Selasa, 25 Agustus 2015

Ada Silaturahmi, Jodoh dan Peradaban



Pukul 09.43wib. aku sedang duduk di pelataran FEKON, sendirian. Dek Teguh pasti tahu tempat ini, karena di sini kami pernah berjuang bersama sambil menikmati reruntuhan buah Matoa. Eh, sebenarnya sih nggak runtuh begitu aja matoanya tapi ada orang lain yang manjat dan kami rampok hasilnya. Ehheh. Detik ini, aku benar-benar merasa seperti penulis sungguhan; Mengetik lancar, tanpa melihat konsep. Cukup menuliskan apa yang dirasa dan apa yang terfikir. Semoga. Segera. Aamiin.

Aku berniat melegalisir sertifikat kak Dila, hasil seleksi tenaga Akuntan kemarin. Eh, tapi kejadiannya nggak jauh beda; Kantornya kosong melompong dan ketika ku tanya ke staf di sebelahnya selalu dijawab ‘Sebentar lagi datang tuh orangnya.’ That’s why, I am waiting here by writing. Menulis benar-benar membuat hidupku lebih hidup. Menulis juga mengajariku apa yang harus ku lakukan untuk mengisi masa menunggu. Menunggu apa pun itu. Sebab, semua kita sejatinya sedang menunggu dan nilai mereka ditentukan oleh bagaimana cara mereka menunggu

Aku pernah baca bahwa membiasakan diri menulis setiap hari minimal 15 menit, bisa meningkatkan daya ingat, meminimalisir stress dan membuat awet muda. Apalagi kalau nulisnya pakai pena atau pensil secara manual. Pokoknya keep writing for everlasting yaa pemirsaa..