Selasa, 01 Maret 2016

Menulis itu seharusnya membebaskan



Kita belum akan benar-benar tahu  seberapa luas RUANG MAAF seseorang untuk kita sebelum kita BERKONFLIK dengannya. Benar kiranya bahwa KONFLIK adalah sebuah bumbu-bumbu sebuah hubungan. Tanpanya, kita akan merasa selalu damai bagai takkan ada BADAI perselisihan. Padahal, hidup tak selalu SELURUS itu. beruntunglah jika ternyata sahabatmu adalah ia yang memiliki RUANG MAAF yang sangat luas untukmu. Dia memang pantas kamu pertahankan! Demikian pula baimu, selalu sediakanlah ruang yang paling LUAS bagi maaf-maafmu supaya kamu menjadi orang yang pantas dipertahankan oleh sahabatmu..

*Ruang Maaf seseorang – Metamor(Prosa)
***


Aku mengawali Maret dengan bersilturahmi ke Fakultas Hukum. Ada beberapa hal yang istimewa di sini, hari ini aku hanya akan menyebutkan 2 nama; Dek Fauzan dan Dek Nada. Yup, hari ini aku bertemu dengan mereka. sebenarnya, pertemuanku dengan dek Nada tak disengaja. Hanya dengan dek Fauzan yang ku sengaja. Kami bertiga berbincang tentang Sekolah MAWAPRES yang sebentar lagi akan mereka mulai. Dan sisanya, aku meminta 2 file kepada Fauzan lewat transfer memori. 2 file ini barangkali akan menjadi kenangan yang kelak ku tertawakan bersama seseorang di dalamnya, atau olehku sendiri saja lalu ia hanya tertinggal di masa laluku.
“Kita foto dulu yuk Kak Elisss!” Ajak dek Nada. “Udah lama juga ya Nada nggak ketemu sama Kakak.”

Setelah 2 kali jepretan, dek Fauzan lebih dulu berpamitan. Sementara aku, masih berbincang dengan dek Nada, menganjurkannya supaya mengikuti MAWAPRES lagi tahun ini mengingat ia masih muda (semesternya). Akhirnya, dek Nada meng-insya-Allah-kan saranku itu. Kami berpisah pukul 19.45wib, 15 menit sebelum kelasnya Nada dimulai.
“Mau ke mana lagi yaa?” gumamku ketika mesin motor ku nyalakan.

Ku putuskan untuk Ratu Paksi untuk menuntaskan niatku untuk memiliki cincin-cincin lucu sebagai penghias tangan mungilku. Lalu, aku mengunjungi rumah makan yang sejak pertama kali aku ke sana, sudah membuatku candu. Namanya, Rumah Makan Langkisau di jalan Pepaya. Setiap ke sini, aku selalu memesan menu yang berbeda-beda. *Kayak kulineran gitu ya?, hehe. Kali ini aku mencicipi telur dadar. Ah, aku selalu suka dan ingin mencoba berbagai sentuhan rasa dalam menu yang satu ini. Tapi harus ku akui bahwa aku kurang suka dengan rasa telur yang satu ini, karena ada campuran kunyit di dalamnya. Aneh, masa telur pakai kunyit sih? Mami pun pasti akan berkomentar hal yang sama denganku, hehee.

***

Aku menunggu dek Reza di mushola FMIPA. Setelah dari Gobah tadi, ku putuskan ngadem di sini. Sambil menunggu dek Reza datang, aku mengetik sampai batrai laptop lowbat.
“Kak Elissss? Za cariin, eh ternyata di sudut sini toh!” sapa dek Reza sambil menyalamiku.
Ia yang mengajakku ketemuan siang ini karena ia ingin mengopi video-video MAWAPRES 2015 kemarin. Tapi ternyata yang ada padaku tidak lengkap. Mungkin sebagiannya ada pada Yaumil.
“Kak, kok tumben sepi sekarang?”

“Sepi? Apanya yang sepi Dek?”
“Instagramnya. Biasanya sekali upload, belasan. Ini kadang, cuma 1 doank.”
“Hahaha….banyak kok Dek! Semalam aja Kakak baru upload 12 tuh! Berarti Adek yang belum ngecheck.”
“Oh iya ya Kak? Za emang belum ada buka Instagram nih. Eh, Za yakin Kakak pasti punya banyak haters ya?” tebaknya sok tahu.
“Nggak ada kok Dek. Ahhaa. Beneran… nggak ada.”

“Ah, mungkin Kakka aja yang terlalu nggak peduli atau nggak memperhatikan mereka. Za yakin kok untuk orang seukuran Kakak, pasti banyak orang yang menyukai. Pasti banyak orang-orang yang berpura-pura manis di depan Kakak, tapi sebenarnya dia nggak suka dengan apa yang Kakka lakukan.”
“Hhahaa, biarlah mereka begitu Dek! Selagi mereka nggak mengganggu Kakak dan nggak menampakkan diri, nggak masalah bagi Kakka.”
Aku kembali menanyakan alamat Tumblr-nya dek Reza. Akhirnya hari ini dibocorkannya. Sebelumnya, dia tidak pernah mau memeberitahuku dengan alasan segan, malu dan merasa tak pantas dibaca tulisannya.

“Kak, kalau kata teman-teman Za, Za ini terlalu JUJUR nulisnya. Sampai-sampai orang bisa tahu apa yang Za rasakan. Ketahuan kali kalau Za sedang marah, sedih atau suka sama seseorang. Za terlalu to the point Kak.”
“Ya nggak masalah Dek. Emangnya Adek fikir tulisan Kakak nggak jujur tuh?”
“Jujur juga. Tapi, Kakka pandai ‘berbelok’ ke sana, ke mari. Kakak pandai menyamarkannya. Sedangkan Za nggak pandai.”
“Nanti, seiring waktu, Adek pasti bisa menemukan gaya menulis Adek sendiri. Menulis itu seharusnya membebaskan, Dek. Cemungud terus nulisnyaaa!”
Kami ngobrol tak terlalu lama. Karena, Dek Reza hanya izin sebentar dari labornya ternyata. Hemmm… aku pun harus pulang. 

*Tulisan ini diselesaikan pada hari Jumat, 11 Maret 2016, pukul  22.05wib

Tidak ada komentar: