“Jam berapa El?”
“Tiga.”
Rini siuman karena mendengar gerakanku mencabut cas laptop.
Yap, lagi-lagi aku ketiduran dengan keadaan laptop yang masih menyala dan
tercas. Hiksss… maafkan aku laptop. Karena merasa bersalah kepada laptop dan
juga diri sendiri, aku langsung meraih laptopku dan kembali menggarap blog
dengan mata full on.
Ya Allah, mungkin
inilah hikmah kalau tidur dibawah jam 23.00wib; aku bisa bangun sedini ini dan
menikmati heningnya sepertiga malam.
Waah… ternyata ngetik di jam-jam ini lebih khusyuk dan fokus
ya! kayaknya bagus juga nih kalau diterusin untuk membentuk pola keseharianku.
Hemmm… patut dicoba!
“Cuy! Tahajudd!” aku membangunkan Rini pukul 4.35wib.
Rini melenguh dan mengulet.
Eh, tiba-tiba aku terfikir, jangan-jangan penyebabku bisa
terbangun ini bukan karena tidur lebih awal, tapi karena tidurku belum
diniatin. Ibaratnya badanku ini tidur karena nggak sengaja, bukan karena maunya
hati. Hikss.. kasihan donk badan ini kalau gitu. Maafin aku, diriku…
Ya Allah, ini adalah
tahajud dan sholat subuhku berdampingan dengan Rini. Esok, ketika aku bangun,
tidak ada lagi sosoknya di sampingku. Engkau pasti tahu betapa beratnya aku
atas semua ini. Tapi, bukankah ini adalah perpisahan menuju tempat yang lebih
baik? Bukan karena permusuhan atau kebencian. Hamba mohon, jaga ia di sana dan
hebatkan aku di sini. Mungkin, ada sesuatu yang Engkau rencanakan untukku dalam
sendiriku ini. Datangkanlah ya Allah. Aamiin.
