JIka suatu saat nanti kamu
mendengar orang lain membicarakan hal yang tidak baik tentang sahabatmu, ada
baiknya beritahukan itu kepadanya (tanpa menyebutkan nama si pembicara).
Tujuannya supaya omongan tidak baik tadi bisa dijadikan PERTIMBANGAN oleh sahabatmu
untuk memperbaiki dirinya. Dan… berterimakasihlah jika kamu memiliki sahabat
seperti itu; Seseorang yang GEMAR sekali mengingatkanmu ketika KELIRU. Sebab ia
tak rela jika dirimu terus menerus berada di jalan yang salah. Sebab ia
menyayangimu, maka itu ia selalu menasehatimu. Terimakasih untuk setiap orang
yang sudah berani JUJUR kepadaku. kejujuran kalian tak ternilai di mataku.
Lebih baik menyampaikan meskipun itu pahit, daripada DIAM tapi tak memperbaiki
apapun…
*Sebuah pemberitahuan untuk
sahabat – Metamor(Prosa)
***
Aku meninggalkan kosan Fani
sekitar pukul 08.30wib. Terlupa bahwa hari ini ada janji pukul 08.00wib dengan
misna. Tadi pun aku nggak akan terbangun kalau nggak dimiscall olehnya. Huahhhh.
Tentu saja ini karena aku semalaman bergadang sejak jam 1 dini hari dan baru
kembali tidur setelah sholat Subuh. Segera ku lajukan motorku menuju kosan. Aku
bersiap-siap secepat kilat.
Aku
pindah ke samping perpus UR ya Saa. Sekaligus sarapan. Nyantai aja..
SMS Misna barusan cukup
melegakanku. Aku ingat, semalam ketika membuka FB yang sudah semingguan nggak
ku buka, ada inbox dari Misa. Ia ingin membeli buku Tentang Januariku. Ah,
surprise macam apa ini ya Allah?
Kak? Sarapan yuk? Jam 10. Di tempat
biasa.
Kali ini giliran Yana pula
mengSMSku. Aku langsung menyanggupinya karena aku fikir, obrolan dengan Misna
tidak akan lama. Aku hanya ingin mengkopi file Pembangun Desa dan barangkali
ada sedikit hal yang ingin kami diskusikan nanti. Lagipula ini baru pukul
09.00wib.
***
“Maap Misnaaa. Kalau nggak Misna
miscall tadi, mungkin aku belum bangun tuh!”
“Tidur lagi setelah Solat Subuh
atau kebablasan tadi?” tanya Mizna.
“Tidur lagi setelah Subuh, hehe.”
Ia menyodorkan flashdisknya
kepadaku dan mulailah aku mentransfer file darinya yang lumayan banyak itu.
Misna ini luar biasa, ia terlihat lebih antusias dalam pengabdian ini
dibandingkan aku. Selain sudah banyak membaca tentang pembangunan desa, ia juga
cukup tahu tentang desa pengabdian kami nanti. Karena kebetulan, tempat KKN-nya
kemarin pun tak jauh dari desa itu. Alhamdulillah, feels so luck to have pair like him deh pokoknyaaa!
Kak,
Na udah selesai sarapan. Ketemu di mana kita?
Ah, lagi-lagi aku mengabaikan
orang lain. Aku selalu tidak tepat waktu dan tidak tepat janji. Kasihan Yana,
sudah berulang kali seperti ini. Lain kali, aku harus tegas berkata tidak
kepada tawaran janji jika aku tidak yakin bisa menepatinya!
Kita
langsung ketemu di OE aja ya Dek. Kakak ke sana…
Aku berpamitan kepada Misna.
***
“Heyyy..wanita berkaca mataaa!”
teriakku kepada Yana yang duduk sendirian di ujung koridor.
Yana berlari-lari kecil, mendekat
ke arahku.
“Kak, Na cocok nggak pakai kaca
mata kayak gini?”
“Cocok-cocok aja kok Dek. Cantik
malah. Kayak orang pintar. Eh, berarti Adek paranormal donk? hahaa.”
Kami duduk di dalam ruang serba
guna FKIP untuk melihat lomba KTI Ekonomi. Yana berniat untuk bertemu Romi hari
ini. Tapi, setelah ku hubungi, ternyata Romi sedang nggak enak badan hari ini
dan nggak ke kampus.
“Emangnya Adek ada urusan apa
dengan Romi?” tanyaku.
“Na mau minta tolong sebarkan
informasi ini Kak,” kata Yana sambil menyodorkan selebaran Training untuk Guru kepadaku.
“Biar Kakak bantu ya nyebarinnya.
Sini Kakak fotoinn!”
“Makasih ya Kak.”
Kami tak betah berlama-lama duduk
di dalam, karena bosan. Akhirnya aku mengajak Yana mencari photo boot OE.
Alhamdulillah ternyata ada. Aku minta difotoin dengan memgang berbagai kertas
ungkapan; Sini aku bahagiain! Siap dilamar!
Lelah disiksa Rindu. Hehe, rada baper gitu yaa?.
“Eh, itu Noviiii!” kataku sambil
menunjuk cewek berjilbab pink yang sedang menikmati sate padangnya di salah
satu stand.
Aku langsung menghampirinya. Juga
berkenalan dengan dek Vita, sekretaris KOMINFO-nya.
“..Doain Novi bisa ujian Seminar Matakuliah
semester ini ya Cekk.”
“Aamiinn ya Allah. LKTI untuk
MAWAPRES gimana Cek?”
“Huhuu..belum Novi apa-apain lagi
Cekkk. Novi ni harus dikasih deadline Cek, kalau nggak, ntar ngelantur teruss
haaa.”
“Baiklah, nanti kita tentukan
lagi waktunya kapan Kakak ‘hajar’ KTI Cek itu.”
“Cek sama siapa ke sini tadi?”
“Sama Yana. Loh! Yana manaaaa?”
aku baru sadar kalau Yana nggak ada di sebelahku.
Ku cek HP dan ternyata Yana SMS; Kak, Na buru-buru ke Sudirman, ada urusan.
Na duluan ya Kak..
“Udah menghilang aja dia bah!!!”
celetukku.
“Cek… judul Seminar Mata Kuliah
yang kemarin Novi ajuin itu ternyata udah ada yang pernah ngajuin juga. Jadi,
Novi harus cari judul baru. Hhuuhu..bingung haaa.”
“Emmm…Cek, kemudahan Kakak
kemarin dalam ngerjakan SKRIPSI tu benar-benar pertolongan Allah. Setiap kali
ada yang nanya; ‘Apa kendalanya? Kok belum juga ujian Proposal?’, Kakka nggak
tahu mau jawab apa. Karena memang nggak ada kendala apapun kecuali nggak ada
jadwal ujian karena asap kemarin. Dan, itulah yang terjadi..semuanya secepat
itu. Itupun udah termasuk sama keluyuran ke Kampar, udah males-malesan, udah
nunda-nundanya juga. Cek tahu apa rahasianya?” aku membuat Novi penasaran. “Karena
selama bulan Januari-Desember itu Kakak selalu ‘Menabung Doa’. Setiap Kakak
bersedekah dan memudahkan urusan orang lain, Kakak selalu berdoa; ‘Ya Allah,
atas kebaikan yang ku lakukan ini, mohon mudahkanlah urusan SKRIPSIku’, doa itu
selalu Kakak ulang-ulang. Dan 2 bulan kemarin itu ya masanya menuai hasil doa
tadi lah Cek. Jangan putus berdoa ya Cek! Cemunguddd.”
“Sihiyyyyy…Keyen dank!”
“Sejatinya, kita nggak pernah
tahu Dek doa kita yang mana yang akan dikabulkan oleh Allah. Maka, jangan putus
menanam kebaikan dan menabung doa pokoknya!” lanjutku. “Oh yaa.. blogmu kok
nggak nambah-nambah tuh isinya?” tanyaku.
“Hemmmm…tulah Cekkk. Kemarin
padahal Novi dah niat kali mau nulisin tentang Sepak-Terjang waktu Olimpiade
Fisika, tapi udah 7 halaman Novi tulisin, kok nggak selesai-selesai juga yaa?
Akhirnya Novi berhenti karena udah kecapean, sementara yang pengen ditulisin
masih banyak banget.”
“Lah? Lanjutinlah Dekkk. Sampai
benar-benar tuntas. Kakak aja, kalau nulis diary hari-hari biasa, ketika nggak
ada acara atau lomba, bisa sampai 13 halaman bahkan 19 halaman loh! Itu punya
Cek masih sedikit bahkan menurut Kakak untuk ukuran suatu event.”
“Ohhh gituuu ya Cekkk.”
“Kakak spesifiknya nulis apa sih
Kak?” tanya dek Vita.
“Semuanya ditulis sama Kakak ni
Dekk!” sahut Novi. “Bahkan, obrolan kita barusan ini bisa ditulisnya nanti
tuuu!”
“Ohhh…berarti diary gitu ya Kak..”
“Yuhuuu Dekkk.”
Setelah dari sini, aku menemani
Novi ke Puskom untuk meminta data mahasiswa FKIP. Ada sebuah poster yang sangat
menarik dan mencuri perhatianku di sini… Awali langkahmu dengan Mengajar (Ir.
Soekarno). Karena staf Puskom ini meminta Novi membuat tabel di
belakang surat permohonannya, akhirnya Novi terpaksa mengundur urusan ini
sampai besok. Sudah kami usahakan untuk segera ngeprint, tapi terlambat, puskom
sudah tutup ketika kami kembali. Ah, birokrasiiii….!
***
Pukul 14.00wib aku ke Gobah untuk
menemui pak Danur. Tapi yang ditunggu tak kunjung muncul. Mulanya hanya 3 orang
yang menunggunya, sekarang sudah 8 orang. Termasuk aku. Kalau sudah sesuntuk
ini dalam menunggu, biasanya aku jadi ngantuk berat. Mau ngetik, tapi batrai
laptop kosong. Batrai HP pun bentar lagi nyusul lowbat nih! Grrrr!
“Ya Allah…ngantukkkk!” kataku
sambil menyandar di bahu kak Dhini dengan santainya.
Pukul 15.30wib pak Danur baru
tiba dan langsung masuk kelas. Kami langsung mengejarnya ke dalam kelas selagi
mahasiswanya sedang menyiapkan infocus dan layar proyektor. Ku suruh kak Dini
lebih dulu maju di depanku. Aku ingin ‘mempelajari’ sesuatu dari pak Danur.
“Ini apa?” tanyanya.
“Lembar pengesahan untuk SKRIPSI
Pak,” jawab kak Dini.
“Mana SKRIPSInya?” tanya pak
Danur. Lalu kak Dini menyodorkan jilidan tebal skripsinya.
DEGGG! Aku menelan ludah. Perlahan
mundur dari kerumunan, lalu berlari menuju parkiran. Yup, aku nggak bawa print
out skripsiku. Karena, ke empat dosen lainnya nggak ada satupun yang
menanyakannya ketika aku meminta tandatangan. Makanya, kali ini aku tak
membawanya. Lagian, malam ini aku ingin nginap di asramanya Lia. tasku sudah
cukup berat. Bagaimana kalau ditambah dengan skripsi lagi?
“Bu… ngeprint berapa per lembar?”
tanyaku, sementara beberapa lembar skripsiku sudah mulai diprint.
“Rp 500 Dek per lembar.”
Aku baru sadar bahwa aku sedang
ngeprint bukan di tempat langgananku yang hanya Rp 150 per lembar dengan print
laser.
“Bu, buu..tolong di stop aja
printernya!” kataku tiba-tiba.
Aku segera membayar 4 lembar
kertas yang sudah terlanjur ter-print itu. Ah, total Skripsiku ada 62 lembar. Itu
berarti aku harus mengeluarkan uang RP 31.000 untuk ini semua. Sementara, aku
khawatir bahwa pak Danur sudah masuk kelas dan tidak lagi bisa ditemui.
Akhirnya ku putuskan untuk kembali ke kelas untuk memastikan. Kalaupun masih
bisa, aku akan jujur bahwa skripsiku ketinggalan.
“Ah…benar ternyata! Udah tutup!”
Terimakasih ya Allah atas
pertimbangan yang matang barusan. Sehingga aku tidak perlu kehilangan 2 hal;
pak Danur dan uang. Aku langsung ke asrama MAN 2 MODEL. Bertemu Lia.
***
“…dan, pelajarannya adalah; Lebih baik BERLEBIH daripada
KEKURANGAN, Cin. Karena kalau kelebihan, masih bisa kita sisihkan. Tapi, kalau
kekurangan? Ke mana hendak kita cari tambahannya? Coba aja kalau tadi aku mau sedikit bersusah-susah diri membawa SKRIPSI itu..” kenangku.
“Ah, benar sekali Ciin. Cemungud yaa!”
Malam ini, setelah melewati
banyak perbincangan dan diskusi panjang dengan Lia, aku menyimpulkan 1 hal; Sebaiknya
aku menulis ketika aku sedang BAHAGIA, jangan ketika sedih atau sedang berada
di tengah-tengah konflik. Karena kebencian
itu akan tertulis dengan jelas di dalam tulisanku. Dan, itu sanga tidak
enak untuk dikenang, apalagi ketika hatiku sudah kembali bahagia. Ternyata, aku
lebih suka memelihara tulisan-tulisan yang mengandung
pelajaran daripada yang mengandung kebencian; karena selain akan menyakiti
perasaan orang lain, juga akan menyakiti diriku sendiri. Ajari aku untuk lebih hati-hati dalam menulis ya Allah...
*Tulisan ini diselesaikan pada hari Jumat, 11 Februari 2016 pukul 21.35wib


Tidak ada komentar:
Posting Komentar