Kita tidak pernah tahu sesungguhnya PERSAHABATAN kita dengan
SIAPA yang akan paling bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita. Kita juga tidak
pernah tahu sesungguhnya DOA siapa yang paling baik dan dikabulkan olehNya
ketika ia berdoa untuk kita. Maka, sebisa mungkin perluaslah pergaulanmu dengan
membanyakkan orang-orang baik dalam hidupmu. Juga, perbanyaklah doa-doa baik
bagimu dengan banyak-banyak mendoakan yang terbaik untuk orang lain.
*Doa dan Persahabatan – Metamor(Prosa)
***
Hari ini, aku dan Lia berencana untuk berenang di jalan
Anggrek. Ini adalah kali keduanya kami bersama ke sini, sebelum ini aku berdua
dengan Yana. *Ehmmm…ternyata berdua itu indah ya? Baper.com, hehe.
“Sarapan pake apa kita Cin?” tanyaku.
“Lontong nih!”
“Hummm…nyummmiiii.. Mu nggak mau cekernya nih?”
“Nggak mauuu.”
“Ih, si kawanku yang dulu pun nggak suka ceker. Aneh,
katanya. Masa kaki dimakan? Hahaa.”
“Iyaa, emang aneh kali pun!” timpal Lia.
“Cin, ternyata tempat tinggalmu ini sangat dekat dengan
beberapa radio ya. Ada Aditya.FM, ada Persada.FM, ada Rabbani. FM. Mu nggak
pengen jadi penyiar Cin?” tanyaku.
“Pengen sih, tapi nggak terlalu, ehhe.”
“Kalau aku… sangat pengen. Tapi bisa nggak aku jadi penyiar
tanpa ngajuin lamaran terlebih dulu? Karena aku pengennya dilamar, bukan
melamar, sihiyyy.”
“Semoga yang melamar cepat datang yak! Eh iya Cin, ntar aku
Liqo dulu sampai jam 8.30 agaknya, nah mu mau ke mana dulu sambil nungguin aku?
Atau mu ikut aku aja, Liqo?” tanya Lia.
Untuk pilihan yang kedua, kayaknya nggak deh, hehe. “Emm…
aku ke Gramed aja deh! Mumpung bazarnya belum habis Cin.”
“Oke dehhhh..”
Pukul 08.00wib kami berpisah arah di bundaran keris. Lia ke
arah Timur, aku ke arah Barat.
“Eh, Daniii?” tanyaku kepada laki-laki di pinggir jalan.
Baru saja aku ingin menanyakan jalan kepadanya.
“Eh, Elis? Ngapain di sini?”
“Aku baru dari tempat Lia nih! Dani, aku mau tanya donk,
kalau mau ke Gramedia lewat mana yaa? Aku takutnya malah forbidden nih kalau
nyelonong aja.”
“Lurus aja Lis, ke luarnya ntar lewat jalan Gajah Mada, baru
belok ke Sudirman lagi.”
“Ohhh…okay Dani. Makasiiih.”
Tapi, sayangnya Gramedianya belum buka sepagi ini. Hemmm…
akhirnya aku berbelok lagi ke jalan Pattimura. Mendadak dapat ilham tentang pak
Danur. Jangan-jangan beliau sedang di kampus sekarang. Ah, tak ada salahnya aku
langsung ke sana!
***
3 ruangan perkuliahan Manajemen
Pendidikan, tertutup pintunya. Aku tidak bisa mendeteksi siapakah dosen yang
sedang mengajar di dalam sana. Akhirnya ku putuskan untuk ke Perpus, di lantai
2. Aku akan bertanya kepada bu Nur yang biasanya bisa menjadi informan yang
terpercaya tentang pak Danur.
“Bu…mau tanya, Pak Danurnya
ngajar nggak ya hari ini?”
“Loh? Bukannya semalam kamu udah
ke sini? Nggak jadi ketemu Pak Danur semalam?”
“Nggak jadi Buu. Soalnya kan Pak
Danur nanya…”
“Anak-anak ini kemarin malah
disuruhnya ganti pembimbing semalam. Mungkin sedang nggak mood juga Bapak tu,”
sambung bu Nur sebelum aku sempat menyelesaikan bicara.
“Hah? Ganti Pembimbing, Buk?”
Beberapa orang mahasiswa S2 yang
sedang duduk di perpus ini langsung menceritakan kronologis kejadiannya kemarin.
Ah, tapi rasanya tak mungkin aku pun jadi korban, apalagi ini sudah sangat di
ujung; tinggal ACC SKRIPSI saja.
“Tunggu aja Bapak tu. Dia sedang
ngajar di bawah,” kata bu Nur.
Aku langsung ke bawah lagi. Duduk
di bangku satu-satunya di koridor. Sayup-sayup, aku mendengar suara pak Danur
dari ruang yang berada di tengah. Ah, suara khas itu mengingatkanku pada
masa-masa kuliah bersamanya dulu. Suatu waktu, kami pernah dimarahi sekelas
karena kami tidak menyelesaikan makalah yang ditugaskan kepada kami. Bahkan
Nurul pun, yang terpintar di kelasku, tidak menyelesaikannya. Kadang, gaya pak
Danur menugaskan PR kepada kami seolah tidak terdengar seperti seperti nada
penugasan! Itulah sebabnya kami tak terlalu menganggapnya, hehe. *maaf ya Pak.
“Hoaammmmmmmmm…” aku menguap,
panjang sekali.
Bermenit-menit telah berlalu. Kantukku
semakin menjadi-jadi. Aku jadi sangat mengantuk. Ku lihat jam di HP. Sudah menunjukkan
pukul 09.15wib. Kalau 5 menit lagi, beliau tidak keluar juga, aku akan pergi.
Dan ternyata benar, bahkan 10 menit kemudian pun, ia belum juga ke luar. Ah,
sudah cukup usahaku untuk hari ini.
Cin, eke baru selesai nih! Langsung ke TKP yaa.
BBM dari Lia barusan semakin
mempercepat langkahku menuju parkiran. Kemudian melaju menuju tujuan.
***
“Ini Lia ke mana yaaa? Kok nggak
nongol-nongol jugaa?” bathinku dalam hati.
Sudah setengah jam lebih aku
njebur ke dalam kolam, tapi ia tak kunjung nongol. Rasanya, sangat mustahil
jika ia membatalkan janji ini. Dan… itu dia! Baru nongol sambil tersenyum polos
ke arahku.
“Ke mana aja nyaaa?” teriakku
dari dalam kolam.
“Tulah kan, BBM orang nggak
dibacanya. Aku tadi sholat Duha dulu di mesji dekat sini.”
Ia kemudian berkemas dan langsung
menyusulku, njebur ke dalam kolam. Kami dapat kenalan baru hari ini. Yang satu
namanya Vina dan yang satunya lagi bernama Winda. Winda sama gendutnya seperti
aku. Bahkan, beratku lebih berat 1kg dibanding dia. Sedangkan Vina, dialah yang
mengajariku dan Lia untuk mengapung dengan badan telentang. Wahhh…seru banget
rasanya bisa tidur di atas air sambil memandang langit lepas seperti ini..
“Ini seharunya tadi bawa penjepit
jemuran, biar aku nggak susah-susah megangin hidung kayak gini,” kataku.
“Sakitlah ntar Ell,” kata Vina.
“Nanggung Cin, penjepit kertas
yang hitam untuk skripsi aja, hahaaa,” timpal Lia.
Seperti sebelumnya, aku mengajak
Lia untuk lomba. Kali ini kami ber-empat. Ada 2 perlombaan baru yang kami
adakan hari ini; Lomba gendong teman dan lomba jalan mundur. Sedangkan lomba
yang sebelumnya adalah; lari dalam air, menari dalam air, lompat dalam air
jalan dalam air dan berenang. Kami tertawa begitu lepas. Bahagia sekali
rasanya. Kolam renang ini seolah hanya milik kami berempat. Dan memang,
kebetulan tinggal kami berempat di sini. Yang lainnya udah pada pulang.
“Eh, by the way, anak-anak SMA
itu ke sini cuma numpang selfie doank?” kata Vina sambil berbisik.
“Kayaknya iya deh! Soalnya mereka
cuma nyemplung bentar banget tadi. Lebih banyak foto-fotonya. Seksi pula
bajunya,” sahutku.
“Paling-paling ntar untuk di post
di medsos,” sambung Wina.
*Ini kok kami jadi ngerumpi gini
ya? Astaghfirullah…
“Udahan yuk? Udah keriput nih
tangan ekee!” ajakku.
Matahari pun mulai meninggi dan
terik. Kami duduk di salah satu bangku semen berpayung sambil menikmati pop
mie. Huahhh, uenak tenaaaannn. Mungkin karena
mereka adalah orang yang sangat ramah, makanya kami cepat akrab dan seolah
sudah mengenal lamaaa sekali. Vina kuliah di jurusan Manajemen Informatika
sedangkan Winda di Sistem Informatika, keduanya sama-sama di Universitas Riau.
Kami baru tahu kalau jurusan Sistem Informatika ini adalah jurusan baru dan
Winda adalah mahasiswa angkatan kedua. Tak lupa, sebelum berpisah kami wefie-an
dan tukaran no HP. Siapa tahu bisa berenang bareng lagi setelah ini. aamiin.
Aku
otw ya neng. Dari Delima..
BBM dari kak Tami ku terima. 20
menit yang lalu dikirimkannya. Tapi sayangnya ini tak ku perhatikan, sehingga
aku langsung membalasnya.. Yuhuuu
bububuyuuu..
“Sebenarnya kalau kita niat bikin
kolam renang, bisa aja ya kan Cin. Kita hanya butuh tanah 2x5 meter, jadi deh
kolam renang keluarga! Nggak butuh tanah yang leba-lebar amat kok sebenarnya.
Hemmmm..besok kita kudu punya kolam renang ya Cin!”
“Aamiin.” kata Lia.
***
Usai sholat Zuhur, di Arrafah, Kak
Tami menelvonku. Ia sedang di Warung Gopek katanya, karena tadi sudah dari kosanku
dan aku belum pulang. Sementara Lia mengajakku juga untuk makan siang bareng,
aku langsung mengiyakannya karena ku fikir kak Tami pun sedang makan siang di
Warung Gopek. Lagipula, Lia jauh-jauh ke sini hanya karena ingin mengantarkan
baju basahku karena aku nggak punya plastik. Segan kalau kali ini aku menolak
makan bersamanya.
“Di Pondok Hijau aja yuk Cin?”
ajak Lia.
“Yukkk!”
Aku sudah bilang kepada Lia bahwa
Kak Tami ingin main ke kosanku, tapi aku tidak menjelaskan bahwa ia sudah lama
menungguku sejak tadi. Salahku tidak jujur padamu, Cin sehingga kamu mengajakku
makan bareng dan salahku juga karena aku tidak pernah mampu menolakmu. Tak
terduga, kami dipertemukan pula dengan 3 orang teman di DPM UR, jadilah makan
siang kali ini dipenuhi obrolan seru dan canda tawa.
Elisss…
kamu di mana? Aku susul aja ke sana.
Ibuku
mau berangkat sore ini
Aku
pulang dulu yaa..
Assalamualaikum…
Pesan kak Tami ini baru ku baca
setelah aku selesai makan. Sudah 7 menit yang lalu.
Elis
di Bina Krida ujung Kak. Belok Kiri setelah ke luar dari jalan kosan elis tu
kak.
Duhhh..maapin
elis kakk.. maappp.
Ketika aku sampai di kosan, Kak
Tami sudah pergi.
“Mana Kakaknya Cin?” tanya Lia.
“Udah pulang Cin. Katanya
buru-buru, soalnya Ibunya minta diantar gituu,” jelasku yang sebenarnya tak
sebenar-benar jelas. Ah, aku terlalu
tidak ingin membuatmu merasa bersalah Cin. Cukup rasa bersalah ini ku rasakan
sendiri saja.
“Aku langsung ke jalan Lobak ya
Cin. Ada rapat BCI (Bengkel Cerdas Indonesia) di sana.”
Sebenarnya, aku pun diajak
menjadi panitia acara itu. Tapi, pengabdian ini membuatku ber-berat hati
menolaknya.
***
Pukul 16.00wib, aku melaju ke BEM
FKIP. Sebentar lagi Opening Kelas MAWAPRES FKIP akan dimulai. Novi sudah
mengundangku sejak jauh-jauh hari dan
aku tidak boleh sampai terlambat! Sesampainya di sana, Novi dan beberapa
pengurus BEM sedang ada photo session; Sambil memegang kertas berisi dukungan
kepada sahabat di Universitas Bengkulu yang akan menjadi Presma. Aku langsung
diajak nimbrung. Ya aku…mau-mau ajalah! Hehe.
“Dek… mereka ini mau nyalon jadi
Presma atau Gubma?” tanyaku kepada seorang adik berjilbab pink di sebelahku.
Aku tahu namanya, karena kami pernah berkenalan, tapi aku jamin dia tidak tahu
namaku.
“Dek?” panggilku lagi.
Yang ditanya tak juga menggubris
penanya. Ntah apa yang sedang dilihatnya di HPnya sehingga mengabaikanku
seperti ini. Pantang bagiku mengulang yang ketiga kalinya. Aku diam saja.
Beranjak dari sisinya, mendekat kepada Novi.
“Di ruangan mana kita Cek?”
“Tuh! Di serbaguna BEM FKIP.”
Kami masuk ke dalam dan ternyata
sudah ada Romi di dalam. Peserta yang hadir nyatanya hanya 10 orang dari 25
yang mendaftar. Tak mengapa, kita kan butuh kualitas, bukan kuantitas. Acara
pun dibuka oleh MC dan diresmikan oleh Wagubma, karena pak WD III berhalangan
unutk hadir. Selanjutnya… Novi menjelaskan tentang MAWAPRES dan proses
penyeleksian di tingkat Universitas lewat video. Sebab, masih banyak yang belum
tahu apa dan bagaimana MAWAPRES itu.
“Mbakkk… Adek-adek Mbak tu kacau
kali loh waktu OE-4 kemarin. Hancur kali acaranya. Masih mending tahunku
kemarin 400an pesertanya, sekarang cuma 200an, Mbaak. Aku pontang-panting kali
ngurusin mereka. Sampai waktu guru-guru itu pada complain, marahnya ke aku
Mbakkk. Ampun lah Mbaak pokoknya. Padahal aku bukan panitia di sana. Tapi aku ‘terpanggil’
ke sana karena aku mikir gini Mbak; ‘Masa aku udah menang sana-sini dan ke
mana-mana, tapi adekku sendiri nggak ku urusin sih?’ Itulah yang membuat aku
tersadar Mbak,” bisik Romi kepadaku.
“Ya ampuuun Dekkkk… Mbak jadi
ngerasa bersalaaaaah. Sama sekali Mbak nggak ikutan nimbrung di sana kemarin.
Kok mu nggak ngajak Mbak merempong jugaak? Kemarin ada beberapa kali sih Mbak
duduk di HIMA dan tiap Mbak tanya gimana persiapannya, mereka jawabnya ‘aman,
kak’, gitu terus.”
“Selanjutnya akan dijelaskan
lebih lanjut oleh Kak Elysa, sebagai MAWAPRES III UR sekaligus ketua pelaksana
pemilihan MAWAPRES tahun 2015.”
“Dek, kok langsung Kakak? Apa ni
yang mau Kakak sampaikan?” bisikku kepad Romi.
“Cerita-cerita alay aja Mbakk. Hehee.”
Seperti biasa, tema ceritaku
tidak pernah jauh-jauh dari ‘How to be’ experience-ku dalam menjalani lika-liku
menuju MAWAPRES.
“Bagi Kakak… MAWAPRES itu adalah
KUTUKAN seumur hidup. Kutukan untuk terus berkarya, berprestasi dan
menginspirasi. Sesuai semboyan kami di MURC; Berprestasi artinya berkontribusi, berkontribusi artinya menginspirasi.
Cuz, MAWAPRES is not a goal, but a journey. Maka, setelah menjadi MAWAPRES,
jangan pernah berfikir untuk berhenti sampai disitu lalu akhirnya menghilang
ntah ke mana. Ingat, kita punya ‘beban moral’ terhadap gelar MAWAPRES yang kita
sandang itu. Seperti kata bang Zulkariman, MAWAPRES I UR 2012; ‘Kalau kamu mengikuti MAWAPRES hanya untuk
menjadi PEMENANG, Abang jamin kamu akan CAPEK. So, nikmati prosesnya, ambillah
pelajarannya’. Luar biasa kan?”
Selanjutnya, aku menjelaskan
bahwa setidaknya ada 3 perbedaan yang tercipta dari tahun sebelumnya; 1. Ada
seleksi Wawancara untuk melihat karakter, 2. Ada Dinamika Kelompok untuk
menilai teamwork, leadership dan decision
making, 2. Membentuk MURC sebagai komunitas nyata, bukan hanya grup di
Facebook dan seperti hari ini, MURC mulai melaksanakan Sekolah MAWAPRES di
fakultas masing-masing.
“Tentang teknis dan kontrak
kelas, akan dijelaskan oleh Dek Romi. Assalamualaikum,” tutupku.
Romi mulai menjelaskan dengan
menggunakan proyektor agar ia bisa berbicara sambil mengetik. Di luar, hujan
sedang turun dengan lebatnya. Untunglah suara Romi cukup kuat dan bisa
terdengar.
“Si Romcek ini memang kece kali
lah kalau disuruh menyampaikan hal yang mendadak-mendadak ya Cek! Kakak aja
nggak nyangka dia bisa nyampaikan ini, padahal tadi dia belum ngerancang
apa-apa,” bisiikku kepada Novi.
“Iyaa..memang bububuyu lah si
Romcek tu Kak!”
Acara selesai pada pukul
17.35wib. Tapi, karena hujan masih deras, akhirnya kami manfaatkan untuk
berfoto-foto dan ngobrol santai.
“Cek, coba tolong dengarkan Novi
baca puisi ya? Suara Novi ini dari suarat perut atau apa?”
“Tapi, Kakak nggak pandai baca
puisi loh Cekkk,” tolakku.
“Nggak mesti pandai baca puisi
dulu Cek baru bisa menilai orang, sihiyyyy.”
Novi mulai membacakan puisi karya
Sutarji Calzoum Bahri yang berjudul Perjalanan
Kubur. Romi pun ikut menyimaknya. Novi memang luar biasa. Aku pengen banget
berguru padanya untuk membaca puisi.
“Cek…kok ada nama Alina di dalam
puisi itu ya? Siapa dia?”
“Nah, tulah Cek yang novi
bingung. Apa makna puisi ini menurut Cek?”
“Kayaknya itu menceritakan
tentang moral bangsa yang mulai tergerus zaman Cek, sementara dulunya bangsa
itu dikenal dengan moral baiknya. Kayaknya sih gituu. Intinya…Alina di situ bukan
orang.”
“Novi pernah baca di internet,
ada orang yang menafsirkan bahwa perjalanan kubur itu adalah perjalanan manusia
sejak dalam kandungan sampai meninggal dunia. Dan ada juga yang bilang bahwa
Alina itu memang orang, dan benar-benar udah meninggal.”
“Haaa… berarti puisinya berhasil
tuh Cek! Karena, kata orang sih… Puisi yang sukses itu adalah ketika pembacanya
punya banyak tafsiran dan nggak bisa dipastikan mana yang benar. Hahaa.”
“Masa iya Cek?”
“Kata orang sih gicyuuuuu..heheh.”
Novi pulang bersamaku. Dan di
tengah jalan, hujam kembali turun dengan derasnya. Bulirnya besar-besar. Membuat
pipiku pedih tak tertahan. Akhirnya, hingga maghrib, aku menepi di kamar Novi.
***
Malam ini, aku menekuni permintaan maafku kepada kak Tami. Awalnya, ia membalas…
Nggak
apa-apa.
Kamu
lagi sama teman-teman
Aku
faham kok, ehhee.
Tapi, lama kelamaan, ketika ku
ulas kesalah fahaman tadi, ujung-ujungnya kak Tami malah marah. Aku jadi ciut
dan takut. Dari marahnya itu aku belajar; Aku sedang berhadapan dengan siapa?
Ini baru satu Kak Tami. Bagaimana kalau semua keterlambatanku selama ini terjadi
kepada orang-orang yang seperti kak Tami? Mungkin aku sudah jera sejak
jauh-jauh hari. Tapi, ternyata waktu kadang tak sekejam itu. ia sellau
menghadirkan pembelajaran dengan cara yang beragam. Supaya aku bisa belajar
pelan-pelan.
Hemmm…saya salah kalau bilang
berusaha memahami.
Saya nggak jujur sama kamu.
Tadi hari panas dan hidung saya
bleeding parah di rumah tadi.
Aku hanya diam. Ini memang salahku. Aku harus tahan-tahan mata membaca kekecewaan orang atas diriku. Kekecewaan yang kemarin belum sembuh, hari ini bertambah pula kecewa yang baru. Kapan berubah, El? Azan maghrib
men-jeda obrolan kami di BBM. Usai maghrib, kak Tami memulai lagi..
Maaf kalau saya kesal, neng.
Salah saya yang berekspektasi
lebih.
Maaf yaa…ini pelajaran lagi buat
saya.
Selanjutnya, kak tami malah ingin
tahu tentang pengabdian yang akan aku jalani. Alhamdulillah ya Allah,
terimakasih telah mengajarkanku arti KETEPATAN WAKTU, arti MAAF dan KELUASAN
HATI, hari ini. Mohon ajarkan aku supaya setelah ini tak mengecewakan siapapun
lagi. aamiin.
*Tulisan ini diselesaikan pada tanggal 11 Februari 2016, pukul 20.08wib




Tidak ada komentar:
Posting Komentar