Sabtu, 12 Maret 2016

AT 3; Mrs. Feedback dan Ms. Feedback



Kita tidak tahu persis siapa yang benar-benar TULUS mendukung kita. Kadang, ucapan ‘Selamat’ itu sekilas terlihat sama antar satu orang dengan yang lainnya. Tapi, bisa saja ada banyak rasa dan asa yang terkandung dan di dalamnya. Ada ucapan ‘Selamat’ yang benar-benar selamat, tapi ada juga yang malah mengandung Siasat. Ah, tapi apapun itu, kita tak harus mencurigai setiap orang yang menyelamati kita. Kita hanya harus waspada; jangan terlalu mudah percaya, tapi tidak juga melulu curiga, biasa saja. Lalu, selebihnya, serahkan padaNya

*Ucapan Selamat – Metamor(Prosa)
***


Aku sudah mengirim SMS kepada Yana bahwa rencana berenang hari ini di-cancle karena aku harus sudah sampai di Hotel Akasia pukul 08.00wib yang sebelumnya ku fikir acaranya pukul 09.00wib. Yana tak membalas, tapi semoga ia mengerti. Daripada aku tetap menyanggupi sementara prioritasku hari ini terbengkalai dan tidak maksimal, kan?
“Bensin masih cukup nggak ya?” tanyaku dalam hati.
Ah, syukurlah setelah ku cek, masih cukup untuk hari ini. Segera ku lajukan motorku, meninggalkan Balam Sakti, menyusuri Subrantas-Arifin Ahmad lalu masuk ke jalan Sudirman. Awalnya aku berfikir akan lebih dekat jika melewati Arifin Ahmad daripada Tuanku Tambusai, tapi nyatanya aku keliru. Perjalanan ini terasa sangat panjang karena nyatanya aku harus berputar juga di bawah fly over di ujung jalan Nangka. Hoammm… badan agak pegal ketika sampai di pelataran Hotel Akasia.
Ah, aku nggak pernah menyangka akan kembali lagi ke tempat ini. Ku fikir, bulan Mei tahun lalu adalah yang terakhir. Tapi, nyatanya waktu kembali mengundangku kemari.

Aku masih celingukan di parkiran depan. Ragu, di ruangan manakah acata AT3 berlangsung? Aku mengamati sekitar sambil berdiri, meluruskan pinggang. Terlihat olehku sepasang manula yang berjalan menuju mobil. Sang kakek membukakan pintu untuk istrinya, barulah kemudian ia masuk mobil. *Ya ampuuun… so sweet bangeetssss..
“Hallo Bang? Elis udah di parkiran depan nih, Abang di mana?” bang Wira menelvonku.
“Cari aja ruangan Sukajadi Lis. Oke?”
Tak salah lagi, ruangan ini pasti di samping. Dan, ternyata benar. Ruangan ini berada tak jauh dari tempat ‘bersejarah’ itu. Aku segera masuk ke dalam dan mbak Win langsung menyambutku dengna hangat. Segera ku isi buku tamu dan duduk di samping cewek, Rika namanya. Tak lama, kak Tami datang. Ia kaget melihatku ada di sini dan mengiraku menjadi fasilitator hari ini. Kak Tami otomatis langsung duduk di sebelah kananku. Tepat pada pukul 08.45wib acara dimulai oleh Yoga. Seperti biasa, ketika menjadi fasilitator BAT, ia menyuntikkan semangat pagi kepada kami dan barulah ia memanggil bang Wira sambil kami mengirinya dengan tepuk tangan yang meriah…

“….hidup itu memilih, betul? Kalau teman-teman tidak memilih, maka teman-teman pasti akan jadi kordan PILIHAN. Emmm… Tami, tadi memang memilih duduk di situ?” tanya bang Wira kepada kak Tami.
“Emmm…sebenarnya tadi saya tidak sengaja duduk di sini. Awalnya saya ngobrol sama Elis dan otomatis saya duduk di sebelahnya,” jelas kak Tami. Kakak yang satu ini…jarang banget menjawab pertanyaan kalau nggak pakai teori. Maklumlah, alumni Ilmu Komunikasi soalnya, hehee.
“Berarti dalam hal ini, Tami adalah korban pilihannya Elis,” lanjut bang Wira sambil tersenyum.
Aku tepok jidat. Tak merasa kak Tami duduk di sebelahku. Kemudian, bang Wira mencontohkan tentang prilaku orang pada umumnya yang sering kali secara sengaja melewatkan kesempatan.
“Kalau tidak diambil duluan oleh anda, maka akan ada orang yang akan mengambil kesempatan itu!” tegasnya.

Bang Wira menjelaskan bahwa ada persamaan mendasar antara TRAINER dan GURU, yaitu sama-sama mengajar di dalam kelas. Tapi, seorang TRAINERtidak sekedar mengajar saja, tetapi juga melatih sehingga nantinya ada skill baru yang diperoleh oleh audience. Berikutnya, dijelaskan bahwa ada 3 komponen yang mendukung profesi seorang TRAINER; Identitas, Visi dan Penguasaan (Mastery).
“…Passion itu berbeda dengan Hobi. Passion itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah ditinggalkan, tak peduli orang berkata apa dan ujungnya nanti adalah kompetensi, yaitu menjadikan Passion sebagai sumber uang. Berbeda dengan Hobi, contohnya Hobi memelihara kucing Anggora yang biayanya tidak sedikit dan apakah akan selamanya mengeluarkan biaya besar untuk kucing? Dan ujung-ujungnya dicarilah siapa yang ingin mengadopsi kucing itu. Nah, itu kalau sekedar Hobi.”
Kecuali kalau Hobi memeliharan kucing Anggora itu membuat si pemiliknya menjadi kreatif dan membuka petshop. Nah, barangkali itu barulah disebut Passion. Lanjutku dalam hati.
Berkaitan dengan penguasaan, maka ada 6 hal yang harus selaras dengan seorang TRAINER; 1. Lingkungan, 2. Prilaku, 3. Kapabilitas, 4. Nilai/keyakinan, 5. Identitas, 6. Spiritual.

“… menurut artikel yang saya baca di detik.com, orang yang kesepian itu lebih mudah meninggalnya. Nah, makanya, segeralah menikah! Loh? Saya kok jadi kayak seminar pra nikah gini ya?” kata bang Wira.
Kami, para jomblo di ruangan ini pada salah tingkah karena statement bang Wira barusan.
“Saya memang akhir-akhir ini suka membully para jomblo, nggak tahu kenapa,” lanjut bang Wira lagi.
Sebelum coffe break, kami diminta berdiri dan bang Wira menggunakan teknik NLP untuk men-terapi dan memunculkan mental positif dari dalam diri kami.

***

“Kak, itu HP ASUS Kakak ya? Udah ketemu ya rupanya? Kapan?” tanyaku ketika kami sama-sama mengantri coffe break.
“Bentar ya Kakak ceritain semuanya ntar di meja..”
Setelah aku, kak Vivien, Bung Misnan duduk di melingkar pada satu meja, mulailah kak Vivien menceritakan semuanya dengan sangat antusias. Ekspresinya itu loooh!
“…dan akhirnya Kakak dihubungi nomor tak dikenal; ‘Hallo? Ini Mbak Vivien ya? Kemarin suami saya nemuin HP Mbak jatuh di jalan’, terus dikembalikanlah HP Kakak itu. Tapi yang ngembalikannya si Ibuk, bukan si Bapak dan ternyata ibuk itu adalah orang sekomplek juga.”
“Jadi, intinya mereka bukan orang yang niat ngambil HP Kakak lah ya?” tanyaku.
“Emmm…nggak tahu juga lah Dek. Kalau memang niat baik, kok udah 4 hari baru dibalikin. Mungkin karena HP Kakak ni kalau pun dijual ke konter pun nggak akan laku. Ya…alarmnya kan bunyi terus tuh dan berisik banget; ‘This phone is just loss or stolen’, gituuuu terus bunyinya. Dan itu nggak akan bisa distop kalau mereka nggak tahu pinnya. Adek Kakak nih kemarin yang punya kerjaan. Diinstalnya alarm anti maling ke HP ini. Ya Alhamdulillah, masih rezeki Kakak, makanya kembali lagi.”

“Ih, mau jugalah Kak diinstalin alarm gitu sama Adek Kakak, hehe. Oh ya, terus Kakak udah beli HP baru?”
“Nah, itulah Dek. HP Blackberry Kakak kan Kakak kasih ke Mama, terus Kakak beli VIVO karena kameranya kan cantik tuh. Terus, VIVOnya hilang, Kakak beli ASUS. Eh, VIVOnya ketemu lagi, terus Kakak kasih ke Adek Kakak. Kemarin ASUSnya hilang dan Kakak beli HUAWEI. Sekarang ASUSnya udah ketemu dan HUAWEInya tetap Kakak simpan. Kata Mama Kakak; ‘Simpan ajalah, siapa tahu nanti ada yang hilang lagi’, hahaa.”
Aku dan Misna jadi banyak tanya tentang alarm canggih di HP kak Vivien itu. Kami bahkan meminta Kakak Vivien mencabut  kartunya supaya kami bisa melihat langsung bagaimana bisingnya alarm iut. Dan, puaslah kami ketika HP itu benar-benar berbunyi. Hahaa. Barulah kami percaya.
“Eh, masuk yuk! Udah dikode tuh sama Bang Wiraa!” seruku.

***

“…awalnya dari yang tidak bisa akhirnya menjadi BISA dan kemudian bisa MENGAJARKAN. Itulah tugas seorang trainer. Yang terbaik itu adalah Maju sambil mengajak orang lain juga untuk maju. Hari ini kita akan membahas 3 topik; 1. Menjadi trainer yang berkarakter, 2. Trainer yang Kompeten, 3. Mandiri dari training. Jangan pernah bermimpi menjadi seorang Trainer kalau males baca! Saya sejak kecil sangat suka membaca. Membaca apa saja. Bayangkan, sewaktu kecil saya sudah membaca buku Femina, Kartini looh! Hahaha.. dan MEMBACA itu akan memperkuat diri kita. Sehingga setiap ngobrol sama orang, bisa nyambung.”
Selanjutnya, kami diarahkan untuk memilih 5 nilai dari masing-masing Kelompok Nilai yang tertulis di worksheet. Ada 3 kelompok Nilai yang harus kami pilih dan dihasilkan 15 nilai. Dari 15 nilai, ditinggalkan 6 saja. Kemudian 6 nilai ini diurutkan dari yang paling prioritas sampai yang terendah. Aku? 1. Ketuhanan, 2. Kekeluargaan, 3. Persahabatan, 4. Kesehatan, 5. Stabilitas Ekonomi, 6. Pertumbuhan Diri.

“Silahkan buka worksheet halaman 5, saya akan membantu anda dalam menemukan KESELARASAN antara identitas diri dan Visi Hidup anda.”


Awalnya kami diminta menjawab pertanyaan terkait penilaian terhadap diri sendiri (Versi ideal dan Versi Jujur), barulah kemudian kami diminta mencari 3 orang yang baru kami kenal untuk meminta orang lain menilai kami pada kesan pertama yang mereka tangkap. Selanjutnya, kami diminta menarik ‘benang merah’ antara penilaian orang lain dengan diri kami yang kami duga sebelumnya. Rumusnya; semakin SELARAS antara keduanya, maka semakin baik.

“Temukan Mr. Feedback dan Ms. Feedback dalam hidup anda. Mereka adalah orang yang  bisa anda percayai penilaiannya tentang diri anda sehingga anda bisa menyelaraskan hidup anda; antara Nilai yang anda anut dengan penilaian orang lain tentang diri anda,” jelas bang Wira. “Kalau saya, istri saya adalah Ms. Feedbacknya. Setelah saya tampil, beliaulah yang selalu saya dengarkan penilaiannya. Mau seperti saya? Makanya, nikah duluu! Hehee.”
Dan, lagi-lagi bang Wira menyindir kami, para jomblo. Selanjutnya, kami diminta merumuskan Visi Hidup  dengan instruksi ‘The New You’. Dan… di tengah kefokusan merumuskan Visi hidup, aku tiba-tiba pengen berbisik ke kak Tami…
“Kakak kapan Nikah?”
“Insya Allah tahun ini.”
“Kapan?”
“Belum pasti tangalnya.”

“Kak, Bu Anti itu ternyata udah punya 6 anak loh! Tapi masih muda banget ya Ibu tu kelihatannya. Kakak mau punya anak sampai 6?” tanyaku lagi.
“As much as I can, hehe.”
“Hehhe, Elis kok sempet ya nanyain  ini pas lagi belajar gini Kak? hehee. Kakak pun, kenapa jawab Elis?”
Kak tami hanya geleng-geleng kepala dan kembali melanjutkan perenungannya.
 “Jadi, Visi itu sebaiknya dibagi 2; Visi Hidup dan Visi Akhirat. Mau tahu Visi Akhiratnya Pak Jamil Azzaini? Beliau ingin memeluk Rosulullah di Syurga. Luar biasa kan?”
Lalu, beberapa orang diminta maju ke depan untuk membacakan Visi Hidup mereka dan yang lainnya diminta meng-aamiin-kan.
“Setelah ini kita ISHOMA  dan kembali lagi ke ruangan ini pada pukul 13.15wib ya. Assalamualaikum warohmatulhi wabarokatuh,” tutup bang Wira.

Aku berjalan perlahan menuju pintu. Tapi, aku beralih dulu kepada mbak Win.
“Mbak… kucing kuningnya masih ada?” tanyaku.
“Bapaknya Mbak Win kan udah pulang, jadi kucingnya udah Mbak titipin ke Adit dan Mona.”
“Ohhh..Bapaknya Mbak nggak suka sama si ganteng ya?”
“Iyaa..makanya, ntar kalau Mbak Wien udah di rumah sendiri, kucingnya pengen Mbak ambil lagi. Kemarin aja sempet sedih banget waktu kucingnya di bawa Adit sama Mona, Liss.”
Pantas saja kalau mbak Win sudah merasa sayang sama si ganteng, soalnya dia udah 2 minggu dirawat oleh mbak Wien. Aku bisa tahu kisah si ganteng ini karena dishare di Facebook oleh bang Wira.
“Si ganteng-si ganteng, orang kucing itu perempuang kok!” sahut bang Wira.
“Mana peduli si Elisss tu Baang! Semua kucing itu si Ganteng namanyaaa…” sahut kak Tami yang ternyata mendengarku.

***

Aku dan kak Tami ke luar lagi dari dalam ruangan karena ternyata belum ada orang di dalam. Oh, kecuali seorang laki-laki yang sedang berbaring di atas deretan bangku. Emmm…sepertinya itu Samuel deh! Akhirnya, aku dan kak Tami melanjutkan obrolan sambil duduk di luar ruangan. Lalu kemudian bang Wira datang sambil mengacungkan jempol kepadaku. Aku fikir, ia mengkode waktu ISHOMA sudah berakhir. Tapi, ia mengulangnya lagi.
“Udah Abang baca Liss! Abang lihat udah normal lagi tulisan Elis!”
Aku agak kurang nyambung arahnya ke mana. Aha! “Alhamdulillaaaaaaaah kalau gitu Bang. Soalnya Elis kan udah ngerasa biasa aja sekarang ini, Bang. Udah nggak se-terpukul kemarin laah!”
Sudah pukul 13.30wib. Aku mengkode teman-teman untuk segera masuk ke dalam ruangan. Yang akan dipelajari kali ini adalah Menjadi Trainer yang Kompeten.
 
“Bang!” seruku, aku ingin bertanya.
“Yap, silahkan Liss.”
“Bang, seberapa pentingkah kita menjadi orang yang disenangi orang lain atau menjadi diri sendiri dan hanya fokus pada orang yang menerima kita apa adanya?”
“Sekarang Abang gantian bertanya kepada Elis. Kira-kira enak nggak kalau kita bisa menjadi diri sendiri dan juga disenangi oleh orang lain?”
“Enak.”
Aku tahu, bang Wira sedang menerapkan prinsip ‘bertanya’ ala seorang Coach. Karena tugas seorang coach adalah Memprovokasi lewat pertanyaan. Aku jadi teringat dengan bukunya Dedy Dahlan. Pertanyaan bang Wira barusan berhasil membuatku berfikir dan malah jadi bertanya dan menemukan jawaban pada diri sendiri.
“Kata Sokrates, 60% pertanyaan itu terdapat pada pertanyaannya,” jelas bang Wira.
“Kann…benar tadi jawabankuuu,” kata kak Tami.

Lagi-lagi mataku keluyuran ke mana-mana. Aku mudah jenuh kalau terlalu fokus.
“Kak, Abang tu adalah laki-laki dengan gantungan kunci boneka, hehe,” aku menunjuk ke arah bang Afro.
“Itu boneka apaan ya?” kata kak Tami.
“Boneka LINE kayaknya.”
“Kamu ini Lisss.. ntah apa-apa yang kamu perhatikan sejak tadii.”
“…90% kualitas seorang TRAINER ditentukan oleh Attitude-nya. Sedangkan 10%-nya adalah Skill dan Knowledge. Makanya, nanti kalau menerima pertemanan di Facebook, selektiflah! Supaya jangan sampai berteman dengan orang yang suka sekali menulis status-status galau. Lebih baik unfriend aja! Dan jangan sampai pula anda menulis status galau juga di Facebook. Jangan lagi ceritakan masalah-masalah pribadi kita di Medsos. Pilih-pilihlah status yang pantas di share, karena kita sedang membangung image yang positif  diri kita.”
Kalau statusku kemarin tentang ‘Sifat Perempuan’ itu galau nggak ya kira-kira? Fikirku.

“Kak, tahu Bang Adi yang mana?” bisikku lagi kepada kak Tami.
Kak Tami melihat ke arah bang Adi.
“Bang Adi itu mirip Peterpen kan Kak?”
“Peterpan?”
“Ariel NOAH, maksudnya. Iya kan Kak?”
“Kagak ah! Khayalanmu ketinggian Lisss!” celetuk kak Tami.
“Kalau si Riski itu, mirip sama Tengku Wisnu kan Kak? hehhe.”
“Hemmm..hanya kamulah yang melihatnya mirip Tengku Wisnu. Aku kagak. Heh.”
Nyaris saja aku mengantuk ketika aku kembali fokus menyimak materi yang disampaikan bang Wira. Tapi, Alhamdulillah bang Wira menyuruh kami berpindah tempat duduk dan berganti teman di samping kiri dan kanan. Sekarang, aku duduk di samping kak Vivien.
 
“… kata AA Gym, AKHLAK itu adalah apa yang keluar pertama kali pada detik pertama. Dan itulah nilai Leadership yang sebenarnya; Dilihat dari bagaimana cara kita merespon sesuatu. Misalnya,  nggak sengaja kita memotong jalan orang lain. Nah, kemudian orang itu mengeluarkan koleksi kebun binatangnya. Ternyata dia adalah pengusaha kebun binatang. Apa yang akan kita lakukan dalam posisi itu? Meminta maaf atau ikut-ikutan mengeluarkan koleksi kebun binatang? Berart kita dan orang itu sama-sama pengusaha kebun binatang donk? haaha,” jelas bang Wira.

***

Setelah break sholat Ashar, dilanjutkan lagi dengan Materi Public Speaking.
“…kalau kita sudah mahir Public Speaking, kita tidak perlu kerepotan lagi. Cukup tuliskan poin-poin penting yang akan kita sampaikan, beres deh! Kata Einstein; ‘Orang cerdas itu adalah orang yang mampu MENYEDERHANAKAN yang rumit’. Contohnya adalah Apple; Tombolnya hanya 1. Tapi, canggih banget kan?  Nah, itulah sebenarnya ukuran kecerdasan. Dan itu bisa dibangun dari membaca. Lagi-lagi membaca. Lewat membaca, kita pun jadi mudah MEMPENGARUHI orang lain.”
Di slide, muncullah kata-kata Ali bin Abu Thalib; ‘Ikatlah ilmu dengan MENULISKANNYA. Supaya tidak menguap ditelan Zaman.’

Bang Wira sempat mengulas tentangku yang sangat hobi menulis dan blogku yang ramai banget. Aku jadi faham, di mana bang Wira menemukan tulisanku yang katanya sudah dibaca tadi. Sudah pasti dari blog! hemm.. Jangan-jangan bang Wira berlangganan tulisanku nih lewat email. ehhe.
“Manusia itu adalah PISAU; Punya sisi Tajam dan sisi Tumpul. Sisi Tajam adalah KELEBIHANNYA sedangkan sisi tumpul adalah KELEMAHANNYA. Asahlah sisi tajam itu supaya itu menjadi kekuatan anda!”
Mataku tertuju ke luar ruangan. Kepada mbak Wien yang sedang terlihat ngobrol dengan si ganteng (baca: kucing). Aku tersenyum.
“Supaya presentasi anda tidak berantakan, susunlah PEMBUKA yang membuat orang lain ingin terus mengikuti dan susunlah PENUTUP yang meninggalkan KESAN.”
Aku mengangkat tangan.
“Bang? Kalau misalnya kita akan berbicara dalam waktu kurang dari 2 jam, mungkin rumusan PEMBUKA dan PENUTUP tadi memang sangat terasa efeknya. Tapi, bagaimana kalau kita berbicara lebih lama dari itu? Misalnya sampai 2 hari seperti training ini? Bagaimana caranya mempertahankan kesan ‘WOW’ tadi di mata audience?”
Bukannya langsung dijawab, bang Wira malah menggantungnya. Memaksaku untuk menyimaknya hingga selesai. Huft! Cerdas, memang.

***

Aku mengejar senja. Melaju, menebas panjang jarak Sudirman-Panam. Terus saja ku lajukan motorku dengan mata yang semakin difokuskan dalam jarak pandang yang jauh. Tujuanku adalah ke kosan Novi, numpang sholat dan numpang men-scan sesuatu. Sesampainya di kosan Novi, setelah ku ketuk pintunya berkali-kali, ia tetap tidak merespon. Ah, jangan-jangan sedang sholat karena aku melihat sajadahnya.
“Kreeeeeekkkkk!”
Pintu pun terbuka. Ku lihat Novi wajahnya tak secerah biasanya. Ia dalam balutan mukena orange-hijau itu sangat sayu dan terbatuk-batuk, kemudian kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Cek sakit yaaa?” kataku sambil memegang keningnya.
Batuknya tak berhenti. Keningnya cukup hangat.
“Minum obat udah, Cek?” tanyaku.
Ia geleng-geleng.
“Minum Bodrex, barangkali Cek? Biar agak mendingan..”
“Nggak suka Bodrex,” jawabnya.
“Hahha…emangnya ada orang yang suka sama obat, Cek? Ada-ada aja.”

Aku numpang sholat dulu dan setelah itu aku membujuknya ke RS. UR.
“Kalau Kakak, biasanya setelah batuk kering, akhirnya nanti jadi batuk berdahak, terus jadi flu juga. itulah urut-urutannya. Makanya, kemarin tu langsung Kakak bawa berobat ke RS UR. Alhamdulillah, setelah itu Kakak cepat pulih. Kita nggak punya pilihan lain, Cek selain harus cepat sembuh supaya pekerjaan lainnya nggak terbengkalai. Apalagi biasanya Kakak agak lama sembuhnya kalau udah batuk tuu.”
Akhirnya Novi menurutiku. Aku mengantarkannya ke RS UR. Sambil menunggunya, aku menimbang berat badan.
“Ah, Rusak nih kayaknya timbangannya!” keluhku.
“Berapa berat Kakak memangnya?” tanya Novi.
“Masa masih 66kg Cek. Padahal kan Kakak merasa agak kurusan, hehe. Apa cuma perasaan Kakka aja ya?”

“Nggak rusak kok! Ini berat Novi normal. Makanya, dietlah lagi Kak, hehehe,” ejeknya.
Sementara Novi diperiksa, aku pergi memfotokopikan  KTP dan KTMnya. Karena pengen cari ‘suasana berbeda’, aku pergi ke foto kopian di gang Damai. Ah, ternyata tutup! Akhirnya, aku harus ke Bina Krida juga. Anggap aja yang tadi itu adalah ‘Ongkos’ membuat otak menjadi kreatif. Aku agak terhalang di sini karena fotokopinya kurang beres; di bagian tengah kertasnya terputus salinannya. Akhirnya, setelah disiasati, beres juga! Aku segera kembali ke RS UR.
“Kok berjarak gini Dek? Tadi kan disuruhnya mendempetkan fotokopi KTM dan KTPnya,” tanya sang receptionist.
“Fotokopiannya rusak Kak dan nggak bisa terbaca kalau didempetkan tadi,” jelasku.
Syukurlah, penjelasanku difahami olehnya.
“Udah dikasih Kak?” tanya Novi.
“Udah Cek. Yuk pulang? Mau makan apa?”
“Emmm… nggak tahu mau makan apa yang nggak berminyak Kak. Oh ya, sup aja.”

Kami berhenti ke konter HP sebentar untuk membeli paket internetnya Novi. Kebetulan di sebelahnya ku lihat ada menu ‘sup ayam’. Akhirnya kami langsung memesannya. Aku dan Novi makan malam bersama di kosannya. Awalnya aku menolak, karena aku ingin membeli makan malam sendiri saja nanti. Tapi, aku sangat ingin menemani Novi. Karena biasanya kan kalau kita sedang sakit, lidah terasa tidak enak mencecap makanan. Setidaknya, aku bisa menemaninya sambil bercerita. Wajahnya sudah lebih cerah sekarang, tidak sekusut tadi. Mulailah ia bercerita tentang rumitnya ia ‘memahamkan’ 5 orang sahabatnya bahwa ia tidak bisa hadir di acara bakar-bakar ayam malam ini. Selain karena memang sedang sakit, Novi juga tidak nyaman pulang malam-malam.
“…ada masanya kita memang akan menyakiti PERASAAN orang lain, Dek. Ya contohnya seperti ini. Adek sudah berusaha menjelaskan, tapi mereka nggak juga faham. Mau nggak mau, akhirnya kita terpaksa menyakiti perasaan mereka kan?”
“Iya juga sih Kak. Tulah, Novi kadang merasa serba salah.”
“Tapi, btw Kakak salut loh, Adek bisa punya sahabat sampai sebanyak itu. Kakak, paling-paling cuma bisa dengan 1 orang aja Dek. Nggak bisa banyak-banyak.”

“Mending ini cuma 5 Kak, sebenarnya ada 11 loh Kak. hahaha. Kakak Novi juga kayak Kakak, nggak punya banyak teman dekat dia tu.”
Aku jadi mengenang masa-masa SD, SMP dan SMA. Terutama masa SMP, setiap lebaran, ketika aku bertanya kepada mami; “Kita bikin kue apa aja nih Mi?”, biasanya mami akan menjawab; “Ngapainlah bikin kue banyak-banyak? Bukannya ada kawanmu yang datang puun.” Aku sampai berkaca-kaca mengenang hal itu.
“Ya…mau bagaimana lagi Dek? Kakak memang nggak berhasil membuktikan kepada Mami bahwa Kakak punya teman. Karena nyatanya mereka nggak ada yang nongol ke rumah. Padahal, Kakak udah berusaha bersilaturahmi duluan ke rumah mereka. Hhaa.. aneh ya. Apalagi waktu SMA, Kakak kan sekolah di Kabupaten, lebih nggak mungkin lagi mereka mau menyengaja jauh-jauh ke desa Kakak hanya untuk lebaran ke rumah.”
Novi lalu menceritakan bagaimana solidnya mereka. Setiap lebaran, rumahnya selalu ramai didatangi teman-temannya. Kebalikannya, justru Novilah yang selalu dikunjungi oleh teman-temannya karena memang dia tidak bisa mengendarai motor. Selanjutnya, mereka akan ramai-ramai datang ke rumah guru dan teman-teman yang lainnya.

“...silaturahmi ke rumah guru adalah hal yang langka bagi teman-teman Kakak, Dek. Setiap kali Kakak ajak, mereka pasti akan bilang gini; ‘Aku heranlah sama Elysa nih! Kayaknya dia inilah satu-satunya murid yang masih rajin ke rumah guru. Sampai ke rumah guru SD juga didatanginya.’ Hemmm..kebalik ya kita Dek. Tapi, Kakak berfikir, memang Kakak nggak bisa sih dituntut untuk solid gitu dengan banyak orang dalam pertemanan. Karena, ada masanya Kakak ingin pergi cepat, pergi sendirian dan nggak terikat dengan janji.”
Setelah men-scan, aku kemudian berpamitan dengan Novi. Ia sudah minum obat dan semoga ia bisa tidur dengan nyenyak malam ini.

*Tulisan ini diselesaikan pada tanggal 14 Maret 2015, pukul 18.14wib.

Tidak ada komentar: