"Mbak Ela tidur di sini?” tanya Moza dari bibir pintu kamar.
“Yuhuuu. Emangnya kenapa?”
“Ya udahlah, aku tidur di sini aja ngawankan Mbak Ela.”
Busyeeet, bijak amat nih bocah kecil ngomongnya. “Loh? Kan
biasanya Dedek sama Kak Siyam, Kak Sasha dan Alfi kan? Nggak apa-apa sama
mereka aja. Mbak Ela berani kok sendirian.”
“Nggak mau ah. Di sana nggak enak, sempit,” kata Moza sambil
naik ke atas tempat tidur dan menurunkan satu per satu baju yang berserakan di
atasnya.
“Ya udah, sinilah kawanin Mbak Ela ya. Kita bobok berdua
aja. Duh, Mbak Ela nggak nyangka Dedek baik kali sama Mbak Ela, padahal
biasanya aja nggak mau mepong-mepong (baca: nelvon) atau kalau Ummi mepong,
Dedek nggak mau ngomong. Ih, baik sekali sih kamuuu,” kataku sambil menciumnya.
Yang dilakukan Moza selanjutnya mencuri perhatianku. Dia menutup rapat gorden jendela
dan mengganjalnya dengan parfum dan kameraku. Aku langsung berkomentar, “Ih,
kamu kok rapi banget sih kerjanya? Siapa yang ngajarin emangnya?”