Sabtu, 13 Februari 2016

RDDSIBU Day 3: Kita adalah Pejuang Ekologi



Aku baru selesai menulis 10 nasehat di teachmelovelife.blogspot.co.id dan mensharenya di BBM. Karena, sudah sering ku tuliskan sebelumnya bahwa kebahagiaan seorang penulis adalah ketika tulisannya dibaca. Berharap, semoga tulisan-tulisannya pun membuahkan kebaikan bagi para pembacanya. Beberapa menit kemudian, ada beberapa yang memberikan komentarnya. Rata-rata semuanya berkata bahwa blog itu inspiratif. Alhamdulillah kalau begitu. Dan, salah satu komentar yang menarik itu adalah…
Kak, gimana caranya Kakak ngelola banyak blog?
Bagi donk tipsnya Kak.

Emmm…gimana ya dek? Ya, setiap ada kesempatan dan
waktu luang, selalu kakak manfaatkan untuk menulis.
Simpel kok! Hehe, yang penting kemauan…

Pukul 08.30wib, aku baru bergerak menuju LPPM UR karena hari ini aku memakai Jarik (Kain batik panjang atau biasa disebut kain gendong) sebagai rok. Jadi, agak butuh waktu tadi memasangnya. Pengen tampil sedikit etnic hari ini sekaligus strategi persuasive juga supaya anak muda ikut melestarikan budaya bangsa yang satu ini. Kalau yang pakai baju batik kan sudah banyak yaa, tapi kalau yang pakai Jarik sebagai rok kan masih langka..
“Tuliskan nomor rekeningnya di sinii..” pinta bang Yogi, di meja registrasi.
Ah, selalu saja aku tidak membawa apa yang diminta panitia. Kemarin aku tidak membawa KTP di hari pertama, hari ini aku tidak hafal no.rekeningku sendiri, hehe. Akhirnya, ku buka laptop (lagi) karena seingatku aku pernah menyimpan no.rekku di sana.
“Lah, Elysa… kemarin pas diminta KTPnya buka laptop dulu. Sekarang diminta no.reknya buka laptop lagi, hahaa,” celetuk kak Uci.
“Penyimpanan data-data berharga nih Kak!” sahut Yudi di sebelahku.
Setelah registrasi selesai, aku segera masuk. Ternyata ruangan belum terlalu ramai. Teguh pun baru datang ketika aku masuk ke dalam. Sambil menunggu, aku membaca buku HIDUP SEKALI, BERARTI, LALU MATI.

***

Pukul : 09.08wib
Oleh : Bu Riri
Topik : Pengantar menjelang materi

“Wahhh… hari ini kalian sudah lebih cerah yaa. Besok, kita akan fieldtrip. Dan, menurut saya, itu adalah hal yang sangat menyenangkan. Yang mau pakai topi, pakailah. Yang punya gitar, bawalah ya! kita akan ciptakan perjalanann besok menjadi sangat berkesan. Setelah samapi di sana, membaurlah! Tinggalkanlah naluri ke-kota-an kita di sini. Apalagi merasa hebat dan ingin menggurui karena seperti yang saya katakan kemarin bahwa tingkat intelegencia seseorang itu tidak tergantung pada pendidikannya. Kalian akan ditempa oleh keadaan. Mungkin tidak ada jamban di rumah, barangkali di luar rumah bahkan mungkin harus ke sungai, hehe. Itu cobaan! Yang kita lakukan setelah pengabdian ini akan ada luaran dalam bentuk buku; supaya tidak menumpuk sebagai laporan yang barangkali tidak akan dibaca lagi dan lagi. Sebenarnya saya merasa iri, saya ingin berada di posisi kalian sekarang. Dulu, saya tamat kuliah hanya dalam 3,4 tahun karena nggak ada kegiatan, nggak ada yang bisa saya lakukan selain kuliah. Kalau sekarang, ada yang tamat 5 tahun, 6 tahun, saya sudah maklum karena kalian punya banyak kegiatan. Jadi, manfaatkanlah masa muda kalian sebaik mungkin ya.”
Aku langsung melirik Teguh. Ingin menunjukkan kelegaan bahwa usia kuliahku yang 4,5 tahun ternyata bukanlah sesuatu yang buruk. Alhamdulillah, selama itu, aku sangat produktif. Terimakasih bu Riri atas keberpihakannya kepada mahasiswa tingkat akhir seperti saya, sihiiyyyyyy.

Pukul : 09.16wib
Topik : Dampak dan Aspek Medis, kaitannya dengan bencana kabut asap
Oleh : dr. Zulhamman (Dosen Fakultas Kedokteran, Direktur RS UR)

“Kenapa asap kebakaran hutan itu sangat berbahaya? Ada kandungan yang disebut PNN (partikulan) di bawah 10 mikro meter sangat berbahasa karena bisa mengendap di paru-paru. Kalau di atas 10mm maka ia akan tersaring oleh bulu hidung. Makanya, jangan dicabutin ya bulu hidungnya karena ada juga kan yang hobi mencabuti bulu hidungnya? Itu baru partikelnya, belum lagi zatnya; karbon monoksida (hasil pembakaran yang tidak sempurna) sangat kuat mengikat darah dan menolak oksigen dan dalam kebakaran hutan, zat ini sangat banyak dan mudah menyebar. Asap bukan hanya berbahaya bagi pernafasan orang yang menderita asma tetapi juga bagi penderita penyakit jantung.”
“Ya Allah, ngeri kali yaaaa,” gumamku sendiri.
“Penyakit yang mendominasi masyarakat Riau ketika asap kemarin adalah ISPA. Ispa ini bisa menjadi akut dalam seminggu, 2 minggu dan seterusnya.  Ada juga 1,34% menderita Pneumonia; Ketidakmampuan paru-paru untuk mengembang dan mengempes dan ini jauh lebih berbahaya daripada asma. Berbeda dengan Asma; masih bisa bernafas, tapi hanya selangnya mengalami penyempitan makanya menimbulkan bunyi Ngik-Ngik. Sebenarnya, ketika sudah tahap ISPU Sedang, kebakaran itu sudah harus dihentikan. Apalagi kalau sampai pada tahap Berbahaya. Masker E95 itu hanya bertahan 8 jam untuk menyaring udara dan setelah itu sebenarnya sudah tidak layak pakai. Makanya, solusi terbaik ketika asap itu ya batasi ke luar rumah. Tidak ada jalan lain. Kalau tidak terpaksa kali, janganlah ke luar rumah,” lanjut pak Dokter.

Aku memperhatikan name tagnya pak Dokter. Sepertinya ada kesalahan gelar deh di sana! Dokter itu kan ‘dr’ bukan ‘Dr’. Kalau Dr sih Doktor. Ya nggak sih?
“Kita harus berempati; merasakan seolah-olah kita juga berada di sana dan menjadi korban banjir. Kemarin waktu mahasiswa demo, saya bilang gini; ‘Kalian bisa nggak jadi polisi hari ini? Tu… ada teman-teman kalian yang sedang main basket, suruh pulang. Kalian kan diliburkan supaya diam di dalam rumah supaya terlindungi’. Menurut saya, DUIT itu kalau takdirnya akan ke luar ya ke luar juga dari tempat penyimpanannya. Maka, lebih baik kalau DUIT itu di keluarkan oleh pemerintah untuk pencegahan, daripada waterbombing atau membagikan masker ketika kebakaran. Ya kan?”
Aku manggut-manggut, setuju.
“Saya berharap teman-teman relawan ini bisa menjadi role model dan setidaknya mendapat bekal ilmu kesehatan terutama untuk keadaan darurat. Cara mengajak orang dewasa disebut ilmu ANDRAGOGI; dengan memahamkan mereka untuk apa mereka harus melakukan atau jangan melakukan sesuatu, libatkan pengalaman di sana. Bangunlah motivasi internal; bukan karena ada relawan makanya mereka mau berubah, tapi karena mereka memang sadar dari dalam diri sendiri. Contohnya para perokok yang mengaku bahwa merokok adalah Way of Life-nya. Oh ya Pak Haris, sepertinya teman-teman relawan ini harus check kesehatan dulu sebelum diberangkatkan nantinya supaya mereka sudah dipastikan bagaimana ketahanan tubuhnya sebagai relawan,” kata pak Dokter kepada pak Haris yang duduk di belakang.

“Loh kemarin bukannya sudah diminta membawa surat kesehatan ya ketika mendaftar?” tanya pak Haris.
“Nggak adaa Paak,” sahut kami.
Pak Dokte menutup sesinya dan diserahkan kembali kepada moderatornya; Dokter Hanan.
“Teman-teman relawan boleh main ke RSUD Arifin Ahmad ke bagian poli Paru. Ternyata kanker paru-paru itu meningkat semenjak kabut asap kemarin,” kata Dokter Hannan.
Kami tertegun.

Pukul : 10.25wib
Oleh : Arneli wati, M.Kep
Topik : Dampak dan aspek medis dan kaitannya dengan bencana kabut asap

“Menurut WHO, sekitar 20 juta orang Indonesia telah terpapar asap. Ternyata tidak dari Riau saja. Rata-rata semua orang pernah kena ISPA, terutama dalam cuaca tertentu; merasa tenggorokan sakit, badan meriang. Banyak masyarakat yang berkata bahwa mereka sudah terbiasa terpapar asap karena pada zaman dulu masak pun dengan menggunakan kayu bakar dan menghirup asapnya. Padahal, asap yang berasal dari kayu bakar dan asap karena kabakaran hutan itu berbeda.”
“Iya yaa… orang dulu kan kalau masak pakai kayuu,” celetukku.
“Ventilasi di rumah itu penting. Ini adalah faktor resiko. Makanya kalau rumahnya nggak punya ventilasi, segeralah dibuat supaya udara bisa bertukar karena saya pernah melihat rumah bertipe yang seperti itu. kalau nanti ada yang hidungnya tersumbat nanti, coba masukkan minyak kayu putih ke dalam air hangat dan uapnya dihirup. Ini adalah cara yang alami dan bisa melegakan pernafasan. Atur posisinya supaya duduk atau setengah duduk, jangan telentang karena justru bisa semakin sesak nafas. Tolong, nanti para relawan menyampaikan kepada masyarakat untuk mencegah ISPA dengan cara; Makan yang bergizi, olahraga, sering cuci tangan, istirahat yang cukup, jangan merokok atau minum alkohol. Mencuci tangan ini sering kali terlupakan; udah megang apapun dan ketika makan nggak cuci tangan. Kuman itu kan nggak terlihat dan yang terlihat bersih itu belum tentu bebas dari kuman. Tolong beritahu ke masyarakat untuk memakai masker yaa. Atau bisa juga dengan menggunakan sapu tangan lembab supaya partikel-partikel berbahaya itu menempel di luar sapu tangan. Ini masih banyak yang belum tahu soalnya. Kalian adalah ujung tombak untuk Riau Bebas Asap,” jelas bu Arneli lebih lanjut.

Yudi bertanya; “Bagaimana penanganan dini untuk bayi atau balita yang sesak nafas?”
“Evakuasi ke rumah yang tidak banyak asapnya; Rumah yang menggunakan AC atau arahkan ke kipas angin, bisa juga dengan memberinya ASI supaya tubuhnya bisa melawan asap dengan sendirinya. Tapi, kalau sedang sesak nafas, jangan langsung disusui, gendong dulu dan tepuk-tepuk badannya terlebih dulu,” jelas bu Neli.
Materi selanjutnya akan disampaikan oleh salah satu relawan Jikalahari (Jaringan Kerja Perlindungan Hutan Riau) yang dimoderatori oleh pak Ahmad.

Topik : Hukum Ekologis Melawan Karhutla
Oleh : Made Ali, SH
Pukul : 11.14wib

“Ketika mendengar kata ‘Hukum’, maka yang terlintas difikiran kita adalah Undang-undang, betul? Padahal, hukum tak sebatas itu pengertiannya. Hukum yang sesungguhnya adalah apa yang hidup di nurani dan prilaku orang-orang baik. Inilah hukum yang sesungguhnya. Karena, kalau hanya memaknai hukum sebatas yang tertera di Undang-undang, maka itu sangat kecil sekali nilainya. Selanjutnya, yang dimaksud dengan Hukum Ekologis adalah bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa lingkungan hidup. Paradigma lama yang menyatakan bahwa manusia adalah Zoon Politicon (makhluk sosial) membuat manusia menjadi ego karena menganggap makhluk sosial itu lebih hebat daripada alam. Maka, sekarang sudah saatnya kita menjadi manusia yang mencintai ALAM. Saya meneyebut RDDSIBU ini sebagai bagian dari Pejuang Ekologis ya. Dan secara hukum, kalian dilindungi; ‘Setiap orang yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat tidak dapat dituntut secara pidana atau digugat secara perdata.’ Artinya, gerakan ini merupakan bagian dari GNSPDA (Grakan Nasional Penyelematan SDA).”
Selanjutnya, bang Made mengemukakan fakta-fakta kerusakan hutan dan lahan di Riau sekaligus dalang di balik itu semua yang tidak seluruhnya dapat ditindaklanjuti secara tegas oleh hukum. Kami begitu miris mengetahuinya.

“Yang berkuasa di Indonesia ada 2 kelompok; PARPOL dan Orang Ber-uang. Di Indonesia juga, kekuarang UANG bisa mempengaruhi penegakan hukum. Yang paling berwenang menetapkan tersangka/bukan tersangka adalah KAPOLRI. Karena merekalah pemilik hak mutlak. Kalau KAPOLRI sudah tidak tegas, habislah sudah semuanya.”
Pukul 12.32wib materi selesai dan dilanjutkan dengan tanya-jawab. Kali ini aku nggak punya ide untuk mengajukan pertanyaan. Tapi, yang lainnya ternyata banyak yang mengajukan pertanyaan. Mataku mulai mengantuk dan perut mulai keroncongan. Benarlah kalau ada yang bilang; ‘Logistik terlambat, logika terhambat’, heehe. Setelah tanya-jawab selesai, ISHOMA berlangsung sampai pukul 14.00wib.

***

“Yuddd! Makan sini! Gabuung!” ajakku.
“Duluanlah, aku sedang nunggu yang lain.”
“Widiiihhh, setianyaaaa.”
Kelihatannya Yudi sudah sangat klop dengan 4 orang teman barunya itu. Aku tak bisa sesabar itu dan sebisa mungkin membaur dengan siapapun yang sedang berada di dekatku saat ini. Kali ini, aku makan bersama Ulfi dan Uci di bangku bagian belakang. Ternyata, Ulfi dan Uci berdarah Bugis, sama dengan Yudi. Dan, ternyata Uci ini adalah teman sekelasnya Tika, teman sekamarku dulu. Wah, ternyata dunia ini sempit ya pemirsa? Ehehe.
Usai makan, aku dan Uci bermaksud mencuci tangan di kran halaman karena toilet sedang padat antrian. Sekaligus, Uci juga ku mintai tolong untuk memfotokanku di parkiran LPPM UR. Aku ingin mempostnya di Instagram nanti malam. ingin sekali mengampanyekan kepada anak muda supaya melestarikan batik sebagai warisan budaya Indonesia. Terutama kain Jarik seperti yang ku pakai ini. kebanyakan orang hanya memakainya untuk acara-acara pesta saja, itupun rok yang siap pakai.
“Uci jadi korban kedua ya El?” tanya Diah sesampainya kami di ruangan. Diah bertanya seperti itu karena kemarin dialah yang ku minta untuk memfotokanku. Sampai dia bosan, hehe.
“Iyaaaa.. hehee. Semoga dia nggak kapok yaa,” jawabku.
Well, setelah jam ISHOMA berakhir, dilanjutkan dengan materi selanjutnya tentang Penanganan KARHUTLA.

Topik : Teknis penanganan KARHUTLA (Siapa? Apa? Bagaimana?)
Pukul : 14.04wib
Oleh : Ahmad Muhammad

“Saya ingin mengungkapkan sebuah list yang mungkin ‘mengakar’ di kalangan masyarakat desa :
-          Ketidakberdayaan (powerlessness)
-          Ketidakpedulian (apathy)
-          Kebodohan (Ignorance)
-          Ketidakpatuhan (disobedience)
-          Kenekatan (recklessness)
Kebakaran kemarin merupaan terror lingkungan yang sangat dahsyat. Kita harus melihat apa yang melatarbelakangi masyarakat sehingga mampu dan mau ‘dibayar’ untuk membakar hutan. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk meningkatkan :
-          Pengetahuan dan pemahaman (awareness)
-          Kesadaran (sonciousness) dan kepedulian (concern)
-          Kemauan (motivation) dan kesungguhan (determination)
-          Kemampuan (capability)

Masyarakat itu sebenarnya bukan ZERO, tapi mereka sudah mempunyai MODAL SOSIAL; Sifatnya abstrak misalnya kemampuan kolektif masyarakat. Contoh lainnya adalah kearifan tradisional, kerukunan, kekompakan, kemauan bergotong-royong, kemauan tolnog-menolong. Dulu, pembukaan kebun sawit itu tidak dilakukan secara serentak, tapi sporadic sehingga resiko kebakaran itu minim. Saya mencoba memperjelas apa yang sudah dijelaskan oleh pak Haris kemarin. Relawan harus memiliki hal-hal berikut ini :
-          Empati (ikut merasakan, peduli) terhadap pihak yang sangat dirugikan oleh peristiwa karhutla
-          Motivasi (dorongan) untuk ikut membantu
-          Determinasi untuk benar-benar ikut berjuang (kata lain dari Tekad, yang akan membuat motivasi terus terpelihara)
-          Dedikasi (Kemauan untuk lebih banyak memberi manfaat daripada menerima) untuk lebih banyak memberi daripada menerima.

Kalian sangat diharapkan untuk memiliki 4 hal tersebut. Projek ini dilaksanakan dalam misi yang jelas :
-          Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang pentingnya melakukan miitigasi terhadap potensi becana karhutla
-          Meningkatkan kesadaran dan kemauan masyarakat untuk melakukan mitigasi (pengurangan DAMPAK, termasuk di dalamnya pencegahan)
-          Meningkatkan kemampuan masyarakat melakukan mitigasi terhadap potensi karhutla
-          Mendorong masyarakat untuk benar-benar melaksanakan mitigasi tersebut.
Tentu sejak kemarin kalian bertanya-tanya toh tentang apa yang harus kalian lakukan? Nah, ini dia…
-          MEMBACA (Mendokumentasikan dan mencoba memahami situasi dan kondisi masyarakat desa)
-          MENGGAGAS (Mencoba merencanakan apa yang bisa diinduksikan ke tengah masyarakat)
-          MELAKSANAKAN (Semampu mungkin melaksanakan apa yang sudah digagas dalam rangka menurunkan kerentanan di desa-desa tersebut)
-          EVALUASI (Menyusun laporan tertulis lalu menyerahkan laporan yang sudah disusun)
Ini merupakan kajian yang disertai aksi. Kalian harus memperoleh profil desa, peta kondisi desa, Peta sosial, Perubahan Lingkungan & sosial, Penyebaran api dalam kesaksian masyarakat desa, Kebakaran dalam kenangan masyarakat desa, mitigasi kebakaran desa.”

Topik : Survival Tips
Oleh : Adhy Prayitno
Pukul : 14.52wib

“Ini adalah modal kalian, bagi fresh graduate untuk mendaftar LPDP setelah pengabdian ini selesai nantinya. Karena ini akan menjadi point plus bagi LPDP; Kontribusi untuk negeri. Saya akan menjelaskan tips how to survive kali ini, sebenarnya ini adalah ilmu tambahan meskipun kalian nanti tidak akan masuk ke hutan. Ketika nanti kita bepergian, jangan memakan makanan yang membutuhkan banyak air untuk mencernanya; misalnya protein.”
Pak Adhi menjelaskan tentang proses penyulingan dan penyaringan air gambut sehingga berubah menjadi bening dan layak diminum.
“Kalau sudah bening, bisa digunakan untuk masak atau minum dan membuat teh. Tapi, kita kok kurang kerjaan sekali ya? Udah capek-capek kita beningkan airnya dan setelah bening, kita buat lagi jadi teh. Kenapa nggak langsung kita kasih gula saja sejak awal? Kan langsung jadi teh juga. hehehe.”
Peserta terbahak bersama tawa pak Pak Adhi.

“Beberapa jenis talas dan umbi-umbian bisa dengan mudah ditemukan di dalam hutan. Inilah keistimewaan hutan di Riau; kaya dengan makanan. Masyarakat asli Riau pun tidak pernah kelaparan. Tapi, hati-hati, ada talas yang gatal dan ada yang mengandung SIANIDA yang berbahaya dan mematikan.”
“Ada pertanyaan? Kalau tidak, kita lanjutkan ke preparation for trip ya! Untuk besok, siapkanlah perlengkapan berikut ini :
-          Pakaian lapangan
-          Topi, jas hujan
-          Alat komunikasi
-          Alat potong
-          Peralatan sholat
-          Kompas, GPS, android
-          Torch, penerangan
-          Field board dan peralatan tulis (disiapkan panitia)
-          Air dan makanan kering personal
-          P3K personal
-          Peralatan lainnya yang personal
Adapun jadwal untuk hari Minggu besok adalah :
-          Tempat berkumpul di gedung LPPM 6.30wib
-          6.30wib – 07.00wib arahan oleh mentor
-          07.00wib berangkat menuju kecamatan Bukit Batu, kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis
-          Usahakan minum air hangan sebelum berangkat dari rumah untuk menghindari masuk angin. Kita sarapan di atas kendaraan
-          Jangan lupa gadget di dicharcger penuh
-          Ada bantuan medis dari RS UR
Any question ?” tanya pak Adi.

“No! No smoking!” sahut peserta, asal bunyi.
Seisi ruangan tertawa mendengar sahutan tersebut. Demikian pun dengan pak Adi. Sebelum menutup materi, pak Adi menunjuk aku, Teguh dan Misnan untuk merumuskan yel-yel RDDSIBU dengan masing-masing kelompok. *Wewww, tantangan nih! Selanjutnya, kak Suci memberi arahan tambahan
“Jaga sopan, satun, senyum. Bisa senyum kan? Tolong budayakan mencatat ya teman-teman! Itu sangat-sangat-sangat penting. Saya tidak mendoakan, tapi kalau seandainya android kalian kenapa-napa gimana? Kalau ada catatan kan enak. Pensil itu lebih bermanfaat daripada pena. Karena kalau kertas kita kena air, bisa memudar dan luruh tulisannya. Selesai kan?. Oke, kalau tidak ada pertanyaan saya tutup ya. Selanjutnya diserahkan kepada Ibnu Sigit untuk sharing pengalaman dan materi tentang FGD.”

Topik : FGD
Waktu : 15.44wib
Oleh : Ibnu Sigit, Yogi, Satria dan Hadi

“2,5 bulan ini adalah pekerjaan yang cukup berat, tapi saya yakin semua yang di sini pasti mampu. FGD 4-5 orang udah bisa dilaksanakan. Yang penting kita bisa menangkap informasi dari FGD yang dilaksanakan tersebut. Saya ingin meminta kalian untuk membuat planning tentang apa yang akan kalian laksanakan selama di sana. Kira-kira waktunya 1 jam, cukup? Di awal kalian tiba, kalian tentu harus sosialisasi tentang kelompok tani dan kalian perlu memperhatikan siapa orang-orang yang bisa kalian gandeng dan enak diajak diskusi.”
Aku melirik kepada Diah yang duduk di sebelahku. Ia sangat fokus sementara aku mulai suntuk.
“Masyarakat itu punya banyak pertanyaan yang wajib kita jawab. Karena mereka menganggap kita adalah orang yang serba tahu. Makanya, penting juga bagi kita untuk tahu banyak. Kesulitan FGD di lapangan itu adalah ketika mencocokkan waktu dengan masyarakat. Kita harus mengikuti alur mereka karena kita yang harus menyesuaikan diri. Ada 5 hal yang harus ada dalam FGD :
A : Attention
I : Interest
D : Desire
D : Decision
A : Action
Nah, dalam FGD bersama masyarakat nanti, pertanyaan itu harus memancing sifatnya, memancing jawaban peserta, bukan yang sulit dijawab. Ucapkan terimakasih dan permohonan maaf diujung FGD. Karena kalian nantinya hanya ada 2 orang dalam 1 desa, maka 1 orang bertugas sebagai Fasilitator+Motivator dan yang satunya lagi sebagai Notulen. Catat semua suasana selama FGD berlangsung.”

Selanjutnya, kami diminta untuk berkumpul dengan masing-masing kelompok, 2 orang berperan sebagai Relawan Duta Desa dan selebihnya berperan sebagai masyarakat setempat yang sulit diajak merumuskan tujuan. Kami pun harus memakai nama palsu ala orang-orang desa. Di kelompokku, aku mengusulkan  Ulfi yang menjadi Fasilitator dan Sholihin sebagai Notulen. FGD berlangsung di bawah pengawasan dan bimbingan panitia. Topik yang kami bahas adalah MASALAH dan POTENSI desa serta SOLUSI yang ditawarkan. Ketika sesi presentasi, aku tidak menyaksikan bagaimana Sholihin mempresentasikan hasil FGD tadi karena aku sedang permisi untuk sholat Ashar. Tapi, Alhamdulillah sekembalinya aku dari sholat, ternyata kami terpilih sebagai kelompok terbaik. Yeayyyyy!

Sebelum acara ditutup, yel-yel kami harus diselesaikan dan ditampilkan sekarang juga. Kami hanya diberi waktu 10 menit untuk merumuskannya. Awalnya, aku menggunakan lirik 1 1 aku sayang ibu. Tapi, teman-teman kurang setuju karena terlalu slow iramanya. Maka, kamis sepakat untuk menggantinya dengan lirik Maju tak Gentar. Dibagian Reffnya saja.
Bergerak, bergerak!
Serentak-serentak!
Bersihkan desa jerebu…

Tak gentar, tak gentar
Mengabdi, mengabdi
Majulah RDDSIBU…

RDDSIBU ?
Bersih Jerebuu! Yeeeee.
Dan kami nggak nyangka, ternyata yel-yel kami yang paling semangat dan paling simpel present tense, hehee. Dipenghujung acara, kami diminta untuk mengisi lembar Evaluasi dan diakhiri dengan berfoto bersama. Kok aku agak merasa sedih ya? Sedih karena tak terasa 3 hari ini sudah berlalu. Semoga semua agenda dan ilmu yang kami peroleh hari ini berkah dan bermanfaat. Aamiin. Semangat for tomorrow!

Tidak ada komentar: