutla
-
Meningkatkan kesadaran dan kemauan masyarakat untuk melakukan mitigasi
(pengurangan DAMPAK, termasuk di dalamnya pencegahan)
-
Meningkatkan kemampuan masyarakat melakukan
mitigasi terhadap potensi karhutla
-
Mendorong masyarakat untuk benar-benar melaksanakan mitigasi tersebut.
Tentu sejak kemarin kalian bertanya-tanya toh tentang apa
yang harus kalian lakukan? Nah, ini dia…
-
MEMBACA (Mendokumentasikan dan mencoba memahami
situasi dan kondisi masyarakat desa)
-
MENGGAGAS (Mencoba merencanakan apa yang bisa
diinduksikan ke tengah masyarakat)
-
MELAKSANAKAN (Semampu mungkin melaksanakan apa
yang sudah digagas dalam rangka menurunkan kerentanan di desa-desa tersebut)
-
EVALUASI (Menyusun laporan tertulis lalu
menyerahkan laporan yang sudah disusun)
Ini merupakan kajian yang disertai aksi. Kalian harus
memperoleh profil desa, peta kondisi
desa, Peta sosial, Perubahan Lingkungan & sosial, Penyebaran api dalam
kesaksian masyarakat desa, Kebakaran dalam kenangan masyarakat desa, mitigasi
kebakaran desa.”
Topik : Survival Tips
Oleh : Adhy Prayitno
Pukul : 14.52wib
“Ini adalah modal kalian, bagi fresh graduate untuk
mendaftar LPDP setelah pengabdian ini selesai nantinya. Karena ini akan menjadi
point plus bagi LPDP; Kontribusi untuk negeri. Saya akan menjelaskan tips how
to survive kali ini, sebenarnya ini adalah ilmu tambahan meskipun kalian nanti
tidak akan masuk ke hutan. Ketika nanti kita bepergian, jangan memakan makanan
yang membutuhkan banyak air untuk mencernanya; misalnya protein.”
Pak Adhi menjelaskan tentang proses penyulingan dan
penyaringan air gambut sehingga berubah menjadi bening dan layak diminum.
“Kalau sudah bening, bisa digunakan untuk masak atau minum
dan membuat teh. Tapi, kita kok kurang kerjaan sekali ya? Udah capek-capek kita
beningkan airnya dan setelah bening, kita buat lagi jadi teh. Kenapa nggak
langsung kita kasih gula saja sejak awal? Kan langsung jadi teh juga. hehehe.”
Peserta terbahak bersama tawa pak Pak Adhi.
“Beberapa jenis talas dan umbi-umbian bisa dengan mudah
ditemukan di dalam hutan. Inilah keistimewaan hutan di Riau; kaya dengan makanan.
Masyarakat asli Riau pun tidak pernah kelaparan. Tapi, hati-hati, ada talas
yang gatal dan ada yang mengandung SIANIDA yang berbahaya dan mematikan.”
“Ada pertanyaan? Kalau tidak, kita lanjutkan ke preparation
for trip ya! Untuk besok, siapkanlah perlengkapan berikut ini :
-
Pakaian lapangan
-
Topi, jas hujan
-
Alat komunikasi
-
Alat potong
-
Peralatan sholat
-
Kompas, GPS, android
-
Torch, penerangan
-
Field board dan peralatan tulis (disiapkan
panitia)
-
Air dan makanan kering personal
-
P3K personal
-
Peralatan lainnya yang personal
Adapun jadwal untuk hari Minggu besok adalah :
-
Tempat berkumpul di gedung LPPM 6.30wib
-
6.30wib – 07.00wib arahan oleh mentor
-
07.00wib berangkat menuju kecamatan Bukit Batu,
kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis
-
Usahakan minum air hangan sebelum berangkat dari
rumah untuk menghindari masuk angin. Kita sarapan di atas kendaraan
-
Jangan lupa gadget di dicharcger penuh
-
Ada bantuan medis dari RS UR
Any question ?” tanya pak Adi.
“No! No smoking!” sahut peserta, asal bunyi.
Seisi ruangan tertawa mendengar sahutan tersebut. Demikian pun
dengan pak Adi. Sebelum menutup materi, pak Adi menunjuk aku, Teguh dan Misnan
untuk merumuskan yel-yel RDDSIBU dengan masing-masing kelompok. *Wewww,
tantangan nih! Selanjutnya, kak Suci memberi arahan tambahan
“Jaga sopan, satun, senyum. Bisa senyum kan? Tolong
budayakan mencatat ya teman-teman! Itu sangat-sangat-sangat penting. Saya tidak
mendoakan, tapi kalau seandainya android kalian kenapa-napa gimana? Kalau ada
catatan kan enak. Pensil itu lebih bermanfaat daripada pena. Karena kalau
kertas kita kena air, bisa memudar dan luruh tulisannya. Selesai kan?. Oke,
kalau tidak ada pertanyaan saya tutup ya. Selanjutnya diserahkan kepada Ibnu
Sigit untuk sharing pengalaman dan materi tentang FGD.”
Topik : FGD
Waktu : 15.44wib
Oleh : Ibnu Sigit,
Yogi, Satria dan Hadi
“2,5 bulan ini adalah pekerjaan yang cukup berat, tapi saya
yakin semua yang di sini pasti mampu. FGD 4-5 orang udah bisa dilaksanakan.
Yang penting kita bisa menangkap informasi dari FGD yang dilaksanakan tersebut.
Saya ingin meminta kalian untuk membuat planning tentang apa yang akan kalian
laksanakan selama di sana. Kira-kira waktunya 1 jam, cukup? Di awal kalian
tiba, kalian tentu harus sosialisasi tentang kelompok tani dan kalian perlu
memperhatikan siapa orang-orang yang bisa kalian gandeng dan enak diajak
diskusi.”
Aku melirik kepada Diah yang duduk di sebelahku. Ia sangat
fokus sementara aku mulai suntuk.
“Masyarakat itu punya banyak pertanyaan yang wajib kita
jawab. Karena mereka menganggap kita adalah orang yang serba tahu. Makanya,
penting juga bagi kita untuk tahu banyak. Kesulitan FGD di lapangan itu adalah
ketika mencocokkan waktu dengan masyarakat. Kita harus mengikuti alur mereka
karena kita yang harus menyesuaikan diri. Ada 5 hal yang harus ada dalam FGD :
A : Attention
I : Interest
D : Desire
D : Decision
A : Action
I : Interest
D : Desire
D : Decision
A : Action
Nah, dalam FGD bersama masyarakat nanti, pertanyaan itu
harus memancing sifatnya, memancing jawaban peserta, bukan yang sulit dijawab.
Ucapkan terimakasih dan permohonan maaf diujung FGD. Karena kalian nantinya
hanya ada 2 orang dalam 1 desa, maka 1 orang bertugas sebagai
Fasilitator+Motivator dan yang satunya lagi sebagai Notulen. Catat semua
suasana selama FGD berlangsung.”
Selanjutnya, kami diminta untuk berkumpul dengan masing-masing
kelompok, 2 orang berperan sebagai Relawan Duta Desa dan selebihnya berperan
sebagai masyarakat setempat yang sulit diajak merumuskan tujuan. Kami pun harus
memakai nama palsu ala orang-orang desa. Di kelompokku, aku mengusulkan Ulfi yang menjadi Fasilitator dan Sholihin
sebagai Notulen. FGD berlangsung di bawah pengawasan dan bimbingan panitia. Topik
yang kami bahas adalah MASALAH dan POTENSI desa serta SOLUSI yang ditawarkan. Ketika
sesi presentasi, aku tidak menyaksikan bagaimana Sholihin mempresentasikan
hasil FGD tadi karena aku sedang permisi untuk sholat Ashar. Tapi, Alhamdulillah
sekembalinya aku dari sholat, ternyata kami terpilih sebagai kelompok terbaik. Yeayyyyy!
Sebelum acara ditutup, yel-yel kami harus diselesaikan dan
ditampilkan sekarang juga. Kami hanya diberi waktu 10 menit untuk
merumuskannya. Awalnya, aku menggunakan lirik 1 1 aku sayang ibu. Tapi,
teman-teman kurang setuju karena terlalu slow iramanya. Maka, kamis sepakat
untuk menggantinya dengan lirik Maju tak
Gentar. Dibagian Reffnya saja.
Bergerak, bergerak!
Serentak-serentak!
Bersihkan desa jerebu…
Tak gentar, tak gentar
Mengabdi, mengabdi
Majulah RDDSIBU…
RDDSIBU ?
Bersih Jerebuu! Yeeeee.
Dan kami nggak nyangka, ternyata yel-yel kami yang paling
semangat dan paling simpel present tense, hehee. Dipenghujung acara, kami
diminta untuk mengisi lembar Evaluasi dan diakhiri dengan berfoto bersama. Kok aku
agak merasa sedih ya? Sedih karena tak terasa 3 hari ini sudah berlalu. Semoga semua
agenda dan ilmu yang kami peroleh hari ini berkah dan bermanfaat. Aamiin. Semangat
for tomorrow!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar