Jumat, 10 Juli 2015

Inspirasi: Kecerdasan Dek Moza

"Mbak Ela tidur di sini?” tanya Moza dari bibir pintu kamar.
“Yuhuuu. Emangnya kenapa?”
“Ya udahlah, aku tidur di sini aja ngawankan Mbak Ela.”
Busyeeet, bijak amat nih bocah kecil ngomongnya. “Loh? Kan biasanya Dedek sama Kak Siyam, Kak Sasha dan Alfi kan? Nggak apa-apa sama mereka aja. Mbak Ela berani kok sendirian.”
“Nggak mau ah. Di sana nggak enak, sempit,” kata Moza sambil naik ke atas tempat tidur dan menurunkan satu per satu baju yang berserakan di atasnya.
“Ya udah, sinilah kawanin Mbak Ela ya. Kita bobok berdua aja. Duh, Mbak Ela nggak nyangka Dedek baik kali sama Mbak Ela, padahal biasanya aja nggak mau mepong-mepong (baca: nelvon) atau kalau Ummi mepong, Dedek nggak mau ngomong. Ih, baik sekali sih kamuuu,” kataku sambil menciumnya.
Yang dilakukan Moza selanjutnya mencuri  perhatianku. Dia menutup rapat gorden jendela dan mengganjalnya dengan parfum dan kameraku. Aku langsung berkomentar, “Ih, kamu kok rapi banget sih kerjanya? Siapa yang ngajarin emangnya?”