Sabtu, 05 Maret 2016

Arti Ke-TEPAT-an Waktu



Kita tidak pernah tahu sesungguhnya PERSAHABATAN kita dengan SIAPA yang akan paling bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita. Kita juga tidak pernah tahu sesungguhnya DOA siapa yang paling baik dan dikabulkan olehNya ketika ia berdoa untuk kita. Maka, sebisa mungkin perluaslah pergaulanmu dengan membanyakkan orang-orang baik dalam hidupmu. Juga, perbanyaklah doa-doa baik bagimu dengan banyak-banyak mendoakan yang terbaik untuk orang lain.

*Doa dan Persahabatan – Metamor(Prosa)
***

Hari ini, aku dan Lia berencana untuk berenang di jalan Anggrek. Ini adalah kali keduanya kami bersama ke sini, sebelum ini aku berdua dengan Yana. *Ehmmm…ternyata berdua itu indah ya? Baper.com, hehe.
“Sarapan pake apa kita Cin?” tanyaku.
“Lontong nih!”
“Hummm…nyummmiiii.. Mu nggak mau cekernya nih?”
“Nggak mauuu.”
“Ih, si kawanku yang dulu pun nggak suka ceker. Aneh, katanya. Masa kaki dimakan? Hahaa.”
“Iyaa, emang aneh kali pun!” timpal Lia.
“Cin, ternyata tempat tinggalmu ini sangat dekat dengan beberapa radio ya. Ada Aditya.FM, ada Persada.FM, ada Rabbani. FM. Mu nggak pengen jadi penyiar Cin?” tanyaku.
“Pengen sih, tapi nggak terlalu, ehhe.”

“Kalau aku… sangat pengen. Tapi bisa nggak aku jadi penyiar tanpa ngajuin lamaran terlebih dulu? Karena aku pengennya dilamar, bukan melamar, sihiyyy.”
“Semoga yang melamar cepat datang yak! Eh iya Cin, ntar aku Liqo dulu sampai jam 8.30 agaknya, nah mu mau ke mana dulu sambil nungguin aku? Atau mu ikut aku aja, Liqo?” tanya Lia.
Untuk pilihan yang kedua, kayaknya nggak deh, hehe. “Emm… aku ke Gramed aja deh! Mumpung bazarnya belum habis Cin.”
“Oke dehhhh..”
Pukul 08.00wib kami berpisah arah di bundaran keris. Lia ke arah Timur, aku ke arah Barat.
“Eh, Daniii?” tanyaku kepada laki-laki di pinggir jalan. Baru saja aku ingin menanyakan jalan kepadanya.

“Eh, Elis? Ngapain di sini?”
“Aku baru dari tempat Lia nih! Dani, aku mau tanya donk, kalau mau ke Gramedia lewat mana yaa? Aku takutnya malah forbidden nih kalau nyelonong aja.”
“Lurus aja Lis, ke luarnya ntar lewat jalan Gajah Mada, baru belok ke Sudirman lagi.”
“Ohhh…okay Dani. Makasiiih.”
Tapi, sayangnya Gramedianya belum buka sepagi ini. Hemmm… akhirnya aku berbelok lagi ke jalan Pattimura. Mendadak dapat ilham tentang pak Danur. Jangan-jangan beliau sedang di kampus sekarang. Ah, tak ada salahnya aku langsung ke sana!

***

3 ruangan perkuliahan Manajemen Pendidikan, tertutup pintunya. Aku tidak bisa mendeteksi siapakah dosen yang sedang mengajar di dalam sana. Akhirnya ku putuskan untuk ke Perpus, di lantai 2. Aku akan bertanya kepada bu Nur yang biasanya bisa menjadi informan yang terpercaya tentang pak Danur.
“Bu…mau tanya, Pak Danurnya ngajar nggak ya hari ini?”
“Loh? Bukannya semalam kamu udah ke sini? Nggak jadi ketemu Pak Danur semalam?”
“Nggak jadi Buu. Soalnya kan Pak Danur nanya…”
“Anak-anak ini kemarin malah disuruhnya ganti pembimbing semalam. Mungkin sedang nggak mood juga Bapak tu,” sambung bu Nur sebelum aku sempat menyelesaikan bicara.
“Hah? Ganti Pembimbing, Buk?”
Beberapa orang mahasiswa S2 yang sedang duduk di perpus ini langsung menceritakan kronologis kejadiannya kemarin. Ah, tapi rasanya tak mungkin aku pun jadi korban, apalagi ini sudah sangat di ujung; tinggal ACC SKRIPSI saja.
“Tunggu aja Bapak tu. Dia sedang ngajar di bawah,” kata bu Nur.

Aku langsung ke bawah lagi. Duduk di bangku satu-satunya di koridor. Sayup-sayup, aku mendengar suara pak Danur dari ruang yang berada di tengah. Ah, suara khas itu mengingatkanku pada masa-masa kuliah bersamanya dulu. Suatu waktu, kami pernah dimarahi sekelas karena kami tidak menyelesaikan makalah yang ditugaskan kepada kami. Bahkan Nurul pun, yang terpintar di kelasku, tidak menyelesaikannya. Kadang, gaya pak Danur menugaskan PR kepada kami seolah tidak terdengar seperti seperti nada penugasan! Itulah sebabnya kami tak terlalu menganggapnya, hehe. *maaf ya Pak.
“Hoaammmmmmmmm…” aku menguap, panjang sekali.
Bermenit-menit telah berlalu. Kantukku semakin menjadi-jadi. Aku jadi sangat mengantuk. Ku lihat jam di HP. Sudah menunjukkan pukul 09.15wib. Kalau 5 menit lagi, beliau tidak keluar juga, aku akan pergi. Dan ternyata benar, bahkan 10 menit kemudian pun, ia belum juga ke luar. Ah, sudah cukup usahaku untuk hari ini.
Cin, eke baru selesai nih! Langsung ke TKP yaa.
BBM dari Lia barusan semakin mempercepat langkahku menuju parkiran. Kemudian melaju menuju tujuan.

***

“Ini Lia ke mana yaaa? Kok nggak nongol-nongol jugaa?” bathinku dalam hati.
Sudah setengah jam lebih aku njebur ke dalam kolam, tapi ia tak kunjung nongol. Rasanya, sangat mustahil jika ia membatalkan janji ini. Dan… itu dia! Baru nongol sambil tersenyum polos ke arahku.
“Maap ya Mak!” katanya.
“Ke mana aja nyaaa?” teriakku dari dalam kolam.
“Tulah kan, BBM orang nggak dibacanya. Aku tadi sholat Duha dulu di mesji dekat sini.”

Ia kemudian berkemas dan langsung menyusulku, njebur ke dalam kolam. Kami dapat kenalan baru hari ini. Yang satu namanya Vina dan yang satunya lagi bernama Winda. Winda sama gendutnya seperti aku. Bahkan, beratku lebih berat 1kg dibanding dia. Sedangkan Vina, dialah yang mengajariku dan Lia untuk mengapung dengan badan telentang. Wahhh…seru banget rasanya bisa tidur di atas air sambil memandang langit lepas seperti ini..
“Ini seharunya tadi bawa penjepit jemuran, biar aku nggak susah-susah megangin hidung kayak gini,” kataku.
“Sakitlah ntar Ell,” kata Vina.
“Nanggung Cin, penjepit kertas yang hitam untuk skripsi aja, hahaaa,” timpal Lia.

Seperti sebelumnya, aku mengajak Lia untuk lomba. Kali ini kami ber-empat. Ada 2 perlombaan baru yang kami adakan hari ini; Lomba gendong teman dan lomba jalan mundur. Sedangkan lomba yang sebelumnya adalah; lari dalam air, menari dalam air, lompat dalam air jalan dalam air dan berenang. Kami tertawa begitu lepas. Bahagia sekali rasanya. Kolam renang ini seolah hanya milik kami berempat. Dan memang, kebetulan tinggal kami berempat di sini. Yang lainnya udah pada pulang.
“Eh, by the way, anak-anak SMA itu ke sini cuma numpang selfie doank?” kata Vina sambil berbisik.
“Kayaknya iya deh! Soalnya mereka cuma nyemplung bentar banget tadi. Lebih banyak foto-fotonya. Seksi pula bajunya,” sahutku.
“Paling-paling ntar untuk di post di medsos,” sambung Wina.
*Ini kok kami jadi ngerumpi gini ya? Astaghfirullah…
“Udahan yuk? Udah keriput nih tangan ekee!” ajakku.

Matahari pun mulai meninggi dan terik. Kami duduk di salah satu bangku semen berpayung sambil menikmati pop mie. Huahhh, uenak tenaaaannn.  Mungkin karena mereka adalah orang yang sangat ramah, makanya kami cepat akrab dan seolah sudah mengenal lamaaa sekali. Vina kuliah di jurusan Manajemen Informatika sedangkan Winda di Sistem Informatika, keduanya sama-sama di Universitas Riau. Kami baru tahu kalau jurusan Sistem Informatika ini adalah jurusan baru dan Winda adalah mahasiswa angkatan kedua. Tak lupa, sebelum berpisah kami wefie-an dan tukaran no HP. Siapa tahu bisa berenang bareng lagi setelah ini. aamiin.
Aku otw ya neng. Dari Delima..
BBM dari kak Tami ku terima. 20 menit yang lalu dikirimkannya. Tapi sayangnya ini tak ku perhatikan, sehingga aku langsung membalasnya.. Yuhuuu bububuyuuu..
“Sebenarnya kalau kita niat bikin kolam renang, bisa aja ya kan Cin. Kita hanya butuh tanah 2x5 meter, jadi deh kolam renang keluarga! Nggak butuh tanah yang leba-lebar amat kok sebenarnya. Hemmmm..besok kita kudu punya kolam renang ya Cin!”
“Aamiin.” kata Lia.

***

Usai sholat Zuhur, di Arrafah, Kak Tami menelvonku. Ia sedang di Warung Gopek katanya, karena tadi sudah dari kosanku dan aku belum pulang. Sementara Lia mengajakku juga untuk makan siang bareng, aku langsung mengiyakannya karena ku fikir kak Tami pun sedang makan siang di Warung Gopek. Lagipula, Lia jauh-jauh ke sini hanya karena ingin mengantarkan baju basahku karena aku nggak punya plastik. Segan kalau kali ini aku menolak makan bersamanya.
“Di Pondok Hijau aja yuk Cin?” ajak Lia.
“Yukkk!”
Aku sudah bilang kepada Lia bahwa Kak Tami ingin main ke kosanku, tapi aku tidak menjelaskan bahwa ia sudah lama menungguku sejak tadi. Salahku tidak jujur padamu, Cin sehingga kamu mengajakku makan bareng dan salahku juga karena aku tidak pernah mampu menolakmu. Tak terduga, kami dipertemukan pula dengan 3 orang teman di DPM UR, jadilah makan siang kali ini dipenuhi obrolan seru dan canda tawa.

Elisss… kamu di mana? Aku susul aja ke sana.
Eliss.. aku udah telpon kamu tapi nggak diangkat.
Ibuku mau berangkat sore ini
Aku pulang dulu yaa..
Assalamualaikum…
Pesan kak Tami ini baru ku baca setelah aku selesai makan. Sudah 7 menit yang lalu.
Elis di Bina Krida ujung Kak. Belok Kiri setelah ke luar dari jalan kosan elis tu kak.
Duhhh..maapin elis kakk.. maappp.
Ketika aku sampai di kosan, Kak Tami sudah pergi.
“Mana Kakaknya Cin?” tanya Lia.
“Udah pulang Cin. Katanya buru-buru, soalnya Ibunya minta diantar gituu,” jelasku yang sebenarnya tak sebenar-benar jelas. Ah, aku terlalu tidak ingin membuatmu merasa bersalah Cin. Cukup rasa bersalah ini ku rasakan sendiri saja.
“Aku langsung ke jalan Lobak ya Cin. Ada rapat BCI (Bengkel Cerdas Indonesia) di sana.”
Sebenarnya, aku pun diajak menjadi panitia acara itu. Tapi, pengabdian ini membuatku ber-berat hati menolaknya.

***



Pukul 16.00wib, aku melaju ke BEM FKIP. Sebentar lagi Opening Kelas MAWAPRES FKIP akan dimulai. Novi sudah mengundangku sejak jauh-jauh hari dan  aku tidak boleh sampai terlambat! Sesampainya di sana, Novi dan beberapa pengurus BEM sedang ada photo session; Sambil memegang kertas berisi dukungan kepada sahabat di Universitas Bengkulu yang akan menjadi Presma. Aku langsung diajak nimbrung. Ya aku…mau-mau ajalah! Hehe.
“Dek… mereka ini mau nyalon jadi Presma atau Gubma?” tanyaku kepada seorang adik berjilbab pink di sebelahku. Aku tahu namanya, karena kami pernah berkenalan, tapi aku jamin dia tidak tahu namaku.
“Dek?” panggilku lagi.
Yang ditanya tak juga menggubris penanya. Ntah apa yang sedang dilihatnya di HPnya sehingga mengabaikanku seperti ini. Pantang bagiku mengulang yang ketiga kalinya. Aku diam saja. Beranjak dari sisinya, mendekat kepada Novi.
“Di ruangan mana kita Cek?”
“Tuh! Di serbaguna BEM FKIP.”

Kami masuk ke dalam dan ternyata sudah ada Romi di dalam. Peserta yang hadir nyatanya hanya 10 orang dari 25 yang mendaftar. Tak mengapa, kita kan butuh kualitas, bukan kuantitas. Acara pun dibuka oleh MC dan diresmikan oleh Wagubma, karena pak WD III berhalangan unutk hadir. Selanjutnya… Novi menjelaskan tentang MAWAPRES dan proses penyeleksian di tingkat Universitas lewat video. Sebab, masih banyak yang belum tahu apa dan bagaimana MAWAPRES itu.


“Mbakkk… Adek-adek Mbak tu kacau kali loh waktu OE-4 kemarin. Hancur kali acaranya. Masih mending tahunku kemarin 400an pesertanya, sekarang cuma 200an, Mbaak. Aku pontang-panting kali ngurusin mereka. Sampai waktu guru-guru itu pada complain, marahnya ke aku Mbakkk. Ampun lah Mbaak pokoknya. Padahal aku bukan panitia di sana. Tapi aku ‘terpanggil’ ke sana karena aku mikir gini Mbak; ‘Masa aku udah menang sana-sini dan ke mana-mana, tapi adekku sendiri nggak ku urusin sih?’ Itulah yang membuat aku tersadar Mbak,” bisik Romi kepadaku.
“Ya ampuuun Dekkkk… Mbak jadi ngerasa bersalaaaaah. Sama sekali Mbak nggak ikutan nimbrung di sana kemarin. Kok mu nggak ngajak Mbak merempong jugaak? Kemarin ada beberapa kali sih Mbak duduk di HIMA dan tiap Mbak tanya gimana persiapannya, mereka jawabnya ‘aman, kak’, gitu terus.”
 


“Selanjutnya akan dijelaskan lebih lanjut oleh Kak Elysa, sebagai MAWAPRES III UR sekaligus ketua pelaksana pemilihan MAWAPRES tahun 2015.”
“Dek, kok langsung Kakak? Apa ni yang mau Kakak sampaikan?” bisikku kepad Romi.
“Cerita-cerita alay aja Mbakk. Hehee.”
Seperti biasa, tema ceritaku tidak pernah jauh-jauh dari ‘How to be’ experience-ku dalam menjalani lika-liku menuju MAWAPRES.

“Bagi Kakak… MAWAPRES itu adalah KUTUKAN seumur hidup. Kutukan untuk terus berkarya, berprestasi dan menginspirasi. Sesuai semboyan kami di MURC; Berprestasi artinya berkontribusi, berkontribusi artinya menginspirasi. Cuz, MAWAPRES is not a goal, but a journey. Maka, setelah menjadi MAWAPRES, jangan pernah berfikir untuk berhenti sampai disitu lalu akhirnya menghilang ntah ke mana. Ingat, kita punya ‘beban moral’ terhadap gelar MAWAPRES yang kita sandang itu. Seperti kata bang Zulkariman, MAWAPRES I UR 2012; ‘Kalau kamu mengikuti MAWAPRES hanya untuk menjadi PEMENANG, Abang jamin kamu akan CAPEK. So, nikmati prosesnya, ambillah pelajarannya’. Luar biasa kan?”
Selanjutnya, aku menjelaskan bahwa setidaknya ada 3 perbedaan yang tercipta dari tahun sebelumnya; 1. Ada seleksi Wawancara untuk melihat karakter, 2. Ada Dinamika Kelompok untuk menilai teamwork, leadership dan decision making, 2. Membentuk MURC sebagai komunitas nyata, bukan hanya grup di Facebook dan seperti hari ini, MURC mulai melaksanakan Sekolah MAWAPRES di fakultas masing-masing.

“Tentang teknis dan kontrak kelas, akan dijelaskan oleh Dek Romi. Assalamualaikum,” tutupku.
Romi mulai menjelaskan dengan menggunakan proyektor agar ia bisa berbicara sambil mengetik. Di luar, hujan sedang turun dengan lebatnya. Untunglah suara Romi cukup kuat dan bisa terdengar.
“Si Romcek ini memang kece kali lah kalau disuruh menyampaikan hal yang mendadak-mendadak ya Cek! Kakak aja nggak nyangka dia bisa nyampaikan ini, padahal tadi dia belum ngerancang apa-apa,” bisiikku kepada Novi.
“Iyaa..memang bububuyu lah si Romcek tu Kak!”
Acara selesai pada pukul 17.35wib. Tapi, karena hujan masih deras, akhirnya kami manfaatkan untuk berfoto-foto dan ngobrol santai.
“Cek, coba tolong dengarkan Novi baca puisi ya? Suara Novi ini dari suarat perut atau apa?”
“Tapi, Kakak nggak pandai baca puisi loh Cekkk,” tolakku.
“Nggak mesti pandai baca puisi dulu Cek baru bisa menilai orang, sihiyyyy.”

Novi mulai membacakan puisi karya Sutarji Calzoum Bahri yang berjudul Perjalanan Kubur. Romi pun ikut menyimaknya. Novi memang luar biasa. Aku pengen banget berguru padanya untuk membaca puisi.
“Cek…kok ada nama Alina di dalam puisi itu ya? Siapa dia?”
“Nah, tulah Cek yang novi bingung. Apa makna puisi ini menurut Cek?”
“Kayaknya itu menceritakan tentang moral bangsa yang mulai tergerus zaman Cek, sementara dulunya bangsa itu dikenal dengan moral baiknya. Kayaknya sih gituu. Intinya…Alina di situ bukan orang.”
“Novi pernah baca di internet, ada orang yang menafsirkan bahwa perjalanan kubur itu adalah perjalanan manusia sejak dalam kandungan sampai meninggal dunia. Dan ada juga yang bilang bahwa Alina itu memang orang, dan benar-benar udah meninggal.”
“Haaa… berarti puisinya berhasil tuh Cek! Karena, kata orang sih… Puisi yang sukses itu adalah ketika pembacanya punya banyak tafsiran dan nggak bisa dipastikan mana yang benar. Hahaa.”
“Masa iya Cek?”
“Kata orang sih gicyuuuuu..heheh.”
Novi pulang bersamaku. Dan di tengah jalan, hujam kembali turun dengan derasnya. Bulirnya besar-besar. Membuat pipiku pedih tak tertahan. Akhirnya, hingga maghrib, aku menepi di kamar Novi.

***

Malam ini, aku menekuni permintaan maafku kepada kak Tami. Awalnya, ia membalas…
Nggak apa-apa.
Kamu lagi sama teman-teman
Aku faham kok, ehhee.
Tapi, lama kelamaan, ketika ku ulas kesalah fahaman tadi, ujung-ujungnya kak Tami malah marah. Aku jadi ciut dan takut. Dari marahnya itu aku belajar; Aku sedang berhadapan dengan siapa? Ini baru satu Kak Tami. Bagaimana kalau semua keterlambatanku selama ini terjadi kepada orang-orang yang seperti kak Tami? Mungkin aku sudah jera sejak jauh-jauh hari. Tapi, ternyata waktu kadang tak sekejam itu. ia sellau menghadirkan pembelajaran dengan cara yang beragam. Supaya aku bisa belajar pelan-pelan.
Hemmm…saya salah kalau bilang berusaha memahami.

Saya nggak jujur sama kamu.

Tadi hari panas dan hidung saya bleeding parah di rumah tadi.

Aku hanya diam. Ini memang salahku. Aku harus tahan-tahan mata membaca kekecewaan orang atas diriku. Kekecewaan yang kemarin belum sembuh, hari ini bertambah pula kecewa yang baru. Kapan berubah, El? Azan maghrib men-jeda obrolan kami di BBM. Usai maghrib, kak Tami memulai lagi..
Maaf kalau saya kesal, neng.

Salah saya yang berekspektasi lebih.

Maaf yaa…ini pelajaran lagi buat saya.
Selanjutnya, kak tami malah ingin tahu tentang pengabdian yang akan aku jalani. Alhamdulillah ya Allah, terimakasih telah mengajarkanku arti KETEPATAN WAKTU, arti MAAF dan KELUASAN HATI, hari ini. Mohon ajarkan aku supaya setelah ini tak mengecewakan siapapun lagi. aamiin.

*Tulisan ini diselesaikan pada tanggal 11 Februari 2016, pukul 20.08wib

Tidak ada komentar: