
Kita tidak tahu persis siapa yang
benar-benar TULUS mendukung kita. Kadang, ucapan ‘Selamat’ itu sekilas terlihat
sama antar satu orang dengan yang lainnya. Tapi, bisa saja ada banyak rasa dan asa yang terkandung dan di dalamnya. Ada ucapan ‘Selamat’ yang benar-benar selamat, tapi ada juga
yang malah mengandung Siasat. Ah, tapi apapun itu, kita tak harus mencurigai setiap
orang yang menyelamati kita. Kita hanya harus waspada; jangan terlalu mudah
percaya, tapi tidak juga melulu curiga, biasa saja. Lalu, selebihnya, serahkan
padaNya
*Ucapan Selamat – Metamor(Prosa)
***
Aku sudah mengirim SMS kepada
Yana bahwa rencana berenang hari ini di-cancle
karena aku harus sudah sampai di Hotel Akasia pukul 08.00wib yang
sebelumnya ku fikir acaranya pukul 09.00wib. Yana tak membalas, tapi semoga ia
mengerti. Daripada aku tetap menyanggupi sementara prioritasku hari ini
terbengkalai dan tidak maksimal, kan?
“Bensin masih cukup nggak ya?”
tanyaku dalam hati.
Ah, syukurlah setelah ku cek,
masih cukup untuk hari ini. Segera ku lajukan motorku, meninggalkan Balam
Sakti, menyusuri Subrantas-Arifin Ahmad lalu masuk ke jalan Sudirman. Awalnya
aku berfikir akan lebih dekat jika melewati Arifin Ahmad daripada Tuanku
Tambusai, tapi nyatanya aku keliru. Perjalanan ini terasa sangat panjang karena
nyatanya aku harus berputar juga di bawah fly over di ujung jalan Nangka.
Hoammm… badan agak pegal ketika sampai di pelataran Hotel Akasia.
Ah, aku nggak pernah menyangka akan kembali
lagi ke tempat ini. Ku fikir, bulan Mei tahun lalu adalah yang terakhir. Tapi,
nyatanya waktu kembali mengundangku kemari.
Aku masih celingukan di parkiran
depan. Ragu, di ruangan manakah acata AT3 berlangsung? Aku mengamati sekitar
sambil berdiri, meluruskan pinggang. Terlihat olehku sepasang manula yang
berjalan menuju mobil. Sang kakek membukakan pintu untuk istrinya, barulah
kemudian ia masuk mobil. *Ya ampuuun… so
sweet bangeetssss..
“Hallo Bang? Elis udah di
parkiran depan nih, Abang di mana?” bang Wira menelvonku.
“Cari aja ruangan Sukajadi Lis.
Oke?”
Tak salah lagi, ruangan ini pasti
di samping. Dan, ternyata benar. Ruangan ini berada tak jauh dari tempat ‘bersejarah’
itu. Aku segera masuk ke dalam dan mbak Win langsung menyambutku dengna hangat.
Segera ku isi buku tamu dan duduk di samping cewek, Rika namanya. Tak lama, kak
Tami datang. Ia kaget melihatku ada di sini dan mengiraku menjadi fasilitator
hari ini. Kak Tami otomatis langsung duduk di sebelah kananku. Tepat pada pukul
08.45wib acara dimulai oleh Yoga. Seperti biasa, ketika menjadi fasilitator
BAT, ia menyuntikkan semangat pagi kepada kami dan barulah ia memanggil bang
Wira sambil kami mengirinya dengan tepuk tangan yang meriah…
“….hidup itu memilih, betul? Kalau
teman-teman tidak memilih, maka teman-teman pasti akan jadi kordan PILIHAN. Emmm…
Tami, tadi memang memilih duduk di situ?” tanya bang Wira kepada kak Tami.
“Emmm…sebenarnya tadi saya tidak
sengaja duduk di sini. Awalnya saya ngobrol sama Elis dan otomatis saya duduk
di sebelahnya,” jelas kak Tami. Kakak yang satu ini…jarang banget menjawab
pertanyaan kalau nggak pakai teori. Maklumlah, alumni Ilmu Komunikasi soalnya,
hehee.
“Berarti dalam hal ini, Tami
adalah korban pilihannya Elis,” lanjut bang Wira sambil tersenyum.
Aku tepok jidat. Tak merasa kak
Tami duduk di sebelahku. Kemudian, bang Wira mencontohkan tentang prilaku orang
pada umumnya yang sering kali secara sengaja melewatkan kesempatan.
“Kalau tidak diambil duluan oleh
anda, maka akan ada orang yang akan mengambil kesempatan itu!” tegasnya.
Bang Wira menjelaskan bahwa ada
persamaan mendasar antara TRAINER dan GURU, yaitu sama-sama mengajar di dalam
kelas. Tapi, seorang TRAINERtidak sekedar mengajar saja, tetapi juga melatih
sehingga nantinya ada skill baru yang diperoleh oleh audience. Berikutnya,
dijelaskan bahwa ada 3 komponen yang mendukung profesi seorang TRAINER;
Identitas, Visi dan Penguasaan (Mastery).
“…Passion itu berbeda dengan
Hobi. Passion itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah ditinggalkan, tak
peduli orang berkata apa dan ujungnya nanti adalah kompetensi, yaitu menjadikan
Passion sebagai sumber uang. Berbeda dengan Hobi, contohnya Hobi memelihara
kucing Anggora yang biayanya tidak sedikit dan apakah akan selamanya
mengeluarkan biaya besar untuk kucing? Dan ujung-ujungnya dicarilah siapa yang
ingin mengadopsi kucing itu. Nah, itu kalau sekedar Hobi.”
Kecuali kalau Hobi memeliharan kucing
Anggora itu membuat si pemiliknya menjadi kreatif dan membuka petshop. Nah,
barangkali itu barulah disebut Passion. Lanjutku dalam hati.
Berkaitan dengan penguasaan, maka
ada 6 hal yang harus selaras dengan seorang TRAINER; 1. Lingkungan, 2. Prilaku,
3. Kapabilitas, 4. Nilai/keyakinan, 5. Identitas, 6. Spiritual.
“… menurut artikel yang saya baca
di detik.com, orang yang kesepian itu lebih mudah meninggalnya. Nah, makanya,
segeralah menikah! Loh? Saya kok jadi kayak seminar pra nikah gini ya?” kata
bang Wira.
Kami, para jomblo di ruangan ini
pada salah tingkah karena statement bang Wira barusan.
“Saya memang akhir-akhir ini suka
membully para jomblo, nggak tahu kenapa,” lanjut bang Wira lagi.
Sebelum coffe break, kami diminta
berdiri dan bang Wira menggunakan teknik NLP untuk men-terapi dan memunculkan
mental positif dari dalam diri kami.
***
“Kak, itu HP ASUS Kakak ya? Udah
ketemu ya rupanya? Kapan?” tanyaku ketika kami sama-sama mengantri coffe break.
“Bentar ya Kakak ceritain
semuanya ntar di meja..”
Setelah aku, kak Vivien, Bung
Misnan duduk di melingkar pada satu meja, mulailah kak Vivien menceritakan
semuanya dengan sangat antusias. Ekspresinya itu loooh!
“…dan akhirnya Kakak dihubungi
nomor tak dikenal; ‘Hallo? Ini Mbak Vivien ya? Kemarin suami saya nemuin HP
Mbak jatuh di jalan’, terus dikembalikanlah HP Kakak itu. Tapi yang
ngembalikannya si Ibuk, bukan si Bapak dan ternyata ibuk itu adalah orang
sekomplek juga.”
“Jadi, intinya mereka bukan orang
yang niat ngambil HP Kakak lah ya?” tanyaku.
“Emmm…nggak tahu juga lah Dek.
Kalau memang niat baik, kok udah 4 hari baru dibalikin. Mungkin karena HP Kakak
ni kalau pun dijual ke konter pun nggak akan laku. Ya…alarmnya kan bunyi terus
tuh dan berisik banget; ‘This phone is just loss or stolen’, gituuuu terus
bunyinya. Dan itu nggak akan bisa distop kalau mereka nggak tahu pinnya. Adek
Kakak nih kemarin yang punya kerjaan. Diinstalnya alarm anti maling ke HP ini.
Ya Alhamdulillah, masih rezeki Kakak, makanya kembali lagi.”
“Ih, mau jugalah Kak diinstalin
alarm gitu sama Adek Kakak, hehe. Oh ya, terus Kakak udah beli HP baru?”
“Nah, itulah Dek. HP Blackberry
Kakak kan Kakak kasih ke Mama, terus Kakak beli VIVO karena kameranya kan
cantik tuh. Terus, VIVOnya hilang, Kakak beli ASUS. Eh, VIVOnya ketemu lagi,
terus Kakak kasih ke Adek Kakak. Kemarin ASUSnya hilang dan Kakak beli HUAWEI.
Sekarang ASUSnya udah ketemu dan HUAWEInya tetap Kakak simpan. Kata Mama Kakak;
‘Simpan ajalah, siapa tahu nanti ada yang hilang lagi’, hahaa.”
Aku dan Misna jadi banyak tanya
tentang alarm canggih di HP kak Vivien itu. Kami bahkan meminta Kakak Vivien
mencabut kartunya supaya kami bisa
melihat langsung bagaimana bisingnya alarm iut. Dan, puaslah kami ketika HP itu
benar-benar berbunyi. Hahaa. Barulah kami percaya.
“Eh, masuk yuk! Udah dikode tuh
sama Bang Wiraa!” seruku.
***
“…awalnya dari yang tidak bisa
akhirnya menjadi BISA dan kemudian bisa MENGAJARKAN. Itulah tugas seorang
trainer. Yang terbaik itu adalah Maju sambil mengajak orang lain juga untuk
maju. Hari ini kita akan membahas 3 topik; 1. Menjadi trainer yang
berkarakter, 2. Trainer yang Kompeten, 3. Mandiri dari training. Jangan
pernah bermimpi menjadi seorang Trainer kalau males baca! Saya sejak kecil
sangat suka membaca. Membaca apa saja. Bayangkan, sewaktu kecil saya sudah
membaca buku Femina, Kartini looh! Hahaha.. dan MEMBACA itu akan memperkuat
diri kita. Sehingga setiap ngobrol sama orang, bisa nyambung.”
Selanjutnya, kami diarahkan untuk
memilih 5 nilai dari masing-masing Kelompok Nilai yang tertulis di worksheet. Ada
3 kelompok Nilai yang harus kami pilih dan dihasilkan 15 nilai. Dari 15 nilai,
ditinggalkan 6 saja. Kemudian 6 nilai ini diurutkan dari yang paling prioritas
sampai yang terendah. Aku? 1. Ketuhanan, 2. Kekeluargaan, 3. Persahabatan, 4. Kesehatan,
5. Stabilitas Ekonomi, 6. Pertumbuhan Diri.
“Silahkan buka worksheet halaman
5, saya akan membantu anda dalam menemukan KESELARASAN antara identitas diri
dan Visi Hidup anda.”
Awalnya kami diminta menjawab
pertanyaan terkait penilaian terhadap diri sendiri (Versi ideal dan Versi
Jujur), barulah kemudian kami diminta mencari 3 orang yang baru kami kenal
untuk meminta orang lain menilai kami pada kesan pertama yang mereka tangkap. Selanjutnya,
kami diminta menarik ‘benang merah’ antara penilaian orang lain dengan diri
kami yang kami duga sebelumnya. Rumusnya; semakin SELARAS antara keduanya, maka
semakin baik.
“Temukan Mr. Feedback dan Ms.
Feedback dalam hidup anda. Mereka adalah orang yang bisa anda percayai penilaiannya tentang diri
anda sehingga anda bisa menyelaraskan hidup anda; antara Nilai yang anda anut
dengan penilaian orang lain tentang diri anda,” jelas bang Wira. “Kalau saya,
istri saya adalah Ms. Feedbacknya. Setelah saya tampil, beliaulah yang selalu
saya dengarkan penilaiannya. Mau seperti saya? Makanya, nikah duluu! Hehee.”
Dan, lagi-lagi bang Wira
menyindir kami, para jomblo. Selanjutnya, kami diminta merumuskan Visi Hidup dengan instruksi ‘The New You’. Dan… di tengah
kefokusan merumuskan Visi hidup, aku tiba-tiba pengen berbisik ke kak Tami…“Kakak kapan Nikah?”
“Insya Allah tahun ini.”
“Kapan?”
“Belum pasti tangalnya.”
“Kak, Bu Anti itu ternyata udah
punya 6 anak loh! Tapi masih muda banget ya Ibu tu kelihatannya. Kakak mau
punya anak sampai 6?” tanyaku lagi.
“As much as I can, hehe.”
“Hehhe, Elis kok sempet ya
nanyain ini pas lagi belajar gini Kak?
hehee. Kakak pun, kenapa jawab Elis?”
Kak tami hanya geleng-geleng
kepala dan kembali melanjutkan perenungannya.
“Jadi, Visi itu sebaiknya dibagi 2; Visi Hidup
dan Visi Akhirat. Mau tahu Visi Akhiratnya Pak Jamil Azzaini? Beliau ingin
memeluk Rosulullah di Syurga. Luar biasa kan?”
Lalu, beberapa orang diminta maju
ke depan untuk membacakan Visi Hidup mereka dan yang lainnya diminta meng-aamiin-kan.
“Setelah ini kita ISHOMA dan kembali lagi ke ruangan ini pada pukul
13.15wib ya. Assalamualaikum warohmatulhi wabarokatuh,” tutup bang Wira.
Aku berjalan perlahan menuju
pintu. Tapi, aku beralih dulu kepada mbak Win.
“Mbak… kucing kuningnya masih
ada?” tanyaku.
“Bapaknya Mbak Win kan udah
pulang, jadi kucingnya udah Mbak titipin ke Adit dan Mona.”
“Ohhh..Bapaknya Mbak nggak suka
sama si ganteng ya?”
“Iyaa..makanya, ntar kalau Mbak
Wien udah di rumah sendiri, kucingnya pengen Mbak ambil lagi. Kemarin aja
sempet sedih banget waktu kucingnya di bawa Adit sama Mona, Liss.”
Pantas saja kalau mbak Win sudah
merasa sayang sama si ganteng, soalnya dia udah 2 minggu dirawat oleh mbak
Wien. Aku bisa tahu kisah si ganteng ini karena dishare di Facebook oleh bang
Wira.
“Si ganteng-si ganteng, orang
kucing itu perempuang kok!” sahut bang Wira.
“Mana peduli si Elisss tu Baang!
Semua kucing itu si Ganteng namanyaaa…” sahut kak Tami yang ternyata
mendengarku.
***
Aku dan kak Tami ke luar lagi
dari dalam ruangan karena ternyata belum ada orang di dalam. Oh, kecuali seorang
laki-laki yang sedang berbaring di atas deretan bangku. Emmm…sepertinya itu
Samuel deh! Akhirnya, aku dan kak Tami melanjutkan obrolan sambil duduk di luar
ruangan. Lalu kemudian bang Wira datang sambil mengacungkan jempol kepadaku.
Aku fikir, ia mengkode waktu ISHOMA sudah berakhir. Tapi, ia mengulangnya lagi.
“Udah Abang baca Liss! Abang
lihat udah normal lagi tulisan Elis!”
Aku agak kurang nyambung arahnya
ke mana. Aha! “Alhamdulillaaaaaaaah kalau gitu Bang. Soalnya Elis kan udah
ngerasa biasa aja sekarang ini, Bang. Udah nggak se-terpukul kemarin laah!”
Sudah pukul 13.30wib. Aku mengkode
teman-teman untuk segera masuk ke dalam ruangan. Yang akan dipelajari kali ini
adalah Menjadi Trainer yang Kompeten.
“Bang!” seruku, aku ingin
bertanya.
“Yap, silahkan Liss.”
“Bang, seberapa pentingkah kita
menjadi orang yang disenangi orang lain atau menjadi diri sendiri dan hanya fokus
pada orang yang menerima kita apa adanya?”
“Sekarang Abang gantian bertanya
kepada Elis. Kira-kira enak nggak kalau kita bisa menjadi diri sendiri dan juga
disenangi oleh orang lain?”
“Enak.”
Aku tahu, bang Wira sedang
menerapkan prinsip ‘bertanya’ ala seorang Coach. Karena tugas seorang coach
adalah Memprovokasi lewat pertanyaan. Aku jadi teringat dengan bukunya
Dedy Dahlan. Pertanyaan bang Wira barusan berhasil membuatku berfikir dan malah
jadi bertanya dan menemukan jawaban pada diri sendiri.
“Kata Sokrates, 60% pertanyaan
itu terdapat pada pertanyaannya,” jelas bang Wira.
“Kann…benar tadi jawabankuuu,”
kata kak Tami.
Lagi-lagi mataku keluyuran ke
mana-mana. Aku mudah jenuh kalau terlalu fokus.
“Kak, Abang tu adalah laki-laki
dengan gantungan kunci boneka, hehe,” aku menunjuk ke arah bang Afro.
“Itu boneka apaan ya?” kata kak
Tami.
“Boneka LINE kayaknya.”
“Kamu ini Lisss.. ntah apa-apa
yang kamu perhatikan sejak tadii.”
“…90% kualitas seorang TRAINER
ditentukan oleh Attitude-nya. Sedangkan 10%-nya adalah Skill dan Knowledge.
Makanya, nanti kalau menerima pertemanan di Facebook, selektiflah! Supaya
jangan sampai berteman dengan orang yang suka sekali menulis status-status galau.
Lebih baik unfriend aja! Dan jangan sampai pula anda menulis status galau juga
di Facebook. Jangan lagi ceritakan masalah-masalah pribadi kita di Medsos.
Pilih-pilihlah status yang pantas di share, karena kita sedang membangung image
yang positif diri kita.”
Kalau statusku kemarin tentang ‘Sifat Perempuan’
itu galau nggak ya kira-kira? Fikirku.
“Kak, tahu Bang Adi yang mana?”
bisikku lagi kepada kak Tami.
Kak Tami melihat ke arah bang
Adi.
“Bang Adi itu mirip Peterpen kan
Kak?”
“Peterpan?”
“Ariel NOAH, maksudnya. Iya kan
Kak?”
“Kagak ah! Khayalanmu ketinggian
Lisss!” celetuk kak Tami.
“Kalau si Riski itu, mirip sama
Tengku Wisnu kan Kak? hehhe.”
“Hemmm..hanya kamulah yang
melihatnya mirip Tengku Wisnu. Aku kagak. Heh.”
Nyaris saja aku mengantuk ketika
aku kembali fokus menyimak materi yang disampaikan bang Wira. Tapi, Alhamdulillah
bang Wira menyuruh kami berpindah tempat duduk dan berganti teman di samping
kiri dan kanan. Sekarang, aku duduk di samping kak Vivien.
“… kata AA Gym, AKHLAK itu adalah
apa yang keluar pertama kali pada detik pertama. Dan itulah nilai Leadership
yang sebenarnya; Dilihat dari bagaimana cara kita merespon sesuatu. Misalnya, nggak sengaja kita memotong jalan orang lain. Nah,
kemudian orang itu mengeluarkan koleksi kebun binatangnya. Ternyata dia adalah
pengusaha kebun binatang. Apa yang akan kita lakukan dalam posisi itu? Meminta
maaf atau ikut-ikutan mengeluarkan koleksi kebun binatang? Berart kita dan
orang itu sama-sama pengusaha kebun binatang donk? haaha,” jelas bang Wira.
***
Setelah break sholat Ashar,
dilanjutkan lagi dengan Materi Public Speaking.
“…kalau kita sudah mahir Public
Speaking, kita tidak perlu kerepotan lagi. Cukup tuliskan poin-poin penting
yang akan kita sampaikan, beres deh! Kata Einstein; ‘Orang cerdas itu adalah
orang yang mampu MENYEDERHANAKAN yang rumit’. Contohnya adalah Apple; Tombolnya
hanya 1. Tapi, canggih banget kan? Nah,
itulah sebenarnya ukuran kecerdasan. Dan itu bisa dibangun dari membaca. Lagi-lagi
membaca. Lewat membaca, kita pun jadi mudah MEMPENGARUHI orang lain.”
Di slide, muncullah kata-kata Ali
bin Abu Thalib; ‘Ikatlah ilmu dengan MENULISKANNYA. Supaya tidak menguap ditelan
Zaman.’
Bang Wira sempat mengulas
tentangku yang sangat hobi menulis dan blogku yang ramai banget. Aku jadi
faham, di mana bang Wira menemukan tulisanku yang katanya sudah dibaca tadi. Sudah
pasti dari blog! hemm.. Jangan-jangan bang Wira berlangganan tulisanku nih
lewat email. ehhe.
“Manusia itu adalah PISAU; Punya
sisi Tajam dan sisi Tumpul. Sisi Tajam adalah KELEBIHANNYA sedangkan sisi
tumpul adalah KELEMAHANNYA. Asahlah sisi tajam itu supaya itu menjadi kekuatan
anda!”
Mataku tertuju ke luar ruangan. Kepada
mbak Wien yang sedang terlihat ngobrol dengan si ganteng (baca: kucing). Aku
tersenyum.
“Supaya presentasi anda tidak
berantakan, susunlah PEMBUKA yang membuat orang lain ingin terus mengikuti dan
susunlah PENUTUP yang meninggalkan KESAN.”
Aku mengangkat tangan.
“Bang? Kalau misalnya kita akan
berbicara dalam waktu kurang dari 2 jam, mungkin rumusan PEMBUKA dan PENUTUP
tadi memang sangat terasa efeknya. Tapi, bagaimana kalau kita berbicara lebih
lama dari itu? Misalnya sampai 2 hari seperti training ini? Bagaimana caranya
mempertahankan kesan ‘WOW’ tadi di mata audience?”
Bukannya langsung dijawab, bang
Wira malah menggantungnya. Memaksaku untuk menyimaknya hingga selesai. Huft!
Cerdas, memang.
***
Aku mengejar senja. Melaju, menebas
panjang jarak Sudirman-Panam. Terus saja ku lajukan motorku dengan mata yang
semakin difokuskan dalam jarak pandang yang jauh. Tujuanku adalah ke kosan
Novi, numpang sholat dan numpang men-scan sesuatu. Sesampainya di kosan Novi,
setelah ku ketuk pintunya berkali-kali, ia tetap tidak merespon. Ah,
jangan-jangan sedang sholat karena aku melihat sajadahnya.
“Kreeeeeekkkkk!”
Pintu pun terbuka. Ku lihat Novi
wajahnya tak secerah biasanya. Ia dalam balutan mukena orange-hijau itu sangat
sayu dan terbatuk-batuk, kemudian kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat
tidur.
“Cek sakit yaaa?” kataku sambil
memegang keningnya.
Batuknya tak berhenti. Keningnya cukup
hangat.
“Minum obat udah, Cek?” tanyaku.
Ia geleng-geleng.
“Minum Bodrex, barangkali Cek?
Biar agak mendingan..”
“Nggak suka Bodrex,” jawabnya.
“Hahha…emangnya ada orang yang
suka sama obat, Cek? Ada-ada aja.”
Aku numpang sholat dulu dan
setelah itu aku membujuknya ke RS. UR.
“Kalau Kakak, biasanya setelah
batuk kering, akhirnya nanti jadi batuk berdahak, terus jadi flu juga. itulah
urut-urutannya. Makanya, kemarin tu langsung Kakak bawa berobat ke RS UR.
Alhamdulillah, setelah itu Kakak cepat pulih. Kita nggak punya pilihan lain, Cek
selain harus cepat sembuh supaya pekerjaan lainnya nggak terbengkalai. Apalagi
biasanya Kakak agak lama sembuhnya kalau udah batuk tuu.”
Akhirnya Novi menurutiku. Aku mengantarkannya
ke RS UR. Sambil menunggunya, aku menimbang berat badan.
“Ah, Rusak nih kayaknya
timbangannya!” keluhku.
“Berapa berat Kakak memangnya?”
tanya Novi.
“Masa masih 66kg Cek. Padahal kan
Kakak merasa agak kurusan, hehe. Apa cuma perasaan Kakka aja ya?”
“Nggak rusak kok! Ini berat Novi
normal. Makanya, dietlah lagi Kak, hehehe,” ejeknya.
Sementara Novi diperiksa, aku
pergi memfotokopikan KTP dan KTMnya. Karena
pengen cari ‘suasana berbeda’, aku pergi ke foto kopian di gang Damai. Ah,
ternyata tutup! Akhirnya, aku harus ke Bina Krida juga. Anggap aja yang tadi
itu adalah ‘Ongkos’ membuat otak menjadi kreatif. Aku agak terhalang di sini
karena fotokopinya kurang beres; di bagian tengah kertasnya terputus
salinannya. Akhirnya, setelah disiasati, beres juga! Aku segera kembali ke RS
UR.
“Kok berjarak gini Dek? Tadi kan
disuruhnya mendempetkan fotokopi KTM dan KTPnya,” tanya sang receptionist.
“Fotokopiannya rusak Kak dan
nggak bisa terbaca kalau didempetkan tadi,” jelasku.
Syukurlah, penjelasanku difahami
olehnya.
“Udah dikasih Kak?” tanya Novi.
“Udah Cek. Yuk pulang? Mau makan
apa?”
“Emmm… nggak tahu mau makan apa
yang nggak berminyak Kak. Oh ya, sup aja.”
Kami berhenti ke konter HP
sebentar untuk membeli paket internetnya Novi. Kebetulan di sebelahnya ku lihat
ada menu ‘sup ayam’. Akhirnya kami langsung memesannya. Aku dan Novi makan
malam bersama di kosannya. Awalnya aku menolak, karena aku ingin membeli makan
malam sendiri saja nanti. Tapi, aku sangat ingin menemani Novi. Karena biasanya
kan kalau kita sedang sakit, lidah terasa tidak enak mencecap makanan. Setidaknya,
aku bisa menemaninya sambil bercerita. Wajahnya sudah lebih cerah sekarang,
tidak sekusut tadi. Mulailah ia bercerita tentang rumitnya ia ‘memahamkan’ 5 orang
sahabatnya bahwa ia tidak bisa hadir di acara bakar-bakar ayam malam ini.
Selain karena memang sedang sakit, Novi juga tidak nyaman pulang malam-malam.
“…ada masanya kita memang akan
menyakiti PERASAAN orang lain, Dek. Ya contohnya seperti ini. Adek sudah
berusaha menjelaskan, tapi mereka nggak juga faham. Mau nggak mau, akhirnya
kita terpaksa menyakiti perasaan mereka kan?”
“Iya juga sih Kak. Tulah, Novi
kadang merasa serba salah.”
“Tapi, btw Kakak salut loh, Adek
bisa punya sahabat sampai sebanyak itu. Kakak, paling-paling cuma bisa dengan 1
orang aja Dek. Nggak bisa banyak-banyak.”
“Mending ini cuma 5 Kak,
sebenarnya ada 11 loh Kak. hahaha. Kakak Novi juga kayak Kakak, nggak punya
banyak teman dekat dia tu.”
Aku jadi mengenang masa-masa SD,
SMP dan SMA. Terutama masa SMP, setiap lebaran, ketika aku bertanya kepada
mami; “Kita bikin kue apa aja nih Mi?”, biasanya mami akan menjawab; “Ngapainlah
bikin kue banyak-banyak? Bukannya ada kawanmu yang datang puun.” Aku sampai
berkaca-kaca mengenang hal itu.
“Ya…mau bagaimana lagi Dek? Kakak
memang nggak berhasil membuktikan kepada Mami bahwa Kakak punya teman. Karena
nyatanya mereka nggak ada yang nongol ke rumah. Padahal, Kakak udah berusaha
bersilaturahmi duluan ke rumah mereka. Hhaa.. aneh ya. Apalagi waktu SMA, Kakak
kan sekolah di Kabupaten, lebih nggak mungkin lagi mereka mau menyengaja jauh-jauh
ke desa Kakak hanya untuk lebaran ke rumah.”
Novi lalu menceritakan bagaimana
solidnya mereka. Setiap lebaran, rumahnya selalu ramai didatangi
teman-temannya. Kebalikannya, justru Novilah yang selalu dikunjungi oleh
teman-temannya karena memang dia tidak bisa mengendarai motor. Selanjutnya,
mereka akan ramai-ramai datang ke rumah guru dan teman-teman yang lainnya.
“...silaturahmi ke rumah guru
adalah hal yang langka bagi teman-teman Kakak, Dek. Setiap kali Kakak ajak,
mereka pasti akan bilang gini; ‘Aku heranlah sama Elysa nih! Kayaknya dia
inilah satu-satunya murid yang masih rajin ke rumah guru. Sampai ke rumah guru
SD juga didatanginya.’ Hemmm..kebalik ya kita Dek. Tapi, Kakak berfikir, memang
Kakak nggak bisa sih dituntut untuk solid gitu dengan banyak orang dalam
pertemanan. Karena, ada masanya Kakak ingin pergi cepat, pergi sendirian dan
nggak terikat dengan janji.”
Setelah men-scan, aku kemudian
berpamitan dengan Novi. Ia sudah minum obat dan semoga ia bisa tidur dengan
nyenyak malam ini.
*Tulisan ini diselesaikan pada
tanggal 14 Maret 2015, pukul 18.14wib.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar