Jumat, 04 Maret 2016

Rajin-rajinlah Menabung Doa



JIka suatu saat nanti kamu mendengar orang lain membicarakan hal yang tidak baik tentang sahabatmu, ada baiknya beritahukan itu kepadanya (tanpa menyebutkan nama si pembicara). Tujuannya supaya omongan tidak baik tadi bisa dijadikan PERTIMBANGAN oleh sahabatmu untuk memperbaiki dirinya. Dan… berterimakasihlah jika kamu memiliki sahabat seperti itu; Seseorang yang GEMAR sekali mengingatkanmu ketika KELIRU. Sebab ia tak rela jika dirimu terus menerus berada di jalan yang salah. Sebab ia menyayangimu, maka itu ia selalu menasehatimu. Terimakasih untuk setiap orang yang sudah berani JUJUR kepadaku. kejujuran kalian tak ternilai di mataku. Lebih baik menyampaikan meskipun itu pahit, daripada DIAM tapi tak memperbaiki apapun…

*Sebuah pemberitahuan untuk sahabat – Metamor(Prosa)
***

Aku meninggalkan kosan Fani sekitar pukul 08.30wib. Terlupa bahwa hari ini ada janji pukul 08.00wib dengan misna. Tadi pun aku nggak akan terbangun kalau nggak dimiscall olehnya. Huahhhh. Tentu saja ini karena aku semalaman bergadang sejak jam 1 dini hari dan baru kembali tidur setelah sholat Subuh. Segera ku lajukan motorku menuju kosan. Aku bersiap-siap secepat kilat.
Aku pindah ke samping perpus UR ya Saa. Sekaligus sarapan. Nyantai aja..
SMS Misna barusan cukup melegakanku. Aku ingat, semalam ketika membuka FB yang sudah semingguan nggak ku buka, ada inbox dari Misa. Ia ingin membeli buku Tentang Januariku. Ah, surprise macam apa ini ya Allah?
Kak? Sarapan yuk? Jam 10. Di tempat biasa.
Kali ini giliran Yana pula mengSMSku. Aku langsung menyanggupinya karena aku fikir, obrolan dengan Misna tidak akan lama. Aku hanya ingin mengkopi file Pembangun Desa dan barangkali ada sedikit hal yang ingin kami diskusikan nanti. Lagipula ini baru pukul 09.00wib.

***

“Ah, akhirnya datang jugaaaa,” kata Misna, lega, ketika melihatku datang.
“Maap Misnaaa. Kalau nggak Misna miscall tadi, mungkin aku belum bangun tuh!”
“Tidur lagi setelah Solat Subuh atau kebablasan tadi?” tanya Mizna.
“Tidur lagi setelah Subuh, hehe.”
Ia menyodorkan flashdisknya kepadaku dan mulailah aku mentransfer file darinya yang lumayan banyak itu. Misna ini luar biasa, ia terlihat lebih antusias dalam pengabdian ini dibandingkan aku. Selain sudah banyak membaca tentang pembangunan desa, ia juga cukup tahu tentang desa pengabdian kami nanti. Karena kebetulan, tempat KKN-nya kemarin pun tak jauh dari desa itu. Alhamdulillah, feels so luck to have pair like him deh pokoknyaaa!
Kak, Na udah selesai sarapan. Ketemu di mana kita?
Ah, lagi-lagi aku mengabaikan orang lain. Aku selalu tidak tepat waktu dan tidak tepat janji. Kasihan Yana, sudah berulang kali seperti ini. Lain kali, aku harus tegas berkata tidak kepada tawaran janji jika aku tidak yakin bisa menepatinya!
Kita langsung ketemu di OE aja ya Dek. Kakak ke sana…
Aku berpamitan kepada Misna.

***

“Heyyy..wanita berkaca mataaa!” teriakku kepada Yana yang duduk sendirian di ujung koridor.
Yana berlari-lari kecil, mendekat ke arahku.
“Kak, Na cocok nggak pakai kaca mata kayak gini?”
“Cocok-cocok aja kok Dek. Cantik malah. Kayak orang pintar. Eh, berarti Adek paranormal donk? hahaa.”
Kami duduk di dalam ruang serba guna FKIP untuk melihat lomba KTI Ekonomi. Yana berniat untuk bertemu Romi hari ini. Tapi, setelah ku hubungi, ternyata Romi sedang nggak enak badan hari ini dan nggak ke kampus.
“Emangnya Adek ada urusan apa dengan Romi?” tanyaku.
“Na mau minta tolong sebarkan informasi ini Kak,” kata Yana sambil menyodorkan selebaran Training untuk Guru kepadaku.
“Biar Kakak bantu ya nyebarinnya. Sini Kakak fotoinn!”
“Makasih ya Kak.”

Kami tak betah berlama-lama duduk di dalam, karena bosan. Akhirnya aku mengajak Yana mencari photo boot OE. Alhamdulillah ternyata ada. Aku minta difotoin dengan memgang berbagai kertas ungkapan; Sini aku bahagiain! Siap dilamar! Lelah disiksa Rindu. Hehe, rada baper gitu yaa?.
“Eh, itu Noviiii!” kataku sambil menunjuk cewek berjilbab pink yang sedang menikmati sate padangnya di salah satu stand.
Aku langsung menghampirinya. Juga berkenalan dengan dek Vita, sekretaris KOMINFO-nya.
“..Doain Novi bisa ujian Seminar Matakuliah semester ini ya Cekk.”
“Aamiinn ya Allah. LKTI untuk MAWAPRES gimana Cek?”
“Huhuu..belum Novi apa-apain lagi Cekkk. Novi ni harus dikasih deadline Cek, kalau nggak, ntar ngelantur teruss haaa.”
“Baiklah, nanti kita tentukan lagi waktunya kapan Kakak ‘hajar’ KTI Cek itu.”
“Cek sama siapa ke sini tadi?”
“Sama Yana. Loh! Yana manaaaa?” aku baru sadar kalau Yana nggak ada di sebelahku.
Ku cek HP dan ternyata Yana SMS; Kak, Na buru-buru ke Sudirman, ada urusan. Na duluan ya Kak..
“Udah menghilang aja dia bah!!!” celetukku.
“Cek… judul Seminar Mata Kuliah yang kemarin Novi ajuin itu ternyata udah ada yang pernah ngajuin juga. Jadi, Novi harus cari judul baru. Hhuuhu..bingung haaa.”

“Emmm…Cek, kemudahan Kakak kemarin dalam ngerjakan SKRIPSI tu benar-benar pertolongan Allah. Setiap kali ada yang nanya; ‘Apa kendalanya? Kok belum juga ujian Proposal?’, Kakka nggak tahu mau jawab apa. Karena memang nggak ada kendala apapun kecuali nggak ada jadwal ujian karena asap kemarin. Dan, itulah yang terjadi..semuanya secepat itu. Itupun udah termasuk sama keluyuran ke Kampar, udah males-malesan, udah nunda-nundanya juga. Cek tahu apa rahasianya?” aku membuat Novi penasaran. “Karena selama bulan Januari-Desember itu Kakak selalu ‘Menabung Doa’. Setiap Kakak bersedekah dan memudahkan urusan orang lain, Kakak selalu berdoa; ‘Ya Allah, atas kebaikan yang ku lakukan ini, mohon mudahkanlah urusan SKRIPSIku’, doa itu selalu Kakak ulang-ulang. Dan 2 bulan kemarin itu ya masanya menuai hasil doa tadi lah Cek. Jangan putus berdoa ya Cek! Cemunguddd.”

“Sihiyyyyy…Keyen dank!”
“Sejatinya, kita nggak pernah tahu Dek doa kita yang mana yang akan dikabulkan oleh Allah. Maka, jangan putus menanam kebaikan dan menabung doa pokoknya!” lanjutku. “Oh yaa.. blogmu kok nggak nambah-nambah tuh isinya?” tanyaku.
“Hemmmm…tulah Cekkk. Kemarin padahal Novi dah niat kali mau nulisin tentang Sepak-Terjang waktu Olimpiade Fisika, tapi udah 7 halaman Novi tulisin, kok nggak selesai-selesai juga yaa? Akhirnya Novi berhenti karena udah kecapean, sementara yang pengen ditulisin masih banyak banget.”

“Lah? Lanjutinlah Dekkk. Sampai benar-benar tuntas. Kakak aja, kalau nulis diary hari-hari biasa, ketika nggak ada acara atau lomba, bisa sampai 13 halaman bahkan 19 halaman loh! Itu punya Cek masih sedikit bahkan menurut Kakak untuk ukuran suatu event.”
“Ohhh gituuu ya Cekkk.”
“Kakak spesifiknya nulis apa sih Kak?” tanya dek Vita.
“Semuanya ditulis sama Kakak ni Dekk!” sahut Novi. “Bahkan, obrolan kita barusan ini bisa ditulisnya nanti tuuu!”
“Ohhh…berarti diary gitu ya Kak..”
“Yuhuuu Dekkk.”
Setelah dari sini, aku menemani Novi ke Puskom untuk meminta data mahasiswa FKIP. Ada sebuah poster yang sangat menarik dan mencuri perhatianku di sini… Awali langkahmu dengan Mengajar (Ir. Soekarno). Karena staf Puskom ini meminta Novi membuat tabel di belakang surat permohonannya, akhirnya Novi terpaksa mengundur urusan ini sampai besok. Sudah kami usahakan untuk segera ngeprint, tapi terlambat, puskom sudah tutup ketika kami kembali. Ah, birokrasiiii….!

***

Pukul 14.00wib aku ke Gobah untuk menemui pak Danur. Tapi yang ditunggu tak kunjung muncul. Mulanya hanya 3 orang yang menunggunya, sekarang sudah 8 orang. Termasuk aku. Kalau sudah sesuntuk ini dalam menunggu, biasanya aku jadi ngantuk berat. Mau ngetik, tapi batrai laptop kosong. Batrai HP pun bentar lagi nyusul lowbat nih! Grrrr!
“Ya Allah…ngantukkkk!” kataku sambil menyandar di bahu kak Dhini dengan santainya.
Pukul 15.30wib pak Danur baru tiba dan langsung masuk kelas. Kami langsung mengejarnya ke dalam kelas selagi mahasiswanya sedang menyiapkan infocus dan layar proyektor. Ku suruh kak Dini lebih dulu maju di depanku. Aku ingin ‘mempelajari’ sesuatu dari pak Danur.
“Ini apa?” tanyanya.
“Lembar pengesahan untuk SKRIPSI Pak,” jawab kak Dini.
“Mana SKRIPSInya?” tanya pak Danur. Lalu kak Dini menyodorkan jilidan tebal skripsinya.
DEGGG! Aku menelan ludah. Perlahan mundur dari kerumunan, lalu berlari menuju parkiran. Yup, aku nggak bawa print out skripsiku. Karena, ke empat dosen lainnya nggak ada satupun yang menanyakannya ketika aku meminta tandatangan. Makanya, kali ini aku tak membawanya. Lagian, malam ini aku ingin nginap di asramanya Lia. tasku sudah cukup berat. Bagaimana kalau ditambah dengan skripsi lagi?

“Bu… ngeprint berapa per lembar?” tanyaku, sementara beberapa lembar skripsiku sudah mulai diprint.
“Rp 500 Dek per lembar.”
Aku baru sadar bahwa aku sedang ngeprint bukan di tempat langgananku yang hanya Rp 150 per lembar dengan print laser.
“Bu, buu..tolong di stop aja printernya!” kataku tiba-tiba.
Aku segera membayar 4 lembar kertas yang sudah terlanjur ter-print itu. Ah, total Skripsiku ada 62 lembar. Itu berarti aku harus mengeluarkan uang RP 31.000 untuk ini semua. Sementara, aku khawatir bahwa pak Danur sudah masuk kelas dan tidak lagi bisa ditemui. Akhirnya ku putuskan untuk kembali ke kelas untuk memastikan. Kalaupun masih bisa, aku akan jujur bahwa skripsiku ketinggalan.
“Ah…benar ternyata! Udah tutup!”
Terimakasih ya Allah atas pertimbangan yang matang barusan. Sehingga aku tidak perlu kehilangan 2 hal; pak Danur dan uang. Aku langsung ke asrama MAN 2 MODEL. Bertemu Lia.

***

“…dan, pelajarannya adalah; Lebih baik BERLEBIH daripada KEKURANGAN, Cin. Karena kalau kelebihan, masih bisa kita sisihkan. Tapi, kalau kekurangan? Ke mana hendak kita cari tambahannya? Coba aja kalau tadi aku mau sedikit bersusah-susah diri membawa SKRIPSI itu..” kenangku.
“Ah, benar sekali Ciin. Cemungud yaa!”
Malam ini, setelah melewati banyak perbincangan dan diskusi panjang dengan Lia, aku menyimpulkan 1 hal; Sebaiknya aku menulis ketika aku sedang BAHAGIA, jangan ketika sedih atau sedang berada di tengah-tengah konflik. Karena kebencian itu akan tertulis dengan jelas di dalam tulisanku. Dan, itu sanga tidak enak untuk dikenang, apalagi ketika hatiku sudah kembali bahagia. Ternyata, aku lebih suka memelihara tulisan-tulisan yang mengandung pelajaran daripada yang mengandung kebencian; karena selain akan menyakiti perasaan orang lain, juga akan menyakiti diriku sendiri. Ajari aku untuk lebih hati-hati dalam menulis ya Allah...

*Tulisan ini diselesaikan pada hari Jumat, 11 Februari 2016 pukul 21.35wib

Tidak ada komentar: