Pukul 09.43wib. aku sedang duduk di pelataran FEKON, sendirian. Dek
Teguh pasti tahu tempat ini, karena di sini kami pernah berjuang bersama sambil
menikmati reruntuhan buah Matoa. Eh, sebenarnya sih nggak runtuh begitu aja matoanya
tapi ada orang lain yang manjat dan kami rampok hasilnya. Ehheh. Detik ini, aku
benar-benar merasa seperti penulis sungguhan; Mengetik lancar, tanpa melihat
konsep. Cukup menuliskan apa yang dirasa dan apa yang terfikir. Semoga. Segera.
Aamiin.
Aku berniat melegalisir sertifikat kak Dila, hasil seleksi
tenaga Akuntan kemarin. Eh, tapi kejadiannya nggak jauh beda; Kantornya kosong
melompong dan ketika ku tanya ke staf di sebelahnya selalu dijawab ‘Sebentar
lagi datang tuh orangnya.’ That’s why, I am waiting here by writing. Menulis
benar-benar membuat hidupku lebih hidup. Menulis juga mengajariku apa yang
harus ku lakukan untuk mengisi masa menunggu. Menunggu apa pun itu. Sebab,
semua kita sejatinya sedang menunggu dan nilai mereka ditentukan oleh bagaimana cara mereka menunggu
Aku pernah baca bahwa membiasakan diri menulis setiap hari
minimal 15 menit, bisa meningkatkan daya ingat, meminimalisir stress dan
membuat awet muda. Apalagi kalau nulisnya pakai pena atau pensil secara manual.
Pokoknya keep writing for everlasting yaa pemirsaa..
