Kita belum akan benar-benar
tahu seberapa luas RUANG MAAF seseorang
untuk kita sebelum kita BERKONFLIK dengannya. Benar kiranya bahwa KONFLIK
adalah sebuah bumbu-bumbu sebuah hubungan. Tanpanya, kita akan merasa selalu
damai bagai takkan ada BADAI perselisihan. Padahal, hidup tak selalu SELURUS
itu. beruntunglah jika ternyata sahabatmu adalah ia yang memiliki RUANG MAAF
yang sangat luas untukmu. Dia memang pantas kamu pertahankan! Demikian pula
baimu, selalu sediakanlah ruang yang paling LUAS bagi maaf-maafmu supaya kamu
menjadi orang yang pantas dipertahankan oleh sahabatmu..
*Ruang Maaf seseorang –
Metamor(Prosa)
***
Aku mengawali Maret dengan
bersilturahmi ke Fakultas Hukum. Ada beberapa hal yang istimewa di sini, hari
ini aku hanya akan menyebutkan 2 nama; Dek Fauzan dan Dek Nada. Yup, hari ini
aku bertemu dengan mereka. sebenarnya, pertemuanku dengan dek Nada tak
disengaja. Hanya dengan dek Fauzan yang ku sengaja. Kami bertiga berbincang
tentang Sekolah MAWAPRES yang sebentar lagi akan mereka mulai. Dan sisanya, aku
meminta 2 file kepada Fauzan lewat transfer memori. 2 file ini barangkali akan
menjadi kenangan yang kelak ku tertawakan bersama seseorang di dalamnya, atau
olehku sendiri saja lalu ia hanya tertinggal di masa laluku.
“Kita foto dulu yuk Kak Elisss!”
Ajak dek Nada. “Udah lama juga ya Nada nggak ketemu sama Kakak.”
Setelah 2 kali jepretan, dek
Fauzan lebih dulu berpamitan. Sementara aku, masih berbincang dengan dek Nada,
menganjurkannya supaya mengikuti MAWAPRES lagi tahun ini mengingat ia masih
muda (semesternya). Akhirnya, dek Nada meng-insya-Allah-kan saranku itu. Kami
berpisah pukul 19.45wib, 15 menit sebelum kelasnya Nada dimulai.
“Mau ke mana lagi yaa?” gumamku
ketika mesin motor ku nyalakan.
Ku putuskan untuk Ratu Paksi
untuk menuntaskan niatku untuk memiliki cincin-cincin lucu sebagai penghias
tangan mungilku. Lalu, aku mengunjungi rumah makan yang sejak pertama kali aku
ke sana, sudah membuatku candu. Namanya, Rumah Makan Langkisau di jalan Pepaya.
Setiap ke sini, aku selalu memesan menu yang berbeda-beda. *Kayak kulineran
gitu ya?, hehe. Kali ini aku mencicipi telur dadar. Ah, aku selalu suka dan
ingin mencoba berbagai sentuhan rasa dalam menu yang satu ini. Tapi harus ku
akui bahwa aku kurang suka dengan rasa telur yang satu ini, karena ada campuran
kunyit di dalamnya. Aneh, masa telur pakai kunyit sih? Mami pun pasti akan
berkomentar hal yang sama denganku, hehee.
***
Aku menunggu dek Reza di mushola
FMIPA. Setelah dari Gobah tadi, ku putuskan ngadem di sini. Sambil menunggu dek
Reza datang, aku mengetik sampai batrai laptop lowbat.
“Kak Elissss? Za cariin, eh
ternyata di sudut sini toh!” sapa dek Reza sambil menyalamiku.
Ia yang mengajakku ketemuan siang
ini karena ia ingin mengopi video-video MAWAPRES 2015 kemarin. Tapi ternyata
yang ada padaku tidak lengkap. Mungkin sebagiannya ada pada Yaumil.
“Kak, kok tumben sepi sekarang?”
“Sepi? Apanya yang sepi Dek?”
“Instagramnya. Biasanya sekali
upload, belasan. Ini kadang, cuma 1 doank.”
“Hahaha….banyak kok Dek! Semalam
aja Kakak baru upload 12 tuh! Berarti Adek yang belum ngecheck.”
“Oh iya ya Kak? Za emang belum
ada buka Instagram nih. Eh, Za yakin Kakak pasti punya banyak haters ya?”
tebaknya sok tahu.
“Nggak ada kok Dek. Ahhaa. Beneran…
nggak ada.”
“Ah, mungkin Kakka aja yang
terlalu nggak peduli atau nggak memperhatikan mereka. Za yakin kok untuk orang
seukuran Kakak, pasti banyak orang yang menyukai. Pasti banyak orang-orang yang
berpura-pura manis di depan Kakak, tapi sebenarnya dia nggak suka dengan apa
yang Kakka lakukan.”
“Hhahaa, biarlah mereka begitu Dek!
Selagi mereka nggak mengganggu Kakak dan nggak menampakkan diri, nggak masalah
bagi Kakka.”
Aku kembali menanyakan alamat
Tumblr-nya dek Reza. Akhirnya hari ini dibocorkannya. Sebelumnya, dia tidak
pernah mau memeberitahuku dengan alasan segan, malu dan merasa tak pantas
dibaca tulisannya.
“Kak, kalau kata teman-teman Za,
Za ini terlalu JUJUR nulisnya. Sampai-sampai orang bisa tahu apa yang Za
rasakan. Ketahuan kali kalau Za sedang marah, sedih atau suka sama seseorang.
Za terlalu to the point Kak.”
“Ya nggak masalah Dek. Emangnya Adek
fikir tulisan Kakak nggak jujur tuh?”
“Jujur juga. Tapi, Kakka pandai ‘berbelok’
ke sana, ke mari. Kakak pandai menyamarkannya. Sedangkan Za nggak pandai.”
“Nanti, seiring waktu, Adek pasti
bisa menemukan gaya menulis Adek sendiri. Menulis itu seharusnya membebaskan, Dek. Cemungud terus nulisnyaaa!”
Kami ngobrol tak terlalu lama.
Karena, Dek Reza hanya izin sebentar dari labornya ternyata. Hemmm… aku pun
harus pulang.
*Tulisan ini diselesaikan pada
hari Jumat, 11 Maret 2016, pukul
22.05wib

Tidak ada komentar:
Posting Komentar