Senin, 13 Juli 2015

Ramadhan ke-26; Home Sweet Home

Aku terbangung sebelum alarmku berdering, karena suara gaduh. Lagi-lagi, abang dan kakak kos berseteru dijam ini. Suaranya sampai mengusik siapapun yang sedang terlelap di rumah ungu ini.
Setelah Tahajud, aku mendadar 1 butir telur yang sengaja ku beli setelah sholat Tarawih.
Selamat sahur terakhir di Pekanbaru ya Mak.
Teguh nggak tahu kalau aku berencana untuk pulang hari selasa. Tapi, SMSnya barusan seolah punya ‘energi’ dan membuatku bertanya kembali, “Benarkah aku memilih pulang hari selasa? Atau jangan-jangan doa Teguh ini akan menjadi kenyataan?”
Setelah telur dadar matang, aku meniriskannya ke dalam piring. Untung aja sebelum tidur, aku nggak lupa memasak nasi. Hemmm, kalau sempat lupa, syudahlah pemirsaaa!
“Yuhuu Mi?” mami menelvonku. Seperti biasa, ia ingin memastikan aku sudah bangun.
“Udah bangun?”
“Udah. La jadi Mi?”
“Makan pake apa?”
“Pake telur dadar aja Mi. La jadi?”
“Ya udah, makanlah. Yupp. Assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam..”
Aku menyuap makanan ke dalam mulut dengan fikiran terpusat kepada keributan yang belum juga mereda di depan. Aku tebak, di teras TKPnya. Permasalahan apa gerangan yang menyulut keributan itu lagi ya kira-kira? Aku ingin sekali melerai atau menasehati kak Dewi. Tapi, how could? Dia nggak pernah cerita sama aku? Aku juga belum berkeluarga dan masih cocok kalau disebut anak ingusan. How how how? Tapi, kalau diam aja pun rasanya aku nggak bisa. Untung aja Fajri dan Ami tidurnya sangat lelap sehingga mereka tidak mendengar apa yang memang tidak pantas didengar ini.
Reni, di kamarnya mungkin sekarang pun sudah terjaga lantaran keributan ini.