Minggu, 13 Maret 2016

AT 3; Fokus pada 1 Passion dan jadilah Master



Aku bertanya kepada seorang sahabat; “Ada yang mengatakan bahwa ‘Jika benar seseorang menyukai kita, ia pasti akan selalu cepat membalas pesan kita, bagaimana pun caranya. Ia tidak pernah ingin membuat kita menunggu lama.’ Apakah ukuran ini berlaku untuk semua orang ya?” tanyaku. Dia menjawab; “Menurutku tidak. Karena, aku adalah tipe orang yang sering secara sengaja menunda membalas pesan seseorang, termasuk kepada seseorang yang ku sukai. Tujuannya yang pertama, aku tidak ingin membuatnya terlalu senang hati dan akhirnya selalu berharap pesannya cepat dibalas dan yang kedua, aku tidak ingin menajarkannya BERHARAP kepadaku.” Aku membathin; Bagaimana bisa kau miliki jawaban seindah itu wahai sahabat?

*Yang menyukaimu, tak selalu tepat waktu – Metamor(Prosa)
***

Aku tiba di CFD jalan Diponegoro pada pukul 07.30wib. Setelah memarkirkan motor, aku langsung berjalan menuju jalan Gajah Mada. Sesampainya di sini, aku langsung memasang selempang dan bergabung bersama teman-teman Duta Lingkungan. Kami berdiri berjejer di samping panggung, menghadap tenda para tamu undangan.
“Dek? Kita ngapain berdiri di sini?” tanyaku pada dek Osborn.
“Kita ini jadi Pagar Ayu Kak ceritanya, hehee,” jawabnya.
“Kakak kok beda sendiri?” tanya yang lain.
“Iyaa..soalnya setelah ini Kakak mau ngikutin acara training gitu makanya pakai blazer begini Dekkk.”
Semua orang yang terlibat dalam acara hari ini menggunakan kaos biru, termasuk pak Wali kota Pekanbaru, pak Firdaus, yang sedang memberikan kata sambutan. Pada backdrop panggung, aku membaca tulisan ‘Ayo Wujudkan Indonesia Bebas sampah 2020 Melalui Kebijakan Plastik Berbayar dan Bank Sampah’. Usai pak Wali Kota meresmikan acara ini, kami menyertainya mengunjungi satu per satu stand yang ada dalam acara ini. Ada stand Dalang Collection (salah satu Bank Sampah sukses di Pekanbaru), Perpustakaan Berjalan dan stand Alfamart.

“Tolong ini disebarkan yaa!” pinta kak Tami kepada kami sembari memberikan selebaran berisi infografi tentang penghematan kantong plastik.
Kami membagikan selebaran itu kepada pengunjung CFD yang berlalu lalang sambil menjelaskan kepada mereka untuk turut aktif dalam menghemat penggunaan kantong plastik.
“Gimana menurut Adek tentang kebijakan plastik berbayar ini?” tanyaku pada dek Cirip.
“Aku setuju Kak. Karena tujuan pemerintah dengan program itu kan supaya masyarakat bisa mengurangi penggunaan kantong plastik dan lebih rajin bawa kantong plastik sendiri dari rumah. Nah, kemarin aku coba memahamkan teman-teman aku Kak dan sampai kami beradu mulut, ujung-ujungnya mereka tetap nggak bisa terbuka fikirannya. Pas mereka sholat, aku nangis Kak. Karena temanku sendiri aja sulit banget ternyata memahamkannyaa.”
“Iya yaa Dek, apalagi masyarakat luas?” lanjutku.

Kak Tami mengusulkanku untuk membeli tas daur ulang sebagai hadiah untuk bang Wira. Aku langsung menyetujuinya. Selain unik, juga bisa mengingatkan bang Wira untuk pakai tas ini aja kalau belanja buku di Gramedia, wkwkwk.
“Kak, boleh minta waktunya untuk wawancara sebentar?” tanya seorang cewek kepadaku.
“Boleh, sini-sini kita menepi!” ajakku sambil duduk di pinggir jalan karena aku pun mau makan kue.
“Kak, menurut Kakak sebagai Duta Bank Sampah, bagaimana acara hari ini dan apa harapan Kakak kedepannya untuk Indonesia bebas sampah 2020?” mulailah ia membuka pertanyaan.
Tak terlalu banyak, hanya 3 pertanyaan saja ternyata. Sebelum ia pergi, aku mengajaknya berfoto dan bertukar nomor HP. Adek ini namanya Nely dan ia adalah reporter di media online; Antara. Sekarang sudah pukul 09.00wib dan acara sudah selesai. Aku pun langsung cusss menuju Akasia.

***

Aku mengkode mbak Win supaya menyimpan hadiah untuk bang Wira ini di bawah meja registrasi. Untunya mbak Win bisa diajak kerjasama pemirsaaa. Di dalam ruangan, teman-teman duduk berkelompok-kelompok dan salah satu dari mereka presentasi di depan yang lainnya. Aku, Muiz dan kak Tami otomatis menjadi 1 kelompok. Sebelum kami mulai presentasi, bang Wira menjelaskan tentang trik opening yang dahsyat..
“Ini disebut Elevator Pitch. Urutannya adalah…perkenalkan nama anda siapa, sebutkan personal brand anda dan hubungkan itu dengan masalah orang lain dan tawarkan solusi. Barulah masuk ke dalam inti presentasi.”
“Bang? Saya nggak punya prestasi, gimana tu Bang?” tanya Muiz.
“Muiz bisa apa? MIsalnya, kayak si Riski tadi contohnya, dia merasa nggak bisa apa-apa, tapi teman-temannya selalu curhat apapun ke dia. Maka Abang sarankan dia tadi memperkenalkan dirinya begini; ‘Hallo, saya Riski. Saya adalah seorang pendengar yang baik dan telah membantu menyelesaikan permasalahan teman-teman saya dengan nasehat-nasehat bijak yang saya sarankan kepada mereka.’. Nah, jadi!”
“Ohhh..Oke Bang,” kata Muiz.
 
“Ada 2 hal yang membuat orang tertarik untuk mendengarkan; Harapan atau Ancaman.”
Muiz yang pertama kali tampil, kak Tami barulah aku. Dan setelah kami semua selesai, bang Wira memberikan sedikit arahan sebelum kami satu per satu dipanggil untuk presentasi di depan.
“Ada yang ingin tampil pertama?” pancing bang Wira.
Lalu, majulah bang Abdul ke depan dan membahas tentang Strategi menghadapi Ujian Nasional. Setelah itu bang Wira memanggil Bung Misnan yang membahas tentang Menjadi Pribadi yang Sukses. Selanjutnya bang Afro yang membahas Studen Motivation, kak Vivien membahas tentang Cara Mudah Menanam Bunga Mawar karena ia memang sedang sangat menggilai bunga Mawar, bang Adi membasa tentang Kecerdasan Manusia dan terakhir, Yoga membahas tentang Leadership dan Teamwork. Setelah 6 orang tampil, bang Wira mengoreksi satu per satu penampilan mereka. Dan aku menuliskan semuanya di atas kertas. Suatu hari nanti, aku pun pasti akan membutuhkan nasehat-nasehat itu.
“Kita ISHOMA dulu sampai pukul 13.30wib. Sampai jumpa!” tutup bang Wira.

***

Makan siang kali ini, lagi-lagi aku duduk di samping kak Vivien dan di samping kiriku ada bang Afro. Yang pertama kali dia komentari dariku adalah; “Dah lama nggak jumpa, kok Elis makin makmur aja ya nampaknya? Haha.” Komentar orang pada umumnya ya memang selalu begitu pemirsaaa.
“Kak, ngeMC tu biasanya berapa hari sebelum hari H dikasih tahu rundown acaranya?” tanyaku.
Ternyata pertanyaanku itu membuat kak Vivien terpancing untuk menceritakan banyak hal kepadaku. Aku jadi belajar darinya.
“…enaknya kalau jadi MC itu kita jadi banyak tahu Liss. Banyak teman dan kenalan juga tentunya. Kalau acara Grand Opening gitu sih biasanya sejam sebelum acara aja Kakak dikasih tahu rundownnya, karena acara pembukaan kan gitu-gitu aja urutannya. Paling-paling yang Kakka butuhkan itu adalah orang-orang penting yang harus disapa, sponsornya, dan orang-orang kehormatan.”

“Oooo…gituuu. Kakak biasanya make up sendiri atau dimake up-in?”
“Make up sendiri aja Lis. Tapi, sebenarnya Kakak lebih nyamannya ya yang kayak sekarang; tanpa make up dan natural gini.  Kalau nggak karena tuntutan panggung, Kakak males pake make up tuu,” jelasnya, tanpa sedikitpun ku dapati kepalsuan dari matanya.
Bang Afro memanggil bung Misnan duduk di sebelahnya. Mungkin dia kesepian pemirsaa, karena kami cuekin, hehe. Ketika kami mau sholat Zuhur, bang Adi memberitahuku bahwa rencana untuk surprise untuk bang Wira sudah fix, tinggal menunggu aba-aba saja nanti setelah acara berakhir.
“Nanti kalau sempat, Kakak balik lagi ke sini deh untuk ikutan!” kata kak Vivien yang sebentar lagi harus ke Mall Ciputra untuk menjadi juri fashion show anak-anak di sana.

***

“Samuel mau memberikan mic-nya kepada siapa? Silahkah pilih saja! Dialah yang akan maju selanjutnya,” jelas bang Wira.
Dan… mic itupun akhirnya ditakdirkan untukku. Yup, sekarang giliran aku yang maju! Aku akan mempresentasikan tentang ‘How to be MAWAPRES’. Alhamdulillah aku bisa tampil dengan tenang, layaknya benar-benar sedang mensosialisasikan tentang MAWAPRES kepada adik-adik di kampus. Hehe. tapi, sayangnya waktunya nggak cukup, padahal tinggal dikiiiitt lagi.
“Sampai jumpa di MAWAPRES 2016,” tutupku secara paksa, hehe.
Ketika aku kembali ke tempat duduk…
“Lah, Eliss? Aku lupa memfotokanmuuuu. Huhuu..maaff,” kata kak Tami.
“Yahhh…kok nggak difotoin sih Kak? Kan udah berkali-kali tadi Elis minta tolongnyaa,” keluhku.
“Aku kan tadi ngambil air minum dulu karena tenggorokanku haus, nah waktu kembali lagi ke sini, aku lupa HPmu ini untuk apa di tanganku. Hehe. lagipula aku juga terpesona sama penampilanmu, makananya aku linglung, hahaa,” jelas kak
Tami.
“Hemmm..ya udah deh nanti aja Elis berpose lagi, ehhe.”

Setelah aku, giliran pak Irwan yang maju. Ia membahas tentang HypnoTeaching. Kemudian, Darma membahas tentang Dream, Muiz membahas tentang Membentuk Habit  dan Rika membahas tentang Singa vs Tikus. Ada yang menarik dari Rika.  Barulah bang Wira mengomentari satu per satu yang tampil. Dia bercerita dengan gaya mendongeng. Dan ada yang menarik pula dari ceritanya; Singa mati karena rasa takutnya sendiri. Padahal, Tikus tidak melakukan apa-apa selain mengancam akan membunuhnya. Ah, ternyata, ketakutan membuat kita kehilangan harapan dan ketiadaan harapan membuat hidup kita pendek.
 “….Presentasi yang bagus itu bukan hanya berisi pencerahan, tetapi juga berwujud TINDAKAN. Kurangilah berkata; ‘Nah! Oke! Eeee…’. Sebenarnya, tingkat kecerdasan seseorang itu terlihat ketika ia bisa MENYEDERHANAKAN sesuatu yang rumit dan bisa membuat orang lain faham. Menyerdahanakan itu berbeda ya dengan menggampang-gampangkan,” jelas bang Wira. “Dan usahakanlah mendesign slide itu sejak jauh-jauh hari sebelum tampil. Jangan mendadak. Apalagi baru tadi pagi dibuatnya, ah itu lebih mustahil lagi akan maksimal!”

Hiksss.. andai Abang tahu jam berapa Elis tadi bikin slidenya, pasti lebih nggak masuk akal lagi Bang, hehe. Selanjutnya, yang tampil adalah kak Tami. Nah, kak Tami ini emang udah cinta banget sama green life style pemirsaaa. Kali ini dia akan berbicara tentang ‘Diet Kantong Plastik’. Kamera sudah standby di tanganku untuk memfotokannya. *Hemmm…fotografernya malah yang sama sekali belum difotoin nih sejak tadi!
“…Sampah plastik yang kita buang selama ini bisa jadi dimakan oleh binatang. Coba perhatikan gambar burung yang mati itu! Ketika dilihat isi perutnya, ternyata ada benda-benda itu; Plastik, mancis, punting rokok. Karena, dikiranya adalah makanan juga. Dan, laut Indonesia adalah yang terbanyak berisi sampah plastiknya setelah Cina. Bisa jadi juga, ikan yang selama ini kita makan pun sudah memakan plastik. Jadi memang, plastik ini sangat berbahaya dan harus kita musuhi sebenarnya! Ketika kita buang ke selokan atau ke tanah, ia baru bisa terurai di atas 100 tahun. Sedangkan kalau kita bakar, akan menimbulkan gas pemicu kanker. Dibakar atau dibuang, ternyata 2 2nya berbahaya…” jelas kak Tami.

Aku miris kali melihat gambar-gambar binatang yang memakan sampah plastik itu. Geram sekali rasanya! Sedih!!! Mendadak, aku pengen jadi aktivitis lingkungan aja untuk menyelamatkan bumi. Setelah kak Tami, berikutnya yang tampil adalah pak Hendri, membahas tentang ‘Menjadi Sukses’. Setelah pak Hendri, kemudian bu Anti. Bu Anti ini juga unik. Beliau awalnya grogi dan kehilangan kata-kata, tapi di pertengahan akhirnya lancar juga. Ia adalah womanpreneur. Semua masalah dalam keluarganya disulapnya menjadi uang.
“Ketika anak saya sudah 4 dan saya mulai kewalahan mengurusnya, akhirnya saya buka tempat penitipan anak. Selain supaya anak-anak saya bisa main di rumah, anak-anak orang lain juga bisa menjadi teman mereka dan saya bisa sambil mengawasi juga. Saya juga mendirikan TK dan suami saya yang menjadi ketua yayasannya. Mulailah saya berfikir untuk mempunyai pembantu sekaligus menjadi penyalur pembantu. Selanjutnya, saya membuka laundry supaya urusan cuci-mencuci dan menyetrika selesai. Begitulah intinya Buk, Pak, apapun masalah yang sedang kita hadapi dalam keluarga, jangan melihat itu sebagai masalah, tapi lihatlah sebagai peluang.”

Kami sampai tercengang dibuatnya.  Nggak nyangka, bu Anti yang pembawaannya tenang seperti itu ternyata hyperaktif juga dalam berbisnis. Keyeen banget ah! Selain bu Anti, ada lagi nih yang unik; Riski. Dia adalah penampil terakhir. Seperi bu Anti, Riski pun awalnya grogi  dan nada bicaranya tak teratur. Tapi aku mulai terkesima ketika ia masuk ke dalam materinya; ‘SOMBONG’. Sejak judul itu dibacakannya, kami sudah mulai ‘tersentil’ karena kesombongan itu hampir pernah menjangkiti hati setiap orang. Dan puncaknya adalah ketika Riski menampilkan video tentang benda-benda di tata surya mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar. Dan ternyata bumi yang kita pijak ini tidak ada apa-apanya. Ah, apalagi diri kita ini? hiksss.
“Dekkkk….kamu kereeeen banget loooh!” kataku.
“Hhee…nggak nyangka bisa kayak gitu Kak, hehe.”
“…mimpi yang dituliskan itu ternyata baru 20% tingkat ketercapaiannya, yang lebih tinggi di atas itu adalah MENDEKLARASIKAN yaitu 50%. Tapi, ada lagi yang lebih ampuh dari itu, yaitu menyatakan kepada publik kapan pencapaiannya dan ada RASA MALU yang harus kita tanggung jika itu tidak terlaksana. Yang semacam ini tingkat ketercapaiannya hingga 80%,” jelas bang Wira.

***

Ketika coffe break menjelang sholat Ashar, bang Wira ikut-ikutan duduk di antara mbak Win dan aku. Curhatanku kepada mbak Win terpaksa dihentikan dulu. Bahaya! Bang Wira sedang rajin mengejek-ngejek aku akhir-akhir ini dengan nama seseorang. Hhuft! Dan setelah bang Wira solat, barulah aku melanjutlah lagi ceritaku…
“…berarti dia memang nggak bisa diBBM Lisss karena nggak suka BBMan. Ya kalau gitu harus ketemu. Sampai kapan Elis akan bersabar menunggunya?”
“Emmm…Elis nggak merasa sedang menunggu dia sih Mbak. Karena Elis kan belum pengen nikah nih, ya ini hanya ‘sambilan’ menilai seseorang aja sih, hehe. Toh, kalau pun ternyata dia nggak menyukai Elis, ya nggak jadi soal.”
“Sekarang pertanyaan Mbak Win… Berapa persen rasa suka Elis ke dia kira-kira?”
“Emmm… Menurut Elis, Elis hanya berkewajiban meyakinkan diri Elis sebanyak 50% dan 50%-nya lagi tergantung dia. Kalau ternyata dia juga memilih Elis, kan berarti jadi 100% tuh Mbak. Kalau ternyata dia nggak memilih Elis, ya otomatis yang 50% tadi akan menyusut. Gitu aja sih Mbak prinsipnya! Elis nggak pernah terlalu menyukai seseorang, karena takut kecewa. Kita perempuan ini kan pada akhirnya ingin ‘dipilih’ kan Mbakk. Bukan kita yang bersikeras memilih.”

“Oh okeee..Mbak Wien faham.”
“Oh ya Mbak, beneran ada yang sedang cari calon istri? Memangnya menurut Mbak, ada yang cocok sama Elis?” tanyaku.
“Nah, ini Mbak Wien sedang mendiskusikan dengan Abang. Ada beberapa orang sih yang pengen mbak win ‘bantu’ juga.”
Lalu aku menjelaskan kepada mbak Wien bahwa aku menyukai perkenalan secara natural dan tidak sengaja. Tapi, aku pengen, akulah yang pertama kali diberitahu oleh mbak Wien siapa orangnya dan aku juga yang pertama kali menilai orang tersebut. Nah, ketika  aku sudah yakin, barulah mbak Win men-setting keadaan seolah-olah mbak merekomendasikanku kepada orang tersebut. 

“Jadi, prinsipnya kayak Toko Online Mbak; Ketika nggak jadi beli, ya nggak masalah. Karena kita nggak pernah bertemu dengan penjualnya dan diapun nggak kenal dengan dia. Bukan kayak toko Konvensional; Setelah coba-coba barangnya, tanya ini-itu, tawar-tawar harganya, kita kan jadi nggak enak hati kalau ternyata nggak jadi beli. Makanya, Elis kurang percaya dengan cara bertaaruf yang mempertemukan laki-laki dan perempuan dalam forum gitu. Kaku dan nggak leluasa aja jadinya. Elis pengennya kayak toko online tadi; menyelidiki dari jauh tanpa dia tahu sedang Elis selidiki. Dan ketika ternyata Elis nggak cocok, ya dia nggak akan tersakiti karena dia nggak tahu apa-apa. sihiyyy...Itu filosofi toko online nggak sengaja banget loh Mbak Elis temuin barusan. Hahha.”
“Hhhaa…oke deh Elis, Mbak Win ngertiii sekarang.”

***

Di penghujung pertemuan, bang Wira menjelaskan tentang The Bussines Model Canvas dengan menggunakan kertas besar yang harus kami isi poin-poinnya, dipandu oleh bang Wira. Yang harus kami isi adalah Customer Segments, Channel, Customer Relationship, Revenue Stream, Cost Structure, Value Proposition, Key Activities, Key Resources dan Key Partner.
Aku mengangkat tangan; “Bang, mau tanya! Kita lihat Andrea Hirata atau Habiburrahman, mereka adalah orang-orang yang terkenal setelah menulis buku. Dan awalnya, mereka tidak pernah merumuskan personal branding mereka tapi akhirnya dunia mengenal mereka seperti yang sekarang ini. Gimana tu Bang? Emmm…soalnya Elis bingung merumuskan yang kayak giniii…hikss.”
Tapi, aku kurang puas dengan jawaban bang Wira. Karena maksudku yang sebenarnya adalah; “Kunci apa yang harus kita miliki supaya kita bisa seperti Andrea Hirata tadi? Dia tidak pernah merumuskan dirinya menjadi penulis, tapi karena ketekunan dan keikhlasannya menulis Laskar Pelangi, akhirnya BOOM, jadilah seperti saat ini.” Hemmm…sepertinya aku harus mencari tahu ke dalam diriku sendiri. Aku jadi mengkhayal jauh dan nggak terasa, beberapa poin masih kosong, belum ku isi.

“Kalau Elis kan udah jelas, passionnya NULIS. Coba spesifikkan lagi, apa yang membuat teman-teman Elis suka membaca blog Elis? Biasanya tulisannya tentang apa? Hubungkan dengan Mesin Kecerdasan Elis. Feeling kan? Orang Feeling itu kata kunci hidupnya adalah CINTA. Nah, jadi deh PENULIS CINTA. Hahaa,” jelas bang Wira.
Aku dan semua orang di dalam ruangan ini pun ikut terbahak.
“Hukum alam yang satu ini akan selalu berlaku; Memberilah dulu, baru dapatkan hasilnya! Bukan meminta terlebih dulu ya.” Lalu bang Wira menjelaskan jatuh-bangunnya dulu membangun relasi sebelum akhirnya ia diundang ke mana-mana seperti saat sekarang ini. “Fokuslah kepada 1 passion dan jadilah MASTERnya!”
Setelah acara ditutup dan diakhiri dengan foto bersama, tiba-tiba bang Adi muncul sambil membawa kue tart dan lilin yang menyala di atasnya. Bang Wira tampak terkejut sesaat sebelum berkata…
“Wahhh..ini siapa sih yang punya ide?”
“Kami semua lah Baaang,” sahutku.

Alhasil, sesi foto-fotonya nambah deh! Heehee. Aku dan Kak Tami memberikan hadiah Tas Daur ulang tadi kepada bang Wira. Sebelum pulang, aku merekam 3 orang untuk dimintai testimoninya atas acara hari ini.
“Kak, Bang… teman-teman… Elis duluan yaaa! Assalamualaikum..”
Aku melaju, memburu senja yang jejak-jejaknya tinggal semburat. Kali ini aku memilih mushola SPBU Panam sebagai tempatku sholat Maghrib. Pengen cari suasana berbeda dan pengen menebarkan jejak-jejak syurga di banyak tempat di bumi ini. Hemmm…aku sempat berkhayal; “Jangan-jangan aku akan ketemu jodohku di sini dengan cara yang unik, hehee.” *Efek kebanyakan nonton film India. Sebelum pulang ke rumah, aku membeli mie goreng Brebes. Sebenarnya, aku lebih ingin membungkusnya pulang. Tapi, karena teringat tentang ‘Diet Kantong Plastik’ yang dijelaskan kak Tami tadi, emmm… aku nurut aja deh! Hehee.
“Ya Allah, aku tahu… mie itu nggak bagus untuk kesehatan. Tapi, aku sedang pengen banget makan mie goreng ini ya Allah. Tolong, bagaimana pun caranya, ubahlah mie ini menjadi makanan yang berkah untuk tubuhku atas KuasaMu. Aamiin,” pintaku sambil menyuap makanan. *Doanya agak maksa ya? haha.

*Tulisan ini diselesaikan pada hari Selasa, 15 Februari 2016, pukul 09.37wib

Tidak ada komentar: