Aku bertanya kepada seorang
sahabat; “Ada yang mengatakan bahwa ‘Jika benar seseorang menyukai kita, ia
pasti akan selalu cepat membalas pesan kita, bagaimana pun caranya. Ia tidak
pernah ingin membuat kita menunggu lama.’ Apakah ukuran ini berlaku untuk semua
orang ya?” tanyaku. Dia menjawab; “Menurutku tidak. Karena, aku adalah tipe
orang yang sering secara sengaja menunda membalas pesan seseorang, termasuk
kepada seseorang yang ku sukai. Tujuannya yang pertama, aku tidak ingin
membuatnya terlalu senang hati dan akhirnya selalu berharap pesannya cepat
dibalas dan yang kedua, aku tidak ingin menajarkannya BERHARAP kepadaku.” Aku
membathin; Bagaimana bisa kau miliki
jawaban seindah itu wahai sahabat?
*Yang menyukaimu, tak selalu
tepat waktu – Metamor(Prosa)
***
Aku tiba di CFD jalan Diponegoro pada pukul 07.30wib.
Setelah memarkirkan motor, aku langsung berjalan menuju jalan Gajah Mada.
Sesampainya di sini, aku langsung memasang selempang dan bergabung bersama
teman-teman Duta Lingkungan. Kami berdiri berjejer di samping panggung,
menghadap tenda para tamu undangan.
“Dek? Kita ngapain berdiri di sini?” tanyaku pada dek
Osborn.
“Kita ini jadi Pagar Ayu Kak ceritanya, hehee,” jawabnya.
“Kakak kok beda sendiri?” tanya yang lain.
“Iyaa..soalnya setelah ini Kakak mau ngikutin acara training
gitu makanya pakai blazer begini Dekkk.”
Semua orang yang terlibat dalam
acara hari ini menggunakan kaos biru, termasuk pak Wali kota Pekanbaru, pak
Firdaus, yang sedang memberikan kata sambutan. Pada backdrop panggung, aku membaca
tulisan ‘Ayo Wujudkan Indonesia Bebas
sampah 2020 Melalui Kebijakan Plastik Berbayar dan Bank Sampah’. Usai pak
Wali Kota meresmikan acara ini, kami menyertainya mengunjungi satu per satu
stand yang ada dalam acara ini. Ada stand Dalang Collection (salah satu Bank
Sampah sukses di Pekanbaru), Perpustakaan Berjalan dan stand Alfamart.
“Tolong ini disebarkan yaa!”
pinta kak Tami kepada kami sembari memberikan selebaran berisi infografi
tentang penghematan kantong plastik.
Kami membagikan selebaran itu kepada
pengunjung CFD yang berlalu lalang sambil menjelaskan kepada mereka untuk turut
aktif dalam menghemat penggunaan kantong plastik.
“Gimana menurut Adek tentang
kebijakan plastik berbayar ini?” tanyaku pada dek Cirip.
“Aku setuju Kak. Karena tujuan
pemerintah dengan program itu kan supaya masyarakat bisa mengurangi penggunaan
kantong plastik dan lebih rajin bawa kantong plastik sendiri dari rumah. Nah,
kemarin aku coba memahamkan teman-teman aku Kak dan sampai kami beradu mulut,
ujung-ujungnya mereka tetap nggak bisa terbuka fikirannya. Pas mereka sholat,
aku nangis Kak. Karena temanku sendiri aja sulit banget ternyata
memahamkannyaa.”
“Iya yaa Dek, apalagi masyarakat
luas?” lanjutku.
Kak Tami mengusulkanku untuk
membeli tas daur ulang sebagai hadiah untuk bang Wira. Aku langsung
menyetujuinya. Selain unik, juga bisa mengingatkan bang Wira untuk pakai tas
ini aja kalau belanja buku di Gramedia, wkwkwk.
“Kak, boleh minta waktunya untuk
wawancara sebentar?” tanya seorang cewek kepadaku.
“Boleh, sini-sini kita menepi!”
ajakku sambil duduk di pinggir jalan karena aku pun mau makan kue.
“Kak, menurut Kakak sebagai Duta
Bank Sampah, bagaimana acara hari ini dan apa harapan Kakak kedepannya untuk
Indonesia bebas sampah 2020?” mulailah ia membuka pertanyaan.
Tak terlalu banyak, hanya 3
pertanyaan saja ternyata. Sebelum ia pergi, aku mengajaknya berfoto dan
bertukar nomor HP. Adek ini namanya Nely dan ia adalah reporter di media
online; Antara. Sekarang sudah pukul 09.00wib dan acara sudah selesai. Aku pun langsung
cusss menuju Akasia.
***
Aku mengkode mbak Win supaya
menyimpan hadiah untuk bang Wira ini di bawah meja registrasi. Untunya mbak Win
bisa diajak kerjasama pemirsaaa. Di dalam ruangan, teman-teman duduk
berkelompok-kelompok dan salah satu dari mereka presentasi di depan yang
lainnya. Aku, Muiz dan kak Tami otomatis menjadi 1 kelompok. Sebelum kami mulai
presentasi, bang Wira menjelaskan tentang trik opening yang dahsyat..
“Ini disebut Elevator Pitch. Urutannya adalah…perkenalkan nama anda siapa,
sebutkan personal brand anda dan
hubungkan itu dengan masalah orang lain dan tawarkan solusi. Barulah masuk ke
dalam inti presentasi.”
“Bang? Saya nggak punya prestasi,
gimana tu Bang?” tanya Muiz.
“Muiz bisa apa? MIsalnya, kayak
si Riski tadi contohnya, dia merasa nggak bisa apa-apa, tapi teman-temannya
selalu curhat apapun ke dia. Maka Abang sarankan dia tadi memperkenalkan
dirinya begini; ‘Hallo, saya Riski. Saya adalah seorang pendengar yang baik dan
telah membantu menyelesaikan permasalahan teman-teman saya dengan
nasehat-nasehat bijak yang saya sarankan kepada mereka.’. Nah, jadi!”
“Ohhh..Oke Bang,” kata Muiz.
“Ada 2 hal yang membuat orang
tertarik untuk mendengarkan; Harapan atau Ancaman.”
Muiz yang pertama kali tampil,
kak Tami barulah aku. Dan setelah kami semua selesai, bang Wira memberikan
sedikit arahan sebelum kami satu per satu dipanggil untuk presentasi di depan.
“Ada yang ingin tampil pertama?”
pancing bang Wira.
Lalu, majulah bang Abdul ke depan
dan membahas tentang Strategi menghadapi
Ujian Nasional. Setelah itu bang Wira memanggil Bung Misnan yang membahas
tentang Menjadi Pribadi yang Sukses.
Selanjutnya bang Afro yang membahas Studen
Motivation, kak Vivien membahas tentang Cara
Mudah Menanam Bunga Mawar karena ia memang sedang sangat menggilai bunga
Mawar, bang Adi membasa tentang Kecerdasan
Manusia dan terakhir, Yoga membahas tentang Leadership dan Teamwork. Setelah 6 orang tampil, bang Wira
mengoreksi satu per satu penampilan mereka. Dan aku menuliskan semuanya di atas
kertas. Suatu hari nanti, aku pun pasti akan membutuhkan nasehat-nasehat itu.
“Kita ISHOMA dulu sampai pukul
13.30wib. Sampai jumpa!” tutup bang Wira.
***
Makan siang kali ini, lagi-lagi
aku duduk di samping kak Vivien dan di samping kiriku ada bang Afro. Yang
pertama kali dia komentari dariku adalah; “Dah lama nggak jumpa, kok Elis makin
makmur aja ya nampaknya? Haha.” Komentar orang pada umumnya ya memang selalu
begitu pemirsaaa.
“Kak, ngeMC tu biasanya berapa
hari sebelum hari H dikasih tahu rundown acaranya?” tanyaku.
Ternyata pertanyaanku itu membuat
kak Vivien terpancing untuk menceritakan banyak hal kepadaku. Aku jadi belajar
darinya.
“…enaknya kalau jadi MC itu kita
jadi banyak tahu Liss. Banyak teman dan kenalan juga tentunya. Kalau acara
Grand Opening gitu sih biasanya sejam sebelum acara aja Kakak dikasih tahu
rundownnya, karena acara pembukaan kan gitu-gitu aja urutannya. Paling-paling
yang Kakka butuhkan itu adalah orang-orang penting yang harus disapa,
sponsornya, dan orang-orang kehormatan.”
“Oooo…gituuu. Kakak biasanya make
up sendiri atau dimake up-in?”
“Make up sendiri aja Lis. Tapi,
sebenarnya Kakak lebih nyamannya ya yang kayak sekarang; tanpa make up dan
natural gini. Kalau nggak karena
tuntutan panggung, Kakak males pake make up tuu,” jelasnya, tanpa sedikitpun ku
dapati kepalsuan dari matanya.
Bang Afro memanggil bung Misnan
duduk di sebelahnya. Mungkin dia kesepian pemirsaa, karena kami cuekin, hehe.
Ketika kami mau sholat Zuhur, bang Adi memberitahuku bahwa rencana untuk
surprise untuk bang Wira sudah fix, tinggal menunggu aba-aba saja nanti setelah
acara berakhir.
“Nanti kalau sempat, Kakak balik
lagi ke sini deh untuk ikutan!” kata kak Vivien yang sebentar lagi harus ke
Mall Ciputra untuk menjadi juri fashion show anak-anak di sana.
***
“Samuel mau memberikan mic-nya
kepada siapa? Silahkah pilih saja! Dialah yang akan maju selanjutnya,” jelas
bang Wira.
Dan… mic itupun akhirnya
ditakdirkan untukku. Yup, sekarang giliran aku yang maju! Aku akan
mempresentasikan tentang ‘How to be MAWAPRES’. Alhamdulillah aku bisa tampil
dengan tenang, layaknya benar-benar sedang mensosialisasikan tentang MAWAPRES
kepada adik-adik di kampus. Hehe. tapi, sayangnya waktunya nggak cukup, padahal
tinggal dikiiiitt lagi.
“Sampai jumpa di MAWAPRES 2016,”
tutupku secara paksa, hehe.
Ketika aku kembali ke tempat
duduk…
“Lah, Eliss? Aku lupa
memfotokanmuuuu. Huhuu..maaff,” kata kak Tami.
“Yahhh…kok nggak difotoin sih
Kak? Kan udah berkali-kali tadi Elis minta tolongnyaa,” keluhku.
“Aku kan tadi ngambil air minum
dulu karena tenggorokanku haus, nah waktu kembali lagi ke sini, aku lupa HPmu
ini untuk apa di tanganku. Hehe. lagipula aku juga terpesona sama penampilanmu,
makananya aku linglung, hahaa,” jelas kak
“Hemmm..ya udah deh nanti aja
Elis berpose lagi, ehhe.”
Setelah aku, giliran pak Irwan
yang maju. Ia membahas tentang HypnoTeaching.
Kemudian, Darma membahas tentang Dream,
Muiz membahas tentang Membentuk Habit dan Rika membahas tentang Singa vs Tikus. Ada yang menarik dari
Rika. Barulah bang Wira mengomentari
satu per satu yang tampil. Dia bercerita dengan gaya mendongeng. Dan ada yang
menarik pula dari ceritanya; Singa mati karena rasa takutnya sendiri. Padahal,
Tikus tidak melakukan apa-apa selain mengancam akan membunuhnya. Ah, ternyata,
ketakutan membuat kita kehilangan harapan dan ketiadaan harapan membuat hidup
kita pendek.
“….Presentasi yang bagus itu bukan hanya
berisi pencerahan, tetapi juga berwujud TINDAKAN. Kurangilah berkata; ‘Nah!
Oke! Eeee…’. Sebenarnya, tingkat kecerdasan seseorang itu terlihat ketika ia
bisa MENYEDERHANAKAN sesuatu yang rumit dan bisa membuat orang lain faham.
Menyerdahanakan itu berbeda ya dengan menggampang-gampangkan,” jelas bang Wira.
“Dan usahakanlah mendesign slide itu sejak jauh-jauh hari sebelum tampil.
Jangan mendadak. Apalagi baru tadi pagi dibuatnya, ah itu lebih mustahil lagi
akan maksimal!”
Hiksss.. andai Abang tahu jam
berapa Elis tadi bikin slidenya, pasti lebih nggak masuk akal lagi Bang, hehe. Selanjutnya,
yang tampil adalah kak Tami. Nah, kak Tami ini emang udah cinta banget sama green life style pemirsaaa. Kali ini dia
akan berbicara tentang ‘Diet Kantong Plastik’. Kamera sudah standby di tanganku
untuk memfotokannya. *Hemmm…fotografernya malah yang sama sekali belum difotoin
nih sejak tadi!
“…Sampah plastik yang kita buang
selama ini bisa jadi dimakan oleh binatang. Coba perhatikan gambar burung yang
mati itu! Ketika dilihat isi perutnya, ternyata ada benda-benda itu; Plastik,
mancis, punting rokok. Karena, dikiranya adalah makanan juga. Dan, laut
Indonesia adalah yang terbanyak berisi sampah plastiknya setelah Cina. Bisa
jadi juga, ikan yang selama ini kita makan pun sudah memakan plastik. Jadi
memang, plastik ini sangat berbahaya dan harus kita musuhi sebenarnya! Ketika
kita buang ke selokan atau ke tanah, ia baru bisa terurai di atas 100 tahun.
Sedangkan kalau kita bakar, akan menimbulkan gas pemicu kanker. Dibakar atau
dibuang, ternyata 2 2nya berbahaya…” jelas kak Tami.
Aku miris kali melihat
gambar-gambar binatang yang memakan sampah plastik itu. Geram sekali rasanya!
Sedih!!! Mendadak, aku pengen jadi aktivitis lingkungan aja untuk menyelamatkan
bumi. Setelah kak Tami, berikutnya yang tampil adalah pak Hendri, membahas
tentang ‘Menjadi Sukses’. Setelah pak Hendri, kemudian bu Anti. Bu Anti ini
juga unik. Beliau awalnya grogi dan kehilangan kata-kata, tapi di pertengahan
akhirnya lancar juga. Ia adalah womanpreneur. Semua masalah dalam keluarganya
disulapnya menjadi uang.
“Ketika anak saya sudah 4 dan
saya mulai kewalahan mengurusnya, akhirnya saya buka tempat penitipan anak.
Selain supaya anak-anak saya bisa main di rumah, anak-anak orang lain juga bisa
menjadi teman mereka dan saya bisa sambil mengawasi juga. Saya juga mendirikan
TK dan suami saya yang menjadi ketua yayasannya. Mulailah saya berfikir untuk
mempunyai pembantu sekaligus menjadi penyalur pembantu. Selanjutnya, saya
membuka laundry supaya urusan cuci-mencuci dan menyetrika selesai. Begitulah
intinya Buk, Pak, apapun masalah yang sedang kita hadapi dalam keluarga, jangan
melihat itu sebagai masalah, tapi lihatlah sebagai peluang.”
Kami sampai tercengang
dibuatnya. Nggak nyangka, bu Anti yang
pembawaannya tenang seperti itu ternyata hyperaktif juga dalam berbisnis.
Keyeen banget ah! Selain bu Anti, ada lagi nih yang unik; Riski. Dia adalah
penampil terakhir. Seperi bu Anti, Riski pun awalnya grogi dan nada bicaranya tak teratur. Tapi aku
mulai terkesima ketika ia masuk ke dalam materinya; ‘SOMBONG’. Sejak judul itu
dibacakannya, kami sudah mulai ‘tersentil’ karena kesombongan itu hampir pernah
menjangkiti hati setiap orang. Dan puncaknya adalah ketika Riski menampilkan
video tentang benda-benda di tata surya mulai dari yang terkecil sampai yang
terbesar. Dan ternyata bumi yang kita pijak ini tidak ada apa-apanya. Ah,
apalagi diri kita ini? hiksss.
“Dekkkk….kamu kereeeen banget
loooh!” kataku.
“Hhee…nggak nyangka bisa kayak
gitu Kak, hehe.”
“…mimpi yang dituliskan itu
ternyata baru 20% tingkat ketercapaiannya, yang lebih tinggi di atas itu adalah
MENDEKLARASIKAN yaitu 50%. Tapi, ada lagi yang lebih ampuh dari itu, yaitu
menyatakan kepada publik kapan pencapaiannya dan ada RASA MALU yang harus kita
tanggung jika itu tidak terlaksana. Yang semacam ini tingkat ketercapaiannya
hingga 80%,” jelas bang Wira.
***
Ketika coffe break menjelang
sholat Ashar, bang Wira ikut-ikutan duduk di antara mbak Win dan aku.
Curhatanku kepada mbak Win terpaksa dihentikan dulu. Bahaya! Bang Wira sedang
rajin mengejek-ngejek aku akhir-akhir ini dengan nama seseorang. Hhuft! Dan
setelah bang Wira solat, barulah aku melanjutlah lagi ceritaku…
“…berarti dia memang nggak bisa
diBBM Lisss karena nggak suka BBMan. Ya kalau gitu harus ketemu. Sampai kapan
Elis akan bersabar menunggunya?”
“Emmm…Elis nggak merasa sedang
menunggu dia sih Mbak. Karena Elis kan belum pengen nikah nih, ya ini hanya
‘sambilan’ menilai seseorang aja sih, hehe. Toh, kalau pun ternyata dia nggak menyukai
Elis, ya nggak jadi soal.”
“Sekarang pertanyaan Mbak Win…
Berapa persen rasa suka Elis ke dia kira-kira?”
“Emmm… Menurut Elis, Elis hanya
berkewajiban meyakinkan diri Elis sebanyak 50% dan 50%-nya lagi tergantung dia.
Kalau ternyata dia juga memilih Elis, kan berarti jadi 100% tuh Mbak. Kalau
ternyata dia nggak memilih Elis, ya otomatis yang 50% tadi akan menyusut. Gitu
aja sih Mbak prinsipnya! Elis nggak pernah terlalu menyukai seseorang, karena
takut kecewa. Kita perempuan ini kan pada akhirnya ingin ‘dipilih’ kan Mbakk.
Bukan kita yang bersikeras memilih.”
“Oh okeee..Mbak Wien faham.”
“Oh ya Mbak, beneran ada yang
sedang cari calon istri? Memangnya menurut Mbak, ada yang cocok sama Elis?”
tanyaku.
“Nah, ini Mbak Wien sedang
mendiskusikan dengan Abang. Ada beberapa orang sih yang pengen mbak win ‘bantu’
juga.”
Lalu aku menjelaskan kepada mbak
Wien bahwa aku menyukai perkenalan secara natural dan tidak sengaja. Tapi, aku
pengen, akulah yang pertama kali diberitahu oleh mbak Wien siapa orangnya dan
aku juga yang pertama kali menilai orang tersebut. Nah, ketika aku sudah yakin, barulah mbak Win men-setting
keadaan seolah-olah mbak merekomendasikanku kepada orang tersebut.
“Jadi, prinsipnya kayak Toko
Online Mbak; Ketika nggak jadi beli, ya nggak masalah. Karena kita nggak pernah
bertemu dengan penjualnya dan diapun nggak kenal dengan dia. Bukan kayak toko
Konvensional; Setelah coba-coba barangnya, tanya ini-itu, tawar-tawar harganya,
kita kan jadi nggak enak hati kalau ternyata nggak jadi beli. Makanya, Elis
kurang percaya dengan cara bertaaruf yang mempertemukan laki-laki dan perempuan
dalam forum gitu. Kaku dan nggak leluasa aja jadinya. Elis pengennya kayak toko
online tadi; menyelidiki dari jauh tanpa dia tahu sedang Elis selidiki. Dan
ketika ternyata Elis nggak cocok, ya dia nggak akan tersakiti karena dia nggak
tahu apa-apa. sihiyyy...Itu filosofi toko online nggak sengaja banget loh Mbak
Elis temuin barusan. Hahha.”
“Hhhaa…oke deh Elis, Mbak Win
ngertiii sekarang.”
***
Di penghujung pertemuan, bang
Wira menjelaskan tentang The Bussines
Model Canvas dengan menggunakan kertas besar yang harus kami isi
poin-poinnya, dipandu oleh bang Wira. Yang harus kami isi adalah Customer Segments, Channel, Customer
Relationship, Revenue Stream, Cost Structure, Value Proposition, Key
Activities, Key Resources dan Key Partner.
Aku mengangkat tangan; “Bang, mau
tanya! Kita lihat Andrea Hirata atau Habiburrahman, mereka adalah orang-orang
yang terkenal setelah menulis buku. Dan awalnya, mereka tidak pernah merumuskan
personal branding mereka tapi akhirnya dunia mengenal mereka seperti yang
sekarang ini. Gimana tu Bang? Emmm…soalnya Elis bingung merumuskan yang kayak
giniii…hikss.”
Tapi, aku kurang puas dengan
jawaban bang Wira. Karena maksudku yang sebenarnya adalah; “Kunci apa yang
harus kita miliki supaya kita bisa seperti Andrea Hirata tadi? Dia tidak pernah
merumuskan dirinya menjadi penulis, tapi karena ketekunan dan keikhlasannya
menulis Laskar Pelangi, akhirnya BOOM, jadilah seperti saat ini.”
Hemmm…sepertinya aku harus mencari tahu ke dalam diriku sendiri. Aku jadi mengkhayal
jauh dan nggak terasa, beberapa poin masih kosong, belum ku isi.
“Kalau Elis kan udah jelas,
passionnya NULIS. Coba spesifikkan lagi, apa yang membuat teman-teman Elis suka
membaca blog Elis? Biasanya tulisannya tentang apa? Hubungkan dengan Mesin Kecerdasan
Elis. Feeling kan? Orang Feeling itu kata kunci hidupnya adalah CINTA. Nah,
jadi deh PENULIS CINTA. Hahaa,” jelas bang Wira.
Aku dan semua orang di dalam
ruangan ini pun ikut terbahak.
“Hukum alam yang satu ini akan
selalu berlaku; Memberilah dulu, baru dapatkan hasilnya! Bukan meminta terlebih
dulu ya.” Lalu bang Wira menjelaskan jatuh-bangunnya dulu membangun relasi
sebelum akhirnya ia diundang ke mana-mana seperti saat sekarang ini. “Fokuslah
kepada 1 passion dan jadilah MASTERnya!”
Setelah acara ditutup dan
diakhiri dengan foto bersama, tiba-tiba bang Adi muncul sambil membawa kue tart
dan lilin yang menyala di atasnya. Bang Wira tampak terkejut sesaat sebelum
berkata…
“Wahhh..ini siapa sih yang punya
ide?”
“Kami semua lah Baaang,” sahutku.
Alhasil, sesi foto-fotonya nambah
deh! Heehee. Aku dan Kak Tami memberikan hadiah Tas Daur ulang tadi kepada bang
Wira. Sebelum pulang, aku merekam 3 orang untuk dimintai testimoninya atas
acara hari ini.
“Kak, Bang… teman-teman… Elis
duluan yaaa! Assalamualaikum..”
Aku melaju, memburu senja yang
jejak-jejaknya tinggal semburat. Kali ini aku memilih mushola SPBU Panam
sebagai tempatku sholat Maghrib. Pengen cari suasana berbeda dan pengen
menebarkan jejak-jejak syurga di banyak tempat di bumi ini. Hemmm…aku sempat
berkhayal; “Jangan-jangan aku akan ketemu jodohku di sini dengan cara yang
unik, hehee.” *Efek kebanyakan nonton film India. Sebelum pulang ke rumah, aku
membeli mie goreng Brebes. Sebenarnya, aku lebih ingin membungkusnya pulang.
Tapi, karena teringat tentang ‘Diet Kantong Plastik’ yang dijelaskan kak Tami
tadi, emmm… aku nurut aja deh! Hehee.
“Ya Allah, aku tahu… mie itu
nggak bagus untuk kesehatan. Tapi, aku sedang pengen banget makan mie goreng
ini ya Allah. Tolong, bagaimana pun caranya, ubahlah mie ini menjadi makanan
yang berkah untuk tubuhku atas KuasaMu. Aamiin,” pintaku sambil menyuap
makanan. *Doanya agak maksa ya? haha.
*Tulisan ini diselesaikan pada
hari Selasa, 15 Februari 2016, pukul 09.37wib


Tidak ada komentar:
Posting Komentar