“Bahkan hari yang dianggap spesial pun hanya dihabiskan dengan membalas
ucapan selamat ulang tahun atau menghabiskan waktu bersama. Salah? Gak juga
sih. Tapi makna apa yang bisa kamu ambil dari hal itu?"
Dari keseluruhan tulisannya yang berjudul MEMAKNAI HARI itu,
aku benar-benar tidak sepakat dengan kalimat yang satu ini. Karena, di tanggal
4 kemarin, aku benar-benar membalas semua ucapan selamat ulang tahun untukku.
Semua. Kalau dia hanya mengucapkan HBD
atau met ultah atau happy birthday ya, aku sampai cari cara cepat dan
praktis untuk membalasnya, yaitu dengan mengkopi-paste ini; Makasih yaaaa… Tak lupa, aku pun me-like semua ucapan itu setelah membalasnya.
Aku justru memaknainya sebagai sesuatu yang luar biasa dan tidak bisa
disepelekan. Ini adalah hal kecil, tapi mungkin menjadi kebahagiaan bagi mereka
yang ku respon seperti itu. Benar nggak? Dan… setelah ku check, benar saja, di
hari ulang tahunnya (5 Desember), tak ada satu ucapan pun yang diresponnya
sekalipun itu terlihat dari orang terdekatnya. Termasuk puisiku. Ya! Aku juga
telah meluangkan waktu untuk menulis puisi untuknya di blog dan pantas saja
tidak mendapat respon. Ini di luar kebiasaan, biasanya mereka yang ku hadiahi
puisi akan sangat bahagia dan berterimakasih padaku. Bagaimana tidak? Ucapan
dariku bisa dibilang yang ter-UNIK di antara ucapan lainnya. Tapi tidak
baginya. Semoga Allah memberinya petunjuk. Jangan sampai kita bermimpi
melakukan hal-hal besar lalu menyepelekan hal-hal kecil seperti ini, padahal
juga adalah KEBAIKAN. Aku jadi terfikir kalimat inspiratif nih!...
“Menyepelekan
perbuatan kecil pun adalah sebuah kesombongan. Padahal, siapa tahu justru di
sanalah sumber berkah berlimpah. Bukankah membahagiakan orang lain adalah kebahagiaan sesungguhnya? Maka, jangan menyepelekan kebaikan kecil!”