Aku terbangung sebelum alarmku berdering, karena suara
gaduh. Lagi-lagi, abang dan kakak kos berseteru dijam ini. Suaranya sampai
mengusik siapapun yang sedang terlelap di rumah ungu ini.
Setelah Tahajud, aku mendadar 1 butir telur yang sengaja ku
beli setelah sholat Tarawih.
Selamat sahur
terakhir di Pekanbaru ya Mak.
Teguh nggak
tahu kalau aku berencana untuk pulang hari selasa. Tapi, SMSnya barusan seolah
punya ‘energi’ dan membuatku bertanya kembali, “Benarkah aku memilih pulang
hari selasa? Atau jangan-jangan doa Teguh ini akan menjadi kenyataan?”
Setelah
telur dadar matang, aku meniriskannya ke dalam piring. Untung aja sebelum
tidur, aku nggak lupa memasak nasi. Hemmm, kalau sempat lupa, syudahlah
pemirsaaa!
“Yuhuu Mi?”
mami menelvonku. Seperti biasa, ia ingin memastikan aku sudah bangun.
“Udah
bangun?”
“Udah. La
jadi Mi?”
“Makan pake
apa?”
“Pake telur
dadar aja Mi. La jadi?”
“Ya udah,
makanlah. Yupp. Assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam..”
Aku menyuap
makanan ke dalam mulut dengan fikiran terpusat kepada keributan yang belum juga
mereda di depan. Aku tebak, di teras TKPnya. Permasalahan apa gerangan yang
menyulut keributan itu lagi ya kira-kira? Aku ingin sekali melerai atau
menasehati kak Dewi. Tapi, how could? Dia nggak pernah cerita sama aku? Aku
juga belum berkeluarga dan masih cocok kalau disebut anak ingusan. How how how?
Tapi, kalau diam aja pun rasanya aku nggak bisa. Untung aja Fajri dan Ami
tidurnya sangat lelap sehingga mereka tidak mendengar apa yang memang tidak
pantas didengar ini.
Reni, di
kamarnya mungkin sekarang pun sudah terjaga lantaran keributan ini.